cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
RUANG PERTUKARAN IDE DI BANDUNG WETAN Muhammad Ricky Siswanto; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6848

Abstract

Bandung Wetan is known to have many distros and clothing stores which indirectly give birth to many designers or clothes makers, with many designers or clothes makers who need a place where they can look for ideas and exchange ideas, therefore many cafes or restaurants are built. can search for ideas or exchange ideas. Although there are a variety of cafes and restaurants available in the Bandung area, most of the cafes and restaurants require expenses by visitors, which makes it inaccessible to all members of the community or visitors from outside the city itself, in connection with this need a place where clothing makers, designers and communities can gather or exchange ideas no matter their age and economy, they can gather and talk without social gaps. This third place will help the development of the needs of the city community and also the city's economy in the next few years, by increasing the creativity generated by the many places where they can look for inspiration and ideas. The people of the Bandung Wetan area, especially the Cihapit Village will increase the quality of work, study, and products produced by the community. Third place or third place is one of the answers to the approach of urban development itself in an effort to increase the value of an area caused by changes in functions and changes in the pattern of urban space itself. AbstrakBandung wetan dikenal memiliki banyak distro dan toko baju yang secara tidak langsung melahirkan banyak desainer ataupun pembuat baju, dengan banyaknya desainer atau pembuat baju yang membutuhkan tempat dimana mereka dapat mencari ide-ide dan bertukar pikiran, oleh karena itu terbangun banyak kafe ataupun restoran dimana mereka dapat mencari ide ataupun bertukar pikiran. Walaupun terdapat berbagai macam kafe dan restoran yang tersedia di wilayah bandung,  sebagian banyak dari kafe dan restoran itu memerlukan pengeluaran biaya oleh pengunjung, yang menjadikannya tidak dapat di akses oleh semua kalangan masyarakat ataupun pengunjung dari luar kota itu sendiri, sehubungan dengan hal itu diperlukannya tempat dimana pembuat baju, desainer dan mesyarakat dapat berkumpul ataupun bertukar pikiran tidak peduli umur dan ekonomi mereka, mereka dapat berkumpul dan berbincang tanpa adanya kesenjangan sosial. Third place ini akan membantu pembangunan kebutuhan masyarakat kota dan juga ekonomi kota dalam beberapa tahun kedepan, dengan menaikan ke-kreatifitas yang di hasilkan karena banyaknya tempat dimana meraka dapat mencari inspirasi dan ide-ide. Masyarakat wilayah Bandung Wetan, khususnya Kelurahan Cihapit akan menaikan kualitas kerja, belajar, maupun produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat. Third place atau tempat ketiga adalah salah satu jawaban pendekatan penembangan perkotaan itu sendiri dalam upaya meningkatkan nilai suatu kawasan  yang di akibatkan oleh perubahan fungsi dan perubahan pola ruang kota itu sendiri.
RUANG PEMBELAJARAN KREATIVITAS DI BSD Natasha Liunardi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6831

Abstract

Daily activities of the community are only carried out between home with college or school and workplace. This can trigger fatigue because burdens of thought and workload, and there is no activities separated from their daily lives and elimintas the social sence between the communities because they’re busy with their activities.  Third place is a neutral public space to accommodate the need for release work or school burdens and to socialize, interacting, and to share their views among community without looking at the difference in background. BSD creative learning space is a third place with an educational recreation forum and can be the answer to these problems. Equipped with play, study, gathering, and leisure who still related to main program being intended for the community around of all without age restrictions. This project has theme of art creativity as a result of answering the problems in BSD, South Tangerang and those are close to third place. The method that used in designing third place is spatial archetype grid has the same characteristics as third place such as openness, not bound, and neutral. This method is a part of the concept of design in creating third place by taking into account the relationship between space and programs are intertwined with each other.AbstrakKegiatan masyarakat sehari-hari hanya dilakukan antara rumah dengan sekolah atau kampus dan tempat kerja. Hal tersebut dapat memicu penat akibat beban kerja, beban pikiran, dan kurangnya aktivitas terlepas dari kesehariannya serta rasa sosial antar sesama karena sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tempat ketiga adalah sebuah ruang publik yang netral untuk mewadahi kebutuhan dalam melepas beban kerja atau sekolah, dan bersosialisasi, berinteraksi, bertukar pikiran antar sesama masyarakat tanpa memandang adanya perbedaan latar belakang. Ruang pembelajaran kreativitas di BSD adalah sebuah ruang ketiga yang merupakan wadah edukasi - rekreasi berbasis seni dan dapat menjadi jawaban permasalahan tersebut. Dengan dilengkapi sarana bermain, belajar, berkumpul, dan bersantai yang masih berkaitan dengan program utama, tempat ini ditujukan bagi masyarakat sekitar dari seluruh kalangan tanpa adanya batasan umur. Proyek ini bertemakan kreativitas seni yang didapat dari jawaban permasalahan kawasan terpilih yaitu BSD, Tangerang Selatan serta hubungannya dengan tempat ketiga yang cukup erat. Metode yang digunakan dalam merancang tempat ketiga ini adalah spatial archetype grid yang memiliki sifat yang sama dengan karakteristik tempat ketiga yaitu terbuka dan tidak terikat serta netral. Metode ini merupakan bagian dalam konsep perancangan dalam menciptakan tempat ketiga dengan memperhatikan hubungan antar ruang dan program yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
WADAH INTERAKSI SOSIAL Yonathan Yoel Mulyadi; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6776

Abstract

People always engage in mutual relations and influence with other human beings in order to fulfill their needs and sustain their lives. The reaction action is a form of interaction created by humans, because humans are social beings who cannot live without the help of others. The purpose of this research is to know the pattern of communication built by the community and to know the process of social integration. The process of collecting data using the observation method conducted within 5 days in the study site area, and the interview method is conducted to obtain more accurate data in reviewing community development. Based on the results of the research, the pattern of interaction built by the community in Kramat is less good, because the whole community activities are done in the Office, school or other workplace. There is a social community that is engaged in the art of craft, but there are less people in the field because of limited time and location is less strategic, but also because it is commercial there are some people who lack It. Intersocial learning and network development in Kramat is a social facility that can be accessed by the whole community without seeing the social status. The facilities provided are the result of the interview data with the surrounding community as the basis for creating this project. Social containers are a facility provided to the community without charging a fee in certain provisions for the Community can be recreation and brainstorm and also knowledge in certain areas.AbstrakManusia senantiasa melakukan hubungan dan pengaruh timbal balik dengan manusia yang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Adanya aksi reaksi merupakn sebuah bentuk interaksi yang diciptakan oleh manusia, karena manusia merupakan mahkluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola komunikasi yang dibangun oleh para masyarakat dan untuk mengetahui proses integrasi sosial yang dilakukan. Proses pengumpulan data menggunakan metode observasi yang dilakukan dalam jangka waktu 5 hari di area tapak studi, selain itu juga metode wawancara dilakukan untuk memperoleh data yang lebih akurat dalam meninjau perkembangan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, pola interaksi yang dibangun oleh masyarakat di Kramat tergolong kurang baik, karena hampir seluruh aktivitas masyarakat dilakukan di kantor, sekolah maupun tempat bekerja lainnya. Terdapat komunitas sosial yang bergerak dalam bidang seni kriya akan tetapi maksyarakat sekitar kurang meminatinya karena keterbatasan waktu dan juga lokasi yang kurang strategis, selain itu juga karena bersifat komersial ada beberapa masyarakat yang kurang meminatinya. Wadah belajar dan interaksi sosial sebagai pengembangan jaringan di kramat merupakan fasilitas sosial yang dapat diakses oleh seluruh kalangan masyarakat tanpa melihat status sosialnya. Fasilitas yang disediakan merupakan hasil dari data wawancara dengan masyarakat sekitar sebagai dasar dalam menciptakan proyek ini. Wadah sosial merupakan sebuah fasilitas yang diberikan kepada masyarakat tanpa memungut biaya dalam ketentuan tertentu untuk masyarakat dapat berekreasi serta bertukar pikiran dan juga ilmu dalam bidang – bidang tertentu.
RUANG INTERAKTIF DI MERUYA UTARA Ursula Andrea
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6859

Abstract

Third place is a neutral place, and simple (unpretentious). This place must be playful or fun for anyone, so that when leaving the third place, people come out happily. This place has no rules at home or work. Third place is also a place where people gather, and have the same status. Also in this project the third place comes as a form of open architecture that is friendly to the environment and makes the city better. The main activity of this project is the interaction with the programs offered, the activity itself and with fellow visitors. The focus of the third place is shown on the impact of "The Solidarity Economy" or according to Ethan Miller of the Grassroots Economic Organizing Collective in Australia, The "solidarity economy", is an invitation to reach a broad scope of the workings of an economy based on sharing. This system makes it easy for people to be able to access facilities without having something that will create interaction between visitors and visitors. This happened because the project was designed to form communal activities. The communal activities that occur are playful activities. Like, misbar space, café boardgame and also sports space that is not competitive. Like the criteria contained in the third place theory which has playful criteria. The rooms that are formed are designed and planned so that each visitor can interact with other visitors and with existing programs.Abstrak Third place adalah tempat netral, dan sederhana (unpretentious). Tempat ini haruslah playful atau menyenangkan bagi siapapun, sehingga ketika meninggalkan third place, orang keluar dengan bahagia. Tempat ini tidak memiliki aturan yang ada di rumah maupun tempat kerja. Third place juga merupakan tempat masyarakat berkumpul, dan memiliki status yang sama. Selain itu dalam proyek ini third place hadir sebagai bentuk dari open architecture yang bersahabat dengan lingkungannya dan membuat kota menjadi lebih baik. Aktifitas utama dari proyek ini adalah interaksi dengan program yang ditawarkan, aktifitas itu sendiri maupun dengan sesama pengunjung. Fokus third place ditunjukan pada dampak dari “The Solidarity Economy” atau ekonomi solidaritas yang menurut Ethan Miller dari Grassroots Economic Organizing Collective di Australia, The “solidarity economy”, adalah sebuah undangan untuk menjangkau lingkupan yang luas mengenai cara kerja ekonomi yang berlandaskan berbagi.  Sistem ini memudahkan masyarakat untuk dapat mengakses fasilitas tanpa memiliki sesuatu yang akan menciptakan interaksi antara pengunjung dengan pengunjung. Hal ini terjadi karena proyek ini dirancang untuk membentuk aktifitas komunal. Adapun aktifitas komunal yang terjadi adalah aktifitas yang bersifat playful. Seperti, ruang misbar, café boardgame dan juga ruang olahraga yang bersifat tidak kompetitif. Seperti sebagaimana kriteria yang terdapat pada teori third place yang memiliki kriteria playful. Ruangan-ruangan yang terbentuk dirancang dan direncanakan agar setiap pengunjung bisa berinteraksi dengan pengunjung lain maupun dengan program yang sudah ada.
TEMPAT SINGGAH DUKUH ATAS STEPOVER PLACE Marseno Sanjaya; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6736

Abstract

Based on data from PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) the number of KRL passengers throughout 2017 reached 315.8 million passengers, up 12.55% from the previous year and will experience an increase every year. With this amount it is known that commuting has also increased. Areas that have easy access to public and strategic transportation are in the center of Jakarta's business district, Dukuh Atas. Hamlet above is also an area with a large commuter population. Every day commuters in Indonesia spend 2-third of their time just waiting and there is repetition. this causes things such as the individual's lack of attention to health, social world and also a high level of stress. Therefore, with the increasing number of passengers and the appropriate area a third place can be created which is a place between the first place and second place that drives humans to build community, equality, and also routines in terms of something positive. For that, we need a place to stop in order to increase productivity and also eliminate the saturation that arises due to repetition that occurs. Then a place was built that had programs such as a bed, a place to chat and also a green room. This building also had room for ticket information that was integrated directly with the Upper Hamlet Station which facilitated access and information accordingly such as departure hours and also when trains arrived.Abstrak Berdasarkan data PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) jumlah penumpang KRL sepanjang 2017 mencapai 315,8 juta penumpang naik 12,55% dari sebelumnya dan akan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dengan jumlah ini maka diketahui bahwa komuter juga mengalami peningkatan. Daerah yang memiliki akses yang mudah untuk transportasi umum dan strategis berada di pusat bisnis Jakarta yaitu Dukuh Atas. Dukuh atas juga merupakan daerah dengan penduduk commuter yang besar. Setiap hari kaum komuter di Indonesia menghabiskan 2 per 3  dari waktunya hanya untuk menunggu dan ada pengulangan yang terjadi. hal ini menyebabkan hal seperti ketidakperhatian individu terhadap kesehatan, dunia sosial dan juga tingkat stress yang tinggi .Oleh karena itu, dengan adanya jumlah penumpang yang terus meningkat dan kawasan yang sesuai dapat diciptakannya third place yaitu suatu tempat di antara first place dan second place yang mendorong manusia untuk membangun komunitas,kesetaraan,dan juga rutinitas dalam hal yang bersifat positif.Untuk itu, diperlukan sebuah tempat untuk singgah agar dapat meningkatkan produktivitas dan juga menghilangkan rasa jenuh yang timbul akibat pengulangan yang terjadi. Maka itu dibangunlah sebuah tempat yang memiliki program seperti tempat tidur, tempat untuk bercengkrama dan juga ruang hijau.Bangunan ini juga mempunyai ruang untuk informasi tiket yang berintegrasi langsung dengan Stasiun Dukuh Atas yang mempermudah akses dan informasi yang sesuai seperti jam keberangkatan dan juga waktu kereta datang.
MAKNA AMBATIK – PALMERAH Indra Lesmana; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6845

Abstract

The existence of an open space, is truly important to nowadays urban society. Because basically, community of a city has been bounded to open spaces around that city. The need of a thirdplace in a city, now, is way more than just a regular, it became a lifestyle. This thirdplace phenomena give impacts to the usage of outdoor spaces in the city which used to be indoor spaces, now became outdoor ones (public areas). What used to be a mall and a café that are favorites, now turning into outdoor spaces such as parks, streets (pedestrians), public spaces for children, recreation areas, and so on. Jakarta, especially in Palmerah, open spaces are very rarely  found. In the other side, Palmerah used to be known for its batik, but now it’s already all  gone. Batik as the main program that supports this thirdplace is expected to be able to accommodate the work or activities of local residents. Hold on to Ray Oldenburg’s theory about the third place criteria, batik in this design is intended as a medium for local residents to meet, greet, and interact. With this, batik media is able to accommodate the need of a thirdplace itself. However  still, open spaces in this design has the largest percentage as public spaces for local residents to do some activities and interactions. Batik phases are realized in creating existing spaces; starting from seeing, then feeling, and finally doing. Batik produced by locals can be resold and later become their income. Plots of spaces, materials, wall tears, and batik carvings are also highlighted in this building to create characteristic of this Ambatik building. With Ambatik, all ages, all genders, all types of ethnicity, culture, and race, can be united without any difference.AbstrakKeberadaan ruang luar sangatlah penting bagi masyarakat kota saat ini. Pada dasarnya, masyarakat memiliki keterikatan pada ruang-ruang terbuka kota. Sekarang, Kebutuhan tempat ketiga di dalam suatu kota sudah lebih dari sekedar kebutuhan biasa, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Fenomena tempat ketiga berdampak pada penggunaan ruang luar yang pada awalnya dari penggunaan ruang dalam, mulai beralih ke ruang luar (ruang publik). Yang semula mall dan kafe menjadi ruang favorit, sekarang beralih ke ruang luar publik seperti taman, jalan (pedestrian), RPTRA, tempat rekreasi dan sebagainya. Di Jakarta, tepatnya di Palmerah, ruang-ruang terbuka bagi warga sekitar sangatlah jarang ditemui. Di satu sisi, Palmerah yang dalam sejarah dikenal oleh batiknya, sekarang sudah menghilang. Ambatik hadir untuk menunjang tempat ketiga di kawasan Palmerah, yang diharapkan mampu mewadahi kegiatan ataupun aktivitas dari warga sekitar, sekaligus menghidupkan kembali identitas batik di Palmerah. Dengan teori Ray Oldenburg mengenai kriteria sebuah tempat ketiga, batik dalam rancangan ini dimaksudkan sebagai media bagi warga sekitar untuk bertemu, bersapa dan berinteraksi. Ruang-ruang terbuka dalam rancangan ini juga berguna sebagai ruang publik bagi warga sekitar untuk beraktivitas, berinteraksi untuk melakukan kegiatan seni dan budaya. Fase-fase batik juga diwujudkan dalam menciptakan ruang-ruang yang ada, mulai dari melihat, kemudian merasakan, dan melakukan. Dengan hadirnya Ambatik, diharap mampu meningkatkan relasi antar warga, pemahaman baru tentang batik, dan kesadaran akan tradisi. 
WADAH PERTUKARAN PENGALAMAN RUANG DI MENTENG Muhammad Yumna Helmy; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6900

Abstract

The urban life is not separated from the saturation of the daily routine and activities, which causes the level of stress ratio in major cities such as Jakarta is quite high. During the demands and routine of life, many people looking for entertainment or recreation to take off the fatigue of daily activities. The role of interaction room for the people of Menteng is very important, in addition to the physical layout of the environment, the public space also bears the function and significance of social and cultural very high. However, the rapid growth of the city's demand for urban land demands increased. The privatization of land, either individually, as well as legal entities/institutions, has caused the existence of public space to be increasingly affected. Even in the crowded settlements of residents, people have no more public space adequate to host their activities. People no longer have a shared space to interact with each other, communication between citizens; children no longer have a place to play in the outside space, so that the culture of togetherness and tolerance is increasingly misguided. With the presence of this container during busy and the needs of the surrounding community, it is expected to increase the attitude of tolerance between the community and produce new activities that can increase the productivity and tolerance between the surrounding residents who have a wide impact on the region. Abstrak Kejenuhan akan rutinitas serta aktivitas harian yang serba padat mwarnai kehidupan di perkotaan, hal ini yang mengakibatkan tingkat rasio kemungkinan stress di kota-kota besar seperti Jakarta lumayan besar. Ditengah rutinitas hidup, banyak orang yang mencari hiburan maupun rekreasi untuk semata-mata melepas kepenatan dari aktivitas sehari-hari. Kedudukan ruang interaksi bagi warga Menteng sangat berarti, tidak hanya menyangkut tata ruang fisik lingkungan, ruang publik juga mengemban peranan dan arti sosial serta kultural yang sangat besar. Tetapi, perkembangan kota yang cepat mengakibatkan tuntutan kebutuhan lahan perkotaan kian bertambah. Privatisasi lahan baik secara individual ataupun badan hukum/lembaga telah menimbulkan eksistensi ruang publik kian terpinggirkan. Apalagi di permukiman-permukiman padat penghuni, warga sudah tidak mempunyai lagi ruang publik yang mencukupi untuk mewadahi aktivitas mereka. Penduduk tidak lagi mempunyai ruang bersama buat silih korelasi, komunikasi antar warga, anak-anak tidak lagi mempunyai tempat bermain yang nyaman di ruang luar, sehingga budaya kebersamaan serta toleransi terus menjadi terkikis. Dengan hadirnya wadah ini di tengah tengah kesibukan dan kebutuhan masyarakat sekitar, diharapkan dapat meningkatkan sikap toleransi antar masyarkat dan menghasilkan kegiatan kegiatan yang baru yang dapat meningkatkan produktivitas dan toleransi antar warga sekitar yang berdampak luas terhadap kawasan sekitar.
WADAH AKTIVITAS DAN KOMUNITAS PESISIR DI MUARA BARU Febi Claudia Lie; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6865

Abstract

Jakarta was developed started from the coastline and gradually moved to the centre of the city which left the coastal area remain untouch. The development of Jakarta which only oriented on capitalism cause in a lack of public space for the community, which make public coping with the issues independently. The roads in the housing area and villages was used by local residents as a space to socialize with neighbors or a place to do activities. There are still lots of kampung remained in Muara Baru which located in North Jakarta, but not facilitated by public space and open space to accommodate the citizen’s need to socialize and do their activity, so they carried out those activities in the middle of the road or alley which can disturb the traffic and endangered other people’s lives.  This phenomenon indicates that the community's need for public space is very high and needs to be anticipated immediately in order to avoid environmental and social degradation. The purpose of this project is to become a linkage that connect people with the surrounding environment, as well as humans with other humans, while this project also help the economy and home industry businesses, which bring in money to help the economy of local citizens, and cause positive interactions, such as knowledge exchange and development in economic aspects. AbstrakPembangunan kota Jakarta awalnya dimulai dari area pinggir laut yang kemudian semakin berkembang ke pusat kota, seiring berlangsungnya pembangunan di pusat kota, daerah pinggir/pesisir mulai ditinggalkan dan tidak tersentuh. Pengembangan kota Jakarta yang hanya berorientasi pada kepentingan kapitalis juga mengakibatkan kurangnya ruang publik bagi masyarakat, sehingga  mengakibatkan masyarakat mengatasinya secara mandiri. Jalan-jalan di dalam perumahan hingga perkampungan yang difungsikan oleh warga setempat sebagai ruang untuk bersosialisasi dengan tetangga atau tempat melakukan aktivitas. Kawasan Muara Baru yang terletak di wilayah pesisir Jakarta bagian Utara, masih terdapat banyak area perkampungan, tetapi tidak difasilitasi oleh ruang publik atau ruang terbuka sehingga untuk melakukan kegiatan berinteraksi dan beraktivitas, dilakukan di jalan/lorong kecil didepan rumah, yang dapat mengganggu lalu lintas dan juga membahayakan keselamatan warga dan juga pengguna jalan. Fenomena ini menandakan bahwa kebutuhan masyarakat akan ruang publik sangat tinggi dan perlu segera diantisipasi agar tidak terjadi degradasi lingkungan dan sosial, sehingga tujuan dari proyek ini adalah sebagai linkage yang menggabungkan manusia dengan lingkungan di sekitarnya, serta manusia dengan manusia lainnya, selain itu juga untuk membantu perekonomian dan usaha industri rumahan, yang dapat dilakukan serta menghasilkan uang untuk membantu perekonomian warga, serta menimbulkan interaksi positif, seperti pertukaran ilmu dan pembangunan aspek ekonomi, yang ke depannya akan menghasilkan kemajuan pada kota Jakarta dengan aspek sosial dan ekonomi yang seimbang.
WADAH AKTIVITAS DAN KOMUNITAS DI CENGKARENG, JAKARTA Angel Valencia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7028

Abstract

Cengkareng is a district with the highest number of migrants in Jakarta and with a dense population. Enabling new communities to come. The lack of facilities is facilitated for third place residents of Cengkareng so residents often spend free time to gather next to the cemetery. Mushollah is a gathering place for residents to worship or just spend time together .hird place for the city community functions as a space between the living space and work space. Third place helps urban people to be humanistic, open, dynamic and productive. Humans as social beings need social interaction in living life. With the existence of a community forum building and activities that function as a forum for social interaction for the people of Cengkareng, it can make the local residents get to know each other and know about the activities in Cengkareng. Then it can reduce the problems of individualism and vandalism that are in Cengkareng. The building design will be based on the three main functions of the building, namely social, recreational and education with the concept of the building placing the plaza as the main link connected with these functions. It is hoped that this building can be useful for the community to deal with a new sense of boredom, open up new perspectives and interact with new people. Abstrak Cengkareng merupakan kecamatan dengan jumlah pendatang tertinggi di Jakarta dan dengan jumlah penduduk yang padat. Memungkinkan adanya komunitas-komunitas baru yang akan hadir. Kurangnya terfasilitasi tempat third place bagi warga Cengkareng sehingga warga sering menghabiskan waktu luang untuk berkumpul di sebelah pemakaman. Mushollah menjadi tempat berkumpul warga untuk beribadah atau sekedar menghabiskan waktu bersama.Third place bagi masyarakat kota berfungsi sebagai ruang antara ruang yang tempat tinggal dan ruang tempat bekerja. Third place membantu masyarakat kota agar bersifat humanis, terbuka, dinamis dan produktif. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi sosial dalam menjalani kehidupan. Dengan adanya bangunan wadah komunitas dan aktivitas yang berfungsi sebagai wadah interaksi sosial bagi masyarakat Cengkareng dapat membuat warga sekitar untuk saling mengenal dan mengetahui mengenai kegiatan yang ada di Cengkareng. Kemudian dapat mengurangi adanya masalah individualisme dan vandalisme yang berada di Cengkareng. Desain bangunan akan berpacu pada tiga fungsi utama bangunan yaitu sosial, rekreasi dan edukasi dengan konsep bangunan meletakan plaza menjadi penghubung utama yang terkoneksi dengan fungsi-fungsi tersebut. Diharapkan bangunan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk kebaruan mengatasi rasa kebosanan, membuka sudut pandang perspektif baru dan dapat berinteraksi berkenalan dengan orang baru.
WADAH KREATIVITAS-BERBASIS-PLASTIK Putri Odelia; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6879

Abstract

Jakarta ranks as the highest as the city that produces the most waste after China. Jakarta produces around seven thousand tons of waste every day. However, only six thousand tons of garbage can be transported to the Bantar Gebang Final Disposal Site per day. Some of the waste that is not transported then piles up on empty land and waterways, such as rivers and streams. Plus the habits of people who are still less concerned about the environment by littering, including in rivers or streams, make this plastic waste pollution increasing. Waste that is not transported then flows to the sea. At the sea, neglected plastic rubbish will not be decomposed in a short time. This accumulation of garbage then disrupts the life of marine life. In the process of environmental improvement and maintenance, the role of the surrounding community is an important factor. The community must take part in living their daily lives, such as: reducing the use of disposable plastics, sorting out trash before disposal, recycling waste into new valuable objects, and so on. Therefore this building design aims as a means for the community to learn and participate in handling issues that occur in this region. Architectural building, as a place that accommodates community activities, uses the principles of plasticity as the basis for forming mass and space. Abstrak Jakarta menduduki peringkat tertinggi kedua sebagai kota yang menghasilkan sampah paling banyak. Kota Jakarta menghasilkan sekitar tujuh ribu ton sampah setiap harinya. Namun, hanya sebanyak enam ribu ton sampah yang dapat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang per hari. Sebagian sisa sampah yang tidak terangkut ini kemudian menumpuk pada lahan kosong dan jalur air, seperti sungai dan kali. Ditambah lagi kebiasaan masyarakat yang masih kurang peduli terhadap lingkungan dengan membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai atau kali, membuat pencemaran sampah plastik ini semakin meningkat. Sampah yang tidak terangkut ini kemudian mengalir sampai ke laut. Di laut, sampah plastik yang diabaikan, tidak akan teurai dalam waktu singkat. Penumpukan sampah ini kemudian mengganggu kehidupan biota laut. Dalam proses perbaikan dan pemeliharaan lingkungan, peran masyarakat di sekitarnya merupakan faktor penting. Masyarakat harus ambil bagian dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sebelum dibuang, mendaur ulang sampah menjadi benda baru yang bernilai, dan sebagainya. Oleh karena itu desain bangunan ini bertujuan sebagai sarana masyarakat untuk belajar dan ikut serta dalam penanganan isu yang terjadi di kawasan ini. Bangunan arsitektural, sebagai tempat yang mewadahi kegiatan masyarakat ini menggunakan prinsip-prinsip plastisitas sebagai dasar membentuk massa dan ruang.

Page 5 of 10 | Total Record : 99