cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2018)" : 31 Documents clear
English Supplementary Materials Oriented to Higher Order Thinking for Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBerdasarkan kurikulum 2013, keterampilan berfikir tingkat tinggi adalah salah satu poin penting yang perlu dimasukkan dalam proses pembelajaran serta dalam rencana pengajaran dan materi. Materi bahasa Inggris yang ada untuk kelas sepuluh sekolah menengah mengandung sedikit rendah dari keterampilan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang materi yang tepat untuk sekolah menengah atas yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian dan studi dengan 72 siswa kelas sepuluh SMA di Surabaya dan dua guru bahasa Inggris sebagai sumber informasi tambahan dan resensi sebagai peserta. Data diperoleh melalui analisis buku teks, kuesioner, dan wawancara untuk mendapatkan analisis kebutuhan. Selain itu, rubrik evaluasi materi digunakan untuk mendapatkan skor akhir dari reviewer terhadap materi yang dikembangkan. Hasil evaluasi dari guru menunjukkan bahwa materi yang dikembangkan dapat dikategorikan sangat bagus. Para guru memberikan respon positif dan setuju terhadap pengembangan materi tambahan untuk sekolah menengah atas yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Di masa depan, peneliti berharap bahwa materi tambahan dapat diimplementasikan di kelas bahasa Inggris di sekolah menengah atas dan dikembangkan dengan fokus yang berbeda.Kata Kunci: Materi Tambahan Bahasa Inggris, Kemampuan Berfikir Tingkat TinggiAbstractBased on the 2013 curriculum, high order thinking is one of the important points that need to be included in the learning process as well as in the teaching plan and material. The existing English materials for tenth grade of senior high school contain lower more than higher order thinking skill. This study aims to design the appropriate materials for senior high school oriented to higher order thinking skill. This study was a research and design study with 72 tenth graders of a senior high school in Surabaya and two of the English teachers as the source of supplementary information and reviewer as the participants. The data were gained through textbook analysis, questionnaire, and interview to get the need analysis. Besides, the materials evaluation rubric used to get the final score from the reviewers towards the developed materials. The result from teachers’ evaluation showed that the developed materials were categorized as very good. The teachers responded positively and agreed towards the development of the supplementary materials for senior high school orienting to higher order thinking skill. In the future, the researcher hopes that the supplementary materials can be implemented in English class in senior high school and developed with different focus. Keywords: English Supplementary Materials, Higher Order Thinking Skill
Investigating the Teaching of Plural Ending Sounds Pronunciation in Rural Junior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pelafalan, sub-keterampilan dalam bahasa Inggris, merupakan persyaratan dasar bagi peserta didik yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi fungsional mereka dalam bahasa Inggris. Sub-keterampilan ini kurang mendapat perhatian dari guru bahasa Inggris karena tidak banyak dari mereka memiliki panduan yang jelas untuk memungkinkan siswa berbicara bahasa Inggris dengan baik menggunakan pengucapan yang baik. Untuk meningkatkan pelafalan siswa terutama dalam mengajar Plural Ending Sounds, para guru perlu memiliki berbagai pengajaran mengajar. Teknik yang digunakan para guru adalah; melatih, mengulangi, membaca dengan suara keras, dll. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik pengajaran pengucapan yang digunakan guru dalam mengajar siswa pedesaan dan untuk mendapat hasil yang diperoleh para siswa setelah mendapat pengajarannya. Peneliti menggambarkan penelitian dalam bentuk penelitian kualitatif. Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan beberapa observasi di kelas secara langsung, meminta siswauntuk membaca teks yang diberikan secara nyaring, dan mewawancarai guru dan siswa. Dapat disimpulkan dari penelitian bahwa belajar Plural Ending Sounds sulit untuk beberapa alasan. Baik guru dan siswa memiliki masalah masing masing dengan pelafalan bahasa Inggris. Ini dapat dibuktikan dari hasil siswa dalam membaca bacaan dengan keras yang menunjukkan beberapa skor rendah dan respons negatif mengenai pelafalan dari hasil wawancara.Kata Kunci: Teknik Pengajaran Pelafalan, Suara Akhir Jamak AbstractPronunciation, an English sub-skill, is a basic requirement for learners who want to improve their functional communicability in English. This sub-skill has less attention from English teachers since not many of them have clear guidelines to enable the students to speak English well using good pronunciation. In order to improve the students’ pronunciation especially in teaching Plural Ending Sounds, teachers need to have various teaching techniques. The techniques that the teachers use are; drilling, repeating, reading aloud and etc. The objective of the study is to find out the pronunciation teaching technique that the teacher use in teaching rural students and the result. The researcher describes the study in qualitative research. In collecting the data, the research do some observations in classroom directly, get the students result in pronunciation reading aloud task, and interview both the teacher and the students. It is concluded from the research that learning Plural Ending Sounds is difficult for some reasons. Both the teacher and the students have problem dealing with pronunciation. It proves from the students’ result in reading aloud task that shows some low score and negative responds regarding pronunciation from the interview result.Keywords: Pronunciation Teaching Technique, Plural Ending Sounds.
Investigating the Effectiveness of English Speaking Community (ESC) in Reducing Students’ Speaking Anxiety
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kecemasan dalam berbicara masih saja menjadi salah satu masalah besar bagi mereka yang mempelajari bahasa, terutama bahasa inggris. Kecemasan berbicara ini tidak hanya terjadi di lingkungan murid sekolah, tetapi juga terjadi di lingkungan jurusan Bahasa Inggris yang khususnya mereka terbiasa dengan lingkungan/suasana dalam menggunakan bahasa inggris. Untuk membantu para mahasiswa membiasakan diri berbicara bahasa inggris, pihak Jurusan Bahasa Inggris mendirikansebuah program yang diberi nama English Speaking Community (ESC). Program ini bertujuan agar mahasiswa bisa memberikan pendapat mereka dengan menggunakan bahasa inggris secara lisan. Program ini hanya tersedia di UNESA, maka dari itu peneliti fokus meneliti program ini dengan kaitannya bersama kecemasan dalam berbicara. Tujuan dari program ini adalah untuk mencari tahu apakah ESC mengurangi kecemasan dalam berbicaranya siswa dan cara/teknis ESC dalam mengurangi kecemasan dalam berbicara. Subjek dari penelitian ini adalah 100 mahasiswa dari Pendidikan Bahasa Inggris tahun angkatan 2014-2017 untuk mengisi kuisioner dan 9 mahasiswa terpilih dari kuisioner untuk menjadi partisipan di FGD. Menurut hasil data, ditemukan bahwa ESC mengurangi kecemasan mahasiswa dalam berbicara karena hanya ada teman sesama mahasiswanya dan tidak ada dosen. Lalu, peneliti menemukan empat fenomena dari FGD. Fenomena itu adalah ditemukannya empat karakteristik mahasiswa dalam sebuah forum seperti ESC dalam usaha mengurangi kecemasan dalam berbicara yang mereka alami. Kata Kunci: berbicara, ESC, kecemasan Abstract Speaking anxiety is still becoming a complex problem for language learners, especially in learning English. The speaking anxiety does not only happen in scholar’s situation, but also in English Department students that get the English environment every day in the college. To assist English major students in the university, a program called English Speaking Community (ESC) is launched. The program demands the students to give opinion by using English orally. Because this program only exist in UNESA, therefore the researcher led it becoming the focus for this study. The objective of this study is for finding out whether ESC reduces students’ speaking anxiety or not and the way ESC reduces students’ speaking anxiety. The researcher took 100 English Education program students from the year 2014-2017 to become the respondents for the questionnaire. Moreover, the researcher chose nine who had fulfilled the questionnaire to become the FGD participants. According to the results, it is found that ESC reduces students speaking anxiety because in ESC, there are only students without any lecturers. Also, there are four phenomenon revealed from FGD. It is found that there are four characteristic about how students reduce their speaking anxiety while doing a discussion or ESC meetings. Keywords: speaking, ESC, anxiety
A Case Study of The Pronunciation Practice in A Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPengucapan atau pelafalan telah menerima kurang atensi dalam Pengajaran Bahasa Inggris. Saat ini, jarang ditemukan seorang guru bahasa Inggris yang masih memberikan latihan pengucapan terutama di tingkat sekolah menengah atas. Meskipun kurikulum 2013 menyatakan bahwa komponen bahasa Inggris harus diintegrasikan dengan keterampilan bahasa Inggris lainnya, komponen kecil ini tidak boleh diabaikan karena jika peserta didik tidak dapat bersuara atau berbicara bahasa Inggris dengan jelas dan benar, hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau komunikasi tidak akan pernah terjadi. Studi pendahuluan telah dilakukan di sebuah sekolah menengah atas di Mojokerto. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya satu guru bahasa Inggris yang memberikan latihan pelafalan kepada muridnya. Dengan demikian, sebuah studi kasus dilakukan untuk menyelidiki guru bahasa Inggris yang memberikan praktik pelafalan siswa-siswanya dalam hal jenis latihan apa yang diberikan, kapan latihan itu diberikan, dan bagaimana latihan itu disampaikan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dimana data diperoleh melalui pengamatan langsung dari enam kelas. Juga, pengamatan dilakukan pada tiga materi (Pengumuman, Narasi, dan Penghargaan Lagu) dalam enam minggu. Temuan menunjukkan bahwa guru menerapkan metode yang sama di semua kelas. Latihan pengucapan yang diberikan oleh guru adalah latihan kata-kata yang dilakukan di hampir semua pertemuan. Namun, latihan itu tidak dilakukan pada akhir pelajaran. Selain itu, teknik yang digunakan adalah teknik pengulangan yang mengikuti prosedur dan menggunakan media untuk mendukung aktivitas latihan pengucapan.Kata Kunci: pengucapan, praktik pengucapan, latihan pengucapan. AbstractPronunciation has received less attention in English Language Teaching. Nowadays, it was rare to find an English teacher who still provided pronunciation practice especially in senior high school level. Although 2013 curriculum stated that English components should be integrated with other English skills, this tiny component should not be neglected because if learners could not sound or speak English clearly and correctly, either this can lead to a misunderstanding or communication would never happen. A preliminary study has been conducted in a senior high school in Mojokerto. The result showed that only one English teacher provided pronunciation practice to his student. Thus, a case study was conducted to investigate the English teacher who provided his students pronunciation practice in terms of the kind of the practice, when the practice was given, and how it was delivered. The methods used was qualitative method in which the data was obtained through direct observation from six classes. Also, the observation was done at three materials (Announcement, Narrative, and Song Appreciation) in six weeks. The findings showed that the teacher applied the same method in all classes. The pronunciation practice given by the teacher was words practice which was done in almost all meetings. However, the practice was not done at the end of the lesson. Besides, the technique used was drilling technique that following the procedures and using media to support the pronunciation practice activity.Keywords: pronunciation, pronunciation teaching, pronunciation practice
Patchwriting in English Department Students’ Academic Writing
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan di level apa siswa membuat patchwriting, dan bagaimana siswa membuat patchwriting dalam tulisan akademik mereka. Penelitian ini dilakukan dalam kualitatif. Ada enam partisipan dari sebuah universitas negeri di Jawa Timur yang mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Mereka merupakan siswa tahun ketiga dalam masa belajarnya dan sedang memprogram mata kuliah Paper Writing. Data-data berasal dari draft tulisan-tulisan siswa dan bacaan asli mereka. Hasil menunjukan bahwa walaupun persamaan-persamaan masih muncul dalam tulisan siswa, ada perbedaan-perbedaan di dalamnya. Berdasarkan hasil perbandingan antara tulisan-tulisan tersebut, ada enam tingkat modifikasi dalam parafrase siswa. Level tersebut adalah level kata, frase, klausa, paragraf, kombinasi, dan tanpa perubahan. Siswa lebih banyak menggunakan level kombinasi dalam tulisan mereka. Disamping itu, ada enam cara patchwriting berdasarkan modifikasi yang siswa-siswa buat dalam statemen mereka. Mereka adalah mengkopi langsung, merubah kata-kata, merubah struktur, penghilangan, penambahan, dan penggabungan. Diantara tipe-tipe tersebut, siswa cenderung untuk menggunakan penggabungan karena mereka menggabungkan lebih dari satu tipe patchwriting di parafrase mereka. Kata Kunci: Patchwriting, Penulisan Akademik . AbstractThe purpose of this study, therefore, is to describe in what level the students made patchwriting, and then how students make patchwriting in their academic writing. This study employed a qualitative approach. There were six participants from a state university in East Java majoring English Education programme. They were in the third year of their study and taking Paper Writing course. The data came from the students’ writing draft and their original passages. The results show that even though the similarities still appeared in the students’ passages, there are differences among them. According to the comparison among students’ writings, there were six levels of modification in students patchwriting. They were word, phrase, clause, combination, and no changes-level. The students mostly used combination-levels in their rewriting. Besides, there were six processes of patchwriting based on the modification that the students made in their writing. They were Copying Directly, Changing Words, Changing Grammar, Omitting, Adding, and Combining. Among those process, the students tended to use Combining since they combined more than one ways to make patchwriting in their academic writing.Keywords: Patchwriting, Academic Writing
The Implementation of Eclectic Method in Teaching Writing Recount Text of The Eight Graders
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode eklektik pada pembelajaran menulis teks pribadi dan tulisan siswa tentang teks pengalaman pribadi terhadap penerapan metode eklektik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Terdapat 30 siswa sebagai subjek penelitian. Peneliti menggunakan field notes, RPP guru, tugas menulis siswa, dan rubric penilaian menulis sebagai instrumen penelitian. Penelitian ini diadakan selama 3 kali pertemuan. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan field notes yang didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung dan hasil teks pengalaman pribadi yang ditulis siswa berdasarkan rubric yang telah diadaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dapat menerapkan metode eklektik dengan sukses. Guru menggabungkan metode saintifik, teknik koreksi teman sebaya dan Grammar Translation Method dalam mengajar menulis. Selain itu, siswa dapat menulis dengan sangat baik terutama dalam mengembangkan konten, menyusun teks, menyusun kalimat, memilih kosa kata, dan tata penulisan.Kata Kunci: Metode eklektik, teks pengalaman pribadi, teknik koreksi teman sebaya AbstractThis study was conducted to describe the implementation of eclectic method in teaching writing recount text and the students’ writing towards the implementation of eclectic method. The design of this study was a descriptive qualitative design. There were 30 female students as the participant in this study. The researcher used field notes, teacher’s lesson plan, students’ writing and writing rubric as the instrument. The researcher observed the teaching and learning process in three meetings. In analyzing the data, the researcher analyzed the teacher’s stages while implementing eclectic method based on the observation and the students’ writing tasks based on the writing rubric. The result shows that the teacher has successfully implemented an eclectic method in teaching writing. She combined scientific approach, peer correction, and grammar translation method in teaching writing. Furthermore, the students could write their recount text very well especially in terms of their content, organization, grammar, vocabulary, and mechanics. Keywords: Eclectic method, Recount text, Peer Correction
Developing English Materials Using Scientific Approach for Eleventh Graders of Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini yang pertama adalah untuk mengetahui aspek analisis kebutuhan siswa pada siswa kelas XI SMAN Mojosari, yang kedua adalah untuk mengetahui bagaimana pengembangan materi itu dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan saintifik pada siswa kelas XI SMAN Mojosari, yang ketiga adalah untuk mengetahui hasil penilaian buku dari para penilai (guru) pada siswa kelas XI SMAN Mojosari. Pada penelitian kali ini, menggunakan metode R&D (Research and Development). Subjek pada penelitian kali ini terdiri dari siswa-siswi kelas XI SMAN Mojosari, bu Sulastri, bu Yunita dan bu Ayu sebagai penilai dari pengembangan buku bahasa inggris. Instrumen penilaian yang diapakai dalam penelitian ini adalah kuisioner-kuisioner, lembar interview dan penilaian pengembangan materi .Cara-cara pengembangan materi pada penelitian ini menggunakan lembar kebutuhan siswa, memilih indikator, melakukan pengembangan materi dan merevisi materi. Dalam melakukan pengembangan materi, presentase dan frekuensi dari materi tersebut digunakan untuk menganalisis lembar kebutuhan siswa, lalu indikator akan dikembangkan melalui kebutuhan siswa tersebut. Penilaian pengembangan buku akan dinilai oleh penilai pertama dan kedua. Seperti yang diketahui, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bahasa inggris digunakan untuk menambah pengetahuan mereka seperti pada level menengah, (2) kelemahan siswa yaitu dalam mengucapkan kata, (3) mendapatkan solusi, dan (4) membentuk kelompok dalam 3-4 orang. Jadi, penulis mengklasifikasikan 5 cara penerapan metode pendekatan saintifik dalam pengembangan materi yaitu (1) penelitian, (2) mempertanyakan, (3) bereksperimen, (4) menghubungkan, dan (5) mengkomunikasikan. Nilai tengah dari penggunaan metode pendekatan saintifik berdasarkan 4 kemampuan diklasifikasikan”bagus” Kata Kunci : Pendekatan Saintifik, Materi bahasa inggris, analisis kebutuhan siswaAbstractThe goals of this research were (1) to discover Need analysis aspect of eleventh graders students of SMAN Mojosari, (2) to discover of the suitability scientific approach for eleventh graders students of SMAN Mojosari, and (3) to discover the result of the review of the materials using scientific approach for eleventh graders of SMAN Mojosari. Research and Development (R&D) research study are used in this research. The students of class XI IPA 1 of SMAN Mojosari, Ma’am Sulastri, Ma’am Yunita and Ma’am Ayu as the materials’ reviewers were the subjects. The instruments were questionnaries, interview guidelines and for material’s assessment. There were steps to develop the materials proposed by Borg and Gall (2003) such as conduct needs analysis, choosing basic competences, doing materials’ evaluation and improving the materials were carried out as the ways of the research. The percentage and frequency would be analyzed the data analysis and then the basic competences were developed from the results . As the result, the study shown (1) english was used for gaining knowledge as their level in intermediate, (2) pronounciation was the lack for the students , (3) getting some feedbacks, and (4) small group for 3-4 people. So, the researcher classified into 5 ways to meet the students’s need (1) observing, (2) questioning, (3) experimenting, (4) associating and (5) communicating. The total range mean of using scientific approach based on four skills in the materials was classified “Great”.Keywords : Scientific approach, English materials, Need analysis.
Analysis of Syntactical Errors and Mistakes in Students’ Writing
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Written language is difficult for some people especially some learners who learn English as foreign language, because it somehow has a complicated syntactical form that is hard to be understood. Thus, it causes error and mistake. Commonly, error occurs because learners do not realize that they made error and it is the gaps in learners knowledge of the target language especially English. In particular, the purpose of this research is to describe kinds of syntactical error and mistake found in students’ writing composition, namely in paragraph writing class of university students in second semester. Dealing with the research questions and objectives of the study in the first chapter, the data gained are going to be analyzed qualitatively. The data of the study were obtained from students’ errors and mistakes. In this study, the data were obtained from the form of words, phrases, and sentences found in the students’ writing composition. The source data were collected through the students’ writing composition. Based on the result, it can be seen that there are five types of syntactical errors and mistakes that made by students, those are: word order, omitted word, unnecessary word, run-on sentence, and fragments. In this result, most of the students made an error since they did not know to answer the correct one.Keywords: Analysis Error and Mistake, Syntactical Deviation, Student Writing Composition. AbstrakBahasa tulisan sulit bagi sebagian orang terutama bagi para pelajar yang belajar bahasa inggris sebagai bahasa asing, karena terkadang memiliki bentuk sintaktis yang sulit untuk dipahami. Demikian, ini menyebabkan kesalahan dan keliruan. Pada umumnya, kesalahan terjadi karena para pelajar tidak menyadari bahwa mereka melakukan kesalahan and ini adalah celah untuk pengetahuan para pelajar pada bahasa asing khususnya Bahasa Inggris. Khususnya, tujuan pada penelitian ini adalah untuk menggambarkan macam-macam “syntactical error and mistake” yang ditemukan di tulisan-tulisan para pelajar, yaitu di kelas Pargarph Writing pada Mahasiswa di Semester Kedua. Berhubungan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian pada bab pertama. Data yang telah diperoleh akan dianalisis melalui penelitian kualitatif. Data pada penelitian ini diperoleh dari para kesalaha and kekeliruan Mahasiswa dan data itu diperoleh dari kata-kata, tutur kata, dan kalimat-kalimat yang telah ditemukan pada tulisan Mahasiswa. Sumber data didapatkan melalui tulisan Mahasiswa. Berdasarkan dari penelitian, daat terlihat bahwa terdapat lima macam “syntactical errors and mistakes” yang dibuat oleh para pelajar, diantaranya: “word order, omitted word, unnecessary word, run-on sentence, and fragments.” Pada penelitian ini para pelajar melakukan kesalahan dikarenakan mereka tidak memahami untuk menjawab yang benar.Kata kunci: Menganalisis Kesalahan dan Kekeliruan, Penyimpangan Sintaktis, Komposisi Tulisan Mahasiswa.
Developing “Once upon a Box” as a Medium for Reading Activity
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractIn junior high level, students are required to master, at least three texts, which are descriptive text, personal recount text, and narrative text (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016).Therefore, it is hard to attract students’ interest on EFL reading activity as they are rarely exposed to the target language in their daily life, so they do not see the importance of EFL reading activity (Mason, 1992). Thus, variations and suitable approach in reading activity are needed. As a result, a learning medium, namely ‘Once upon a Box’, is developed in order to involve students in enjoyable reading activity, enrich students’ vocabulary knowledge, and stimulate students to understand the main idea of the story they read. To develop the product, this study adapted ADDIE approach by Branch (2004). Based on the trials and evaluations, most of the students were giving positive feedback toward the medium. The students are also motivated to read as the illustrations are attractive. In content validation, the medium can be categorized as ‘good’. Meanwhile, in medium validation, the medium can be categorized as ‘excellent’. Fortunately, when the medium is implemented, the use of dictionary can be minimized and the preliminary goals can be met. In short, this paper is aimed to describe the development process of learning medium namely ‘Once upon a box’ for reading activity. Keywords: reading, once upon a box, narrative text, ADDIE AbstrakDi tingkat pendidikan menengah, para siswa paling tidak diharuskan menguasai tiga teks, yaitu teks deskriptif, teks personal recount, dan teks naratif (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016). Namun, menarik minat para siswa untuk membaca teks berbahasa Inggris tidaklah mudah karena mereka tidak menyadari pentingnya aktivititas tersebut (Mason, 1992). Karena itu, variasi dan pendekatan yang sesuai untuk aktivitas membaca diperlukan. ‘Once upon a Box’ adalah media pembelajaran yang dikembangkan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan membaca teks berbahasa Inggris yang menyenangkan, memperkaya perbendaharaan kata siswa, dan mendorong siswa untuk memahami ide pokok dari cerita yang mereka baca. Penelitian ini mengadaptasi pendekatan ADDIE oleh Branch (2004) untuk mengembangkan produk. Dengan kata lain, artikel ini ditujukan untuk mendeskripsikan proses pengembangan media pembelajaran ‘Once upon a Box’ untuk aktivitas membaca.Kata Kunci: membaca, once upon a box, teks naratif, ADDIE
QUESTION ANSWER TECHNIQUE IN TEACHING REPORT TEXT TO TENTH GRADE STUDENTS
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mencari tahu apakah Teknik Question Answer dapat merubah kemampuan siswa dalam membuat teks report mereka sendiri. Sasaran utama dalam penelitian ini adalah 1) Untuk mendeskripsikan proses penerapan Teknik Question Answer dalam pembelajaran menulis teks report pada siswa kelas sepuluh. 2) Untuk mencari tahu hasil penulisan teks report siswa setelah penerapan teknik Question Answer dalam pembelajaran menulis teks report pada siswa kelas sepuluh. 3) Untuk mencari tahu respon para siswa setelah penerapan Teknik Question Answer dalam pembelajaran menulis teks report pada siswa kelas sepuluh. Subjek dalam penelitian ini adalah para siswa kelas sepuluh Busana di SMK N 6 Surabaya. Penemuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa para murid yang diajarkan Teknik Question Answer dapat berubah kemampuan menulisnya. Hal itu dapat dilihat dari hasil oenelitian ini. Kita dapat melihat perubahan dalam kemampuan menulis para siswa sampai pada siklus kedua. Dari hasil tulisan siswa, peneliti menemukan bahwa kemampuan content, grammar, organization, dan vocabulary mereka berubah lebih baik lagi. Kemampuan mereka dalam menemukan ide untuk menulis juga berubah menjadi lebih baik. Respon para siswa juga menjadi lebih baik hal itu dalam terlihat dari pengaturan waktu mereka saat mengerjakan rteks report. Kemampuan para siswa dalam mengumpulkan ide juga menjadi lebih inovatif. Hal ini sebagai respon yang baik dari para siswa. Maka dari itu, Teknik Question Answer dapat digunakan sebagai salah satu teknik alternatif untuk mengajarkan menulis teks report pada siswa kelas sepuluh.Kata Kunci: Teknik pertanyaan jawaban, kemampuan menulis, mengumpulkan ideAbstractThis research aims to discuss whether Question Answer Technique can improve the students’ writing skills in producing their own report text. The objectives of the prior research are: 1) To describe the process of the implementation of question-answer technique in teaching writing report text on the tenth grade students. 2) To find the student’ writing result after the implementation of question answer in teaching writing about report text on tenth grade students. 3) To find the respond of the students after the implementation of question answer in teaching writing report text to tenth grade student. The subject of this research is the tenth grade students of X Busana I in SMK N 6 Surabaya. The research finding shows that the students who were taught using question answer technique can improve their writing skill. It can be seen in the result of this research. We can see that there are improvements in their writing result up to cycle 2. From the student’ writing result, the researcher found that their content, grammar, organization, and vocabulary are improved. They get better in gathering the idea to write report text. Question answer technique also makes students’ writing skill in gathering the ideas more innovative. They also had a better time management as their responses to question answer technique. Therefore, question answer technique can be used as alternative technique to teach writing to tenth grade students. Key words: question answer technique, writing skill, gathering the idea

Page 2 of 4 | Total Record : 31