cover
Contact Name
Irfan
Contact Email
jurnal.eeict@gmail.com
Phone
+6281522777633
Journal Mail Official
jurnal.eeict@gmail.com
Editorial Address
KAMPUS UNISKA M A B BANJARMASIN Jl. Adhyaksa No. 2 Kayutangi Banjarmasin Kalimantan Selatan 70123
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication)
ISSN : 26544296     EISSN : 26152169     DOI : -
Jurnal EEICT fokus pada bidang teknik elektro rekayasa pemrosesan sinyal, listrik (listrik), elektronik, instrumentasi & kontrol, telekomunikasi, komputasi dan informatika.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2022)" : 5 Documents clear
Efisiensi Energi Listrik Menggunakan Variable Speed Drive (VSD) Pada Motor Induksi 3 Phasa Budi Setio Utomo; Irfan Irfan
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/eeict.v5i2.9214

Abstract

Variable Speed Drive (VSD) adalah suatu rangkaian alat yang digunakan untuk mengendalikan kecepatan motor listrik arus bolak balik  (AC)  dengan  mengontrol  frekuensi  daya listrik yang dipasok ke motor.  Pada penelitian ini menggunakan VSD merek Schneider type Altivar 61 ATV61HD55N4  dan  soft  starter  merek  ABB type PSTX142-600-70 untuk mengontrol motor listrik induksi 3 phasa penggerak pompa distribusi jenis submersible merek Tsurumi type LH845-50 yang bekerja mendistribusikan air bersih ke pelanggan  PDAM.  Penelitian  bertujuan mengetahui konsumsi energi listrik motor induksi 3 phasa yang menggunakan sistem kontrol Variable Speed Drive (VSD) dan membandingkan dengan konsumsi energi listrik yang menggunakan sistim kontrol Soft Starter. Besarnya konsumsi energi listrik pada motor pompa diukur menggunakan alat ukur Power Analyzer type DW-6092 pada tekanan kerja fluida air di pipa jaringan distribusi sebesar3,0 Bar. Dari penelitian disimpulkan bahwa penggunaan VSD merek Schneider type Altivar 61ATV61HD55N4 dapat menurunkan konsumsi energi listrik sebesar 11,1 kW atau 28,61 % dibandingkan   dengan   konsumsi   energi   listrik dengan menggunakan kontrol Soft Starter  merek ABB type PSTX142-600-70.
PERANCANGAN PENANGKAL PETIR DI INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) MANARAP PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM INTAN BANJAR Erma Noviana; Saiful Karim
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/eeict.v5i2.9212

Abstract

Instalasi Pengolahan Air (IPA) Manarap adalah salah satu unit pengolahan air baku menjadi air bersih yang dimiliki oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Intan Banjar. Dalam upaya mencegah dan meminimal kemugkinan terjadinya sambaran petir maka manajemen PDAM Intan Banjar akan memasang sistem proteksi sambaran petir terhadap bangunan dan peralatan yang ada. Pada penelitian ini bertujuan: menentukan tingkat proteksi petir pada  lingkungan bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Manarap PDAM Intan Banjar, menentukan luas daerah proteksi penangkal petir, mengetahui nilai tahanan pentanahan yang terpasang pada sistem penangkal petir di Instalasi Pengolahan   Air   (IPA)   Manarap   PDAM   Intan Banjar dengan menggunakan metode bola bergulir (Rolling Sphere) dan mengacu pada SNI -03-715- 2004.   Tingkat   proteksi   petir   pada   bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Manarap PDAM Intan Banjar ditentukan dengan melakukan perhitungan dan diperoleh nilai parameter : pada ketinggian   obyek   20   m,   kerapatan   sambaran tahunan   (Ng) = 22,45     sambaran per km2 per tahun,   frekuensi sambaran lagsung (Nd) = 0,26, nilai tingkat efisiansi (E) sebesar 0,58 dan memerlukan proteksi petir minimal level IV. Untuk nilai arus petir (I) = 234,89 kA, jarak sambaran petir terhadap bangunan (ds)  = 347,58 m, panjang radius proteksi bola bergulir (R) =116,20 m sehingga diperoleh luas radius perlindungan (A) dari penangkal petir yang dipasang  seluas 42. 397 m2.      Nilai  tahanan  pentanahan  yang  terpasang pada sistem penangkal petir dari hasil analisa perhitungan sebesar 1,45 ohm, sedangkan dari hasil pengukuran diperoleh nilai 1,14 ohm (lebih kecil dari  hasil  analisa  perhitungan),  hal  ini kemungkinan disebabkan nilai tahanan jenis tanah dilokasi  pemasangan  lebih  kecil  dibanding  nilai tahanan jenis yang digunakan dalam analisa perhitungan.
ANALISIS PENGARUH HAMBATAN PANCARAN RADIO LINK AKIBAT PEPOHONAN TERHADAP PENGIRIMAN DATA RCSU (REMOTE CONTROL SYSTEM UNIT) DVOR DI AIRNAV INDONESIA CABANG PANGKALAN BUN Nur Fitri Annisa; Moethia Faridha
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/eeict.v5i2.9211

Abstract

DVOR  (Doppler  VHF  Omnidirectional  Range)  adalah  alat  navigasi  penerbangan  yang berfungsi memberikan informasi azimuth dan bearing untuk membantu pendaratan Pesawat. Peralatan DVOR di Bandar Udara Iskandar Pangkalan Bun terletak jauh dari gedung teknisi AirNav sehingga diperlukan  RCSU (Remote Control System Unit) yang merupakan peralatan yang dapat memudahkan teknisi melakukan monitoring atau maintenance dari jarak jauh, sehingga memberikan efisiensi waktu apabila terjadi gangguan (error) pada DVOR. Media transmisi yang digunakan untuk RCSU tersebut adalah Radio Link. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penghambat pancaran berupa pepohonan terhadap pengiriman data RCSU DVOR menggunakan radio link. Langkah pertama dilakukan perhitungan waktu pengiriman data radio link menggunakan software pengolah data radio link. Kemudian dilakukan pembandingan data di daerah rawan dan bebas hambatan pancaran. Setelah itu data yang didapatkan dianalisa untuk mengetahui pengaruh hambatan pancaran pepohonan terhadap data RCSU DVOR. Semakin rendah kualitas sinyal maka semakin besar kemungkinan sinyal terputus sehingga data yang dikirimkan tidak sampai. Hal ini menunjukkan di area rawan hambatan pancaran berupa pepohonan sangat mempengaruhi kulitas sinyal radio link. Salah satu penyebabnya karena adanya absorption atau penyerapan sinyal. Sehingga pepohonan akan menjadi penghambat dalam proses pengiriman data RCSU DVOR. Dari hasil analisis menunjukkan di area rawan dan bebas hambatan terdapat perbedaan rata-rata kualitas sinyal, yang dimana kualitas sinyal di area rawan hambatan berupa pepohonan lebih rendah yaitu -75,60 dibandingkan area bebas hambatan -30. Apabila nilai kualitas sinyal semakin menjauhi angka nol, maka kualitas sinyal semakin buruk dan apabila kualitas sinyal mendekati angka nol dan tergolong sangat baik.
ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN RECEIVER MULTICOUPLER TERHADAP EFISIENSI JUMLAH ANTENA RECEIVER (PENERIMA) DI AIRNAV INDONESIA CABANG BANJARMASIN Hartono Simamora; Rusilawati Rusilawati
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/eeict.v5i2.9200

Abstract

VHF Air to Ground adalah fasilitas komunikasi penerbangan yang digunakan untuk komunikasi antar pesawat di udara dengan petugas pengendali lalu lintas penerbangan di darat. Peralatan VHF-AG terdiri dari Transmitter (Pemancar) dan Receiver (Penerima) yang masing-masing membutuhkan Antena sebagai media Transmisi Gelombang Elektromagnetik. Berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 30 Tahun 2005 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Mengenai Kriteria Penempatan Fasilitas Komunikasi Darat-Udara Berfrekuensi Amat Tinggi (VHF A/G) lokasi penempatan peralatan VHF-A/G harus berada didalam Menara Pengawas dan Antena VHF-A/G ditempatkan di atas Menara Pengawas dengan jarak antara satu Antena VHF- A/G dengan Antena VHF-A/G lainnya minimal 5 m. Syarat jarak penempatan antena VHF - AG tersebut mengakibatkan terbatasnya lahan penempatan dan jumlah antena yang dapat dipasang di atas menara pengawas. Penggunaan Receiver Multicoupler merupakan usaha untuk melakukan efisiensi penggunaan jumlah antenna sehingga dapat memaksimalkan luas lahan yang tersedia, namun tetap dapat mempertahankan fungsi dan kinerja dari peralatan VHF A/G. Setelah pemasangan Receiver Multicoupler dapat dilakukan efisiensi penggunaan antena Receiver (penerima) dari tujuh antena menjadi satu antena penerima tanpa mengurangi fungsi dan kinerja dari Radio Receiver (penerima). VHF Air to Ground is an aviation communication facility used for communication between aircraft in the air and flight traffic controllers on the ground. VHF-AG equipment consists of a Transmitter (Transmitter) and Receiver (Receiver), each of which requires an Antenna as a medium for Transmission of Electromagnetic Waves. Based on Ministerial Decree No. 30 of 2005 concerning the Enforcement of Indonesian National Standards Regarding the Criteria for Placement of Very High Frequency Ground-Air Communication Facilities (VHF A/G), the location of the VHF-A/G equipment must be located inside the Monitoring Tower and the VHF- A/G Antenna is placed above the Watch Tower with a minimum distance of 5 m between one VHF-A/G Antenna and another VHF-A/G Antenna. The requirement for the placement distance of the VHF - AG antenna results in the limited placement area and the number of antennas that can be installed on top of the control tower. The use of Receiver Multicoupler is an attempt to make efficient use of the number of antennas so as to maximize the available land area, but still maintain the function and performance of VHF A/G equipment. After the installation of the Receiver Multicoupler, efficient use of the Receiver antenna (receiver) can be made from seven antennas into one receiving antenna without reducing the function and performance of the Radio Receiver (receiver).
DESAIN ANTENA MONOPOLE DAN YAGI PADA RADIO ADC (AERODROME CONTROL) TOWER FREKUENSI 118,4 MHZ DI AIRNAV INDONESIA CABANG BANJARMASIN Prabowo Nico Mandala Putra
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/eeict.v5i2.9213

Abstract

Komunikasi radio antara pemandu lalu lintas udara dan pilot adalah hal mutlak tidak boleh terputus ataupun terganggu, salah satu hal yang mengganggu komunikasi radio antara pemandu lalu lintas udara dan pilot adalah interferensi radio, jika komunikasi tersebut terganggu maka pesawat akan kehilangan informasi berupa cuaca, kondisi landasan, posisi pesawat, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi interferensi radio menggunakan antena monopole dan yagi, dan membandingkan kedua antena untuk menentukan lokasi dari interferensi radio tersebut. Langkah pertama adalah membuat desain antena monopole dan yagi menggunakan software CST Studio Suite 2019, kemudian mencocokan hasil parameter antena, jika sesuai selanjutnya mengimplementasikan antena yang dihubungkan dengan spectrum analyzer. Spectrum analyzer akan menampilkan peak power level dari sinyal interferensi yang diterima. Dari hasil analisis menunjukkan nilai peak power level dari antena monopole pada radial 0, 45, 90, 135, 180, 225, 270, dan 315 derajat tidak berubah secara signifikan (nilai berkisar antara -54,61 sampai -57,18 dBm, dan selisih terbesarnya adalah 2,57 dBm), sedangkan nilai peak power level dari antena yagi pada radial tersebut berubah secara signifikan (nilai berkisar -50,29 sampai -75,87 dBm, dan selisih nilai peak power level mencapai 25,58 dBm), yang membuktikan bahwa antena monopole dapat mendeteksi interferensi radio tetapi tidak dapat menentukan interferensi radio, sedangkan antena yagi dapat mendeteksi dan menentukan lokasi interferensi radio.

Page 1 of 1 | Total Record : 5