Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
21 Documents
Search results for
, issue
"Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler"
:
21 Documents
clear
Diagnostik dan Tatalaksana Onikomikosis
Radityo Anugrah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.863
Infeksi jamur pada kuku terjadi pada 30% pasien infeksi jamur kulit; dapat disebabkan oleh jamur dermatofita dan non-dermatofita. Diagnosis mikroskopis dan kultur sebaiknya dilakukan sebelum pengobatan. Modalitas pengobatan injeksi jamur pada kuku dapat topikal atau sistemik, sesuai subtipe infeksi jamur, anatomi kuku yang terinfeksi, dan lokasi. Tinjauan ini membahas subtipe, diagnosis, dan pilihan pengobatan infeksi jamur pada kuku.Fungal nail infections occurred in 30% patients with fungal skin infections; may be caused by dermatophyte and non-dermatophyte. Diagnosis should be done by microscopic and culture examination before treatment. Treatment modalities for fungal nail infection can be topical or systemic, tailored to the fungal infection subtypes, the infected nail anatomy, and location. This review discussed subtype, diagnosis, and treatment options of fungal nail infection.
Tantangan Diagnostik dan Penanganan PPOK yang Tumpang Tindih dengan Gagal Jantung
Jaswin Dhillon
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.868
Penyebab utama sesak napas pada usia tua adalah gagal jantung dan penyakit paru obstruktif kronik, namun untuk membedakan keduanya dapat menjadi sulit karena adanya kemiripan gejala klinis. Penegakan diagnosis melalui pemeriksaan yang teliti penting untuk dilakukan mengingat penanganan kedua kondisi tersebut dapat mempengaruhi prognosis pasien.The main causes of breathlessness in elderly are heart failure and chronic obstructive pulmonary disease, but to distinguish between them can be difficult because of the similarity of clinical symptoms. A definite diagnosis through careful examinations is essential as treating both of these conditions could affect the prognosis of the patients.
Diagnosis dan Tatalaksana Deep Vein Thrombosis
Andi Putra Jayanegara
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.859
Deep vein thrombosis (DVT) adalah bekuan darah di vena dalam yang sebagian besar tersusun atas fibrin, sel darah merah, serta sebagian kecil komponen leukosit dan trombosit. Diagnosis DVT ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang berupa laboratorium dan radiologi. Penatalaksanaan DVT dapat berupa terapi non-farmakologis, farmakologis, ataupun pembedahan.Deep vein thrombosis (DVT) is the formation of blood clots in deep veins, mostly composed from fibrin, red blood cells, and component of leukocytes and platelets. DVT diagnosis is based on clinical symptoms, laboratory, and radiology findings. Management of DVT may include non-pharmacological, pharmacologic, and surgical therapy.
Ascariasis Intestinal Berkomplikasi Obstruksi Usus Halus Parsial: CT Scan vs Foto Polos Abdomen
Reza Istiantho;
Prijo Sidipratomo;
Freda Halim
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.864
Ascariasis intestinal harus selalu dipertimbangkan sebagai salah satu diagnosis pada anak-anak di daerah endemis dengan gejala abdomen akut atau obstruksi usus. Pada kebanyakan kasus, diagnosis tidak cukup hanya dengan gejala klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium, namun diperlukan juga pemeriksaan radiologis. Dilaporkan sebuah kasus seorang anak perempuan berusia 9 tahun datang ke IGD dengan keluhan utama tidak bisa buang air besar sejak tiga hari. Dari hasil pemeriksaan radiologi didapatkan adanya obstruksi usus halus parsial disebabkan oleh bolus askariasis di ileum proksimal dan peritonitis diduga disebabkan appendisitis perforasi. Setelah hasil CT scan didapat, diputuskan dilakukan laparotomi eksplorasi.Intestinal ascariasis should be considered as a diagnosis in children in endemic areas with symptoms of acute abdominal or intestinal obstruction. In most cases, the diagnosis is not only by clinical symptoms and results of laboratory examination, but also required radiologically. Reported a case of a 9 -year -old girl came to the ED (emergency departments) with symptom of could not defecate since three days. From the results of radiological examinations obtained a partial small bowel obstruction caused by ascariasis bolus in the proximal ileum appendicitis and peritonitis due to perforation is suspected. After the CT scan results obtained, it was decided to do exploratory laparotomy.
Trombositopenia akibat Heparin
Roveny -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.860
Trombositopenia akibat heparin merupakan komplikasi serius yang terjadi 5-10 hari setelah terapi kontinu heparin. Terjadinya trombositopenia ini dimediasi oleh sistem imun dan melibatkan kompleks antigen antibodi. Trombositopenia akibat heparin dapat asimptomatik atau dengan komplikasi trombosis. Tatalaksana dilakukan dengan menghentikan segera terapi heparin dan memulai terapi antikoagulan alternatif.Heparin-induced thrombocytopenia is a serious complication of heparin therapy, occurs within 5-10 days of continuous heparin therapy. It is immune-mediated, involving antigen antibody complexes. Heparin-induced thrombocytopenia can be asymptomatic, but can present with thrombosis events. Treatment involves prompt cessation of heparin and the initiation of alternative anticoagulant.
Atrial Flutter pada Anak
Stephanie Wibisono;
Adrianus Kosasih
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.865
Latar Belakang: Atrial flutter merupakan tipe takikardi supraventrikuler akibat re-entri sirkuit di atrium kanan. Atrial flutter pada anak sangat jarang, umumnya setelah operasi jantung. Scar post-operasi merupakan substrat yang menginduksi atrial flutter. Laporan Kasus: Anak 13 tahun dengan keluhan berdebar-debar sejak 2 jam. Riwayat operasi jantung disangkal. Gambaran EKG pasien takikardi komplek lebar dengan rate 250 kali/menit, reguler. Pasien di challenge-test dengan adenosine untuk menyingkirkan diagnosis SVT (dengan aberansi), namun tidak respons. Setelah diberi amiodaron bolus, kembali ke sinus rhythm dan rate berangsur menurun. Echocardiography mendapatkan anatomi jantung normal dan kontraktilitas global left ventricle menurun (fraksi ejeksi 45%) karena takikardi. Simpulan: Atrial flutter dapat didiagnosis dengan EKG, diagnosis, dan akurasi karakteristik sirkuit menggunakan EP (electrophysiology) study.Background: Atrial flutter is a type of supraventricular tachycardia due to reentry circuits in the right atrium. Atrial flutter in children is rare, generally after cardiac surgery. Postoperative scar may induce atrial flutter. Case Report: A 13 year-old child with palpitations since 2 hours. History of heart surgery was denied. Electrocardiography shows wide complex tachycardia, rate 250/ minutes, regular. No response to adenosine challenge test to exclude SVT (with aberrant). Electrocardiography shows conversion to sinus rhythm and the rate gradually decreases after amiodarone bolus was given. Echocardiography featured normal heart anatomy and left ventricle global contractility decrease (ejection fraction 45%) due to tachycardia. Conclusion: Atrial flutter can be diagnosed by ECG, diagnosis, and accuracy characteristics of the circuit with EP (electrophysiology) study.
Penyakit Jantung Bawaan pada Kehamilan
Dewi Ayu Paramita;
Moch. Fathoni
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.861
Penyakit jantung bawaan (PJB) sianosis pada ibu berhubungan dengan peningkatan insidens aborsi, lahir mati, dan lahir prematur. Gejala penyakit jantung dapat muncul pertama kali karena perubahan hemodinamik saat hamil. Untuk memahaminya, diperlukan pengetahuan komprehensif mengenai defek serta perubahan hemodinamik akibat kehamilan.Cyanotic congenital heart disease in women is associated with a higher incidence of abortion, stillbirth, and premature birth. Symptoms can initially appear during pregnancy because of the hemodynamic changes. A comprehensive knowledge on the underlying defect and hemodynamic changes in pregnancy is needed.
Sistem Klasifikasi Histopatologik Kanker Lambung
Cindy Gautama
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.866
Banyak sistem klasifikasi histopatologi kanker lambung yang telah digunakan untuk membuat keputusan diagnosis dan tatalaksana yang spesifik. Klasifikasi yang paling reliabel masih merupakan kontroversi, oleh karena itu pemilihan sistem dapat bervariasi. Klasifikasi yang digunakan secara luas adalah menurut Lauren dan WHO.Several histophatological classification systems are used for gastric cancer diagnosis and treatment. The most reliable classification system is still controversial, and the choice may vary in clinical routine. The Laurén classification and the World Health Organization classification are widely used.
Hubungan Obstructive Sleep Apnea dengan Hipertensi
Haerani Rasyid;
St. Rabiul Zatalia R.
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.862
Hipertensi merupakan masalah kesehatan penting yang berdasarkan etiologinya dikelompokkan menjadi hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Obstructive sleep apnea merupakan salah satu penyebab hipertensi sekunder. Sekitar 50% subjek dengan OSA menderita hipertensi, di lain pihak diperkirakan 30-40% subjek hipertensi menderita OSA. Obstructive sleep apnea merupakan suatu sindrom klinik dengan karakteristik episode berulang kejadian apnea dan hypopnea akibat sumbatan total atau parsial jalan napas atas selama tidur. Pengetahuan interaksi OSA dengan hipertensi, serta tatalaksana klinis yang baik untuk kedua penyakit tersebut akan dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler.Hypertension, based on its etiology is classified to primary hypertension and secondary hypertension. Obstructive sleep apnea is a cause of secondary hypertension. About 50% OSA patients are accompanied with hypertension, and about 30-40% hypertension patients are with OSA. Obstructive sleep apnea is a clinical syndrome which is characterized by recurrent episodes of apnea and hypopnea because of total or partial obstructive upper airway during sleep. Understanding interaction between OSA and hypertension and its clinical management could help reduce risk of cardiovascular disease.
Bisphenol A (BPA) adalah Endocrine Disrupture Chemicals (EDC) yang Berperan sebagai Agen Diabetogenik Waldy Yudha Perdana,* Danny Jaya Jacobus**
Waldy Yudha Perdana;
Danny Jaya Jacobus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.867
Bisphenol-A merupakan bahan kimia yang luas digunakan di seluruh dunia pada wadah makanan dan minuman. BPA mempunyai dampak berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup, antara lain karena sifatnya sebagai pengganggu fungsi endokrin (endocrine disrupture chemical (EDC) karena dapat berikatan dengan reseptor estrogen. Selain itu, BPA dicurigai juga dapat menyebabkan diabetes melitus. Artikel ini menganalisis efek BPA terhadap jaringan tubuh manusia dan peranannya sebagai agen diabetogenik.Bisphenol-A is a chemical mostly used in food and beverages container. BPA is deleterious for environment and living creatures, due to its characteristic as endocrine disruptor chemicals (EDC), altering endogenous estrogen function. BPA is also suspected as a diabetogenic agent. This review analyzes substantiated scientific evidence on the effects of BPA on human and its role as diabetogenic agent.