cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2018)" : 31 Documents clear
The Use of Cognitive and Metacognitive Strategies Across Proficiency and Task Complexity
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSiswa-siswa memiliki pendekatan dan strategi yang berbeda-beda dalam menghadapi tugas komprehensi membaca. Penelitian ini menginvestigasi strategi kognitif dan metakognitif yang digunakan siswa dengan tingkat kemampuan berbeda dalam tingkat kompleksitas tugas berbeda pula pada siswa-siswa SMA di Surabaya, Indonesia. Think-aloud protocol digunakan dalam mendapatkan data yang direkam, di transkripsi, dan dikode menggunakan kode yang telah ditentukan sebelumnya. Hasilnya menunjukkan bahwa para siswa menggunakan hampir semua strategi kognitif dan metakognitif, kecuali Comprehension Monitoring, Predicting, Visualizing, Adopting an Alignment, dan Analysing the Author’s Craft. bahkan, siswa dengan kemampuan tinggi menggunakan lebih banyak strategi daripada siswa dengan kemampuan rendah, terutama dalam proses Evaluating dan Monitoring. Selain itu, tingkat kompleksitas tugas mempengaruhi penggunaan strategi pada kedua grup; tugas yang lebih rumit membuat strategi Monitoring dan Evaluating lebih banyak digunakan.Kata Kunci: strategi membaca, strategi kognitif, strategi metakognitif, tingkat kompleksitas tugasAbstractStudents have different approaches and strategies in coping with reading comprehension task. this study investigated the cognitive and metacognitive strategies used by students across proficiency and task complexity of high school students in Surabaya, Indonesia. Think-aloud protocol was used in collecting the data, which were recorded, transcribed, and coded using predetermined codes. The results showed that students employed almost all of the cognitive and metacognitive strategies, excluding Comprehension Monitoring, Predicting, Visualizing, Adopting an Alignment, and Analysing the Author’s Craft. Moreover, High proficiency students were found using more strategies than the low proficiency ones, especially in Evaluating and Monitoring processes. Furthermore, task complexity affects the strategies used by both group; harder task made Monitoring and Evaluating strategies used more. Keywords: reading strategy, cognitive strategy, metacognitive strategy, task complexity
Teachers’ Teaching Preparation Towards Their Real Teaching Practice in EFL Classroom
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus menyiapkan RPP dan materi yang akan diajarkan kepada siswanya. RPP yang disiapkan akan bermanfaat untuk guru ketika dia melakukan kegiatan mengajar di dalam kelas. RPP harus jelas dan detail karena di dalamnya berii tentang kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi yang diajarkan hingga pedoman penilaian yang akan digunakan gu4ru. Dalam hal ini, RPP menjadi pedoman bagi guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini membedah kesesuaian isi dari RPP guru serta implementasinya dalam kegiatan mengajar guru di kelas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam proses mengumpulkan data dan menjawab rumusan masalah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah RPP yang digunakan guru kurang update dan kurang detail. Sedangkan implementasinya berbeda dengan apa yang mereka buat di RPP dan beberapa guru harus mengubah keseluruhan strategi mengajar dan keseluruhan kegiatan pembelajaran di kelas meskipun kegiatan pembelajaran berlangsung aktif an kondusif.Kata Kunci : RPP, kegiatan mengajarAbstractIn teaching and learning activities, a teacher must prepare lesson plan and materials to be taught to his students. The lesson plan will be useful for teachers when they do real teaching practice in the classroom. The lesson plan should be clear and detailed because it contains basic competence, indicator of competence achievement, learning objectives, material to be taught and assessment guidelines. In this case, the lesson plan becomes a guide for teachers in conducting classroom learning activities. This study dissects the content of the teachers lesson plan as well as its implementation in real teaching practice in the classroom. This study used qualitative methods in the process of collecting data and answering the research questions. The conclusion of this research is lesson plans used by teachers were less updated and less detailed. While the implementation of the lesson plan in the classroom was different from what they designed in the lesson plan and some teachers have to change the overall teaching strategy and learning activities in the classroom even though the learning activities are active and conducive..Keywords: lesson plan, real teaching practice.
A Study of Teacher’s Meaningful Learning Activities in The Teaching Process of Intermediate Grammar Learning Course
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menurut Hsu (2013) grammar adalah struktur bahasa, dalam konteks ini, dari bahasa Inggris. Maka penting bagi guru untuk memberikan pengajaran grammar yang efektif kepada siswa. Salah satu cara adalah melalui Meaningful Learning, prinsip mengajar bahasa yang diusulkan oleh Brown. Untuk mencapai Meaningful Learning, aspek retention (retensi) and transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) harus dipromosikan dan dilibatkan dengan siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kegiatan Meaningful Learning retention (retensi) dan transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) dalam proses pengajaran yang dilakukan oleh seorang guru yang mengajar kelas intermediate grammar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Meaningful Learning dari Brown dan teori proses kognitif dari Meyer (2002). Teori milik Mayer menyajikan 18 proses kognitif yang digunakan untuk menganalisis kegiatan Meaningful Learning di kelas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan teknik metode kualitatif. Sumber data untuk penelitian ini adalah tindakan guru, baik lisan (dalam bentuk ucapan guru, kalimat) dan non-verbal (dalam bentuk kegiatan mengajar). Berdasarkan analisis data yang diperoleh, ditemukan bahwa guru telah mempromosikan aspek retention (retensi) dan transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) Meaningful Learning dalam kegiatan mengajar grammar. Proses kognitif yang dilakukan dengan siswa untuk retensi adalah kegiatan mengingat, menjelaskan, mencontohkan, mengklasifikasikan, membandingkan, dan meringkas, sementara pada transfer ilmu pengetahuan adalah kegiatan membedakan, mengatur, menghubungkan, melaksanakan, dan menciptakan.Kata Kunci : Grammar, Prinsip mengajar, Meaningful learning, Proses kognitifAbstractAccording to Hsu (2013) grammar is the structure of the language, which in this case, English language. Thus, it is important for teachers to provide an effective grammar teaching to the students. One way to achieve this is through Meaningful Learning, a language teaching principle by Brown. In order to achieve Meaningful Learning, retention and transfer of knowledge aspect should be promoted are to be engaged with the students. Therefore, this study aims to describe and analyze the meaningful learning activities of retention and transfer of knowledge done by a teacher of an intermediate grammar class in their teaching process. The main theories used in this study are Brown’s Meaningful Learning and Meyer’s (2002) cognitive processes of meaningful learning. The latter theory provides 18 cognitive processes which was used to analyze the meaningful learning activities in the classroom. This study is a descriptive research that used qualitative method technique. The source of data for this study is the teacher’s actions, both verbal (in form of teacher’s utterance, sentences) and non-verbal (in form of teaching activities). Based on the analysis of the obtained data, it was found that the teacher has promoted both meaningful learning retention and transfer of knowledge aspects in her grammar teaching activities. The cognitive processes engaged with the students for retention were recalling, explaining, exemplifying, classifying, comparing, and summarizing activities, meanwhile for transfer of knowledge were differentiating, organizing, attributing, execute, and generating activities.Keywords: Grammar, Teaching principles, Meaningful learning, Cognitive process
Peer and Self Error Correction Process of Speaking Performance in English Speaking Community at University
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakEnglish Speaking Community adalah salah satu cara terbaik untuk mengaktifkan keterampilan berbicara siswa di luar kelas. Kegiatan ini memungkinkan siswa untuk belajar melalui peer learning di mana guru tidak terlibat langsung di dalamnya. Namun, dalam kemampuan berbicara, siswa diharapkan untuk memperbaiki kesalahan dan belajar dari kesalahan yang mereka buat. Oleh karena itu, penelitian ini menguji proses mengoreksi kesalahan teman dan diri mereka sendiri kemampuan berbicara siswa saat melakukan kegiatan di English Speaking Community. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dimana observasi dan wawancara digunakan sebagai metode pengumpulan data. Dua kelompok diamati dalam penelitian ini. Observasi direkam menggunakan rekaman audio dan ditranskripsikan ke dalam transkripsi pengamatan data. Field-notes juga digunakan untuk memudahkan analisis data. Hasil menunjukkan bahwa siswa biasanya melakukan kesalahan dalam pengucapan, aturan tata bahasa, pilihan kosakata, dan kesalahan berbasis strategi komunikasi. Proses koreksi juga menunjukkan bahwa siswa melakukan koreksi diri dalam dua cara; koreksi diri langsung dan koreksi diri yang tertunda. Sementara dalam mengoreksi teman, siswa melakukan mengoeksi secara langsung, mengoeksi secara tertunda, dan mengoeksi secara diskusi. Namun, penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar siswa tidak mengoreksi kesalahan. Dengan demikian, wawancara terhadap tiga siswa dilakukan untuk mengetahui alasan mengapa mereka cenderung tidak memperbaiki kesalahan. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mengenali kesalahan, mereka lebih fokus pada kegiatan berbicara daripada kesalahan yang dibuat, merasa tidak enak jika mereka memperbaiki kesalahan, dan mereka ingin untuk memotong waktu.Kata Kunci: pengoreksian diri sendiri, pengoreksian teman, produksi kesalahan, kemampuan berbicara. AbstractEnglish Speaking Community is one of the best ways to activate students’ speaking skill outside the classroom. This activity allows students to learn through peer learning in which lecturers are not directly involved in it. However, in speaking performance students are expected to correct errors in order to learn from the mistakes they make. Thus, this study examines the process if peer and self error correction in students’ speaking performance in English Speaking Community. This study used qualitative descriptive research in which observation and interview were conducted as the data collection method. Two groups were observed in this study. The observation was recorded into audio recording and transcribed into observation transcription. Filed notes were also used to ease the data analysis. The result showed that students usually commit errors in their pronunciation, grammar rule, vocabulary choice, and communication strategy-based error. The process of correction also showed that students conducted self-correction in two ways; they are direct self-correction and delayed self-correction. While in peer correction, students conducted direct peer correction, delayed peer correction, and discussion peer correction. However, this study found that students were mostly not to correct error. Thus, interview towards three students were conducted to know the reason why they tended not to correct error. Here, the result showed that students mostly didn’t recognize the errors, they preferred to focus on the speaking rather than the errors, felt bad if they corrected errors, and they intended to cut out the time. Keywords: self-correction, peer correction, error production, speaking performance.
The Implementation of Project Based Learning Using English Illustration Video to Teach Speaking of Recount Text for Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDikarenakan berbicara adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa, Project Based Learning dapat menjadi alternatif model pembelajaran untuk mengajarkan kemampuan berbiara pada level sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan dari Project Based Learning yang dilakukan di kelas 10 SMAN 1 Cerme. Penelitian ini pun berfokus tidak hanya pada deskripsi hasil atau produk dari para siswa, namun juga fokus pada beberapa hal yang terjadi di setiap proses tahapan dalam penerapan Project Based Learning. Penelitian ini didesain secara kualitatif dalam mengamati 36 siswa kelas 10 dan seorang guru bahasa Inggris SMA di kota Gresik. Peneliti mendapatkan data melalui lembar observasi dan field note. Rubrik yang telah diadaptasi juga digunakan untuk mendeskripsikan produk siswa. Hasil dari evaluasi guru menunjukkan bahwa guru sudah mengimplementasikan model pembelajaran Project Based Learning dengan tahapan yang tepat. Disamping itu, dari ke enam grup yang terbentuk, merekamemiliki hasil yang berbeda satu sama lain. Hanya dua dari enam grup yang memiliki hasil di bawah rata-rata. Hal ini dapat dinilai dari deskripsi produk video mereka.Kata Kunci: Project Based Learning, Kemampuan berbicara, Teks Recount AbstractSince speaking is one of the skills which needs to be mastered by the students, Project Based Learning can be an alternative learning model to teach speaking in Senior High School. This study aims to explore the implementation of Project Based Learning conducted at the first grade class of SMAN 1 Cerme. Moreover, this research also concerns on describing about the result or the outcome of the project. This study was designed qualitatively in observing 36 tenth graders and an English teacher of a senior high school in Gresik. The researcher gained the data through observation checklist and field note. The adapted rubric was also used to get the final score to justify the students’ product. The result from teachers’ evaluation showed the teacher already implemented PBL in an appropriate stage. Moreover, among six groups of the students, their projects have different result one another. Only two among six groups that have the result project below the average. It was judged and justified by describing their product of the Illustration video project.Keywords: Speaking Skill, Tourism Department, Project Based Learning, Narrative Text
Improving Speaking Skill of Tourism Vocational High School Students Through Project Based Learning
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPeneliti melakukan penelitian eksperimental kuasi yang melibatkan 64 siswa SMK Usaha Perjalanan Wisata (UPW). Ada 32 siswa untuk setiap kelompok eksperimen dan kontrol. Pembelajaran berbasis proyek diimplementasikan untuk pengajaran bahasa Inggris dalam kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol diajarkan menggunakan metode konvensional. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah pre-test dan post-test dan proyek adalah video monolog. Skor rata-rata kelompok eksperimen dalam pre-test adalah 66.7188 (SD = 8.19219) dan kelompok kontrol adalah 67.1875 (SD = 9.15260). Nilai Sig.(2-tailed) untuk pre-test adalah 0,830 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test kemampuan berbicara kedua kelompok. Dalam post-test, skor rata-rata dari kelompok eksperimen adalah 75.7813 (SD = 9.84635) dan kelompok kontrol adalah 67.6563 (SD = 11.70776) yang menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mendapat skor lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Nilai Sig.(2-tailed) untuk post-test 0,004 menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan berbicara siswa yang signifikan dari kedua post-test kedua kelompok.Skor rata-rata dari kelompok eksperimen dalam pre-test adalah 66.7188 (SD = 8.19219) sementara dalam post-test adalah 75.7813 (SD = 9.84635) dan Sig. (2-tailed) dari kedua test adalah .000. Dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis proyek efektif untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa wisata.Kata Kunci: Kemampuan Berbicara, Jurusan Usaha Perjalanan Wisata, Pembelajaran Berbasis Proyek, Teks Naratif AbstractA quasi experimental research was conducted in this research involving 64 tourism students. There were 32 students for each experimental and control groups. Project based learning was implemented for English teaching in experimental group, while the control group was taught using conventional method. The research instrument of this study was speaking pre-test and post-test and the project was monologue video.The mean score of experimental group in pre-test was 66.7188 (SD = 8.19219) and the control group was 67.1875 (SD = 9.15260). The Sig. (2-tailed) value of pre-test was 0.830 meaning that there is no significant difference between students’ speaking skill in both groups. In post-test, the mean score of experimental group was 75.7813 (SD = 9.84635) and control group was 67.6563 (SD = 11.70776) showing that experimental group scored higher than the control group. The Sig. (2-tailed) value is .004 showing that there is a significant difference of both groups’ post-test. The mean score of experimental group in pre-test was 66.7188 (SD = 8.19219) while in post-test was 75.7813 (SD = 9.84635) and the Sig. (2-tailed) value was .000. In conclusion, implementing project based learning to teach speaking is effective to improve tourism students’ speaking proficiency.Keywords: Speaking Skill, Tourism Department, Project Based Learning, Narrative Text
The Influence of Friendship Bias Toward Peer Assessment in Efl Classroom
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penilaian adalah bagian penting dalam proses belajar mengajar. Salah satu jenis penilaian yang digunakan di kelas adalah penilaian sejawat yang memiliki banyak manfaat. Terlepas dari banyaknya manfaat yang dimiliki, masalah subjektivitas dalam pelaksanaannya meningkat. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui apakah persahabatan antara siswa di kelas dapat memengaruhi bias dalam implementasi penilaian sejawat. Untuk tujuan ini, 59 siswa berpartisipasi dalam proses penilaian sejawat. Mereka dibedakan menjadi kelompok teman dan non-teman berdasarkan hasil sosiogram. Mereka diminta untuk membuat karya tulis dan melakukan penilaian teman sebaya setelah dijelaskan bagaimana cara melakukannya. Kuesioner juga diberikan setelah pelaksanaan penilaian sejawat. Setelah itu, skor karya tulis mereka dibandingkan. Data dianalisis menggunakan t-test. Hasilnya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Hasil kuesioner sesuai dengan hasil ini dimana siswa memiliki kecenderungan bias dalam menilai pekerjaan teman yang dipengaruhi oleh tingkat kedekatan diantara mereka.Kata Kunci: penilaian sejawat, teman, bias antar teman AbstractAssessment is crucial part in the teaching and learning process. One kind of assessment used in the classroom is peer assessment which has many benefits. Despite of its benefits, the issue of subjectivity in the implementation is raised. This study tries to find out whether friendship between students in the classroom may influence bias in peer assessment. To this aim, 59 students were participated in the peer assessment process. They were differentiated into friends and non-friends group based on the sociogram result. They were asked to make a written work and do peer assessments after being explain how to do it. The questionnaire was also given after the implementation of peer assessment. After that, the score of their written work were compared. The data is analyzed using t-test. The result shows that there is a significant difference between both groups. The result of the questionnaire does in line with this result which students have a tendency of being bias in assessing friends’ work which is influenced by their level of intimacy. Keywords: peer assessment, friends, friendship bias.
English Department Students’ Learning Strategies to Overcome Speaking Anxiety
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam mempelajari Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing, siswa harus menguasai 4 keterampilan yaitu mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Berbicara dianggap sebagai keterampilan paling penting. Namun, dalam belajar berbicara, siswa dilaporkan memiliki kecemasan dalam bahasa (Tanveer. 2007). Dengan demikian, siswa dilaporkan memiliki strategi belajar untuk mengatasi kecemasan mereka. Penelitian ini menyelidiki faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan berbicara siswa dan strategi belajar mereka untuk mengatasi kecemasan berbicara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam proses pengumpulan data dan menjawab pertanyaan penelitian. Studi ini menemukan bahwa ada beberapa situasi yang mengarah pada kecemasan berbicara siswa seperti prosedur kelas, keyakinan siswa, keyakinan guru, persepsi diri, lingkungan sosial, kesalahan di lingkungan sosial, pemahaman topik, dan perbedaan budaya. Temuan lain dari penelitian ini adalah strategi pembelajaran yang diterapkan oleh siswa seperti strategi memori, strategi kognitif, strategi kompensasi, strategi metakognitif, strategi afektif, dan strategi sosial.Kata Kunci: Kecemasan Berbicara, Strategi Belajar.AbstractAs learning English as Foreign Language, students have to master 4 skills which are listening, reading, speaking, and writing. Speaking considered being the most important skill among other skills. However, in learning speaking students are reported to have language anxiety. Thus, students are reported to have learning strategies to overcome their anxiety (Marwan , 2007). This study investigates the factors that provoke students’ speaking anxiety and their learning strategies to overcome speaking anxiety. This study used qualitative methods in the process of collecting data and answering research questions. This study found that there are some situations that lead to students’ speaking anxiety such as classroom procedure, student’s beliefs, teacher’s beliefs, self-perceptions, social environment, errors in society, topic understanding, and cultural differences. Another finding of this study is learning strategies applied by students such as memory strategies, cognitive.Keywords: Speaking Anxiety, Learning Strategies.
Improving Vocational High School Students’ Critical Thinking through Graphic Organizer
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pemikiran kritis membantu siswa dan mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan serta hasil belajar siswa kelas 10 di SMK Giki 1 Surabaya dalam penggunaan graphic organizer untuk meningkatkan pemikiran kritis siswa dalam materi teks recount peristiwa bersejarah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi-eksperimental. Data penelitian diperoleh melalui hasil pre-test dan post-test pada pembelajaran teks recount peristiwa bersejarah dengan menggunakan graphic organizer. Sampel penelitian ini diperoleh di kelas X-AK 2. Subjek terdiri dari tiga puluh enam siswa. Analisis instrumen menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Sementara itu, teknik analisis data penelitian menggunakan paired sample t-test, uji hipotesis, dan perhitungan eta-kuadrat. Berdasarkan data pre-test dan post-test, nilai P adalah .000 dan kurang dari .05. itu menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ukuran efek dari penelitian ini adalah .59 yang mengindikasikan efek besar. Berdasarkan data ini, dapat disimpulkan bahwa penyelenggara grafik dalam materi penghitungan sejarah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar terutama dalam pemikiran kritis siswa kelas 10 di SMK Giki 1 Surabaya.Kata Kunci: Pemikiran Kritis, Graphic Organizer, Teks Recount Peristiwa Bersejarah AbstractHaving critical thinking helps in conceptualizing, applying, analyzing, synthesizing, and evaluating information that accumulated from observing, reflecting, and communicating to conduct to further action. This study aims to find out implementation graphic organizer to improve students’ critical thinking in historical recount material. This study focuses toward student learning’s result of 10th graders at SMK Giki 1 Surabaya. This research uses quasi-experimental research design. The research data gained through pre-test and post-test’s result on historical recount learning by using graphic organizer. The sample of this research was obtained at X-AK 2 class. It consist of thirty six students. The instrument analysis used validity and reliability test. Meanwhile, the technique of data analysis research using paired sample t-test, hypothesis test, and eta-squared calculation. Based on pre-test and post-test data, the P value was .000 and less than .05. it showed as a significant difference. The effect size of this research is .59 which indicated large effect. Based on these data, it can be concluded that the graphic organizer in historical recount material have a significant effect on the learning outcomes especially in students’ critical thinking of 10th graders at SMK Giki 1 Surabaya.Keywords: Critical Thinking, Graphic Organizer, Historical Recount Text.
Teacher’s Questioning Strategies and Students’ Responses in Classroom Interaction
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMempertanyakan sejauh ini merupakan bentuk komunikasi yang paling umum digunakan dalam pengajaran di kelas. Guru menggunakan strategi tanya jawab untuk meninjau, memeriksa pembelajaran, dan menantang siswa untuk berpikir secara kritis. Beberapa peneliti telah menghabiskan bertahun-tahun dalam penelitian mereka untuk mengkategorikan pertanyaan guru sesuai dengan tipenya. Bagaimanapun juga, penelitian ini menggunakan jenis pertanyaan berdasarkan kategorisasi oleh Blosser (1975) dan Cunningham (1987) sebagai model. Mengetahui pentingnya pertanyaan guru di dalam kelas, ini membuat banyak peneliti tertarik untuk mengambil penelitian yang lebih dalam untuk mengungkap rahasia pertanyaan guru. Namun, melihat dari banyak penelitian yang telah dilakukan, sangat sedikit dari mereka yang membahas tentang tanggapan yang diberikan siswa terhadap pertanyaan guru. Padahal tanggapan siswa juga merupakan aspek penting dalam membuat pertanyaan yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap rahasia pertanyaan guru dan tanggapan siswa. Selanjutnya, subjek penelitian ini adalah guru Bahasa Inggris dan siswa sekolah menengah atas. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dimana data diperoleh dengan mengobservasi dan mewawancarai subjek. Observasi dilakukan dalam dua kelas yang berbeda tetapi masih di tingkat yang sama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru menggunakan semua jenis pertanyaan berdasarkan model Blosser (1975) dan Cunningham (1987) dalam proses belajar mengajar di dua kelas yang berbeda. Meski begitu, guru kebanyakan menggunakan structuring question dan factual recall question.Kata Kunci: Strategi bertanya, Tanggapan siswa.AbstractQuestioning is by far the most common form of communication used in classroom teaching. Teachers use question and answer strategies to review, examine learning, and challenge students to think critically. Some researchers have already spent years in their research to categorize teacher questions according to their type. However, this study used the types of questions based on the categorization by Blosser (1975) and Cunningham (1987) as the model. Knowing the importance of teacher questions in classes, this makes many researchers interested in taking deeper research to uncover the secrets of teacher questions. However, seeing from the many studies that have been done, very few of them are discussing about the responses that students give to the teachers questions. Even though student responses are also important aspect in making good question. Hence, this research was done to uncover the secrets of teacher’s questions and student’s responses. Furthermore, the subject of this research were the English teacher and the students of senior high school. This research applied qualitative design in which the datas were gained by observing and interviewing the subject. The observation had done in two different classes but still in the same grade. The results of this research showed that the teacher used all types of questions based on Blosser (1975) and Cunningham’s (1987) model in the teaching learning process in two different classes. Even so, the teacher mostly used structuring question and factual recall question.Keywords: Questioning strategies, Students’ responses.

Page 1 of 4 | Total Record : 31