cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561740191
Journal Mail Official
d3btp@faperta.untan.ac.id
Editorial Address
PS. Budidaya Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi Pontianak 78124 Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Perkebunan dan Lahan Tropika
ISSN : 20886381     EISSN : 26544180     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/plt.v11i1.xxxxx
Core Subject : Agriculture, Social,
Perkebunan dan Lahan Tropika bertujuan menjadi sarana penyampai informasi hasil penelitian, analisis kebijakan atau pemikiran-pemikiran baru di bidang perkebunan dan pengelolaan sumberdaya lahan tropika. Perkebunan dan Lahan Tropika mengundang peneliti dan penulis yang menggeluti topik-topik berikut: - Teknis budidaya tanaman perkebunan - Pengendalian OPT perkebunan - Inovasi teknologi perkebunan - Bioteknologi dan pemuliaan tanaman perkebunan - Penanganan hasil perkebunan - Penanganan dan pemanfaatan limbah perkebunan - Agribisnis/sosial ekonomi perkebunan - Pengelolaan sumber daya lahan tropika - Konservasi tanah dan air serta bahan dan agens hayati - Pengelolaan lingkungan perkebunan - Analisis kebijakan perkebunan
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2012)" : 6 Documents clear
Study Content Nutrient Waste Plant Seeds Nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn) after Made as Biofuel Tri Mulya Hartati
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.756 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i1.1959

Abstract

Determination revoke government fuel subsidies in 2008, with all its consequences have begun to be realized by finding various solutions techno-socio-economic development. Among the various solutions that are developing alternative fuel made from vegetable oils or biofuels. This is demonstrated by the issuance of Presidential Regulation No. 5/2006 on National Energy Policy and Presidential Instruction No. 1/2006 on the Provision and Use of Biofuels (Biofuel) as an alternative fuel on January 25, 2006. Biofuel Excess addition can also be environmentally friendly renewable, biodegradable, able to eliminate the greenhouse effect, and continuity is assured raw material. Bioenergy can be obtained with a fairly simple way is through the cultivation of biofuel crops, have recently discovered a new source of biofuel that is nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn). Nyamplung is a plant that grows in coastal forests. As with other agricultural residual waste, waste from the process of making biofuels from plants also contain nutrients that can be used as a soil or as a source of fertilizer for plants. This study aims to assess the nutrient content of the waste content of seeds nyamplung (Calopphyllum inophyllum Linn) after it is created as a Biofuel. The results showed that the biofuel seed crop nyamplung (Calopphyllum inophyllum Linn) have oil content of 46.57%, and biofuels from waste plant seeds contain nutrients: total N 1.43% (very high), 47.99% Organic C ( very high), total P 0.35% (very low), 1.30% total K (very low), C / N 33.78 (very high), and 17.93 KPK to 100 g-1 (medium). Key words: oil nyamplung, nutrient waste plant seeds nyamplung
The Screening of Fungi for Antagonistic Acidofilic Lignocellulolitic on Peat Soil of Fusarium Disease Nursadin Nursadin; Iman Suswanto; Supriyanto Supriyanto
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.873 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i1.1960

Abstract

Fusarium wilt disease is one of disease that considerable losses to the tomato plant. This disease can cause sudden death, this is due to damage to the base of the stem or cancer. Plants infected adults are able to survive and shape but the result is very little fruit and small fruit. Besides caused by pathogens, constraints cultivation in peatsoil is a peat substrate forming the lignin and cellulose are normally difficult to decompose. This study aims to find the best fungi as biological control agents against F. oxysporum and the ability to survive in acidic conditions and was able to decipher the compound lignin and cellulose. The research was conducted at the Laboratory of Plant Diseases Faculty of Agriculture, University of Tanjungpura Pontianak, January to June 2012. Implementation of the study include the isolation of fungi from peat soils, test antagonism towards the development of F. oxysporum, hipovirulensi test, capabilities and outlines the lignin and cellulose asidofilik test. Results isolation from peat obtained 7 isolates of fungi, that is Aspegillus brevipes, A. niger, Penicillium corylophillum, P. janthillenum, Rhizopus sp, Trichoderma harzianum and T. koningii. The test results antagonistic to F. oxysporum isolates obtained 2 are able to act as antagonists and suppressed the development of F. oxysporum. Both of these isolates were T. harzianum and T. koningii. Besides being able to act as antagonists, both isolates are able to decompose lignin into simpler compounds. In describing cellulose, A. niger has a greater ability than other isolates. Almost all isolates were classified into asidofilik fungus, only A. brevipes were not included asidofilik because diameter growth at pH 3 did not reach 75% compared to pH 6. Keywords: Antagonistic fungi, acidofilic, fusarium wilt.
Kajian Fisiologi Tanaman Lidah Buaya dengan Pemotongan Ujung Pelepah pada Kondisi Cekaman Kekeringan Dwi Zulfita
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.644 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i1.1957

Abstract

Lidah buaya dikenal sebagai tanaman CAM sukulen yang di Kalimantan Barat umumnya ditanam di lahan gambut yang mempunyai kemampuan menahan air yang besar. Budidaya tanaman lidah buaya di lahan Alluvial dihadapkan pada masalah kekurangan air pada musim kemarau sehingga mengganggu proses fisiologis tanaman. Sementara ini ada anggapan bahwa di kalangan petani lidah buaya di Kalimantan Barat bahwa pemotongan ujung pelepahakan meningkatkan hasil panen. Sampai saat ini belum pernah diteliti bahwa pemotongan ujung pelepah dapat mengurangi transpirasi sehingga meringankan tanaman saat mengalami cekaman kekeringan.Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh cekaman kekeringan dan pemotongan ujung pelepah terhadap proses fisiologis tanaman lidah buaya serta mendapatkan kombinasi cekaman kekeringan dan pemotongan ujung pelepah yang memberikan proses fisiologis tanaman lidah buaya yang terbaik.Penelitian dilaksanakan di rumah plastik yang terletak di Kebun Percobaan dan Laboratorium Ekofisiologi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak dari Januari sampai Juni 2011.Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan faktorial 4 x 2 yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan dan 4 tanaman sampel pada setiap perlakuan. Faktor pertama berupa 4 arascekaman kekeringan (S) yaitu S1 (kadar air kapasitas lapang), S2 (kadar air 80% kapasitas lapangan), S3 (kadar air 60% kapasitas lapangan) dan S4 (kadar air 40% kapasitas lapangan). Faktor kedua adalah pemotongan ujung pelepah (P) dengan 2 aras yaitu P0 (ujung pelepah yang tidak dipotong 5 cm) dan P1 (ujung pelepah yang dipotong). Bahan tanaman adalah bibit lidah buaya yang berumur 6 bulan dengan jumlah pelepah 5.Media tanam yang digunakan adalah tanah Alluvial.Variabel yang diamati adalah luas daun, jumlah stomata, lebar bukaan stomata, laju transpirasi (malam hari), Bobot daun khas, Laju Asimilasi Bersih, Laju Pertumbuhan Nisbi, Bobot Kering Tanaman. Kata kunci: cekaman kekeringan, fisiologi, lidah buaya, pemotongan ujung pelepah
Land Suitability Assessment for Maize Development in Dulamayo Garden Farming of Gorontalo Regency Nurdin Nurdin
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.077 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i1.1961

Abstract

The aimed of this research was to determining of upland suitability for maize commodity development and its limiting factors based on land quality. This research conducted at three month in Dulamayo garden farming of Gorontalo State University. Assessments of land suitability classes using the framework of land evaluation and parametric approach with root square land index as methods. The result of this research showed that the land suitability classes showed that land utilization type (LUT) for Local Maize of patterns A (none fertilizing) + B (national fertilizing dosage) were dominantly of moderately suitable with nutrient availability as limiting factors (S2na), while for pattern C (prescription fertilizing dosage) was very suitable but any small amount of nutrient availability as limiting factors (S1na). The LUT Composite Maize to pattern A was marginally suitable with nutrient availability as limiting factors (S3na), pattern B same as LUT Local Maize limiting factors, but pattern C with very suitable classes but differences of limiting factors (S1wa). For LUT Hybrids Maize dominantly of marginally suitable with water availability as limiting factors (S3wa) to pattern A+B, but pattern C dominantly of moderately suitable with water availability as limiting factors (S2wa).  Keywords: Suitability class, parametric, upland, maize.
Status Penyakit Bercak Coklat pada Pembibitan Kelapa Sawit di Kabupaten Sanggau Dede Solehudin; Imam Suswanto; Supriyanto Supriyanto
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.253 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i1.1955

Abstract

Bercak coklat merupakan penyakit penting pembibitan kelapa sawit. Penelitian bertujuan mempelajari distribusi dan perkembangan penyakit. Pengamatan dilakukan pada lima Kecamatan di Kabupaten Sanggau.Variabel pengamatan terdiri dari intensitas penyakit, jenis-jenis fungi, faktor cuaca dan konidia di udara. Intensitas penyakit bercak coklat pada lima kecamatan yang diamati berkisar antara 4%-38%. Terdapat dua gejala bercak yang khas yaitu bercak Curvularia dan bercak antraknosa. Bercak Curvularia disebabkan oleh Curvularia sp. Bercak antraknosa disebabkan oleh Glomerella sp. Pada saat penelitian, perkembangan penyakit melambat pada bibit yang berumur 4 bulan. Curah hujan, kelembaban, suhu harian, dan konidia di udara mempunyai hubungan yang kurang erat terhadap perkembangan penyakit.
Keefektifan Parakuat Diklorida sebagai Herbisida untuk Persiapan Tanam Padi Tanpa Olah Tanah Di Lahan Pasang Surut Sarbino Sarbino; Edy Syahputra
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.676 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i1.1958

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan herbisida paraquat diklorida untuk persiapan tanam padi tanpa olah tanah di lahan pasang surut. Penelitian dilaksanakan di areal pertanaman padi Parit Sembin, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode kuadrat. Percobaan disusun dengan rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida parakuat diklorida pada dosis yang diuji dapat digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, berdaun sempit dan teki pada budidaya tanaman padi sawah tanpa olah tanah. Herbisida parakuat diklorida secara efektif dapat mengendalikan berbagai jenis gulma pada persiapan tanam budidaya padi sawah lahan pasang surut hingga 5 minggu setelah tanam.

Page 1 of 1 | Total Record : 6