cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 47 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022" : 47 Documents clear
PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK TERHADAP RUANG PEMULIHAN KECEMASAN DI KAMAL, JAKARTA BARAT Felix Nathaniel Toliu; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16862

Abstract

Anxiety has become a problem that everyone has, and one of the reasons people worry is because they are recovering in a hospital. According to data 75%-85% of people will feel anxious before and after surgery. This Anxiety Healing Space project aims to reduce the level of anxiety felt by hospital patients and their families and the community around the site. Not only reducing anxiety levels, this project also aims to educate the public about the dangers and how to deal with anxiety through palliative education and geriatric education. The design of this project takes a therapeutic architecture system by utilizing architecture as a healing or recovery tool for the users of this project. Utilizing the shape grammar method to achieve a therapeutic architecture. From this method, several important points emerge, namely: spatial experience, building form, and connection with nature. The application of the method to building design is reflected in the following ways: (1) green space is the best place for recovery, (2) the arch-dominated form of the building prioritizes the comfort of the user's vision, (3) the application of natural roofs made of green plants, (4) utilizing nature as a barrier between spaces, and (5) utilizing natural light for lighting at several points to save energy. Keywords: Healing for anxiety; therapeutic architecture AbstrakKecemasan sudah menjadi masalah yang dimiliki setiap orang, dan salah satu alasan orang cemas karena berada dalam pemulihan di rumah sakit. Menurut data 75%-85% orang akan merasa cemas sebelum dan sesudah operasi. Proyek Ruang Pemulihan Kecemasan ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecemasan yang di rasakan pasien rumah sakit maupun keluarga dari pasien serta masyarakat sekitar tapak. Bukan hanya mengurangi tingkat kecemasan, proyek ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya dan cara mengatasi kecemasan melalui edukasi paliatif dan edukasi geriatri. Perancangan proyek ini mengambil konsep therapeutic architecture dengan memanfaatkan arsitektur sebagai alat penyembuhan atau pemulihan bagi pengguna proyek ini. Memanfaatkan metode shape grammar untuk mencapai arsitektur yang therapeutik. Dari metode tersebut muncul beberapa poin penting, yaitu: pengalaman ruang, bentuk bangunan, dan keterkaitan dengan alam. Penerapan metode terhadap desain bangunan terpancar dalam beberapa hal sebagai berikut: (1) ruang hijau menjadi tempat pemulihan tebaik, (2) bentuk bangunan yang didominasi lengkungan mengutamakan kenyamanan penglihatan pengguna, (3) penerapan atap-atap natural dari tanaman hijau, (4) pemanfaatkan alam sebagai pembatan antar ruang, serta (5) pemanfaatkan cahaya alami untuk penerangan di beberapa titik untuk menghemat energi.
PENDEKATAN ARSITEKTUR DENGAN RETHINKING TYPOLOGY DAN DISPROGRAMMING DALAM MERANCANG PUSAT REHABILITASI KECANDUAN GAME Garry Gohtandry; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16974

Abstract

Addiction to online games in this era is increasing. Data shows that in 2017, according to Amsterdam-based marketing research institute Newzoo, there were 43.7 million gamers (56% of whom were male) in the country, spending a total of US$ 880 million. Indonesia has the largest number of game players in Southeast Asia, with an estimated prevalence of 6.1% of gamers experiencing addiction, so there are 2.7 million game players who may be addicted. The World Health Organization (WHO) officially states that online game addiction is a mental disorder, because it can cause sleep disorders that affect the body's metabolic system, often feel tired (fatigue syndrome), stiff neck and muscles, to Carpal Turner Syndrome. But playing online games also has many positive sides, such as players being trained between the right and left brain to work in a balanced way. Not only that, colorful game visuals and in-game movements provide high imagination so that the brain will continue to imagine. To be able to improve the mental health of online game addicts, a new type of rehabilitation facility is needed that is able to answer the needs and challenges of the times. Considering that addiction generally occurs because of neglecting to play online games for a long time as a child, it is proposed to add an elementary school function that introduces good information technology from an early age. Disprogramming strategy is used so that the rehabilitation function as the first function can contaminate the elementary school as the second function so that these two facilities can function more optimally. This facility is also equipped with a large open space to accommodate social activities as a supporting activity that can teach the importance of real socializing among others. It is hoped that the combination of rehabilitation functions, elementary schools and active open spaces can become a new typology of rehabilitation buildings that reduce the adverse effects of online addiction in society.  Keywords: game addiction;  online game; rehabilitation center AbstrakKecanduan game online di masa ini semakin meningkat. Data menunjukkan pada 2017, menurut lembaga riset pemasaran asal Amsterdam, Newzoo, ada 43,7 juta gamer (56% di antaranya laki-laki) di negeri ini, yang membelanjakan total US$ 880 juta. Indonesia memiliki Jumlah pemain game terbanyak di Asia Tenggara, dengan prakiraan prevalensi 6,1% pemain game mengalami kecanduan, maka terdapat 2,7 juta pemain game yang mungkin kecanduan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menyatakan bahwa kecanduan game online merupakan penyakit gangguan mental, karena dapat menyebabkan gangguan tidur sehingga mempengaruhi sistem metabolisme tubuhnya, sering merasa lelah (fatigue syndrome), kaku leher dan otot, hingga Karpal Turner Syndrome. Namun bermain game online juga memiliki banyak sisi positif seperti para pemain seperti dilatih antara otak kanan dan kiri untuk bekerja secara seimbang. Tidak hanya itu, visual game yang berwarna warni dan Gerakan dalam game memberikan imajinasi yang tinggi sehingga otak akan terus berimajinasi. Untuk dapat memperbaiki kesehatan mental pecandu game online, dibutuhkan sebuah tipe baru fasilitas rehabilitasi yang mampu menjawab kebutuhan dan tantangan zaman. Mengingat kecanduan pada umumnya terjadi karena adanya pembiaran bermain game online dalam durasi panjang semasa kecil, maka diusulkan untuk menambahkan fungsi sekolah dasar yang mengenalkan informasi teknologi yang baik sedari dini. Strategi Disprogramming digunakan agar fungsi rehabilitasi sebagai fungsi pertama dapat mengkontaminasi sekolah dasar sebagai fungsi kedua sehingga kedua fasilitas ini dapat berfungsi lebih maksimal. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan ruang terbuka yang luas untuk mewadahi aktivitas bersosialisasi sebagai aktivitas pendukung yang dapat mengajarkan pentingnya bersosialisasi nyata diantara sesama. Diharapkan penggabungan fungsi rehabilitas, sekolah dasar dan ruang terbuka aktif dapat menjadi sebuah tipologi baru bangunan rehabilitasi yang mengurangi dampak buruk kecanduan online di masyarakat.
PENERAPAN KONSEP RE-THINKING TYPOLOGY PADA HUNIAN VERTIKAL UNTUK DEWASA MUDA DI LAHAN BERKONTUR, CISARUA Bimo Yudhi Santoso; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16912

Abstract

This paper describes and analyzes the types or characteristics of typologies as well as proposes a different typological idea for the typology of vertical housing located in contoured and heavily cultured areas for evolving young adults. This provides views and insights into the architectural thought process. Based on learning the existing type as a reference and choosing various typology as prototype and as a reference for analysing the development trend of vertical housing typology as a guide principle to then propose an arhetype. The results of these analysis are proven re-thinking the typology of the vertical housing itself which is integrated with the microhousing typoloogy. Two typologies emerged, providing insight into the aplication of cultural cosmologi and also integrating the contoured site with the project. Keywords:  contour; microhousing; typology; vertical housing AbstrakTulisan ini menjelaskan dan menganalisis tipe atau karakteristik tipologi serta  mengusulkan sebuah pemikiran tipologi yang berbeda terharap tipologi bangunan vertikal yang berada di daerah berkontur dan berbudaya untuk kaum dewasa muda yang sedang berkembang. Makalah ini memberikan pandangan dan wawasan ke dalam proses pemikiran arsitektur. Berdasarkan pembelajaran tipe eksisting sebagai acuan tren perkembangan dan tipologi bangunan hunian vertikal sebagai panduan prinsip, pendekatan pemikiran ulang tipologi untuk menganalisa tipologi yang ada muncul suatu tipologi baru. Hasil dari analisis ini dibuktikan dengan memikirkan ulang tipologi bangunan vertikal itu sendiri yang di integrasikan dengan tipologi rumah mikro. Dua tipologi yang muncul, memberikan wawasan tentang penerapan kosmologi budaya dan juga mengintegrasikan tapak yang berkontur dengan proyek.
TEMPAT NONGKRONG PRODUKTIF DI KALIDERES, JAKARTA BARAT Jenniffer Maden; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16947

Abstract

Productive hangout place, is a project that accommodates hanging out activities for actors of productive age around the location of the site. Which has the aim of providing another view of hanging out that was previously considered negative by many people. Thus, this hanging out activity has a positive impact such as overcoming the gap in hanging out activities with various activities tailored to the actors. In accordance with the theme, namely: rethinking typology, by taking one of the trending topics, namely hanging out. Various negative views by the public regarding hanging out in everyday life are common. In fact, hanging out provides more benefits if hanging out activities can be made different and more focused according to the existing hangout actors.The current productive generation dominates in all areas of life. Thus, the need for a place to release stress and make a person or a group happier is very influential for their performance. Keywords:  Hangout; Positive; Productive AbstrakTempat nongkrong produktif, merupakan proyek yang mewadahi kegiatan nongkrong bagi pelaku dengan usia produktif di sekitar lokasi tapak berada. Yang memiliki tujuan untuk memberikan pandangan lain mengenai nongkrong yang tadinya dianggap negatif oleh banyak orang. Sehingga, kegiatan nongkrong ini memberi dampak positif seperti mengatasi kesenjangan dalam aktivitas nongkrong dengan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan para pelaku. Sesuai dengan tema yaitu: rethinking tipologi, dengan mengambil salah satu topik yang sedang tren yaitu nongkrong. Berbagai pandangan-pandangan negatif oleh masyarakat mengenai nongkrong dalam kehidupan sehari-hari ini sering terjadi. Pada kenyataannya nongkrong ini memberikan lebih banyak manfaat jika kegiatan nongkrong dapat dibuat berbeda dan lebih terarah sesuai dengan pelaku nongkrong yang ada. Generasi produktif saat ini mendominasi dalam segala bidang kehidupan. Sehingga, perlunya suatu wadah untuk melepaskan stres dan membuat seseorang atau suatu kelompok lebih bahagia sangat berpengaruh untuk kinerja mereka. 
FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI TANGERANG SELATAN Garreth Malcolm Rolland; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16860

Abstract

Jakarta is a city with very rapid population growth, so that Jakarta is a busy, dense, and bustling city. As a result of the existing busyness causes people's health to decline due to lack of exercise. Green open space is getting less and less, as if it doesn't provide a place for people to breathe. Meanwhile, there is a close relationship between space and public health, and how the role of architecture in helping a person's healing process, as well as maintaining the physical and mental health of the community. This study aims to produce a concept and design of a fitness facility building that can assist the community in preventing health decline and overcoming mental fatigue due to busy daily activities. By using a biophilic design approach and incorporating the concept of tourism into a fitness facility, the design will emphasize the connectivity between the environment, buildings and humans both directly and indirectly. So that it can attract people's interest to exercise and help overcome people's mental fatigue. Low-calorie restaurants at the fitness facilities here also play a role in helping to maintain the nutritional balance of the community, because to achieve a healthy and fit lifestyle it must be balanced with a healthy and regular diet. The low-calorie restaurant is surrounded by small gazebos, each of which is used as a food-making process in the low-calorie restaurant. Starting from planting hydroponic vegetables, then washing them, then taking them to the gazebo of the cooking room. There is also a packaging area and a hydroponic vegetable sales area. In addition, there is also a fishing area that aims to release the stress of its users. Keywords: Fitness Facility; Green Open Environment; Public Space; Healthy Life TravelAbstrakJakarta merupakan kota yang pertumbuhan penduduknya sangat pesat, sehingga Jakarta menjadi kota yang sibuk, padat, dan ramai. Akibat kesibukan yang ada menyebabkan kesehatan masyarakat menurun akibat kurang berolahraga. Ruang terbuka hijau pun kian lama semakin berkurang, seakan tidak menyediakan tempat bagi masyarakat untuk bernafas. Sementara itu terdapat kaitan erat antara ruang dan kesehatan masyarakat, dan bagaimana peran arsitektur dalam membantu proses penyembuhan seseorang, serta menjaga kesehatan jasmani maupun kesehatan mental masyarakatnya. Studi ini bertujuan menghasilkan suatu konsep dan rancangan bangunan fasilitas kebugaran yang dapat membantu masyarakat dalam mencegah penurunan kesehatan dan mengatasi lelah mental akibat kesibukan aktivitas sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan biophilic design serta menggabungkan konsep wisata ke dalam fasilitas kebugaran, desain akan menekankan konektivitas antara lingkungan, bangunan dan manusia baik secara langsung dan tidak langsung. Sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk berolahraga serta membantu mengatasi lelah mental masyarakat. Restoran rendah kalori pada fasilitas kebugaran disini juga berperan dalam membantu menjaga keseimbangan gizi masyarakat, karena untuk mencapai pola hidup sehat dan bugar harus diimbangi dengan pola makan yang sehat dan teratur. Restoran rendah kalori dikelilingi oleh gazebo-gazebo kecil yang masing-masing gazebo tersebut difungsikan sebagai proses pembuatan makanan yang ada pada restoran rendah kalori tersebut. Mulai dari penanaman sayur hidroponik, kemudian di cuci, lalu dibawa menuju gazebo ruang masak. Terdapat pula area packaging dan area penjualan sayur hidroponik. Selain itu juga terdapat area pemancingan yang bertujuan untuk melepaskan stress penggunanya.
PEMBAHARUAN DAN PEREMAJAAN RUMAH SAKIT JIWA BERINTEGRASI DENGAN METODE PENYEMBUHAN MODERN Kriselina Julistia Lawira; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16870

Abstract

Nowadays, a person's health is not only seen physically but also mentally and awareness of mental health continues to increase. Therefore, facilities that can support mental health are needed. One of the places that serve and as a place of reference for people with mental problems is a psychiatric hospital. When compared with the factors to support the healing of patients in modern healing, the buildings and rooms of psychiatric hospitals in Indonesia do not support the healing and well-being of patients and their staff. Plus, the existing psychiatric hospital is an old building so it has a design orientation that is not relevant for today. Also, there is a negative stigma that people think psychiatric hospitals are facilities that only treat severe mental disorders. Psychiatric hospitals need to design a new typology that can renew and rejuvenate buildings as an innovation effort that can support patient recovery and help change people's views of psychiatric hospitals. The result of the design is a building that has a triangular shape mass with a radial and centered pattern. Where the building will have a deinstitutionalization orientation which is applied with a biophilic design with the addition of new programs and adjusting the state of the psychiatric hospital program with the psychology of people with mental disorders. Keywords: Triangle Shape; Deinstitutional; Supervision; Healing AbstrakSekarang ini, kesehatan seseorang tidak hanya dilihat secara fisik tetapi juga jiwa dan kesadaran akan kesehatan jiwa pun terus meningkat. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitas- fasilitas yang mampu menunjang kesehatan jiwa. Salah satu tempat yang melayani dan sebagai tempat rujukan orang dengan masalah kejiwaan atau gangguan mental adalah rumah sakit jiwa. Bila dibandingkan dengan faktor-faktor untuk mendukung kesembuhan pasien dalam penyembuhan modern ini, bangunan dan keruangan rumah sakit jiwa di Indonesia kurang mendukung kesembuhan dan kesejahteraan pasien maupun petugasnya. Ditambah, rumah sakit jiwa yang ada saat ini merupakan bangunan tua sehingga memiliki orientasi rancangan yang tidak relevant untuk masa sekarang. Serta, adanya stigma negatif masyarakat yang beranggapan rumah sakit jiwa merupakan fasilitas yang hanya menangani gangguan jiwa yang berat. Rumah sakit jiwa memerlukan perancangan tipologi baru yang dapat memperbaharui dan meremajakan bangunan sebagai upaya inovasi yang mampu mendukung kesembuhan pasien dan membantu mengubah pandangan masyarakat terhadap rumah sakit jiwa. Hasil dari perancangan merupakan bangunan yang memiliki massa dasar berbentuk segitiga degan pola radial dan memusat. Dimana bangunan akan memiliki orientasi deintitusionalisasi yang diterapkan dengan biofilik desain dengan penambahan program baru dan menyesuaikan 
CHROMA TRANS-PUAN : RUANG KOMUNITAS DAN REFLEKSI DIRI Khalik Arif Thahara; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16934

Abstract

Transwomen or what we usually hear as transgender, becong or sissy are humans who are born with male sex but they choose a different way of life from men in general. These different choices of way of life often get discriminatory actions against trans women, acts of discrimination against trans women continue to increase every year. This shows that it is difficult for them to find a safe place for them, by rethinking the typology to build a safe space and community center for them. By combining the typology of safe space, post-traumatic design & phenomenology taken from the lifestyle of transwomen who live communally, it is an effort to build a community place for them to develop and feel safe through architectural media. Chroma is an embodiment of a user's perspective on trans women where they can reflect on themselves that trans women are just like them, humans. Keywords:  Trans woman; Discrimination; Safe Space; Chroma; Self Reflection AbstrakTranspuan atau yang biasa kita dengar dengan sebutan waria, bencong atau banci merupakan manusia yang terlahir dengan jeis kelamin laki-laki namun mereka memilih jalan hidup yang berdeda dengan laki-laki pada umumnya. Pilihan jalan hidup yang berbedea ini kerap mendapatkan tindakan diskriminatif terhadap kaum transpuan, tindakan diskriminasi terhadap kaum transpuan terus meningkat setiap tahunya. Hal ini menunjukan bahawa mereka sulit menemukan tempat aman bagi mereka, dengan berfikir ulang tentang tipologi untuk membangun sebuah safe space dan community centre untuk mereka.  Dengan menggabungkan tipologi dari safe space, post traumatic design & fenomenologi yang diambil dari pola hidup transpuan yang hidup secara communal merupakan sebuah upaya untuk membangun sebuah tempat komunitas untuk mereka berkembang dan merasakan aman melalui media arsitektur. Chroma merupakan sebuah perwujudan dari sebuah perspektif pengguna terhadap transpuan dimana mereka dapat merefleksikan diri bahwa transpuan juga sama sperti mereka, manusia. 
REVITALISASI PERMUKIMAN KUMUH KAMPUNG PULO, KECAMATAN KAMPUNG MELAYU, JAKARTA TIMUR Ziyad Fauzi Na'im; Budi A. Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16906

Abstract

Slums are synonymous with advanced cities, especially the city of Jakarta, from the many beauty and progress that exist, it has many problems, one of which is the arrangement of slum settlements which are still widely spread in important areas such as the economic center, one of which is Kampung Pulo which is in the economic center of East Jakarta and also has a special plan to be developed, while previously in 2015 there were clashes due to the plan for relocation of settlements on the banks of the Ciliwung river besides that many of those who had been relocated did not feel better with their lives even though they lived in new, better buildings and cleaner. The problem is the location of their settlement which is on the banks of the Ciliwung river so that it does not have an infiltration area in the Kampung Pulo settlement. To solve this problem, the government has prepared land for the new Kampung Pulo settlement so that the existing problems in this area can be reduced or eliminated, one of which is flooding in the Kampung Pulo settlement. they are alive and do not have a negative impact on the environment and the Ciliwung river. There has been a lot of research approach data about Kampung Pulo regarding their way of life on the Ciliwung river so that it can be applied to the completion of the revitalization of the new Kampung Pulo settlement in an area that has been planned by the government by using a typology analysis of settlement architecture so that it can be a solution for designing the revitalization of Kampung Pulo.  Keywords:  Revitalitation ; Slum Houses; Typology  Abstrak Permukiman kumuh identik dengan perkotaan yang maju terutama kota Jakarta dari sekian banyak keindahan dan kemajuan yang ada memiliki banyak permasalahan di dalamnya salah satunya penataan permukiman kumuh yang masih banyak tersebar di area penting seperti pusat perekonomian salah satunya Kampung Pulo yang berada di pusat perekonomian Jakarta Timur dan juga memiliki perencanaan khusus untuk di kembangkan, sementara sebelumnya pada tahun 2015 sempat terjadi bentrok akibat rencana relokasi permukiman di bantaran kali Ciliwung ini selain itu banyak dari mereka yang telah terelokasi tidak merasa lebih baik dengan kehidupan mereka walaupun mereka tinggal di bangunan baru yang lebih baik dan lebih bersih. Permasalahan pada lokasi permukiman meraka yang berada di bantaran sungai Ciliwung sehingga tidak memiliki area resapan pada permukiman Kampung Pulo. Untuk menyelesaikan permasalahan ini pemerintah telah mempersiapkan lahan untuk pemrukiman Kampung Pulo yang baru sehingga permasalahan yang ada pada area ini bisa dikurangi ataupun dihiklangkan salah satunya banjir langanan pada permukiman Kampung Pulo.Pendekatan kebiasaan hidup mereka perlu diperhatikan untuk bisa membentuk ruang kampung yang baru sehingga mendukung cara mereka hidup dan tidak memberikan dapak negatif pada lingkungan dan sungai Ciliwung. Sudah banyak data pendekatan penelitian tentang kampung Pulo ini mengenai cara hidup mereka di batarana sungai Ciliwung sehingga bisa terapkan pada penyelesaian revitalisasi permukiman Kampung Pulo yang baru di area yang sudah direncanakan oleh pemerintah dengan penggunaan analisa tipologi arsitektur permukiman sehingga bisa menjadi solusi untuk perancangan revitalisasi Kampung Pulo.
ARSITEKTUR BIOFILIK DALAM DESAIN KANTOR INDUSTRI KREATIF DI JAKARTA SELATAN Muhammad Daffa Ramada Yunasz; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16916

Abstract

In the era of the pandemic, the office system underwent a change to become a more flexible office. Working virtually has made humans and of course office workers adapt and provide a lot of benefits, but there is a negative side that is quite influential, one of which is because of social inequality, not everyone has a comfortable and healthy workspace, all activities are carried out in the workspace, during long working days. Not everyone has access to easy outdoor spaces, such as balconies, or in the form of greenscape, these spaces are areas that are rarely stepped on. One of those who are directly affected by this phenomenon is related to the creative industry in Indonesia, an industry that utilizes creativity and skills. Most of the office workers are Generation Y or the “Millennial” generation. If neglected, it will not be good for the welfare of office workers in the long term. Therefore, the design for this project is expected to connect the workspace and outdoor space, and achieve a better aspect of the office work system. Synthesizing architectural typology methods with biophilic designs namely the approach of human needs to connect with nature, resulting in new typologies. In addition to office space as the main function, variations of other activities and programs are also formed, as well as strong interactions with relationships with outside spaces, so that the desired goals can be achieved on a micro scale (indoor space). macro (outdoor space), and form an appropriate typology for the future office context (post-pandemic) which can achieve good goals for the welfare of office workers in the long term. Keywords:  Biophilic ; Creative Industry; Social Inequality; WFHABSTRAKPada era pandemi sistem kantor mengalami perubahan menjadi kantor yang lebih fleksibel. Bekerja secara virtual sudah membuat manusia dan tentunya pekerja kantoran beradaptasi dan memberikan banyak sekali manfaat, tetapi ada sisi negatifnya yang cukup berpengaruh, yaitu salah satunya karena kesenjangan sosial, tidak semua orang memiliki ruang kerja yang nyaman dan sehat, segala aktivitas dilakukan di ruang kerja, selama hari kerja yang panjang. Tidak semua orang memiliki akses ke ruang luar yang mudah, seperti balkon, atau berupa greenscape, ruang tersebut menjadi area yang jarang di pijak. Salah satu yang terdampak langsung dengan fenomena ini terkait bidang industri kreatif di Indonesia, yaitu industri yang memanfaatkan kreativitas dan keterampilan. Para pekerja kantorannya rata-rata merupakan generasi Y atau generasi “Milenial”. Bila diabaikan, akan tidak baik bagi  kesejahteraan pekerja kantor dalam jangka panjang. Oleh karena itu, desain untuk proyek ini diharapkan dapat menghubungkan ruang kerja dan ruang luar, serta mencapai aspek dari sistem kerja kantor yang lebih baik. Mensintesiskan metode tipologi arsitektur dengan desain biofilik yaitu pendekatan kebutuhan manusia untuk terhubung dengan alam, menghasilkan tipologi baru. Selain ruang kantor sebagai fungsi utama, dibentuk juga variasi dari aktivitas dan program lainnya, serta interaksi yang kuat terhadap hubungan dengan ruang luar, sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai untuk skala mikro (ruang dalam), makro (ruang luar), dan membentuk tipologi yang sesuai untuk konteks kantor kedepannya (post-pandemic) yang dapat memperoleh tujuan baik bagi kesejahteraan pekerja kantor dalam jangka panjang.
RENCANA PENGELOLAAN KAWASAN PARIWISATA DI DESA WISATA NAWUNG, KECAMATAN PRAMBANAN, KABUPATEN SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM) Nada Utari Putri; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17389

Abstract

Indonesia has a lot of tourism objects that have the potential to be develope. The tourism is the main sector that has the potential in each region, this is expected to be an economic enhancer and can encourage economic growth for the country. Nawung Tourism Village, located in Sleman Regency, Prambanan District, Gayamharjo Village, and the part of tourist village objects contained in the government program, that is Prambanan National Tourism Strategic Area - Kalasan. Nawung Tourism Village used the concept of Community Based Tourism (CBT) where the participation of local communities in develope and manage tourism objects to success. However, the management of tourism objects in the Nawung Tourism Village has not been going well since the time was inaugurated, the management is only carried out by some local communities without involving existing organizations. Therefore, the purpose of this research is to analyze the form of management based on Community Based Tourism (CBT) that is appropriate and can be applied to the object of Nawung Tourism Village. This is a descriptive research with quantitative and qualitative approaches, where quantitative data collection is done by filling out questionnaires by visitors, while qualitative collection is carried out by conducting field surveys to the location of the study object and conducting in-depth interviews with several stakeholders in the Nawung Tourism Village. The results of this study are to provide recommendations for appropriate management to can be applied to the object of Nawung Tourism Village. Keywords:  Community Based Tourism; Management Plan; Nawung Tourism Village; PokdarwisAbstrakIndonesia memiliki banyak sekali objek wisata yang menjadi potensi untuk dapat dikembangkan. Sektor pariwisata ini menjadi sektor utama yang sangat berpotensi untuk melakukan pengembangan pada objek wisata di setiap daerah, hal ini diharapkan dapat menjadi penambah perekonomian dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi bagi negara. Desa Wisata Nawung berlokasi di Kabupaten Sleman, Kecamatan Prambanan, Kelurahan Gayamharjo ini merupakan salah satu objek desa wisata yang terdapat pada pada program pemerinta yaitu pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Prambanan – Kalasan. Desa Wisata Nawung sendiri menggunakan konsep Community Based Tourism (CBT)  dimana konsep tersebut membutuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam mengembangkan dan mengelola objek wisata hingga berhasil. Akan tetapi, pengelolaan objek wisata pada Desa Wisata Nawung sendiri masih belum berjalan dengan baik sejak saat diresmikannya, pengelolaan hanya dilakukan oleh beberapa masyarakat setempat tanpa melibatkan organisasi-organisasi yang ada. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk pengelolaan berbasis Community Based Tourism (CBT) yang tepat dan dapat diterapkan pada objek Desa Wisata Nawung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dimana pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh pengunjung, sedangkan pengumpulan kualitatif dilakukan dengan melakukan survey lapangan ke lokasi objek studi dan melakukan wawancara mendalam pada beberaoa stakeholder yang ada di objek Desa Wisata Nawung. Hasil dari penelitian ini yaitu memberikan rekomendasi pengelolaan yang tepat agar dapat diterapkan pada objek Desa Wisata Nawung.