cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
GOR GROGOL SEBAGAI RUANG KETIGA KOTA Gianto Purnomo; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6923

Abstract

Grogol sports center is a public facility provided by the government as a form of support for the government's concern for public health and as a place to score achievements in the field of sports. over time the GOR has unwittingly begun to be forgotten because of the declining function of the building. To revive the function of the Grogol multi sports center especially it can be utilized by the surrounding population there needs to be a new thought or concept. This sports center can be a place of social interaction for the surrounding population in addition to exercising this thought is based on the Grogol environment which is dominated by working-age population, college students and student groups. The need for open public spaces as a place of interaction for the community as well as attractive sports venues will be an attraction and a form of a new and healthy lifestyle for residents around the Grogol village. AbstrakGelanggang olahraga grogol merupakan fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah sebagai bentuk dukungan terhadap kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat dan sebagai tempat untuk mencetak prestasi di bidang olahraga. seiring berlalunya waktu tanpa disadari GOR sudah mulai dilupakan karena fungsi gedung yang sudah menurun. Untuk menghidupkan kembali fungsi GOR terutama dapat dimanfaatkan oleh penduduk disekitarnya perlu ada pemikiran atau konsep baru. GOR ini dapat dijadikan tempat interaksi sosial bagi penduduk disekitarnya selain untuk berolahraga pemikiran ini didasari dari lingkungan grogol yang didominasi oleh penduduk usia kerja, mahasiswa mahasiswi maupun golongan pelajar. Kebutuhan ruang publik yang  terbuka sebagai wadah berinteraksi bagi masyarakat serta tempat olahraga yang menarik akan menjadi daya tarik dan bentuk gaya hidup yang baru dan sehat bagi penduduk disekitar kelurahan Grogol.
NESTER - WADAH REKREASI DAN KEBUGARAN Jesslyn Sulaiman; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6756

Abstract

According to Ray Oldenburg Third Place, refers to the place where people spend time between home ('first place') and place of work ('second place'). One example of a third place is a recreation center. According to Daniel D. Mclean, recreation can include a very wide variety of activities, including sports. Sports recreation is a type of sport that is intentionally done for personal gain, for fun. Life in a big city, like Jakarta, which is full of activities and routines can cause boredom and mental stress on the community. Based on data from the International Labor Organization, total working hours in a week in Jakarta increased in 2016 with a total of 32 hours compared to total working hours in 2006 of 27 hours and based on research from the Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD), Indonesia was in position 3 with the country with the worst balance between work and life with a figure reaching 14.3%. According to a psychologist, Kartasasmita, M. Psi, work is the highest cause of stress on a person. With Jakarta's condition like that, needed a facility that can accommodate the recreational and fitness needs of the community in the form of Third Place. The aim of this project is to improve the quality of life of urban communities, in terms of physical and psychological health and fitness. The design method used is comparison which refers to the Place theory in Architecture according to Christian Norberg Schulz. The main programs offered in this project include a fitness area, sports studio, spa, sauna, hydrotherapy pool, jogging track, bicycle track, yoga & meditation park, and supporting areas such as sports retail and dining areas. AbstrakMenurut Ray Oldenburg tempat ketiga (Third Place), mengacu pada tempat di mana orang menghabiskan waktu antara rumah ('tempat pertama') dan tempat bekerja (tempat 'kedua'). Salah satu contoh tempat ketiga adalah pusat rekreasi. Menurut Daniel D. Mclean, rekreasi dapat mencakup berbagai kegiatan yang sangat luas, termasuk olahraga. Rekreasi olahraga merupakan jenis olahraga yang sengaja dilakukan untuk kepentingan pribadi, untuk bersenang-senang. Kehidupan di kota besar, seperti Jakarta yang penuh dengan aktivitas dan rutinitas dapat menimbulkan kejenuhan dan tekanan mental pada masyarakatnya. Berdasarkan data dari International Labour Organization, total jam kerja dalam seminggu di Jakarta meningkat pada tahun 2016 dengan total 32 jam dibandingkan dengan total jam kerja pada tahun 2006 yaitu 27 jam dan berdasarkan penelitian dari Organisation For Economic Co-Operation And Development (OECD), Indonesia berada di posisi 3 dengan negara yang paling buruk keseimbangan antara kerja dan kehidupan dengan angka mencapai 14,3%. Menurut seorang psikolog, Kartasasmita, M. Psi, pekerjaan merupakan penyebab stress tertinggi pada seseorang. Dengan kondisi Jakarta yang seperti itu, diperlukan sarana yang dapat mewadahi kebutuhan rekreasi dan kebugaran masyarakat berupa Third Place. Tujuan proyek ini untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan, dalam hal kesehatan dan kebugaran baik fisik maupun psikis tubuh. Metode desain yang digunakan yaitu komparasi yang mengacu kepada teori Place dalam Arsitektur menurut Christian Norberg Schulz. Program utama yang ditawarkan pada proyek ini terdapat area fitness, studio olahraga, spa, sauna, hydrotherapy pool, jogging track, bicycle track, yoga & meditation park, dan area penunjang seperti sport retail dan tempat makan. 
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN OBJEK WISATA PANTAI PANDAWA OLEH BUMDA KUTUH Ryan Andhikautami Oktadesia; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7292

Abstract

The location of this study is in Pandawa Beach, Kutuh Village, Kuta Selatan District, Badung Regency, Bali Province. Pandawa Beach which is carried out by a community-owned traditional village institution, BUMDA Kutuh. To get the success factors in managing Pandawa Beach tourism object by BUMDA Kutuh, it is done through analyzes. This analysis includes policy analysis from the Government and from the Customary Village related to the management of Pandawa Beach, analysis of the existing attraction that is owned by Pandawa Beach, analysis of the conditions of the management and assessment as well as satisfaction of visitors coming to Pandawa Beach, analysis of providers and local communities of management carried out at Pandawa Beach, analysis of the benchmarks of successful management based on community-based tourism, and analysis of the appropriateness of the factors of success management with community-based research related to research supported by Pandawa Beach attractions. To achieve these objectives, an analysis is carried out using analytical tools such as descriptive analysis, analysis diagram of the Cartesian analysis, and CSI. Pandawa Beach by BUMDA Kutuh is owned by Kutuh Customary Village. Keywords: benchmarks of success; community based tourism; success factors Abstrak Lokasi penelitian ini berada di Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari faktor – faktor keberhasilan dari pada pengelolaan objek wisata Pantai Pandawa yang dilakukan oleh lembaga Desa Adat milik masyarakat yaitu BUMDA Kutuh. Untuk mendapatkan faktor – faktor keberhasilan pengelolaan objek wisata Pantai Pandawa oleh BUMDA Kutuh dilakukan melalui analisis – analisis. Analisis tersebut antara lain analisis kebijakan dari Pemerintah maupun dari Desa Adat terkait pengelolaan Pantai Pandawa, analisis daya tarik eksisting yang dimiliki oleh Pantai Pandawa, analisis kondisi dari pada pengelolaan dan persepsi serta kepuasan dari sisi pengunjung yang datang ke Pantai Pandawa, analisis pengelola dan masyarakat lokal terhadap pengelolaan yang dilakukan di Pantai Pandawa, analisis tolok ukur keberhasilan pengelolaan berbasis community based tourism, dan analisis kesesuaian antara faktor - faktor keberhasilan pengelolaan dengan pariwisata berbasis masyarakat berdasarkan penelitian terdahulu dengan pengelolaan yang dimiliki oleh objek wisata Pantai Pandawa. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan beberapa analisis dengan menggunakan alat analisis seperti alat analisis deskriptif, alat analisis diagram kartesisus, dan CSI. Sehingga hasil dari analisis tersebut dapat digunakan untuk membuat rekomendasi faktor – faktor yang menentukan keberhasilan dari pengelolaan objek wisata Pantai Pandawa oleh BUMDA Kutuh milik Desa Adat Kutuh.
WADAH AKTIVITAS MASYARAKAT DI TANAH SEREAL Chantika Mayadewi; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6758

Abstract

As social beings, humans naturally need social interaction with others, but often do not have a proper place to support the interaction. Especially in densely populated settlements with limited open space such as in Tanah Sereal, Tambora District, West Jakarta, where community makes the streets and narrow alleys as a place to do various activities. On the other hand, modern times with increasingly evolving technology make society more inclusive and individual, so a facility is needed where residents can carry out joint activities outside the place of residence (first place) and work place (second place) reffered to as the third place that can answer various social needs and urban green spaces in densely populated areas. The method that is used in this study is the conventional method of analysis-synthesis which includes data collection (input), analysis (process), and synthesis (output). Data is obtained from grounded observations, interviews with local residents, literature studies, as well as regional mappings. The third place project in Tanah Sereal is titled Tanah Sereal Commuity Activity Space, which is intended to provide a place of activities for residents of dense settlements in having a shared activity space or a third place that is intergrated with green alley to address social and environmental problems in densely populated areas. The main program of the building is hydroponic planting areas (urban farming), equipped with foodcourt, play areas, teenage discussion areas, communal areas, seminar room, temporary event room, as well as community development program such as hydroponic workshop and garment workshop aimed at improving the skills, productivity, and standard of living of surrounding communities. AbstrakSebagai makhluk sosial, manusia tentunya membutuhkan interaksi sosial dengan sesamanya, namun seringkali tidak memiliki wadah yang layak untuk mendukung terjadinya interaksi tersebut. Terutama di permukiman padat penduduk dengan keterbatasan lahan terbuka seperti di Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, di mana masyarakat menjadikan jalan dan gang-gang sempit sebagai tempat untuk melakukan berbagai aktivitas. Di sisi lain, zaman modern dengan teknologi yang semakin berkembang membuat masyarakat menjadi semakin inklusif dan individual, sehingga diperlukan fasilitas di mana warga dapat melaksanakan kegiatan bersama sebagai kegiatan di luar tempat tinggal (first place) dan tempat kerja (second place) disebut sebagai tempat ketiga atau third place yang dapat menjawab berbagai kebutuhan sosial dan ruang hijau kota di kawasan padat penduduk. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode konvensional yaitu analisis-sintesis yang meliputi pengumpulan data (input), analisis (proses), dan sintesis (output). Data didapat dari pengamatan grounded ke lapangan, wawancara dengan warga sekitar, kajian literatur, serta mapping kawasan. Proyek third place yang ada di Tanah Sereal ini berjudul Wadah Aktivitas Masyarakat di Tanah Sereal, bertujuan untuk menyediakan sebuah wadah aktivitas bagi warga permukiman padat dalam memiliki ruang aktivitas bersama atau third place yang terintegrasi dengan gang hijau untuk mengatasi permasalahan sosial dan lingkungan di kawasan padat penduduk. Proyek ini memiliki program utama yaitu area tanam hidroponik (urban farming), dilengkapi dengan foodcourt, area bermain, area diskusi remaja, area komunal, ruang seminar, balai serbaguna, serta program pengembangan masyarakat seperti workshop hidroponik dan workshop garmen untuk meningkatkan skill, produktivitas, dan taraf hidup masyarakat sekitar.
PENATAAN KAWASAN PARIWISATA AIR TERJUN HUMOGO Ivo Era-Era Zalukhu; Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7285

Abstract

The Humogo Waterfall Tourism Area is one of the waterfall tours located on Nias Island, Fadoro Village, Gunungsitoli Idanoi Subdistrict, Gunungsitoli City, North Sumatra Province. The plan for structuring the Humogo Waterfall Tourism Area is planned based on the Regional Work Plan of the Gunungsitoli City Tourism and Culture Office in 2018, where the arrangement is aimed at adding facilities and infrastructure to support tourism in the Humogo Waterfall Tourism Area and the preparation of the Humogo Waterfall Tourism Area Master Plan, Gunungsitoli city. The Humogo Waterfall area is located in Fadoro Village with an area of 15.5 ha with most of the area still dominated by forests and plantations. The Humogo Waterfall Tourism Area is one of the leading tourist destinations in Gunungsitoli City, which was only opened to the public at the end of 2018. This waterfall has a distinctive characteristic of a multilevel waterfall so it is very interesting to be explored by tourists and has very natural conditions that are still very natural surrounded by trees such as coconut trees, rubber trees and so on. However, this tourism area still has shortcomings in the form of supporting tourism facilities and infrastructure so it is necessary to propose facilities and infrastructure in order to increase the tourist attraction of Humogo Waterfall. The analysis carried out is a policy analysis, site and site analysis, best practice analysis, tourist attraction analysis, perceptions and preferences analysis and analysis of spatial requirements so as to produce proposals and the Humogo Waterfall Tourism Area Planning Plan which is laid out with the concept of ecotourism Keywords: ecotourism; nature tourism; tourist zoning; waterfall tourism region AbstrakKawasan Pariwisata Air Terjun Humogo merupakan salah salah satu wisata air terjun yang terletak di Pulau Nias, tepatnya di Desa Fadoro, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, Provinsi Sumatera Utara. Rencana penataan Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo direncanakan berdasarkan Rencana Kerja Perangkat Daerah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Gunungsitoli Tahun 2018, dimana penataan yang dilakukan bertujuan untuk menambah fasilitas dan prasarana yang mendukung pariwisata di Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo dan penyusunan Masterplan Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo, Kota Gunungsitoli. Kawasan Air Terjun Humogo terletak di Desa Fadoro dengan luas 15,5 ha dengan sebagian besar kawasan masih didominasi oleh hutan dan perkebunan. Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Gunungsitoli yang baru dibuka untuk umum pada akhir tahun 2018. Air terjun ini memiliki ciri khas yaitu air terjun yang bertingkat sehingga sangat menarik untuk dijelajahi oleh wisatawan serta memiliki kondisi alam yang masih sangat alami yang dikelilingi oleh pepohonan seperti pohon kelapa, pohon karet dan lain sebagainya. Namun area wisata ini masih memiliki kekurangan berupa sarana dan prasarana penunjang wisata sehingga diperlukan usulan fasilitas dan prasarana agar dapat meningkatkan daya tarik wisata Air Terjun Humogo. Analisis yang dilakukan adalah analisis kebijakan, analisis lokasi dan tapak, analisis best practice, analisis daya tarik wisata, analisis persepsi dan preferensi serta analisis kebutuhan ruang sehingga menghasilkan usulan dan Rencana Penataan Kawasan Pariwisata Air Terjun Humogo yang ditata dengan konsep ekowisata.
WADAH PERTUNJUKAN SENI DI BEKASI Vicosta Christy; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6737

Abstract

Bekasi is referred to commuter city. A commuter is someone who travels to a city to work and returns to his hometown every day, usually from a place that is quite far from where he works. There is nothing interesting to invite travelers to this city. The city is home to millions of residents who mostly work in the capital city of Jakarta. The reason is because Jakarta is already overcrowded and the price of a residential unit in Jakarta has escalated. Bekasi society has high mobility. They departed from morning and returned when it was dark. The house is only used as a rest. There is no cultural trend in Bekasi as well as a shared space for residents to communicate with each other and express interest in their talents. There needs to be a forum to embrace the polarity of the city with nature to coexist in order to produce a more attractive environment and accommodate the city of Bekasi as an educational recreation area, combining the value of sociability and relaxation. The third place becomes a role that can contribute to the overall lifestyle of the community. For this reason, people need to realize that the third space is an undisputable asset. The concept of this third space is quite unique for the process of developing a place, because the third space breaks through a generation with a much better deal than the characteristics of other places. This project uses the trans programming method for the program in the project and the building typology method which will analyze several aspects of the performing arts buildings from the past to the present. The main concept of this project prioritizes the flexibility of space so that it can be used for several different activities. AbstrakKota Bekasi sering disebut dengan kota komuter. Komuter adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari, biasanya dari tempat tinggal yang cukup jauh dari tempat bekerjanya. Tidak ada hal yang menarik untuk mengajak para pelancong ke kota ini. Kota ini adalah rumah bagi jutaan penduduk yang sebagian besar bekerja di ibukota Jakarta. Alasannya mudah, karena Jakarta sudah sesak dan harga satu unit tempat tinggal di Jakarta sudah meroket. Masyarakat Bekasi memiliki mobilitas yang tinggi. Mereka berangkat dari pagi dan kembali saat hari sudah gelap. Rumah hanya dijadikan untuk beristirahat saja. Tidak terdapat tren kebudayaan di Bekasi sekaligus ruang bersama untuk warga saling berkomunikasi dan menuangkan minat bakatnya. Perlu adanya sebuah wadah untuk merangkul polaritas kota dengan alam untuk hidup berdampingan supaya menghasilkan lingkungan yang lebih menarik dan mengakomodasi kota Bekasi menjadi tempat rekreasi edukatif, menggabungkan nilai sosiabilitas dan relaksasi. Ruang ketiga menjadi peran yang bisa berkontribusi dengan keseluruhan gaya hidup masyarakat. Untuk itu masyarakat perlu menyadari bahwa, ruang ketiga menjadi aset yang tidak dapat diperdebatkan. Konsep ruang ketiga ini cukup unik untuk proses perkembangan sebuah tempat, karena ruang ketiga menerobos sebuah generasi dengan kesepakatan yang jauh lebih baik daripada karakteristik tempat lain.  Proyek ini menggunakan metode trans programming untuk program di dalam proyek dan metode tipologi bangunan dimana akan menganalisa beberapa aspek pada bangunan - bangunan ruang pertunjukan dari terdahulu hingga kekinian. Konsep utama bangunan ini mengutamakan fleksibilitas ruang sehingga bisa digunakan untuk beberapa kegiatan yang berbeda.
PENATAAN ULANG PASAR TRADISIONAL MUARA KARANG Cynthia Halim; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6837

Abstract

With the ongoing advancements, human as social beings require a renowned ‘third place’ as a space for social interaction. The presence of third place acts as a space for creating assorted communities that rise in various sizes according to the scale of the surrounding. Muara Karang district is an organized and planned housing district that is filled with landed houses and a single centralized Muara Karang traditional market that make up for fulfilling the basic needs of residents for a place to buy fresh produces and various household items. As time goes by, Muara Karang traditional market is not only a market, but a meeting point for surrounding citizens – so called third place. With the initial design adhering only as a functional stacks of commercial space, this market does not provide any more space for community activities. Therefore, the reprogramming of Muara Karang traditional market is deemed necessary, creating contemporary social market without abandoning the existing traditional seller-to-consumer system that is rooted into the everyday life of the market itself. Through deep interviews with the consumers, the reprogramming of this market is made possible with space additions according to their current and future needs. Whilst opting for a more organized commercial space, this market also offers additional facilities that support communal activities. As a low profile open space for everyone (third place criteria), the design process follows the existing urban fabric to recreate a contextual design that fits into the surrounding. AbstrakSesuai dengan perkembangan zaman, manusia selaku makhluk sosial membutuhkan third place sebagai sebuah tempat untuk bersosialisasi. Kehadiran third place berperan sebagai wadah untuk membangun komunitas-komunitas kecil yang akan terbentuk sesuai skala lingkungannya. Kawasan Muara Karang merupakan kawasan yang dibangun secara terorganisir dengan dipenuhi hunian-hunian dan sebuah pasar tradisional sebagai penunjang kebutuhan di sekitarnya yaitu Pasar Muara Karang. Pasar Muara Karang seiring perkembangan zamannya tidak hanya melayani jual beli barang seperti layaknya pasar tradisional tapi pasar sekarang sudah menjadi sebuah titik temu bagi masyarakat sekitarnya atau yang disebut third place. Namun karena tidak dirancang dari awal untuk menjadi third place, bangunan pasar tidak dapat mewadahi kegiatan komunitas-komunitas yang ada sehingga tidak terasa nyaman. Maka dari itu diusulkan untuk penataan ulang Pasar Muara Karang menjadi pasar yang lebih moderen namun tetap menggunakan sistem tradisional karena itu merupakan ciri khasnya. Melalui metode penelitian, dilakukan wawancara kepada masyarakat apa yang mereka inginkan mengingat keberhasilan sebuah third place berdasarkan kebutuhan masyarakat yang ada dan memfasilitasinya. Selain penataan yang lebih tertata, pasar juga digabungkan dengan fasilitas lainnya yang dapat mendukung kegiatan komunitas. Sesuai dengan karakteristik third place yang low profile, dimana bangunan tidak terlihat sangat megah atau mewah, proses perancangan bangunan baru mengikuti urban fabric agar tetap kontekstual dengan sekitarnya.  
KAMPUNG KULINER SEHAT DI KEMANG Ferdian Ferdian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6773

Abstract

Unhealthy lifestyles, and the tendency of consumption of unhealthy foods/ junk food are the main causes of obesity. Third Place is the main theme of this research discussion. The issue discussed in this study is "How can a third place support a healthy lifestyle?" The location of the project is on Jl. Kemang raya, South Jakarta which is known for culinary. The site is located near offices, banks, fast food restaurants and furniture stores. The main purpose of this project is to become a place that facilitates the community to living  a healthy lifestyle through healthy food. This project supports the Sustainable Development Goals program regarding good health and well-being. The research method used in this study started by finding facilities / programs aimed at solving problems in an area. Then proceed with the process of designing a facility that will produce an amount scale of space in this project.  The results of this research is designing a building in the form of a “Healthy Culinary Village in Kemang / Healthy Culinary Village in Kemang”. This project have 5 main program in the form of Sharing Kitchen, Fresh Market, Dessert Bar, Restaurant, Cooking Class, Gym which aims to improve healthy lifestyles and reduce the level of obesity through culinary / healthy food. This project contributing to the environment by providing a Third place as a place to socialize for the community in the project area. Abstrak Pola hidup kurang sehat, serta kecenderungan konsumsi makanan yang tidak sehat/ junk food menjadi penyebab utama terjadinya obesitas. Third Place merupakan tema utama dari bahasan penelitian ini. Maka isu yang dibahas pada penelitian ini yaitu “Bagaimana sebuah Third place dapat mendukung pola hidup sehat?”. Lokasi proyek berada di Jl.Kemang raya, Jakarta Selatan yang merupakan kawasan yang terkenal akan kuliner. Lokasi tapak berada didekat perkantoran, bank, restoran cepat saji, dan toko furniture.Tujuan utama dari proyek ini yaitu menjadi sebuah tempat yang memfasilitasi masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat melalui makanan sehat. Hal ini juga bertujuan mendukung program Sustainable Development Goals perihal kesehatan yang baik dan kesejahteraan. Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dengan menemukan fasilitas/ program yang bertujuan menyelesaikan masalah dari sebuah kawasan. Kemudian dilanjutkan dengan proses mendesain fasilitas yang akan menghasilkan besaran ruang dalam proyek ini. Hasil penelitian ini yaitu mendesain bangunan berupa Kampung Kuliner Sehat di Kemang/ Healthy Culinary Village in Kemang. Proyek ini memiliki program utama berupa Sharing Kitchen, Fresh Market, Dessert Bar, Restaurant, Cooking Class, Gym yang bertujuan meningkatkan pola hidup sehat dan mengurangi tingkat obesitas melalui kuliner/ makanan sehat. Memberi kontribusi kepada lingkungan dengan menyediakan Third place sebagai wadah untuk bersosialisasi bagi masyarakat di kawasan proyek tersebut.
TEMPAT REKREASI DI KAWASAN PURI INDAH Heriyanto Heriyanto; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6816

Abstract

In the book "The Great Good Place" written by Ray Oldenburg in 1990. In this book Oldenburg divides the place, where humans live their daily lives, into three namely first place, second place, and third place. First place according to Oldenburg is home, second place is a place to work, and third place is a place to relax (hangout) and socialize. For urban communities who are generally individualistic, third place becomes a kind of necessity, where in those places they have the opportunity to enjoy social relations with other people in a relaxed atmosphere. Site Location located in Puri Indah Area, including CBD (Central Business District) where many work employees who face work tasks that make it stressful. So the purpose of the project is to build a place of relaxation for employees and visitors of the lippo mall to take the time to relax Relaxing, boredom and fatigue and also as a counter-activity subsistence. Field survey results and environmental footprint analysis results. The project entitled "Recreation Places in the Puri Indah Area" / "Recreation Place At Puri Indah" has a building programmatic program, namely: 1) Trampoline Arena 2) Public Market. 3) Food Hall. Trampoline arena provide fun recreational activities with the concept of Tetris Where Activities follow Form.2) public market where public places are open which activities Buy and sell, socializing activities between sellers and buyers. 3) food hall provides open seating where employees can work in a discussion in the food hall. Abstrak Pada Dalam buku “The Great Good Place” yang ditulis oleh Ray Oldenburg pada tahun 1990. Dalam buku ini Oldenburg membagi place, dimana manusia menjalani kehidupan sehari-harinya, menjadi tiga yaitu first place, second place, dan third place.Menurut Ray Oldenburg, Tempat Pertama (First place) adalah rumah, Tempat Kedua(Second place) adalah tempat bekerja atau sekolah, dan Tempat Ketiga(Third place) adalah tempat bersantai (hangout) dan bersosialisasi. Bagi masyarakat perkotaan yang umumnya bersifat individualis, third place menjadi semacam kebutuhan, dimana di tempat-tempat tersebut mereka memiliki kesempatan menikmati hubungan sosial dengan orang lain dalam suasana yang santai.Lokasi Tapak yang terletak Di kawasan Puri Indah Termasuk Kawasan CBD(Central Business District)dimana banyak pegawai kerja yang menghadapi kerjaan tugas yang membuatnya stress.sehingga Tujuan dari proyek adalah untuk membangun satu wadah tempat relaksasi bagi pegawai kerja maupun pengunjung yang dari lippo mall meluangkan waktu kosong untuk berelaksasi Pelepas lelah, kebosanan dan kepenatan dan juga Sebagai imbangan subsisten activity.berdasarkan hasil Survey lapangan dan hasil Analisa lingkungan tapak.proyek yang berjudul “Tempat Rekreasi Di Kawasan Puri Indah”/”Recreation Place At Puri Indah” mempunyai programmatik bangunan yaitu:1)Trampoline Arena 2)Public Market.3)Food Hall.Trampoline arena yang memberi Fasilitas Aktivitas Rekreasi yang menyenangkan dengan konsep Tetris Dimana Aktivitas mengikuti Form.2)publik market dimana tempat publik umum terbuka yang beraktivitas Berjualan-beli,aktivitas bersosialisasi antar penjual dan pembeli.3)food hall menyediakan tempat duduk terbuka dimana pegawai kerja dapat melakukan Berdiskusi di dalam food hall.
RUANG KREATIF CIPINANG Bagus Putra Wicaksono; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6817

Abstract

Stress is an adaptive response, through individual characteristics and / or psychological processes directly to the actions, situations and external events concerned. Stress is also a dynamic condition where an individual is faced with opportunities, limitations or demands that are not in accordance with the expectations to be achieved in important and uncertain conditions (Febriandini, et al. 2016). Job stress is generally triggered by individual factors and environmental factors. Indonesia is listed as a stressed population where the stress level can increase if not addressed. The existence of stress factors from low income, and high standard of living. Therefore there needs to be space as a place of interaction for all social classes of society and can establish a good community economy. AbstrakStres adalah suatu respon adaptif, melalui karakteristik individu dan atau proses psikologis secara langsung terhadap tindakan, situasi dan kejadian eksternal yang bersangkutan. Stres juga merupakan kondisi dinamis dimana seorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan yang tidak sesuai dengan harapan yang ingin dicapai dalam kondisi penting dan tidak menentu (Febriandini, et al. 2016). Stres kerja pada umumnya dipicu oleh faktor individu dan faktor lingkungan. Indonesia tercatat sebagai penduduk yang mengalami stres dimana tingkat stres tersebut dapat meningkat jika tidak diatasi. Adanya faktor stres dari penghasilan yang rendah, dan taraf kehidupan yang tinggi. Oleh sebab itu perlu ada ruang sebagai tempat interaksi bagi seluruh kelas sosial masyarakat dan dapat menjalin perekonomian masyarakat yang baik.

Page 6 of 10 | Total Record : 99