Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Profil Penggunaan Kortikosteroid Sistemik untuk Terapi Sindrom Stevens Johnson (SSJ) – Nekrolisis Eepidemal Toksik (NET) di Instalasi Rawat Inap RSUD DR. Moewardi Surakarta, Indonesia - Januari 2016 -Desember 2017
Rakhma Tri Irfanti;
Ance Imelda Betaubun;
Ahmad Fiqri;
Reti Anggraeni;
Ummi Rinandari;
Harijono Kariosentono
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1364
Latar belakang: Nekrolisis epidermal disebut Sindrom Stevens Johnson (SSJ) apabila yang terlibat kurang dari 10% dari area tubuh, 10% sampai 29% disebut SSJ overlap NET dan lebih dari 30% NET. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran umum pasien SSJ-NET serta penggunaan kortikosteroid sistemik di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode Januari 2016 – Desember 2017. Metode : Studi deskriptif retrospektif dengan populasi dan sampel penelitian pasien rawat inap di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi, Surakarta, periode Januari 2016 – Desember 2017. Sampel menggunakan data sekunder dari status rekam medis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Hasil: Total pasien 26 orang terutama berusia 46 – 55 tahun dan 56 – 65 tahun (23%). Laki-laki lebih banyak (57%). Diagnosis SSJ (61%) terbanyak dibandingkan SSJ overlap NET (19%) ataupun NET (19%). Hipertensi sebagai penyakit penyerta terbanyak (15%). Keterlibatan mukosa terbanyak pada mulut (88 %) dan penyebab terbanyak SSJ-NET melibatkan lebih dari satu macam obat (53%). Obat penyebab yang dicurigai terutama adalah antibiotik golongan sefalosporin dan parasetamol (23%). Rerata lama terapi deksametason adalah 10 hari dengan dosis rata-rata 25 mg per hari. Simpulan: Pengobatan kortikosteroid sistemik pada kasus SSJ – NET di RSUD dr. Moewardi Surakarta pada umumnya menghasilkan perbaikan klinis dengan rata-rata perawatan 10 hari dan dosis rata-rata deksametason 25 mg per hari.Background: Epidermal Necrolysis is classified into several degree of severity based on the area of the body involved, below 10% is SJS, 10% - 29% is SJS overlap TEN and 30% is TEN. Objective: To provide general description of SJS-TEN patients and systemic corticosteroids therapy in Dr.Moewardi General Hospital Surakarta January 2016 - December 2017. Methods: A retrospective descriptive study on in-patients in Dr. Moewardi General Hospital Surakarta between January 2016 and December 2017. Results: Total sample was 26 patients, mostly male (57%) in 46 - 55 year-old and 56 - 65 year-old (23%). The most common diagnosis was SJS (61%) followed by SJS overlap TEN (19%) and TEN (19%). Hypertension was the most frequent comorbid disease (15%). Mostly affected was mouth mucosa (88%) and caused by mostly more than one drug (53%). Suspected causative drugs were mostly cephalosporin and paracetamol (23%). The average duration of dexamethason therapy was 10 days with an average dose 25 mg per day. Conclusion: SSJ - NET cases in Dr. Moewardi General Hospital Surakarta were mostly treated with systemic corticosteroids for an average of 10 days and an average dose of dexamethason 25 mg per day.
USG untuk Deteksi Plasenta Akreta
Fauzan -;
Wulan Ardhana Iswari;
Tiarma Uli Pardede;
Febriansyah Darus;
Bintari Puspitasari;
Sanny Santana;
Finekri Abidin;
Judi J Endjun
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i8.744
Plasenta akreta merupakan implantasi abnormal plasenta pada dinding uterus, merupakan komplikasi pada sekitar 0,9% kehamilan. Diagnosis plasenta akreta dibuat berdasarkan spesimen patologis yang diperoleh setelah histerektomi. Diagnosis plasenta akreta juga dapat berdasarkan USG (ultrasonography) dan MRI (magnetic resonance imaging). Sonografi 2-dimensi konvensional adalah alat skrining yang baik untuk mendeteksi plasenta akreta. USG lebih tersedia daripada MRI, lebih murah, dan non-invasif. Oleh karena itu, USG dapat menjadi modalitas diagnostik pilihan untuk plasenta akreta. Selain itu, sensitivitas sonografi sebesar 86,4%; dibandingkan MRI sebesar 84%.Placenta accreta is an abnormal placental implantation of the uterine wall, a complication of about 0.9% of pregnancies. The diagnosis of placenta accreta is made based on pathological specimens obtained after hysterectomy. The diagnosis of placenta accreta can also be based on ultrasound (ultrasonography) and magnetic resonance imaging (MRI). Conventional 2-dimensional sonography is a good screening tool for detecting placenta accreta. Ultrasound is more available than MRI, cheaper, and non-invasive. Therefore, ultrasound may be the preferred diagnostic modality for placenta accreta. In addition, sonographic sensitivity was 86.4%; compared with MRI of 84%.
Kombinasi Paramedian Forehead Flap dan Hinge Flap pada Basalioma Nasal dengan Defek Kompleks
Angelia Agustina;
Sweety Pribadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i3.373
Basalioma merupakan kanker kulit non-melanoma yang paling sering ditemukan. Basalioma umumnya tumbuh lambat, menyebabkan destruksi lokal, jarang bermetastasis. Penyakit ini berkembang pada area terpapar sinar UV, umumnya di hidung. Tulisan ini melaporkan kasus seorang pria 48 tahun dengan basalioma di daerah nasal. Dilakukan eksisi luas dan rekonstruksi paramedian forehead flap, dikombinasi dengan hinge flap dan cartilage graft. Hasil pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan basalioma berpigmen, dengan ulserasi fokal keratotik, batas irisan bebas. Manajemen yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup baik secara estetik maupun mencegah kekambuhan. Basalioma is the most common non-melanoma skin cancer. Basalioma is generally a slow growing tumor, locally destructive and rarely metastasizes. This tumor developed mostly in areas exposed to UV, nose is the most common location. This paper reports a 48-year-old male with basalioma in the nasal area. Extensive excision was carried out followed by reconstruction with paramedian forehead flap combined with hinge flaps and auricular cartilage graft. Pathological examination shows pigmented basalioma with focal keratotic ulceration, edge of incision was free from tumor. Appropriate management is needed to improve aesthetically and to prevent recurrence.
Efektivitas Profilaksis Antiepileptik pada Kasus Kejang Demam: Telaah Berbasis Bukti
Lina Ninditya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i11.892
Kejang demam merupakan penyebab paling sering kejang pada anak. Klinisi sering memberi antipiretik dan antiepileptik saat episode demam untuk mencegah kejang demam, padahal efektivitasnya masih diperdebatkan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan keamanan terapi profilaksis antiepileptik pada kasus kejang demam. Pencarian literatur dilakukan secara terstruktur pada situs resmi Pubmed dan The Cochrane Library. Judul dan abstrak yang disitasi kemudian ditapis sesuai kriteria yang telah ditentukan. Telaah kritis dilakukan berdasarkan kriteria standar relevansi, validitas, kepentingan dan mampu laksana. Studi ini menelaah kritis sebuah systematical review yang valid, penting dan mampu laksana. Diperoleh hasil bahwa terapi antiepilepsi profilaksis baik intermitten maupun rumatan tidak efektif untuk mencegah berulangnya kejang demam.Febrile seizure is the most common cause of seizure occurred in children. Physicians often give antiepileptic and antipyretic during fever as prophylactic, while the benefit is still being debated among scientists. A Pubmed and Cochrane Library search were conducted to search all studies on the effectiveness of antiepileptics as prophylactics in febrile seizure. The articles were screened by applying inclusion and exclusion criterias. The remaining 1 article was appraised on the validity, importance, and applicability based on evidence-based medicine toolkit. The result was that intermittent and continous prophylactic therapy are not effective to prevent recurrent febrile convulsion.
Farmakoterapi Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)
Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i4.491
Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit yang umum, dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan gejala pernapasan persisten dan keterbatasan aliran udara yang disebabkan kelainan saluran napas dan/atau alveoli yang biasanya disebabkan oleh paparan signifikan terhadap partikel atau gas berbahaya. Manajemen optimal PPOK multifaset yang menggabungkan strategi non-obat dan manajemen obat. Beberapa obat seperti bronkodilator dan antiinflamasi dapat membantu pasien COPD.Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a common, preventable and treatable disease, characterized by persistent respiratory symptoms and airflow limitation due to airway and/or alveolar abnormalities, usually caused by significant exposure to noxious particles or gas. The optimal management requires a multifaceted approach which incorporates non-drug as well as drug-management strategies. Some medications such as inhalation bronchodilators and anti-inflammatory agents can help COPD patients.
Perkembangan Imunoterapi untuk Kanker
Hastarita Lawrenti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 8 (2018): Alopesia
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i8.634
Imunoterapi untuk kanker ditujukan untuk memodulasi dan menggunakan sistem imun pasien dengan target sel kanker dibandingkan menggunakan modalitas terapi ekstrinsik. Imunoterapi untuk kanker ditujukan untuk mengaktivasi atau meningkatkan pengenalan oleh sistem imun dan penghancuran sel-sel kanker. Terdapat beberapa pendekatan imunoterapi seperti vaksin kanker, virus onkolitik, transfer sel adoptif, antibodi monoklonal penghambat CTLA-4, PD-1, dll. Beberapa jenis telah disetujui oleh US FDA untuk terapi kanker.Cancer immunotherapy means modulating and using patient’s immune system to target the cancer cells rather than using an extrinsic means of therapy. It is designed to activate or enhance the immune system’s recognition and killing of the cancer cells. Some immunotherapeutic approaches can be offered, such as cancer vaccine, oncolytic virus, adoptive cell transfer, monoclonal antibody blocking of cytotoxic T lymphocyte-associated protein 4 (CTLA-4), programmed cell death protein 1 (PD-1), etc. Some have been approved by US FDA for cancer therapy.
Tatalaksana Melanoma Maligna Kutaneus
Rudi Chandra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19]
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i7.1453
Melanoma merupakan suatu tumor maligna dari melanosit, dengan lokasi paling sering adalah kulit (95% kasus). Tatalaksana melanoma tergantung stadium saat diagnosis; pembedahan masih merupakan pilihan utama. Pengobatan melanoma primer adalah bedah eksisi definitif dengan batas eksisi berdasarkan ketebalan tumor. Pada keterlibatan nodus limfatikus regional, dapat dilakukan diseksi elektif komplit. Pada rekurensi lokal dilakukan bedah reseksi komplit dengan penutupan luka primer atau eksisi lokal luas dengan skin grafting atau penutupan flap. Metastasis melanoma dibedakan menjadi metastasis kulit atau jauh. Tatalaksana metastasis melanoma dapat terapi sistemik (targeted therapy, terapi imun, dan kemoterapi) dan radiasi. Terapi adjuvan hanya untuk pasien tanpa bukti metastasis tetapi berisiko tinggi penyebaran tumor lebih lanjut.Melanoma is a malignant tumor of melanocytes, the most frequent location is in the skin (95% cases). Management of melanoma depends on the stage at diagnosis. Surgery is still the main choice of therapy. Treatment of primary melanoma is definitive excision surgery with excision limit based on the thickness of the tumor. In regional lymph node involvement, complete elective dissection can be performed. In local recurrence, complete resection is performed with primary wound closure or extensive local excision with skin grafting or flap closure. Treatment of melanoma metastasis can be divided into skin metastases or distant. Management of melanoma metastases can be systemic therapy (targeted therapy, immune therapy, and chemotherapy) and radiation. Adjuvant therapy is only given to patients without evidence of metastasis but is at high risk for further spread of the tumor.
Suplementasi Vitamin B1 untuk Pasien Sepsis
Marcia Kumala
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i8.783
Sepsis disertai dengan perubahan metabolisme makronutrien maupun mikronutrien yang cepat. Banyak pasien sepsis mengalami malnutrisi serta kekurangan vitamin dan mineral akibat peningkatan kebutuhan nutrisi dan pemberian nutrisi yang tidak adekuat, salah satunya defisiensi vitamin B1 atau tiamin. Suplementasi vitamin B1 dapat dipertimbangkan pada pasien sepsis mengingat manfaat vitamin B1 pada metabolisme tubuh.Sepsis is characterized by rapid changes in both macronutrients and micronutrients metabolism. Numerous septic patients suffer from malnutrition and vitamin or mineral deficiencies due to high nutritional requirement and inadequate nutrition, among others is vitamin B1 or thiamine deficiency. Vitamin B1 supplementation can be considered for septic patients, as there are many benefits of vitamin B1 to body’s metabolism pathways.
Immune Thrombocytopenia
Sandy Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.405
Immune thrombocytopenia (ITP) merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan destruksi dan penurunan produksi trombosit. Gejala yang sering adalah perdarahan mukokutan serta penurunan jumlah trombosit hingga kurang dari 100.000/µL. Terapi terdiri dari beberapa lini sesuai keadaan klinis untuk memperbaiki kualitas hidup pasien.Immune thrombocytopenia (ITP) is an autoimmune disease that causes destruction and decrease in platelet production. The most common symptom is mucocutaneous bleeding and platelet count decrease to less than 100,000/µL. Therapy consists of several modalities depending on clinical condition to improve quality of life.
Hubungan 25-hydroxyvitamin D Dengan Sepsis Pada Anak
Austin Simon Tjowanta;
Chairul Yoel
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i6.660
Sepsis masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak. Bukti terbaru menunjukkan bahwa vitamin D dapat meningkatkan respons imun bawaan dengan menginduksi peptida antimikroba. Pada anak sepsis dijumpai penurunan kadar 25-hydroxyvitamin D dan risiko sepsis meningkat pada pasien kekurangan vitamin D. Risiko mortalitas lebih tinggi pada pasien sepsis yang kekurangan vitamin D. Pemberian vitamin D pada anak dapat mengurangi keparahan penyakit dan juga menurunkan mortalitas.Sepsis is a major cause of morbidity and mortality in pediatric population, despite scientific progresses in the last decades. Recent evidences suggest that vitamin D may enhance the innate immune response by induction of antimicrobial peptides. Children with sepsis have decreased 25-hydroxyvitamin D levels and vitamin D deficiency patients have increased sepsis risk. Vitamin D-deficient sepsis patients have higher risk of mortality compared to sepsis patients with normal vitamin D levels. Vitamin D supplementation may decrease the severity of illness and also reduce mortality.