JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur (sebelumnya Jurnal Online Mahasiswa S1 Arsitektur UNTAN) adalah jurnal nasional yang berisi kumpulan naskah/ artikel hasil perancangan arsitektur yang fokus pada kegiatan "analisis dan sintesis" yang mendukung proses-proses perancangan arsitektur dan menghasilkan karya arsitektural. Substansi naskah dapat berupa kajian mengenai metode perancangan, proses analisis dalam perancangan, pengambilan keputusan dalam proses desain, proses penciptaan karya arsitektural, dan teori yang mendukung proses perancangan. Selain itu, JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur juga menerima (terbatas) naskah dengan pendekatan "penelitian" kajian arsitektural lainnya, seperti sejarah, teori, dan kritik arsitektur, teknologi bangunan, serta kota dan permukiman. JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur mempunyai ISSN 2746-5896 (media online)
Articles
13 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 2 (2014): November"
:
13 Documents
clear
PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR DI KOTA SINGKAWANG
Purwaningsih, Dyah Listyo
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (746.861 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.8211
Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian negara secara umum dan bagian dari pembangunan nasional secara keseluruhan. Selain itu, pengembangan di bidang peternakan mulai menjadi perhatian penting karena adanya program diversifikasi pangan dengan tujuan untuk peningkatan kualitas gizi masyarakat. Usaha peternakan ayam ras khususnya ras petelur mengalami perkembangan yang sangat pesat dan umumnya bersifat komersial yang didorong oleh kondisi di sektor pertanian yang menyediakan bahan pakan yang sangat diperlukan untuk industri peternakan. Dalam proses perancangan Peternakan Ayam Ras Petelur di Kota Singkawang ini terdapat proses tahapan yaitu dari suatu gagasan, pengumpulan data, analsis, dan sintesis awal hingga akhir rancangan. Metode perancangan yaitu tahap permulaan, persiapan, pengajuan usul, dan evaluasi. Zonasi bangunan yang ada yaitu kantor, pintu masuk utama, gudang dan pengepakan, hunian, sterilisasi alat, sterilisasi karyawan, dan kandang. Konsep yang ditekankan pada perancangan adalah konsep ECO-Machine yaitu implementasi dari arsitektur berkelanjutan dengan konsentrasi pada 5 elemen yaitu manajemen peternakan, energi terbarukan, pengolahan limbah cair, buffer area, dan daur ulang limbah. Utilitas dan arsitektur lingkungan disesuaikan dengan kebutuhan, terkait dengan daur ulang limbah cair yang menerapkan living machine system serta pemaksimalan pencahayaan dan penghawaan alami pada bangunan. Sedangkan untuk struktur disesuaikan dengan fungsi bangunan yaitu permanen dan non permanen. Kata kunci : Peternakan, Ayam Ras Petelur, Singkawang
PENATAAN KAWASAN PASAR TRADISIONAL KENANGA-ANGGREK
Zahrul Basimah
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1360.939 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.9113
Pasar tradisional berperan penting sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari manusia. Salah satu pasar tradisional yang ada di Kota Pontianak ialah Pasar Tradisional Kenanga-Anggrek. Pasar ini berlokasi di Kelurahan Tambelan Sampit dan Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Lokasi pasar ini sangat strategis karena berada di tepi Sungai Kapuas Kecil dan di sekitar bangunan cagar budaya yaitu Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman dan Kompleks Keraton Kadriyah. Namun, kegiatan di pasar ini mengganggu kegiatan di kedua bangunan cagar budaya serta mencemari sungai. Oleh karena itu, pasar ini membutuhkan penataan yang dapat menanggapi sungai serta bangunan cagar budaya di sekitarnya. Metode yang ditempuh dalam proses penataan ialah mengumpulkan data melalui proses survey, wawancara serta studi literatur. Selain itu, dilakukan juga proses analisis potensi dan permasalahan terkait dengan kondisi internal dan eksternal pasar. Sehingga dihasilkan konsep programatik, skematik dan rancangan yang difokuskan pada konsep sinergi antara pasar, bangunan cagar budaya dan sungai. Konsep sinergi bertujuan agar bangunan pasar dapat menunjang fungsi wisata air dan budaya, namun tetap menjaga hierarki kedua bangunan cagar budaya. Konsep tersebut diaplikasikan pada gubahan bentuk bangunan pasar yang tidak melebihi ketinggian kedua bangunan cagar budaya. Diharapkan konsep tersebut dapat diaplikasikan pada penataan Kawasan Pasar Tradisional Kenanga-Anggrek di masa mendatang. Kata Kunci: Penataan, Kawasan, Pasar Tradisional Kenanga-Anggrek, Sinergi, Bangunan Cagar Budaya, Sungai
Hotel Butik di Kabupaten Kubu Raya
Devitasari, Citra
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1343.761 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.8046
Kabupaten Kubu Raya adalah pemekaran dari Kabupaten Pontianak dan merupakan kabupaten termuda di Kalimantan Barat. Kubu Raya sebagai daerah berkembang, memiliki salah satu misi yaitu “Meningkatkan, dan mengembangkan potensi di sektor pembangunan Pariwisata dan Kebudayaan Daerah yang unik serta kompetitif”. Visi dan misi ini harus diiringi oleh infrastruktur yang memadai untuk mengakomodasi kegiatan yang mendukung mobilitas para pelaku wisata. Infrastruktur yang sesuai adalah hotel sebagai tempat persinggahan sementara yang memfasilitasi kegiatan bagi para pelaku wisata. Berdasarkan klasifikasi hotel, jenis hotel yang sesuai dengan kebutuhan suatu kota dalam mendukung kegiatan wisata yang dapat mengembangkan potensi sektor pembangunan pariwisata dan kebudayaan daerah yang memiliki keunikan, dan kompetitif adalah Hotel Butik. Hotel Butik yang sasaran tamunya pelaku wisata akan memerlukan fasilitas dan layanan yang berbeda dari hotel lainnya. Hal yang menjadi dasar dalam perancangan Hotel Butik di Kubu Raya ini adalah fungsi dari Hotel Butik itu sendiri. Hotel Butik selain berfungsi sebagai tempat beristirahat diharapkan juga mampu menampilkan cirikhas budaya setempat yaitu budaya Melayu. Hotel Butik ini dirancang berdasarkan fungsi, kesesuaian tapak dan konsep utama dari Hotel Butik sehingga bangunan yang dirancang dapat mendekati perancangan Hotel Butik yang dapat mengenalkan budaya tradisional Melayu Modern.Kata Kunci: Hotel Butik, Kubu Raya, Budaya Melayu
TAMAN REKREASI AIR DI KECAMATAN SUNGAI KAKAP
Angelia, Paula
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1437.209 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.8253
ABSTRAK Aktivitas sehari-hari warga kota yang semakin bertambah dapat mengakibatkan kejenuhan. Salah satu alternatif untuk menghilangkan kejenuhan dari rutinitas sehari-hari adalah dengan memilih aktivitas rekreasi. Rekreasi dapat dilakukan melalui berbagai media, salah satunya dengan media air. Salah satu fasilitas rekreasi yang dapat dikembangkan adalah berupa taman. Unsur air pada taman dapat memberikan efek suara dan suasana yang tenang, damai dan meriah. Secara geografis, kota Pontianak berada di tepian sungai. Air merupakan bagian dari kehidupan warga Pontianak. Namun, sekarang sungai tidak lagi dimanfaatkan secara maksimal apalagi dinikmati untuk kegiatan rekreasi. Untuk itu taman rekreasi dengan media air dapat menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat kota Pontianak dalam berekreasi. Lokasi perancangan terletak di Kecamatan Sungai Kakap karena lokasi yang tidak jauh dari pusat kota dan berada di pinggir Sungai Kapuas sehingga dapat memanfaatkan potensi sungai. Pemanfaatan sungai selain untuk rekreasi juga digunakan sebagai sumber air bersih dalam Taman Rekreasi Air. Untuk menstabilkan struktur tanah di pinggiran sungai digunakan sistem barau. Bentuk bangunan dibuat dinamis dengan bukaan-bukaan pada bangunan dimaksudkan agar memaksimalkan cahaya dan penghawaan alami. Taman Rekreasi Air merupakan taman rekreasi yang menyediakan fasilitas untuk semua kalangan usia sehingga diharapkan taman rekreasi ini dapat dijadikan pilihan rekreasi warga sekitar kota Pontianak. Kata kunci: Rekreasi, waterpark, Taman Rekreasi Air
Pusat Perikanan di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya
Hanggara Mas, Julius Evan
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3110.16 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.9174
Kabupaten Kubu Raya merupakan kabupaten yang memiliki jumlah tangkapan ikan kedua terbanyak di Provinsi Kalimantan Barat. Dengan menempati wilayah pengelolaan perikanan atau WPP711 yang meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna dan Selat Karimata dengan luas perairan sekitar 550.000 km2, potensi dan sumber daya alam tersebut seharusnya menjadi daerah yang maju dari sektor kelautan dan perikanan. Tangkapan ikan yang melimpah akan menguatkan nilai ekonomi daerah, produk laut itu sendiri juga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan mengkonsumsi ikan. Namun di Kabupaten Kubu Raya, nilai ini belum maksimal dikarenakan distribusi ikan ke daerah-daerah dan minat masyarakat untuk makan ikan masih rendah. Kecamatan Sungai Kakap merupakan salah satu alternatif lokasi pembangunan pusat perikanan dengan memanfaatkan pelabuhan perikanan yang sudah ada. Konsep rancangan yang dihasilkan adalah menyediakan segala fasilitas yang menunjang kegiatan perikanan dari produksi, pengolahan hingga pemasaran ke konsumen di dalam dan luar daerah dengan sistem distribusi yang baik. Fungsi dan fasilitas dipisahkan menjadi fungsi utama dan pendukung berdasarkan kegiatan perikanan yang dilakukan. Fungsi utama dipusatkan pada pemasaran dan distribusi ikan yang terkoordinir melewati tempat pelelangan ikan sebelum sampai ke konsumen lewat pasar, rumah makan ataupun tempat pengolahan ikan. Kata kunci: pusat perikanan, ikan konsumsi, kubu raya
RUMAH TINGGAL BAGI PENYANDANG DISABILITAS PASCA STROKE STUDI KASUS : RUMAH TINGGAL HJ. SARINAH
Pasaribu, Rotua Kezia Septyera
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.8131
ABSTRAK Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang disebabkan oleh terhentinya aliran darah ke area otak. Dampak yang sering dialami oleh insan pasca stroke meliputi keterbatasan fisik, psikologis, dan kurangnya interaksi sosial dan lingkungan akibat menurunnya rasa kepercayaan diri. Keterbatasan fisik yang dialami setiap insan pasca stroke yang berbeda-beda menyebabkan program pemulihan yang harus mereka jalani juga berbeda-beda. Hj. Sarinah merupakan subjek kasus yang diangkat, seorang insan pasca stroke yang mengalami stroke iskemik dan mengalami hemiparesis pada bagian tubuh sebelah kiri. Beliau merupakan sosok yang masih aktif dalam berbagai kegiatan hobi di rumah maupun bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Rumah menjadi suatu elemen yang begitu lekat dalam kegiatan beliau sehingga setiap bagian rumah perlu memperhatikan fungsi dan kesinambungan beliau dalam berkegiatan. Therapeutic Environment merupakan suatu lingkungan yang kompak dan memenuhi kebutuhan pasien dalam membantu proses terapi pemulihan. Penerapan model lingkungan terapi berpengaruh langsung terhadap proses pemulihan dari kondisi pasca stroke yang dialami dan terhadap kemudahan keluarga dalam merawat dan berinteraksi dengan insan pasca stroke. Lingkungan terapi diwujudkan dengan zonasi ruang yang kompak, sistem pencahayaan dan penghawaan yang mendukung kesehatan, elemen interior sebagai alat bantu berjalan, dan ruang-ruang dengan fungsi yang mendukung hobi dan pengembangan diri serta potensi insan pasca stroke. Kata kunci : rumah tinggal, insan pasca stroke , lingkungan terapi
RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI KOTA PONTIANAK
Bun, Brenda
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1474.153 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.8592
Manusia memiliki 3 kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, salah satunya adalah rumah tinggal. Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk berpenghasilan rendah sebanyak 260 juta jiwa pada tahun 2020. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mencanangkan program pembangunan 1.000 menara rumah susun. Kota Pontianak merupakan ibukota Kalimantan Barat yang memiliki jumlah penduduk berpenghasilan rendah sekitar 32.530 jiwa, maka pemerintah Kota Pontianak turut dalam program tersebut. Rumah susun yang telah direalisasikan saat ini berupa rumah susun prototype. Akibatnya, rumah susun yang terbangun tidak sesuai dengan kebutuhan penghuninya, terutama masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, lahirlah konsep social home, dimana rumah susun yang dirancang menunjang kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah dari segi sosial dan kenyamanan tinggal. Perancangan rumah susun sederhana sewa yang telah dihasilkan terdiri dari 3 massa. Ketiga massa ini berbentuk kotak. Massa bangunan yang berada di tengah site merupakan zona pengelola dengan massa lainnya merupakan bangunan hunian. Orientasi utama bangunan menghadap ke sirkulasi utama agar mudah dikenali. Sirkulasi utama tapak berada pada area depan dengan sirkulasi khusus pengguna rusunawa di sisi dan tengah tapak. Ruang-ruang sosial terletak pada setiap lantai bangunan. Kata kunci: Hunian, Rumah Susun, Kota Pontianak
STUDIO FILM DI KOTA PONTIANAK
Refmita, Refmita
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1418.233 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.8775
Studio film merupakan studio yang difungsikan sebagai tempat untuk memproduksi film mulai dari proses perencanaan, proses shooting (pengambilan gambar) hingga proses pasca produksi seperti editing dan sebagainya. Studio film ini memiliki fungsi produksi, edukasi, dan informasi untuk mewadahi seluruh kegiatan komunitas. Komunitas pada studio ini dikategorikan sebagai para pekerja film serta masyarakat pecinta film. Metode pengkajian yang digunakan terdiri tahap gagasan, tahap pengumpulan data, tahap analisis, tahap sintesis, tahap pra rancangan, dan tahap pengembangan rancangan. Konsep yang diangkat pada studio film ini adalah “studio film berbasis komunitas” dengan tema “take shoot every where”. Studio film dengan konsep berbasis komunitas dimaksudkan untuk mewadahi semua kebutuhan para komunitas akan studio film yang dapat digunakan sebagai tempat produksi film dari tahap pra produksi hinggga pasca produksi, mewadahi pengembangan kemampuan dalam memproduksi film dengan adanya tempat pelatihan, serta wadah informasi bagi masyarakat pencinta film dengan dapatnya masyarakat melihat langsung kegiatan produksi film. Tema “take shoot every where” diangkat dengan menjadikan semua area pada studio terutama pada ruang luar sebagai tempat pengambilan gambar sekaligus sarana edukasi dan informasi bagi komunitas. Kata Kunci: Studio Film , Produksi, Edukasi, Informasi, Berbasis Komunitas
Kawasan Budidaya Ikan Air Tawar di Bukit Matok Kabupaten Melawi
Kusmiran, Ade Rikayandi
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1873.749 KB)
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.7951
Saat ini permintaan pasar terhadap ikan air tawar di Kabupaten Melawi cukup besar, sehingga peluang tersebut banyak menarik minat masyarakat untuk melakukan usaha budidaya ikan air tawar khususnya di pembesaran. Namun, dari besarnya permintaan pasar dan pelaku budidaya ikan air tawar tidak di ikuti dengan ketersediaannya benih ikan air tawar dari daerah sendiri yang selama ini pelaku budidaya masih mendatangkan dari luar daerah. Guna mendukung dan memenuhi kebutuhan benih ikan air tawar dari daerah sendiri maka di Kabupaten Melawi diperlukan perancangan kawasan budidaya ikan air tawar di bagian pembenihan. Lokasi perancangan berada pada kawasan kaki Bukit Matok di Kecamatan Belimbing, lokasi tersebut memiliki potensi yang mendukung untuk kegiatan budidaya ikan air tawar. Kawasan budidaya ikan air tawar memerlukan luasan lahan dan terdiri dari banyak fasilitas yang mempunyai fungsi berbeda, sehingga kawasan ini diperlukan penataan baik dari aspek perletakan, orientasi, sirkulasi, vegetasi dan penzoningan untuk memudahkan baik pengelola maupun pengunjung dalam melakukan kegiatan di dalam kawasan. Desain karakter bangunan memperhatikan iklim tropis setempat serta konstektual dengan bangunan yang lainnya. Dengan adanya perancangan kawasan budidaya ikan air tawar, maka kebutuhan benih ikan dapat terpenuhi dari daerah sendiri, selain itu kawasan ini menjadi tempat yang memberikan edukasi dan konservasi serta mampu memperbaiki produktivitas dan kualitas perikanan budidaya di Kabupaten Melawi. Kata kunci: Kawasan Budidaya, Ikan Air Tawar, Melawi
Gedung Pertunjukan Seni di Tepian Sungai Kapuas
Narita, Essy
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 2, No 2 (2014): November
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v2i2.9175
Gedung Pertunjukan Seni merupakan suatu tempat yang dipergunakan sebagai tempat pagelaran pertunjukan, baik seni tari, musik maupun drama. Perancangan gedung ini tidak terlepas dari kebutuhan Kota Pontianak akan sebuah gedung pertunjukan, seiring makin banyaknya sanggar-sanggar yang bermunculan. Ini menandai semakin berkembangnya pula seni pertunjukan di Kota Pontianak. Dalam proses perancangan Gedung Pertunjukan Seni ini, terdapat dua hal yang menjadi pertimbangan, yaitu dari segi fungsi dan sebagai sebuah bangunan yang memiliki ruang terbuka yaitu kawasan waterfront park karena berada di tepian sungai kapuas. Waterfront adalah suatu area yang terletak di dekat/ berbatasan dengan kawasan perairan dimana terdapat satu atau beberapa kegiatan dan aktivitas pada area pertemuan tersebut. Keterkaitan antara karya arsitektur, ruang terbuka dan seni ini menjadi satu konsep mendukung dalam perancangan Gedung Pertunjukan Seni ini. Konsep ini diharapkan dapat menjadi sesuatu yang baru dalam dunia arsitektur di Kalimantan Barat. Kata-kata kunci : Gedung Pertunjukan Seni, Tepian Sungai