cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
TAMAN VERTIKAL DI MATRAMAN Octaviani Morgalita; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6850

Abstract

With the rising of number of population and its business, transportation and mobility also rises. Jakarta has the highest number of vehicles and the most polluted metropolitan , as the main problem for Jakarta is the degradation of the environment quality caused by air pollution. Beside poor air quality also affects the physical quality and the population’s psychic which are lung problems, and chronic stress. So, an in-between space is needed as a neutralizer with the purpose of balancing the thinking patters and human health. This neutralizer could be achieved with Matraman Vertical Park. With a total area of about 5.000 m², this place gives humans to “Stop” and “Think” and react positively about the surrounding environment. The site is located between the borders of Jakarta Pusat and Jakarta Timur, specifically, at the intersection of Jl. Salemba Raya and Jl. Pramuka Raya. Matraman Vertical Park is an botanical–garden-integrated public and social space which reacts to the degradation of environment quality in Jakarta. Matraman Vertical Park applies the concept of Third Place which gives human the space to socialize and provide an entertainment that contribute positively to the city environment. The program of this building is open to public and with a purpose for the development of human and the environment. An Interaction space is presented with the concept of morphosis environment to the building’s spaction for visitors. Abstrak Aktivitas transportasi dan mobilitas terus bertambah seiring dengan meningkatnya kesibukan dan pertumbuhan penduduk di kota Jakarta. Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah kendaraan dan polusi udara yang tinggi, sehingga permasalahan utama yang timbul adalah penurunan degradasi kualitas lingkungan akibat pencemaran udara. Selain kualitas udara yang buruk juga berdampak pada kualitas fisik dan psikis penduduk yaitu berdampak pada gangguan paru – paru dan chronic stress. Maka dibutuhkannya sebuah ruang antara yang menjadi penetralisir dengan tujuan menyeimbangkan pola pikir dan kesehatan jasmani bagi manusia. Hal tersebut direalisasikan dengan dibuatnya bangunan “Matraman Vertical Park”, dengan luas ± 5.000 m² yang memberikan wadah bagi manusia untuk “Stop” dan “Think”, serta memberikan reaksi positif terhadap lingkungan sekitar. Lokasi bangunan berada di perbatasan antara Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang terletak di persimpangan Jalan Salemba Raya dan Jalan Pramuka Raya. Matraman Vertical Park merupakan ruang publik dan sosial berintegrasi dengan botanical garden yang menjawab dan memperbaiki isu penuruan kualitas lingkungan di kota Jakarta. Matraman Vertical Park menggunakan konsep Third Place yang menyediakan ruang bagi manusia untuk bersosialisasi dan memberikan penghiburan yang berkontribusi positif terhadap lingkungan perkotaan. Di dalam bangunan ini terdapat program yang cenderung ditujukan untuk public dan perkembangan bagi manusia maupun lingkungan, dengan konsep morphosis environment pada tata ruang yang menghadirkan interaction space bagi pengunjung kepada lingkungan sekitar.
RUANG KEBUGARAN DI PLUIT Jonea Kane Darmanto; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6857

Abstract

Urban where life is full of busyness, forcing people to choose to do everything instantly. Problems that arise include the absence of a social life and lifestyle that does not support the quality of public health. According to a Zipjet Company survey, Jakarta is categorized as the most stressful city and has an impact on deteriorating health and quality of life. Open Architecture is an architectural proposal that discusses The Third place or an intermediate space that is expected to serve the needs of modern urban society. Pluit, North Jakarta one of the areas that has a third place character. The location directly adjacent to the first place and second place in PLuit is one of the reasons for site selection, so presenting a third place project here is expected to be a solution to the regional problem. Projects that provide a platform for the community to be able to come entertain themselves for a moment from the busyness or problems they face. Prioritizing sports programs with the intention of increasing interest in health, with the concept of wellness that is also adjusted to the needs of the surrounding community. So that this project becomes a place of fatigue that also supports the improvement of quality of life. With sports, an activity which in its development can be carried out as an entertaining and enjoyable activity, individuals between individuals can also meet and have the same motivation so that it can also create a community that further strengthens social life among surrounding communities. Abstrak Perkotaan dimana kehidupan di penuh kesibukan, memaksa masyarakat memilih untuk melakukan semua hal dengan instan. Permasalahan yang muncul antara lain adalah tidak adanya kehidupan bersosialisasi dan  pola hidup yang kurang mendukung kualitas kesehatan masyarakat. Menurut sebuah survey Perusahaan Zipjet (2017), Jakarta masuk dalam kategori kota paling stres dan berdampak pada kemerosotan kesehatan serta kualitas hidup. Open Architecture adalah sebuah proposal arsitektur yang membahasa mengenai The Third place atau ruang antara yang diharapkan mampu melayani kebutuhan masyarakat kota modern. Pluit, Jakarta Utara salah satu daerah yang memiliki karakter third place. Lokasi  yang berbatasan langsung dengan first place dan second place di PLuit ini menjadi salah satu alasan pemilihan tapak, Sehingga menghadirkan proyek third place disini diharapkan menjadi solusi permasalahan kawasan. Proyek yang memberi wadah bagi masyarakat untuk  bisa datang  menghibur diri sejenak dari kesibukan atau masalah yang di hadapinya. Mengutamakan program olahraga dengan maksud meningkatkan minat terhadap kesehatan, dengan konsep wellness yang di sesuaikan juga dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Sehingga proyek ini menjadi sebuah tempat pelepas penat yang sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidup. Dengan adanya olahraga, sebuah kegiatan yang dalam perkembanganya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur dan menyenangkan, individu antar individu juga dapat bertemu dan  memiliki motivasi yang sama sehingga dapat pula tercipta sebuah komunitas yang semakin mempererat kehidupan sosial antar masyarakat sekitar.
TAMAN SELUNCUR INTERAKTIF SETIABUDI Stefanny Makmur
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6853

Abstract

Duncan M. Laren and Julian Agyeman stated in their writings on 'sociocultural' which is a human nature that occurs everywhere but now society is gradually divided when it comes to public commercial knowledge and the rapidly developing economic as well as technological aspects. Various trends related to commercial matters are slowly creating destabilization and fragmentation of identity in some societies, as there are class classifications formed among them. Of the various opportunities that exist in a city, sometimes misuse that focuses on economic interest, as a result the interests of the community are ruled out because the available spaces are intended to be commercial interests that privatize public services and utilize land values by means of gentrification. A Third Place that provides a series of activities is one of the architectural responses in the development of an open society. Through the high appreciation of the community for sports and culinary as an attraction that is in accordance with the characteristics of the area, the program offered is the incorporation and development of basic activities. This project is expected to support the cultivation of skateboarding activities and similar activities such as cycling, rollerblading, and basic types of sports that can be followed by everyone, taking from the category of skating, this project promotes a dry ski program, where this program has potential in the region. Restraining the methodology of activity typology and trans-programming as well as the source of the concepts presented by Edward T. White, the project with flexible layout design creates removable dry skiing which is a dominant part of the third place program to build active communities in locations with high potential with a strong TOD system.Abstrak Duncan M. Laren dan Julian Agyeman mengatakan dalam karya penulisannya mengenai ‘sosiokultural’ yang merupakan sifat dasar manusia terjadi di mana saja namun kini semakin lama masyarakat mengalami perpecahan ketika mengenal komersial publik dan aspek ekonomi serta teknologi yang berkembang pesat. Berbagai tren yang terkait dengan hal-hal komersial perlahan menciptakan destabilisasi dan fragmentasi akan identitas pada sebagian masyarakat, maka terdapat klasifikasi kelas yang terbentuk diantaranya. Dari berbagai kesempatan yang ada dalam sebuah kota, terkadang terjadinya kesalahgunaan yang berfokuskan pada ketertarikan ekonomi, alhasil kepentingan masyarakat dikesampingkan akibat ruang-ruang yang tersedia diperuntukan menjadi commercial interest yang memprivatisasi layanan publik dan memanfaatkan value tanah dengan cara gentrifikasi. Sebuah Third place yang menyediakan serangkaian aktivitas merupakan salah satu tanggapan arsitektural dalam pembangunan masyarakat yang terbuka. Melalui apresiasi warga yang tinggi terhadap olah raga dan kuliner sebagai daya tarik yang sesuai dengan karakteristik kawasan, program yang ditawarkan ialah penggabungan dan pengembangan kegiatan dasar. Proyek ini diharapkan mendukung pembudidayaan akan kegiatan skateboard dan aktivitas serupa seperti bersepeda, sepatu roda, serta jenis olah raga basic yang dapat diikuti oleh semua orang, mengambil dari kategori olah raga seluncur, proyek ini mengangkat program dry ski, di mana program ini memiliki potensi dalam kawasan tersebut. Mengendalkan metode tipologi kegiatan dan trans-programming serta sumber konsep yang dekemukakan oleh Edward T. White, proyek dengan desain layout flexible menciptakan removable Dry ski yang menjadi bagian dominan dalam program third place untuk membangun masyarakat aktif pada lokasi yang sangat berpotensi dengan sistem TOD yang kuat. 
RUMAH KEBERSAMAAN ANTARA HEWAN DAN MANUSIA Benedikta Jennifer Christanto; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6745

Abstract

People are social beings who need each other. People as social beings cannot live alone and need other living beings to survive. The city is characterized as a place where people live and work and are the center of the economy. Heterogeneous cities and majority of non-agrarian communities cause the community to be individualist. People begin to forget about the true socialization meaning and start building walls with each other. This research aims to reduce the level of individualism in the city community through the role of architectural space as well as pet media for dogs, cats and rabbits. The methods of this study include: first, conducting literary studies, surveying and observing the location and environment surrounding the site and region; The second learns the needs of the surrounding community and the reason society becomes individualist; All three programs that suit the needs of the community with the activity collection so that the objective of the project will be achieved. Through observation, experimentation and based on precedent, it is hoped that we can obtain the criteria of architectural design to suit the needs of the surrounding community, with the main objective of unifying and interpreting the surrounding community so that Fading the sense of individualism by interacting well with the media of the same pet or hobby or craze. AbstrakManusia merupakan mahkhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Manusia sebagai mahkhluk sosial tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan mahkhluk hidup lainnya untuk bertahan hidup. Kota ditandai sebagai  tempat dimana masyarakat tinggal dan bekerja serta merupakan pusat perekonomian. Masyarakat kota yang heterogen dan mayoritas penduduknya bekerja non-agraris menyebabkan masyarakat bersifat individualis. Masyarakat mulai melupakan arti sosialisasi yang sesungguhnya dan mulai membangun dinding antara satu dengan yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi tingkat individualis dalam masyarakat kota melalui peran ruang arsitektur serta media hewan peliharaan baik anjing, kucing maupun kelinci. Metode dari penelitian ini, antara lain: pertama, melakukan studi literatur, survei dan melakukan observasi terhadap lokasi dan lingkungan sekitar tapak dan kawasan. Kedua mempelajari kebutuhan dari masyarakat sekitar dan alasan masyarakat menjadi individualis. Ketiga menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan pendataan aktivitas sehingga diharapkan tujuan dari proyek akan tercapai. Melalui observasi, eksperimen serta berlandaskan dari preseden, diharapkan dapat memperoleh kriteria rancangan arsitektur yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar, dengan tujuan utama untuk menyatukan dan menyetarakan masyarakat sekitar sehingga memudarkan rasa individualis dengan cara berinteraksi baik dengan media berupa hewan peliharaan maupun hobi atau kegemaran yang sama.
PENDEKATAN MUSICARIUM SEBAGAI RUANG PENGHUBUNG KOMUNITAS MUSIK DAN RUANG KOMUNAL DENGAN PENDEKATAN THIRD PLACE Rommy Gunawan; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6854

Abstract

Jakarta as the capital has its own charm so that many migrants from outside the area come for various activities. This causes the density of the city to be one threat to city life. The number of activities makes the city spaces become narrow and also very severe congestion makes the stress level of city residents become high. The routine of the inhabitants of the capital becomes very monotonous, that is, they only carry out work activities, then after that, they immediately return to their homes. This makes humans who were previously social creatures into personal beings because they are in the same environment over and over again, meeting the same people continuously so that the population's monotony is high and stress levels are also increasing. The program carried out is the result of data and field analysis, where the need for recreation in leisure is indispensable, namely a hangout. The type of project that was decided to be designed was a hangout place with a third place approach based on community and the provision of communal spaces as meeting rooms with new people so that the motives would disappear. After research and data searching, the Tanjung Duren area was found to be the location of the 'Musicarium: Connecting Space for Music Communities' as a place for musical entertainment and also a culinary place by presenting communal spaces. The concept of this project is to present spaces that are open to be transparent so that this project becomes an architecture that is comfortable for all people. AbstrakJakarta  sebagai ibukota memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak pendatang dari luar daerah yang datang untuk berbagai aktivitas. Hal ini menyebabkan kepadatan kota menjadi salah satu ancaman bagi kehidupan kota. Banyaknya aktivitas membuat ruang dalam kota menjadi sempit dan juga kemacetan yang sangat parah membuat tingkat stress penduduk kota menjadi tinggi. Rutinitas penduduk ibukota menjadi sangat monoton yaitu hanya melakukan kegiatan kerja kemudian setelah itu maka mereka langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Hal ini membuat manusia yang tadinya sebagai makhluk sosial menjadi makluk yang personal karena berada dilingkup yang sama terus menerus, bertemu orang yang sama terus menerus sehingga kemonotonan penduduk menjadi tinggi dan tingkat stress juga meningkat. Program yang diusung merupakan hasil dari analisis data dan lapangan, dimana kebutuhan akan rekreasi dalam leisure itu sangat diperlukan yaitu tempat berkumpul. Jenis proyek yang diputuskan untuk didesain adalah tempat berkumpul dengan pendekatan third place untuk komunitas serta pengadaan ruang-ruang komunal sebagai ruang pertemuan dengan orang baru sehingga kemonotonan akan hilang. Setelah dilakukan penelitian dan pencarian data, didapati kawasan Tanjung Duren menjadi lokasi ‘Musicarium: Ruang Penghubung Komunitas Musik’ sebagai suatu wadah hiburan musik dan juga tempat kuliner dengan menghadirkan ruang-ruang komunal. Konsep proyek ini adalah menghadirkan ruang-ruang yang sifatnya terbuka agar transparan sehingga proyek ini menjadi sebuah arsitektur yang nyaman bagi semua kalangan.
GERBANG TRANSIT TAMAN TEBET Indra Aristyanto; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6863

Abstract

The life of Jakarta’s people who are very dynamic in their routine sometimes makes them forget the importance of socializing and resting for a while. The need for a third place, in addition to home and workplace, could be a solution to provide space that is able to make people forget their main activities and relieve fatigue from their routine in order to have a better quality of life. Tebet as one of the densely populated residential areas in Jakarta certainly needs this third place so that its people can have a better quality of life. The existence of many kinds of public transportation in Tebet such as electric trains, Transjakarta buses and LRT (which are still in the development stage) makes the flow of the movement of people who are the users become very dynamic. The space between the house and the transportation points is needed as a third place that becomes a transit point and can accommodate activities that can make them comfortable after / before their routine. In addition, Tebet Park as the largest form of public space in the Tebet area needs to be encouraged to better accommodate the activities of its people. From the various potentials and problems, project designed close to Taman Tebet that able to accommodate the activities of the Tebet community as a gate between home and work place with programs such as shops, restaurants, sports facilities, parking facilities and a place to gather and relax to accommodate their activities and needs. AbstrakKehidupan masyarakat Jakarta yang sangat dinamis dalam rutinitasnya kadang membuat mereka lupa akan pentingnya bersosialisasi dan beristirahat sejenak. Kebutuhan akan ruang ketiga, selain rumah dan tempat kerja, dapat menjadi solusi untuk memberikan ruang yang mampu membuat masyarakat melupakan kegiatan dan melepas penat dari rutinitasnya agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Kawasan Tebet sebagai salah satu kawasan permukiman yang padat di Jakarta tentu membutuhkan ruang ketiga ini agar masyarakatnya dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Keberadaan transportasi publik yang beragam di kawasan ini seperti kereta listrik, bus Transjakarta serta LRT yang masih dalam tahap pembangunan membuat alur pergerakan masyarakat yang menjadi pengguna menjadi sangat dinamis. Ruang antara rumah dan titik-titik transportasi tersebut diperlukan sebagai ruang ketiga yang menjadi titik transit dan mampu mewadahi aktivitas yang bisa membuat mereka nyaman setelah/sebelum beraktivitas. Selain itu, Taman Tebet sebagai bentuk ruang publik terbesar yang ada di kawasan Tebet perlu didorong untuk lebih mewadahi aktivitas masyarakatnya dengan lebih baik. Dari beragam potensi dan masalah tersebut, dirancanglah proyek yang berada dekat dengan Taman Tebet dan mampu mengakomodasi aktivitas masyarakat Tebet sebagai gerbang di antara tempat tinggal dan tempat kerja dengan program seperti pertokoan, tempat makan, sarana olahraga, fasilitas parkir dan tempat berkumpul dan bersantai untuk mewadahi aktivitas dan kebutuhan mereka.
WADAH AKTIVITAS MASYARAKAT DI RAWA BELONG Keane Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6896

Abstract

Third place is a place to communicate, activity, find a beautiful atmosphere, calm, and refresh the mind. The area in Jakarta needs a third place because Jakarta itself has an issue that is quite disturbing the people of Jakarta, one of which is a congestion issue. The author takes the area of Rawa belong because in Rawa Belong is a dense area so the area is in a program that approaches Third place. Rawa Belong is a dense area of various sectors, namely the economic sector, education, and Industry. The area is crowded with heterogeneous youths and local residents. With the frequent activities is communicating and socializing. So automatically, Rawa Belong is packed by group work activities and hang out activities. However, Rawa Belong has a facility that is not yet comfortable enough to used. There are facilities that the standard hygiene is lacking. There are also lack of usable space, because there has an easy solid facility. Rawa Belong have the famous Rawa belong flower market even to be known internationally then the author took the theme of flower market as the main program for the theme Third place. One of the issues that is common that is detrimental to the community is air pollution. The area is so dense area, so automatically the region is quite polluting. To decrease the issue the author making the design of the building that environmentally friendly and faces the issue. The idea of the concept is Biophilic Design with floral objects. With the idea of the concept positively impacts human psychologically. Because of psychological in Rawa Belong. It will certainly have negative psychology. AbstrakThird place merupakan tempat untuk berkomunikasi, beraktifitas, mencari suasana yang asri, tenang, dan menyegarkan pikiran. Secara luasnya di Jakarta membutuhkan third place karena Jakarta sendiri memiliki isu yang cukup meresahkan masyarakat Jakarta, salah satunya yaitu isu kemacetan. Penulis mengambil Kawasan Rawa belong karena di Rawa Belong merupakan kawasan yang padat sehingga daerah tersebut dipadati program yang mendekati Third place. Rawa Belong merupakan Kawasan yang padat akan berbagai sektor, yaitu sektor ekonomi, Pendidikan, dan indsutri. Kawasan tersebut dipadati oleh pemuda-pemuda yang bersifat heterogen dan penduduk lokal. Dengan adanya aktivitas yang sering dilakukan adalah berkomunikasi serta bersosialisasi. Maka otomatis, Rawa Belong dipadati oleh aktivitas kerja kelompok dan bernongkrong. Namun, Rawa Belong terdapat fasilitas yang belum cukup nyaman untuk digunakan. Sehingga terdapat fasilitas yang standar kebersihannya kurang. Adapula kekurangan ruang yang bisa dipakai, berhubung fasilitas disana mudah padat. Rawa Belong tersebut terdapat pasar bunga Rawa belong yang terkenal bahkan sampai dikenal internasional maka penulis mengambil tema pasar bunga sebagai program utama untuk tema Third place. Salah satu isu yang sudah umum yang merugikan masyarakat yaitu polusi udara. Kawasan tersebut merupakan Kawasan padat, maka otomatis Kawasan tersebut cukup berpolusi. Untuk menanggulangi isu tersebut penulis membuat desain bangunan yang ramah lingkungan dan menghadapi isu tersebut. Ide konsep tersebut adalah Biophilic Design dengan objek bunga. Dengan adanya ide konsep tersebut memberi dampak positif terhadap psikologis manusia. Berhubung psikologis di Rawa Belong. Sudah pasti akan memiliki psikologi yang negatif.
STUDIO MEDIA VISUAL DAN SINEMA RUANG LUAR MELAWAI Maudy Maharani; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6851

Abstract

The media is one among many other factors, that is responsible for the dissemination of information amidst modern society. The Melawai Visual Media Community Studio and Open- Cinema project is created as a response towards the multicultural phenomenon caused by high plurarity rate of residents coming from different regions, locally or internationally. It aims to restore local values that starts to becoming insignificant among rapid globalization that is happening in the area. In addition, it also plays a role in strengthening relations between community-based social circles through efforts to foster a sense of pride towards local creative products. Synergized with M- Bloc Space which is a collaboration between PERURI and local creative industries intended to provide a space for creative-based community as a meeting point that is intergrated with Sisingamangaraja MRT Stop and Blok-M MRT Stop, Visual Media Community Studio and Open-Cinema project helps to upgrade the quality of the residents socially, economically and culturally through Creation and Appreciation program. The concept of Creation and Apreciation is the sole base of reference to determine the placement of programs on site, as the Open- Cinema (apreciation) placed in the center, supported by Pre-productions, Productions, and Post- Productions programs (creation) which revolves around it. The Street-sport zone program is also presented as a neutral space that is expected to attract new visitors outside visual media community, also to contribute in supporting the creativity programs through stimulation of mind through physical movement. The method used for this project’s design is examining several important contextual parameters around the area (cultural, nature, urban, and buildings’ form) as to produce a form that is explorative but still possess the soul of Colonial Architecture used in the remain buldings of PERURI and M-Bloc Space through the use of vertical elements and the minimalism of material chosen for the building. AbstrakMedia merupakan salah satu unsur yang bertanggung jawab atas penyebaran informasi ditengah masyarakat modern. Proyek Studio Media Visual dan Sinema Ruang Luar Melawai merupakan respon atas fenomena multikultur yang disebabkan oleh pluraritas masyarakat yang tinggi di kawasan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kembali nilai-nilai lokal yang kabur ditengah derasnya arus pengaruh dari budaya asing. Selain itu, proyek juga berperan sebagai pemererat hubungan antar masyarakat Melawai dalam asas komunitas melalui usaha dalam menumbuhkan rasa kebanggaan tidak hanya terhadap karya asing namun juga karya anak bangsa, melalui konsep dan program yang ditawarkan. Dengan sinergi terhadap proyek M-Bloc space yang merupakan kerja sama antara PERURI dengan badan swasta guna menciptakan ruang kreatif sebagai meeting point yang terintegrasi dengan Halte MRT Sisingamangaraja dan Halte MRT Blok-M, proyek Studio Media Visual dan Sinema Ruang Luar ikut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas masyrakat secara sosial, ekonomi maupun budaya melalui kegiatan kreasi dan apresiasi karya. Konsep kreasi dan apreasiasi juga dijadikan sebagai dasar atas program dan penempatan ruang, dimana Sinema Ruang Luar berperan sebagai pusat (apresiasi) dan studio pre-produksi, produksi, dan pos- produksi yang mengegelilinginya. Program street- sport zone juga dihadirkan sebagai ruang netral yang diharapkan dapat menarik pengunjung baru diluar komunitas dengan minat yang sama, juga memicu kreatifitas komunitas melalui stimulasi pikiran melalui gerak fisik. Metode yang digunakan merupakan pendekatan kontekstual yang mengkaji empat parameter kontekstual (budaya, alam, urban, dan fisik bangunan) yang menghasilkan bentuk yang eksploratif namun tetap menyisikpkan unsur- unsur kolonial yang merupakan wujud bangunan dari kompleks Eks- PERURI dan M-Bloc Space.
TEMPAT RELAKSASI DI JALAN JAKSA, JAKARTA Fransiscus Jason
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6839

Abstract

Life in a big and crowded city, like Jakarta, can sometimes affect the physical, emotional and mental conditions of the community. With intense economic competition, people are increasingly busy with all routine activities in order to be able to fulfill their lives. Work routines and population density resulting in a lack of vacant land and green land, can psychologically cause boredom, increased stress levels and emotional instability. Stress not only have a direct impact on society but also impacts on the environment. High level stress can cause psychological, physiological and behavioral disorders. Creating an architectural work that raises the theme of the third place as a container that provides a means of recreation, relaxation and mental healing, urban communities are expected to be able to improve the quality of life of people physically and mentally. The theme of the third place in this case functions as a meeting room (communal space) which is protective and includes all levels of society to meet and exchange ideas, share and be a place of recreation integrated with health and fitness programs for workers and the community. The presence of this recreation and health container can benefit the community to improve physical and mental conditions and can eliminate daily fatigue. Abstrak Menjalani kehidupan di kota yang besar dan padat, seperti Jakarta, terkadang dapat mempengaruhi kondisi fisik, perasaan serta mental dari masyarakatnya. Dengan persaingan ekonomi yang ketat, masyarakat semakin sibuk dengan segala rutinitas aktivitas yang dilakukannya untuk dapat memenuhi kehidupannya. Rutinitas kerja dan kepadatan penduduk yang berakibat kurangnya lahan kosong serta lahan hijau, secara psikis dapat menimbulkan kejenuhan, tingkat stres meningkat dan emosi yang tidak stabil. Stres tidak hanya berdampak secara langsung terhadap masyarakat namun juga berdampak terhadap lingkungan. Akibat dari tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan gangguan psikologis, fisiologis dan perilaku. Dengan menghadirkan sebuah karya arsitektur yang mengangkat tema third place sebagai sebuah wadah yang menyediakan sarana rekreasi, relaksasi dan penyembuhan mental masyarakat kota diharapkan dapat terjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat secara fisik dan mental. Tema third place dalam hal ini difungsikan sebagai ruang temu (communal space) yang bersifat mengayomi dan mencakup seluruh lapisan masyarakat untuk saling bertemu dan bertukar pikiran, berbagi serta menjadi wadah rekreasional yang dipadukan dengan program kesehatan dan kebugaran bagi para pekerja maupun masyarakat. Dihadirkannya wadah rekreasi dan kesehatan ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat untuk membantu meningkatkan kondisi fisik dan mental serta dapat menghilangkan kepenatan sehari-hari.  
RUANG ASIMILASI BUDAYA JEPANG TRADISIONAL DAN MODERN Meinius Erwin; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6875

Abstract

Japanese culture is a Indonesian colonizer’s culture that most stand out and preffered than other Indonesian colonizer’s culture like Netherlands, England, Spanish, and Portuguese. In the other hand, the local value of Indonesia preffered to be left out because Indonesian preffered the foreign culture. The Japanese that followed modern western culture without leaving their original culture can be an example for Indonesian not to lose their local values so that this project designed for Indonesian still can consume and learn Japanese Culture without forget their local culture. The space for make that happen starts from the daily life of people related to third place. The design method for this design based on the site existing as a basic for building mass with the purpose of using the existing one like as thought by Louis Isadore Kahn. Edutown BSD is the right location to design a proposed project entitled Japan Cultural Hybrid Space because there are various buildings with different functions like shopping centers, entertainment, and education, and culturally there are Japan and Indonesia; Edutown BSD is planned to be an education and research center that is integrated with shopping centers, recreation, and other needs so that it supports the project design in the form of assimilation space. The design results in the form of buildings with material and physical form follow Japan / modern while non-physical is more on Indonesian culture because locality is not merely displaying physical form, so that the meaning of design title does not reflect Japanese culture exclusively.  AbstrakKebudayaan Jepang adalah kebudayaan negara penjajah Indonesia yang paling menonjol dan cukup diminati dibanding dengan negara penjajah Indonesia lainnya seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis sementara nilai-nilai lokal Indonesia cenderung ditinggalkan karena orang Indonesia lebih cenderung memilih budaya luar dibanding budaya lokal. Sikap Jepang yang mengikuti budaya modern dari barat tanpa meninggalkan budaya asal mereka menjadi contoh untuk Indonesia agar tidak kehilangan nilai-nilai lokalnya sehingga proyek ini bertujuan agar Indonesia tetap dapat menikmati dan mempelajari kebudayaan Jepang tanpa melupakan kebudayaan lokal. Wadah untuk mewujudkan hal tersebut dimulai dari keseharian orang-orang terkait third place. Metode perancangan yang digunakan adalah dengan memanfaatkan kondisi eksisting tapak perancangan sebagai dasar pembentukkan massa bangunan dengan maksud memanfaatkan yang sudah ada seperti yang dipikirkan oleh Louis Isadore Kahn. Edutown BSD menjadi lokasi yang tepat untuk dirancang sebuah proyek yang diusulkan yang berjudul Ruang Asimilasi Budaya Jepang Tradisional dan Modern karena terdapat berbagai bangunan dengan fungsi berbeda-beda seperti pusat perbelanjaan, hiburan, dan pendidikan serta secara kebudayaan terdapat Jepang dan Indonesia; Edutown BSD direncanakan untuk menjadi pusat pendidikan dan riset yang diintegrasikan dengan pusat perbelanjaan, rekreasi, dan kebutuhan lainnya sehingga ikut mendukung perancangan proyek berupa ruang asimilasi. Hasil perancangan berupa bangunan dengan material dan bentuk fisik mengikuti Jepang / modern sementara non fisik lebih kepada budaya Indonesia karena lokalitas tidak hanya sekedar menampilkan wujud fisik saja, sehingga pengertian judul perancangan bukan mencerminkan kebudayaan Jepang secara eksklusif.

Page 3 of 10 | Total Record : 99