cover
Contact Name
Rika Puspita Sari MZ
Contact Email
rika_puspita@um-palembang.ac.id
Phone
+6282281007455
Journal Mail Official
jurnalediblefpump@gmail.com
Editorial Address
Jl. A. Yani 13 Ulu Palembang telp (0711)511731 email : edible@um-palembang.ac.id http://jurnal.um-palembang.ac.id/edible
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Edible : Jedb
ISSN : 23014199     EISSN : 24432113     DOI : https://doi.org/10.32502/jedb.v9i1
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Edible discusess the relust of agricultural research in the field of food science and technology. Jurnal ini membahas tentang hasil-hasil penelitian pertanian di bidang ilmu dan teknologi pangan, Seperti : Pasca Panen,Pengolahan Pangan, Rekayasa Pangan, Gizi Pangan , Mikrobiologi Pangan Serta Pangan lainnya yang belum disebutkan. Merupakan hasil dari penelitian dosen Fakultas Pertanian UM Palembang dan penulis dari luar Universitas Muhammadiyah Palembang.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2012): Edible" : 8 Documents clear
PENERAPAN MANAJEMEN MUTU: TAPE UBI KAYU DALAM KEMASAN BAMBU Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.481

Abstract

Tapai Ubi kayu merupakan produk pangan fermentasi yang merupakan salah satu jenis pengolahan modern yang minimal kehilangan nutria dalam proses dan maksimal dalam ketersediaan nutrisi yang dapat diserap tubuh. Kenyataannya masih banyak produksi pangan fermentasi termasuk tapai ubi kayu yang diproses secara tradisional. Proses fermentasi ubi kayu secara tradisional sering dikaitkan dengan higinitas dan sanitasi yang rendah. Kemasan tapai ubi kayu juga menjadi perhatian karena tidak beranjak dari daun dan plastik, sehingga tidak mampu menahan tekanan. Oleh karena itu ditawarkan konsep manajemen mutu dan kemasan yang sederhana, elegan dan memenuhi criteria fungsi kemasan yaitu kemasan bambu.
MEMPELAJARI KONDISI PENYIMPANAN DAN JENIS KEMASAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA UBI JALAR (Ipomea batatas Lamb) Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.482

Abstract

Kerusukan pasca panen sangat berbeda dan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor -faktor dalam bahan pangan seperti klon,umur panen,dan juga faktor luar seperti kelembaban,suhu ruang penyimpanan dan kecepatan aliran udara. Prosedur kerja penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu sebagai berikut: 1) ubi jalar disortasi berdasarkan ukuran, kemudian dicuci bersih dan ditimbang dengan  berat tiap perlakuan adalah 1 kg. Kemudian ubi jalar dimasukkan dalam kemasan plastik polypropilen (K1), kantong polybag warna hitam (K2) dan karung goni (K3) kemudian dilakukan penyimpanan pada kondisi ruangan gelap (T1) dan ruangan terang (T2). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar air tertinggi  terdapat pada perlakuan T1K1 (89,520%), kadar air terendah pada T2K3 (74,450%), Rata-rata kadar gula  tertinggi  terdapat pada perlakuan T2K3 (8,804%), kadar gula terendah pada T1K1 (7,267 %). Rata-rata kerusakan tertinggi terdapat pada T2K3 (43,254%) dan terendah pada T1K1 (36,416 %).Hasil uji organoleptik tertinggi terhadap warna ubi jalar  terdapat pada T1K1 (3,196), terendah pada T2K3 (2,647). Hasil uji organoleptik terhadap rasa ubi jalar  terdapat pada T2K2 (3,380), terendah pada T1K1 (2,681)
PENAMBAHAN ASAM DAN JENIS ASAM TERHADAP CITARASA DAN VITAMIN C CUKA PEMPEK Alhanannasir, Alhanannasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.478

Abstract

Penelitian bertujuan untuk Mengetahui pengaruh penambahan asam sebelum dan sesudah pemanasan terhadap citarasa dan vitamin C cuka pempek, mengetahui pengaruh penambahan jenis asam terhadap citarasa dan vitamin C cuka pempek, dan mengetahui pengaruh interaksi penambahan asam sebelum dan sesudah pemanasan dan jenis asam terhadap citarasa dan vitamin C cuka pempek. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang berlangsung dari bulan Juli sampai bulan Desember 2010. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan penambahan asam (A) dan jenis asam (J) dengan enam kombinasi perlakuan dan tiga kali ulangan. Pengamatan meliputi uji organoleptik dan analisis kimia. Uji organoleptik meliputi rasa dan aroma sedangkan analisis kimia meliputi vitamin C, dan pH. Perlakuan penambahan asam (A) berpengaruh sangat nyata terhadap vitamin C dan pH. Nilai rata–rata terendah kadar vitamin C dan pH masing-masing vitamin C 3.465 pada perlakuan A1 (sebelum pemanasan) dan pH 4.722 perlakuan A2 (setelah pemanasan), nilai rata–rata tertinggi kadar vitamin C dan pH masing-masing vitamin C 6.269 pada perlakuan A2 dan pH 4.889 pada perlakuan A1. Perlakuan jenis asam (J) berpengaruh sangat nyata terhadap vitamin C dan pH. Nilai rata–rata terendah kadar vitamin C dan pH masing-masing vitamin C 2.661 pada perlakuan J1 (asam jawa) dan pH 4.68 perlakuan J2 (jeruk kunci), nilai rata–rata tertinggi kadar vitamin C dan pH masing-masing vitamin C 6.614 pada perlakuan J2 dan pH 4.87 pada perlakuan J1 dan J2. Perlakuan Interaksi perlakuan penambahan asam (A) dan perlakuan jenis asam (J) terhadap vitamin C berpengaruh sangat nyata dan terhadap pH berpengaruh tidak nyata.  Nilai rata–rata terendah kadar vitamin C dan pH masing-masing vitamin C 2.353 pada perlakuan A1J1 dan pH 4.6 perlakuan A2J2, nilai rata–rata tertinggi kadar vitamin C dan pH masing-masing vitamin C 8.666 pada perlakuan A2J2 dan pH 4.93 pada perlakuan A1J1. Untuk uji organoleptik tingkat kesukaan rasa berpengaruh nyata terhadap  cuka pempek dan berpengaruh tidak nyata terhadap aroma cuka pempek. Panelis menyatakan suka (3.1) sampai sangat suka (3.8) terhadap rasa cuka pempek.  Panelis menyatakan agak suka (2.6) sampai  suka (2.8) terhadap aroma cuka pempek.
PENGGUNAAN FERMENTASI DAN JENIS JERUK UNTUK MENGURANGI BAU LANGU DAN ASAM SITRAT CUKA PEMPEK Alhanannasir, Alhanannasir; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.483

Abstract

Penelitian bertujuan untuk Mengetahui pengaruh penambahan asam sebelum dan sesudah pemanasan terhadap bau langu dari citarasa dan asam sitrat cuka pempek, mengetahui pengaruh penambahan fermentasi terhadap bau langu dari citarasa dan asam sitrat cuka pempek, dan mengetahui pengaruh interaksi fermentasi dan jenis asam terhadap bau langu dari citarasa dan asam sitrat cuka pempek. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang berlangsung dari bulan Agustus 2011 sampai bulan Januari 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan lama fermentasi (L) dan jenis asam (J) dengan enam kombinasi perlakuan dan tiga kali ulangan. Pengamatan meliputi uji organoleptik dan analisis kimia. Uji organoleptik meliputi rasa dan aroma sedangkan analisis kimia meliputi asam sitrat.Perlakuan jenis asam (J) berpengaruh sangat nyata terhadap asam sitrat. Nilai rata – rata terendah kandungan asam sitrat pada perlakuan J1 yaitu 3,544 dan nilai rata – rata tertinggi kandungan asam sitrat pada perlakuan J1 yaitu 4,182.  Perlakuan lama fermentasi (L) berpengaruh sangat nyata terhadap asam sitrat . Nilai rata – rata terendah kadar asam sitrat yaitu 3,284 (L3)   nilai rata – rata tertinggi kandungan asam  sitrat 4,551 (L1).  Interaksi perlakuan jenis asam dan lama fermentasi berpengaruh sangat nyata asam sitrat cuka pempek.  Nilai rata – rata terendah  kandungan asam sitrat pada perlakuan J2L3 yaitu 2,893, nilai rata – rata tertinggi kandungan asam sitrat pada perlakuan J1L1 yaitu 4,745. Untuk uji organoleptik terhadap tingkat kesukaan rasa dan aroma berpengaruh nyata. Panelis menyatakan agak suka denga  kriteria 3.1 (J1L1) sampai   suka dengan kriteria 3.6 (J2L3) terhadap rasa cuka pempek.  Panelis menyatakan agak suka dengan kriteria 3,05 (J1L1) dan 3,15 (J1L2) terhadap aroma cuka pempek.
PENGARUH WAKTU PELAYUAN DAN SUHU PENGERINGAN PADA PEMBUATAN TEH DAUN ROSELA AD, Adi Saputera; Suyatno, Suyatno; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.479

Abstract

Teh merupakan minuman yang sangat populer di dunia. Biasanya teh dibuat dengan mengeringkan pucuk daun teh. Nama latin rosela adalah Hibicus sabdariffa L. Hibicus termasuk tanaman tropis yang tumbuh tahunan. Daun, bunga dan biji rosela memiliki kandungan gizi yang begitu baik sehingga rosela tidak hanya berpotensi untuk bahan baku industri makanan, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, minuman tradisional, pewarna alami dan kosmetik. Tetapi selama ini yang dimanfaatkan hanya kelopak bunganya, sedangkan daunnya dibiarkan saja. Untuk itu perlu dilakukan pemanfaatan daun rosela menjadi teh daun rosela. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pelayuan dan suhu pengeringan teh daun rosela. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai Februari 2012 di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang.Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial terdiri dari sembilan perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Masing-masing perlakuan adalah waktu pelayuan (L) terdiri dari 16 jam, 20 jam, 24 jam dan suhu pengeringan (S) 50oC, 60oC, 70oC.Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air, kadar vitamin C, sedangkan uji fisik meliputi waktu seduh, dan uji organoleptik terdiri dari warna, aroma dan rasa pada  dau teh yang sudah diseduh.Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pelayuan dan suhu pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan kadar vitamin C tetapi interaksinya berpengaruh tidak  nyata terhadap kadar air dan kadar vitamin C.Penilaian uji fisik menunjukkan bahwa waktu pelayuan dan suhu pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap warna dan berpengaruh sangat nyata terhadap interaksinya .Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa interaksi perlakuan L1S1 (16 jam pelayaun dan suhu pengeringan 50oC) menghasilkan teh daun rosela terbaik dengan kadar air (9,321%), kadar vitamin C (27,926mg/100g), waktu seduh (6,39 menit), warna (3,76), aroma (3,42) dan rasa (3,96) dengan kriteria agak disukai.
PENGARUH PERBANDINGAN DAUN DAN KELOPAK BUNGA ROSELA PADA PEMBUATAN “Rosela Blended Tea” Meriyanto, Habibi; Murtado, A.D.; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.484

Abstract

Nama latin rosela adalah Hibicus sabdariffa L. Hibicus termasuk tanaman tropis yang tumbuh tahunan. Daun, bunga dan biji rosela memiliki kandungan gizi yang begitu baik sehingga rosela tidak hanya berpotensi untuk bahan baku industri makanan, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, minuman tradisional, pewarna alami dan kosmetik. Salah satu pemanfaatan daun dan kelopak bunga rosela adalah pembuatan “rosela blended tea”. Rosela blended tea adalah teh rosela yang dibuat dari kelopak bunga dan daun rosela, melalui proses blanching, pelayuan, pengeringan, dan pengecilan ukuran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbandingan daun dan kelopak bunga rosela pada pembuatan “rosela blended tea”. Menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non faktorial dengan faktor perlakuan perbandingan daun rosela dan kelopak bunga rosela yang terdiri dari enam tingkat faktor perlakuan dan diuji sebanyak empat kali. Dengan masing-masing perlakuan adalah R0 (100% Daun rosela dan 0% kelopak bunga rosela), R1( 90% Daun rosela dan 10% kelopak bunga rosela), R2 (80% Daun rosela dan 20% kelopak bunga rosela), R3 (70% Daun rosela dan 30% kelopak bunga rosela) R4 (60% Daun rosela dan 40% kelopak bunga rosela), R5 (50% Daun rosela dan 50% kelopak bunga rosela). Parameter yang diamati dalam penelitian ini untuk analisis kimia adalah kadar air, kadar abu dan vitamin C. Sedangkan untuk uji Organoleptik meliputi rasa, Warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan daun dan kelopak bunga rosela berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar vitamin C. Penilaian uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan daun dan kelopak bunga rosela berpengaruh nyata terhadap rasa, aroma dan warna teh “rosela blended tea”. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perlakuan R3 menghasilkan teh “rosela blended tea” terbaik dengan kadar air (8,610%),kadar abu (5,544), kadar vitamin C (26,062/100g), rasa (3,62), dan aroma (3,45), warna (1,63) dengan kriteria agak disukai sampai disukai oleh panelis
PENGARUH BLANSIR DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP TEPUNG TEMPE YANG DIHASILKAN Rahmatullah, Dian Agung; Dasir, Dasir; Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.480

Abstract

Tempe merupakan produk fermentasi yang tidak dapat bertahan lama. Tempe difermentasikan oleh kapang Rhizophus sp. Setelah terjadi proses fermentasi, nilai gizi protein tempe meningkat karena terjadinya pembebasan asam amino oleh aktifitas enzim proteolitik dari tempe. Permasalahannya dalam pemanfaatan tempe sebaga bahan pangan adalah sifatnya yang mudah rusak dan hanya bertahan sampai 2 hari penyimpanan. Untuk itu perlu dilakukan diversifikasi tempe menjadi produk yang tahan lama dan mudah disubtitusi ke bahan makanan lainnya untuk meningkatkan proteinnya dengan cara merubah tempe menjadi tepung tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Blansir dan Lama Pengeringan terhadap Tepung Tempe yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial terdiri dari sembilan perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Masing-masing perlakuan adalah Blansir selama 3 menit, 5 menit, 7 menit dan lama pengeringan 6 jam, 8 jam dan 10 jam. Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar protein, kadar air dan kadar abu, sedangkan organoleptik terdiri dari warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blansir berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan kadar air tepung tempe, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu. Lama pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein, kadar air dan kadar abu tepung tempe. Interaksi blansir dan lama pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan berpengaruh nyata terhadap kadar abu, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu tepung tempe.Penilaian organoleptik menunjukkan bahwa blansir dan lama pengeringan berpengaruh nyata terhadap warna dan aroma tepung tempe. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa interaksi perlakuan B1L3 (7 menit dan lama pengeringan 10 jam) menghasilkan tepung tempe terbaik dengan kadar protein (37,918g/100g), kadar air (11,750%), kadar abu (2,318%), warna (3,49) dan aroma (3,33) dengan kriteria disukai.
MEMPELAJARI PENGARUH PERBANDINGAN BUAH PEPAYA DAN KELOPAK ROSELA SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SAUS “CASELA” Putra, Adhe Dharma; Muchsiri, Mukhtarudin; Yani, Ade Vera
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.485

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan buah pepaya dan kelopak rosela sebagai bahan baku pembuatan saus “casela”. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara non faktorial terdiri dari enam tingkat faktor perlakuan dan diuji sebanyak empat kali. Dengan masing-masing perlakuan adalah R0 (100% buah pepaya dan 0% kelopak rosela), R1 (90% buah pepaya dan 10% kelopak rosela), R2 (80% buah pepaya dan 20% kelopak rosela), R3 (70% buah pepaya dan 30% kelopak rosela), R4 (60% buah pepaya dan 40% kelopak rosela) dan R5 (50% buah pepaya dan 50% kelopak rosela). Parameter yang diamati terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air dan kadar vitamin C, uji fisik yaitu tingkat kekentalan. Sedangkan uji organoleptik terdiri dari rasa, warna, dan aroma. Hasil penelitian, bahwa perbandingan buah pepaya dan kelopak rosela berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar vitamin C dan tingkat kekentalan. Penilaian uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan buah pepaya dan kelopak rosela berpengaruh nyata terhadap rasa, warna, dan aroma saus “casela”. Perlakuan R2 menghasilkan saus “casela” terbaik dengan kadar air (60,109%), kadar vitamin C (12,135mg/100g), tingkat kekentalan (15,30cPs), rasa (3,95), warna (4,14) dan aroma (3,69) dengan kriteria agak disukai sampai disukai oleh panelis.

Page 1 of 1 | Total Record : 8