cover
Contact Name
Nikki Aldi
Contact Email
nikki.aldi@unib.ac.id
Phone
+6287885050404
Journal Mail Official
jukeraflesia@unib.ac.id
Editorial Address
Bagian Pendidikan Kedokteran FKIK Universitas Bengkulu, Jl. WR Supratman Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Raflesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24773778     EISSN : 26228343     DOI : 10.33369
Core Subject : Health, Science,
JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia) is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778. The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2020)" : 5 Documents clear
KETOKONAZOL 2% LEBIH EFEKTIF DIBANDING EKSTRAK BUNGA SEPATU (Hibiscus rosa sinensis L.) SEBAGAI HERBAL POTENSIAL ANTI MIKOSIS Alya, Qonitah Anggara
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 6 No. 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v6i2.13829

Abstract

Latar Belakang Malassezia furfur merupakan flora normal kulit kepala yang dapat menjadi patogen penyebab ketombe dan dermatitis seboroik. Penggunaan shampo antiketombe yang mengandung berbagai senyawa kimia dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan. Beberapa isolat Malassezia furfur bersifat resisten terhadap golongan azol. Bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) mengandung senyawa metabolit antijamur. Tujuan Membandingkan efektivitas ketokonazol 2% dan ekstrak etanol bunga sepatu sebagai antijamur terhadap pertumbuhan Malassezia furfur. Metode Penelitian eksperimental laboratorium dengan post test only control group design dilakukan secara triplo menggunakan 6 kelompok perlakuan dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,125%. Kontrol positif (+) berisi media Sabouraud Dextrose Broth (SDB) olive oil & suspensi jamur sedangkan kontrol negatif (-) berisi media SDB olive oil, suspensi jamur, & ketokonazol 2%. Penentuan Kadar Hambat Minimal (KHM) memperhatikan kekeruhan media SDB olive oil, dilanjutkan penggoresan pada Sabouraud Dextrose Agar (SDA) olive oil dengan mengamati pertumbuhan koloni untuk menentukan Kadar Bunuh Minimal (KBM). Sampel inkubasi 2-5 hari dengan suhu 37°C. Hasil Pengamatan semua konsentrasi ekstrak etanol bunga sepatu pada hari 1-5 ditemukan pertumbuhan jamur sedangkan pengamatan ketokonazol 2% pada hari 1-2 tidak ditemukan pertumbuhan jamur. Kesimpulan Ketokonazol 2% lebih efektif dibandingkan dengan ekstrak etanol bunga sepatu dalam menghambat pertumbuhan Malassezia furfur.Kata kunci : Efektivitas antijamur, Ketokonazol 2%, Ekstrak bunga sepatu, Malassezia furfur.
Peran Imunoterapi pada Tatalaksana Alergi Makanan (The Role of Immunotherapy in Food Allergy) Hendra, Hendra Hendra
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 6 No. 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v6i2.13217

Abstract

AbstrakAlergi makanan merupakan reaksi  imun yang terjadi setelah paparan terhadap makanan tertentu. World Allergy Organization (WAO) melaporkan 22% penduduk dunia menderita alergi dan terus meningkat setiap tahun.  Data tahun 2014, diperkirakan kasus alergi makanan terjadi pada 5% dewasa dan 8% pada anak-anak. Alergi makanan adalah bagian dari reaksi hipersensitivitas, yakni hiperesponsivitas imunologik terhadap antigen spesifik, dapat berasal dari makanan atau mikroorganisme patogen maupun  produknya. Alergi  makanan menunjukkan gejala klinis lokal ataupun sistemik. Perkembangan ilmu pengetahuan mengarahkan perubahan paradigma dari pencegahan alergi yang berupa tindakan  menghindari alergen  ke arah desensitisasi dan induksi aktif toleransi imunologik. Imunoterapi dibuat berdasarkan hubungan dengan alergen spesifik. Sebagai dasar teori yaitu dengan  melakukan  peningkatan  paparan secara bertahap seorang penderita dengan alergen yang spesifik, maka diharapkan akan terjadi suatu  proses desensitisasi atau peningkatan toleransi terhadap alergen tersebut. Oral imunoterapi melibatkan makanan yang merupakan alergen dan dikonsumsi bertahap dengan peningkatan dosis. Sebagian besar protokol oral imunoterapi meliputi fase eskalasi, diikuti dengan peningkatan dosis dan dosis maintenance. Optimasi imunoterapi dapat dilakukan dengan modifikasi protokol seperti dosis, durasi, probiotik dengan imunoterapi, ataupun modifikasi dengan alergen multipel.Kata kunci: alergi makanan, imunoterapi AbstractFood allergy is immunologic reaction after food exposures. World Allergy Organization (WAO) reported 22% worldwide have allergy and keep increasing. In 2014, food allergy been speculated 5% in adult and 8% in child. Food allergy is a part of hypersensitivity, as hyperresponsiveness in immune system with spesific antigen from food. Food allergy can manifest as local or systemic. New paradigm in food allergy treatment, shifted from avoid the allergen to desensitization and tolerance. In patient with gradual exposure with spesific allergen, desensitization and tolerance been expected. Oral immunotherapy involve food consuming and increased the doses. It consist of escalation, increasing doses and maintenance. For optimizing immunotherapy, it can been modified with dosage, duration, combined with probiotic or with multiple ellergen.       Keywords: food allergy, immunotherapy
CASE REPORT: COLITIS ULCERATIVE AND ANCYLOSTOMA DUODENALE INFECTION IN 66 YEARS OLD MAN Desyi, Desyi Desyi
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 6 No. 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v6i2.13385

Abstract

ABSTRAKUlcerative colitis merupakan peradangan kronis dari colon dengan etiologi pasti yang belum diketahui. Ancylostoma duodenale adalah salah satu jenis cacing tambang yang berinfestasi pada manusia yang dapat mengakibatkan gejala anemia dan malnutrisi. Artikel ini melaporkan kasus pasien laki-laki berusia 66 tahun dengan keluhan utama BAB berdarah. BAB berdarah sejak 2 minggu sebelum masuk RS. BAB dikatakan pasien berdarah, disertai lendir, 5-6 kali per hari. Pasien juga mengeluhkan nyeri perut pada bagian tengah atas. Pada pasien ditemukan konjungtiva anemis bilateral, dan nyeri tekan pada epigastrium. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan anemia normokrom normositik dengan normal fecal analysis, ditemukan adanya colitis dan infestasi Ancylostoma duodenale pada kolonoskopi. Hasil fecal analysis yang normal pada infeksi Ancylostoma duodenale bisa disebabkan oleh kemungkinan infeksi awal pada pasien, low infectivity, subjektivitas pemeriksa, sehingga, diperlukan analisis feses dengan perhatian atau teknik khusus.Kata kunci: Ulcerative colitis , Ancylostoma duodenale ABSTRACTUlcerative colitis (UC) is a chronic inflammation in colon with unknown etiology. Ancylostoma duodenale is one of the hookworms that infects human, it can manifest as anemia and malnutrition. This article reported a man 66 years old with bloody stool since 2 weeks before admission. The stool was bloody, with mucous, 5-6 times per day. Patient was also complained about epigastric pain. Physical examination  showed bilateral conjunctival pallor and epigastric tenderness. Laboratory examination showed normochromic normocytic anemia, with normal fecal analysis. Colitis and Ancylostoma duodenale were established in colonoscopy. Normal fecal analysis in this patient maybe due to early infection stage, low infectivity, or examiner subjectivity, so it is suggested with special attention or certain technique of fecal analysis.  Keywords: Ulcerative colitis , Ancylostoma duodenale
THE EXPRESSION OF HER-2 AND GALECTIN-3 IN COLORECTAL ADENOCARCINOMA AND THEIR RELATIONSHIP WITH CLINICOPATHOLOGICAL PARAMETERS Lesmana, Vienna Alodia
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 6 No. 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v6i2.13785

Abstract

Colorectal carcinoma (CRC) is the third most common cancer among worldwide. Data from WHO GLOBOCAN in 2018 show there were 1.8 million cases of CRC in the world, with mortality rates 861,000. Histopathology of tumor show 90% of CRC is adenocarcinoma and predominantly in men. Some proteins that are thought to play a role in tumor development are HER2 and Galectin-3. Correlation between expression of Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2)  and Galectin-3 with clinicopathology aspect are expected to help determine treatment options. The aim of this study was to investigate the correlation between expression levels of HER-2 and Galectin-3 in vary clinicopathological aspect of colorectal adenocarcinoma. Cross sectional study was conducted in 40 samples of colorectal adenocarcinoma in dr. Kariadi Central General Hospital from 1st  January 2018 until 31st  December 2018. Samples were analyzed regarding the expression of HER2 and Galectin-3 by immunohistochemical staining of paraffin-embedded material. Coexpression of HER-2, Galectin-3 and the clinicopathological parameters (gender, age, location, depth of invasion, lymph nodes metastase, distant metastase and stage) were analyzed using Chi square test and Spearmans correlation test. Positive HER-2 expression was found on 5% of samples, while strong expresion of Galectin-3 was found on 12.5% of samples. There was no significant correlation between HER-2 and Galectin-3 expression and clinicopathology aspect.
PERBANDINGAN NYERI PASCA SIRKUMSISI DENGAN ATAU TANPA PEMBERIAN LIDOKAIN-PRILOKAIN KRIM DINILAI DENGAN VISUAL ANALOG SCALE (VAS) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KOTA BENGKULU Nasution, Ahmad Azmi
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 6 No. 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v6i2.9881

Abstract

Latar Belakang: Manajemen nyeri sangat penting dalam melakukan tindakan sirkumsisi maupun setelah tindakan sirkumsisi. Salah satu metode untuk mengurangi nyeri adalah dengan pemberian krim lidokain-prilokain. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan nilai Visual Analog Scale (VAS) pasien dengan pemberian krim lidokain-prilokain dan pasien yang tidak diberikan krim lidokain-prilokain pasca sirkumsisi. Metode: Penelitian quasi eksperimental dengan 12 subjek penelitian yang menjalani sirkumsisi dengan rentang usia 5-12 tahun. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan (diberikan krim lidokain-prilokain) dan kelompok kontrol (tidak diberikan krim lidokain-prilokain). Pasien kelompok perlakuan akan diberikan krim lidokain-prilokain oleh dokter diruang operasi pada daerah sekitar luka bekas insisi, sedangkan pasien kelompok kontrol tidak diberikan krim lidokain-prilokain. Pengukuran nilai VAS dilakukan pada menit ke-45 dan menit 90 setelah penambahan krim lidokain-prilokain. Hasil: Hasil uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p =0,004) terhadap nilai VAS pasien yang diberikan krim lidokain-prilokain pada menit 45 dan 90 dibandingkan dengan yang tidak diberikan krim lidokain-prilokain disekitar luka setelah operasi.Kesimpulan: Penelitian ini menununjukkan bahwa pasien yang diberikan krim lidokain-prilokain dapat menurunkan nilai VAS dibandingkan dengan nilai VAS pasien yang tidak diberikan krim lidokain-prilokain pada pasien paska sirkumsisi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5