cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Hipoksia Berpeluang Mencegah Kerusakan Sel β Pankreas pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Tinjauan Biologi Molekular Firda Annisa; Cynthia Viryawan; Fabianto Santoso
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i3.1157

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 adalah sindrom terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein akibat berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Umumnya, DM tipe 2 diawali dengan hiperglikemi berkelanjutan menyebabkan resistensi insulin. Hiperglikemi ini juga akan meningkatkan ROS (Reactive Oxygen Species), khususnya pada sel β pankreas dan akhirnya memicu kerusakan sel, selanjutnya mengurangi sekresi insulin sehingga dapat memperparah DM tipe 2. Hipoksia adalah kondisi kekurangan oksigen dalam sel. Kondisi ini telah diteliti dapat meningkatkan transporter glukosa sel dengan aktivasi faktor transkripsi HIF-1α (Hypoxia Inducible Factor 1α) sehingga dapat mengurangi hiperglikemia, kerusakan sel β pankreas pada pasien DM dan dapat mencegah resistensi insulin. Hipoksia juga menurunkan¬ O¬2 sel yang merupakan sumber ROS, sehingga akan menurunkan risiko kerusakan sel β pankreas pada DM tipe 2. Hipoksia berpeluang mencegah kerusakan sel β pankreas lebih lanjut pada DM tipe 2.Type 2 diabetes mellitus (DM) is a syndrome of impaired metabolism caused by reduced insulin secretion or decreased tissue sensitivity to insulin. Type 2 DM begins with sustained hyperglycemia causing insulin resistance. Hyperglycemia also causes ROS (Reactive Oxygen Species) increase, especially in pancreatic β cells, eventually lead to cell damage and more severe type 2 DM. Hypoxia has been observed can increase cell glucose transporter through activation of transcription factor HIF-1α (Hypoxia Inducible Factor 1α), reducing hyperglycemia and preventing destruction of pancreatic β cells in diabetic patients with insulin resistance. Hypoxia also lowers oxygen in cells as a source of ROS. ROS decrease will reduce risk of pancreatic β cells damage in type 2 DM. Hypoxia likely prevents further damage in type 2 DM by preventing pancreatic β cells destruction.
Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada DM Tipe 2 Andy Luman
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i2.17

Abstract

Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan gangguan yang ditandai dengan apnea obstruktif dan hipopnea. Sebagian besar pasien OSA datang dengan keluhan rasa mengantuk pada siang hari. Diperkirakan sekitar 40% pasien OSA akan mengalami diabetes, dan hingga 23% pasien diabetes memiliki OSA diperkirakan karena pengaruh aktivasi sistem saraf simpatis, efek langsung hipoksia, disfungsi hipotalamikpituitari-adrenal (HPA), infl amasi sistemik, adipokin, arsitektur tidur. OSA dihubungkan dengan berbagai komplikasi kardiovaskuler mulai hipertensi hingga gagal jantung, sehingga dipertimbangkan sebagai target terapeutik potensial untuk pencegahan primer dan sekunder penyakit kardiovaskuler.
Spektrum Penderita Neglected Fracture di RSUD dr. Abdoer Rahem – Januari 2012 s/d Desember 2013 Adhinanda Gema Wahyudiputra; Haris Dwi Khoirur; Rizki Adrian Hakim; M Rosyid Narendra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 2 (2015): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i2.1037

Abstract

Trauma merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah fraktur dengan atau tanpa dislokasi yang tidak ditangani atau ditangani tidak semestinya, sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan penanganan atau kondisi yang lebih buruk, bahkan kecacatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spektrum penderita neglected fracture di RSUD dr. Abdoer Rahem pada periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2013. Jenis penelitian ini observasional deskriptif. Semua penderita neglected fracture yang dioperasi di ruang OK Bedah Pusat RSUD dr. Abdoer Rahem dijadikan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah penderita neglected fracture di RSUD dr. Abdoer Rahem sebanyak 26 orang. Dominasi penderita laki-laki, usia produktif, status ekonomi rendah dilihat dari kelas pelayanan II dan III, lokasi fraktur di femur, dan komplikasi malunion serta nonuinon.Trauma is the primary cause of death and disability in the world. Neglected fracture with or without dislocation is a case of fracture which may, or may not be accompanied by dislocation which is not treated or treated poorly that eventually leads to a late management or worse condition, or even a disability. This is an observational descriptive research to determine the spectrum of neglected fracture cases in RSUD dr. Abdoer Rahem between 1 January 2012 to 31 December 2013. All neglected fracture cases operated in RSUD dr. Abdoer Rahem were included as samples. There were 26 neglected fracture cases in the RSUD dr. Abdoer Rahem between 1 January 2012 to 31 December 2013, mostly male, in productive age, low-economical status indicated from the service-class of II and III, most cases involve femur with malunion and nonuinon as the most common complication.
Colon Interposition for Esophagus and Pyloric Antrum Strictures Caused by Caustic Agent Ingestion Andry Irawan; Abdul Mughni Rozi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i5.481

Abstract

Swallowing irritating agent can cause chemical burn, which can develop complications such as stricture. Correctional procedures may cause further tissue damage with additional loss of function. Colon interposition is a therapeutic option for severe stricture cases.Menelan agen iritatif mengandung bahan kimia seperti asam atau basa dapat menyebabkan luka bakar kimiawi, pada beberapa kasus menyebabkan komplikasi striktur ringan hingga berat. Beberapa prosedur koreksi esophagus dapat menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut dengan kehilangan fungsi. Interposisi colon merupakan pilihan terapi kasus striktur berat. 
Manifestasi Neurooftalmologi pada Penyakit Parkinson dan Gangguan Gerak Lainnya Nia Anestya; Gilang Nispu Saputra; Aryatika Alam; Prettyla Yollamanda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 3 (2022): Saraf
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.1767

Abstract

Gangguan gerak merupakan kondisi kelainan neurologis yang memengaruhi kecepatan, kelancaran, kualitas, dan kemudahan bergerak. Gejala okular umumnya ditemukan pada pasien gangguan gerak, termasuk gangguan gerak bola mata dan persepsi visual. Variasi gangguan gerak bola mata dapat bersifat karakteristik dan membantu diagnosis pasien dengan gangguan gerak.
Psoriasis Pustulosa Generalisata Reyshiani Johan; R. Amir Hamzah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 12 (2014): Endokrin
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i12.1064

Abstract

Psoriasis pustulosa generalisata (von Zumbuch) adalah penyakit peradangan kulit yang khas ditandai dengan adanya erupsi pustula tersebar generalisata pada batang tubuh dan ekstremitas, termasuk kuku, telapak tangan dan telapak kaki disertai dengan gejala sistemik seperti demam yang berlangsung selama beberapa hari, malaise dan anoreksia. Merupakan salah satu bentuk varian akut dari psoriasis. Dilaporkan satu kasus psoriasis pustulosa generalisata akibat metIlprednisolon pada laki-laki usia 17 tahun. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah, denyut nadi dan frekuensi pernafasan dalam batas normal namun terdapat demam (suhu 38,2°C), lesi kulit dengan distribusi generalisata hampir di seluruh bagian tubuh kecuali wajah, genitalia, telapak tangan dan kaki berupa pustul tersusun sebagian konfluen berbentuk gambaran danau (lake of pus) dan sebagian diskret, serta berbatas tegas. Pada pemeriksaan laboratorium terdapat leukositosis (leukosit 21.380/mm3).Generalized Pustular Psoriasis (von Zumbuch) is an inflammatory skin disease that is typically characterized by the spread of generalized pustular eruption on the trunk and extremities, including nails, palms and soles of the feet accompanied by systemic symptoms such as fever that lasts for several days, malaise and anorexia. It is one of the acute variant forms of psoriasis. A case of generalized psoriasis pustulosa due to methylprednisolone in men age 17 years wasc reported. On physical examination, blood pressure, pulse and respiratory rate within normal limits, fever (38,2C), generalized skin lesions with distribution in almost all parts of the body except face, genitalia, hands and feet in the form of partly discrete and demarcated and partly confluent pustules (lake of pus). In laboratory tests are leukocytosis (leukocytes 21.320/mm3).
Penyakit Arteri Ekstremitas Bawah - Tinjauan Klinis Melisa Aziz
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i11.706

Abstract

Penyakit arteri ekstremitas bawah atau lower extremities artery disease (LEAD) diderita oleh hampir 202 juta jiwa di seluruh dunia. Presentasi klinis LEAD beragam mulai dari asimptomatik, claudicatio intermittent, hingga keluhan nyeri saat istirahat. Faktor risiko meliputi merokok, hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, dan inflamasi. Metode diagnostik yang mudah diakses dan non-invasif adalah pemeriksaan ankle-brachial index (ABI). Terapi farmakologis termasuk obat anti-hipertensi, obat penurun kadar lipid, dan antiplatelet.Lower extremities artery disease (LEAD) affects nearly 202 million people worldwide. Clinical presentations of LEAD range from asymptomatic, claudicatio intermittent, to pain at rest. Risk factors include smoking, hypertension, diabetes mellitus, hypercholesterolemia, and inflammation. The easily accessible and noninvasive diagnostic method is ankle-brachial index (ABI) examination. Pharmacologic therapy includes anti-hypertensive drugs, lipid-lowering drugs, and antiplatelets.
Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Peroksidasi Lipid pada Pasien Diabetes Melitus tipe 2 Subandrate -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 7 (2016): Kulit
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i7.76

Abstract

Hiperglikemia pada Diabetes melitus (DM)  tipe 2 diduga berperan dalam peningkatan radikal bebas (oksidan) dan penurunan antioksidan darah. Peningkatan radikal bebas memicu peroksidasi lipid darah yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid (MDA).  Penelitian ini adalah penelitian potong lintang analitik observasional, bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar glukosa darah sewaktu dengan peroksidasi lipid darah pada pasien DM tipe 2. Subjek penelitian adalah 25 pasien DM tipe 2 dan 25 orang kontrol. Kadar glukosa darah sewaktu ditentukan dengan ACCU-CHECK®Kit. Kadar MDA darah ditentukan dengan Sigma MDA Assay Kit. Rata-rata kadar glukosa darah sewaktu pasien DM tipe 2 adalah 236,2 mg/dL dan kontrol adalah 101,9 mg/dL. Rata-rata kadar MDA darah pasien DM tipe 2 adalah 4,37 nmol/µL dan kontrol adalah 1,55 nmol/µL (P=0,00). Kadar glukosa darah sewaktu menunjukkan korelasi positif sedang dengan kadar MDA (r=0,584 dan P=0,00). Peroksidasi lipid darah (MDA) pada pasien DM tipe 2 meningkat signifikan dibandingkan kontrol. Kadar peroksidasi lipid darah pasien DM tipe 2 berkorelasi positif dengan kadar glukosa darah sewaktu.
Manajemen Perioperatif Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Ina Ariani Kirana Masna; Muhammad Fachri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1115

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab kematian ke empat tersering di dunia dan diperkirakan akan menjadi penyebab kematian ke tiga tersering tahun 2020. Dengan banyaknya pasien PPOK dan meningkatnya angka harapan hidup, tindakan bedah pada pasien-pasien PPOK juga akan meningkat baik berupa tindakan invasif minimal maupun tindakan bedah besar. Manajemen perioperatif yang baik dapat mengurangi insidens komplikasi paru pascabedah (postoperative pulmonary complications, PPC).Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is currently the fourth leading cause of death in the world, and will be the third in 2020. The increase of COPD patients with improved life expectancy will likely increase the need of surgical procedures. Best perioperative management will reduce the incidence of postoperative pulmonary complications (PPC).
Dasar Terapi Tumor dan Kanker di Rumah Riset Jamu ‘Hortus Medicus’ Tawangmangu Zuraida Zulkarnain
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.950

Abstract

Kanker merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan sampai saat ini. Jumlah penderita kanker terus bertambah dari tahun ke tahun terutama di negara berkembang. Penelitian tentang khasiat dan cara kerja agen khemopreventif telah banyak dilakukan. Sejak tahun 2000 Rumah Riset Jamu (RRJ)‘Hortus Medicus’ menggunakan dan sedang mengembangkan beberapa tanaman obat, seperti temu mangga (Curcuma mangga), daun teh hijau (Camelia sinensis), benalu (Scurulla sp), kunir putih (Kaemferia rotunda), bidara upas (Merremia mammosa), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa) dalam terapi tumor dan kanker baik sebagai agen khemopreventif maupun terapi komplementer dan alternatif. Review artikel dan publikasi jurnal nasional dan internasional ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kajian ilmiah dari tanaman obat yang bermanfaat sebagai agen khemopreventif yang selama ini digunakan di RRJ ‘Hortus Medicus’.Cancer is a disease that becomes a health problem nowadays. Research on the efficacy and the effectiveness of chemopreventive agents have been carried out. Since year 2000, Rumah Riset Jamu (RRJ) 'Hortus Medicus' uses and is developing several medicinal plants, such as temu mangga (Curcuma mangga), daun teh hijau (Camelia sinensis), benalu (Scurulla sp), kunir putih (Kaemferia rotunda), bidara upas (Merremia mammosa), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa) for tumor and cancer therapy either as chemoprevention, complementary and alternative therapies. This paper is a review to provide scientific information on medicinal plants used in RRJ 'Hortus Medicus' as chemopreventive agent.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue