Aceh Anthropological Journal
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4, No 1 (2020)"
:
14 Documents
clear
WISATA ZIARAH SEBAGAI IDENTITAS SOSIAL: STUDI ANTROPOLOGI BUDAYA DI MAKAM SULTAN MALIKUSSALEH KECAMATAN SAMUDERA, KABUPATEN ACEH UTARA
Muliadi, Muliadi;
Fasya, Teuku Kemal;
Ilham, Iromi
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3152
Ziarah awalnya merupakan kegiatan ritual keagamaan, kemudian berkembang menjadi wisata ziarah (pilgrimage tourism). Wisata ziarah adalah perjalanan wisata yang tujuaanya berkaitan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan dari peserta tur atau kelompok dari masyarakat. Praktik ziarah memunculkan perilaku yang bervariasi diantara satu daerah dengan yang lainnya. Penelitian ini mengkaji tentang “Wisata Ziarah Sebagai Identitas Sosial (Studi Antropologi Budaya di Makam Sultan Malikussaleh Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara)â€. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, dan studi literatur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif serta perilaku peziarah yang bisa diidentifikasi sebagai identitas sosial masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ada beberapa motif peziarah mengunjungi makam Sultan Malikussaleh, diantaranya; (1) karena tradisi agama, (2) sebagai wasilah atau perantara berdoa, dan (3) cok beurkat (mengambil keberkahan). Kemudian berdasarkan tujuan pelaksanaan ziarah, ada beberapa perilaku yang sering terjadi di Makam Sultan Malikussaleh, diantaranya berdoa, peuphon kitab, bernazar, dan belajar sejarah. Perilaku tersebut cenderung menampilkan karakter identitas masyarakat Aceh dalam berziarah
NOMOKRASI ISLAM UNTUK INDONESIA
Chaidar, Al
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3150
Negara dalam Islam yang paling tepat adalah nomokrasi Islam, artinya kekuasaan yang didasarkan kepada hukum-hukum yang berasal dari Allah, “karena tuhan itu abstrak, maka hanya hukum Tuhan yang nyataâ€. Nomokrasi Islam adalah suatu sistem pemerintahan yang didasarkan pada asas-asas dan kaidah-kaidah hukum Islam (Syari’ah) yang merupakan “Islamic rule of lawâ€. Untuk mewujudkan pemerintahan yang berdaya guna berhasil, bersih, amanah dan bertanggungjawab secara nomokratis, di Indonesia telah dimulai oleh Pemerintah Aceh yang telah berkomitmen untuk memperbaiki tatakelola Pemerintahan Indonesia dengan melakukan kebijakan reformasi birokrasi dan menetapkannya menjadi salah satu prioritas Pembangunan Aceh. Berkaitan dengan pelaksanaan penataan kelembagaan perangkat Indonesia telah di inisiasi di Aceh sejak tahun 2005 hingga akhir 2006. Dengan ditetapkannya UUPA maka terlihatlah gambaran baru dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah dan dalam rangka pelaksanaan otonomi khusus bagi Pemerintah Aceh. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah menetapkan PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat daerah sebagai suatu pedoman dalam penataan kelembagaan perangkat daerah di Indonesia. Semestinya Indonesia menerapkan sistem nomokrasi Islam sedari awal negara ini berdiri untuk menjaga sistem pemerintahan yang adil, efektif, efisien dan bertanggungjawab bagi seluruh rakyat
BERNAZAR DI KUBURAN KERAMAT MUYANG BUNIN: STUDI KASUS DI DESA BUNIN KECAMATAN LOKOP SERBAJADI KABUPATEN ACEH TIMUR
Jahuri, Jahuri;
Nasution, Abdullah Akhyar
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3153
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaiamana prosesi ziarah dan penunaian nazar yang diperaktekkan oleh masyarakat di kuburan Muyang Bunin serta untuk mengetahui motif dan alasan para peziarah melakukan ritual ziarah penunaian nazar di kuburan keramat Muyang Bunin pada masyarakat Desa Bunin Kecamatan Lokop Serbajadi Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Kemudian untuk mengkaji peneliti melakukan penelusuran melalui observasi lapangan, dokumentasi dan wawancara dengan beberapa narasumber dan beberapa tokoh masyarakat seperti kadam/penjaga makam, aparat desa, peziarah dan penduduk setempat serta mengumpulkan data terkait dengan kepercayaan, tingkah laku dan ritual nazar masyarakat peziarah pada kuburan keramat Muyang Bunin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan nazar di kuburan keramat Muyang Bunin disebabkan beberapa hal yaitu adanya kepercayaan peziarah terhadap  unsur kekeramatan pada makam tersebut, juga kepercayaan yang sudah sejak zaman nenek moyang mereka melakukan tradisi ini. Maka dari itu tidak mengherankan lagi bagi masyarakat sekitar untuk tetap melaksanakan peran yang secara turun temurun masih dilaksanakan sampai sekarang.
MAKNA SIMBOLIK RITUAL RATIB BERJALAN PADA TRADISI TOLAK BALA: STUDI DESA SUNGAI KURUK III KECAMATAN SERUWAY KABUPATEN ACEH TAMIANG
Arifin, Awaluddin;
Subhani, Subhani;
Rabiah, Rabiah
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3151
This research is entitled about the Symbolic Meaning of Ritual Ratib Walking in the Tolak Bala Tradition (Study of Sungai Kuruk III Village, Seruway District, Aceh Tamiang Regency). This research focuses on the process of implementing the walking ratib ritual and the symbolic meaning in the equipment as well as the signs and symbols attached to the walking ratib ritual. Symbolic meanings are the meanings contained in symbols where these symbols have been added to the elements of belief which make the sacred value of a symbol higher. The purpose of this research is to describe the process, the meaning of each symbol and the symbols that exist in the running ritual. This study used a qualitative descriptive approach using symbolic interaction theory. To obtain accurate data and informants, the data collection techniques used were observation, interviews and documentation. The results showed that each symbol in the walking ritual equipment had its own meaning which had been mutually agreed upon so that it could be understood by all of the community.
MEMPERTAHANKAN TRADISI PACU JAWI: ETNOGRAFI TENTANG PENGETAHUAN DAN PRAKTEK MEMELIHARA SAPI PACUAN DI NAGARI III KOTO, KABUPATEN TANAH DATAR, SUMATERA BARAT
Pratama, Adilla;
Nasution, Abdullah Akhyar
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3154
Penelitian ini berjudul Mempertahankan Tradisi Pacu Jawi (Etnografi Tentang Pengetahuan Dan Praktek Memelihara Sapi Pacuan Di Nagari III Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat). Penelitian ini mengkaji tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Pacu Jawi bagi masyarakat dan untuk mengetahui sistem pengetahuan dan praktek perawatan Jawi Pacuan. Metode dalam penelitian ini penulis menggunakan metodelogi penelitian Kualitatif dengan pendekatan Etnografi. Teknik pengumpulan data observasi partisipatif, wawancara tak terstruktur, dan studi dokumen. hasil penelitian menunjukan nilai-nilai yang terdapat dalam Pacuan Jawi di masyarakat Padang Luar ada nilai kerjasama ini tercermin dalam pacu jawi dimana masyarakat dan panitia bekerjasama agar acara pacu jawi dapat berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dalam kerja sama masyarakat dan panitia untuk mempersiapkan lokasi untuk pacuan jawi tersebut. Disini masyarakat dan panitia menyiapkan tenda dan mencari air untuk mengaliri sawah yang akan dipakai untuk pacuan jawi, kerjasama antar pemilik Jawi dan pemilik jawi lainnya serta seorang joki dalam memasang Tajak kepada Jawi tersebut, kerjasama antar penonton dapat juga kita lihat untuk saling menjaga keamanan dan kenyamanan saat menonton Pacuan Jawi. Sistem pengetahuan dan perawatan jawi pacuan yang dimiliki masyarakat Padang Luar, khususnya peternak jawi pacuan mereka membuat kandang yang agak berbeda dari jawi ternak lainnya, kalau jawi pacuan kandangnya biasa dilantai menggunakan bambu, bambu ini disusun dengan serapi-rapinya agar Jawi tersebut nyaman dan tidak terkena penyakit Rematik. Perawatan Jawi Pacuan ini tidak jauh beda dibandingkan Jawi ternak lainnya, yang membedakannya Jawi Pacuan ini harus dilatih dan diberi makanan tambahan untuk menunjang dan membuat Jawi berkembang begitu cepat.
BOSAN DENGAN RAMBUT HITAM: KAJIAN BUDAYA TENTANG TREN MEWARNAI RAMBUT DI KECAMATAN KOTA KUALA SIMPANG KABUPATEN ACEH TAMIANG
Suprida, Eli
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3155
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang, dengan judul “Bosan Dengan Rambut Hitam†(Tren Mewarnai Rambut di Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif, untuk menggali data yang lebih akurat, serta penulis juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, mendalam, dan dokumentasi. Dari penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mewarnai rambutnya dikarenakan mengikuti tren mewarnai rambut yang sedang berkembang saat ini. Melihat persoalan ini, Kebiasaan mewarnai rambut pada dasarnya tidak tumbuh pada hari ini, Keinginan untuk mewarnai rambut memang sudah berkembang sejak zaman Mesir Purba. Tak hanya itu, pemilihan kosmetika harus senantiasa didasarkan kepada kondisi rambut dan tujuan yang hendak dicapai. mimikri adalah suatu hasrat dari subjek yang berbeda menjadi subjek yang lain yang hampir sama, tetapi tidak sepenuhnya (as subject of a difference, that is almost the same, but not quite). Amerikanisasi telah menjadi salah satu aspek sejumlah ketakutan dan kecemasan umum atas semakin besarnya kapasitas kaum muda dan kelas pekerja untuk berpartisipasi dalam masyarakat konsumen yang lahir secara perlahan-lahan. Dampak amerikanisasi tidak luput dari peranan media massa yang berhasil merekontruksi jati diri mereka.
DILEMA WISATA DI KOTA LHOKSEUMAWE: STUDI SOSIAL BUDAYA PADA TEMPAT WISATA WADUK JEULIKAT
Yanti, Yanti;
Fasya, Teuku Kemal;
Chalid, Ibrahim
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3156
: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat, untuk mempelajari dan mendeskripsikan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar wisata waduk Jeulikat serta untuk mengetahui konflik yang hadir di tempat wisata waduk Jeulikat. Metode pada penelitian ini adalah menggambarkan proses antropologi sosial budaya. Sumber data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat sejauh ini dirasakan masih stabil, selama Pemerintah Kota Lhokseumawe mampu mengelola waduk Jeulikat sebaik mungkin, mengutamakan kepentingan umum demi masyarakat sekitar, melakukan kerjasama dan komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat, sehingga pengembangan wisata berjalan dengan yang diharapkan. Dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar dengan adanya wisata waduk Jeulikat pada umumnya membawa perubahan dalam membangun roda perekonomian masyarakat, membuka kesempatan lapangan kerja, berdagang atau berbisnis serta prospek yang menjanjikan terhadap Gampong Jeulikat, sehingga membantu memperlancar perekonomian masyarakat. Namun disisi lain berdampak kurang menguntungkan bagi masyarakat sekitar, hal ini dikarenakan aktivitas masyarakat terhambat karena tidak berfungsi lagi saluran irigasi sawah. Konflik yang hadir di tengah-tengah tempat wisata waduk Jeulikat yaitu adanya permasalahan dari faktor keamanan dalam hal pembebasan lahan yang terjadi antara Pemerintah Kota Lhokseumawe dengan masyarakat setempat, karena waduk yang sebelumnya dipergunakan sebagai pengairan irigasi, kini telah dijadikan sebagai tempat wisata yang handal. Selain itu juga hadir permasalahan dari faktor yang berbaur politik, dimana waduk Jeulikat yang dulunya milik masyarakat, kini telah dijadikan sebagai tempat rekreasi
BOSAN DENGAN RAMBUT HITAM: KAJIAN BUDAYA TENTANG TREN MEWARNAI RAMBUT DI KECAMATAN KOTA KUALA SIMPANG KABUPATEN ACEH TAMIANG
Eli Suprida
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3155
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang, dengan judul “Bosan Dengan Rambut Hitam” (Tren Mewarnai Rambut di Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif, untuk menggali data yang lebih akurat, serta penulis juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, mendalam, dan dokumentasi. Dari penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mewarnai rambutnya dikarenakan mengikuti tren mewarnai rambut yang sedang berkembang saat ini. Melihat persoalan ini, Kebiasaan mewarnai rambut pada dasarnya tidak tumbuh pada hari ini, Keinginan untuk mewarnai rambut memang sudah berkembang sejak zaman Mesir Purba. Tak hanya itu, pemilihan kosmetika harus senantiasa didasarkan kepada kondisi rambut dan tujuan yang hendak dicapai. mimikri adalah suatu hasrat dari subjek yang berbeda menjadi subjek yang lain yang hampir sama, tetapi tidak sepenuhnya (as subject of a difference, that is almost the same, but not quite). Amerikanisasi telah menjadi salah satu aspek sejumlah ketakutan dan kecemasan umum atas semakin besarnya kapasitas kaum muda dan kelas pekerja untuk berpartisipasi dalam masyarakat konsumen yang lahir secara perlahan-lahan. Dampak amerikanisasi tidak luput dari peranan media massa yang berhasil merekontruksi jati diri mereka.
DILEMA WISATA DI KOTA LHOKSEUMAWE: STUDI SOSIAL BUDAYA PADA TEMPAT WISATA WADUK JEULIKAT
Yanti Yanti;
Teuku Kemal Fasya;
Ibrahim Chalid
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3156
: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat, untuk mempelajari dan mendeskripsikan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar wisata waduk Jeulikat serta untuk mengetahui konflik yang hadir di tempat wisata waduk Jeulikat. Metode pada penelitian ini adalah menggambarkan proses antropologi sosial budaya. Sumber data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat sejauh ini dirasakan masih stabil, selama Pemerintah Kota Lhokseumawe mampu mengelola waduk Jeulikat sebaik mungkin, mengutamakan kepentingan umum demi masyarakat sekitar, melakukan kerjasama dan komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat, sehingga pengembangan wisata berjalan dengan yang diharapkan. Dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar dengan adanya wisata waduk Jeulikat pada umumnya membawa perubahan dalam membangun roda perekonomian masyarakat, membuka kesempatan lapangan kerja, berdagang atau berbisnis serta prospek yang menjanjikan terhadap Gampong Jeulikat, sehingga membantu memperlancar perekonomian masyarakat. Namun disisi lain berdampak kurang menguntungkan bagi masyarakat sekitar, hal ini dikarenakan aktivitas masyarakat terhambat karena tidak berfungsi lagi saluran irigasi sawah. Konflik yang hadir di tengah-tengah tempat wisata waduk Jeulikat yaitu adanya permasalahan dari faktor keamanan dalam hal pembebasan lahan yang terjadi antara Pemerintah Kota Lhokseumawe dengan masyarakat setempat, karena waduk yang sebelumnya dipergunakan sebagai pengairan irigasi, kini telah dijadikan sebagai tempat wisata yang handal. Selain itu juga hadir permasalahan dari faktor yang berbaur politik, dimana waduk Jeulikat yang dulunya milik masyarakat, kini telah dijadikan sebagai tempat rekreasi
WISATA ZIARAH SEBAGAI IDENTITAS SOSIAL: STUDI ANTROPOLOGI BUDAYA DI MAKAM SULTAN MALIKUSSALEH KECAMATAN SAMUDERA, KABUPATEN ACEH UTARA
Muliadi Muliadi;
Teuku Kemal Fasya;
Iromi Ilham
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3152
Ziarah awalnya merupakan kegiatan ritual keagamaan, kemudian berkembang menjadi wisata ziarah (pilgrimage tourism). Wisata ziarah adalah perjalanan wisata yang tujuaanya berkaitan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan dari peserta tur atau kelompok dari masyarakat. Praktik ziarah memunculkan perilaku yang bervariasi diantara satu daerah dengan yang lainnya. Penelitian ini mengkaji tentang “Wisata Ziarah Sebagai Identitas Sosial (Studi Antropologi Budaya di Makam Sultan Malikussaleh Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara)”. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, dan studi literatur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif serta perilaku peziarah yang bisa diidentifikasi sebagai identitas sosial masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ada beberapa motif peziarah mengunjungi makam Sultan Malikussaleh, diantaranya; (1) karena tradisi agama, (2) sebagai wasilah atau perantara berdoa, dan (3) cok beurkat (mengambil keberkahan). Kemudian berdasarkan tujuan pelaksanaan ziarah, ada beberapa perilaku yang sering terjadi di Makam Sultan Malikussaleh, diantaranya berdoa, peuphon kitab, bernazar, dan belajar sejarah. Perilaku tersebut cenderung menampilkan karakter identitas masyarakat Aceh dalam berziarah