cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 151 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER" : 151 Documents clear
PUSAT KREATIF DAN PENGOLAHAN FESYEN DAN MISELIUM BANDUNG Fransisca Meilanny; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12450

Abstract

Fast fashion is a phenomenon, where the latest trends and high levels of consumer demand affect the amount of fashion production. This affects the production chain system and the lifestyle of modern society, especially the gen z and gen y (millennials). The mass production that occurs causes the need for many resources and the use of low-quality (non-durable) materials to pursue trends and affordable prices. Plus the lifestyle of modern society which tends to follow trends has led to a linear concept in fashion, namely take-wear-throw. This system certainly has an impact on environmental damage, especially on materials that are difficult to decompose. This phenomenon has led to community innovations related to mushroom technology that produces mycelium as an environmentally friendly material as well as efforts made by a creative community in fashion management. Thus, it is hoped that the architecture can act as a container that supports activities by applying the cradle-to-cradle (upcycling) concept. This concept invites the public, especially modern society, to be more aware of the management and use of fashion which is supported by a metaphorical method approach of combining mushroom and fashion characters with the use of alternative materials such as mycelium which is the root of mushrooms which is an environmentally friendly material, as well as programs from processing mushrooms and fashion to create an activity center that has a positive impact on the environment and society by promoting ecological balance. Keywords: Architecture; Creative; Environmental Damage; Fast fashion; Mycelium  AbstrakFesyen cepat merupakan sebuah fenomena, dimana tren terbaru dan tingkat permintaan tinggi konsumen yang berpengaruh terhadap jumlah produksi fesyen. Hal ini mempengaruhi sistem rantai produksi dan gaya hidup masyarakat modern, terutama kaum gen z dan gen y (milenial). Produksi massal yang terjadi menyebabkan banyaknya sumber daya yang dibutuhkan dan penggunaan material yang berkualitas rendah (tidak tahan lama) untuk mengejar tren dan harga terjangkau. Ditambah gaya hidup masyarakat modern yang cenderung mengikuti tren menyebabkan konsep linear dalam fesyen, yaitu ambil-pakai-buangj. Sistem ini tentunya berdampak pada kerusakan lingkungan, khususnya pada material yang sulit terurai. Fenomena ini memunculkan inovasi masyarakat terkait dengan teknologi jamur yang menghasilkan miselium sebagai material ramah lingkungan serta upaya yang dilakukan oleh suatu komunitas kreatif dalam pengelolaan fesyen. Dengan demikian, diharapkan arsitektur dapat berperan sebagai wadah yang menunjang aktivitas dengan penerapan konsep cradle-to-cradle (upcycling). Konsep ini mengajak masyarakat, khususnya masyarakat modern untuk lebih sadar akan pengelolaan dan pemanfaatan fesyen yang di dukung dengan pendekatan metode metafora penggabungan karakter jamur dan fesyen dengan penggunaan material alternatif seperti miselium yang merupakan akar dari jamur yang merupakan material yang ramah lingkungan, serta program dari pengolahan jamur dan fesyen untuk mewujudkan pusat aktivitas yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat secara positif dengan mengusung keseimbangan ekologi.
FASILITAS PEMANFAATAN RUMPUT LAUT DI LAUT WULA, NUSA TENGGARA TIMUR Stevie Stevie; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12423

Abstract

East Nusa Tenggara is one of the provinces in Indonesia that has abundant marine natural wealth and is the second largest seaweed producer in Indonesia. Electricity is an important component in civilization and modernity, as well as the development of knowledge and information. However, East Nusa Tenggara often suffers from a shortage of electricity and fuel to carry out activities that are still dependent on fossil fuels that damage the environment. Therefore, realizing the enormous potential of the existing sea, it is necessary to build a facility for the use of seaweed that can be converted into biofuel, which can then be converted into electrical energy, and can also be processed into agar, carrageenan, and fertilizer focused on the Wula Village Sea as a source of energy. prime location. This project is also intended to educate visitors to get to know the sea more closely, as well as remind humans that in order to survive, we don't have to sacrifice other lives. This project uses a regenerative architecture design method that prioritizes the balance between humans, marine life, and the sea. This project consists of a program for the biofuel industry, electricity generation, tourism, seaweed raw material industry, workers' residences, and service rooms with futuristic building styles. Keywords: architecture; biofuel; electricity; futuristic; industry; seaweed; sea.AbstrakNusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan alam laut yang melimpah dan menjadi penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia. Listrik merupakan komponen penting dalam peradaban dan modernitas, serta perkembangan pengetahuan dan informasi. Namun, seringkali Nusa Tenggara Timur mengalami kekurangan pasokan listrik dan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas yang hingga saat ini masih bergantung dengan energi fosil yang merusak lingkungan. Maka dari itu, menyadari besarnya potensi laut yang ada, perlu dibangun suatu fasilitas pemanfaatan rumput laut yang dapat dikonversikan menjadi biofuel, yang selanjutnya dapat dikonversikan menjadi energi listrik, dan juga dapat diolah menjadi agar, karaginan, dan pupuk yang difokuskan pada Laut Desa Wula sebagai lokasi utama.  Proyek ini juga dimaksudkan untuk memberikan edukasi kepada pengunjung untuk mengenal laut lebih dekat, serta mengingatkan manusia bahwa untuk bertahan hidup, kita tidak harus mengorbankan kehidupan lainnya. Proyek ini menggunakan metode desain regenerative architecture yang mengutamakan keseimbangan antara manusia, biota laut, dan laut. Proyek ini terdiri dari program industri biofuel, penghasil listrik, wisata, industri bahan baku rumput laut, tempat tinggal pekerja,  dan ruang servis dengan gaya bangunan futuristik.
FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DAN GALERI EDUKASI DI KAMPUNG MELAYU Pramukti Siswo Sunarno; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12464

Abstract

The increase of solid waste production is a general problem in municipality, particularly of plastic waste. Architecture is always closely related to settlements and the environment. With this plastic waste, the problems that arise in residential areas must be various, including an uncomfortable atmosphere around residential areas. However, so far the existing problems have not been resolved strategically so that negative impacts always arise with the environment and society. For the solution offered in dealing with this case is a design to accommodate those related to waste management in activities. Processing and management of plastic waste must be carried out through the application of environmental sustainability that is able to integrate ecology-based management. By proposing a plastic waste processing facility as well as a gallery for exhibitions of art objects made of plastic waste and a workshop for handicrafts made of plastic waste, this building is expected to reduce the impact of plastic waste accumulation in Malay villages. The exhibition area in this building is also a way to touch the community about waste education and become a new tourist spot that is related to other tourist attractions in the vicinity as well as solving waste problems in the environment and workshops that create creative and unique items that can attract visitors. Keywords: Art; Educational Gallery; Plastic waste ; Plastic Waste Problems; Plastic Waste ProcessingAbstrak Peningkatan timbunan sampah, khususnya sampah plastik, merupakan masalah yang paling sering dihadapi oleh masyarakat di lingkungan perkotaan. Arsitektur selalu berkaitan erat dengan permukiman dan juga lingkungan. Dengan adanya sampah plastik ini maka permasalahan yang timbul di kawasan permukiman pasti bermacam-macam, diantaranya timbul suasanya tidak nyaman di sekitar kawasan permukiman. Namun selama ini permasalah yang ada belum tertuntaskan secara strategis sehingga dampak-dampak negatif selalu timbul bersama lingkungan dan masyarakat. Untuk solusi yang ditawarkan dalam menghadapi kasus ini adalah sebuah rancangan untuk mewadahi terkait dengan pengelolaan sampah dalam beraktifitas. Pengolahan dan pengelolaan sampah plastik harus dilakukan melalui penerapan keberlanjutan lingkungan yang mampu mengintegrasikan pengelolaan berbasis ekologi dan wadah untuk masyarakat dalam mempelajari nilai penting dari sampah baik secara negatif maupun positif. Dengan mengusulkan sebuah wadah fasilitas pengolahan sampah plastik dan juga galeri untuk pameran benda-benda seni yang terbuat dari sampah plastik dan bengkel kerja kerajinan tangan dari sampah plastik, bangunan ini diharapkan dapat mengurangi dampak timbunan sampah plastik di kampung melayu. Area pameran pada bangunan ini juga merupakan sebagai salah satu cara untuk menyentuh masyarakat tentang edukasi persampahan dan menjadi tempat wisata baru yang berhubungan dengan tempat wisata lain disekitarnya sekaligus memecahkan permasalahan sampah di lingkungan dan workshop yang menciptakan barang-barang kreatif dan keunikan yang dapat menarik para pengunjung. 
KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI PADA RUMAH PEMASYARAKATAN BERBASIS KOMUNITAS DAN PENGEMBANGAN DIRI Octavianus Bryan; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12392

Abstract

The crime rate which continues to increase from year to year in various regions in Indonesia indicates one of them is that the prison system has not been effective, especially in reducing cases of recidivism. The formation of social stigma and negative views from the community towards the status of prisoners also has a big role so that former assisted residents are not always treated properly in the community, especially in economic and social life. The design concept in this project aims to create a Penitentiary that supports the complete integration of inmates into the community, which is expected to be a solution in the process to overcome the overcapacity in most of the correctional institutions in Indonesia. This project focuses on innovations for correctional institutions in general in Indonesia, while taking into account the standards and regulations stipulated in law. The design method is implemented with an ecological approach and the concept of nature and flexibility in the community. The interactions that exist in the community are aimed at rehabilitating the assisted members, both personally and socially. This project produces an ecological design that is free with community spaces that can be used to establish interactions within the ecology itself, both between the assisted residents and the assisted residents, with the general public, as well as with the natural environment and all its supporting elements. The concept of flexibility that is highlighted in this project, remains in a corridor that is guarded through the close supervision of officers through technology that supports remote surveillance of prisoners.Keywords: Assisted People; Community; Ecology; Penitentiary AbstrakTingkat kriminalitas yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di berbagai wilayah di Indonesia mengindikasikan salah satunya bahwa sistem pemasyarakatan belum berjalan efektif terutama dalam mengurangi kasus residivisme. Pembentukan stigma sosial dan pandangan negatif dari masyarakat terhadap status narapidana juga mempunyai peran yang besar sehingga mantan warga binaan tidak selalu diperlakukan sebagaimana mestinya dalam lingkungan masyarakat, terutama dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Konsep desain dalam proyek ini bertujuan menciptakan Lembaga Pemasyarakatan yang mendukung integrasi warga binaan secara utuh ke dalam masyarakat, yang diharapkan dalam prosesnya dapat menjadi solusi untuk mengatasi kelebihan kapasitas pada sebagian besar Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. Proyek ini fokus menciptakan inovasi untuk Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia, dengan tetap memperhatikan standar dan peraturan yang ditentukan dalam Undang-Undang. Metode perancangan diimplementasikan dengan pendekatan ekologi serta konsep alam dan fleksibilitas dalam komunitas. Interaksi yang terjalin dalam komunitas itu yang bertujuan untuk merehabilitasi para warga binaan baik secara personal maupun sosial. Proyek ini menghasilkan desain ekologi yang bersifat bebas dengan ruang-ruang komunitas yang bisa dimanfaatkan untuk menjalin interaksi dalam ekologi itu sendiri, baik antara warga binaan dengan warga binaan, dengan masyarakat  umum, maupun dengan lingkungan alam dan segala elemen pendukungnya. Konsep fleksibilitas yang ditonjolkan pada proyek ini, tetap dalam koridor yang dijaga melalui pengawasan ketat dari para petugas melalui teknologi yang mendukung pengawasan jarak jauh bagi narapidana.
OLAH DESAIN MODUL APUNG PADA HUNIAN APUNG TUMBUH DI MUARA ANGKE Alexander Kevin Gunarso; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12330

Abstract

Floating Housing is a house type which is an altrnative housing model in coastal areas with prone to flood and affected by land subsidence phenomenon. The purpose of floating housing design is to give safe and proper housing, with the supporting facilities and independent utilities. Floating housing concept in Muara Angke, North Jakarta is an architectural response to the land subsidence, that keep happening in North Jakarta Coast up to 18 cm / year. In doing a floating housing design, floating structure is the most important thing. It needs effective and efficient floating structure concept and has resistance to sea waves.  Besides that, floating structure must easy to maintenance, and repair, also accomodate the residential loads. Research method in this project is collecting data, material analysis and structure calculations, so as to produce a modular floating structure concept. The results of this research is hexagonal floating structure module made from 2 kind of material, that is plastic drum and b-foam (Expanded Polystyrene). Then, the floating structure design applied to the building according to its function, such as house, markets, and other needs. Material selection has follow the standard buoyancy calculation. So, the floating structure module design can use to support community activities safely and eco friendly. Keywords:  floating housing; floating modul; flood resistant house; growth floating structure; muara angke AbstrakHunian Apung merupakan jenis hunian yang menjadi alternatif hunian pada daerah pesisir yang rawan banjir dan terdampak fenomena penurunan muka tanah. Perancangan hunian apung memiliki tujuan untuk memberikan hunian yang aman dan layak, beserta dengan fasilitas penunjang dan utilitas yang mandiri.  Konsep hunian apung pada Kawasan Muara Angke, Jakarta Utara merupakan respon arsitektur terhadap fenomena penurunan muka tanah yang terus terjadi di pesisir Pantai Jakarta, hingga mencapai 18 cm / tahun. Dalam melakukan perancangan bangunan apung, struktur apung menjadi hal yang paling utama. Dibutuhkan konsep struktur apung yang efektif dan efisien serta memiliki ketahanan terhadap gelombang air laut. Selain itu, rancangan struktur apung juga memiliki kemudahan untuk perawatan dan reparasi, serta struktur yang mampu mengakomodasi beban hunian. Metode penelitian melalui pengumpulan data, analisis material, dan perhitungan kapasitas struktur, sehingga menghasilkan sebuah konsep struktur apung modular. Hasil dari penelitian ini berupa rancangan modul struktur apung berbentuk heksagonal yang terdiri dari 2 jenis material, yaitu drum plastik dan b-foam (Expanded Polystyrene).  Rancangan struktur apung kemudian diterapkan pada bangunan sesuai fungsi, seperti hunian, pasar dan kebutuhan lain. Pemilihan material juga telah memenuhi standar perhitungan daya apung. Sehingga, rancangan modul struktur apung dapat digunakan untuk menunjang kegiatan masyarakat dengan aman dan ramah lingkungan.
PENERAPAN METODE THERAPEUTIC ARCHITECTURE PADA HUNIAN PRODUKTIF & RUANG KOMUNAL BAGI PENDUDUK LANJUT USIA Shienia Shienia; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12439

Abstract

Since December 2019, world has been infected the spread of pandemic by Coronavirus or also we known as COVID-19. This pandemic has been effecting the global population drastically, and also various aspects of human life. There’s so many countries is being faced the threat of this disease, especially for elderly citizens. The elderly population has higher risk of being infected to this disease more than any age group, especially for they who has any health problems and degenerative physiological conditions. WHO noted more than 95% mortality caused by coronavirus threat ages population. 8 out of 10 deaths occur in individuals with comorbidities, particularly those with cardiovascular disease, hypertension, diabetes, as well as various other chronic conditions. It is imperative for countries to provide a comprehensive response to this pandemic, supporting the elderly population, their families and their care givers. In this condition, the elderly need protection, and access to nutritious food, availability of basic necessities, money, medicine to support their physical health, and care. The purpose of this research is to find specific data and analysis as the basis for the design of productive housing for the elderly using the Therapeautic Architecture design method. Writer also hoping, this research will be able to describe and prove aspects of nature as part of the design to built environment that support the healing process, especially in productive housing for the elderly population. Keywords: Covid-19; Elderly; Community Housing; Ageing Population; Therapeutic Architecture Abstrak Sejak Bulan Desember 2019, penyebaran pandemic akibat virus Corona, yang juga dikenal sebagai Coronavirus (COVID-19) menyerang hampir satu dunia. Berbagai aspek kehidupan penduduk global terdampak secara signifikan dengan adanya persebaran virtus Pandemi ini. Berbagai negara menanggapi ancaman penyakit ini, terutama karena pandemi menyerang semua kelompok usia, terutama pada kelompok umur lanjut usia. Penduduk lansia menghadapi risiko yang signifikan terkena penyakit virus corona ini, apalagi jika mereka mengalami gangguan kesehatan yang diiringi dengan penurunan kondisi fisiologis. WHO mencatat lebih dari 95% kematian yang diakibatkan virus corona terjadi kepada penduduk kelompok usia lebih dari 60 tahun. 8 dari 10 kematian terjadi pada individu dengan komorbiditas, khususnya mereka dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabeter, juga berbagai kondisi kronis lainnya. Sangat penting bagi negara untuk memberikan respon komprehensif terhadap pandemic ini, dengan mendukut penduduk lansia, keluarga, dan pengasuhnya. Pada kondisi ini, lanjut usia memerlukan adanya perlindungan, dan akses terhadap makanan bergizi, ketersediaan kebutuhan dasar, uang, obat-obatan untuk mendukung kesehatan fisik, dan perawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari data dan analisa spesifik sebagai landasan desain Hunian Produktif bagi Lanjut usia dengan metode desain Therapeautic Architecture. Diharapkan dengan penelitian ini mampu menjabarkan dan membuktikan aspek alam sebagai bagian dari rancangan lingkungan binaan untuk mendukung proses penyembuhan khususnya pada hunian produktif bagi penduduk kelompok usia lanjut. 
HUNIAN VERTIKAL PRODUKTIF DI PAPANGGO, JAKARTA UTARA Elda Widiastri; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12343

Abstract

Humans are social creatures who live and need each other. Humans form a family and live together in a space. The number of human population in the world is increasing every year, especially in big cities. The increasing population causes an imbalance between the needs and the available energy, land supply in large urban areas in Indonesia such as Jakarta. City food supply relies on external sources, the distribution causing increased greenhouse gas emissions. Papanggo itself is a densely populated area that has a medium to low economic level with a low level of productivity of its citizens. Based on the Indonesian Statistics Center in 2020, the Papanggo area in North Jakarta recorded a population of 46,141 people with a total area of 2.80 km2. Judging from these data, Papanggo is a dense area in Jakarta with a population density of 16,478.9 people/km2 and only a small proportion of its residents work as urban farmers. From several problems that exist in Papanggo, an approach is carried out starting from the observation stage, then continued with site analysis. The program is processed using a place contextual method, cross-programming, and biophilic design methods. Biophilic principles that respect nature can provide comfort and a sense of security, is expected to increase users’ productivity and health. The conclusion of this project is to try to provide new vertical residential space in Papanggo so that city residents can live and remain productive in producing energy and food independently by utilizing local natural and human resources. Keywords: Biophilic; Papanggo; ResidenceAbstrak Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berkelompok dan saling membutuhkan satu sama lain. Manusia membentuk sebuah keluarga dan hidup bersama di dalam satu ruang lingkup hunian. Angka populasi manusia di dunia semakin meningkat tiap tahunnya terutama di pusat kota besar. Jumlah penduduk yang meningkat menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan warga kota dengan pasokan energi dan lahan yang tersedia di perkotaan besar di Indonesia seperti Jakarta. Pasokan pangan warga kota mengandalkan sumber dari luar atau pinggiran kota, yang distribusinya menghasilkan peningkatan emisi gas rumah kaca. Papanggo, Jakarta Utara sendiri merupakan daerah padat penduduk yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke rendah dengan tingkat produktivitas warganya yang kurang. Berdasarkan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2020, daerah Papanggo yang berada di Tanjung Priok, Jakarta Utara mencatat jumlah penduduk sebesar 46.141 jiwa dengan luas total 2,80 km2. Ditinjau dari data tersebut, Papanggo merupakan daerah yang cukup padat di DKI Jakarta dengan kepadatan penduduk 16.478,9 jiwa/km2 dan hanya sebagian kecil warganya bekerja sebagai petani kota. Dari beberapa masalah yang ada di Papanggo, dilakukan pendekatan dimulai dari tahap observasi, lalu dilanjutkan dengan analisis tapak. Program diolah dengan metode kontekstual tempat, cross programing, sedangkan penerapan metode desain biophilic. Prinsip Biophilic yang menghargai alam dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kesehatan fisik maupun psikis pengguna. Kesimpulan pada proyek bangunan ini adalah dengan berusaha memberikan ruang hunian vertikal baru pada Kawasan Papanggo agar warga kota bisa tinggal dan tetap produktif menghasilkan energi dan bahan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia setempat. 
PENERAPAN TEKTONIKA DAN BANGUNAN MODULAR DALAM PERANCANGAN PROYEK PENGAWASAN DAN REBOISASI HUTAN BEKAS TERBAKAR Efraim Jusuf; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12488

Abstract

The phenomenon that occurs is the amount of deforestation that occurs due to forest fires during the dry season, making forest areas dry. That makes a lot of forest land that has been burned to be barren without reforestation. So that the loss of biodiversity in the forest area and damage the existing ecosystem. A project is needed to reforest burnt forest land to minimize biodiversity loss and even restore it. The research method focused on the literature related to deforestation. The design method applied is based on tectonic principles and focuses on the Knock-down system to maximize reforestation on the forest land. In addition, applying Kevin Lynch's principles in the context of the city into the forest becomes a new thought in designing a reforestation project. The presence of a reforestation project and monitoring of burned forests are expected to be an example to minimize the loss of biodiversity and even restore it so that the forest ecosystem that supports human life can survive and not be lost. Keywords: deforestation; reforestation; tectonic; knock-downAbstrakFenomena yang terjadi merupakan banyaknya deforestasi yang terjadi akibat kebakaran hutan saat musim kemarau yang membuat kawasan hutan menjadi kering. Hal ini membuat banyaknya lahan hutan yang bekas terbakar menjadi tandus tanpa dilakukannya reboisasi kembali. Sehingga hilangnya keanekaragaman hayati yang ada kawasan hutan itu dan merusak ekosistem yang ada. Diperlukannya suatu proyek untuk mereboisasi lahan hutan bekas terbakar untuk meminimalisir hilangnya keanekaragaman hayati dan bahkan mengembalikannya. Metode penelitian yang dilakukan difokuskan melalui literatur-literatur yang berhubungan dengan deforestasi. Metode desain yang diterapkan berdasarkan pada prinsip tektonik dan juga berfokus pada sistem bongkar pasang sehingga dapat memaksimalkan reboisasi pada lahan hutan tersebut. Selain itu menerapkan prinsip Kevin Lynch dalam konteks kota ke dalam hutan menjadi suatu pemikiran baru dalam merancang suatu proyek reboisasi di hutan. Hadirnya proyek reboisasi dan pengawasan hutan bekas terbakar ini diharapkan dapat menjadi salah satu contoh untuk meminimalisir hilangnya keanekaragaman hayati dan bahkan mengembalikannya sehingga ekosistem hutan yang menopang kehidupan manusia dapat bertahan dan tidak hilang.
HUNIAN DAN FASILITAS REKREASI PESISIR LAMBOLO Kevin Adriel; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12515

Abstract

The ecological crisis is a global challenge for mankind at the beginning of the 21st century which has not been resolved until now. Governments and people around the world are very concerned about the worsening environmental conditions. The crisis destroys the entire natural ecology of the earth which affects the entire ecosystem. Taking Natural Resources irresponsibly will result in damage to the surrounding environment. All living things depend on the earth's energy, but if it is handled incorrectly, the environment will be damaged due to careless extraction of natural resources. One problem arose due to nickel mining activities by a nickel smelter in North Morowali, Central Sulawesi, which resulted in environmental damage, especially in Hamlet V Lambolo, which is adjacent to the coast of Tomori Bay. The buildings that are built must not damage the environment, and the damaged environment must be repaired according to the aspects of the Sustainable Development Goals. The purpose of this plan is to produce a design by rehabilitating the area so that the problems there can be solved by problem solving programs and existing social recreation programs with ecological architectural designs. Keywords: Architectural Design; Ecological Crisis, Environmental Damage; Natural Resources, Sustainable Development GoalsAbstrak Krisis ekologi merupakan tantangan global umat manusia pada awal abad 21 yang sampai sekarang belum terselesaikan. Pemerintah dan masyarakat di seluruh dunia sangat prihatin dengan kondisi lingkungan yang makin lama kian memburuk. Krisis tersebut merusak seluruh ekologi alam di bumi yang berdampak pada seluruh ekosistem. Pengambilan Sumber Daya Alam (SDA) dengan tidak bertanggung jawab akan berakibat pada kerusakan lingkungan sekitar. Semua makhluk hidup sangat bergantung pada energi bumi, namun jika penanganannya salah maka lingkungan akan rusak akibat pengambilan SDA secara ceroboh.Satu masalah muncul akibat aktivitas penambangan nikel oleh salah satu smelter nikel di Morowali Utara, Sulawesi Tengah yang berdampak pada kerusakan lingkungan terutama di Dusun V Lambolo yang berdekatan dengan pesisir Teluk Tomori.   Bangunan yang terbangun harus tidak boleh merusak lingkungan, dan lingkungan yang rusak harus dibenahi menganut aspek-aspek dari Suistainable Development Goals. Tujuan perencanaan ini adalah untuk menghasilkan rancangan dengan me-rehabilitasi kawasan tersebut supaya masalah-masalah disana dapat terselesaikan dengan program penyelesaian masalah serta program rekreasi sosial eksisting dengan desain arsitektur ekologi. 
PENATAAN KAMPUNG GUJI BARU DENGAN KONSEP KONSOLIDASI TANAH VERTIKAL Rani Rachmasari; Suryono Herlambang; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12890

Abstract

Infrastructure Development The West Jakarta Administration has several plans, such as a plan to develop an activity center system that supports activity services and as a spatial structure builderGuji Baru Village will be improved with the Vertical Land Consolidation Concept, because this village has conditions that do not meet the requirements to be a good area, have irregular land, with land consolidation this village can be reorganized into a regular area complete with infrastructure, so that achieve optimal land use. The concept of land consolidation can systematically combine scattered and irregular land according to spatial planning, distribute existing consolidated land to landowners proportionally, regulate the form and layout of ownership parcels, increase economic value through the provision of environmentally friendly facilities and infrastructure. adequate on land donated by the owner. This concept has the principle of Cost & Benefit Sharing to the community and related stakeholders such as the government and developers. Land readjustment in the concept of Vertical Land Consolidation as a Multipurpose Technique can provide a number of benefits in urban development, including land assembly or consolidation, government land acquisition for public purposes, infrastructure development, legal implementation, fair distribution of costs and benefits, registration Land analysis, and timely land development. This study aims to implement improvements to the Guji Baru slum in order to create a good living environment according to the spatial plan, applying the concept of Vertical Land Consolidation. Key Word: GTRA; Vertical Land Consolidation, Village ImprovementAbstrakPengembangan Infrastruktur Kota Administrasi Jakarta Barat memiliki beberapa rencana seperti rencana pengembangan system pusat kegiatan yang menunjang pelayanan kegiatan dan sebagai pembentuk struktur ruang. Kampung Guji Baru akan diperbaiki dengan Konsep Konsolidasi Tanah Vertikal, karena kampung ini memiliki kondisi yang kurang memenuhi syarat untuk menjadi kawasan yang baik, memiliki lahan yang tidak teratur, dengan konsolidasi lahan maka kampung ini dapat ditata kembali menjadi kawasan yang teratur lengkap dengan prasarana, agar tercapai penggunaan lahan yang secara optimal. Konsep Konsolidasi Tanah dapat menggabungkan secara sistematis lahan yang berpencar-pencar dan tidak teratur disesuaikan dengan tata ruang, mendistribusikan lahan yang telah ada dikonsolidasikan kepada pemilik lahan secara proporsional, mengatur bentuk dan tata letak persil kepemilikan, meningkatkan nilai ekonomis melalui pengadaan sarana dan prasarana lingkungan yang memadai diatas lahan yang disumbangkan oleh pemilik. Konsep ini memiliki prinsip Cost & Benefit Sharing kepada masyarakat maupun stakeholder terkait seerti pemerintah dan developer. Penyesuaian kembali lahan dalan konsep Konsolidasi Tanah Vertikal sebagi Teknik multiguna dapat memberikan sejumlah manfaat dalam pembangunan perkotaan, termasuk perakitan atau konsolidasi tanah, pembebasan tanah pemerintah untuk tujuan umum, pembangunan infrastruktur, implementasi secara resmi, pembagian baiya dan manfaat yang adil, pendaftaran Analisa tanah, dan pengembangan tanah tepat waktu. Penlitian ini bertujuan untuk menerapkan perbaikan kampung kumuh Guji Baru agar tercipta lingkungan hidup yang baik sesuai rencana tata ruang, menerapkan konsep Konsolidasi Tanah Vertikal. 

Page 1 of 16 | Total Record : 151