Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles
99 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 1 (2020): APRIL"
:
99 Documents
clear
RUANG KOMUNITAS IBU DAN PASAR DI KRENDANG
Thao Phing;
Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6755
The city has traces of human civilization from time to time with various phenomena that occur. As time goes by, the existence of Third Place in Jakarta remains limited. The activities among those Third Places tend to be less interactive. Most of Third Places aim to address the concept of green and open space, but it fails to communicate its crucial purposes as platfrom activities for the community. In this modern era, the concept is change necessary where it accomodates public needs and no longer be depicted a mere open space. Krendang needs a facility to accommodate motherhood and children activities as the third place. As the people become more individualistic and don't want to socialize, it is more difficult to find leisure and creativity facilities. Motherhood Community and Social Market in Krendang was designed to facilitate the activities of mother and children in the middle of densely population in Krendang, Tambora, West Jakarta. Abstrak Kota memiliki rekam jejak peradaban manusia dari waktu ke waktu dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Seiring berjalanya waktu, Third Place di kota Jakarta masih terbatas. Kegiatan yang ditawarkan didalamnya cenderung tidak interaktif. Kebanyakan Third Place di Jakarta mencoba menampilkan sisi ruang terbuka dan penghijauan saja namun tidak berbicara mengenai kegiatan atau wadah bagi masyarakat itu sendiri. Dalam perjalanannya menuju era yang lebih modern, perlu adanya sebuah perubahan terhadap konsep Third Place dimana konsep ini tidak hanya sebagai ruang terbuka saja atau mall melainkan harus dapat mewadahi kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat disekitarnya. Fasilitas bagi kaum ibu yakni memasak dan bagi anak – anak yakni bermain dan berkreativitas harus menjadi perhatian utama Third Place pada kawasan Krendang. Pada era modern ini masyarakat mulai cenderung menjadi kaum yang individualistis dan terkesan tidak ingin bersosialisasi. Motherhood Community and Social Market in Krendang diciptakan karena adanya fenomena kepadatan yang terjadi dan menyebabkan manusia tidak lagi memiliki wadah untuk mereka beraktivitas dengan baik pada kehidupa sehari – hari mereka. Selain itu hal ini juga terjadi karena sering adanya masalah seperti kebakaran di kawasan Krendang. Maka dari itu Motherhood Community and Social Market in Krendang di harapkan dapat menghadirkan fasilitas bagi kaum ibu dan anak yang layak dan juga agar terciptanya suatu kondisi sosial yang baik pada Third Place.
SARANA KREATIFITAS, REKREASI, DAN KOMUNITAS DI KAWASAN RS FATMAWATI, JAKARTA SELATAN
Ivana Widjaja;
Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6867
Very tight working hours and a lot of work assignments can cause high level of stress. Therefore, every individual need a place that can help them escape from stress and fatigue. In order to meet these needs, an entertaining public space is very much needed in order to meet human needs. This study aims to produce a 3rd place design concept that can overshadow a variety of activities as mentioned above. In compiling this design concept, it will refer to the method of observation, while understanding the location of both the physical and socio-cultural conditions of the community, descriptive qualitative research will be used. This study resulted in the design concept and design of a 3rd place in the Fatmawati area of South Jakarta. AbstrakJam kerja yang sangat padat dan tugas-tugas pekerjaan yang banyak dapat menyebabkan adanya beban pikiran dan stress. Oleh karena itu, setiap individu pasti membutuhkan tempat yang dapat membantunya melepaskan diri dari stres dan lelah. Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, maka sebuah ruang publik yang bersifat menghibur sangat dibutuhkan keberadaanya dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Kajian ini bertujuan menghasilkan konsep perancangan suatu 3rd place yang dapat menaungi berbagai aktifitas sebagaimana tersebut di atas. Dalam menyusun konsep perancangan ini, akan mengaju pada metode observasi, sementara pemahaman terhadap lokasi baik fisik maupun kondisi sosial budaya masyarakat, akan digunakan riset kualitatif deskriptif. Kajian ini menghasilkan konsep perancangan dan perancangan suatu 3rd place di kawasan Fatmawati Jakarta Selatan.
JARINGAN KULINER KOTA DI KEBON SIRIH
Andreas Tanuwijaya;
Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6868
Community is a group of several people who have specific goal and activities that are very varied, and are not in accordance with certain pattern of activity. They will look for a place for them to gathering or we call it “third place”. The third place is a public place that the people inside can act freely. This place is outside from their work or home, yet still feels comfortable. However, the third place began to disappear along with technological developments, especially in urban city such as Jakarta that have very high population and economic growth rates. This situation allows us to interact with others through technology that offers a third place in cyberspace as a gathering place. One of the third place that always continue to exist is a “dining area”, particularly in the informal sector. Central of Jakarta becomes a strategic location for culinary growth because of its office and economic center. This Project is using the “typology” method, observing the activities in the area. One of the familiar culinary in Central Jakarta is Sabang culinary, located on Jalan Sabang / Jalan H. Agus Salim and next to the office buildings on Jalan M. H. Thamrin, Kebon Sirih sub district, Menteng district. There are 2 culinary adjacent to the Sabang culinary, namely Bank Mandiri culinary and Kebon Sirih culinary, a network among culinary centers and to achieve the purpose of the “place to eat” as a third place. This is where Urban Culinary Linkage (Jaringan Kuliner Kota) is planned as an urban network that renforces culinary characterictics in Sabang area and as a third place for employees and residents in Kebon Sirih sub district. AbstrakKomunitas merupakan kelompok dari beberapa orang yang memiliki tujuan tertentu dan kegiatan yang sangat bervariatif, serta tidak terikat oleh sebuah pola kegiatan tertentu. Komunitas ini kemudian mencari tempat tersendiri untuk dijadikan tempat berkumpul atau “ruang ketiga”. Ruang ketiga merupakan wadah dari para komunitas dengan keadaan bebas ekspresi dan bersifat publik. Wadah ini berada di luar pekerjaan atau rumah mereka, namun tetap merasa nyaman. Ruang ketiga mulai hilang seiring dengan perkembangan teknologi, terutama di pusat kota seperti Jakarta dengan laju pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang sangat tinggi. Keadaan memudahkan kita untuk berinteraksi melalui teknologi yang menawarkan ruang ketiga di dunia maya sebagai tempat berkumpulnya komunitas. Salah satu ruang ketiga secara nyata yang terus ada adalah “tempat makan” terutama pada sektor informal. Jakarta Pusat menjadi letak strategis bagi pertumbuhan kuliner karena pusat perkantoran dan ekonomi berada di sana. Metode yang digunakan adalah tipologi, melihat langsung kawasan dan mengamati aktivitas serta perasaan ruang yang terjadi di sana. Salah satu kuliner yang terkenal di Jakarta Pusat adalah Kuliner Sabang yang berada di Jalan Sabang dan bersebelahan dengan perkantoran di Jalan M.H. Thamrin, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng. Ditambah lagi 2 kuliner yang berdekatan dengan Kuliner Sabang, yaitu Kuliner Bank Swasta Mandiri dan Kuliner Kebon Sirih. Hal ini membuka potensi untuk menciptakan jaringan di antara sentra kuliner sehingga tercapainya tujuan “ruang makan” sebagai ruang ketiga. Jaringan Kuliner Kota (Urban Culinary Linkage) direncanakan hadir sebagai jaringan perkotaan yang memperkuat karakteristik kuliner di kawasan Sabang dan menjadi ruang ketiga bagi karyawan serta warga di kelurahan Kebon Sirih.
EVALUASI PENGELOLAAN JEMBATAN PENYEBERANGAN MULTIGUNA TANAH ABANG
Hari Azhari;
Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7289
The Tanah Abang Multiway Skybridge is a building located at Tanah Abang Market Area, precisely in Kampung Bali Village, Tanah Abang District, Central Jakarta. The Tanah Abang Multiway Skybridge was built on the basis of the relocation of street vendors in Tanah Abang Area, which was built by PD Saran Jaya and the Regional Government of DKI Jakarta. The construction of the Tanah Abang Multiway Skybridge is based on the instruction of the Governor of DKI Jakarta, Anies Baswedan, to relocate street vendor who are mushrooming and often create traffic jam on Jati Baru Raya Street. The Tanah Abang Multiway Skybridge was built in August 2018 and began operating on a trial period in December 2018. With The Tanah Abang Multiway Skybrigde in The Tanah Abang Area, it has become a new trending area in The Tanah Abang Market Area which is directly connected with several modes of transportation and also other Tanah Abang Market Areas. But The Tanah Abang Multiway Skybrigde Area still has shortcomings in terms of its management, especially on the availability of facilities such as toilets, seating and also the charging booth as well as in terms of cleaniliness and securities. The Author conducted several analyses such as policy analysis, location analysis, site analysis, best practies analysis and them analysis of perception and preference of visitors to produce proposals and the management evaluation plans at Tanah Abang Multiway Skybridge Area.Keywords: evaluation; management; skybridgeAbstrakJembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang merupakan suatu bangunan yang terletak di kawasan Pasar Tanah Abang tepatnya di Kelurahan Kampung Bali, kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jematan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang dibangun atas dasar relokasi para pedagang kaki lima pada kawasan Tanah Abang yang dibangun oleh PD Sarana Jaya dan Pemerintah DKI Jakarta. Pembangunan Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang ini didasari oleh instruksi Gubernur DKI Jakarta yaitu Anies Baswedan guna untuk merelokasi para pedagang kaki lima yang menjamur dan kerap selalu membuat kemacetan pada Jalan Jatibaru Raya. Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang dibangun pada bulan Agustus tahun 2018 dan mulai dioperasikan dengan masa percobaan pada bulan Desember tahun 2018. Dengan adanya Jembatan Penyeberangan Multiguna, menjadikannya sebagai kawasan perdagangan baru pada kawasan pasar Tanah Abang yang terhubung langsung dengan beberapa moda Transportasi dan juga kawasan pasar Tanah Abang lainnya. Namun kawasan Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang ini masih memiliki kekurangan pada segi pengelolaannya, terutama pada ketesediaan fasilitas seperti toilet, tempat duduk dan juga charging booth serta pada segi kebersihan dan keamanannya. Penulis melakukan beberapa analisis seperti analisis kebijkana, analisis lokasi, analisis tapak, analisis best practies serta analisis presepsi dan preferensi pengunjung sehingga menghasilkan usulan dan rencana evaluasi pengelolaan pada kawasan Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang.
FASILITAS TRANSIT RAWA BUAYA
Cindy Herlim Santosa;
Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6841
Jakarta is the second most populous city in the world with a population density of 10 million people in 2017. Density causes rapid development in the Jakarta area without any planning. The development that occurs makes the boundaries between office zoning located in the downtown area and residential zones located on the edge of the city. The zones formed have resulted in increased mobility that can be seen from vehicle ownership, transportation modes, and traffic congestion in Jakarta. Charles Montgomery in the book Happy City said that high congestion causes a decline in health that occurs due to stress for the community of public transportation modes. One way to reduce stress is to socialize according to Adhiatma and Christianto (2019). Third Place or social space becomes a solution for socializing for the public transportation community. The Third Place concept can be felt more by the public transportation community, where they can feel the difference between the housing zone and the office zone. The transit or transit place that is formed will be a social space that is used without differentiating social status. One of them is the transit facility located in Rawa Buaya. The Rawa Buaya transit facility is designed using qualitative data collection techniques and cross programming in design planning. The method used produces three main programs that emphasize service, entertainment and commercial functions, which shape social interaction, gathering space, and space for interaction between Rawa Buaya bus terminal communities. AbstrakJakarta merupakan kota kedua terpadat di dunia dengan kepadatan penduduk mencapai 10 juta jiwa pada tahun 2017. Kepadatan menimbulkan perkembangan yang cepat di wilayah Jakarta tanpa adanya perencanaan. Perkembangan yang terjadi membuat batasan antar zonasi perkantoran yang berada di daerah pusat kota dan zona hunian yang berada di pinggir kota. Zona yang terbentuk mengakibatkan peningkatan pergerakan mobilitas yang dapat dilihat dari kepemilikan kendaraan, pengguna moda transportasi, dan kemacetan yang terjadi di Jakarta. Charles Montgomery dalam buku Happy City mengatakan mengenai kemacetan yang tinggi menimbulkan penurunan kesehatan yang terjadi akibat stress bagi kaum komunitas moda transportasi umum. Salah satu cara mengurangi stress adalah dengan bersosialisasi menurut Adhiatma dan Christianto (2019). Third Place atau ruang sosial menjadi solusi untuk bersosialisasi bagi komunitas transportasi umum. Konsep Third Place dapat lebih dirasakan oleh komunitas transportasi umum, dimana mereka dapat merasakan perbedaan zona perumahan dengan zona perkantoran. Tempat transit atau tempat singgah yang terbentuk akan menjadi ruang sosial yang digunakan tanpa membedakan status sosial. Salah satunya fasilitas transit yang berada di Rawa Buaya. Fasilitas transit Rawa Buaya dirancang dengan menggunakan teknik pengumulan data kualitatif dan cross-programming dalam perencanaan perancangan. Metode yang digunakan menghasilkan tiga program utama yang menekankan pada fungsi pelayanan, hiburan, dan komersil, yang membentuk interaksi sosial, ruang berkumpul, dan ruang untuk berinteraksi antar komunitas terminal bus Rawa Buaya.
PENGEMBANGAN PERUMAHAN SUBSIDI UNTUK PEKERJA INDUSTRI DI KARAWANG
Hubert Winata;
Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7272
Housing has always been a necessity in the lives of modern man. Anyone who was already working needs to own at least some form of housing. Development of a city plays a part in determining the prices of the housing sold whereas in the central and business district houses can be very expensive, the one’s at the outskirt of the town can be cheaper or it can be which will be shown in this research. The government concerned offered developers a project which is known as Subsidized Housing, a house which is cheap with lots of benefits to encourage low income buyers. The industrial sector is known for its High Workforce which implies that a lot of manpower is involved, this creates ample market opportunities. Why don’t we see a lot of subsidized housing? This concerns the fact that not all houses built for this manner yields enough profit to entice developers to actually build them. Thus the research for counting the actual benefit must be done in order to convince developers that there is an acceptable return to be gained when developing Subsidized Housing. The analysis conducted in this research include location analysis, site analysis, legality analysis, comparative object study analysis, preference analysis and financial analysis. The analytical tool used is the analysis of proximity, Discounted Cashflow, Sensitivity Analysis, descriptive and quantitative. The results of this study are the amount of returns obtained by the developer in n years, the length of the return and the percentage of profits. Keywords: building material; developer’s profit; industrial district; subsidized housing ABSTRAKRumah sudah menjadi sesuatu yang wajar dimiliki oleh masyarakat di berbagai kalangan, rumah tidak hanya berperan dalam memberikan perlindungan terhadap cuaca tetapi juga sebagai tempat untuk keluarga berkumpul dan menikmati waktu bersama dengan keluarga maupun orang lain. Tentu tidak semua orang bisa memiliki rumah dengan berbagai alasan, oleh sebab itu pemerintah melakukan intervensi dalam bentuk penyediaan subsidi. Namun mengapa tidak banyak perumahan subsidi dikarenakan pihak pengembang hanya melihat secara singkat seberapa besar pengembalian yang didapat pengembang tingkat pengembalian tersebut yang menentukan apakah pengembang mau atau tidak mengembangkan perumahan subsidi. Dengan pertanyaan tersebut dilakukanlah penelitian pengembangan perumahan perumahan subsidi untuk menunjukkan tingakt keuntungan yang akan didapatkan seorang pengembang beserta lamanya pengembalian modal. Analisis yang dilakukan yakni analisis lokasi, analisis tapak, analisis legalitan, analisis objek studi banding, analisis preferensi dan analisis keuangan. Alat analisis yang digunakan adalah analisis proximitas, Discounted Cashflow, Sensitivity Analysis, deskriptif dan kuatitatif. Hasil dari penelitian ini adalah besarnya pengembalian yang didapatkan pengembang pada tahun n, lama pengembaliannya dan persentase keuntungannya.
WADAH KOMUNITAS AGRIKULTUR DI KEBAYORAN LAMA
Maria Magdalena Venny Florentina;
Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6842
Food is the most basic human need. Based on data from the United Nations, the population on earth in 2050 is estimated to reach 9.1 billion people, so the world must produce 70% more food than today to provide food for all human on earth. If this food availability cannot be fulfilled, a food crisis will occur. With the concept of the program 'Urban Farming' that will help the problem of food and can also become a community for social interaction activities of its citizens. The Agricultural Community Space Project in Kebayoran Lama is a facility that combines community, educational and commercial functions of public space. This project utilizes the context of the region which is famous for its green areas and is analyzed through the 'Urban Analysis' method which is used to study the condition of the area around the site so that there are important points that form an architectural form. The program in this building focuses on how residents around the area can produce their own food starting from the small steps of growing daily foods such as vegetables and fruits. This project helps local residents to increase food supply for the region and also educates citizens to live healthy and productive lives. By utilizing green concepts in buildings such as green facades, green roofs, rain gardens, zero run-offs, etc. this project will achieve the concept of sustainable buildings so that it helps cities to become healthier cities. Abstrak Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Berdasarkan data dari PBB, populasi di bumi pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 9,1 milyar jiwa, sehingga dunia harus memproduksi 70% makanan lebih banyak dibandingkan dengan hari ini untuk menyediakan makanan bagi seluruh jiwa yang ada di bumi. Apabila kesediaan pangan ini tidak dapat terpenuhi, maka akan terjadi krisis pangan. Dengan adanya konsep program ‘Urban Farming’ atau pertanian kota inilah yang akan membantu permasalahan pangan dan juga dapat menjadi suatu wadah sosial untuk kegiatan interaksi sosial warganya. Proyek Wadah Komunitas Agrikultur yang berada di Kebayoran Lama ini merupakan fasilitas yang menggabungkan fungsi ruang publik berbasis komunitas, edukasi dan juga komersil. Proyek ini memanfaatkan konteks kawasan yang terkenal dengan kawasan hijaunya dan di analisa melalui metode ‘Urban Analysis’ yang digunakan untuk mempelajari keadaan kawasan di sekitar tapak sehingga terdapat point-point penting yang membentuk suatu wujud arsitektur. Program pada bangunan ini mengutamakan tentang bagaimana warga di sekitar kawasan dapat memproduksi makanannya sendiri mulai dari langkah kecil yaitu menanam makanan sehari-hari seperti sayuran dan juga buah-buahan. Proyek ini membantu warga sekitar agar menambah pasokan pangan bagi kawasan dan juga mengedukasi warganya untuk hidup sehat sekaligus produktif. Dengan memanfaatkan konsep hijau pada bangunan seperti green facade, green roof, rain garden, zero run-off, dll proyek ini akan mencapai konsep bangunan berkelanjutan sehingga membantu kota agar menjadi kota yang lebih sehat.
RUANG KREATIF KRAMAT
Bella Octavia Darmawan;
Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6864
Urban life is synonymous with routine and high activity in which competition between individual communities continues to increase. The routine and busyness that continues to accumulate by each individual approves fatigue and demands less productive work / study. The third place is present to balance the lives of people outside the home and work place. That way, third place is needed in the big city area which is also adjusted to the needs of the community. This project supports the balance of life in the communities around the Kramat village, Senen with programs that suit their needs. The program that emerges according to the Kramat region is a creative space because the local residents who have a profession as ondel - ondel craftsmen but do not have a place to channel these talents.The design method includes data collection techniques through observation and interviews with the results applied to the transformation design method. Kramat Creative Place in Senen is the third place planned to serve the needs of the surrounding community in the social and creativity fields in order to address the issue of urban life due to daily busyness. This project provides several facilities that facilitate community activities in education, eating places, and meeting / socializing places. This project is planned so that all groups of people, especially in the Kramat district can use it so that it is not only a place to release fatigue but also a place to interact with each other to establish stronger relationships in the community so that it can be useful for the future. The community has also become aware of the impact of natural damage, so this project will be designed environmentally friendly. AbstrakKehidupan perkotaan identik dengan rutinitas dan kesibukan tinggi dimana persaingan antar individu masyarakat terus meningkat. Rutinitas dan kesibukan yang terus terakumulasi oleh setiap individu memicu kepenatan dan mengakibatkan sikap kerja/belajar yang kurang produktif. Third place hadir untuk menyeimbangkan kehidupan masayarakat diluar rumah dan tempat kerja. Dengan begitu, third place diperlukan dalam kawasan kota besar yang disesuaikan pula dengan kebutuhan masyarakatnya. Proyek ini mendukung keseimbangan hidup masyarakat di sekitar kelurahan Kramat, Senen dengan program – program yang sesuai kebutuhan. Program yang muncul sesuai kawasan Kramat yaitu ruang kreatif karena warga sekitar yang telah menjalani profesi sebagai pengrajin ondel – ondel namun tidak tersedianya wadah untuk menyalurkan bakat tersebut. Metode perancangan meliputi teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan hasil yang diaplikasikan ke dalam metode perancangan tarnsformasi. Ruang Kreatif Kramat di kawasan Senen ini merupakan third place yang direncanakan untuk melayani kebutuhan masyarakat sekitar dalam bidang sosial dan kreativitas guna menjawab isu kehidupan perkotaan karena kesibukan sehari-hari. Proyek ini menyediakan beberapa fasilitas yang mewadahi kegiatan masyarakat pada pendidikan, tempat makan, dan tempat berkumpul/bersosialisasi. Proyek ini direncanakan agar semua golongan masyarakat terutama di kelurahan Kramat dapat menggunakannya sehingga bukan hanya sebagai tempat pelepas penat namun juga tempat untuk saling berinteraksi agar terjalin hubungan yang lebih kuat dalam masyarakat sehingga bisa berguna bagi kedepannya. Masyarakat pun telah menyadari dampak kerusakan alam maka proyek ini akan dirancang ramah lingkungan.
SENAYAN WATERLAKE SPORT ISLAND
Felicia Lim;
Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6779
Based on the results of the Basic Health Reset in 2018, health problems in Indonesia are divided into two types namely infectious and non-communicable diseases. Infectious diseases have experienced many significant decreases whereas for non-communicable diseases it is still experiencing an increase. Many ways you can do to keep the body healthy from disease. Applying a healthy lifestyle for physical health, spiritual calm is also needed for the mental health of the community, especially for areas that have high density and mobility like in Jakarta. It is undeniable that these factors are often the main triggers of mental health problems in today's society. Waterlake Sport is a type of physical sport related to water, especially lakes. Senayan Waterlake Sport Island is located near Gelora Bung Karno (GBK), the largest sports center in Jakarta and even in Indonesia which provides more than 18 types of sports in it. The design method used is pattern language by examining the physical patterns around the site and creating new patterns by linking the resulting building programs. Besides water sports as the main program, there are also other main programs, namely Healthy Culinary and Floating Market. Both of these programs aim to provide a dining area with a healthy concept as well as education for people who still think that a healthy eating pattern is defined as something boring and unpleasant that being healthy does not have to suffer. AbstrakBerdasarkan hasil Reset Kesehatan Dasar tahun 2018, masalah kesehatan di Indonesia dibagi menjadi dua macam yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular sudah mengalami banyak penurunan yang cukup signifikan sedangkan untuk penyakit tidak menular justru masih mengalami kenaikan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjaga tubuh tetap sehat terhindar dari penyakit. Menerapkan pola hidup yang Sehat untuk kesehatan jasmani, ketenangan rohani juga dibutuhkan untuk kesehatan mental para masyarakat khususnya untuk daerah yang memiliki kepadatan serta mobilitas tinggi seperti di Jakarta ini. Waterlake Sport adalah jenis olahraga fisik yang berhubungan dengan air khususnya danau. Island sendiri berarti pulau. Senayan Waterlake Sport Island berlokasi di dekat Gelora Bung Karno (GBK), pusat olahraga terbesar di Jakarta bahkan di Indonesia yang menyediakan lebih dari 18 jenis olahraga di dalamny. Metode perancangan yang digunakan adalah pattern language dengan mengkaji pola fisik di sekitar tapak dan membuat pola baru dengan mengaitkan program bangunan yang dihasilkan. Island yang berarti sebuah pulau merupakan tempat dari area Waterlake Sport itu sendiri. Selain olahraga air sebagai program utama, ada juga program utama lainnya yaitu Kuliner Sehat dan Pasar Apung. Kuliner sehat yang dimaksud adalah Kedua program ini bertujuan menyediakan suatu area tempat makan dengan konsep sehat sekaligus sebagai edukasi untuk masyarakat yang masih menganggap bahwa pola makan sehat diartikan dengan sesuatu yang membosankan dan tidak enak bahwa menjadi sehat tidak haruslah menderita.
RUANG SENI DAN KULINER JALANAN DI SENEN
Andrean Hermanto;
Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6759
As Urbanization blooms, related problems, especially those that affect community relations, become a 'hot topic' in developing projects based on 'Third Place'. The erosion of the community and its community often with the development of urbanization identified as Social Segregation becomes an interesting problem to be discussed by sociologists. The focus of the issue raised in this project is "How to create a Third Place in Senen area." The location of the project is in the Senen, precisely on Jl. Stasiun Senen, Jakarta Pusat which is one of the popular shopping centers in Jakarta. The site was located between commercial centers, housing, and transportation facilities with high pedestrian mobility. The purpose of this project is to create a "Third Place" which is a link between homes and offices where residents of Senen can come and spend their free time, and provide the facilities needed by the city, especially around the project site as a link between public transportation modes (Senen terminal and Senen station) with regional facilities and restore the image of the senen area which is an area that is thick with arts and food. The research methodology carried out in this project began by finding the facilities / programs needed by the community around the site, which also aims to resolve problems in the area. then proceed with identifying, and bringing back / restoring the characteristics that lost in this area (in this case, art), then proceed with the process of designing a facility that will produce the area and organization of space in this project. Abstrak Seiring berkembangnya Urbanisasi, masalah yang terkait, khususnya yang berdampak pada hubungan masyarakat, menjadi 'topik hangat' dalam pengembangan proyek berbasis “Third Place”. Tergerusnya komunitas dan wadahnya sering dengan perkembangan urbanisasi yang diidentifikasi sebagai Segregasi Sosial menjadi sebuah masalah yang menarik untuk dibahas oleh para sosiolog. Fokus isu yang diangkat dalam proyek ini adalah “Bagaimana menciptakan “Third Place” di kawasan Senen’. Lokasi proyek berada di Kawasan Senen tepatnya di Jl. Stasiun Senen, Jakarta Pusat yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan di jakarta. Lokasi tapak berada di antara pusat komersil, perumahan, dan sarana transportasi dengan mobilitas pedestrian yang tinggi. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah “Third Place” yang menjadi penghubung diantara rumah dan kantor dimana warga Senen dapat datang dan menghabiskan waktu luang mereka, serta memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh kota, terutama disekitar tapak proyek sebagai penghubung antara moda transportasi publik (terminal dan stasiun) dengan fasilitas kawasan serta mengembalikan citra kawasan senen yang merupakan daerah yang kental dengan kesenian dan makanan. Metode penelitian yang dilakukan dalam proyek ini dimulai dengan menemukan fasilitas / program yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar tapak,yang juga bertujuan untuk menyelesaikan masalah dari kawasan tersebut. kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi, danmemunculkan kembali / merestorasi ciri khas kawasan yang hilang (dalam kasus ini adalah kesenian), lalu dilanjutkan dengan proses mendesain fasilitas yang akan menghasilkan besaran dan organisasi ruang dalam proyek ini.