cover
Contact Name
Ryandi
Contact Email
studiasosiareligia@uinsu.ac.id
Phone
+6285336892787
Journal Mail Official
studiasosiareligia@uinsu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara Medan Jl. Williem Iskandar Pancing Medan, Pasar V Medan Estate» Tel /fax : 0616622925 /
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Studia Sosia Religia: Jurnal Studi Agama-Agama
ISSN : -     EISSN : 26222019     DOI : http://dx.doi.org/10.51900/ssr.v3i1
Core Subject : Religion,
Studia Sosia Religia: Jurnal Studi Agama-Agama memuat artikel yang berasal dari hasil penelitian studi agama dalam ragam lingkup kajian meliputi perbandingan agama, sejarah agama, agama dan politik, sosiologi agama, antropologi agama, agama dan isu-isu kontemporer, hubungan antaragama, toleransi agama, pluralisme, multikulturalisme, perdamaian dan kekerasan dalam agama.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2019)" : 5 Documents clear
ALIRANPARMALIM DALAM PANDANGAN MAJELIS ULAMA INDONESIA DAN PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA INDONESIA WILAYAH SUMATERA UTARA Arifinsyah dan Peri Agusti
Studia Sosia Religia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ssr.v2i2.6484

Abstract

AbstrakAliran Parmalim merupakan kepercayan suku Batak, namun banyak masyarakat beranggapan bahwa aliran ini adalah aliran Pemuja Setan (Sipelebegu). Tulisan ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif, dan berupaya mengenal aliran parmalim menurutpandangan Majelis Ulama Indonesia serta Persekututan Gereja-gereja di Sumatera Utara. Aliran Parmalim berasal dari dua kata yaitu ugamo dan malim. Majelis Ulama Indonesia Wilayah Sumatera Utara (MUI SUMUT) menyatakan bahwa Aliran Kepercayaan Parmalim bukan bagian dari agama.Sementara Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Sumatera Utara (PGI-WSU) menyatakan bahwa aliran Parmalim merupaka suatu aliran kepercayaan di Indonesia namun memiliki pemahaman iman yang sangat jauh berbeda.Kata kunci: MUI, Parmalim, PGI-WSU AbstrakParmalim is a Batak tribe belief, but many people assume that this flow is the flow of Satanists. This paper uses a qualitative-descriptive method, trying to recognize the flow of parmalim according to the views of the Indonesian Ulema Council and the Alliance of Churches in North Sumatra. Parmalim flow comes from two words namely ugamo and malim. The Indonesian Ulema Council of North Sumatra Region (MUI SUMUT) states that beliefs Parmalim are not part of religion. While the Alliance of Churches in Indonesia in the North Sumatra Region (PGI-WSU) states that the Parmalim school is a school of belief in Indonesia but has a very different understanding of faith.Keyword : MUI, Parmalim, PGI-WSU. 
KONSEP KAFIR DALAM PANDANGAN NAHDLATUL ULAMA (NU) DAN FORUM UMAT ISLAM (FUI) SUMATERA UTARA Fitriani dan Siti Aisyah
Studia Sosia Religia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ssr.v2i2.6485

Abstract

AbstrakKafir merupakan istilah yang tak indah didengar. Namun upaya Nahdlatul Ulama mengubahnya menjadi istilah non-Muslim mendapat respon penolakan dari berbagai pihak seperti Forum Umat Islam. Penelitian ini berupaya mengkaji konsep kafir menurut Nahdlatul Ulama dan Forum Umat Islam Sumatera Utara. Penelitian ini   merupakan field research, dengan metode kualitatif danbersifat deskriptif analitikserta Comparative Approach. Nahdlatul Ulama Sumut menyatakan mereka sepakat dengan rekomendasi istilah non-muslim, karena tidak mencapai status kafir sebagaimana di dalam kitab fikih. Sementara Forum Umat Islam menyatakan tidak setuju dengan Nahdlatul Ulama dan menyatakan semua non islam adalah kafir.Kata kunci : Forum Umat Islam, Kafir, Nadhlatul Ulama AbstrakKafir is a term that is not beautiful to hear. But the efforts of Nahdlatul Ulama to convert it to non-Muslim terms have been rejected by various parties like the Forum Umat Islam. This study seeks to examine the concept of infidelity according to the Nahdlatul Ulama and Forum Umat Islam North Sumatra. This research is a field of research, with qualitative and analytic descriptive methods and Comparative Approach. The North Sumatra Nahdlatul Ulama said they agreed with the recommendation of the term non-Muslim, because it does not reach the status of infidel as in the book of fiqh. While the Forum Umat Islam stated that it disagreed with the Nahdlatul Ulama and declared all non-Muslims to be Kafir.Keyword : Islamic Community Forum (FUI), Infidel, Nadhlatul Ulama
SPIRITUAL-HUMANISME HASAN ASKARI DAN DIALOG INTERRELIGI DI INDONESIA Aulia Kamal
Studia Sosia Religia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ssr.v2i2.6486

Abstract

AbstrakPaper inimembahasspiritual-humanisme dariHasanAskari sebagai dialog interreligi alternatif. Data dikumpulkan melalui kajian pustaka, dan melalui content analysisrisetini menunjukkan bahwa;Pertama; kritik Askari atas dialog interreligi berangkat dari pengamatannya bahwa sampai saat ini dialog belum mencapai inti dari dialog, yakni kesadaran spiritual.Dialog interreligi harusnya bukan mendialogkan identitas kolektif yang memang tidak akan pernah bisa dihilangkan. Sebaliknya dialog harus dicapai melalui; (1)mengalami realitas jiwayang melampaui batas identitas; (2) melalui pertemuan antar pribadi sebagai sesama manusia dan konsekuensi dari kesatuan spiritual.Kedua,pada prakteknya dialog interreligi di Indonesia masih cenderung menekankan pada konsensus antar identitas, bukan menyadarkan kesatuan jiwa sebagai sesama manusia, sebagai sesama warga negara. Ketiga,  ide Askari ini lebih relevan dalam konstruksi dialog di Indonesia dengan memper-timbangkan fakta pluralitas yang berbasis pada: (1) identitaskeagamaan dan kebudayaan. (2) pengalaman spiritual masyarakat Indonesia.Dua hal ini dapat menjadi landasan untuk mengembang-kan spiritual-humanisme sebagai dialog interreligi alternatif di indonesia.Kata kunci: Dialog interreligi, Hasan Askari, Spiritual-Humanisme AbstractThis paper discusses spiritual-humanism initiated by Hasan Askari as an alternative interreligious dialogue. Data was collected through literature review and through Content Analysis, this research shows some findings; First; Askari's criticism of interreligious dialogue departs from his observation, that until now dialogue has not yet reached the core of dialogue, which is spiritual awareness. Interreligious dialogue should not be to dialogue with collective identities whose can never be eliminated. Instead, dialogue must be achieved through; (1) experiencing the reality of the soulthat transcends the limits of identity; (2) interpersonal encounters as human beings and as the consequences of spiritual unity. Second, in practice, interreligious dialogue in Indonesia generally tends to emphasize the consensus of identities, not to awaken the unity of the soul as humans, as citizens. Third, Askari's idea is more relevant in the construction of dialogue in Indonesia by considering the fact of plurality in Indonesia based on: (1) religious and cultural identity; (2) spiritual experiences of Indonesian society. These, can be the basis for developing spiritual-humanism as a model ofdialogue in Indonesia.Keywords: Hasan Askari, Interreligious Dialogue, Spiritual-Humanism.
STRATEGI KEBUDAYAAN PEMBANGUNAN KEBERAGAMAAN DI INDONESIA: Mempertegas Kontribusi Kearifan Budaya Lokal Dalam Masyarakat Berbhinneka Ismet Sari
Studia Sosia Religia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ssr.v2i2.6487

Abstract

AbstrakMasyarakat Indonesia yang majemuk dan memiliki latar belakang kebudayaan yang beragam, jelas memerlukan  kerangka acuan untuk dijadikan pegangan dalam pergaulan nasional  masa kini. Oleh karena itu, nilai-nilai tradisional yang mengandung kearifan, persamaan, multikultural, dan bisa dijadikan pegangan bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia di mana pun tempat tinggalnya, perlu digali dan diteliti kemudian ditawarkan sebagai alternatif yang baik untuk pengembangan dan pembangunan kehidupan sosial keagamaan yang baru dan serasi.Dalam sejarah bangsa-bangsa ketika menghadapi kerumitan sosial, ekonomi, politik, konflik agama, dan sebagainya, kerap menemukan solusi dengan memetik kearifan tradisi lokal. Nilai kearifan lokal akan memiliki makna apabila tetap menjadi rujukan dalam mengatasi setiap dinamika kehidupan sosial, lebih-lebih lagi dalam menyikapi berbagai perbedaan yang rentan menimbulkan konflik. Keberadaan kearifan budaya lokal justru akan diuji ditengah-tengah kehidupan sosial yang dinamis. Di situlah sebuah nilai akan dapat dirasakan.Kata Kunci : Kearifan Lokal, Pembangunan, StrategiBudaya AbstractIndonesian society that is plural and has a diverse cultural background, clearly requires a framework of reference to be used as a guideline in today's national relations. Therefore, traditional values that contain wisdom, equality, multiculturalism, and can be shared with all Indonesian people wherever they live, need to be explored and researched and then offered as a good alternative for the development and development of a new religious social life and harmonious.In the history of nations when faced with the complexity of social, economic, political, religious conflicts, etc., often find solutions by reaping the wisdom of local traditions. The value of local wisdom will have meaning if it continues to be a reference in overcoming every dynamic of social life, moreover in addressing various differences that are prone to conflict. The existence of local cultural wisdom will be tested in the midst of dynamic social life. That's where a value will be felt.Keywords: Local Wisdom, Development, Strategy of Culture
AGAMA DAN HAPPINESS Uqbatul Khoir Rambe
Studia Sosia Religia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ssr.v2i2.6483

Abstract

AbstrakKebahagiaan adalah dambaan setiap orang, berbagaiupaya dilakukan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan, salah satunya adalah dengan memeluk suatu agama. Tulisan ini merupakan library reseach dan deskriptif yang berupaya mendeskripsikan konsep agama-agama besar dunia tentang kebahagiaan, serta respon rasional dan sosial kemasyarakatan setiap agama tersebut.Dapat disimpulkan bahwa setiap agama mempunyai konsep  kebahagiaan. Secara normatif setiap agama memberikan landasan kepada pemelukuntuk mendapatkan kebahagiaan. Secara rasionalitas para tokoh berupaya memberikan pencerahan kepada umatnyademi mencapai kebahagiaan. Adapun secara sosio empirik dinyatakan bahwa respon umat beragama terhadap kebahagiaan tersebut sangat beragam, dan keberagaman tersebut terjadi pada seluruh umat beragama.Kata kunci: Agama, Konsep Kebahagiaan(Happiness)AbstractHappiness is everyone's dream, various efforts made by humans to get happiness, one of them is to embrace a religion. This paper uses the library research and descriptive method, which seeks to describe the concept of the world's major religions about happiness, as well as the rational and social response of each of these religions. It can be concluded that every religion has a concept of happiness. Normatively every religion provides a foundation for adherents to get happiness. Rationally, the figures try to give guidance to their people in order to achieve happiness. As for socio-empirically stated that the response of religious communities to happiness is very diverse, and that diversity occurs in all religious communities.Keywords: Concept of Happines,Religion

Page 1 of 1 | Total Record : 5