cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2009)" : 5 Documents clear
Interesterifikasi minyak kelapa sawit dengan metil asetat untuk sintesis biodiesel menggunakan candida rugosa lipase terimobilisasi Heri Hermansyah; Septian Marno; Rita Arbianti; Tania Surya Utami; Anondho Wijanarko
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.1.5

Abstract

Palm oil interesterification with methyl acetate for biodiesel synthesis using immobilized Candida rugosa lipaseBiocatalyst is a promising alternative catalyst for synthetic biodiesel because it has capability to improve conventional catalyst weakness, such as product purification and undesired side products. However, biocatalyst is easy to be deactivated by alcohol. Therefore, in this research, new method is developed to maintain the activity and stability of biocatalyst during reaction. In this paper, the experimental results of non-alcohol route synthesis of biodiesel using immobilized candida rugosa lipase in zeolit through adsorption method were reported. Methyl acetate as alkyl acceptor was reacted with triglyceride from palm oil in batch reactor. The analytical results from HPLC showed that trioleat convert up to 82% under the condition of 4%-wt substrate of the biocatalyst concentration and oil/alkyl mole ratio equal to 1/12 in 50 hour reaction. The effects of reactant ratio, biocatalyst concentration on concentration profile of tri-, di-, mono-gliceryde, and biodiesel were also observed. Stability test indicated that the activity of the immobilized biocatalyst still remained active for three reaction cycles.  Michaelis-Menten mechanism was used for derivation kinetic reaction equation to describe the behaviour of biodiesel production. Keywords: Biodiesel, interesterification, Candida rugosa lipase, non-alcohol route, immobilized. AbstrakSaat ini riset sintesis biodiesel menggunakan biokatalis sangat menjanjikan karena mampu memperbaiki kelemahan katalis alkali, yaitu kemudahan pemisahan produk dan kemampuan dalam mengarahkan reaksi secara spesifik tanpa adanya reaksi samping yang tidak diinginkan. Namun, biokatalis mudah terdeaktivasi dalam lingkungan beralkohol. Oleh karena itu, dalam riset ini diusulkan untuk melakukan sintesis biodiesel melalui rute non-alkohol untuk menjaga agar aktivitas dan stabilitas biokatalis tetap tinggi selama reaksi berlangsung. Dalam makalah ini akan disajikan hasil penelitian sintesis biodiesel rute non-alkohol menggunakan Candida rugosa lipase yang diimobilisasi dalam zeolit melalui metode adsorpsi dengan mereaksikan metil asetat sebagai penyuplai gugus alkil dengan trigliserida dari minyak kelapa sawit dalam reaktor batch. Hasil analisis HPLC menunjukkan bahwa lebih dari 82% rantai asam lemak dari trigliserida minyak kelapa sawit berhasil dikonversikan menjadi biodiesel pada kondisi konsentrasi biokatalis sebesar 4%-wt substrat dan rasio mol minyak/alkil sebesar 1/12 selama 50 jam reaksi. Pengaruh rasio reaktan, konsentrasi biokatalis terhadap profil konsentrasi dari tri-, di-, mono-gliserida serta biodiesel juga diselidiki. Uji stabilitas menunjukkan bahwa biokatalis terimobilisasi ini masih memiliki aktivitas untuk tiga kali siklus reaksi. Mekanisme Michaelis-Menten digunakan untuk menurunkan persamaan kinetika reaksi yang mampu menggambarkan perilaku produksi biodiesel yang dihasilkan.Kata kunci: biodiesel, interesterifikasi, Candida rugosa lipase, rute non alkohol, imobilisasi
Optimasi temperatur udara pengering dan laju alir umpan pada proses pengeringan ragi roti Ronny Purwadi; N Nicko; Patricia Stephanie
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.1.1

Abstract

Dry-air temperature and feed flow rate optimization in the yeast drying process.The production of active dry yeast was studied in this work. The drying process was carried out in a spray dryer (EYELA © Spray Dryer SD-1) with particle flow was in the same direction with dry-air flow. Feed (18-20 %-w) was fed with rate of 100-200 mL/h and dry-air temperature of 70-90 °C was set to achieve the highest cell activities of dry yeast. The yeast activities were defined as cell viability and vitality. Viability is the number of living cell which was determined by cell counting under microscope using the staining technique, while vitality is the number of vital cell which could reproduce on an agar plate. The results show that temperature as well as feed-rate significantly affects yeast activities. Temperature effect is quadratic to yeast activities while feed-rate effect is linear. In the range of experiment conditions, the optimum condition was achieved with dry-air temperature of 70 °C and feed-rate of 200 mL/h. The dry yeast produced in optimum condition gave water content of 2-7% which was still similar with the water content of commercial yeast (2.4%).Keywords: dry yeast, S. cerevisiae, drying, spray-dryer, viability, vitality AbstrakProses pengeringan ragi dalam produksi ragi kering aktif dilaksanakan dalam penelitian ini. Pengeringan dilaksanakan dalam spray-dryer (EYELA © Spray Dryer SD-1) dengan aliran partikel searah aliran udara pengering. Laju alir umpan (18-20 %-berat) sebesar 100-200 mL/jam dan temperatur udara pengering antara 70-90 °C divariasikan dengan tujuan untuk mendapatkan ragi yang memiliki keaktifan maksimum. Keaktifan ragi dinyatakan sebagai viabilitas yaitu jumlah sel hidup, dan vitalitas yaitu jumlah sel yang dapat berkembang biak. Viabilitas ditentukan dengan cara menghitung sel pada counting chamber di bawah mikroskop melalui teknik pewarnaan (staining), sedangkan vitalitas ditentukan dengan menghitung sel vital yang dapat tumbuh kembali pada media pertumbuhan agar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa baik temperatur udara pengering maupun laju alir umpan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas ragi. Temperatur memberikan pengaruh yang kuadratik sedangkan laju alir umpan memberikan pengaruh yang linier terhadap vitalitas ragi. Dalam rentang percobaan, kondisi optimum dicapai pada temperatur 70 °C dan laju alir umpan 200 mL/jam. Kondisi ini menghasilkan ragi kering dengan kandungan air antara 2-7%, dan cukup mirip dengan kandungan air ragi kering komersial (2,4%).Kata Kunci: ragi kering, S. cerevisiae, pengeringan, spray-dryer, viabilitas, vitalitas
Transesterifikasi parsial minyak kelapa sawit dengan etanol pada pembuatan digliserida sebagai agen pengemulsi Rita Arbianti; Tania Surya Utami; Heri Hermansyah; Ira Setiawati; Eki Listya Rini
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.1.6

Abstract

Partial transesterification of palm oil with ethanol in diglyceride production as emulsifierHigh growth rate of palm oil production has encouraged palm diversification to be other products with higher economic value, which one of them is emulsifier. Emulsifier based on vegetable oil is biodegradable so they won’t soil our environment. Besides that, its continuity of provisioning is also ensured because it is a renewable resource. In production of emulsifier based on palm oil, transesterification reaction is a first step that influences quality of emulsifier produced. The aim of this research is to determine the condition of palm oil partial transesterification. The partial transesterification process used NaOH as catalyst and palm oil. Variables varied were percent weight of NaOH (0.1, 0.2, 0.3, and 0.4 {mole NaOH/kg oil}), transesterification temperature (40, 50, 60, and 70oC), reaction time (15, 20, 25, and 30 minutes), ratio of reactant (1:3, 1:4, 1:5, and 1:6{mole oil:mole ethanol}),  to discuss these effects to diglyceride product activity. Diglyceride product was tested by its ability as emulsifier in system stability of oil/water emulsion and to decrease surface tension of water. Result of this research indicated that diglyceride product has optimum declining of surface tension of water on percent weight of NaOH of 0.3 mole NaOH/kg oil, transesterification temperature of 50 oC, reaction time of 30 minutes, and ratio of reactant of 1:6 mole oil: mole ethanol.Keywords: diglyceride, emulsifier, NaOH, palm oil, transesterification. AbstrakLaju pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit yang tinggi mendorong perlunya diversifikasi minyak kelapa sawit menjadi produk lain dengan nilai ekonomis tinggi, salah satunya adalah sebagai agen pengemulsi. Agen pengemulsi yang dibuat dari minyak nabati bersifat biodegradable, sehingga tidak mencemari lingkungan, dan kesinambungan pengadaannya terjamin karena berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Dalam produksi agen pengemulsi berbahan baku minyak kelapa sawit, reaksi transesterifikasi merupakan tahapan awal yang akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi transesterifikasi parsial minyak kelapa sawit. Proses transesterifikasi menggunakan NaOH sebagai katalis dan minyak kelapa sawit. Variabel yang divariasikan untuk mengkaji pengaruhnya terhadap kinerja produk digliserida yang dihasilkan adalah persen berat katalis NaOH (0,1, 0,2, 0,3, dan 0,4 {mol NaOH/kg minyak}), suhu transesterifikasi (40, 50, 60, dan 70 oC), waktu transesterifikasi  (15, 20, 25, dan 30 menit), dan rasio reaktan (1:3, 1:4, 1:5, dan 1:6 {mol minyak:mol etanol}). Produk digliserida diuji kemampuannya sebagai agen pengemulsi dalam menurunkan tegangan permukaan air, serta dalam menjaga kestabilan emulsi minyak/air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk digliserida memiliki kemampuan menurunkan tegangan permukaan air optimum pada persen berat katalis NaOH sebesar 0,3 mol NaOH/kg minyak, suhu transesterifikasi 50 oC, waktu reaksi 30 menit, dan rasio reaktan 1:6 mol minyak:mol etanol.Kata kunci: agen pengemulsi, digliserida, minyak kelapa sawit, NaOH, transesterifikasi.
Pemanfaatan emisi gas metana dari stasiun kompresor sistem perpipaan gas alam sebagai sumber energi termal Yogi Wibisono Budhi; Mohammad Effendy
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.1.2

Abstract

Methane gas emmision utilization from natural gas piping system compressor station as thermal energy sourceEmission of CH4 gas to the atmosphere may result in a global warming effect 21 times larger than that of CO2. One of the strategies to reduce this impact is to convert CH4 to CO2 in a Reverse Flow Reactor (RFR). RFR is a suitable apparatus to process gases with very low concentrations (0.1–1 %-v). The CH4 combustion reaction is exothermic, with a DTadiabatic between 10–200 oC (at a 0.1–1 %-v concentration), and therefore its heat of reaction may be used as a thermal energy source. RFR is capable of controlling heat transfer in the reactor, storing heat, and releasing it to heat low-temperature feeds. This paper presents the results of a study on the effect of the removal of heat generated by CH4 combustion as thermal energy source on the performance of RFR. The methodology in this study involved computer simulations. For a feed flowrate of 0.22 L/s, the optimum rate of heat that can be recovered was 43 kJ/m3×s (heat recovery efficiency of 50.4%). An air flowrate of 92.9 g/s was required to extract the heat.Keyword: Reverse flow reactor, methane catalytic combustion, modeling, green house effect simulation, gas piping system. AbstrakEmisi gas CH4 ke atmosfer dapat menyebabkan pengaruh pemanasan global 21 kali lebih tinggi dibandingkan gas CO2. Salah satu strategi untuk mengurangi dampak tersebut adalah dengan mengkonversi gas CH4 menjadi CO2 dalam Reaktor Aliran Bolak-Balik (RABB). RABB adalah piranti yang tepat untuk mengolah gas yang berkonsentrasi sangat kecil (0,1-1 %-v). Reaksi pembakaran CH4 bersifat eksotermis dengan DTadiabatik berkisar antara 10–200 oC (konsentrasi 0,1–1 %-v), sehingga panas reaksinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi termal. RABB memiliki kemampuan dalam mengendalikan pergerakan panas di dalam reaktor, menyimpan panas, dan memberikannya kembali untuk memanaskan umpan yang bertemperatur rendah. Makalah ini menyampaikan hasil kajian tentang pengaruh pengambilan panas hasil reaksi pembakaran gas CH4 sebagai sumber energi termal terhadap kinerja RABB. Metodologi yang digunakan adalah dengan simulasi komputer. Untuk laju alir umpan sebesar 0,22 L/s, panas optimum yang dapat dimanfaatkan adalah 43 kJ/m3.s (efisiensi pemulihan panas 50,4%) dan dibutuhkan laju alir udara sebesar 92,9 g/s untuk mengekstrak panas.Kata kunci: Reaktor aliran bolak-balik, pembakaran katalitik metana, pemodelan, simulasi efek rumah kaca, sistem perpipaan gas
Studi proses koagulasi air baku untuk air bersih di wilayah bencana pasca tsunami kabupaten aceh besar Ignasius D.A. Sutapa
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.1.3

Abstract

Study on raw water coagulation process for potable water production in the post-tsunami disaster areas district aceh besarThe coagulation – flocculation process in potable water treatment is very important to be studied in greater detail, since it has a very major impact on subsequent water purification processes and the quality of the water product. Types of coagulant that are commonly used are aluminum sulfate (alum) and poly-aluminum chloride (PAC). The objective of this research was to determine the optimum coagulant type and concentration to be applied for the treatment of surface water in post-tsunami disaster areas. This research is urgently required to design clean water installation in such area. Jar test of coagulants was performed to measure the efficiency of coagulation and sampling interval. From the obtained results, it can be concluded that the raw water turbidity influences the sedimentation time. At turbidity below 15 NTU, the optimum sedimentation time was 5 minutes. At turbidities above 15 NTU, the sedimentation was quicker, namely 1 minute. Based on jar test results on Krueng Raya river water, it can be observed that this river water can be treated with aluminum sulfate coagulant at 20 ppm dose. When PAC coagulant was used, the optimum dose was 15 ppm.Keyword: coagulant, efficiency, coagulation, water quality.AbstrakProses koagulasi flokulasi dalam pengolahan air minum sangat penting untuk ditinjau lebih jauh karena mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap proses purifikasi air berikutnya dan kualitas air produksi. Jenis koagulan yang sering dipakai adalah alumunium sulfat (alum) dan poly alumunium chloride (PAC). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tipe dan konsentrasi optimal koagulan yang diaplikasikan pada air baku berupa air permukaan di wilayah bencana pasca tsunami. Hal ini sangat diperlukan untuk membuat perencanaan rancangan instalasi pengolahan air bersih di wilayah tersebut. Jar test koagulan dilakukan untuk menentukan efisiensi koagulasi dan waktu sampling. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan kekeruhan air baku mempengaruhi waktu sedimentasi. Pada kekeruhan di bawah 15 Nephelometric Turbidity Unit (NTU), waktu optimum sedimentasi adalah lima menit, tetapi pada air baku yang kekeruhannya di atas 15 NTU, waktu sedimentasi lebih cepat yaitu satu menit saja. Dari hasil jar tes yang dilakukan terhadap air di sungai Krueng Raya dapat dilihat bahwa air sungai Krueng Raya dapat diolah dengan bahan koagulan aluminium sulfat pada dosis 20 ppm, sedangkan jika menggunakan bahan koagulan PAC memerlukan dosis optimal 15 ppm.Kata kunci : koagulan, efisiensi, koagulasi, kualitas air

Page 1 of 1 | Total Record : 5