cover
Contact Name
Salman Abdul Muthalib
Contact Email
tafse@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
tafse@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies
ISSN : 26204185     EISSN : 27755339     DOI : 10.22373
TAFSE: Journal of Qur’anic Studies is an open access, peer-reviewed journal that is committed to the publications of any original research article in the fields of Alquran and Tafsir sciences, including the understanding of text, literature studies, living Qur’an and interdisciplinary studies in Alquran and Tafsir. Papers published in this journal were obtained from original research papers,which have not been submitted for other publications. The journal aims to disseminate an academic rigor to Qur’anic studies through new and original scholarly contributions and perspectives to the field. Tafse: Journal of Qur’anic Studies DOES NOT CHARGE fees for any submission, article processing (APCs), and publication of the selected reviewed manuscripts. Journal subscription is also open to any individual without any subscription charges.All published manuscripts will be available for viewing and download from the journal portal for free.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2017)" : 6 Documents clear
Uslub Muqabalah dalam Al-Qur’an Ummul Aiman; Masnaria Dewi Rahmah Siregar
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.497 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8067

Abstract

The Qur'an as a miracle for the Prophet SAW is unique and special, especially in terms of language. The beauty of the Qur'an will not be felt meaningfully without paying attention to the uslub used in it. One form of the beauty of the Qur'an in terms of meaning is al-muqabalah, which is to mention two or more words, then bring out the opposite of that meaning in sequence. On the one hand, the Qur'an has a language uslub that is different from other literature, but on the other hand, many people cannot absorb the beauty of the Qur'an in terms of meaning due to the difficulty of understanding Arabic rules that require explanation. This discussion was studied using the maudhu'i method, in the form of library research with descriptive data analysis. Research shows that in the Qur'an there are as many as 66 verses containing uslub muqabalah in different forms and many are mentioned in short verses. Comparison between the blessings and punishment of Allah is 36 verses, relating to the comparison of Allah's power in 8 verses, comparisons regarding the nature of believers and disbelievers in as many as 16 verses, and comparisons between commands and prohibitions in 8 verses. Uslub Muqabalah is one of the elements in Badi' Science which can be used as a tool to reveal beauty and become a uniqueness and privilege for the Qur'an. Al-Qur’an sebagai mukjizat bagi Nabi Saw memiliki keunikan dan keistimewaan khususnya dari segi bahasa. Indahnya al-Qur’an tidak akan dirasakan secara makna tanpa memperhatikan uslub yang digunakan di dalamnya. Salah satu bentuk keindahan al-Qur’an dari segi makna adalah al-muqabalah, yaitu menyebutkan dua kata atau lebih, lalu mendatangkan lawan dari makna tersebut secara berurutan. Di satu sisi, al-Qur’an mempunyai uslub bahasa yang berbeda dari sastra lain, akan tetapi di sisi lain banyak orang yang tidak dapat menyerap keindahan al-Qur’an dalam segi makna dikarenakan sulitnya memahami kaidah Bahasa Arab yang membutuhkan kepada penjelasan. Pembahasan ini dikaji dengan menggunakan metode maudhu’i, berupa riset kepustakaan (library research) dengan analisis data deskriptif. Penelitian menunjukkan bahwa dalam al-Qur’an terdapat sebanyak 66 ayat yang mengandung uslub muqabalah dengan bentuk yang berbeda-beda dan banyak disebutkan dalam ayat-ayat pendek. Perbandingan terkait antara nikmat dan azab Allah sebanyak 36 ayat, terkait perbandingan kekuasaan Allah 8 ayat, perbandingan terkait sifat orang-orang beriman dan orang kafir sebanyak 16 ayat, serta perbandingan antara perintah dan larangan 8 ayat. Uslub Muqabalah ini menjadi salah satu unsur dalam Ilmu Badi’ yang bisa dijadikan sebagai alat untuk menguak keindahan dan menjadi suatu keunikan dan keistimewaan bagi al-Qur’an.
Amtsal dalam Ayat-Ayat Surga dan Neraka Samsul Bahri; Hilal Refiana
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.524 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8068

Abstract

The Qur'an is one of the eternal miracles and is used to challenge the disbelievers. One of the miraculous aspects of the Qur'an is the beauty of language. Amtsal or tamtsil is one of the uslub of the Qur'an in expressing various explanations in terms of its miracles. Matsal means equating something with several related things. However, matsal is not just an equation, it is a parable that is gharib in the sense of astonishing or surprising. The main problem in this discussion is on the one hand in the Qur'an it is stated that knowledge of the occult is only known by Allah. But on the other hand in a number of verses of the Qur'an, there are descriptions or parables about heaven and hell which basically include the unseen through the verses of amtsal. This discussion is studied using the maudhu'i (thematic) method through library research in the form of content analysis. The Qur'an describes heaven in various ways, generally by giving a material description and accompanied by spiritual pleasures of a spiritual nature. By often including the mention of the attributes of heaven and the attributes of hell, it is hoped that people will be happy (hope) with heaven and avoid (fear) hell. Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang kekal dan dipergunakan untuk menantang orang-orang yang ingkar. Salah satu segi kemukjizatan al-Qur’an adalah keindahan bahasa. Amtsal atau tamtsil merupakan salah satu uslub al-Qur’an dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dari segi kemukjizatannya. Matsal diartikan mempersamakan sesuatu dengan beberapa hal yang saling berkaitan. Namun, matsal bukan sekedar persamaan, ia adalah perumpamaan yang gharib dalam arti menakjubkan atau mengherankan. Pokok masalah dalam pembahasan ini adalah di satu sisi dalam al-Qur’an disebutkan bahwa pengetahuan tentang persoalan gaib hanya diketahui oleh Allah. Namun di sisi lain dalam sejumlah ayat al-Qur’an terdapat penggambaran atau perumpamaan tentang surga dan neraka yang pada dasarnya termasuk hal gaib melalui ayat-ayat amtsal. Pembahasan ini dikaji dengan metode maudhu’i (tematik) melalui kajian kepustakaan (library research) yang berbentuk analisis isi (content analysis). Al-Qur’an menjelaskan tentang surga dengan berbagai cara, yang umumnya dengan memberikan gambaran yang bersifat material dan disertai dengan kenikmatan rohani yang bersifat spiritual. Dengan sering menyertakan penyebutan sifat-sifat surga dan sifat-sifat neraka, diharapkan agar manusia senang (berharap) dengan surga dan menghindari (takut) akan neraka.
Nusyuz dalam Al-Qur’an Zainuddin Zainuddin; Ummi Khoiriah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.719 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8069

Abstract

Marriage is an inner and outer bond between a man and a woman with the aim of forming a happy and eternal family based on the One Godhead. In married life, the husband is responsible for fulfilling the rights of his wife, and vice versa for the creation of a sakinah, mawaddah wa rahmah family. However, what is common between husband and wife interactions is disputes over nusyuz. The method used in this discussion is the maudhu'i method. The results of this study are the completion of the wife's nusyuz in Surat al-Nisa': 34 which is touching advice from the husband, the husband's neglect of his wife in bed not outside the room or outside the house, and hitting with a blow that is not painful, does not leave an impression and not on the face. However, if the first method succeeds in making the wife return to obedience, the husband does not need to use the second or third step. While the completion of the husband's nusyuz in the letter al-Nisa ': 128 is the peace that is expected to emerge from the wife. The wife gave up some of her rights over her husband not to be fulfilled so that the ties of marriage between the two remained intertwined. Both are balanced when viewed from the goal to be achieved, namely maintaining the integrity of the household. However, the difference in the method cannot be said to be wrong, because the nature of men and women are basically different. So, the solution to the problem is also different according to the needs of both. Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam kehidupan berumah tangga, suami bertanggungjawab memenuhi hak istrinya, begitu juga sebaliknya demi terciptanya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun, lazim terjadi di antara interaksi suami dan istri adalah perselisihan karena nusyuz. Metode yang digunakan dalam pembahasan ini adalah metode maudhu’i. Hasil dari penelitian ini adalah penyelesaian nusyuz istri pada surat al-Nisa’: 34 ialah nasihat yang menyentuh dari suami, pengabaian suami kepada istri di tempat tidur bukan di luar kamar ataupun di luar rumah, dan memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan, tidak membekas serta bukan di wajah. Namun, jika cara pertama berhasil membuat istri kembali taat, suami tidak perlu menggunakan langkah kedua maupun ketiga. Sedangkan penyelesaian nusyuz suami pada surat al-Nisa’: 128 yaitu perdamaian yang diharapkan muncul dari istri. Istri merelakan sebagian haknya atas suami tidak ditunaikan agar ikatan pernikahan keduanya tetap terjalin. Keduanya seimbang jika dilihat dari tujuan yang ingin dicapai, yaitu mempertahankan keutuhan rumah tangga. Namun, perbedaan cara tersebut juga tidak dapat dikatakan salah, karena tabiat laki-laki dan perempuan pada dasarnya berbeda. Maka, penyelesaian masalah juga berbeda menyesuaikan kebutuhan keduanya.
Makna Ahli Kitab dalam Tafsir Al-Manar Muslim Djuned; Nazla Mufidah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.159 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8065

Abstract

Ahl al-Kitab is a term for those who believe and adhere to a religion that has a holy book that comes from Allah other than the Qur'an. In understanding the designation of the people of the book in the Qur'an, the scholars agree that they are Jews and Christians. However, they differ in terms of the scope of the meaning of the people of the book, some say that the people of the book are Jews and Christians of the descendants of the Children of Israel only, while others say that the people of the book are Jews and Christians whenever and wherever they are. This discussion will be examined using the maudhu'i method, in the form of library research, with descriptive data analysis. Based on the results of the study, the authors found the disclosure of the word expert in the book in the Qur'an as many as 11 forms, can be grouped as follows; first, the direct disclosure of the scribes; second, the same disclosure with the scribes; third, disclosure that is directed to the people of the book. Regarding the meaning of the people of the book, Rashid Rida agrees with the number of scholars, it's just that his opinion about the scope of the people of the book is wider than the previous scholars. In Tafsir al-Manar, the scope of the people of the book is not only limited to Judaism and Christianity but also includes other religions such as the Magi, Shabi'in, idol worshipers in India, China, and anyone who is similar to them. According to him, all these religions can be included in the scope of the people of the book because initially all religions adhered to monotheism. Ahli kitab adalah sebutan bagi yang mempercayai dan berpegang pada agama yang memiliki kitab suci yang berasal dari Allah selain al-Qur'an. Dalam memahami sebutan ahli kitab dalam al-Qur'an, para ulama sepakat bahwa mereka adalah Yahudi dan Nasrani. Namun mereka berbeda dalam hal cakupan makna ahli kitab, sebagian mengatakan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani keturunan Bani Israil saja, sementara yang lain mengatakan bahwa ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani kapan pun dan di manapun mereka berada. Pembahasan ini akan diteliti menggunakan metode maudhu’i, berupa riset kepustakaan, dengan analisis data deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mendapatkan pengungkapan kata ahli kitab dalam al-Qur'an sebanyak 11 bentuk, dapat dikelompokkan sebagai berikut; pertama, pengungkapan ahli kitab secara langsung; kedua, pengungkapan yang sama dengan ahli kitab; ketiga, pengungkapan yang tertuju kepada ahli kitab. Mengenai makna ahli kitab, Rasyid Ridha sepakat dengan jumhur ulama, hanya saja pendapatnya tentang cakupan ahli kitab lebih luas dari ulama sebelumnya. Dalam Tafsir al-Manar, cakupan ahli kitab tidak hanya sebatas Yahudi dan Nasrani, tetapi juga mencakup agama-agama lain seperti Majusi, Shabi'in, penyembah berhala di India, Cina dan siapa saja yang serupa dengan mereka. Menurutnya, semua agama tersebut bisa dimasukkan dalam cakupan ahli kitab karena pada awalnya semua agama menganut tauhid.
وجوه معان "خير" في القرآن الكريم Munawir Munawir
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.164 KB) | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8070

Abstract

القرآن الكريم هو كتاب التي عن متنوع العلم، وفيه يوجدلفظ متشابهات حتى يحتاج إلى معانى السياق لفهمها. ومنها، كلمة "خير" الموجودة في القرآن الكريم. ولفظ "خير" لها معانى متنوعة، فيه توجد تناسب المعنى من التركيب الفظه. ومن هنا يريد الباحث أن يحلل معنى لفظ "خير" من حيث علم الوجوه والنظائر.والهدف لهذا البحث هو معرفة معنى لفظ "خير" من حيث علم الوجوه والنظائر. واستخدمت طريقة الوصفية التحليلية، وكان هذا البحث من نوع البحث الكتابي ولنيل البيانات تستخدم طريقة الملاحة بجمع الكتاب التي تتعلق عن الوجوه والنظائر خاصة عن كلمة "خير". ونتيجة البحث هي أن لفظ "خير" في القرآن الكريم له معانى مختلفة من جيث أراء العلماء. منهم ابن سليمان البلخي (ت.150ه) وكان فيه ثمانية أوجه، وجمال الدين أبي الفرج عبد الرحمن الجوزي في كتابه نزهة الأعيون النواظر في علم الوجوه والنظائر، كلاهما اختلفا في فهم معانه وعدده. واستبط الباحث يعنىبإثنا وعشرين معان، وبيَّن الباحث من حيث أراء المفسرين في كتابهم.
Lafaz Qalb, Shadr dan Fu’ad dalam Al-Qur’an Suarni Suarni; Irda Mawaddah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v1i1.8066

Abstract

The uniqueness of the Qur'an in terms of language is a miracle that has been shown to the Arab community since 15 centuries ago. Each vocabulary choice has its own language philosophy value. The subtlety of language can be seen in the balaghah and fashahah, both concrete and abstract in expressing and exploring the intended meaning. In the choice of words, the Qur'an sometimes uses several words that have the same meaning in Indonesian, so it appears that there are inconsistencies in the words it uses. This is the background of this discussion, precisely in the lafadz qalb, shadr, and fu'ad where the three words are often interpreted with one meaning, namely the heart. This research uses the maudhu'i method in the form of library research. In the Qur'an, the words qalb, shadr, and fu'ad have almost related meanings, but with different contexts and purposes, qalb is focused on things that are immaterial and psychic, spiritual qualities that are able to understand and determine good things. the bad of a soul because everything depends on the good or bad condition of the heart. Sadr called the chest is a container where the heart resides, so the use of the word sadr in the Qur'an is a kinayah for something that is in it, namely the heart. As for fu'ad, it is called an honest heart (conscience) and is a potential qalb, a place where a firm decision has been reached or something that has been bound, to be precise, fu'ad is a container of belief. Keunikan al-Qur'an dari segi bahasa merupakan kemukjizatan yang ditunjukkan kepada masyarakat Arab sejak 15 abad lalu. Setiap pemilihan kosakata mempunyai nilai falsafah bahasa tersendiri. Kehalusan bahasa terlihat dari balaghah dan fashahahnya, baik yang konkrit maupun abstrak dalam mengekspresikan dan mengeksplorasi makna yang dituju. Dalam pemilihan kata, al-Qur'an kadang menggunakan beberapa kata yang memiliki arti sama dalam bahasa Indonesia, sehingga tampak ada inkonsisten dalam kata-kata yang digunakannya. Inilah yang melatarbelakangi pembahasan ini, tepatnya pada lafadz qalb, shadr dan fu’ad yang ketiga kata tersebut sering diartikan dengan satu arti yaitu hati. Penelitian ini menggunakan metode maudhu’i berupa riset kepustakaan. Dalam al-Qur'an, lafaz qalb, shadr dan fu’ad mempunyai makna yang hampir berkaitan, namun dengan konteks dan tujuan yang berbeda, qalb tertuju pada hal-hal yang bersifat immateri dan psikis, sifat ruhani yang mampu memahami dan penentu baik-buruknya sebuah jiwa karena semua bergantung pada baik-buruknya keadaan qalb. Shadr disebut dengan dada adalah wadah di mana qalb bersemayam, sehingga penggunaan kata shadr dalam al-Qur'an merupakan kinayah bagi sesuatu yang ada di dalamnya yaitu qalb. Adapun fu’ad disebut sebagai hati yang bersifat jujur (hati nurani) dan merupakan potensi qalb, tempat di mana telah mencapai keputusan yang mantap atau sesuatu yang telah terikat, tepatnya fu’ad adalah wadah keyakinan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6