cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018" : 4 Documents clear
EKSISTENSI ETNIS TIONGHOA DI ERA GLOBALISASI Khasanah, Alfa
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.842 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1292

Abstract

AbstrakTujuan penuliasan artikel ini adalah: (1) untuk mengetahui sejarah masuknya etnis tionghoa di Indonesia karena etnis tionghoa sudah ada ada di Indonesia lama sekali. (2) untuk mengetahui populasi etnis tionghoa di Indonesia, tercatat sampai saat ini ada sekitar 1-2 % dari populasi penduduk Indonesia. (3) untuk mengetahui peran etnis tionghoa baik di sector social budaya, perokonomian, politik, maupun pendidikan. Hasil penelitian yang didapat: (1) Orang dari Tiongkok daratan telah ribuan tahun mengunjungi dan mendiami kepulauan Nusantara. Menurut catatan dalam kitab sejarah Tiongkok, pada zaman Dinasti Han (tahun 131 M), sudah ada hubungan resmi antara Dinasti Han di Tiongkok dengan Yavadwipa di Indonesia. Pada abad ke-7 kerajaan Tang mulai ada hubungan kebudayaan dan keagamaan Budha dengan kerajaan Sriwijaya. Pada abad ke-15 masa Dinasti Ming, seorang muslim Tiongkok Zhenghe memimpin barisan kapal telah 3 kali mendarat di kerajaan Majapahit untuk menjalin hubungan perdagangan dan kebudayaan. Sejak itu banyak orang keturunan Tionghoa mulai merantau dan menetap di Nusantara. (2) Dalam sensus penduduk pada tahun 2000, ketika untuk pertama kalinya responden sensus ditanyai mengenai asal etnis mereka, hanya 1% atau 1.739.000 jiwa yang mengaku sebagai Tionghoa. (3) Memasuki abad ke-20, ranah hiburan dan seni budaya di Tanah Air disemarakkan oleh kehadiran seniman atau pegiat seni keturunan Tionghoa.di bidang pendidikan etnis tionghoa berperan dalam pembangunan Universitas Trisakti yang kini menjadi salah satu universitas terkenal di Indonesia juga merupakan salah satu sumbangsih warga Tionghoa di Indonesia.Kata Kunci: Tionghoa, Globalisasi AbstractThe purpose of this article is: (1) to know the history of the entry of ethnic Chinese in Indonesia because ethnic Chinese have existed in Indonesia for a long time. (2) to know the ethnic Chinese population in Indonesia, there is currently about 1-2% of the population of Indonesia. (3) to know the role of ethnic Chinese in the social culture, smoking, politics, and education sectors. The results of the study obtained: (1) People from mainland China have visited and inhabited the archipelago for thousands of years. According to records in Chinese history, during the Han Dynasty (131 AD), there was already an official relationship between the Han Dynasty in China and Yavadwipa in Indonesia. In the 7th century, the Tang kingdom began to have a Buddhist cultural and religious relationship with the Srivijayan kingdom. In the 15th century during the Ming Dynasty, a Chinese Muslim Zhenghe led a line of ships having three times landed in Majapahit kingdom to establish trade and cultural relations. Since then many people of Chinese descent began to wander and settle in the archipelago. (2) In the population census in 2000, when for the first time census respondents were questioned about their ethnic origin, only 1% or 1,739,000 people claimed to be Chinese. (3) Entering the 20th century, the realm of entertainment and cultural arts in the country is enlivened by the presence of artists or art activists of Chinese descent.in the field of ethnic Chinese education plays a role in the development of Trisakti University which is now one of the famous universities in Indonesia is also one of the contributions of Chinese people in Indonesia.Keywords: Chinese, Globalization
HUKUMAN KEBIRI BAGI PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL Nur Solikhah, Anisa
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.426 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1293

Abstract

AbstrakJudul dari riset ini adalah Hukuman Kebiri Bagi Pelaku Kejahatan Seksual. Hukuman kebiri merupakan suatu reaksi dari banyaknya kasus kejahatan seksual di Indonesia karena pidana penjara dianggap kurang efektif dalam mengurangi kasus kejahatan seksual. Permasalahan dalam riset ini adalah apakah hukuman kebiri sudah sesuai dengan tujuan dan sistem  pemidanaan  di  Indonesia atau  hanya sebagai pembalasan terhadap tindakan pelaku dan mengesampingkan Hak Asasi Manusia bagi pelaku karena tujuan pemidanaannya menekankan pada perbuatan terpidana di masa lalu atau sebaliknya, yakni tujuan pemidanaan tersebut berorientasi pada perbaikan kelakuan terpidana yang tujuan pemidanaannya menekankan pada kepentingan terpidana di masa depan. Hal ini dikarenakan hukuman kebiri tidak tercantum dalam Pasal 10 KUHP mengenai jenis-jenis pidana yang terdiri dari pidana pokok dan pidana tambahan. Maka hukum kebiri tidak sesuai dengan sistem pemidanaan di Indonesia.Kata Kunci: Hukuman Kebiri, Kejahatan Seksual, Tujuan Pemidanaan. AbstractThe title of this research is The Punishment of Castration for Perpetrators of Sexual Crimes. Castration punishment is a reaction to the number of sexual crimes in Indonesia because prison sentences are considered less effective in reducing sexual crimes. The problem in this research is whether the punishment of castration is in accordance with the purpose and system of criminalization in Indonesia or only in retaliation for the actions of the perpetrator and set aside human rights for the perpetrator because the purpose of criminalization emphasizes on the criminal acts in the past or vice versa, namely the purpose of criminalization is oriented towards improving the behavior of convicted criminals whose criminal purpose emphasizes on the interests of the convicted in the future. This is because castration punishment is not listed in Article 10 of the Criminal Code concerning the types of criminal acts consisting of principal and additional criminal. Therefore, the law of castration is not in accordance with the criminal system in Indonesia.Keywords: Castration Punishment, Sexual Crimes, Criminal Purposes.
PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS MELALUI PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH Kusuma, Destiara
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.587 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1294

Abstract

AbstrakSelama ini, pendidikan di Indonesia hanya terfokus pada kemampuan intelektual dan kurang mendalami pembentukan karakter. Karakter adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia sebagai salah satu ciri individu itu sendiri. Jika seorang ingin memiliki karakter yang baik,maka harus diasah sedini mungkin dengan cara pembiasaan. Pembiasaan merupakan sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh individu secara berulang-ulang,sehingga menjadi kebiasaan. Pembiasaan shalat berjamaah mampu meningkatkan kesadaran indvidu sebagai seorang hamba yang patuh kepada penciptaNya. Nilai-nilai agama islam yang terkandung dalam shalat berjamaah sangat berpengaruh bagi pembentukan karakter individu terutama karakter religius. Tujuan penulisan ini adalah untuk megetahui apakah shalat berjamaah berpengaruh dalam pembentukan karakter religius seseorang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, dan kajian pustaka melalui internet. Hasil penelitian menunjukan pembiasaan shalat berjamaah mampu meningkatkan karakter religius seseorang jika dilakukan secara terus-menerus dan selalu mengambil nilai-nilai yang baik dari kegiatan shalat berjamaah. Hal ini bisa dilihat jika adzan berkumandang,maka seorang muslim akan segera ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah. Sehingga, melalui pembiasaan shalat berjamaah dapat membentuk karakter religius seseorang.Kata kunci: Karakter Religius, Pembiasaan, Shalat Berjamaah. AbstractSo far, education in Indonesia has only focused on intellectual ability and lack of character formation. Character is something that is possessed by man as one of the characteristics of the individual itself. If a person wants to have good character, then it must be honed as early as possible by habituation. Habituation is an activity that is carried out by individuals repeatedly, so it becomes a habit. The habituation of congregational prayer is able to increase individual awareness as a servant who obeys His creator. Islamic religious values contained in congregational prayer are very influential for the formation of individual characters, especially religious characters. The purpose of this writing is to find out if congregational prayer is influential in the formation of one's religious character. Data collection techniques used are observation, and review of libraries through the internet. The results showed that the habituation of congregational prayer is able to improve one's religious character if done continuously and always take good values from the activities of congregational prayer. This can be seen if the adhan berkumandang, then a Muslim will immediately go to the mosque to pray congregational prayers. Thus, through the habituation of congregational prayer can form one's religious character.Keywords: Religious Character, Habituation, Congregational Prayer
PEMULANGAN WNI EKS ISIS TERHADAP STABILITAS KEUTUHAN NKRI Nur Ramadhani, Fanny
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.191 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1295

Abstract

AbstrakTujuan artikel ini adalah : (1) mengetahui keadaan stabilitas negara apabila terjadi pemulangan WNI yang merupakan eks anggota ISIS dari segi kemanusiaan dan segi pertahanan keamanan. (2) Pengaruh yang dibawa oleh WNI eks ISIS ke tanah air yang akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat sehingga perlu ada penanganan dan persiapan yang matang guna menghadapinya. (3) Upaya yang perlu dilakukan sebagai warga negara yang berdampingan secara langsung maupun tidak langsung terhadap WNI eks ISIS. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan sosial kualitatif. Desain penelitian ini bersifat umum, fleksibel, dinamis, eksploratif, dan mengalami perkembangan selama proses penelitian berlangsung. Dari aspek pengumpulan datanya mengadopsi teknik partisipatoris yang menyesuaikan fenomena dengan memilih analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) kebijakan pemulangan WNI eks ISIS melalui dua opsi yaitu dipulangkan dan tidak dipulangkan. (2) WNI dapat kehilangan status kewarganegaraannya karena telah masuk dinas tentara asing tanpa izin Presiden. Serta untuk (3) mencegah dan waspada terhadap ancaman terorisme, sebab keberadaannya berpotensi meresahkan bahkan dapat mengancam stabilitas negara.Kata kunci : pro kontra,  eks ISIS, pemulangan WNI AbstractThe purpose of this article is: (1) to know the state of stability of the country in case of repatriation of Indonesian citizens who are former members of ISIS in terms of humanity and security defense. (2) The influence brought by ex-ISIS citizens to the homeland will cause pros and cons in the community so that there needs to be careful handling and preparation to deal with it. (3) Efforts that need to be made as citizens who are directly or indirectly adjacent to ex-ISIS citizens. This research is research with qualitative social approach. The design of this research is general, flexible, dynamic, explorative, and developed during the research process. From the aspect of data collection adopts participatory techniques that adjust the phenomenon by choosing data analysis. The results showed that: (1) the policy of repatriation of ex-ISIS citizens through two options, namely repatriated and not repatriated. (2) Indonesian citizens may lose their citizenship status because they have entered the service of foreign soldiers without the Permission of the President. As well as to (3) prevent and alert to the threat of terrorism, because its existence is potentially troubling can even threaten the stability of the country. Keywords: pros cons, ex-ISIS, repatriation of Indonesian citizens

Page 1 of 1 | Total Record : 4