cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2018)" : 16 Documents clear
An Analysis of Writing Material in English Textbook “When English Rings the Bell” For Eighth Grade
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Buku teks merupakan referensi penting yang digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini didukung oleh Hutchinson dan Torres (1994: 315) yang menyatakan bahwa buku teks telah menjadi elemen universal ELT, yang tanpanya proses pembelajarannya tidak lengkap. Menimbang situasi seperti itu, evaluasi terhadap bahan yang ada diperlukan untuk mengungkapkan kelemahan buku teks dan meningkatkan kekuatannya Cunningsworth (1995). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyajian materi tulis dalam buku teks. Analisis difokuskan dua aspek utama dari materi penulisan: presentasi materi, dan elemen linguistik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis isi. Daftar periksa untuk evaluasi dikembangkan berdasarkan kriteria yang diajukan oleh BNSP dan Cunningsworth (1995). Temuan menunjukkan bahwa dalam hal penyajian materi tulis, semua tugas penulisan berupa tulisan terbimbing, dimana siswa diminta untuk menulis tanggapan, dalam batasan panjang, sesuai petunjuk yang diberikan. Dalam hal elemen linguistik, mereka diperlakukan secara terpadu dalam buku teks. Studi ini menunjukkan bahwa tugas menulis di buku teks telah tercakup secara proporsional. Temuan menunjukkan bahwa referensi independen untuk kosa kata dan item tata bahasa diperlukan untuk belajar mandiri. Topik nya harus lebih beragam dan juga memberikesempatan kepada siswa untuk mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mendapatkan konteks yang berbeda. Kata kunci: Analisis buku teks, bahan tulis, sekolah menengah pertama Abstract Textbook is an important reference employed by teachers and students in the learning process. It is supported by Hutchinson and Torres (1994: 315) stating that textbook has become a universal element of ELT, without which the learning process seems incomplete. Considering such situations, an evaluation of existing materials is necessary to reveal the weaknesses of the textbook and improve its strength Cunningsworth (1995). This study aims to analyse the presentation of writing material in textbook. The analysis is focused two key aspects of the writing material: material presentation, and linguistic elements. This study is descriptive qualitative employing a content analysis. A checklist for evaluation was developed based on criteria proposed by BNSP and Cunningsworth (1995). The findings showed that in terms of writing material presentation, all of the writing tasks are in the form of guided writing, in which students are asked to write responses, in restricted length, to the given prompts. In terms of linguistic elements, they are treated in integrated manner in the textbook. This study indicates that writing tasks in the textbook have been proportionally covered. The findings suggest that independent references for vocabulary and grammar items are necessary for self-study. The topics should be more various as well to provide students with wider chances to get exposed to different contexts. Keywords: Textbook analysis, writing material, junior high school
ANALYSIS ON THE USE OF GUIDELINE ON STUDENTS’ ESC MEETING
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa lisan, tidak seperti tulis, sangat kompleks. Bahasa lisan melibatkan banyak fitur seperti intonasi, ekspresi wajah, gerak tubuh, kenyaringan dll. Untuk mahasiswa jurusan bahasa Inggris, berbicara dengan lancer dan akurat adalah kemampuan yang harus dikuasai. Untuk membantu mengembangkan kemampuan berbicara mahasiswa, sebuah program bertajuk English Speaking Community (ESC) diluncurkan. Panduan diberikan kepada siswa untuk menjalankan program ini, namun apakah panduan tersebut digunakan atau tidak masih belum jelas. Untuk itu studi analisa untuk mencari tahu apakah panduan digunakan atau tidak dalam pertemuan rutin siswa diadakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah panduan ESC digunakan saat pertemuan siswa atau tidak melalui penelitian kualitatif. Peneliti mengobservasi pertemuan murid dari tiap level ESC dan mengadakan diskusi kelompok terfokus untuk mencari jawabannya. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan bahasa Inggris grup ESC tingkat satu sampai tujuh.Menurut hasil ditemukan hanya satu kelompok menggunakan panduan secara menyeluruh. Tiga group lain hanya menggunakan sebagian dari panduan dan tiga grup sisanya tidak menggunakan panduan sama sekali untuk pertemuan mereka. Kata Kunci: Berbicara, ESC, panduan. Abstract Spoken language, unlike written, is very complex. Spoken language involves lots of features such as intonation, facial expression, body gestures, loudness etc. For English department students, being able to speak fluently and accurately is a skill that all of the students must have. To help in developing students’ speaking skill, a program called English Speaking Community (ESC) is launched. The program gives guideline to the students for their activity, but whether the guideline is really being used or not is undetermined. That is why the researcher conducts a research about the use of ESC’s guideline on students’ meeting. The objective of the study is to find out whether students use the ESC’s guideline or not. The researcher finds out the result of the research in qualitative research. The researcher observes the students’ meeting for each level and conduct a focus group discussion (FGD) to find out the answer. The subjects of this research are students’ of ESC group from level one to seven of State University of Surabaya. According to the result there is only one group that used the guideline fully, while the other six groups are not. In conclusion, the ESC’s guideline is not completely used by the students in their ESC meeting. Keywords: Speaking, ESC, Guideline.
The Use of Reader-Response Theory to Teach Reading Narrrative Text for Tenth Graders of Senior High School
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research was aimed to describe the use of reader-response theory to teach reading narrative text and to describe the students’ responses toward the text. This research was conducted qualitatively. This research used some instruments, which are observation checklist, field notes, transcription, and document. The observation checklist and the field notes were used to know how the reader-response theory was used to teach reading narrative text in the classroom, which was conducted in three meetings. In addition, to know the type of the students responses toward the text during the reading process based on the reader-response theory, the researcher used the transcription and the document of the students’ works. From this research, it could be said that the reader-response theory was used in the form of spoken and written activities. The teacher also had applied the Engaging, Describing, Conceiving, Explaining, Connecting, Interpreting, and Judging strategies during the teaching and lerning process. Furthermore, the students made Interpretive, Affective, Reflective, Associative, and Queries response toward the text when they were involved in the RRT-based reading process. Keywords: Reading, Narrative Text, Reader-Response Theory. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan reader-response theory untuk membaca teks naratif dan untuk mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap teks tersebut. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen, seperti daftar kriteria pengamatan, catatan lapangan, transkripsi, dan dokumen. Daftar kriteria pengamatan dan catatan lapangan digunakan untuk mengetahui bagaimana reader-response theory digunakan dalam pembelajaran membaca teks naratif di kelas, yang dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Sebagai tambahan, untuk mengetahui jenis tanggapan siswa terhadap teks selama proses membaca yang berdasar pada reader-response theory dilaksanakan, peneliti menggunakan transkripsi dan dokumen dari lembar kerja siswa. Dari penelitian ini, dapat dikatakan bahwa reader-response theory diterapkan dalam bentuk aktivitas-aktivitas oral dan tulis. Guru juga telah mengaplikasikan strategi Menarik, Menggambarkan, Memahami, Menjelaskan, Menghubungkan, Menginterpretasikan, dan Menilai selama proses belajar-mengajar. Selain itu, para siswa memberi tanggapan Interpretatif, Afektif, Reflektif, Asosiatif, dan tanggapan yang berupa pertanyaan terhadap teks ketika mereka terlibat dalam proses membaca yang berdasar pada reader-response theory. Kata kunci: Membaca, Teks Naratif, Reader-Response Theory.
A Study of Teachers Perception on English Curriculum for Vocational High School in Surabaya
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru bahasa Inggris SMK di Surabaya. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan persepsi guru bahasa Inggris terhadap K13, termasuk hambatan yang dihadapi ketika mengimplementasikannya di kelas. Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan guru bahasa Inggris SMK sebagai peserta penelitian. Data didapatkan dengan cara membagikan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa K13 bagus dalam mengembangkan aspek afektif, pengetahuan dan kemampuan siswa, sayangnya, ada beberapa hal yang di keluhkan oleh guru. Pertama, kompetensi dan materi pembelajaran terlalu umum, pembelajaran di SMK membutuhkan pembelajaran yang memasukkan bahasa Inggris spesifik yang sesuai dengan jurusan. Kedua, penilaian K13 terlalu rumit. Ketiga, guru menyatakan pengajaran membutuhkan waktu lebih dari sekedar dua jam tatap muka per minggu, dari yang awalnya empat jam per minggu. Kata Kunci: Kurikulum, SMK, Persepsi Abstract This study investigates the perception of English teachers in Surabaya towards the implementation of K13 in vocational high school. The objective of this study is to describe the perception of SMK English teachers towards K13 curriculum, including the obstacles they face when they implement it in the classroom language teaching. This study is a descriptive qualitative study, with SMK English teachers as the participants. The data were obtained by administering questionnaire. The findings showed that K13 is good to develop students affective competence, however, there are things which are complained by teachers. First, learning material and competencies are too general, it needs to include specific English related to the major of study. Second, the assessment is too complicated. Third, they demand more learning hours, since learning hour is decreased from four learning hours per week into two learning hours per week. Keywords: Curriculum, SMK, Perception
Problem-Based Learning in Teaching Writing Hortatory Exposition Text to Eleventh Graders
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMenulis adalah keahlian utama untuk sukses mempelajari bahasa asing. tapi pada kenyataanya, banyak pelajar menemukan kesulitan dalam proses menulis. Berdasarkan kurilukum 2013, yang menekankan pembelajaran kolaboratif dimana siswa dapat berpikir kreatif dan mengembangkan pengetahuan dengan dirinya sendiri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan instrumen penelitian catatan lapangan dan hasil menulis. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bagaimana guru mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran menulis hortatori eksposisi dan bagaimana hasil kerja siswa terhadap implementasi pembelajaran berbasis masalah dalam pengajaran menulis hortatori eksposisi. Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan adalah guru bahasa inggris dan siswa kelas sebelas di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Hasil penelitian ini menunjukan model pembelajaran berbasis masalah dapat membuat siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Tapi sayangnya, guru sebagai pembimbing tidak berhasil memunculkan permasalahan dalam hasil kerja siswa. Untuk hasil kerja tidak ada grup yang dikelompokkan ke dalam poor dan very poor. Model pembelajaran berbasis masalah dapat diimplementasikan dalam pengajaran menulis hortatori eksposisi. Model pembelajaran berbasis masalah sebagai model pembelajaran mampu memotivasi siswa bergabung dalam proses pembelajaran di kelas dan mampu mengajak minat siswa untuk menulis.Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, kemampuan Menulis, Teks hortatori exposition AbstractWriting is the primary skill to successfully learn a second language. But on the fact, many students find difficulty in the process of writing. Based on curriculum 2013 that emphasize collaborative learning where the students able to creative thinking and develop their knowledge. This study used descriptive qualitative research method with research instruments field note and student’s writing result. This result is purposed to describe: The implementation of problem-based learning in teaching writing hortatory exposition text and the student writing hortatory exposition text toward the implementation of problem-based learning method. The subject that used are the English teacher and the student eleventh graders in SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. The result of the study shows problem-based learning can makes the student actively involved in the learning activity. But unfortunately, the teacher as guide did not succeed in raising problems in the in-student’s work. In student writing result there were no group calcsilicates in the poor and very poor. Problem-based learning models can be implemented in teaching hortatory exposition writing. Problem-Based Learning as a learning model could motivate the students involved in the learning process and could encourage and engage the students’ to write.Keywords: Problem-Based Learning, writing skill, hortatory exposition text
The Implementation of Teaching LOTS and HOTS in English Teaching-Learning Process in Senior High School
RETAIN Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dirancang secara kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan keterampilan berpikir tingkat rendah dan keterampilan berpikir tinggi diterapkan dengan benar atau tidak. Penting juga untuk mengetahui bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam tingkat mengingat di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk tingkat pemahaman di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk level penerapan di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam menganalisa tingkat di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam menilai tingkat di kelas XI SMA, bagaimana guru bahasa Inggris melaksanakan kegiatan yang termasuk dalam menciptakan tingkat di SMA kelas XI. Subjek penelitian ini adalah seorang guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas. Penjelasan dan deskripsi akan disajikan melalui obvervasi menggunakan catatan lapangan dalam beberapa pertemuan. Hasilnya adalah guru mengajarkan keterampilan mengingat, keterampilan memahami, menerapkan keterampilan, menganalisis keterampilan, dan menciptakan keterampilan. Sayangnya, guru tidak mengajarkan keterampilan mengevaluasi. Kata Kunci: keterampilan berpikir tingkat rendah, keterampilan berpikir tingkat tinggi, guru bahasa Inggris. Abstract This study is qualitative-designed. This study is aimed to describe whether the implementation of lower-order thinking skills and higher-thinking skills are applied properly or not. It is also important to describe how English teacher implement activities that belong to remembering level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to understanding level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to applying level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to analyzing level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to evaluating level in senior high school grade XI, how English teacher implement activities that belong to creating level in senior high school grade XI. The subject of this study was an english teacher in senior high school. The explanation and description would be presented through obvervation using fieldnotes in several meetings. The result was the teacher teached remembering skills, understtanding skills, applying skills, analyzing skills, and creating skills. Unforttunaely, the teacher did not teach evaluating skills. Keywords: lower-order thinking skills, higher-order thinking skills, english teacher.

Page 2 of 2 | Total Record : 16