cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 65 Documents
Search results for , issue "Vol. 35 No. 34 (2025)" : 65 Documents clear
Hiperrealitas Orang Muda di Era Digital dalam Perspektif Jean Baudrillard Anggoro, Blasius Diki; Krisnanda, Vincentius Septian; Wijayaputra, Yusuf Irawan Arsardi; Prasojo, Agilang Aji
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.276

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena hiperrealitas dalam kehidupan orang muda Indonesia di era digital dengan merujuk pada pemikiran Jean Baudrillard. Perkembangan media sosial telah membentuk ruang simulatif di mana identitas, relasi, dan emosi tidak lagi merefleksikan kenyataan yang utuh, melainkan dikonstruksi melalui tanda, citra, dan algoritma. Dalam konteks ini, orang muda terdorong untuk membentuk identitas digital yang telah dipoles agar sesuai dengan ekspektasi pasar digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan wawancara mendalam terhadap delapan responden berusia 18–24 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas informan menyadari adanya perbedaan antara diri mereka yang otentik dengan versi digital yang ditampilkan. Situasi ini menciptakan krisis otentisitas, ketergantungan terhadap validasi digital, dan tekanan emosional yang berujung pada kelelahan serta kecemasan sosial. Bahkan, dalam beberapa kasus, nilai-nilai spiritual pun terancam dikompromikan. Temuan ini menunjukkan bahwa pemikiran Baudrillard tentang simulacra dan hiperrealitas sangat relevan dalam membaca disorientasi identitas di era media sosial. Oleh karena itu, penting dikembangkan kesadaran kritis dan refleksi diri agar orang muda mampu bertahan sebagai pribadi yang otentik di tengah dominasi citra dan ilusi digital
Scroll, Like, Repeat: Analisis Kritis Komunikasi Orang Muda dalam Budaya Digital Kontemporer Mbake Woka, Agustino Basten; Ngese Doja, Alfredsius; Rama Dwi Julio, Leonardo; Abi, Maksimus; Doni, Romansyah
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.277

Abstract

Tulisan ini membahas fenomena pola komunikasi dangkal dan repetitif yang berkembang di kalangan orang muda dalam ekosistem budaya digital kontemporer. Fokus utama kajian ini adalah aktivitas “scroll, like, repeat” di media sosial seperti Instagram dan TikTok yang telah menggantikan bentuk komunikasi interpersonal yang reflektif dengan interaksi instan, simbolik dan minim makna. Penelitian ini mengevaluasi bagaimana budaya digital yang mengutamakan kecepatan, visualisasi dan reaksi cepat mendorong konsumsi konten pasif serta membentuk komunikasi yang lebih performatif daripada substansial. Dengan menggunakan pendekatan teori komunikasi kritis dari pemikir seperti Habermas, McLuhan, dan Baudrillard, analisis ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya sebagai saluran komunikasi, tetapi juga sebagai alat dominasi budaya dan konstruksi realitas sosial. Fenomena komunikasi instan telah menciptakan krisis makna, menurunkan kualitas dialog dan memunculkan dampak psikologis seperti alienasi dan ketergantungan terhadap validasi eksternal. Orang muda cenderung terjebak dalam pola interaksi yang mementingkan respons cepat ketimbang refleksi, yang berdampak pada kemampuan berpikir kritis dan berempati. Tulisan ini menekankan perlunya pengembangan literasi media dan pendidikan komunikasi kritis untuk membangun kembali kesadaran terhadap makna komunikasi. Komunikasi yang bermakna tidak hanya berfokus pada ekspresi, tetapi juga keterlibatan dalam dialog otentik yang memperkaya relasi sosial dan keberadaan bersama. Penemuan dari kajian ini adalah bahwa komunikasi digital di kalangan orang muda saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga kedalaman, refleksi dan keaslian. Upaya kolektif untuk memperlambat ritme komunikasi, meningkatkan kesadaran kritis dan mendorong praktik dialogis sangat penting untuk membentuk ruang digital yang lebih sehat, inklusif dan transformatif.
Iman di Era Digital: Pengaruh Media Sosial terhadap Formasi Rohani Orang Muda Katolik Generasi Z di Malang Madyo Utomo, Kurniawan Dwi
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.278

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh media sosial terhadap pembentukan dan perkembangan iman orang muda Katolik Generasi Z. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas bahwa media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda, memengaruhi cara mereka berelasi, mencari makna, dan mengekspresikan iman. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana media sosial membentuk kehidupan rohani orang muda serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memperkuat atau justru melemahkan pertumbuhan iman di tengah budaya digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, melalui wawancara mendalam terhadap enam belas mahasiswa Katolik yang aktif menggunakan media sosial. Analisis tematik dilakukan untuk menemukan pola pengalaman, persepsi, dan refleksi spiritual partisipan terhadap penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh ganda terhadap kehidupan iman. Di satu sisi, ia dapat melemahkan iman melalui perbandingan sosial, kecanduan digital, dan berkurangnya relasi tatap muka. Namun di sisi lain, media sosial juga memperkaya iman dengan menyediakan akses mudah terhadap Kitab Suci, homili, renungan rohani, dan komunitas iman daring. Ketahanan iman orang muda bergantung pada dukungan lingkungan, literasi digital, dan disiplin rohani pribadi
Diri yang Terfragmentasi: Filsafat Paul Ricoeur dan Narasi Identitas Kaum Muda di Dunia Digital Zandro Raioan , Agrindo; Riyanto, FX. Eko Armada; Batararanda Ismupuranto, Mayolus Dimas; Sakti, Cornelis Nuba
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.279

Abstract

Di era digital, kaum muda hidup dalam ruang interaksi sosial yang didominasi oleh media digital. Identitas pribadi dibentuk dan dipertontonkan secara instan melalui narasi-narasi singkat, visual, dan terfragmentasi. Kondisi ini menimbulkan persoalan serius mengenai kontinuitas, otentisitas, dan kedalaman identitas diri, yang kini cenderung ditentukan oleh algoritma dan ekspektasi sosial, bukan oleh refleksi pribadi yang mendalam. Artikel ini bertujuan untuk menelaah bagaimana konstruksi identitas kaum muda dalam dunia digital dapat dipahami secara filosofis melalui kerangka identitas naratif dari Paul Ricoeur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif reflektif dengan pendekatan hermeneutika filosofis untuk menganalisis teks dan fenomena. Kerangka teorinya berpijak pada gagasan Ricoeur mengenai narasi sebagai medium pembentukan identitas melalui kesinambungan waktu dan tanggung jawab etis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital cenderung memecah kesinambungan (kontinuitas) naratif diri dan menciptakan identitas yang performatif, tetapi dalam waktu yang sama juga menyediakan ruang untuk rekonstruksi identitas yang lebih reflektif dan bertanggung jawab. Dengan demikian, filsafat Ricoeur menawarkan landasan penting untuk memahami sekaligus mengkritisi dinamika eksistensial kaum muda di tengah arus digitalisasi identitas
Pier Giorgio Frassati & Carlo Acutis: Darah Muda, Jiwa Kudus! Studi Kanonik tentang “Kanonisasi” Galed, Daniel Ortega
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.280

Abstract

Kajian kanonik ini membahas mengenai evolusi proses kanonisasi dalam Gereja dari masa ke masa. Pengetahuan mengenai para kudus mungkin adalah bagian historis yang paling unik, luar biasa dan menakjubkan, sebab ia bercerita tentang heroisme, dedikasi dan keberanian yang ditinggalkan oleh putra-putri Gereja. Dalam wajah Para Kudus, Gereja Kristus tak kehilangan arah. Teladan mereka memungkinkan kekudusan ditemukan kembali di tiap generasi. Penetapan legislasi kanonik dalam hal ini memegang peranan ganda: pertama, mendokumentasikan secara normatif dan sahih kekudusan para anggotanya, kedua, menunjukkan “jalan” kekudusan ini kepada semua anggota Gereja, tak terkecuali bagi kaum muda. Dalam berbagai bulla kanonisasi, para kudus sering disamakan sebagai “mereka” yang datang “pada waktu yang tepat” untuk menjawab kebutuhan Gereja dan dunia. Sintesis dari telaah kanonik ini menunjukkan bahwa kaum muda, tanpa diragukan, adalah “yang tepat” di era teknologi hari-hari ini. Karenanya, kekudusan bagi mereka bukanlah utopia. Carlo dan Giorgio, setidaknya, telah membuktikannya.
Spiritualitas Awam dalam Penggunaan Media Sosial: Suatu Refleksi atas Amsal 4:18 dan Yohanes 8:12 dalam Konteks Menjadi Terang di Dunia Digital Fernandes, Stefanus; Gunawan, Henricus Pidyarto
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.281

Abstract

Era digital telah menjadi ruang baru bagi umat Kristiani dalam mengekspresikan iman dan identitas moralnya. Namun, dinamika media sosial juga membawa tantangan etis yang perlu ditanggapi secara spiritual. Artikel ini bertujuan untuk membangun pemahaman tentang pentingnya spiritualitas terang dalam kehidupan digital umat Kristiani dengan mendasarkan refleksi pada dua teks Kitab Suci, yaitu Amsal 4:18 dan Yohanes 8:12. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutik biblis guna menafsirkan makna teks secara kontekstual dan aplikatif terhadap realitas media sosial. Kedua ayat tersebut dijadikan sebagai fondasi etis dan spiritual dalam membentuk karakter digital umat. Kajian ini mengkaji relasi antara terang dan identitas moral umat, serta implikasinya terhadap komunikasi etis, kesaksian iman, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terang dalam pemahaman biblis bukan hanya simbol spiritual, tetapi menjadi pedoman konkret dalam membentuk kepribadian digital yang otentik dan bermisi. Kontribusi utama artikel ini adalah menyajikan kerangka spiritualitas terang yang dapat menjadi panduan praktis bagi umat awam untuk hidup setia pada nilai-nilai Injili di tengah kompleksitas dunia digital.
Menjadi Manusia Berhikmat di Tengah Bayang-Bayang Kecerdasan Buatan (AI) Menurut Amsal 4:1-9 Radja, Nikolaus Tabe; Budiono , Ignasius
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.282

Abstract

Fokus penelitian ini adalah menelusuri bagaimana manusia memperoleh hikmat di tengah arus besar perkembangan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Akhir-akhir ini AI tidak hanya menjadi penemuan, melainkan gaya hidup. Bahkan AI menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri. Pengaruh AI yang mendominasi berbagai aspek kehidupan membuat manusia sangat bergantung padanya. Situasi demikian membuat manusia berpikir apa yang menjadi bagian khas dalam dirinya, sebab semuanya sudah diambil alih oleh AI. Manusia berada fase krisis karena tidak berdaya dengan AI dan segala kecanggihannya. Menurut Amsal 4:1-9 nilai yang khas dalam diri manusia sekaligus tidak ada dalam AI adalah hikmat. Hikmat adalah nilai yang harus dikejar dan dipelihara dengan sungguh oleh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan penegasan bahwa hikmat adalah hal yang perlu diperjuangkan manusia untuk memperoleh kepenuhannya. Metode yang digunakan adalah analisis sintaksis dan semantik tentang hikmat lalu dihubungkan dengan AI sebagai produk kecerdasan manusia. Penulis menemukan bahwa hikmat tidak dapat ditemukan dalam AI atau produk kecerdasan lainnya, melainkan dalam diri manusia. Hikmat membuat manusia untuk hidup dalam kebenaran, dan tidak dikendalikan oleh situasi atau kemajuan dunia. Manusia harus sampai pada pengenalan akan dirinya melalui hikmat, sekalipun berada di bawah bayang-bayang AI.
Komitmen Spiritual Gen-Z di Era Virtual Identity Crisis: Perspektif Intertekstual Alkitabiah dari Amsal 3:1–6 dan Yohanes 14:1–6 Jeraman, Gaspar Triono; Gunawan, Henricus Pidyarto
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.283

Abstract

Generasi Z (Gen-Z), hidup di tengah dunia digital yang menciptakan krisis identitas virtual yakni suatu ketegangan antara citra diri maya dan eksistensi nyata yang berdampak pada spiritualitas mereka. Artikel ini merespons fenomena tersebut dengan mengangkat dua teks Kitab Suci, Amsal 3:1–6 dan Yohanes 14:1–6, sebagai dasar refleksi teologis. Kajianya terdiri dari: isi dan tafsiran kedua teks, relasi intertekstual di antara keduanya, serta pesan teologisnya bagi Gen-Z yang mengalami krisis identitas spiritual. Metode yang digunakan adalah hermeneutika intertekstual, dengan menelusuri gema makna antara kedua teks berdasarkan pendekatan Richard B. Hays. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amsal menekankan hidup dalam kasih, setia, dan kepercayaan kepada Tuhan, sedangkan Yohanes menampilkan Yesus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup, sebagai jawaban definitif atas pencarian eksistensial manusia. Keduanya memperlihatkan kesinambungan teologis dari hikmat menuju relasi personal dengan Kristus. Dalam kedua perikop ini, iman dipahami bukan sekadar landasan dan imperatif moral, melainkan proses dan pilihan definitif untuk hidup dalam kebenaran Allah, yang menjadi solusi spiritual bagi krisis identitas digital yang dialami Gen-Z.
Menjaga Hati, Menemukan Identitas Refleksi Teologi Biblis-Komparatif Amsal 4:23 dan Yoh 7:38 dan Implikasinya bagi Pergulatan Kaum Muda di Era Digital Ardhiatama, William Fortunatus Dani; Isharianto , Rafael
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.284

Abstract

Fokus artikel ini adalah menafsirkan dan merefleksikan makna “hati” sebagaimana dipresentasikan dalam Amsal 4, 23 dan Injil Yohanes 7, 38 dalam konteks perjuangan identitas yang dihadapi kaum muda dewasa ini. Realitas krisis identitas di antara kaum muda di era digital merupakan kenyataan yang tak terelakkan. Mereka sering gagal dalam menguasai diri dan kehidupan batin mereka, yang berujung pada perilaku yang merugikan.Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegese komparatif, dimana kedua teks biblis tersebut dikaji secara kritis dan dikaitkan dengan realitas sosial kontemporer yang dihadapi oleh kaum muda. Temuan utama dari kajian ini menunjukkan bahwa hati merupakan jantung kehidupan manusia, dari mana semua aktivitas manusia bersumber. Karena itu hati harus selalu dijaga dengan tekun dan diarahkan kepada Kristus. Hati yang diarahkan kepada Kristus akan menghasilkan banyak buah. Dalam konteks dewasa ini menjaga hati bagi kaum muda berarti mengembangkan disposisi batin untuk penguasaan diri. Dengan penguasaan diri kaum muda akan mampu merawat hati mereka di dalam Kristus, dan dengan demikian menemukan makna hidup, identitas sejati mereka, dan panggilan luhur hidupnya.
Takut Akan Tuhan Sebagai Dasar Hidup Kaum Muda: Telaah Amsal 1:7 dalam Konteks Milenial dan Gen Z Sianturi, Krisna Ricardo; Wardoyo, Gregorius Tri
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.285

Abstract

Generasi Milenial dan Gen Z hidup dalam era yang ditandai oleh kemajuan teknologi, arus informasi yang cepat, serta pergeseran nilai-nilai sosial dan spiritual. Di tengah realitas tersebut, mereka menghadapi tantangan serius dalam membentuk kehidupan yang bermakna dan berakar secara moral maupun spiritual. Relativisme moral, individualisme, dan sekularisme menjadi karakter dominan yang mengikis ketundukan terhadap otoritas ilahi, dan menyebabkan banyak kaum muda mengalami kebingungan nilai, kekosongan rohani, serta krisis makna hidup. Dalam konteks ini, Amsal 1:7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan yang bijaksana dan bertanggung jawab. Artikel ini bertujuan untuk menelaah makna “takut akan Tuhan” secara eksegetis dan teologis dalam terang Amsal 1:7, serta mengaitkannya dengan tantangan spiritual dan etika yang dihadapi generasi Milenial dan Gen Z. Penelitian ini menunjukkan bahwa “takut akan Tuhan” bukan sekadar rasa takut dalam arti negatif, melainkan sikap hormat, tunduk, dan kesadaran akan kehadiran dan otoritas Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Sikap ini merupakan dasar dari hikmat sejati, yang membimbing kaum muda untuk hidup dengan arah yang jelas, nilai-nilai yang kokoh, serta spiritualitas yang berakar. Dengan fondasi ini, kaum muda didorong untuk tidak hanya bertahan dalam arus zaman, tetapi juga menjadi agen transformasi yang membawa terang di tengah dunia yang gelap. Peran komunitas iman sangat penting dalam menanamkan nilai ini agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara spiritual dan etis.