cover
Contact Name
Dr. Hj. Mujizatullah
Contact Email
jeducandum@gmail.com
Phone
+6281343755509
Journal Mail Official
jeducandum@gmail.com
Editorial Address
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar Jl. AP. Pettarani No. 72 Makassar Sulawesi Selatan 90222
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Educandum Jurnal Ilmiah Pendidikan
ISSN : 24771619     EISSN : 26557738     DOI : https://doi.org/10.31969/educandum
Fokus kajian jurnal ini adalah berkaitan dengan penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Lingkup jurnal Lektur Keagamaan meliputi 1. Pendidikan Agama 2. Pendidikan Keagamaan
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum" : 10 Documents clear
Tingkat Religiusitas Peserta Didik Pada SMA/MA Di Maluku Utara Asnandar Abubakar; Ali Hanafi
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat religiusitas peserta didik pada sekolah menengah atas dan madrasah aliyah di Provinsi Maluku Utara. Jenis penelitian adalah gabungan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (mix methode). Instrumen pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner/angket. Tingkat religiusitas peserta didik menunjukkan angka 3.59 yang interpretasi pada kategori tinggi. Aspek keyakinan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan kitab sucinya sangat mempengaruhi nilai indeks tersebut, meskipun terdapat sedikit resistan terhadap praktik sosial dalam beragama. Secara personal, peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan pengamalan agama, seperti berusaha rajin beribadah baik di rumah ataupun di tempat ibadah, membaca kitab suci, mengembangkan pengetahuan agama baik di lingkungan sekolah, di lingkungan keluarga, ataupun di lingkungan sosial/masyarakat. Aspek-aspek lingkungan sangat berpengaruh terhadap religiusitas peserta didik, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, ataupun lingkungan masyarakat. Di lingkungan keluarga, pengalaman dan agama orang tua, pembiasan-pembiasan kesantunan berperilaku, dan pembiasaan mengerjakan tugas rumah tangga seperti membersihkan rumah menjadi perilaku positif dalam membentuk religiusitas peserta didik. Dilingkungan sekolah, kompetensi guru (pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian) dan kemampuan manajemen kepala sekolah sangat berperan dalam membentuk watak kepribadian peserta didik yang berpengaruh pada religiusitas. Di lingkungan masyarakat, kegiatan-kegiatan keagamaan, pentas seni budaya, atau kerja bakti sangat berperan dalam membangun religiusitas peserta didik.menjadi perilaku positif dalam membentuk religiusitas peserta didik.
Nilai Karakter Peserta Didik Di Provinsi Kalimantan Utara Israpil Israpil
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai karakter peserta didik di SMA dan Madrasah Aliyah (MA). Penelitian ini menggunakan metode gabungan (mix method). Data kuantitatif dikumpulkan melalui persebaran angket dan data kualitatif diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Karakter peserta didik dilihat pada lima dimensi, yaitu: religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Responden penelitian adalah siswa kelas XI yang berjumlah 40 orang yang dipilih secara acak di Provinsi Kalimantan Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, persepsi peserta didik pada lima dimensi yang diamati terkategori tinggi. Meskipun demikian, berdasarkan hasil wawancara dan observasi di lapangan, nilai-nilai karakter pada dimensi religius masih diperlukan pembenahan dan optimalisasi terutama pada aspek praktik personal beragama terkait rutinitas peserta didik dalam membaca kitab suci dan aspek identitas beragama serta eksklusivitas beragama peserta didik. Aspek lain yang ditengarai menjadi faktor penghambat nilai karakter peserta didik adalah pada dimensi gotong royong pada aspek interaksi personal sesama peserta didik yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik.
PENGELOLAAN DAN PEMBERDAYAAN GURU NON-PNS MADRASAH NEGERI DI KOTA GORONTALO (MIN, MTsN, MAN dan MAN IC) Abdul Rahman Arsyad
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian Pengelolaan dan Pemberdayaan Guru Non-PNS Madrasah di Kota Gorontalo dengan mengamati ragam pengelolaan dan pemberdayaan yang meliputi: Rekrutmen; (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan); Penugasan; (pelaksanaan), dan Pemberdayaan; (penciptaan iklim berkembang, peningkatan kompetensi, dan perlindungan ekonomi dan sosial). Dilaksanakan di MAN IC, MAN 1, MTsN 1, MIN 1 Kota Gorontalo. Penelitian ini adalah penelitian survey pada taraf deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan angket. Hasil penelitian adalah mekanisme rekrutmen guru Non-PNS madrasah reguler (MAN, MTsN, dan MIN) berdasarkan kondisional (menyampaikan secara lisan kepada pengelolan madrasah dan mengumumkan lewat WA) dan tidak memiliki panitia khusus disebabkan adanya batasan anggaran. Sedangkan MAN IC secara keseluruhan memiliki manajamen perekrutan secara nasional (Dirjen Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI. Madrasah tidak mengagendakan dalam rapat tahunan tentang pembahasan penugasan, karena bidang kurikulum yang memiliki wewenang diantaranya: Penetapan jam mengajar telah diatur oleh madrasah melalui bidang kurikulum, Tingkat kehadiran menyesuaikan jadwal akademik, Penguasaan mata pelajaran belum semua linear dengan gelar akademik dan menerapkan metode berdasarkan kondisi kelas. Lembaga madrasah memiliki aturan dalam memberikan peluang guru Non-PNS dalam menunaikan tugas yang diemban melalui surat tugas dan kegiatan pembelajaran. Adapun bentuk perhatian kepala madrasah terhadap guru yang memiliki tanggungjawab dalam melaksanakan tugas dengan baik, akan mendapatkan penghargaan (piagam dan tugas kepanitiaan kegiatan). Sebahagian besar para guru Non-PNS hanya mengikuti kegiatan, KKG, KKM dan KKM. Kegiatan DIKLAT masih diprioritaskan pada guru ASN. Adapun tingkat kesejahteraan (5.000/jam dan 300 ribu perbulan) dan perlindungan kesehatan dan bahaya kecelakaan memerlukan perhatian yang serius oleh pemerintah Pemda dan Kementeria Agama Provinsi Gorontalo.
MENAKAR KUALITAS MADRASAH ALIYAH SULAWESI SELATAN Amiruddin Amiruddin
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madrasah merupakan salah satu lembaga satuan pendidikan yang ditangani langsung oleh Kementerian agama dan termaktub dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 merupakan Lembaga Pendidikan yang bercirikan Islam dimana porsi pembelajaran agama Islamnya jauh lebih banyak dibanding sekolah umum lainnya, diharapkan menghasilkan peserta didik yang berkualitas dan memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara Penelitian ini berupaya untuk mengukur tingkat kualitas madrasah yang difokuskan pada delapan (8) komponen standar nasional pendidikan. Studi ini dilakukan pada Madrasah Aliyah Negeri dan swasta di Provinsi Sulawesi Selatan menggunakan metode Kuantitatif deskriptif dengan pendekatan Survey. Teknik penarikan sampel dilakukan secara Claster Random Sampling mengacu kepada akreditasi madrasah dengan menggunakan Tabel Cohen Manion dan Morrison pada tingkat signifikansi 90%. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil analisis data kuesioner terhadap 165 sampel madrasah aliyah yang tersebar pada 23 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan secara umum, menunjukkan pencapaian tingkat kualitas terkategori “Sangat Tinggi” dari standar nasional pendidkan dengan persentase 82%, ini berarti masih terdapat sebanyak 18% tingkat ketercapaian belum terpenuhi.
PEMBELAJARAN AGAMA DI SLB BARTEMEUS MANADO Badruzzaman Badruzzaman
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 mengamanahkan bahwa “setiap warga Negara berhak untuk mendapatkan pengajaran”. Diktum regulasi ini memastikan kewajiban negara memberikan pelayanan pendidikan kepada setiap warga negara termasuk anak penyandang cacat. Penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan pembelajaran agama yang diselenggarakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bartemeus Manado dan faktor yang menghambat. Penelitian dirancang, diolah, dan dianalisis dengan pendekatan kualitatif. Penelitian menemukan bahwa SLB Bartemous menerapkan pembelajaran Duplikatif ketikan mengajarkan Pendidikan Agama Kristen dengan cara memodifikasi pendekatan dan metode pembelajaran. Modifikasi pendekatan pembelajaran yang dimaksud adalah pendekatan verbal, kontak langsung, dan stimulasi; dan modifikasi metode pembelajaran yang dimaksud adalah bercerita, ceramah, tanya jawab, diskusi, individual, dan drill. Beberapa faktor yang menghambat proses pembelajaran agama adalah, kemampuan guru agama membuat perangkat pembelajaran, keterbatasan visual (tunanetra) oleh guru agama, keterbatasan bahan pembelajaran dan alat pembelajaran, dan keterbatasan sumber belajar yang berhuruf braille.
Pengelolaan Guru Pendidikan Agama Non PNS Pada Sekolah Menengah Atas Negeri Di Gorontalo Muhammad Rais
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel bertujuan untuk mendeskripsikan tata kelola guru Pendidikan agama pada sekolah umum begeri di Kota Gorontalo. Riset ini dilatarbelakangi isu yang kini bergulir bahwa semua wilayah di Indonesia menghadapi masalah Pendidikan yang sama, kekurangan pendidik di hampir semua satuan Pendidikan, termasuk sekolah menengah umum negeri. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah, mengambil kebijakan melalui pengadaan guru-guru yang berstatus guru non PNS atau guru honorer.Varian guru ini di Kota Gorontalo lebih familiar disebut guru tidak tetap (GTT). Guru GTT ini mengampu mata pelajaran agama dengan kewajiban mengajar minimal 30 jam per pekan. Kompensasi terhadap ketercapaian waktu 30 Jam Pelajaran tersebut adalah berupa tunjangan daerah yang ekuivalen dengan upah minimum regional (provinsi) sebesar Rp. 2 juta. Dan, jika jam pelajaran yang wajib terpenuhi setiap pekan tersebut tak terpenuhi, maka sangsinya adalah pengurangan tunjangan berdasarkan besaran kekurangan tersebut. Untuk menyiasati guru tidak tetap yang tidak mencukupi jam pelajaran di sekolahnya, maka ia diperkenankan mengambil mata pelajaran non Pendidikanagama di sekolahnya, atau mengamil jam mengajar mata pelajaran agama di sekolah lain. Kewajiban mengajar minimum 30 jam pelajaran tersebut dianggap discriminatif, sebab guru PNS yang mendapatkan gaji dan tunjangan profesi dan keistimewaan lainnya justru hanya diharuskan mengajar minimal 24 jam pelajaran per pekan.
Integritas Peserta Didik SMA/MA Di Provinsi Sulawesi Utara Rosdiana Rosdiana
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat integritas peserta didik pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah di Provinsi Sulawesi Utara. Secara khusus ingin mengetahui seberapa besar indeks integritas peserta didik dan faktor-faktor yang mempengaruhi integritas peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada peserta didik SMA/MA tingkat 2 (kelas 11) dengan jumlah sampel disetiap sekolah masing- masing 10 peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan tingkat integritas peserta didik di Provinsi Sulawesi Utara secara umum terkategori integritas sangat tinggi. Hal ini dilihat pada empat variabel yakni kejujuran, tanggung jawab, toleransi dan cinta tanah air. Dari keempat variabel tersebut terdapat dua variabel yang mengindikasikan integritas sangat tinggi, yakni variabel toleransi dan cinta tanah air. Sementara aspek yang terkategori integritas tinggi adalah variabel kejujuran dan tanggung jawab. Faktor-faktor yang mempengarhi integritas peserta didik dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal.
Implementasi Kebijakan Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 Di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur Mujizatullah Mujizatullah
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran implementasi Kebijakan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 di Kabupaten Kutai Kartanegara Kaltim kaitanya dengan pasal 5 mengenai penyusunan proses dan penetapan kebutuhan pengangkatan guru agama dan Implementasi Peraturan Pemerintah pasal 56 ayat (3) mengenai pelaksanaan keputusan terkait dengan kebutuhan pengangkatan guru PNS ditinjau dari aspek komunikasi dengan instansi terkait. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat implementasi Kebijakan tersebut. Metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Implementasi PP No. 11 tahun 2017 Pasal 5 dan Pasal 56 Ayat (3) telah diimplementasikan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara namun tidak terjalin komunikasi antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama kaitannya dengan penyusunan dan pengusulan formasi (kebutuhan), proses dan penetapan pengangkatan guru agama PNS, yang menjalin komunikasi dan koordinasi hanya antara Dinas Pendidikan , BKD, Biro Ortala Pemprov dan Menpan RB. Faktor Pendukung ; Kementerian Agama Kabid Pakis memberikan informasi berdasarkan data kebutuhan disampaikan ke Kemenag Kota melalui rapat Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Faktor Penghambat Adanya pemahaman yang berbeda di masing-masing instansi, Kementerian Agama jalur vertikal yang membidangi madrasah dan Dinas Pendidikan membidangi sekolah sehingga muncul pemahaman ego sektoral diantara masing-masing kementerian. Guru honorer yang masuk dalam kategori 2 (K2) di bawah tahun 2005 yang diangkat menjadi CPNS dengan formasi guru diwajibkan melanjutkan Pendidikan dan sertifikat pendidik dominan tidak linier dengan pendidikannya. Direkomendasikan Perlunya Kementerian agama duduk bersama agar terjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak pemda dan Menpan dalam penyusunan , pengusulan dan pengangkatan guru agama dengan harapan Menpan dapat mengeluarkan kebijakan dengan memprioritaskan pengangkatan guru agama.
Persepsi Kebangsaan (Nasionalisme) Siswa Beragama Kristen Di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Muhammad Dachlan
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi kebangsaan siswa beragama Kristen di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Metode pengumpulan data yang digunakan menggunakan penelitian lapangan dengan bentuk survey dan wawancara. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan antara lain: Pertama, siswa-siswi yang ada di Kabupaten Poso memiliki persepsi positif terhadap sikap kebangsaan (nasionalisme). Kedua, para siswa masih memiliki pandangan kebangsaan yang rentan terutama bila dihubungkan dengan sikap terhadap eksistensi dasar kenegaraan. Ketiga, para siswa masih memiliki kerentanan terhadap isu agama, dimana sentimen agama dapat menjadi pemicu bagi konflik. Keempat, para siswa masih memiliki pandangan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara hanya bisa dikukuhan bila warga negaranya menjunjung tinggi falsafah bangsa (pancasila) dalam bingkai negara kesatuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa para siswa beragama Kristen menganggap dirinya menjadi bagian dari warga negara Indonesia yang memiliki nasionalisme. Para siswa juga masih meyakini bahwa Indonesia mampu bertahan dari berbagai konflik, sekalipun konflik itu atas sentimen agama.
Teknik Rational Emotif Behavior Therapy Untuk Meningkatkan Self Efficacy Siswa di Sma 3 Makassar Fauzan Ariwibowo; Nurhidayatullah D
EDUCANDUM Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui gambaran tingkat kecendrungan perilaku self efficacy siswa sebelum dan sesudah diberikan teknik Rational Emotif Behavioral Therapy di SMA Negeri 3 Makassar. (2) Untuk mengetahui penerapan teknik Rational Emotif Behavioral Therapy dalam meningkatkan self efficacy siswa di SMA Negeri 3 Makassar.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Pre-Experimental. Desain penelitian yakni One-Group Pretest-Posttest Design. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, kuesioner. Subjek penelitian ini 8 orang yakni siswa kelas XII IPS I-V yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif, analisis non-parametrik, yaitu uji Wilcoxon Signed Rank Test menggunakan SPSS 20,0 for windows. Tingkat Self Efficacy siswa di SMA Negeri 3 Makassar sesudah diberi perlakuan menunjukkan terjadi perubahan dari tingkat Self Efficacy dari rendah menjadi kategori sedang.Penerapan teknik Rational Emotive Behavior Therapy dapat meningkatkan Self Efficacy siswa kelas XII di SMA Negeri 3 Makassar

Page 1 of 1 | Total Record : 10