cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2022)" : 15 Documents clear
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI PENGEMBANGAN TES BAKAT SKOLASTIK DALAM MENGHADAPI UJIAN UTBK DAN SBMPTN DIERA NEW NORMAL COVID-19 SUTARJO SUTARJO
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v2i1.878

Abstract

The purpose of this study was to determine the level of difficulty of the items from each form of test questions, both UTBK, SBMPTN and TBS for MAN IC Sorong students, then grouped and analyzed the parameters of the items using the BILOG-MG application for windows. The suitability of the PL 2 and PL 3 models has an agreement that 100% of the instruments contained can determine students' thinking abilities which can be categorized as high, medium, and low. The difficulty level of the UTBK items shows that some have the same difficulty level, namely in 1-PL by 25% and 2-PL by 25%. The difficulty level of the SBMPTN items shows that most of them have the same level of difficulty, namely at 1-PL by 20% and 3-PL by 20%. The type of questions also found easy items which were the same as 2-PL (25%) and 3-PL (25%). The difficulty level of TBS items which include verbal, numerical, logical and spatial types has the same level of difficulty between logical and spatial types of questions. The logic is in the 1-PL and 2-PL models (16%) while the spatial is in the 1-PL and 2-PL models (12%). Based on the results of the analysis of the discriminatory power index of the questions on the UBK, SBMPTN, and TBS questions examined on the IRT model, namely 2-PL and 3-PL, it can be concluded that 100% of the instruments contained. While the quasi-guess index analysis is good at 97.50% and not good at 2.50% on the UTBK questions. SBMPTN pseudo-guesses are good at 95.00% and not good at 5.00%. For TBS pseudo-guesses, it is found that the types of verbal, numerical, logical and spatial questions have good quasi-guesses, mostly verbal type questions 84.00%, spatial 76 %, logical 72% and 68% numeric. With the quasi-guess index in the three-parameter logistic model, it is possible for researchers to detect subjects who answered randomly or subjects with low ability who answered the items correctly. From the results of this analysis, it becomes a benchmark or reference for improvement by providing intensive guidance so that the UTBK and SBMPTN scores in 2022 at MAN IC Sorong will be better. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesulitan butir soal dari masing-masing bentuk soal tes baik UTBK, SBMPTN maupun TBS bagi siswa MAN IC Sorong, selanjutnya akan di kelompokan dan dilakukan analisis parameter butir soal dengan aplikasi BILOG-MG for windows dari analisis didapatkan kecocokan model PL 2 dan PL 3 memiliki kesuaian bahwa 100% termuat instrument dapat menentukan siswa mempunyai kemampuan berpikir dapat dikatagorikan tinggi, sedang ,dan rendah. Tingkat kesulitan butrir soal UTBK menunjukkan sebagian ada yang memeiliki tingkat kesulitan yang sama yaitu pada 1-PL sebesar 25 % dan 2-PL sebesar 25 %. Tingkat kesulitan butrir soal SBMPTN menunjukkan sebagain memeiliki tingkat kesulitan yang sama yaitu pada 1-PL sebesar 20 % dan 3-PL sebesar 20 %. Pada tipe soal juga ditemukan butir soal mudah yang sma anata 2-PL (25 %)dan 3-PL (25%). Tingkat kesulitan butir soal TBS yang meliputi tipe soal verbal, numerik, logika dan spasial memiliki tingkat kesulitan yang sama anatara tipe soal logika dan spasial. Pada logika yaitu pada model 1-PL dan 2-PL (16%) sedangkan spasial pada model 1-PL dan 2-PL (12%). Berdasarkan hasil analisis indeks daya beda buitr soal pada soal UBK, SBMPTN, dan TBS diteliti pada model IRT yaitu 2-PL dan 3-PL dapat disimpulkan bahwa 100% termuat instrument. Sedangkan analisis indeks tebakan semu baik 97,50% dan tidak baik sebesar 2,50% pada soal UTBK. SBMPTN tebakan semu baik 95,00% dan tidak baik sebesar 5,00% .Untuk tebakan semu TBS didapat bahwa tipe soal verbal, numerik, logika dan spasial mempunyai tebakan semu yang baik paling banyak adalah tipe soal verbal 84,00% , spasial 76 %, logika 72 % dan 68 % numerik. Dengan adanya indeks tebakan semu pada model logistik tiga parameter, memungkinkan bagi peneliti untuk mendeteksi subjek yang menjawab dengan acak atau subjek yang memiliki kemampuan rendah yang menjawab butir soal dengan benar. Dari hasil analisa ini menjadi patokan atau acuan untuk perbaikan dengan memberikan bimbingan yang intensif agar nilai UTBK dan SBMPTN di tahun 2022 di MAN IC Sorong akan lebih baik.
MISTERY BOX SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF KOMPETENSI SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG DIAH ARUMSASI
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v2i1.883

Abstract

Conventional learning tends to be teacher-centered, making learning monotonous and boring, students are not active and lazy so that student understanding becomes low. The use of the right media can be a stimulus for students to be more enthusiastic in participating in the teaching and learning process. This requires creative ideas from the teacher as a designer and implementer of learning scenarios in the classroom. The purpose of this study is to find out whether the Problem Base Learning Model can improve students' understanding and mastery of the concept of the Trading Company Accounting Cycle. This Best Practice also uses recycled materials in the form of cardboard which is formed as a medium called "Mystery Box" to provide illustrations and simulations to students regarding trading company materials. The "Mystery Box" was carried out in the learning process as well as the Lesson Study program which was carried out together with the observation and assistance of the 2013 Curriculum Team from the LPMP Central Java Province and the Demak Regency Senior High School supervisor at SMA Negeri 2 Mranggen Class XII IPS 5 on the material of the Accounting Cycle of Trading Companies in 2018 is expected to have a positive impact on the teaching and learning process as well as schools and teachers of the 2013 Curriculum Implementation model. ABSTRAK Pembelajaran konvensional cenderung berpusat pada guru menjadikan pembelajaran monoton dan membosankan, siswa tidak aktif dan malas sehingga pemahaman siswa menjadi rendah. Pemakaian Media yang tepat mampu menjadi stimulus bagi siswa untuk lebih antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar. Hal ini memerlukan ide kreatif dari guru sebagai perancang dan pelaksana skenario pembelajaran di kelas.Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui apakah Model Pembelajaran Problem Base Learning dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan siswa mengenai konsep Siklus Akuntansi Perusahaan dagang. Dalam Best Practise ini juga menggunakan bahan daur ulang berupa Kardus yang dibentuk sebagai media bernama “Mistery Box” untuk memberikan ilustrasi dan simulasi kepada siswa mengenai materi perusahaan dagang. “Mistery Box” yang dilakukan pada proses pembelajaran sekaligus program Lesson Study yang dilaksanakan bersama dengan observasi dan pendampingan Tim Kurikulum 2013 dari LPMP Propinsi Jawa Tengah dan pengawas SMA Kabupaten Demak di SMA Negeri 2 Mranggen Kelas XII IPS 5 pada materi Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang pada tahun 2018 diharapkan mampu memberi dampak positif dalam proses belajar mengajar sekaligus sebagai sekolah dan guru model Implementasi Kurikulum 2013.
PEMBENTUKAN KARAKTER SOPAN MELALUI PEMBIASAAN SENYUM DAN SALAM DI SMA NEGERI 1 CIAMPEL LENNY MARLINA
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v2i1.903

Abstract

This study aims to determine the character formation of students' manners through habituation of smiles and greetings carried out at SMA Negeri 1 Ciampel, Karawang Regency. This type of research is field research or field research where researchers go directly to the field to obtain data and information related to the research carried out with the aim of describing a process that occurs in the field. While the approach taken is a qualitative approach. Methods of data collection in the form of observation, interviews, and documentation. The data analysis technique uses inductive analysis with data reduction steps, data presentation and conclusion drawing. From the results obtained in this study, the authors found that the character building carried out by teachers to students through the method of habituation of smiles and greetings was carried out both in the learning process in the classroom and outside the classroom in the SMAN 1 Ciampel school environment, Karawang Regency, went as planned and realized well. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan karakter sopan santun peserta didik melalui pembiasaan senyum dan salam yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ciampel Kabupaten Karawang. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan atau field research dimana peneliti turjun langsung ke lapangan untuk memperoleh data dan informasi terkait dengan penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan suatu proses yang terjadi di lapangan. Sedangkan pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data berupa obsevasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik análisis data menggunakan análisis induktif dengan langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil yang diperoleh dalam penelitian ini penulis menemukan pembentukan karakter yang dilakukan para guru kepada peserta didik melalui metode pembiasaan senyum dan salam yang dilakukan baik dalam proses pembelajaran di dalam kelas maupun diluar kelas dilingkungan sekolah SMAN 1 Ciampel Kabupaten Karawang, berjalan sesuai yang direncanakan dan terwujud dengan baik.
PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR SEPAK BOLA DENGAN PENDEKATAN BERMAIN ANAK KELAS IX MTs NEGERI BATANG WIJI SUTARSIH
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v2i1.938

Abstract

Improving Learning Outcomes of Basic Football Techniques with Children's Playing Approach Class IX MTs Negeri Batang. . Of the 29 children in grade IX G MTs Negeri Batang, only 10 students got a complete score. In fact, the researchers expect the completeness of children's learning in Physical and Health subjects to reach 75% of all children. However, only 34% have reached the limit with a KKM of 75 with a class average of 71.19. This study examines the improvement of children's learning outcomes in the basic material of soccer technique with a play approach in class IX G children. The purpose of this study is to improve the learning outcomes of children in class IX G in physical education subjects, basic competence in basic football technical skills using a play approach. This research is a descriptive qualitative type. Sources of data in this study were grade IX G MTs Negeri Batang. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the use of the Action Research method as an effort to improve basic soccer technical skills has been proven to improve children's learning and training outcomes with a percentage of 34% to 83%. ABSTRAKPeningkatan Hasil Belajar Teknik Dasar Sepak Bola dengan Pendekatan Bermain Anak Kelas IX MTs Negeri Batang”.Pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan (penjasorkes), terutama pada kompetensi dasar keterampilan teknik dasar sepakbola, banyak anak yang mengalami kesulitan sehingga mendapatkan nilai yang belum tuntas. Dari 29 anak kelas IX G MTs Negeri Batang, hanya 10 anak yang mendapatkan nilai tuntas. Padahal peneliti mengharapkan ketuntasan belajar anak pada mata pelajaran Penjasorkes tersebut mencapai 75% dari seluruh anak. Tetapi, hanya 34% yang sudah mencapai batas dengan KKM 75 dengan rata – rata kelas sebesar 71.19. Penelitian ini mengkaji peningkatan hasil belajar anak dalam materi dasar teknik sepak bola dengan pendekatan bermain pada anak kelas IX G. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar anak kelas IX G pada mata pelajaran penjasorkes kompetensi dasar keterampilan teknik dasar sepakbola dengan menggunakan pendekatan bermain. Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah anak kelas IX G MTs Negeri Batang. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Tindakan Kelas (Action Research) sebagai upaya meningkatkan keterampilan teknik dasar sepak bola terbukti dapat meningkatkan hasil belajar dan latihan anak dengan persentase 34% menjadi 83%.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN METODE DISCOVERY LEARNING PADA MATERI LINGKARAN KELAS XI SMAN 1 PROBOLINGGO SULAIMAN RASYID
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v2i1.939

Abstract

The discovery learning method is a teaching method that focuses on the activities of students in learning. This method is used as an alternative to develop students' creative thinking. The 2013 curriculum expects students to be able to think critically to improve learning outcomes. In realizing these expectations, three learning methods can be used in schools, namely (1) Discovery learning, (2) Problem Based Learning, and (3) Project Based Learning. This study aims to describe the implementation of learning mathematics through discovery learning methods that are valid, practical and effective. Meanwhile, according to (Bruner 1996) discovery is a process, a way / way of approaching a problem, not a product or a particular item of knowledge. In the discovery learning method, a verification phase is carried out, which aims that the learning process can run well if the teacher provides opportunities for students to find a concept, theory, rule or understanding through examples that he encounters in his life. The learning outcomes that have been validated are tested through field trials. In this trial, effectiveness was measured based on three indicators, namely (a) learning outcomes test (THB), (b) mathematical reasoning, and (c) the average percentage of student activity observations achieved. Based on the results obtained, the data obtained that the results of the THB number of students who have completed are 91.7%. Based on the established criteria, the results of this test are said to be classically complete. The effectiveness of learning design is also shown by students through activities (1) focusing questions, (2) analyzing questions, (3) delivering answers, (4) giving lots of ideas to a problem, (5) curiosity is quite large, (6) having alternatives in solving problems, (7) proving answers, (8) being active in doing assignments, (9) drawing conclusions. Overall the percentage of implementation of mathematical reasoning is 81.13%, which means it has good criteria. Meanwhile, based on the observation, the average percentage of student activity was 93.79%. So that the overall learning design is considered to have met the specified criteria. ABSTRAKMetode discovery learning adalah metode mengajar yang menitikberatkan pada aktivitas peserta didik dalam belajar. Metode ini digunakan sebagai alternatif untuk mengembangkan berpikir kreatif siswa. Kurikulum 2013 mengharapkan peserta didik mampu berpikir kritis untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam mewujudkan harapan tersebut dapat digunakan tiga metode pembelajaran di sekolah yaitu (1) Discovery learning, (2) Problem Based Learning, dan (3) Project Based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika melalui metode discovery learning yang valid, praktis dan efektif. Sedangkan menurut (Bruner 1996) penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan, bukannya suatu produk atau item pengetahuan tertentu. Pada metode discovery learning dilakukan fase verifikasi, yang bertujuan agar proses belajar dapat berjalan dengan baik jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Hasil belajar yang telah divalidasi diuji melalui uji coba lapangan. Pada uji coba ini keefektifan diukur berdasar tiga indikator, yaitu (a) tes hasil belajar (THB), (b) penalaran matematika, dan (c) persentase rata-rata ketercapaian observasi aktivitas siswa. Berdasarkan hasil yang dilakukan diperoleh data bahwa hasil THB jumlah siswa yang telah tuntas sebesar 91,7%. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan maka hasil tes ini dikatakan tuntas secara klasikal. Keefektifan desain pembelajaran juga ditunjukkan siswa melalui aktivitas (1) memfokuskan pertanyaan, (2) menganalisis pertanyaan, (3)menyampaikan jawaban, (4) memberi banyak gagasan terhadap suatu masalah, (5)Rasa ingin tahu yang cukup besar, (6) memiliki alternatif dalam menyelesaikan masalah, (7) membuktikan jawaban, (8) aktif dalam mengerjakan tugas, (9) menarik kesimpulan. Secara keseluruhan persentase keterlaksanaan penalaran matematika adalah 81,13%, yang berarti mempunyai kriteria baik. Sedangkan berdasarkan observasi persentase rata-rata aktivitas siswa rata-rata ketercapaiannya 93,79%. Sehingga keseluruhan desain pembelajaran dianggap telah mememuhi kriteria yang ditetapkan.

Page 2 of 2 | Total Record : 15