cover
Contact Name
Muhammad Sandi Rosyadi
Contact Email
muasarah@uin-antasari.ac.id
Phone
+6281253539509
Journal Mail Official
muasarah@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/muasharah/about/editorialTeam
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer
ISSN : -     EISSN : 28287746     DOI : -
Fokus dalam jurnal ini adalah "Islam Kontemporer" dan lingkupnya adalah: Islam sebagai Ajaran Islam sebagai lembaga Islam sebagai praktik ekonomi Islam dan politik Islam dan kebudayaan Penerapan Islam oleh penganutnya
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): Juli" : 6 Documents clear
DIGITALISASI DAN TANTANGAN DAKWAH DI ERA MILENIAL Faridhatun Nikmah
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.717 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3666

Abstract

AbstractIn this era of digitisation today people are spoiled for social media. Social media is not only used as a medium of communication and information, but it can be used as a means to preach. Da'wah is not only done by face-to-face with Dai directly, but Da'wah can be done in a way indirectly through the mass media. The mass Media became a great opportunity for the Dai to preach. The purpose of this study describes 1) the optimization of digital media for Da'wah, and 2) The challenge of the challenges of the millennial era. The methods used in this study are qualitative descriptive. The results of this research show that Kopyah Ireng community in optimizing digital media through Da'wah can be done in the first way, spreading the knowledge and instilling confidence in the audience or listeners, second, forming a team Specialized in spreading preaching to social media accounts, third, make websites in which contains community issues, fourth, create content da'wah on social media, such as Youtube, Instagram, and Instagram, 2) in the face The challenge of Da'wah in the millennial era of things done by the community Kopyah Ireng by means of socialize science and the knowledge of science.AbstrakDi era digitalisasi saat ini manusia sudah dimanjakan adanya media sosial. Media sosial tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi dan informasi, melainkan dapat digunakan sebagai sarana untuk berdakwah. Dakwah tidak hanya dilakukan dengan cara tatap muka dengan dai secara langsung, melainkan dakwah dapat dilakukan dengan cara tidak langsung melalui di media massa. Media massa menjadi peluang besar bagi para dai untuk berdakwah. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan 1) optimalisasi media digital untuk dakwah, dan2) tantangan dai dalam menghadapi era milenial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas kopyah ireng dalam mengoptimalisasikan media digital melalui dakwah dapat dilakukan dengan cara pertama, menyebarkan ilmu dan menanamkan kepercayaan kepada audiens atau pendengar, kedua, membentuk tim khusus dalam menyebarkan dakwah ke akun media sosial, ketiga, membuat website-website yang di dalamnya berisi permasalahan masyarakat, keempat, membuat konten-konten dakwah di media sosial, seperti Youtube, Instagram, dan Instagram, 2) Dalam menghadapi tantangan dakwah di era milenial hal yang dilakukan oleh komunitas kopyah ireng dengan cara memasyarakatkan ilmu dan melogikan ilmu.
QIRA’AH MUBADALAH DAN ARAH KEMAJUAN TAFSIR ADIL GENDER: APLIKASI PRINSIP RESIPROSITAS TERHADAP Q. S. ALI IMRAN: 14 Anisah Dwi Lastri P
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.121 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3655

Abstract

AbstractThe issues of discrimination against women are not new in the history of humanity. It is noted that this discrimination has existed since pre-Islamic. Islam, with the rahmatan li al-alamin’s concepg, gaee nee breagh so as go speak gheir preeionslç marginalized righgs ghrongh ghe Holç message. The eomen’s hnmanigarian sgrnggle ghag had been so rigid and focnsed on eomen’s obligagion eighong regard for gheir righgs became more flexible. Bng ghis sgepping-stone that was built by Islam is not necessarily a prerequisite. This is seen in a number of qur 'an verses that seem to place a man as superiority so that often the  masculine  interpreters  appear.  This  too  has  a  great  renown  interpretation  and  has  repeated  discrimination  against women. One of the most sexist texts that is Q. S. Ali Imran: 34 that places women as world jewelry for men without seeing the position of man in women's eyes. The qira 'ah mubadalah notion of giving a fresh breeze to sexist interpretations and making  new  offers  to  interpretation  styles  in  particular  that  are  meant  to  be  meant  for  one  subject  only.  With  the mubadalah’s perspecgiee or ghe reciprocigç’s principle, ghe ingerpregagion of Ali Imran: 14 resnlgs in geo cengral ideas, (1) both have the same possibility as being "temptation" to one another, (2) both have to keep themselves from the temptations of the world. This paper is trying to apply the mubadalah theory to Ali Imran :14 in the attempt of the new tafsir and gender-fair application.AbstrakIsu-isu diskriminasi terhadap perempuan bukanlah hal baru yang muncul dalam sejarah kemanusiaan. Tercatat bahwa diskriminasi  ini  telah  muncul  sejak  zaman  pra-Islam.  Islam  yang  rahmatan  li  al-alamin  melalui  pesan  al-Qnr’an memberikan nafas baru bagi perempuan untuk lebih leluasa menyuarakan hak-haknya yang sebelumnya termarginalkan. Pergulatan   kemanusiaan   perempuan   yang   sebelumnya   begitu   kaku   dan   memforsir   kewajiban   perempuan   tanpa memerhatikan  hak-haknya  menjadi  lebih  fleksibel.  Namun  demikian  batu  loncatan  yang dibuat  Islam  tak  serta  merta secara  mutlak. Hal ini terlihat  dari  beberapa ayat-ayat al-Qnr’an çang seolah  menempagkan lelaki sebagai snperiorigas sehingga  sering  muncul  tafsir  yang  terkesan  maskulin.  Aplikasi  tafsir  ini  pun  banyak  yang  telah  masyhur  dan  seolah kembali mengulang diskriminasi terhadap perempuan. Salah satu ayat yang sering ditafsirkan secara seksis adalah Q. S. Ali Imran : 34 yang menempatkan perempuan sebagai perhiasan dunia bagi lelaki tanpa melihat posisi lelaki di mata perempuan. Gagasan qila’ah mjbada1ah memberikan angin segar terhadap penafsiran seksis yang terkesan bias gender dan memberikan tawaran baru terhadap gaya penafsiran khususnya ayat-ayat yang seolah dituju untuk satu subjek saja. Dengan perspektif mubadalah atau prinsip resiprositas, penafsiran terhadap Ali Imran : 14 menghasilkan dua gagasan ingi, (1) kednança memiliki kemnngkinan çang sama menjadi “godaan” sagn sama lain, (2) kednança harns menjaga diri dari  godaan  dunia.  Tulisan  ini  berusaha  mengaplikasikan  teori  mubadalah  terhadap  Ali  Imran  :14  sebagai  upaya aplikasi tafsir yang berkemajuan dan adil gender.
FORMULASI KONSEP MODERASI ISLAM BERBASIS KEINDONESIAAN DALAM MEREDUKSI RADIKALISME AGAMA DI INDONESIA (KAJIAN EPISTIMOLOGIS-HISTORIS) Mucharom Syifa
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.667 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3673

Abstract

Abstract: The phenomenon of Islamic religious discourse in Indonesia after the reformation is suspected to have experienced radicalism and even extremism. The explosion of terrorism in the name of Islam that has occurred since the reformation until now has made spotlight to the face of Indonesian Islam in the world. In fact, the true Islam in Indonesia is emphasizes the principle of moderate (tawassuth/washatiah) in da'wah. This characteristic of accommodative Islam is a bastion in preventing radical religious ideology. This article uses the epistemological-historical-holisitic approach to examine the concept of Islamic moderation in the context of the Indonesian nation and the shallowness of religious reasoning. As a result, there is not a single strong reference that says that the spread of Islam in the ancient archipelago was in radical ways. The history of Islam in the archipelago has experienced struggles with diverse localities. Islam exists not to break down or cut down existing local traditions and culture, but to try to dialect with the context in Islam exists. Because of its flexible nature, Islam is able to survive and develop so as to emerge a new style of Islam that is unique and does not exist in any part of the world.Keywords: Islamic Moderation, National Fiqih, Radicalism Abstrak: Fenomena wacana keagamaan Islam di Indonesia pasca reformasi ditengarai banyak mengalami radikalisme bahkan ekstrimisme. Ledakan terorisme atas nama Islam yang terjadi pasca reformasi hingga sekarang menjadikan wajah Islam Indonesia mendapat sorotan di dunia. Padahal sejatinya Islam yang ada di Indonesia adalah Islam yang mengedepankan prinsip moderat (tawassuth/washatiah) dalam berdakwah, Karakteristik Islam akomodatif inilah yang menjadi benteng pencegahan faham keagaamaan radikal. Artikel ini dengan menggunakan pendekatan epistemologis-historis-holisitik ingin menelisik konsep moderasi Islam dalam konteks bangsa Indonesia dan kedangkalan nalar beragama. Hasilnya, tak ada satupun referensi kuat yang mengatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara zaman dahulu adalah dengan cara-cara radikal. Sejarah Islam di Nusantara telah mengalami pergumulan dengan lokalitas yang beragam. Islam hadir bukan untuk mendobrak atau membabat habis tradisi dan budaya lokal yang ada, melainkan mencoba untuk berdialektika dengan konteks di mana Islam berada. Oleh karena sifat fleksibelnya itu, Islam mampu bertahan dan berkembang sehingga memunculkan corak keislaman baru yang khas dan tidak ada di belahan dunia manapun.Kata Kunci: Fikih Kebangsaan, Moderasi Islam, Radikalisme Agama
DAKWAH DIGITAL UNTUK GENERASI MILENIAL: STUDI ATAS PRAKTIK DAKWAH DI KOMUNITAS OMAH NGAJI SURAKARTA Ayu Kristina
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.394 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3665

Abstract

Abstract: Advances in technology have an effect on the dakwah method which also develops rapidly and dynamically. At the same time, it cannot be denied that content containing radicalism and extremism also spreads rapidly and is capable of reaching all lines. So, we need a counter that brings new hope, like the Omah Ngaji Community. This study was conducted to find out how religion is understood and practiced by millennial generations and how dakwah was carried out in the millennial era. The approach used in this study is a descriptive qualitative approach, through in-depth interviews of informants who have been determined based on purposive sampling. The results showed that religion was interpreted as a guide to human life so as not to make chaos. Submission of religion in dakwah through taklim, social media, and psychological approaches to counter hate speech. For this reason digital dakwah is presented by 'ustadz gaul' who understands technology.Keywords: da’wah method, omah ngaji community, millennial generations  Abstrak: Kemajuan teknologi berdampak pada metode dakwah yang juga berkembang pesat dan dinamis. Pada saat yang sama, tidak dapat dipungkiri bahwa konten yang mengandung radikalisme dan ekstremisme juga menyebar dengan cepat dan mampu menjangkau semua lini. Jadi, kita membutuhkan penghitung yang membawa harapan baru, seperti Komunitas Omah Ngaji. Studi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana agama dipahami dan dipraktikkan oleh generasi milenium dan bagaimana dakwah dilakukan di era milenium. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif, melalui wawancara mendalam terhadap informan yang telah ditentukan berdasarkan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama ditafsirkan sebagai pedoman hidup manusia agar tidak membuat kekacauan. Penyerahan agama dalam dakwah melalui taklim, media sosial, dan pendekatan psikologis untuk melawan ucapan kebencian. Untuk alasan ini dakwah digital disajikan oleh 'ustadz gaul' yang mengerti teknologi.Kata Kunci: generasi milenial, kominitas omah ngaji, metode dakwah
AGAMA SIAP SAJI DI KALANGAN MILLENIAL Wardah Wardah
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.209 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3675

Abstract

 AbstractMillennial comes from English, Millennium which means a thousand years. Millennials are described as a generation that cannot be far from technology users including "You Tube" and "Instagram" social media. The development of technology is now increasing, information is becoming more easily known including in studying theology. Problems that often occur, religion that is presented instantaneously through these two media gives more positive and negative implications, in one side of the media it provides an alternative as a means of knowledge of religion, but on the other hand the media provides a superficial understanding of religion as a whole. According to the Republika Data Center from the Ministry of Communication and Information in Indonesia, a number of adolescents are so aggressive in consuming streaming video entertainment and religious content. Ericson noted that in 2011 around 7% of teens between the ages of 16-19 years watched a lot of videos through You Tube. At this time the business is to consume the internet for 18 hours a day. From these data it is interesting to study the religious studies obtained by the millennials from Instagram and You Tube accounts. The focus of this research is to know in comprehensively and in-depth the practical religion of the millennials from the influence of social media, Instagram and You Tube. The researcher conducted interviews with UIN Antasari Banjarmasin students from five faculties represented by each faculty totaling two people. Sampling uses purposive sampling method. This study aims to add understanding in taking a wise attitude to address the phenomenon of understanding religion instantly. The research method used is qualitative, the technique of data collection is done in triangulation, a combination of observation, interviews and documentation. The results of this qualitative study are to understand the uniqueness in constructing the phenomenon and the results of virtual da'wah containing scriptural content−those who understand religion without interpretation−because it refers to the Qur'an and hadith in text an sich). In addition, it also concludes that there is a hybridization of religious identity in the millennials. Therefore, this study provides recommendations that are expected to grow the awareness of the millennial generation so that understanding religion must be comprehensive and do not always make instant things a source of consumption for their religious studies.AbstrakMillenial berasal dari bahasa Inggris, Millennium yang berarti masa seribu tahun. Millenial digambarkan sebagai generasi yang sangat lekat dengan penggunaan media  sosia1  “You  Tube“  dan  “Instagram“. Perkembangan  teknologi  kini  semakin  meningkat,  informasi  semakin  mudah  diketahui  termasuk  dalam mengkaji  ilmu  agama.  Permasalahan  yang  kerap  terjadi,  agama  yang  disajikan  secara  instan  melalui  kedua media tersebut sedikit banyak memberikan implikasi positif dan negatif, dalam salah satu sisi media tersebut memberikan   alternatif   sebagai   sarana   pengetahuan   ilmu   agama,   namun   di   sisi   lain     media   tersebut memberikan  pemahaman  yang  dangkal  terhadap  agama  secara  utuh.  Menurut  Pusat  Data  Republika  dari Kementerian  Kominfo  di  Indonesia,  sejumlah  remaja  begitu  gencar  dalam  mengkonsumsi  streaming  video hiburan maupun konten agama. Ericson mencatat pada tahun 2011 silam sekitar 7% remaja antar usia 16-19 tahun banyak menonton video melalui You Tube. Pada saat ini urusan untuk mengkonsumsi internet selama 18 jam dalam sehari. Dari data tersebut menarik untuk diteliti mengenai kajian rkeagamaan yang didapat para millenial dari akun Instagram dan You Tube. Fokus penelitian ini adalah mengetahui secara komprehensif dan mendalam  bagaimana  keagamaan  praktis  dari  para  millenial  dari  pengaruh  sosial  media  Instagram  dan  You Tube.  Peneliti  melakukan  wawancara  kepada  mahasiswa  UIN  Antasari  Banjarmasin  dari  lima  fakultas  yang diwakili  setiap  fakultasnya  berjumlah  dua  orang.  Pengambilan  sampel  menggunakan  metode   purpossive sampling.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menambahkan  pemahaman  dalam  mengambil  sikap  bijak  untuk menyikapi  fenomena  memahami  agama  secara  instan.  Metode  penelitian  yang  digunakan  adalah  kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, gabungan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian  kualitatif  ini  adalah  untuk  memahami  keunikan  dalam  mengkonstruksi  fenomena  dan  hasilnya dakwah  virtual  yang  berisi konten  yang  bersifat  skriptual—yang memahami  agama  tanpa  interpretasi—karena merujuk al-Qur’an dan hadis secara teks an sich). Selain itu juga secara kesimpulan muncul gerakan hibridasi identitas keagamaan di kalangan millenial. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan rekomendasi yaitu diharapkan tumbuh kesadaran generasi millenial agar dalam memahami agama haruslah komprehensif dan tidak selalu menjadikan hal yang instan sebagai sumber konsumsi rujukan studi agama mereka.
MODERASI ISLAM DALAM KITAB SABILAL MUHTADIN: KEARIFAN LOKAL TANAH BANJAR A. Syaifullah
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 2, No 1 (2020): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.973 KB) | DOI: 10.18592/msr.v2i1.3676

Abstract

AbstractThis writing discusses the moderation of Islam in the Sabilal Muhtadin scripture as one of the local wisdom manuscripts of the Banjar land. This book was written by a great Islamic Borneo scholar named Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, he wrote many books during his life and one of them was the Sabilal Muhtadin scripture, in this book he wrote about the law of worship, muamalah, and the habits of the Banjarese people. Banjar community habits that are found in the Sabilal Muhtadin scripture and occurred during his time writings, such as, burying a corpse with Tabala, the concept of latrines in taking care of and providing food for mourners. Some of the habits of the Banjarese people in fiqh scriptures written by ulama in Arab countries are identified as illegal or Haram. But in the Sabilal Muhtadin scripture it allows the ones. The habits are still practiced by the Banjar community until modern times now. Therefore it is important to know comprehensively and deeply about the moderate or moderation of Islam contained in the Sabilal Muhtadin scripture. Furthermore, the concept of moderation with wrapping local wisdom in the Sabilal Muhtadin scripture will be assessed using literature research methods and reading material relevant to the research as the source. The result of this study is that Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari provided legal clarity by considering the condition of the Banjar community at that time. The conclusion of the study is that Sheikh Muhammad Arsyad in the Sabilal Muhtadin scripture provides a middle ground (as mediator) between the habits of the people and the Islamic religion in order to live in synergy and harmony. AbstrakTulisan ini membahas tentang moderasi Islam dalam kitab Sabilal Muhtadin sebagai salah satu manuskrip kearifan lokal tanah Banjar. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama besar asal Kalimantan bernama syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, beliau banyak menulis kitab semasa hidupnya dan salah satunya adalah kitab Sabilal Muhtadin, dalam kitab ini beliau menulis tentang hukum ibadah, muamalah, dan kebiasaan masyarakat banjar. Kebiasaan masyarakat banjar yang terdapat di dalam kitab Sabilal Muhtadin dan terjadi pada masa beliau menulis kitab tersebut seperti mengubur mayat dengan Tabala, konsep jamban dalam buang hajat dan menyediakan makanan untuk pelayat. Kebiasaan orang banjar yang dilakukan tersebut sebagian dalam kitab fikih tulisan ulama di negara Arab hukumnya haram. Tetapi dalam kitab Sabilal Muhtadin membolehkan kebiasaan masyarakat banjar. Kebiasaan tersebut masih dipraktikkan oleh masyarakat banjar sampai zaman modern sekarang. Oleh karena itu penting untuk dikethaui secara komprehensif dan mendalam mengenai Moderat atau moderasi Islam yang terdapat dalam kitab Sabilal Muhtadin. Selanjutnya konsep moderasi dengan balutan kearifan lokal dalam kitab Sabilal Muhtadin ini akan dikaji dengan menggunakan metode penelitian studi pustaka dan bahan bacaan yang relevan dengan penelitian sebagai sumbernya. Hasil penelitian ini adalah bahwa syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memberikan kejelasan hukum dengan mempertimbangkan keadaan masyarakat banjar saat itu. Kesimpulan dari penelitian adalah bahwa Syekh Muhammad Arsyad dalam kitab Sabilal Muhtadin memberikan jalan tengah (sebagai perantara) antara kebiasaan masyarakat dengan agama Islam untuk bisa hidup bersinergi dan harmoni.

Page 1 of 1 | Total Record : 6