cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2018)" : 16 Documents clear
INFORMATION GAP FOR TEACHING AND LEARNING ACTIVITY IN AL FALAH JUNIOR HIGH SCHOOL
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INFORMATION GAP FOR TEACHING AND LEARNING ACTIVITY IN AL FALAH JUNIOR HIGH SCHOOL DevitaAyuningtyas English Department Faculty, Faculty of Language and Arts, State University ayunplekenut@gmail.com Abstrak Berbicara adalah proses interaksi dalam menciptakan makna yang mencakup menghasilkan, menerima, dan memproses informasi (Brown, 1994; Burns & Joyce, 1997). Untuk membuat siswa mampu dalam berbicara menggunakan bahasa inggris dengan aktif, guru harus mengerticommuicative language features yang perlu diimplementasikan dalam pengajaran speaking. commuicative language features terdiri dari tiga bagian yakni kesenjangan informasi, pemilihan bahasa, dan masukan/ umpan balik. Namun, penelitian ini akan difokuskan pada pembahasan tipe-tipe kesenjangan informasi dalam pembelajaran bahasa inggris. Oleh karena itu, poin penelitian ini tidak untuk mengatasi kesulitan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi untuk mengetahui tipe kesenjangan informasi apa yang digunakan di dalam kelas. Penelitian ini menggunakan catatan lapangan (field notes)sebagai alat untuk mengumpulkan data. peneliti menggunakan penelitian kualitatif dalam penelitian ini. Subjek penelitian dalam studi ini adalah guru Bahasa Inggris di SMP Al Falah Delasari Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru bahasa inggris menggunakan tipe-tipe kesenjangan informasi di dalam kelas. Menurut tipe-tipe kesenjangan informasi, guru menggunakan tiga dari empat tipe-tipe kesenjangan informasi. Yakni opinion gap, knowledge gap, and experience gap. tipe-tipe kesenjangan informasi tersebut ditemukan karena tergantung aktifitas siswa dan materi dalam proses belajar mengajar. Kata kunci: Kesenjangan informasi, Tipe-tipe kesenjangan informasi, Berbicara Abstract Speaking is an interactive process of constructing meaning that involves producing, receiving and processing information (Brown, 1994; Burns & Joyce, 1997). In order to make the students are able to speak English actively, the teachers should understand the communicative language features that need to be implemented while teaching speaking. The communicative language features consist of three features that are information gap, language choice, and feedback. However, this study will be focused on the discussion of information gap’s types in learning English.Therefore, the point of this study is not to overcome students’ difficult in the learning process, but rather to know what types of information gap used in class. This study used field notes as instrument to collect the data. The researcher used qualitative research in this study. The participant of this study was the teacher in SMP Al FalahDeltasari Surabaya. The result of the study showed that the teacher used types of information gap in the class. Based on types of information gap, the teacher used three from four types of information gap. Those are opinion gap, knowledge gap, and experience gap. Those types were found because depends on the student’s activity and the material in the teaching learning process. Keywords:Information gap, Types of information gap, Speaking
Analysis on Analytical Exposition Text Written by Eleventh Graders of SMA Hang Tuah 4 Surabaya
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa Inggris merupakan satu dari beberapa subjek penting yang harus dikuasai dalam pendidikan di Indonesia, baik terucap maupun tertulis. Analytical exposition text adalah salah satu tipe teks yang dipelajari di Sekolah Menengah Atas. Analytical exposition text seringkali salah dianggap sebagai hortatory exposition text. Berdasarkan ini, penulis memutuskan untuk mengadakan penelitian ini, yang mana memiliki dua pertanyaan ilmiah, yaitu, bagaimana siswa kelas 11 SMA Hang Tuah 4 membuat analytical exposition text berdasarkan generic structure, dan bagaimana siswa kelas 11 SMA Hang Tuah 4 membuat analytical exposition text berdasarkan language features dari teks tersebut. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini berfokus kepada komposisi teks analytical exposition yang dibuat oleh siswa kelas XI IPS 2 dari SMA Hang Tuah 4 Surabaya. Peneliti menganalisa data yang sudah diperoleh dalam bentuk kata-kata dan kalimat. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa kebanyakan dari para siswa memiliki pemahaman yang tidak konsisten terhadap generic structure dan language features dari teks analytical exposition. Kata Kunci: Teks Analytical Exposition, Generic Structure, Language Features. Abstract English is one of the important subjects in Indonesian education system that has to be mastered in either spoken or written. Analytical exposition text is one of several text types that are introduced to the second year of Senior High School. Analytical exposition text is often misinterpreted as hortatory exposition text. Considering this, the writer decided to conduct this analysis study, which has two research questions, how do the eleventh graders of SMA Hang Tuah 4 organize their analytical exposition writing text in terms of its generic structure and how do the eleventh graders of SMA Hang Tuah 4 organize their analytical exposition writing text in terms of its language features?. The researcher uses descriptive qualitative research as the research design. This study concerns on analytical exposition text compositions, which are written by XI IPS 2 class of Sekolah Menengah Atas ( SMA ) Hang Tuah 4 Surabaya. The researcher analyzes the data in the form of words or sentences. The result of data analysis showed that most of the students are having inconsistent understanding about generic structure and language features of analytical exposition. Keywords: Analytical Exposition Text, Generic Structure, Language Features.
The Implementation of Mind Mapping Technique to Teach Descriptive Text Writing at SMAN 15 Surabaya
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah tidak hanya menonjolkan pengetahuan saja namun kemampuan berbahasa lainnya juga. Salah satu kemampuan berbahasa dalam pengajaran bahasa inggris yang harus dikuasai oleh siswa adalah menulis. Menurut Harmer (2007), siswa mengalami kesulitan mengekspresikan ide dalam menulis. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, peneliti menganjurkan penerapan teknik mind mapping di pengajaran menulis. Berdasarkan Buzan (2005), mind mapping dapat menjadi sebuah alternatif yang membantu siswa dalam mengorganisir ide mereka di kegiatan pra menulis. Peneliti menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan dari studi ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknik mind mapping untuk mengajar menulis teks deskriptif dan untuk mendeskripsikan hasil tulisan teks deskripsi siswa sebagai hasil dari penerapan teknik mind mapping. Ada dua pertanyaan ilmiah yang dapat dijawab dengan menggunakan daftar periksa observasi, salinan percakapan, dan tulisan siswa. Studi ini diadakan di SMAN 15 Surabaya. Subyek penelitian adalah guru dan murid-murid kelas 10 dari kelas MIPA 5. Berdasarkan hasil penelitian, ada dua kesimpulan yang dapat diambil. Yang pertama, penerapan teknik mind mapping kurang efektif karena dilakukan sekali dalm tiga kali pertemuan.. Yang kedua, hasil tulisan siswa tidak memuaskan. Meskipun murid-murid mempunyai banyak ide pada tulisan mereka, namun, mereka kurang mampu mengembangkan ide tersebut menjadi tulisan yang koheren dan logis. Pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah tidak hanya menonjolkan pengetahuan saja namun kemampuan berbahasa lainnya juga. Salah satu kemampuan berbahasa dalam pengajaran bahasa inggris yang harus dikuasai oleh siswa adalah menulis. Menurut Harmer (2007), siswa mengalami kesulitan mengekspresikan ide dalam menulis. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, peneliti menganjurkan penerapan teknik mind mapping di pengajaran menulis. Berdasarkan Buzan (2005), mind mapping dapat menjadi sebuah alternatif yang membantu siswa dalam mengorganisir ide mereka di kegiatan pra menulis. Peneliti menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan dari studi ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknik mind mapping untuk mengajar menulis teks deskriptif dan untuk mendeskripsikan hasil tulisan teks deskripsi siswa sebagai hasil dari penerapan teknik mind mapping. Ada dua pertanyaan ilmiah yang dapat dijawab dengan menggunakan daftar periksa observasi, salinan percakapan, dan tulisan siswa. Studi ini diadakan di SMAN 15 Surabaya. Subyek penelitian adalah guru dan murid-murid kelas 10 dari kelas MIPA 5. Berdasarkan hasil penelitian, ada dua kesimpulan yang dapat diambil. Yang pertama, penerapan teknik mind mapping kurang efektif karena dilakukan sekali dalm tiga kali pertemuan.. Yang kedua, hasil tulisan siswa tidak memuaskan. Meskipun murid-murid mempunyai banyak ide pada tulisan mereka, namun, mereka kurang mampu mengembangkan ide tersebut menjadi tulisan yang koheren dan logis. Kata kunci : menulis, teks deskriptif dan mind mapping Abstract English subject which is learned at school highlights not only knowledge but also the skills. One of the skills in the English teaching that has to be mastered by students is writing. According to Harmer (2007), students have difficulties in expressing their ideas in writing. In solving the issue, the researcher proposed the implementation of mind mapping technique in teaching writing. Based on Buzan (2005), mind mapping can be an alternative way to help students in organizing their ideas as a pre-writing activity. The researcher used descriptive qualitative research. The purposes of the study are to describe the implementation of mind mapping to teach descriptive text writing and to describe the students’ descriptive text writing as the result of implementing mind mapping. There are two research questions which can be answered by using observation checklist, transcript, and students’ writing. The study was conducted at SMAN 15 Surabaya. The subjects of the study are teacher and tenth graders of MIPA 5 class. Based on the result, there are two conclusions. Firstly, the implementation of mind mapping technique is rather ineffective since it was held once in three meetings. Secondly, the students’ writing result is not satisfactory. Though students have a lot of idea in the composition, however, the students are lacked in developing their idea to be a coherence and logical writing. Keywords : writing, descriptive text, mind mapping
The Implementation of “Just A Minute Game” in Teaching Speaking Descriptive Text to The Tenth Grade Students of Sma Wachid Hasyim 2 Taman Sidoarjo
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berbicara adalah bagian penting dari pembelajaran dan pengajaran bahasa kedua. Pengajaran berbicara tidak hanya membiarkan siswa mengulang atau menghafal dialog, tapi juga seharusnya bisa menggunakan ucapan untuk berkomunikasi dalam situasi sebenarnya. Masalahnya adalah para siswa tidak memiliki motivasi untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan berbicara karena takut melakukan kesalahan, ditertawakan oleh teman mereka dan kurang percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri. Hal ini bisa diwujudkan saat siswa berbicara dengan teman mereka berkelompok untuk membicarakan sesuatu yang mereka sukai, mereka merasa rileks dan asyik. Mereka merasa bebas untuk mengekspresikan ide, perasaan dan pemikiran mereka. Menurut Mora & Lopera (2001) penggunaan game di kelas berkontribusi pada pengembangan serangkaian keterampilan dan kompetensi bahasa. Just A Minute adalah salah satu metode untuk menciptakan motivasi berbicara dalam bahasa Inggris. Just A Minute adalah alternatif untuk memecahkan masalah di mana berbicara adalah metode efektif yang mendorong siswa untuk berbicara dan berperan aktif di kelas. Selanjutnya, ada banyak penjelasan mengapa berbicara penting bagi pelajar bahasa Inggris. Kata Kunci: Berbicara, Just A Minute Game, Siswa Kelas Sepuluh. Abstract Speaking is an important part of second language learning and teaching. Teaching speaking is not only to let students to repeat or memorize dialogues, but they should be able to use the utterance to communicate in the real situations. The problem is the students don’t have the motivation to get involved and participate actively in the speaking activities because of their fear of making mistakes, being laughed by their friends and lack of confidence of their own abilities. This can be realized when students talk with their friends in groups to talk about something they like, they feel relax and fun. They feel free to express their ideas, feeling and thought. According to Mora & Lopera (2001) the use of games in class contributes to the development of a series of language skills and competencies. Just A Minute is one of the methods to create the motivation to speak in English. Just A Minute is the alternate to solve the problem where speaking is an effective method that encourages students to speak and take part actively in the class. Furthermore, there are many explanations why speaking is important for English learners. Keywords: Speaking, Just A Minute Game, Tenth Grade Students.
Using Classroom Presentation Technique in Teaching Speaking Explanation Text in Senior High School
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berbicara adalah hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa Inggris. Selama bertahun-tahun, penelitian telah membuktikan bahwa bentuk pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas adalah dalam bentuk drilling. Situasi itu membuat siswa menjadi pelajar yang pasif, meskipun itu dalam aktivitas berbicara. Sebuah kurikulum yang baru di Indonesia saat ini mengharuskan siswa untuk dapat berkomunikasi dengan baik sebagai hasil belajar berbicara. Metodologi dan teknik telah dikembangkan oleh para ahli dalam pengajaran bahasa Inggris dan diharapkan dapat diterapkan dalam pengajaran bahasa Inggris yang sesungguhnya oleh para guru yang tentunya berkaitan dengan konten dan materi pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menyelidiki bagaimana presentasi kelas membantu guru untuk melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bagaimana guru menerapkan teknik presentasi dalam pengajaran teks naratif berbicara dan (2) bagaimana siswa menanggapi penerapan teknik penyajian kelas dalam pengajaran teknik penjelasan bacaan. Desain penelitian bersifat deskriptif dan pendekatannya bersifat kualitatif. Pengamatan dilakukan didalam kelas dimana fenomena terjadi. Data diambil dalam bentuk observasi, checklist observasi, dan catatan lapangan. Setelah mengumpulkan data dengan mengamati di kelas, data dianalisis dan diinterpretasikan untuk melaporkan hasilnya. Berdasarkan hasil penelitian, teknik presentasi kelas membantu siswa dalam kompetensi komunikatif, membantu siswa dalam menguasai kemampuan berbicara, memberikan dimensi pembelajaran aktif, dan memberikan partisipasi kelas untuk semua siswa. Kata Kunci: Presentasi Kelas, Berbicara, Teks Explanasi Abstract Speaking is a very important thing in English language learning and teaching. For many years, scholars proved that the form of learning conducted by teachers inside the classroom was in the form of drilling. That situation as made the students to be passive learners, although in speaking activity. A recent curriculum in Indonesia nowadays requires the students to be able to communicate well as the outcome of learning speaking. Methodologies and techniques have been developed by experts in English language teaching and are expected to be applied in real teaching of English by teachers related to content and material of learning. Therefore, it was necessary to conduct research to investigate in what way classroom presentation helps teacher to carry out the teaching and learning process in the classroom. This research aimed to describe (1) how the teacher implemented the presentation technique in teaching speaking narrative text and (2) how the students responded toward the implementation of classroom presentation technique in teaching speaking explanation technique. The research design was descriptive and the approach was qualitative. The observations were done in the classroom where the phenomena occurred. The data was taken in the form observation, observation checklists, and field notes. Having collected the data by observing in the classroom, the data was analysed and interpreted to report the results. Based on the result of the research, classroom presentation technique helped the students in communicative competence, assisted the students in mastering speaking skill, providing dimensions of active learning, and providing classroom participation for all students. Keywords: Presentation, speaking,, explanation text.
The Use of Cartoon Film to Teach Listening Narrative Texts to The Eighth Graders of SMPN 1 Menganti
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract As one of the language skills, listening is the basic skill in learning English a foreign language (EFL). Listening is a very important skill and the fundamental of language as stated by Brown (1980:43) that a small child listens and speaks and no one would dream of making him read or write. In other words, the natural order for the first and second language learning is listening, speaking, reading, and writing. Animation clips could make moving pictures and sound as well that chosen. They also would be more interesting than just listen an audio which only provides sound. Same as the report, teacher can use media like cassettes, tape recorder or MP3 player. Clark (2000; Rule & Ague, 2005) stated that focus of language materials is limited by number of circumstantial studies it is Difference with news, the pedagogical value of cartoons as reliable. In a circumstantial study conducted by Clark (2000), cartoons can involve the attention of the learners and present information in a pleasant atmosphere. Besides, encourage thinking processes and discussion skills is potential that cartoons have (Clark, 2000). Besides, encourage thinking processes and discussion skills is potential that cartoons have (Clark, 2000). The researcher chooses short cartoon films as a media to teach listening narrative because he believes that cartoon could increase student’s motivation and attention to the material that will be given by the teacher. In his experience when he was doing practice teaching, he found that listening which audio sometimes could make them bored. The nice cartoons and films could engage student attention and seem to motivate the learners and good story lines makes them easy to learn the language input better and have a good significant effect to the language development. Kata Kunci: : Listening, Short cartoon film, Narrative text. Abstrak Sebagai salah satu skill di dalam bahasa, listening adalah skli dasar dalam mempelajari Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Listening adalah skill yang sangat penting dan menjadi dasar dari bahasa seperti yang di ungkapkan oleh Brown (1980:43) seorang anak kecil mendengar dan berbicara tidak ada seorang pun yang berfikir menyuruhnya membaca dan menulis. Dengan kata lain, Tatanan alami untuk pembelajaran bahasa pertama dan kedua adalah mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis Klip animasi dipilih karena mereka memberikan gambar dan bisa bergerak. Itu juga lebih menarik daripada hanya mendengar suara saja. Sejalan dengan pernyataan, guru dapat menggunakan media seperti kaset CD, tape recorder, MP3, dll. Tidak seperti berita, nilai pedagogis kartun sebagai bahan bahasa asli telah menjadi fokus sejumlah kecil studi anekdot (Clark, 2000; Doring, 2002; Rule & Ague, 2005). Dalam sebuah studi anekdot yang dilakukan oleh Clark (2000), disoroti bahwa kartun dapat menarik perhatian pelajar dan menyajikan informasi dalam suasana yang tidak mengancam. Selain itu, kartun memiliki potensi untuk mendorong proses berpikir dan keterampilan diskusi (Clark, 2000). Studi lain dilakukan oleh Doring (2002) yang memusatkan perhatian pada efek paparan kartun pada pembelajaran bahasa. Peneliti menggunakan film kartun pendek sebagai media mengajar listening pada naratif teks karena dia percaya film kartun dapat meningkatkan motivasi dan perhatian pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pada pengalamnya menggunakan rekorder, dia menyadari bahawa listening yang hanya menggunakan audio, membuat siswa cepat bosan . film kartun dengan alur cerita yang bagus membuat siswa tertarik untuk mendengarkan, dan pembelajar menyerap bahasa lebih baik dan lebih memberi efek signifikan pada perkembangan bahasa. Keywords: : Mendengarkan, film kartun pendek, teks narasi..
Procedures in Teaching Listening without Using Language Laboratory in A State Senior High School of Mojokerto
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Listening menjadi kegiatan yang lebih penting dan menantang bagi peserta didik dalam komunikasi sehari-hari dan proses pendidikan. Untuk membuat siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik dalam praktek bahasa, seorang guru haruslah mengatur dan menyajikan langkah-langakah yang tepat, aktifitas, media, materi, teknik, atau metode yang sesuai dalam proses pembelajaran. Pada proses belajar dan mengajar, sumber belajar memainkan peran penting pada proses pembelajaran bahasa. Laboratorium dan ruang kelas adalah contoh dari sumber belajar dalam jenis lingkungan. Meski begitu, sebenarnya masih banyak sekolah di Indonesia yang tidak memberikan standar kualitas laboratorium bahasa yang baik. Terkait dengan situasi diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui dan mengamati secara mendalam prosedur dalam pengajaran listening tanpa menggunakan laboratorium bahasa di sebuah SMA Neger Mojokerto. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) hasil dari proses belajar dan mengajar listening tanpa menggunakan laboratorium bahasa (2) respon siswa pada pembelajaran listening tanpa menggunakan laboratorium bahasa. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian studi kasus yang menggunakan analisis kualitatif. Objek penelitian ini melibatkan 38 siswa dan salah satu guru bahasa Inggris. Untuk mengumpulkan data, instrumen yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Data kualitatif berupa catatan lapangan dan transkrip wawancara. Studi ini menemukan bahwa guru menggunakan langkah-langkah yang hampir serupa, meski tidak dalam urutan yang tepat dalam setiap pertemuan. Ini juga menunjukkan bahwasannya guru mengikuti pola saat mengajara listening. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar listening dan rencana pembelajaran terkadang dapat direvisi tergantung pada situasi kelas, sumber belajar yang sesuai, tersedianya media pembelajaran, beragam tugas dari listening, teknik, metode dan lain-lain. Berdasarkan hasil dari observasi dan wawancara, respon siswa terhadap pembelajaran listening dapat dikategorikan dalam respon positif dan respon negative. Kata Kunci: Listening, Mengajar Listening, Respon siswa Abstract Listening is becoming more important and a challenging activity for the learners in daily communication and the educational process. In order to make the students get a better understanding in their language practice, the teacher have to arranged and present appropriate procedures, suitable activities, the suitable media, materials, techniques, or the method of teaching-learning process. In the teaching-learning process, the learning resource plays the significant role in the language learning. The laboratory and classroom are the examples of learning resources in types of environment. Nevertheless, in fact, there are still many schools in Indonesia which do not provide a good standard quality of language laboratory. Related to this situation above, the researcher interested in knowing and deeply observing the procedures in teaching listening without using language laboratory in a state senior high school of Mojokerto. This study aimed to explain (1) the result of teaching-learning process of listening without using language laboratory (2) the students respond to learning listening without using language laboratory. This study was designed as case study research which employed qualitative analysis. The object of the study was involved 38 students andone of English teacher. In this study, the data were obtained from the observation and interview. Moreover, to collect the data, the researcher used some instruments in this study. The instruments of this study were in the form of field notes and the interview transcripts. This study found out that the teacher used steps were almost similar, even though did not in proper sequence in each meeting. It also indicates that the teacher follows a pattern when teaching listening. The implementation of teaching-learning activities of listening and the lesson plan sometimes can be revised depending on the class situations, suitable learning resources, available the learning media, varied listening task, technique, method and etc. In addition, based on the observation result and the interview result, the students respond towards the teaching-learning listening can be categorized in the positive and negative response. Keywords: Listening, Teaching Listening, Students Response.
The Analysis of Reading Texts and Task Activities in Pathway to English for the Eleventh Grades of the Senior High School Published by Erlangga.
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Belajar bahasa asing bergantung pada banyak faktor. Salah satu faktor yang menentukan keefektifan pembelajaran adalah penggunaan buku teks. Penggunaan buku teks di kelas EFL dianggap sebagai komponen penting karena dirancang untuk membantu siswa dalam proses untuk memahami bahasa. Peran buku teks dalam kelas bahasa berbeda-beda, contohnya adalah seperti sebagai sumber bagi guru untuk mengenalkan isi pelajaran, sebagai sumber referensi siswa untuk mengakses pelajaran, dan sebagai sarana yang menyediakan berbagai macam latihan dan kegiatan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Untuk memperoleh manfaat dari menggunakan buku teks, buku teks terlebih dahulu harus memenuhi kriteria buku teks yang bagus, terutama dalam hal menyediakan model dan masukan bahasa yang efektif, dan menyediakan beberapa kegiatan komunikatif (communicative activities). Efektivitas model dan input bahasa dalam buku teks bergantung pada penggunaan teks. Dalam penelitian ini, teks mengacu pada teks bacaan yang disajikan pada buku. Menyediakan model dan masukan bahasa yang efektif penting untuk mengembangkan ketepatan kemampuan bahasa siswa dengan mengenalkannya pada fitur linguistik dan pola retoris yang akurat dari berbagai jenis teks (Swales, 1990). Sedangkan memberi siswa kegiatan berupa tugas komunikatif sangat penting untuk mengembangkan keterampilan komunikatif siswa (Ellis, 2000). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keakuratan teks bacaan dan jenis kegiatan tugas komunikatif yang terdapat dalam buku teks bahasa Inggris Pathway to English untuk kelas 11 Sekolah Menengah Atas. Rancangan penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan checklist sebagai instrumen untuk mengumpulkan data. Data yang diambil berupa kata, frase, kalimat yang berasal dari teks bacaan dan tugas kegiatan yang disajikan dalam buku.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain teks biografi, tiga teks fungsional lain dari buku ini; report (laporan), teks hortatory exposition dan teks naratif telah memenuhi karakteristik teksnya. Lebih jauh lagi, fitur teks lainnya (fitur komunikatif & fitur bahasa) secara umum juga telah memenuhi karakteristik fitur teks. Sehingga dapat disimpulkan bahwa buku ini telah memberikan teks yang akurat yang dilihat oleh fitur teks. Sedangkan dalam hal mengidentifikasi jenis kegiatan tugas komunikatif, buku ini menyediakan 6 jenis kegiatan praktikum bahasa Komunikatif, 3 macam kegiatan tugas komunikasi terstruktur, dan 3 macam tugas komunikasi otentik. Kata kunci: Evaluasi buku, Teks akurasi, Tugas komunikatif Abstract Learning a foreign language depends on some factors. Textbook is one of the factors that determines the effectiveness of learning the language. Textbook is considered as important component since it is designed to help the students to acquire the language. The roles of textbook in language classroom are varies, for example, for the source of the teacher to introduce the content of the lessons, for the students’ source of references, and as the device to provide the students with various exercises and activities to support the learning process. In order to gain the benefit of textbook, textbook should fulfill the criteria of good textbook especially in providing effective language model and input, and some communicative activities. The effectiveness of language model and input is relied on the use of text. In this study, the text refers to the reading text which presented on the textbook. According to Swaless (1990), a textbook should provide an accurate language model and input to develop the accuracy of student’s language proficiency by introducing them to accurate linguistic features and rhetorical patterns of the various kind of text, whereas the importance of textbook to provide some communicative task activities is to develop the students’ communicative skill (Ellis, 2000). The main purpose of this study are to examine the accuracy of the reading texts and the kinds of communicative task activities presented on Pathway to English for the Eleventh Grades of Senior High School. The design of this study was qualitative research and it use checklist as the instrument to collect the data. The data were the reading texts and the communicative task activities, it were in the form of words, phrases, sentences derived from the reading text and the task activities presented on the book. The result of the study showed that other than biography text, the three others long functional texts of the book; report, hortatory exposition and narratives text, have fulfilled the characteristic of the structure of the texts. Furthermore, the other features of the texts (communicative purpose & language features) have also fulfilled the characteristic of its features. Based on the explanation above, it can be stated that this book has provided accurate text viewed by the features of the text. Whereas in terms of identifying the kinds of communicative task activities, these books are providing 6 kinds of Communicative language practice task activities, 3 kinds of Structured communication task activities, and 3 kinds of Authentic communication task activities. Keywords: Textbook evaluation, accuracy of text, communicative task
Analysis on Cohesive Devices Errors in EFL University Students’ Argumentative Composition
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kemampuan untuk menyusun koheren dalam bahasa target bisa sangat . Untuk mengungkapkan kontinuitas yang ada antara satu bagian teks dan yang lainnya, perangkat kohesif digunakan. Dengan menggunakan cohesive devices, diharapkan teks tersebut akan koheren. Namun, penggunaan cohesive devices yang tidak akurat membuat pembaca salah paham dengan apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki menyelidiki kesalahan penggunaan perangkat kohesif, dan untuk penyebab kesalahan penggunaan perangkat kohesif dalam esai argumentatif mereka. Selanjutnya, penelitian ini dilakukan dengan menguraikan analisis wawancara dan dokumen, dan untuk memvalidasi digunakanlah hasil dari inter-rater. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa melakukan sejumlah kecil kesalahan kohesif (2%) dari 2049 perangkat kohesif. Selain itu, strategi pembelajaran bahasa kedua, pelatihan transfer, dan transfer bahasa merupakan sumber kesalahan penggunaan perangkat kohesif. Meskipun mereka menggunakan perangkat kohesif yang tidak akurat, sebagian besar esai tidak mengganggu keseluruhan makna dan tujuan esai argumentatif. Kata Kunci: analisis eror, karangan argumentatif, perangkat kohesif Abstract The ability to compose coherently in target language can be overwhelming. To expresses the continuity which is exists between one part of the text and another, cohesive devices are used. By using cohesive devices, it is expected that the text will be coherent. However inaccurate uses of cohesive devices lead the readers to misunderstanding what the writer intends to convey. The purpose of this study are to investigate the frequency of use and error , to investigate the forms of cohesive errors, and to find out the factors which cause the EFL university students commit cohesive errors in their argumentative essays. Furthermore, this study was conducted by elaborating interview and document analysis, and to validate the the result inter-rater is reliability is incorporated. The results showed that the students commit small number of cohesive errors (2%) out of 2049 cohesive devices. Moreover, second language learning strategy, transfer training, and language transfer are the sources of students’ cohesive errors. Even though they use inaccurate cohesive device, most of essays were not disturb the whole meaning and purpose of the argumentative essays. Keywords: error analysis, argumentative composition, cohesive device.
An Analysis of Writing Material in English Textbook “When English Rings The Bell” for Eighth Grade
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBuku teks merupakan referensi penting yang digunakan oleh guru dan siswa dalam prosespembelajaran. Hal ini didukung oleh Hutchinson dan Torres (1994: 315) yang menyatakan bahwa buku tekstelah menjadi elemen universal ELT, yang tanpanya proses pembelajarannya tidak lengkap. Menimbang situasiseperti itu, evaluasi terhadap bahan yang ada diperlukan untuk mengungkapkan kelemahan buku teks danmeningkatkan kekuatannya Cunningsworth (1995). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyajian materitulis dalam buku teks. Analisis difokuskan dua aspek utama dari materi penulisan: presentasi materi, dan elemenlinguistik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis isi. Daftar periksa untukevaluasi dikembangkan berdasarkan kriteria yang diajukan oleh BNSP dan Cunningsworth (1995). Temuanmenunjukkan bahwa dalam hal penyajian materi tulis, semua tugas penulisan berupa tulisan terbimbing, dimanasiswa diminta untuk menulis tanggapan, dalam batasan panjang, sesuai petunjuk yang diberikan. Dalam halelemen linguistik, mereka diperlakukan secara terpadu dalam buku teks. Studi ini menunjukkan bahwa tugasmenulis di buku teks telah tercakup secara proporsional. Temuan menunjukkan bahwa referensi independenuntuk kosa kata dan item tata bahasa diperlukan untuk belajar mandiri. Topik nya harus lebih beragam dan jugamemberikesempatan kepada siswa untuk mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mendapatkan konteks yangberbeda.Kata kunci: Analisis buku teks, bahan tulis, sekolah menengah pertamaAbstractTextbook is an important reference employed by teachers and students in the learning process. It is supported byHutchinson and Torres (1994: 315) stating that textbook has become a universal element of ELT, without which thelearning process seems incomplete. Considering such situations, an evaluation of existing materials is necessary toreveal the weaknesses of the textbook and improve its strength Cunningsworth (1995). This study aims to analyse thepresentation of writing material in textbook. The analysis is focused two key aspects of the writing material: materialpresentation, and linguistic elements. This study is descriptive qualitative employing a content analysis. A checklist forevaluation was developed based on criteria proposed by BNSP and Cunningsworth (1995). The findings showed that interms of writing material presentation, all of the writing tasks are in the form of guided writing, in which students areasked to write responses, in restricted length, to the given prompts. In terms of linguistic elements, they are treated inintegrated manner in the textbook. This study indicates that writing tasks in the textbook have been proportionallycovered. The findings suggest that independent references for vocabulary and grammar items are necessary for selfstudy.The topics should be more various as well to provide students with wider chances to get exposed to differentcontexts.Keywords: Textbook analysis, writing material, junior high school

Page 1 of 2 | Total Record : 16