cover
Contact Name
Theodorus Miraji
Contact Email
jojo.luvjesus@gmail.com
Phone
+6282134184629
Journal Mail Official
jurnalberea@gmail.com
Editorial Address
Jalan Cemara No.72 Salatiga
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta
ISSN : 27164322     EISSN : 27162834     DOI : https://doi.org/10.37731/log.v2i1.47
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta adalah jurnal nasional yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Berea dan berfokus pada isu-isu kebaruan Teologi Pentakosta. Sebagai wadah publikasi, LOGIA menerima hasil penelitian ilmiah para akademisi dan praktisi. Semua artikel yang masuk akan di-review oleh reviewer yang ahli di bidangnya dengan menerapkan proses double blind review. Jurnal yang terbit 2 kali setahun ini (Juni dan Desember) memiliki scope: Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Kristen yang semuanya memiliki ciri khas Pentakosta
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021" : 6 Documents clear
Keterkaitan Kedewasaan Rohani dengan Penatalayanan yang Maksimal dalam Gereja dan Dunia Market Place Baskoro, Paulus Kunto; Anggiriati, Indra
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i2.52

Abstract

Kehadiran orang percaya seharusnya bukan saja menjadi dampak di kalangan gereja, namun juga harus berada dalam kalangan market place atau sukelur yaitu dalam dunia bisnis. Yesus menghendaki setiap orang percaya menjadi berkat dimananpun berada. Namun tidak bisa dipungkiri, kedewasaan rohani menjadi bagian terpenting untuk kegerakan dalam gereja dan dunia market place. Inilah yang dinamakan sebuah penatalayanan yang sesungguhnya. Sebab banyak sekali didapati orang-orang percaya hanya hebat di gereja atau diantara kalangan orang Kristen saja. Namun tidak bisa membawa dampak yang besar dalam dunia sekuler, dunia bisnis, dunia pendidikan dan pengaruh yang lebih besar lagi. Pemahaman penatalayanan yang efektif terjadi ketika kedewasaan rohani bertumbuh dengan maksimal. Sehingga sentuhan orang percaya menjadi seimbang antara gereja dan market place. Sebab dalam dunia market place, lebih banyak orang yang merindukan sentuhan penatalayanan secara maksimal. Metode yang akan digunakan secara deskritif untuk memahami prinsip ini adalah dengan studi kasus dan studi pustaka yang berfokus membahas kegerakan penatalayanan di gereja dan market place, sehingga menghasilkan sebuah jawaban yang maksimal. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menyatakan keterkaitan antara kedewasaan dengan penatalayanan yang maksimal dalam gereja dan market place, sehingga setiap orang percaya memahami ketika rohani dewasa, maka bisa melihat sebuah pelayanan bukan saja di gereja, namun juga menjadi berkat bagi market place. Memberikan jawaban juga bahwa market place juga bisa menjadi dampak kegerakan gereja Tuhan yang lebih mudah dinikmati. Abstract The presence of believers should not only be an impact the church circle, but must also be in the market place of sukelur, namely in the business world. Jesus wants every believer to be a blessing wherever they are. However, it cannot be denied that spiritual maturily is the most important part of movement in the church and the wolrld of the market place. This is that real stewardship is all about. It is because there are so many people who believe that they are only great in the church or among Chirstians. However, it cannot have a big impact in the secular world, the world of business, the world of education and a bigger influence. The understanding of effective stewardship occurs when spiritual maturity is maximized. So that the believers’s touch become a balance between the church and the market place. Because in the wolrd of market plave, more people miss the maximum stewardship touch. The methods that will be used descriptively to understand this principle are case studies and literature studies that fokcus on discussing the movement of stewardship in churches and market places, so as to pruduce a maximum answer.The purpose of this discussion is to state relationship between maturity and maximum stewardship in the church and market place, so that every believer understands that when spiritually matures, he can a servise not only in the church, but also a blessing for that market place. He alson gave an answer that the market place cam also be an impact of the movement of God’s church is easier to enjoy.
Konsep Menggembalakan Di Dalam Perjanjian Baru Dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini Waruwu, Yuferi; Gulo, Hisikia
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i2.50

Abstract

Konsep ποιμαινω “menggembalakan” gereja berdasarkan kitab Perjanjian Baru dan implikasinya bagi gereja masa kini merupakan topik penting yang perlu dimengerti dan dipahami dalam kehidupan kekristenan masa kini. Konsep ποιμαινω merupakan perintah penting Tuhan Yesus dalam kitab Perjanjian Baru. Namun, pada kenyataannya perintah itu tidak diberikan perhatian khusus oleh gereja-gereja masa kini. Tuhan memanggil gembala untuk bersedia menggembalakan umat-Nya supaya semua orang bisa dipersatukan dengan diri-Nya sebagai Kepala Gereja dan Gembala Agung. Allah mempercayakan dan memilih gembala untuk bekerjasama dengan-Nya melaksanakan penggembalaan. Allah memilih gembala bukan karena kelebihan atau pontensi yang dimilikinya tetapi justru dalam setiap kelemahan kuasa Allah menjadi nyata. Bersama Tuhan gembala bisa, karena gembala bekerja untuk melayani Tuhan. Mengerjakan perintah-Nya dengan kekuatan yang Ia berikan tanpa mengkhawatirkan akan hasilnya karena hasil atau pertumbuhan Allah yang memberikan. Maka dengan itu, peneliti akan menggunakan metode eksegesis untuk merumuskan konsep ποιμαινω berdasarkan kitab Perjanjian Baru. Hasil penelitian menemukan beberapa konsep ποιμαινω dalam Perjanjian Baru sebagai berikut: pertama, inisiatif dan otoritas Allah. Kedua, sinergi dengan Allah. Ketiga, bukti mengasihi Yesus. Keempat, tindakan mengawasi diri dan jemaat. Kelima, perintah dan kehendak Allah. Dan keenam, ποιμαινω merupakan kasih dan karya Allah. Keenam konsep di atas merupakan kunci penggembalaan dalan kitab Perjanjian Baru.Kata Kunci: Menggembalakan, Gereja, Perjanjian Baru, Pertumbuhan AbstractThe concept of ποιμαινω “shepherding” the church based on the New Testament and its implications for the church today is an important topic that needs to be understood and understood in Christian life today. The concept of ποιμαινω is an important command of the Lord Jesus in the New Testament. However, in reality the commandment is not given special attention by churches today. God calls the pastor to be willing to shepherd His people so that all people can be united with Him as Head of the Church and Great Shepherd. Allah entrusts and chooses a shepherd to cooperate with Him in carrying out the shepherding. God chooses a shepherd not because of his strengths or potentials, but instead in every weakness the power of God becomes real. With God, shepherds can, because pastors work to serve God. Doing His commandments with the strength He gives without worrying about the results due to the results or growth God gives. So with that, researchers will use the exegetical method to formulate the concept of ποιμαινω based on the New Testament. The research found several concepts of ποιμαινω in the New Testament as follows: first, God's initiative and authority. Second, synergy with Allah. Third, proof of loving Jesus. Fourth, the act of monitoring oneself and the congregation. Fifth, the commands and will of Allah. And sixth, ποιμαινω is God's love and work. The six concepts above are the key to pastoral care in the New Testament.Keywords: Pastoral, Church, New Testament, Growth 
Perintah Kelima: Suatu Prinsip yang Menandai Kehidupan Orang Percaya Retjelina, Dorkas
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i2.58

Abstract

The purpose of this article is for every believer to understand and carry out the commandments to obey and respect their parents. There are many cases where children disobey their parents and lead to conflicts. They sued their parents to court and someone had the heart to kill their parents. Why is that? Don't they know the timeless principle of honoring parents? Several articles have written about obedience and respect for parents, but the emphasis on obedience and respect for people who are worthy of being called parents and the broader consequences of obedient and respectful behavior is not emphasized. Through qualitative research methods of biblical studies, this paper will explain that the correct understanding of the fifth commandment in Deuteronomy 5 verse 16 is very important teaching. That is why this research focuses on Deuteronomy chapter 5 about the giving of the Ten Words and specifically on verse 16 which talks about honoring parents. To achieve the proof, the first part will describe cases of disobedience of children to parents that lead to conflicts. The second part exegesizes Deuteronomy chapter 5 verse 16. The third part shows the importance of respecting parents.
Netiquette In Cyber Religion: Implementasi Kasih Kepada Allah Dan Kepada Manusia Christina, Endah
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i2.59

Abstract

Mengingat dampak yang ditimbulkan oleh konten-konten berbasis agama di cyber space, maka tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan pentingnya netiquette atau etika beinternet oleh para contain creator Kristen dalam praktek cyber religion yang bersumber dari ajaran Tuhan Yesus.  Pempimpin umat bertugas mentransmisi dan mengawal ajaran agama sehingga iman jemaat dibangun dan misi gereja dapat diwujudkan.  Sebagai agama yang misioner, cyber space akan semakin mempercepat dan mempermudahnya.  Sejak awal pandemi, gereja melakukan ibadah online dan ini merupakan momentum bagi banyak pemimpin atau umat Kristen menciptakan ruang-ruang berbasis agama di media elektronik dan media sosial.  Euforia ini sangat baik, namun penggunaan yang kurang memperhatikan etiket pada cyber religion akan mengakibatkan dampak sebaliknya.  Untuk mempersempit penelitian, artikel ini berfokus pada pedoman etika berinternet pada website dan kanal YouTube yang dilakukan contain creator Kristen.  Dalam penelitian sebelumnya, sudah ada yang meneliti tentang dakwah dan cyber space dalam konteks agama Islam, sebuah penelitian terhadap pemanfaatan YouTube sebagai media berkotbah Kristen di masa pandemi, dan sebuah tulisan tentang netiquette secara umum.  Namun dalam konteks agama Kristen, belum ada yang meneliti netiquette dalam cyber religion.  Dengan menggunakan metode penelitian pustaka, paper ini berkesimpulan bahwa netiquette sangat penting bagi para contain maker Kristen yang melakukan praktek cyber religion.  Untuk mendukung argumentasi utama, artikel ini disusun sebagai berikut: bagian pertama, pemahaman  cyber religion.  Kedua, pemanfaatan cyber religion.  Ketiga, etiket dalam cyber religion  Kata kunci: cyber religion, netiquette, etiket berinternet, etika berinternet, cyber faith.
Bahasa Roh dan Spiritualitas Perikoresis dalam Peristiwa Pentakosta: Analisis Reinterpretatif Kisah Para Rasul 2:1-13 Siahaan, Harls Evan R.
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i2.60

Abstract

Speaking in tongues has been understood as a sign of the baptism of the Holy Spirit by the Pentecostal churches referring to the narrative of Acts 2:1-13. There is a negative tendency in articulating tongues as a sign of being fulfilled with the Holy Spirit. This is a qualitative study of literature using a descriptive reinterpretative analysis method, which aims to find the essentials in the baptism of the Holy Spirit through rereading the narrative of the Pentecost event. The results of the study found the spirituality of perichoresis in the event followed by the phenomenon of speaking in tongues. In conclusion, speaking in tongues which occurred in the event of Pentecost is a reflection of the spirituality of perichoresis of people being filled with the Holy Spirit.Abstrak Bahasa roh selama ini dipahami sebagai tanda baptisan Roh Kudus oleh kelompok Pentakostal mengacu pada narasi Kisah Para Rasul 2:1-13. Ada tendensi negatif dalam mengartikulasikan bahasa roh sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif literatur dengan metode deskripsi analisis reinterpretatif, yang bertujuan untuk menemukan hal esensial dalam baptisan Roh Kudus melalui pembacaan ulang narasi peristiwa Pentakosta. Hasil kajian mendapatkan spirtuallitas perikoresis dalam peristiwa yang diikuti fenomena bahasa roh tersebut. Kesimpulannya, bahasa roh dalam peristiwa Pentakosta merupakan refleksi spiritualitas perikoretik dipenuhi Roh Kudus.
Tinjauan Teologis Dan Fenomenologis Praktik Makan Makanan Yang Dipersembahkan Berhala Dalam Hidup Orang Percaya Di Indonesia Wijaya, E. Chrisna; Laksana, Widhi
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i2.51

Abstract

Abstraksi: E. Chrisna Wijaya dan Widhi Laksana. Perkembangan pemikiran manusia semakin pesat, demikian membuahkan pemikiran yang luas, kritis dan obyektif. Luasnya obyektifitas pemikiran tersebut lambat laun membawa manusia kepada pemikiran relatif atau tanpa acuan yang hakiki, dengan demikian membawa manusia kesulitan menemukan kebenaran yang hakiki. Ketika manusia kehilangan kebenaran yang hakiki, manusia akan berpikir sesuai apa yang menjadi kebenarannya masing-masing, sehingga penilaian benar dan salah dilihat dari sudut pandang masing-masing. Salah satunya dalam dunia berpikir teologi yang mengkaji berbagai fenomena didunia ini, salah satunya terkait tentang ‘praktik makan makanan yang telah dipersembahkan berhala dalam hidup orang percaya’. Melalui penelitian menjadi upaya menemukan prinsip Alkitab memperbolehkan atau melarang mengerjakan praktik tersebut. Penelitian ini penulis menggunakan metode analisis dengan pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan dengan meninjau fenomena yang ada, melihat obyektifitas menggunakan literasi untuk mengetahui pandangan terhadap fenomena tersebut, kemudian meninjaunya secara teologi Biblika, selanjutnya menemukan sebuah simpulan tinjauan penulisan. Dengan demikian, penulisan penelitian ini merupakan sebuah peninjauan terhadap teks Alkitab, khususnya dalam 1 Korintus 10:23-33, yang bertujuan untuk melihat bagaimana Paulus secara persuasif mendorong orang-orang percaya di Korintus untuk mempergunakan kebebasannya secara bertanggungjawab dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang percaya yang lemah imannya, dalam hal makan makanan yang telah dipersembahkan berhala. Dalam tulisannya, Paulus menggunakan argumentasi teologis dan praktis serta memberikan motivasi untuk orang percaya bertindak bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan orang banyak, terutama bagi perkembangan Injil.. Dengan demikian diharapkan umat Kristiani memiliki kacamata ukur yang tepat dalam memandang, menimbang dan akhirnya memberikan sikap yang sesuai dengan Firman Tuhan, yaitu dengan memperggunakan hak dan kebebasan dalam memilih secara bertanggungjawab agar banyak orang yang diselamatkan karena Injil Kristus. Kata Kunci: 1 Korintus 8, 1 Korintus 10, fenomena, praktik makan, makanan berhala, persembahan berhala, iman Kristen, pengetahuan, kasih.

Page 1 of 1 | Total Record : 6