cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017" : 7 Documents clear
Penelitian dan Publikasi dalam Ilmu Bedah Akhmadu Muradi
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.37

Abstract

Pada era modern saat ini, Evidence Based Medicine (EBM) atau kedokteran berbasis bukti baik dalam diagnosis maupun tatalaksana merupakan suatu keharusan. Khususnya dalam lingkup ilmu bedah, penelitian dan publikasi untuk mendukung terwujudnya EBM yang baik masih kurang.1 Hanya 3.4% artikel yang dipublikasi di 5 besar jurnal jurnal ilmu bedah dalam rentang 1996-2000 yang berbentuk RCTs.2 Untuk menjawab tantangan ini, muncul banyak grant penelitian dan jurnal bedah yang membawa nama research sebagai bagian dari penyadaran, dorongan dan penyediaan sarana. Lebih lanjut lagi, hasil penelitian dan rekomendasi tatalaksana yang berasal dari populasi negara maju belum tentu langsung bisa diterapkan di Indonesia karena perbedaan karakteristik dalam banyak aspek.3 Oleh karena itu masih terbentang lebar lahan yang bisa diteliti baik dalam hal ilmu dasar maupun teknik operasi dan teknologi yang diaplikasikan dalam penatalaksanaan kasus-kasus bedah. Permasalahan yang muncul saat ini adalah jargon bahwa penelitian dan publikasi itu susah, kompleks dan menyita banyak waktu harus dapat kita ubah sedikit demi sedikit. Budaya membaca dan menulis merupakan hal dasar yang harus ditekankan. Pertanyaan atau ide penelitian sering muncul setelah banyak membaca jurnal, selain tentunya dari praktek keseharian yang dihadapi. Ilmu dan skill meneliti dapat dipelajari dan ditingkatkan dengan mengikuti kursus atau diintegrasikan selama pendidikan. Implementasi surgical research methodology program dalam kurikulum terbukti mampu meningkatkan produktivitas penelitian dan performa residen bedah.4 Program tersebut merupakan program terstruktur dengan topik orientasi, penelusuran literatur sistematik, etika, statistik, dan berbagai bentuk penelitian.4 Hal lain yang sangat mendukung suatu penelitian adalah sistem rekam medik yang ditulis dengan baik, lengkap dan mudah diakses. Permasalahan yang berikutnya adalah penghargaan terhadap suatu penelitian masih minim apalagi bila memiliki tingkat evidence yang rendah seperti laporan kasus dan serial kasus. Perlu digaris bawahi bahwa laporan kasus hingga saat ini masih dapat ditemukan pada jurnal-jurnal internasional dengan impact factor yang tinggi. Hal ini menunjukkan bentuk penghargaan dan penerimaan terhadap sekecil apa pun bentuk penelitian, terlebih bila merupakan kasus yang sangat jarang ditemukan atau menggunakan inovasi baru dalam penatalaksanaannya. Kumpulan dari laporan kasus yang sama dapat menghasilkan bentuk penelitian yang memiliki tingkat evidence yang lebih tinggi. Hal lain yang harus kita ingat adalah meskipun RCTs merupakan bentuk penelitian dengan tingkat evidence yang paling baik, terkadang sulit diterapkan dalam ilmu bedah dibanding penelitian medis lainnya apalagi bila menggunakan placebo sebagai kelompok kontrol.3 Mari kita bersama memajukan penelitian dan publikasi dalam ilmu bedah untuk mendukung praktek kedokteran berbasis bukti. Publikasikan hasil karya kita agar dapat bermanfaat untuk ahli bedah lainnya dan kami siap menerima semua jenis karya ilmiah: laporan kasus, serial kasus, evidence base case report, literature review, systematic review, dan original article. Terakhir, kami mengajak kepada semua ahli bedah untuk mensukseskan dan membawakan hasil kerjanya dalam acara pertemuan ilmiah tahunan ke-22 IKABI pada akhir Juli 2017 di Jakarta.
The Relationship Between Initial Hematocrit and Base Excess For Signs Of Hemorrhagic Shock In Patients With Blunt Abdominal Trauma Alfie Barkah Akhsan; Nurhayat Usman; Reno Rudiman
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.38

Abstract

Introduction: Trauma abdominal and pelvic part of the largest causes of death and, if diagnosed early, the deaths could have been prevented. By increasing the capacity for early detection and prompt and appropriate action, will produce a satisfactory outcome. In patients with bleeding, hemodilution appear within a few minutes to obtain a decrease in hematocrit. BE decline is the result of pyruvic acid metabolism occurring anaerobic tissue hypoperfusion due to bleeding unresolved. There is a strong correlation between the decrease in hematocrit and BE with shock because of intra-abdominal haemorrhage. To analyze the relationship between decreased hematocrit and BE in bleeding patients we investigated the relationship between the initial value of hematocrit and BE against any signs of shock because of intra-abdominal hemorrhage in patients with blunt abdominal trauma. Methods: cross-sectional of the 34 subjects. The research data obtained from history taking, physical examination, investigation, and medical records. Conducted a comparative analysis of Kruskal-Wallis. Test for normality by Kolmogorov-Smirnov test. A p value <0.05 indicates a significant relationship between variables. Data were analyzed using SPSS version 19. Result: It was found an average increase in the pulse (P) frequency with decreasing hematocrit (Ht) is 92.67 ± 6.43x / min for group Ht> 40%, 95.5 ± 16.52x / min for group Ht 37-40%, and 112.89 ± 19.23x / min for group Ht <37%. Obtained an average increase of P frequency with decreasing Base Excess (BE) is 88.0 ± 0x / min for groups BE> 2, 92.33 ± 7.84x / min for BE Group 2 - (- 2), and 112.81 ± 19.22x / min for groups BE < -2. This means that there is a significant relationship between hematocrit decrease with increased of P frequency as one of the signs of hemorrhagic shock with p value = 0.046 and significant correlation between the decrease in BE with increased P frequency as one of the signs of hemorrhagic shock with p value = 0.028. Conclusion: There is a significant correlation between the value of the initial hematocrit and BE with signs of hemorrhagic shock due to intra-abdominal hemorrhage in patients with blunt abdominal trauma.
Evaluation of the Diagnosis and Treatment of Gallstone Pancreatitis Wulan Ayudyasari; Bennardus Philippi; Taslim Poniman; Rofi Yuldi Saunar
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.39

Abstract

Introduction. Acute pancreatitis is a major health problem due to the serious complication and mortality. Annual incidence of acute pancreatitis vary from under 10 to 40 per 100.000 person per year. Gallstone and biliary sludge contributes about 30-65% of the cause of acute pancreatitis and usually diagnosed as biliary or gallstone pancreatitis. There is still no data concerning the prevalence, diagnosis and management of gallstone pancreatitis in Indonesia. Methods. The objective of this study is to know the prevalence and characteristic of diagnosis and management of gallstone pancreatitis in some hospitals in Jakarta. This is a descriptive cross sectional study using the data from medical record of acute pancreatitis and gallstone pancreatitis patients in Cipto Mangunkusumo, Fatmawati, and St Carolus Hospital in 2008-2012. Results. There were 154 acute pancreatitis patients with only 22 (14,2%) patients diagnosed as having gallstone pancreatitis and 24 (15,5%) patients that met the criteria of gallstone pancreatitis but were not diagnosed as having one. On average, gallstone pancreatitis were diagnosed on the fifth day of hospitalization. Among 46 gallstone pancreatitis patients, only 6 (13%) patients had severity assessment. The most frequent examination used to explore the causes was abdominal ultrasound, performed in 37 (80,4%) patients.One (2,2%) patient had biliary sepsis and underwent internal drainage on day 15th. Only 10 (21,7%) patients underwent cholecystectomy. Three (8,3%) patients died, all before having cholecystectomy. Two (5,6%) patients that had not undergone cholecystectomy got readmitted to the hospital due to recurrent acute pancreatitis and pancreatic pseudocyst. Conclusion. From this study we can conclude that the diagnosis and management of gallstone pancreatitis still remain a challenge in Jakarta.
Perbandingan Akurasi Sistem Penilaian Pulp dan Sistem Penilaian Jabalpur Dalam Memprediksi Mortalitas pada Pasien dengan Perforasi Ulkus Peptikum di RSUP DR Hasan Sadikin Bandung Hendrik Stevanus; Reno Rudiman; Andriana Purnama
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.40

Abstract

Latar Belakang: Perforasi ulkus peptikum sering membutuhkan tindakan operasi dengan faktor risiko yang dapat meningkatkan mortalitas. Beberapa prognostic score mengukur gangguan pada sejumlah faktor fisiologis yang mewakili sistem organ utama dan memungkinkan stratifikasi pasien menurut tingkat keparahan, membantu dalam identifikasi pasien berisiko tinggi dan memberikan informasi prognostik. Sistem penilaian PULP dan Jabalpur mempunyai kemiripan paramater yang dapat dinilai sesegera mungkin saat pasien pertama datang dan perbandingan akurasi keduanya dalam memprediksi kematian pada pasien perforasi ulkus peptikum belum tersedia. Metode: Penelitian merupakan uji diagnostik retrospektif terhadap pasien perforasi ulkus peptikum yang diintervensi operasi. Pasien perforasi gaster diakibatkan trauma dan keganasan, serta operasi lebih satu kali sebagai kriteria eksklusi. Data skor PULP dan Jabalpur didapatkan dari rekam medis, dengan cut off <8 dan ?8 pada skor PULP serta <9 dan ?9 pada skor Jabalpur, kemudian hasil perawatan dinilai. Tabulasi silang masing-masing skor terhadap hasil perawatan dengan chi-square dilakukan untuk melihat sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif masing-masing skor serta dilihat juga signifikansi akurasi masing-masing skor. Hasil: Sebanyak 36 pasien perforasi ulkus peptikum dengan 28 (77.8%) adalah laki-laki dan rerata usia 59.56 tahun. Komorbid ditemukan pada 5 pasien yaitu gagal jantung kelas IV dan PPOK masing-masing sebanyak 2 kasus dan dialisis reguler sebanyak 1 kasus. Angka mortalitas sebesar 16.67% (6 pasien), dengan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif Skor PULP sebesar 33.33%; 73.33%; 20%; 84.61% dan Skor Jabalpur sebesar 100%; 60%; 33.33%; 100%. Kedua skor mempunyai akurasi 66.67% dengan p pada Skor PULP sebesar 0.739 dan Skor Jabalpur sebesar 0.007. Subjek dengan skor Jabalpur <9 mempunyai kecenderungan sembuh 1.5 kali dari pasien dengan skor Jabalpur ?9. Kesimpulan: Skor Jabalpur mempunyai signifikansi keakuratan dalam memprediksi mortalitas pasien perforasi ulkus peptikum jika dibandingkan skor PULP yang tidak signifikan.
Hubungan Lactate Clearance 2 Jam dan 4 Jam dengan Keberhasilan Manajemen Nonoperatif pada Pasien Trauma Tumpul Abdomen dengan Riwayat Syok Perdarahan Nova Octoria; Reno Rudiman; Andriana Purnama
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.41

Abstract

Latar Belakang: Perdarahan terselubung pada pasien trauma tumpul menjadi penyebab kedua tertinggi kematian. Tidak terdeteksinya cedera abdomen menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas lambat pada pasien yang dapat bertahan pada fase-fase awal trauma. Manajemen nonoperatif (NOM) pada trauma organ solid adalah aman dan efektif, dan strategi ini telah menjadi praktek yang digunakan secara luas. Lactate clearance memiliki manfaat klinis yang penting pada pasien dengan trauma akut, yang superior terhadap pemeriksaan inisial laktat. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan pemeriksaan nilai lactate clearance pada jam-jam pertama setelah resusitasi terhadap keberhasilan penanganan manajemen nonoperatif. Metode: Bentuk penelitian ini adalah cohort prospektif observasional dengan analisis hubungan lactate clearance 2 jam dan 4 jam dengan keberhasilan NOM pada pasien trauma tumpul abdomen dengan riwayat syok perdarahan di RS. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015 sampai Juli 2016.. Hasil: Terdapat 34 subjek pada studi ini. Terdapat hubungan yang signifikan antara lactate clearance 2 jam (LCD2) dan lactate clearance 4 jam (LC4) dengan kesuksesan NOM (p <0.001). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara LC2 dan LC4 dalam menentukan kesuksesan NOM (p>0,05). Kesimpulan: terdapat hubungan yang sangat signifikan antara lactate clearance 2 jam (LC2) maupun lactate clearance 4 jam (LC4) dalam menentukan keberhasilan manajemen non operatif (NOM) pada pasien dengan syok perdarahan yang disebabkan oleh trauma tumpul abdomen.
Efektivitas Water Soluble Contrast Medium (Urografin®) pada Adhesive Small Bowel Obstruction (ASBO) untuk Diterapi tanpa Pembedahan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Wilner Singarimbun; Maman Wastaman Rodjak; Reno Rudiman; Harry Galuh Nugraha
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.42

Abstract

Pendahuluan: Adhesive small bowel obstruction (ASBO) membutuhkan penatalaksanaan yang tepat sesuai dengan algoritma diagnostik dan terapeutik yang berlaku. Indikasi dan durasi dari penatalaksanaan terapi nonoperatif serta waktu yang tepat tindakan operasi harus dilakukan masih diperdebatkan. Water soluble contrast medium (WSCM) memiliki fungsi diagnostik dan terapeutik pada pasien dengan ASBO. Metode: Jenis penelitian ini adalah before and after study dengan membandingkan dua kelompok penderita ASBO yang diterapi tanpa pembedahan yang dilakukan pemberian Urogafin dan tidak diberikan Urografin® untuk menentukan efek terapeutiknya pada pasien ASBO. Hasil: Dari karakteristik pasien ASBO ditemukan sebagian besar laki laki (55.8%) dengan rentang usia terbanyak antara 27-38 tahun. Pasien datang ke rumah sakit dengan onset ileus 2-5 hari (74.4%) dengan jenis ileus parsial sebanyak 86%(37 pasien). Interval operasi sebelumnya terbanyak < 12 bulan dengan jenis operasi terbanyak berupa appendektomi perlaparotomi. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian WSCM dan kebutuhan terhadap relaparotomi dibandingkan dengan grup kontrol (p:0.043). Urografin® efektif dalam menurunkan Length of Stay (LOS) (p:0.01). Tidak terdapat hubungan antara pemberian WSCM terhadap angka mortalitas pasien ASBO maupun durasi ileus sebelum masuk rumah sakit dengan kebutuhan relaparotomi. Kesimpulan: Tindakan non operatif harus dipertimbangkan pada pasien ASBO tanpa tanda tanda peritonitis maupun strangulasi. Urografin® terbukti aman dan memiliki fungsi diagnosis (memprediksi tingkat resolusi adhesi dan kebutuhan operasi) dan efektif dalam fungsi terapeutik dalam menurunkan waktu resolusi obstruksi, kebutuhan akan operasi ,dan menurunkan durasi lama perawatan di rumah sakit. Posisi kontras dalam 24 jam pertama dapat dijadikan prediktor dalam memutuskan tindakan selanjutnya bagi ahli bedah.
Hubungan antara Nilai Fibrinogen Inisial dengan Kejadian Koagulopati dan Mortalitas pada Pasien Trauma Multipel di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Raden Lyana Sulistyanti; Reno Rudiman; Nurhayat Usman
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.43

Abstract

Latar Belakang: Dari data suatu penelitian dikatakan 1 dari 7 kematian disebabkan oleh trauma dan 30% dari trauma tersebut datang dalam kondisi koagulopati. Koagulopati pada trauma disebut sebagai Trauma Induced Coagulopathy (TIC). Pada TIC, nilai fibrinogen yang rendah sering ditemui dan nilai fibrinogen plasma mencapai nilai terendah lebih awal dibandingkan parameter factor koagulasi lainnya. Nilai fibrinogen inisial berhubungan kuat dengan nilai Injury Severity Score (ISS) dan menjadi nilai prediktor independen untuk mortalitas. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara fibrinogen inisial dengan kejadian koagulopati dan mortalitas. Metode: Penelitian ini merupakan studi prospektif. Seluruh pemeriksaan didapatkan dari 25 pasien trauma multipel. Kadar fibrinogen inisial diambil dari pemeriksaan laboratorium darah bersamaan dengan pemeriksaan rutin lainnya ketika pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hasan Sadikin (IGD RSHS). Koagulopati ditentukan berdasarkan nilai laboratorium Prothrombin Time (PT) atau Partial Thromboplastin Time (aPTT) yang abnormal. Trauma multipel ditentukan dengan nilai ISS ? 15 dan dihitung berdasarkan diagnosis pasti setelah tegak berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang sesuai dengan prosedur tetap di IGD RSHS. Analisis menggunakan SPSS 19.0 dengan metoea analisis chi square untuk melihat kemaknaan hubungan. Hasil: Dari 25 pasien trauma multipel didapatkan mayoritas 80% adalah pasien laki – laki dengan mekanisme kejadian terbanyak adalah trauma kepala sebanyak 16 orang (64%). Terdapat 8 pasien (32%) terjadi koagulopati dan mortalitas terjadi pada 7 pasien (28%). Dari metode analisis chi square didapatkan hubungan yang bermakna antara fibrinogen dengan kejadian koagulopati (p=0,043) sedangkan hubungan antara fibrinogen inisial dengan terjadinya mortalitas didapatkan tidak bermakna (p=0.341). Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara fibrinogen inisial dengan kejadian koagulopati tetapi tidak didapatkan hubungan bermakna antara fibrinogen inisial dengan terjadinya mortalitas pada pasien dengan trauma multipel di RSHS.

Page 1 of 1 | Total Record : 7