cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2025)" : 20 Documents clear
Ruwat dalam Cerita Pendek Ruwat: “Pembersihan Negara” dan Konstruksi Sosial Masyarakat Jawa Riswari, Aninditya Ardhana; Sugiarto, Mellany Octa Salsabila
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.96008

Abstract

Tradisi ruwat dalam budaya Jawa bukan hanya berlaku bagi individu atau komunitas kecil, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya pembersihan secara kolektif, termasuk dalam konteks negara yang kemudian dikenal sebagai ruwatan massal. Sebuah karya bertajuk Ruwat ditulis oleh Katarina Retno di tahun 2024 memunculkan tradisi ruwat dalam kisah pergolakan sosial politik Indonesia di tahun 1998. Karya tersebut memberikan gambaran mengenai seruan untuk melakukan ruwatan pada negara, dengan harapan negara dapat kembali “suci”. Untuk itu penelitian ini disusun untuk menganalisis tradisi ruwatan yang dikonstruksikan dalam teks sastra dan menganalisis perkembangan makna mengenai tradisi tersebut dalam ranah kritik sosial. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Penelitian ini menelaah teks Ruwat dan relevansinya dengan struktur sosial masyarakat Jawa yang dipadu dengan penggunaan pendekatan konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, ruwatan dalam Ruwat tidak hanya merepresentasikan ritual adat, tetapi juga menjadi strategi simbolik yang menggugah kesadaran kolektif terhadap ketimpangan struktural. Kedua, ruwatan yang dalam budaya Jawa berfungsi sebagai ritual penyucian dari sukerta dan kesialan, dalam Ruwat justru mengalami pergeseran makna menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, khususnya dalam konteks tragedi 1998. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kebudayaan bersifat dinamis dan dapat digunakan sebagai alat untuk menyuarakan kritik serta mendorong transformasi sosial dalam masyarakat.
Ruwatan Sudamala: Pelestarian Tradisi oleh Perkumpulan Bawarasa Pametri Budaya Hadiyatullah, Syahrul; Fariziah, Tsaniah
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.96644

Abstract

Penelitian ini mengkaji upaya pelestarian ritual Ruwatan Sudamala oleh Bawarasa Pametri Budaya, sebuah komunitas budaya di Malang, Indonesia, sebagai respons terhadap menurunnya popularitasnya akibat pengaruh modernisasi. Berakar pada sastra klasik dan filosofi Hindu-Jawa, Ruwatan Sudamala menghadapi tantangan keberlanjutan akibat minimnya kesadaran publik serta semakin berkurangnya praktik ritual. Pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini mengeksplorasi strategi yang diterapkan untuk mempertahankan tradisi. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bawarasa Pametri Budaya melestarikan ritual ini melalui berbagai inisiatif sistematis, termasuk penggabungan teks sejarah, pertunjukan tradisional, dan keterlibatan komunitas. Pendekatan dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan, jaringan sosial, serta platform digital guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi, sehingga ritual tetap relevan. Ruwatan Sudamala oleh Bawarasa Pametri Budaya dilaksanakan setiap tahun dengan prosedur yang terjaga serta elemen simbolis yang mencerminkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan transformasi. Penelitian ini menekankan efektivitas upaya berbasis komunitas dalam menjaga praktik budaya yang terancam punah, sekaligus menunjukkan bahwa mobilisasi sumber daya dan integrasi dengan alat-alat modern dapat memastikan kelangsungan budaya. Kajian ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis terhadap pelestarian budaya, menyoroti perlunya strategi adaptif untuk mempertahankan tradisi di tengah dinamika modernisasi.
Kontribusi Tradisi Ogoh-Ogoh Terhadap Nilai Sosial Masyarakat di Desa Tolai Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong Wulandari, Tia; Hamid, Abdul; Hasan, Haslita Rahmawati; Nurvita, Nurvita
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.100318

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi tradisi ogoh-ogoh terhadap nilai sosial masyarakat di Desa Tolai Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong. Tradisi ogoh-ogoh yang dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi oleh umat Hindu tidak hanya mengandung nilai religius, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap nilai sosial masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, kemudian pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ogoh-ogoh melibatkan partisipasi lintas generasi, baik dari kalangan muda maupun tua yang bekerja sama dalam proses pembuatan ogoh-ogoh dan pelaksanaannya. Masyarakat non-Hindu juga menunjukkan dukungan dengan ikut menyaksikan pelaksanaan tradisi ogoh-ogoh. Beberapa kepala dusun non-Hindu ikut terlibat dalam pelaksanaan tradisi tersebut dengan membantu menjaga keamanan. Tradisi ini memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, toleransi, serta kepedulian terhadap budaya. Pelaksanaan tradisi ogoh-ogoh juga berdampak pada ekonomi pelaku usaha kecil, seperti pedagang makanan dan minuman, penyedia jasa penyewaan baju adat, pengusaha baju dan sablon. Tradisi ini juga meningkatkan daya tarik pariwisata lokal, karena menarik perhatian masyarakat dari luar daerah untuk datang menyaksikan tradisi tersebut. Dengan demikian, tradisi ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol keagamaan, tetapi juga wadah untuk mempererat hubungan sosial antarwarga, penggerak ekonomi dan penguat identitas budaya.
Tren Penelitian Potensi Tradisi Randai Sebagai Penguatan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Wisti, Windri; Ruyadi, Yadi; Wilodati, Wilodati
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.101031

Abstract

Pendidikan karakter saat ini seolah terlepas dari hakikat dunia pendidikan itu sendiri. Alih-alih membentuk manusia yang utuh, sistem pendidikan saat ini lebih menekankan aspek kognitif sementara pembinaan nilai-nilai luhur justru makin terabaikan. Berbagai upaya dilakukan oleh guru namun pengaruh perkembangan globalisasi yang semakin pesat mengubah peserta didik. Perlunya pemanfaatan potensi lokal untuk memberikan pesan moral dalam mengajarkan pendidikan karakter dalam pendidikan. Randai sebagai salah satu tradisi khas Sumatera Barat memiliki peran sebagai media informasi untuk pesan moral dalam bentuk perpaduan seni silek, musik, tari, dan cerita. Penelitian yang mengkaji mengenai tren randai sebagai penguatan pendidikan karakter masih sangat rendah sehingga perlunya penelitian yang mengungkapkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi tren penelitian randai sebagai penguatan pendidikan karakter yang menjadi pedoman untuk mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Metode yang digunakan yaitu systematic literature review dengan analisis PRISMA. Artikel yang digunakan sebanyak 11 artikel nasional dan internasional dengan kata kunci ‘randai’ dan ‘pendidikan karakter’. Hasil dari penelitian mencakup konsep randai dalam pembelajaran, Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi randai, Keterampilan yang dapat dilatihkan melalui randai, dan inovasi pembelajaran melalui randai. Dalam temuan bahwa randai mampu melatihkan keterampilan abad 21 peserta didik dan pengetahuan lokal. Hasil temuan juga mengungkapkan bahwa randai mampu diintegrasikan dalam pembelajaran sosiologi, biologi, dan matematika dengan inovasi pembelajaran. Tradisi randai memiliki potensi besar sebagai strategi pedagogi dalam penguaran pendidikan karakter pada peserta didik.
Proses Penciptaan Tari Arkana: Representasi Adat dan Kebudayaan Lokal Purbalingga Latifah, Ayundha Dwi; Pebrianti, Sestri Indah
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.101222

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai proses penciptaan Tari Arkana sebagai bentuk representasi adat dan dan kebudayaan lokal di Kabupaten Purbalingga. Tari Arkana merupakan tari kreasi baru yang ide dasarnya berasal dari pengalaman masa lalu koreografer mengenai padamnya energi listrik akibat digunakan secara tidak efisien. Teori yang digunakan yaitu menggunakan teori dari Sumandyo Hadi (2012) yang menjelaskan bahwa proses penciptaan karya tari melalui tiga tahapan yaitu tahap eksplorasi yang dilakukan dengan menggali ide dan mencari referensi gerak, tahap improvisasi yaitu pengembangan gerak menjadi ragam yang lebih ekspresif, yang terakhir tahap komposisi atau proses penyusunan dari awal hingga menjadi suatu karya tari yang utuh. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa dapat disimpulkan bahwa Tari Arkana ini tidak hanya menonjolkan keindahan estetika gerak saja, tetapi juga berhasil menyampaikan pesan moral mengenai pentingnya kesadaran dalam menghemat energi listrik secara bijak melalui konsep cerita dalam karya tari ini. Tari ini menonjolkan keunikan ragam gerak tari khas Banyumasan, serta properti yang menjadi simbol pergeseran budaya dari masa kini ke masa lalu, serta iringan musik gending Banyumasan dengan cletukan khas yang memperkuat identitas lokal. 
Makna Dualistik Gerak Akrobatik Bujang Ganong dalam Reog Ponorogo Rasi, Selviano Boby Rome; Hudha, Tafsir
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.101259

Abstract

Penelitian ini mengkaji dualisme makna akrobatis tokoh Bujang Ganong dalam pertunjukan Reog Ponorogo melalui perspektif carnivalesque. Bujang Ganong menampilkan paradoks antara kedudukan sebagai patih yang berwibawa dengan peran penghibur rakyat yang jenaka. Gerakan akrobatik yang ditampilkan bukan sekadar hiburan fisik, melainkan manifestasi keterampilan teknis rumit dan medium komunikasi simbolis untuk menyampaikan kritik sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analitis, melalui analisa dokumentasi pertunjukan dan wawancara langsung dengan para praktisi. Analisis data dilakukan melalui triangulasi teoritis. Hasil penelitian menunjukkan dualisme makna akrobatis Bujang Ganong termanifestasi dalam tiga dimensi: narasi (pemberani sekaligus penakut), gerak (akrobatik lincah sekaligus lucu), dan permainan (ditakuti namun digemari penonton). Gerakan akrobatik berfungsi sebagai strategi perlawanan non-konfrontatif yang memungkinkan pembalikan hierarki sosial melalui demonstrasi kemampuan alternatif. Berdasarkan perspektif carnivalesque, gerak akrobatik menciptakan ruang kritis yang memungkinkan kontestasi identitas antara nilai tradisional-modern dan otoritas formal-resistensi informal. Dualisme ini memungkinkan Bujang Ganong mengintegrasikan identitas bertentangan dalam satu kesatuan performativitas harmonis.
Pola Persebaran Objek Wisata Budaya di Toraja Utara Sulawesi Selatan Bulan, Indra Sombo; Arsy, Risma Fadhilla; Hasan, Haslita Rahmawati; Nurvita, Nurvita
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.101802

Abstract

Pariwisata budaya merupakan sektor strategis yang tidak hanya berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam pelestarian identitas budaya lokal. Kabupaten Toraja Utara di Sulawesi Selatan dikenal memiliki kekayaan budaya yang unik dan masih terjaga, seperti situs pemakaman batu, rumah adat Tongkonan, serta berbagai tradisi dan upacara adat. Keunikan ini menjadikan wilayah tersebut menarik untuk dikaji, khususnya dalam konteks persebaran objek wisata budaya dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Meskipun potensinya besar, kajian spasial mengenai pola persebaran objek wisata budaya di wilayah ini masih terbatas. Padahal, pemahaman pola tersebut penting sebagai dasar perencanaan dan pengelolaan pariwisata berbasis potensi lokal secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja objek wisata budaya, menganalisis pola persebaran objek wisata budaya serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial melalui analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbor Analysis), yang diproses menggunakan perangkat lunak ArcGIS. Data yang digunakan meliputi koordinat geografis objek wisata budaya, data sekunder dari instansi terkait, serta hasil observasi lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola persebaran objek wisata budaya di Kabupaten Toraja Utara bersifat tersebar (dispersed), dengan rasio tetangga terdekat sebesar 1,432244, jarak rata-rata antar objek wisata sebesar 2.415,5181 meter, dan nilai z-score sebesar 2,61493, yang menunjukkan signifikansi statistik (T > 2,58). Pola ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti aspek historis, sosial budaya, dan aksesibilitas wilayah. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kebijakan pariwisata budaya yang berkelanjutan serta perencanaan wilayah berbasis potensi lokal.
Kepercayaan Masyarakat Desa Bono Kabupaten Tulungagung Terhadap Pitungan Weton dalam Pembuatan Keputusan Waktu Pernikahan: Perspektif Psikologi Budaya Danianta, Prames Berliana; Pudjibudojo, Jatie K.; Tondok, Marselius Sampe
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.101837

Abstract

Dalam tradisi budaya Jawa, pernikahan dipandang sebagai momen sakral sehingga untuk menentukan waktu pernikahan diperlukan perhitungan cermat melalui “pitungan weton”. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kepercayaan masyarakat Desa Bono, Kabupaten Tulungagung, terhadap “pitungan weton” dalam pengambilan keputusan waktu pernikahan dari perspektif psikologi budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan dua partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis secara tematik untuk menggali pemahaman mendalam terkait praktik ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap “pitungan weton” tetap kuat hingga saat ini, dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, tradisi leluhur, dan keyakinan religius yang erinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menyoroti bagaimana pitungan weton memberikan rasa aman psikologis dan menjadi mekanisme penguatan identitas budaya di tengah modernisasi. Implikasi penelitian ini menggaris bawahi pentingnya menghormati kearifan lokal sebagai bentuk adaptasi budaya yang dapat dipertimbangkan dalam studi lintas budaya dan intervensi berbasis komunitas.
Budaya Rokat Tasek dan Perannya Terhadap Motivasi Bekerja Masyarakat Madura Fitria, Nur; Wicaksono, Drajat
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.102657

Abstract

Rokat Tasek merupakan tradisi pesisir masyarakat Madura yang telah ada sejak ratusan tahun. Tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 11 bulan Suro saat pagi atau siang hari. Rokat Tasek dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan yang telah menjamin keselamatan selama melaut dan hasil laut yang melimpah. Penelitian ini bertujuan mengetahui urjensi pelaksanaan Rokat Tasek dalam peningkatan produktifitas nelayan tradisional Madura. Peneliti berharap akan bisa mengungkap lebih mendalam sistem kepercayaan tradisional masyarakat pesisir Madura dan kaitannya dengan sistem mata pencaharian sebagai produk kebudayaan. Penelitian bermodel pendekatan fusion ini diawali dengan penelitian deskriptif kualitiatif dengan menggunakan teori Interaksi Simbolik yang dikemukakan Herbert Blumer. Penelitian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pendampingan ekonomi kreatif. Pencarian data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam pada beberapa tokoh masyarakat lokal sebagai narasumber kunci. Penelitian ini mengungkap bahwa Rokat Tasek sebagai produk budaya bukan hanya berfungsi sebagai simbol identitas saja, melainkan telah masuk pada sistem kepercayaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja nelayan tradisional Madura.
Perekonomian Peran Komunitas Lokal dalam Melestarikan Budaya dan Meningkatkan Perekonomian di Desa Metun Sajau Kalimantan Utara Kiring, Musa; Gotib, Andi; Elmi, Ester
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.94742

Abstract

Penelitian yang dilakuakn berfokus untuk membahas peran komunitas lokal dalam melestarikan budaya sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Metun Sajau, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif interpretif dengan wawancara serta observasi. Dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa komunitas lokal khususnya masyarakat Dayak Kenyah Bakung, memiliki peran strategis dalam menjaga warisan budaya melalui pelestarian seni tari, musik tradisional, kerajinan tangan, serta upacara adat. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat tidak hanya bertujuan untuk memperkuat identitas budaya, tetapi juga menjadi aset ekonomi yang mempengaruhi tumbuhnya pariwisata budaya dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Keterlibatan generasi muda terbukti menjadi faktor penting dalam keberlanjutan pelestarian budaya melalui kreativitas dan pemanfaatan teknologi digital. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat menciptakan model pembangunan partisipatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga kebudaya terhadap pengaruh kemajuan teknologi. Dengan melestariak kebudaya yang dimiliki dan penguatan ekonomi lokal di Desa Metun Sajau, dapat menjadi strategi efektif untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

Page 2 of 2 | Total Record : 20