cover
Contact Name
Rika Puspita Sari MZ
Contact Email
rika_puspita@um-palembang.ac.id
Phone
+6282281007455
Journal Mail Official
jurnalediblefpump@gmail.com
Editorial Address
Jl. A. Yani 13 Ulu Palembang telp (0711)511731 email : edible@um-palembang.ac.id http://jurnal.um-palembang.ac.id/edible
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Edible : Jedb
ISSN : 23014199     EISSN : 24432113     DOI : https://doi.org/10.32502/jedb.v9i1
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Edible discusess the relust of agricultural research in the field of food science and technology. Jurnal ini membahas tentang hasil-hasil penelitian pertanian di bidang ilmu dan teknologi pangan, Seperti : Pasca Panen,Pengolahan Pangan, Rekayasa Pangan, Gizi Pangan , Mikrobiologi Pangan Serta Pangan lainnya yang belum disebutkan. Merupakan hasil dari penelitian dosen Fakultas Pertanian UM Palembang dan penulis dari luar Universitas Muhammadiyah Palembang.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2013): Edible" : 10 Documents clear
UJI PERBANDINGAN EKSTRAK ASAM JAWA DAN JERUK KUNCI PADA PEMBUATAN CUKA PEMPEK Nurman, Nurman; Suyatno, Suyatno; Alhanannasir, Alhanannasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.518

Abstract

Panganan pempek selalu disajikan bersama saos berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko. Cuka pempek dibuat dari air yang didihkan, kemudian ditambahkan air gula, udang ebi, cabe rawit tumbuk, bawang putih dan garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan ekstrak asam jawa dan jeruk kunci pada pembuatan cuka pempek. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhamadiyah Palembang pada bulan September 2012 Sampai dengan april 2013. Dalam peneltian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non faktorial dengan empat tingkat faktor perlakuan dan di ulang sebanyak lima kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah analisis kimia kadar vitamin C. Sedangkan uji indrawi meliputi rasa dan aroma. Perlakuan perbandingan ekstrak asam jawa dan jeruk kunci berpengaruh sangat nyata terhadap kadar vitamin C dan pH serta uji organoleptik berpengaruh nyata terhadap rasa dan aroma cuka pempek. Dari hasil penelitian kadar vitamin C tertinggi terdapat pada perlakuan A4 (ekstrak asam jawa 20% dan jeruk kunci 80% ) dengan nilai rata-rata 3,238 mg/100g dan pH tertinggi terdapat pada perlakuan A1 Sedangkan kadar Vitamin C terendah terdapat pada perlakuan A1 (ekstrak asam jawa 80% dan jeruk kunci 20% ) dengan nilai rata-rata 1,859 mg dan pH terendah terdapat pada perlakuan A4 (ekstrak asam jawa 20% dan jeruk kunci 80% ) dengan nilai rata-rata 4,44 mg. Hasil penelitian menunjukan Nilai tingkat kesukaan tertinggi terhadap rasa dan aroma cuka pempek terdapat pada perlakuan A4 (ekstrak asam jawa 20% dan jeruk kunci 80%) dengan nilai rata-rata 3,80 dan 3,64 (kriteria agak disukai). Sedangkan Nilai tingkat kesukaan terendah terhadap rasa dan aroma cuka pempek terdapat pada perlakuan A1 (ekstrak asam jawa 80% dan jeruk kunci 20%) dengan nilai rata-rata 3,10 (kriteria agak disukai). dan 2,99 (kriteria tidak disukai). Dalam pembuatan cuka pempek sebaiknya menggunakan perlakuan A4 (ekstrak asam jawa 20% dan jeruk kunci 80%). Perlakuan A4 menghasilkan cuka pempek yang disukai oleh panelis.
KEHILANGAN VITAMIN C PADA CUKA PEMPEK AKIBAT PENYIMPANAN DARI PERLAKUAN PENAMBAHAN ASAM DAN JENIS ASAM Alhanannasir, Alhanannasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.486

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan  terhadap  kandungan vitamin C pada cuka pempek dari perlakuan jenis jeruk dan penambahan asam, dan untuk mengetahui pengaruh  lama penyimpanan  terhadap kehilangan vitamin C. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang berlangsung dari bulan April sampai bulan September 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan penambahan asam (A) dan jenis asam (J) dengan enam kombinasi perlakuan dan tiga kali ulangan. Pengamatan meliputi Vitamin C saat sudah dibuat atau proses dan setelah penyimpanan selama 6 hari. Perlakuan penambahan asam (A) berpengaruh sangat nyata terhadap vitamin C. Nilai rata-rata tertinggi kadar vitamin C 1,169 pada perlakuan A2 (setelah pemanasan) dan, nilai rata-rata terendah kadar vitamin C 0,967 pada perlakuan A1.  Perlakuan jenis asam (J) berpengaruh sangat nyata terhadap vitamin C. Nilai rata-rata tertinggi kadar vitamin C 1,338 pada perlakuan J2 (jeruk kunci), nilai rata-rata terendah kadar vitamin C 0,751 pada perlakuan J3 (jeruk lemon). Perlakuan kombinasi perlakuan penambahan asam (A) dan perlakuan jenis asam (J) terhadap vitamin C berpengaruh tidak nyata dan terhadap vitamin C.  Nilai rata-rata terendah kadar vitamin C 0,627 pada perlakuan A1J3, nilai rata-rata tertinggi kadar vitamin C 1,465 pada perlakuan A2J2.
KARAKTERISTIK SENSORIS PERMEN “PANDANUS HARD CANDY” DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PANDAN Iswandi, Donni; Murtado, AD; Domonita, Heni
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.519

Abstract

This study aims to determine the range of concentrations of pandan leaf extract against candy "pandanus hard candy". This research has been carried out in the Laboratory of the Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang October 2012 to April 2013. This research method using a randomized block design arranged in a non-factorial consisted of five treatments extraction repeated five times with each treatment is D1 (pandan extract 5 ml, glucose syrup 350g, 190 g sugar, and margarine 5 g), D2 (pandan extract 10 ml, glucose syrup 350g, 190 g sugar, and margarine 5 g), D3 (15 ml pandan extract, glucose syrup 350g, 190 g sugar, and margarine 5 g), D4 (pandan extract 20 ml , glucose syrup 350g, 190 g sugar, and margarine 5 g), and D5 treatment (25 ml pandan extract, glucose syrup 350g, 190 g sugar, and margarine 5 g). Parameters observed in the study consisted of chemical analysis covering the water content and vitamin C, while sensory consists of color and flavor. The results showed that the formulation very significant effect on the moisture content, vitamin C. Organoleptic assessment showed that the formulation significantly affect the flavor, color, "Pandanus Hard Candy". From the results of the study concluded that D5 treatment produces candy "Pandanus Hard Candy" with the best water content (2,169%), vitamin C (4,359 mg/100g), color (4,00), aroma (3,66) and the sense of (3,76) with the criteria somewhat favored until as well as preferred by the panelists.
PERBANDINGAN SIRSAK DAN TEPUNG KETAN PADA DODOL SIRSAK YANG DIHASILKAN Tahufik, Ahmad Mada; Murtado, A.D.; Suyatno, Suyatno
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.517

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perbandingan sirsak dan tepung ketan dalam pembuatan dodol sirsak yang baik. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang pada bulan Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara non faktorial terdiri dari tiga tingkat faktor perlakuan dan diuji sebanyak lima kali. Dengan masing-masing perlakuan F1 (20% daging sirsak+40% tepung ketan+10% santan kelapa+30% gula merah), F2 (30% daging sirsak+30% tepung ketan+10% santan kelapa+30% gula merah) dan F3 (40% daging sirsak+20% tepung ketan+10% santan kelapa+30% gula merah). Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air, kadar gula dan kadar vitamin C. Sedangkan uji organoleptik terdiri dari warna, rasa dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sirsak dan tepung ketan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar gula dan kadar vitamin C. Penilaian uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan sirsak dan tepung ketan berpengaruh nyata terhadap warna, rasa dan tekstur dodol sirsak yang dihasilkan. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perlakuan F3 menghasilkan dodol sirsak terbaik dengan kadar air (26,564 %), kadar gula (41,591 %) dan kadar vitamin C (10,933 mg/100g), warna (3,23), rasa (3,23), dan tekstur (3,58) dengan kriteria agak disukai oleh panelis.
ANALISIS PERBANDINGAN KUALITAS CUKO PEMPEK ASAM ASETAT DAN ASAM LAKTAT Gunawan, Edi; Murtado, A.D.; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.487

Abstract

This research used a completely randomized design (CRD) arranged Factorially which consists of six units experiment were repeated three times with each unit experiment A1 (200 ml acetic acid), A2 (250 ml acetic acid), A3 (300 ml acetic acid), A4 (200 ml lactic acid), A5 (lactic acid 250 ml), and A6 (300 ml lactic acid). The parameters which observed in this research consists of acid total, acidity, sugar total, and viscosity. The organoleptic consists of color, flavour and taste. The results showed that the acetic concentration and lactic acid was very  significant effect to the acid total, acidity, sugar total and viscosity. The organoleptic test showed that the acetic acid comparation and lactic acid have significantly effect for color, flavor and taste of cuko pempek. The conclution from this research showed that A2 unit experiment has the best result with acid total (2.38), acidity (4.54), sugar total (29.50), viscosity (1.01), color (3.24), flavour (3.08) and taste (3.36) which has grade three.
ANALISIS PERBANDINGAN CUKO PEMPEK DARI ASAM LAKTAT DAN YAKULT Wahyono, Lilik; Muchsiri, Mukhtarudin; Yani, Ade Vera
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.520

Abstract

The objective of this research to determine the optimally concentration of lactic acid and yakult to make cuko pempek. This research has done in the laboratory Agriculture Faculty of Muhammadiyah University Palembang it started from December 2012 to April 2013. This research used Completely Randomized Design (CRD) are arranged in Factorial which consists of six unit experiments were repeated three times for each treatment is A1 (lactic acid 200 ml concentration), A2 (lactic acid 250 ml concentration), A3 (lactic acid 300 ml concentration), A4 (yakult 200 ml concentration), A5 (yakult 250 ml concentration), and the treatment of A6 (yakult 300 ml concentration). The observed Parameters in this research was chemical analysis which consists of acid total, acidity (pH), sugars total, viscosity and lactid acid bacterium (BAL) viability. The organoleptic test of cuko pempek consists of color, flavor, and taste. The results showed that the coparation of of lactic acid concentration and yakult has very significant effect of acid total, acidity (pH), sugars total, viscosity and lactid acid bacterium (BAL) viability. The organoleptic test of the comparation from lactid acid and yakult of cuko pempek taste showed that A6 unit experiment for taste has very different significant effect with cuko pempek generally. The research conclusion showed that C6 unit experiment has the best cuko pempek with acid total (0.66%), acidity /pH (6.13), sugar total (28.97% brix), viscosity (1.31 cP), lactid acid bacterium (BAL) viability (5.6 E +04 CFU / ml of colony), color, flafor, and taste whit has grade three.
PERAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN TANAMAN PANGAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.488

Abstract

Tanaman pangan mencakup tujuh komoditas unggulan meliputi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kcang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar (Dirjen TPKP, 2010). Hasil produksi pertanian termasuk produksi tanaman pangan cepat mengalami kerusakan (pherisable) dan bersifat musiman, maka perlu upaya untuk meningkatkan umur simpan sekaligus meningkatkan nilai ekonominya dengan dilakukan pengolahan. Pengolahan hasil tanaman pangan diselenggarakan dengan menerapkan prinsip-prinsip GMP (Good Manufacturing Practices) dan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Tugas pembinaan pengolahan dan pemasaran menjadi tanggungjawab Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Tugas pengawasan oleh Lembaga Pengawas Mutu dan Keamanan Pangan yang disebut Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat dan Daerah. Kebijakan tentang Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan telah terbentuk yakni Permentan No. 58/Permentan/OT.140/8/2007 tentang Sistem Standardisasi Nasional di Bidang Pertanian, ditindaklanjuti Permentan No. 381/Kpts/Ot.140/10/ 2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan dan Permentan No.35/Permentan/OT.140/7/2008 tentang Persyaratan dan Penerapan Cara Pengolahan Hasil Pertanian Asal Tumbuhan serta Permentan No 44/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Pedoman Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian Asal Tumbuhan. Semua regulasi teknis diatas merupakan Persyaratan Dasar Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan berdasarkan Sistem HACCP, yang harus diterapkan secara benar dan maksimal.
KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIK KENTANG SELAMA PENYIMPANAN DALAM KONDISI TERANG Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.521

Abstract

Bertujuan untuk: 1) menganalisis sifat kimia dan fisik kentang selama masa penyimpanan dalam kemasan pada kondisi terang, 2) mengetahui jenis kemasan yang baik untuk masa penyimpanan, mengetahui umur simpan kentang dalam jenis kemasan pada kondisi terang.Kentang yang digunakan adalah jenis kentang kuning dengan bobot 150 gr ± 5gr. Kentang setelah dilakukan pembersihan melalui pencucian dan di keringkan dengan di lap, kemudian kentang dimasukan dalam kemasan kantong polyetilen, kantong polybag dan karung goni.Selanjutnya disimpan dalam kondisi terang. Pengamatan dilakukan pada awal penyimpanan (0 hari penyimpanan), umur 5 hari penyimpanan, 10 hari penyimpanan, 25 hari penyimpnan dan 20 hari penyimpanan. Pengamatan meliputi kadar air, kadar pati, kadar gula dan susut bobot kentang.Dilaksanakan di laboratorium kimia Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan laboratorium Balai Penelitian dan Pengambangan Industri Palembang. Diperoleh bahwa selama masa penyimpanan 20 hari terjadi penurunan kadar air, akadar pati dan kadar gula. Kemasan polyetilen menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kemasana polybag dan kemasan karung goni.Akan tetapi kemasan polybag mampu mengurangi susut bobot terbaik disbanding kemasan polyetilen dan karung goni.
STUDI PERBANDINGAN TEPUNG BERAS DAN TEPUNG TAPIOKA PADA PEMBUATAN KERIPIK KULIT SINGKONG Wahyuni, Indah Fitri; Dasir, Dasir; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.489

Abstract

This research aims to study the ratio of rice flour and tapioca flour in the manufacture of leather cassava chips produced. This research has been conducted in the laboratory of the Faculty of the University of Muhammadiyah Palembang Pertanin in January to March 2012. This research used Randomized Block Design (RBD) are arranged in a non-factorial combinations of five treatment and repeated five times, with each factor treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%), T2 (rice flour 80 % and 20% starch), T3 (70% rice flour and tapioca flour 30%), T4 (60% rice flour and tapioca flour 40%) and treatment T5 (50% rice flour and tapioca flour 50%). Parameters observed in this study, to include the chemical analysis of water content and carbohydrate content. organoleptic tests include flavor and color to the test level of preference and level of crispness to the test ranking. While the physical analysis of volume shrinkage. The results showed that the highest water content contained in the treatment T5 (50% rice flour and tapioca flour 50%) with an average value of 3.438% and the lowest water content at T1 treatment (90% rice flour and tapioca flour 10%) with a mean value average 2.160%. Comparison of the type of flour used can affect carbohydrate content of cassava chips on the skin. Treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%) had the highest carbohydrate content than other treatments. Treatment T2 has the highest level of preference for flavor chips cassava peel treatment than T3, T1, T4 and T5. T2 treatment is treatment with an optimal ratio of flour. Treatment T2 (80% rice flour and tapioca flour 20%) had the highest level of preference for color chips cassava peel treatment than T3, T1, T4 and T5. Because rice flour has a higher protein content than starch. Treatment T2 (80% rice flour and tapioca flour 20%) had the highest level of crispness in the skin of cassava chips than treatment T3, T1, T4 and T5. Rice flour is used can affect the crispness of the skin cassava chips. Comparison of the type of flour used can affect the volume shrinkage in the skin of cassava chips. Treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%) had the lowest shrinkage volume compared to other treatments.
STUDI PERBANDINGAN JUMLAH IKAN LELE DAN KULIT PISANG PADA PEMBUATAN KERUPUK “LEKUPI” Herawati, Yeni; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.490

Abstract

This study aimed to study the ratio of a banana skin and catfish on making crackers "lekupi". This research has been held in Laboratory Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang in October 2012 to February 2013. This research used Randomized Block Design (RBD), which compiled non-factorial consisting of four combinations of treatment and repeated five times, with each treatment factor P1 (50% banana skin: catfish, 10%: 40% starch), P2 treatment (40% banana skin: catfish, 20%: 40% starch), treatment P3 (20% banana skin: catfish, 40%: 40% starch), and P4 treatment (10% banana skin: catfish 50%: 40% starch). Parameters observed for chemical analysis covering the water content and protein content. While organoleptic include flavor and color to the hedonic test and the level of crispness to the rank test and physical test includes volume expansion. The results showed that the ratio of the number of catfish and banana peels are very real effect on the moisture content, protein content and volume expansion. Assessment of organoleptic test showed that the ratio of the number of catfish and banana peels significantly affect the flavor, color and crispness Crackers "Lekupi". The results showed that treatment of P4 has the lowest water content (10.617%), the highest protein content (14.74%), and highest volume expansion (6.253 x 100%). While in treatment P1 has the highest water content (12.405%), the lowest protein content (5.04%) and the lowest volume expansion (3.212%). In organoleptic treatment P2 has color, and flavor with the highest level of preference with the average value of 3.75 (criterion rather liked), 3.66 (criterion rather liked). Meanwhile, highest level of crispness found in P4 treatment with an average value of 1.42 (the criteria are very crisp at all).

Page 1 of 1 | Total Record : 10