cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2018)" : 31 Documents clear
The Use of Scaffolding on Teaching Process and Students Writing in A Senior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakScaffolding adalah sejenis bantuan yang digunakan untuk membantu menyusun pemahaman siswa, bentuk dukungan dari guru agar tercipta pembelajaran yang efektif. Teorinya adalah ketika siswa diberi dukungan yang mereka butuhkan ketika belajar sesuatu yang baru, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menggunakan pengetahuan itu secara mandiri. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis scaffolding yang digunakan oleh guru, bagaimana scaffolding tersebut diterapkan, dan bagaimana kesesuaian penggunaan scaffolding pada tulisan siswa. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Partisipan dalam penelitian ini adalah tiga puluh enam siswa di kelas X MIPA 4 dan seorang guru bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Krian. Data diperoleh dari catatan lapangan, daftar pengamatan, dan tulisan siswa. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa empat jenis scaffolding ditemukan dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah yang diambil oleh guru dalam memberikan scaffolding kepada siswa sesuai dengan apa yang telah direncanakannya. Dari empat jenis scaffolding yang ditemukan, dua diklasifikasikan dalam makro scaffolding dan dua lainnya diklasifikasikan sebagai mikro scaffolding. Scaffolding yang digunakan oleh guru sesuai dengan hasil tulisan siswa.Kata Kunci: Scaffolding, makro-scaffolding, mikro-scaffolding, tulisan siswa. AbstractScaffolding is a kind of assistance used to weave students understanding, support that is actually needs to be required by the teacher in order to maintain effective learning. The theory is when students are given the support they need when learning something new, they stand a better chance of using that knowledge independently. Therefore, this study was conducted in order to find out kinds of scaffolding used by the teacher, how those scaffoldings are implemented, and what effects are given by the use of scaffolding on students writing. The research design used in this study was descriptive qualitative. Thirty six students in the tenth grade of X MIPA 4 and an English teacher in SMA Negeri 1 Krian were the participants. The data were gained from fieldnotes, observation checklist, and students writing products. The result revealed that the four kinds of scaffolding were found in the teaching writing process. The steps taken by the teacher in providing scaffolding to the students in accordance with what she has planned. From four types of scaffolding found, two were classified in macro-scaffolding and two other were classified as micro-scaffolding. Scaffolding used by teachers do correspond with the results of students writings.Keywords: Scaffolding, macro-scaffolding, micro-scaffolding, students’ writing products.
The Use of Code-Switching by EFL Teachers in Indonesian Junior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Ada banyak hal yang perlu dilakukan pelajar untuk belajar bahasa asing, seperti memahami aspek tata Bahasa, mengetahui bunyi dalam Bahasa tersebut, dan yang paling penting, membiasakan diri dengan bahasa target. Salah satu cara dalam mengakrabkan atau memberikan pemaparan Bahasa target adalah dengan menggunakan alih kode, yang mengubah sebagian Bahasa ke Bahasa lain dalam percakapan atau pidato dari Bahasa target ke Bahasa ibu, dan sebaliknya (Mangubhai & Bartorowicz, 1997). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, dimana peneliti mengamati dan merekam video tiga guru yang mengajar di kelas. Rekaman video ditranskripsikan dan dianalisis bersama dengan catatan lapangan yang diambil selama pelajaran yang diberikan oleh ketiga guru ketika diamati. Hasil menunjukkan bahwa pengalihan kode inter-sentential digunakan paling banyak oleh tiga guru dalam memberikan instruksi kepada siswa mereka, diikuti dengan pengalihan kode extra-sentential yang terjadi secara tidak sengaja karena pengaruh bahasa ibu yang ditunjukkan pada dua dari tiga guru. Selain itu, tiga guru menggunakan pengalihan kode dengan fungsi yang sama, yaitu mentransfer makna dan isi kalimat/kalimat baru yang memberikan kejelasan dan mengubah bahasa mereka dalam menangani beberapa poin tertentu dari tata bahasa yang diajarkan ke bahasa ibu, dan sebaliknya; atau juga dikenal sebagai fungsi topik. Kata kunci: Pengalihan kode, siswa-siswa SMP, Present continuous tense, Kurikulum 2013AbstractThere are many things that learners need to do to learn foreign languages, such as understanding the grammatical aspects of the language, knowing the sounds in said languages, and most importantly, familiarizing themselves with the target language. One of the ways in familiarizing or giving exposure of the target language is using code-switch, which is changing a part of the language to another language in a conversation or a speech from the target language to mother tongue, vice versa (Mangubhai & Bartorowicz, 1997). The research is done by using a descriptive qualitative design, in which the researcher observed and video-recorded for three different teachers teaching in the classroom. The video recording were transcribed and analysed along with the field notes taken during the lessons that the three teacher given while being observed. The outcome shows that Inter-sentential code switch is used the most by the three teachers in giving instructions to their students, followed by extra-sentential code-switch that happened unintentionally because of the mother tongue’s influence that showed in two of the three teachers. Moreover, three of the teacher used code-switching with the same function, which is to transfer the meaning and content of the new phrase/sentence which provides clarity and shifting their language in dealing with some particular points of grammar taught to the mother tongue, vice versa; or also known as topic function.Keywords: Code-switching, Junior High School Learners, Present continuous tense, 2013 curriculum
Vlogging as a Medium for Eighth Graders of SMP Negeri 1 Gresik in Speaking Recount Text
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakVlogging saat ini menjadi sangat popular di kalangan muda dan para remaja. Namun, dalam mengajar kemampuan berbicara, kebanyakan guru masih menggunakan cara yang tradisional dan membosankan. Aktivitas vlogging seperti ini dapat dijadikan sebuah media yang menarik minat siswa untuk berbicara Bahasa inggris lebih sering. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana vlogging dapat digunakan dalam proses pembelajaran berbicara Bahasa inggris khususnya teks recount, untuk membuktikan bahwa vlogging dapat meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa inggris siswa terutama pada teks recount, dan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai penggunaannya dalam proses pembelajaran. 27 siswa dengan kemampuan berbicara Bahasa inggris yang berbeda dipilih untuk menjadi subjek pada penelitian ini. Setiap siswa diminta untuk membuat video berdurasi tidak lebih dari 5 menit sebanyak tiga video. Catatan lapangan, rubrik kemampuan berbicara, dan angket digunakan untuk menemukan data yang diperlukan pada penelitian ini. Peneliti menemukan hasil bahwa siswa menunjukkan adanya perkembangan pada pelafalan, kelancaran, struktur, pilihan kata, dan pemahaman. Disamping itu, mereka merasa senang dalam proses pembuatan dan pembelajarannya. Bagi mereka, vlogging merupakan hal baru yang menarik untuk mereka berlatih dan mengembangkan kemampuan berbicara Bahasa inggris mereka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah vlogging dapat dipastikan merupakan media alternative untuk siswa berlatih dan mengembangkan kemampuan berbicara Bahasa inggris mereka terurtama pada teks recount.Kata Kunci: vlogging, teks recount, kemampuan berbicara. AbstractVlogging is recently becoming really popular among teens and adolescence. However, to teach speaking, many teachers still use the traditional and tedious. Vlogging can be an interesting medium for students to encourage themselves in using English more. The aim of this study is to describe how vlogging can be implemented in teaching speaking recount text, to give a revelation in the use of vlogging in enhancing students’ speaking skills in English, especially for recount text, and to portray the students’ responses toward the implementation. 27 students with different speaking skills were chosen to be the subjects of this research. Each of the students was asked to make a video no longer than 5 minutes 3 times. Each of the video was analyzed to see the differences and growth in the use of English in the video. Field notes, speaking rubric, and questionnaire were used in order to find the data required for this research. The researcher found that vlogging can be positively used in teaching recount text, especially for speaking skills. The implementation of vlogging strongly affects the students’ speaking skills. The students showed improvement in their pronunciation, fluency, grammar, vocabulary, and comprehension. Furthermore, they felt happy in making their vlogs and having it in the learning process. It was such a new exciting way for them to learn and to develop their speaking skills. In conclusion, vlogging is certainly an alternative-stimulating media for students to grow their speaking ability especially in recount text.Keywords: vlogging, recount text, speaking ability.
The Implementation of Mind Mapping in Teaching Writing of Recount Text to Eighth Graders of Junior High School
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis adalah rumusan gagasan yang diekspresikan melalui bentuk tertulis. Namun itu diyakini sebagai salah satu keterampilan yang paling sulit untuk dipelajari. Untuk mengembangkan keterampilan menulis, keterlibatan strategi yang tepat dan banyak latihan diperlukan dalam keterampilan ini. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengajar menulis adalah teknik mind mapping. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menganalisis bagaimana guru menerapkan strategi mind mapping dalam mengajar teks recount untuk siswa kelas delapan dan bagaimana penulisan teks recount siswa setelah diimplementasikan oleh strategi pemetaan pikiran. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Jetis dengan guru bahasa Inggris dan satu kelas siswa kelas delapan sebagai subjek penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi kelas, dan mengumpulkan karya siswa. Dari penelitian ini ditemukan bahwa guru telah menerapkan langkah-langkah strategi pemetaan pikiran dan memberikan contoh peta pikiran yang baik secara tepat dengan beberapa modifikasi sesuai dengan kebutuhan kelas. Selain itu, ditemukan bahwa teknik mind mapping juga membantu siswa membuat teks recount pribadi mereka sendiri. Berdasarkan rubrik, tingkat menulis siswa berada pada tingkat yang baik hingga sangat baik.Kata Kunci : Mind Mapping, Teks Recount, Mengajar MenulisAbstractWriting is a formulation of ideas which is expressed through written form. However it is believed to be one of the most difficult skills to learn. To develop writing skill, proper strategy and much practice to engage with this skill are required. One of the tools that can be used to teach writing is mind mapping. Thus, the objectives of this study are to describe and analyse how the teacher implements mind mapping strategy in teaching recount text for eighth graders and how are the students’ recount text writing after being implemented by mind mapping strategy. This research was conducted at SMP Negeri 2 Jetis with an English teacher and a class of eight grade students as the subjects. This study is descriptive qualitative research. The data was collected by doing classroom observation, and collecting the students’ works. The research findings of this study found that the teacher has already applied the steps of teaching mind mapping strategy and gave the example of a good mind map appropriately with some modification according to the class need. It was also showed that the students’ mind maps are helpful in assisting the students create their own personal recount text. Based on the rubric, the students’ writing levels are in good to very good level.Keywords: Mind Mapping, Recount Text, Teaching Writing
Developing “ARMI” Medium to Encourage Students in Writing Simple Sentences of Simple Past Tense
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractLearning to write simple sentences needs more than having the idea(s) and understanding language components. Writing skill is difficult for English foreign language learners because of lack of communication in English such as the society does not speak or write in English. Moreover when it comes to write in simple past tense, there are two factors which the students find it difficult, those are, the difficulties in the forms and in the usage. Thus, a suitable instructional media is made to overcome the students’ problems in writing simple past tense. This study aims to describe the development of an instructional media involving game called “ARMI Medium” to encourage students in writing simple sentences of simple past tense. It uses the modified cycle of R & D design adopted from Dick, Carey, and Carey (2015) to describe the development of this medium. The result shows that the medium successfully attracts the students’ interest in writing simple sentences in which the students in a group can produce good simple sentences in the end of this activity.Keywords: writing, media, game, ARMI medium, simple past tense AbstrakBelajar untuk menulis kalimat sederhana membutuhakan lebih dari memiliki ide-ide dan memahami komponen-komponen bahasa. Kemampuan menulis itu sulit untuk pelajar bahasa inggris sebagai bahasa asing dikarenakan kurangnya komunikasi dalam bahasa inggris, misalnya, masyarakat yang tidak berbicara atau menulis dalam bahasa inggris. Lebih-lebih jika itu berkaitan dengan menulis dalam simple past tense, ada dua faktor yang membuat siswa merasa kesulitan, yaitu kesulitan dalam bentuk dan kegunaannya. Oleh karena itu, media yang cocok dibuat untuk mengatasi masalah siswa dalam menulis simple past tense. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan sebuah media yang melibatkan permainan didalamnya bernama “media ARMI” untuk mendorong siswa dalam menulis kalimat simple past tense yang sederhana. Studi ini menggunakan desain R & D yang dimodifikasi dari Dick, Carey, and Carey (2015) untuk mendeskripsikan pengembangan media ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media ini sukses menarik minat siswa dalam menulis kalimat sederhana yang mana siswa dalam kelompok bisa menghasilkan kalimat sederhana yang baik di akhir kegiatan.Kata Kunci: menulis, media, permainan, media ARMI, simple past tense
The Effect of Using Reciprocal Teaching Stratey in Teaching Reading Comrehension of Explanation Text to Eleventh Graders of Senior High School Students
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMembaca adalah salah satu keterampilan diantara keterampilan yang lain, yakni menulis, berbicara, dan mendengarkan yang harus dikuasai oleh siswa di Indonesia. Salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru dalam mengajar pemahaman membaca di kelas adalah strategy pengajaran timbal-balik. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan seberapa efektifitas pegajaran timbal-balik digunakan dalam pemhamana membaca teks penjelas yang dilakukan di kelas sebelas SMAN 1 Taman. Strategi pengajaran timbal-balik itu sendiri mempunyai empat strategi utama. Yaitu, mempertanyakan, menebak, mengklarifikasi, dan yang terakhir meringkas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimental. Penelitian eksperimental didesain dengan menggunakan dua kelas yang berbeda dan menggunakan perlakuan yang berbeda. Pada kelas percobaan digunakan strategi mengajar timbal-balik, sedangkan pada kelas terkontrol tidak menggunakan strategi timbal-balik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan random-sampling. Yaitu kelas XI MIA 1 dan XI MIA 2. Selain itu, ada beberapa tahap yang digunakan oleh peneliti dalam melaukan penelitian ini; pemberian pre-test, pemberian perlakuan pada kelas percobaan, dan yang terakhir adalah pemberian post-test. Analisis data pada penelitian ini didapat melalui hasil tes pada kelas percobaan. Hasil itu dianalisis melalui SPSS 20 pada paired sample test yang ada pada rumus t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan nilai antara kelas percobaan dan kelas yang terkontrol dengan mempelajari pemahaman membaca pada teks penjelas. Menurut hasil perhitungan statistik bahwa nilai post-test siswa di kelas eksperimen adalah ∑X = 2976 rata-rata nilai 85.03 yang menggunakn strategi pengajaran timbal balik lebih besar daripada nilai post-test siswa di kelas terkontrol ∑Y = 2706 skor rata-rata 77.31 tanpa menggunakan strategi pengajaran timbal balik, dimana nilai t0> ttabel. Pada kesimpulannya, strategi pengajaran timbal balik dapat digunakan secara efektif untuk guru dalam mengajar membaca pemahaman teks penjelasan di kelas sebelas SMAN 1 Taman.Kata Kunci: Strategi Mengajar Timbal-balik, Keterampilan Membaca, Teks Penjelasan. AbstractReading is one of the skills among the other skills; writing, speaking, and listening that need to be mastered by the students in Indonesia. One of the strategies that can be used by the teacher to teach reading comprehension in reading class is Reciprocal Teaching Strategy. This study aims to discover the effectiveness of reciprocal teaching strategy on students’ reading comprehension of explanation text conducted at eleventh grade students’ of SMAN 1 Taman. Reciprocal teaching strategy itself has four main strategies. Those are questioning, predicting, clarifying, and the last is summarizing. The method that used in this study was experimental research. Experimental research designed with two different classes which were taught different treatments. In experimental class was taught with using reciprocal teaching strategy, while other class, means controlled class was not. This study was conducted by using random sampling. Those are XI MIA 1 and XI MIA 2. Moreover, there were some procedures that the researcher used to conduct this study; giving pre-test, giving treatment to the experimental class, and then the last is giving post-test. The data analyzed in this study was gained by the test in experimental class. It was analyzed by using SPSS 20 in paired sample test of t-test formula. The result of this study showed that there was a different score between students’ score in experimental class and controlled class by learning reading comprehension of explanation text. As stated to the test result of statistical calculation on t-test formula showed the students’ score in post-test of experimental class is ∑X = 2976 mean score was 85.03 which was using reciprocal teaching strategy are bigger than the students in controlled class ∑Y = 2706 the mean score 77.31 without using reciprocal teaching strategy, where the value of t0 > ttable. In conclusion, reciprocal teaching strategy is effective to be used for the teacher teacher to teach reading comprehension of explanation text at eleventh graders of SMAN 1 Taman.Key Words: Reciprocal Teaching Strategy. Reading Skill, Explanation Text
Lecturer’s Activities in Writing Class: A Study on Teaching Process and Technique in Essay Writing
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenulisan esai menjadi sebuah mata kuliah yang perlu diajarkan ke siswa. Namun, banyak siswa yang masih membuat kesalahan ketika mereka diminta untuk menyusun sebuah esai. Oleh karena itu, dosen berperan penting dalam memudahkan suatu pembelajaran penulisan esai dan mencegah kesalahan-kesalahan pada penulisan. Dengan demikian, penelitian ini perlu dilakukan untuk melihat bagaimana seorang dosen mengajarkan penulisan esai yang terfokus pada proses dan teknik mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) aktivitas mengajar yang dilakukan oleh dosen selama mengajar penulisan esai (2) teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang dosen selama mengajar penulisan esai. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan beberapa pengamatan dan melakukan wawancara terhadap dosen. Untuk hasil penelitian, dalam kegiatan pra-mengajar, dosen melakukan hal yang sama seperti menarik perhatian siswa, mengaktifkan pengetahuan dasar siswa, dan meninjau ulang materi sebelumnya. Untuk kegiataan saat-mengajar, dosen lebih fokus pada penjelasan struktur/organisasi esai. Untuk kegiatan pasca mengajar, dosen jarang meninjau keseluruhan pembelajaran. Penulisan terkendali disimpulkan sebagai teknik yang digunakan selama proses belajar mengajar berlangsung. Kata Kunci: Aktivitas Mengajar, Proses Mengajar, Tekhnik Mengajar, Penulisan Esai.AbstractEssay writing has commonly become a subject that need to be learned for students. Yet, many students still produce errors when they have been asked to make an essay. Therefore, lecturers play an important role to facilitate the learning of essay writing and to prevent errors in writing. Thus, this study needs to be conducted to see how a lecturer teaches essays writing which focuses on both the teaching process and technique. The purposes of this study are to describe (1) lecturer’s teaching activities in a process of teaching essay writing, (2) the technique applied by lecturer in teaching essay writing. This study used descriptive qualitative method. To collect the data, the researcher did some observations and interviewed the lecturer. As the results, in pre-teaching, the lecturer did the same things such as attracted the students’ attention, activated the students’ prior knowledge and reviewed the previous learning materials. For whilst teaching, the lecturer more focused on explaining the organization of essay. In post teaching activity, the lecturer was rarely reviewing the whole learning materials. Controlled writing was concluded as a technique which was used during teaching and learning process. Keywords: Teaching Activity, Teaching Process, Teaching Technique, Essay Writing.
A Study on Adjudicator’s Oral Feedback in British Parliamentary Debate of EDS UNESA
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Peran umpan balik juri saat debat sangatlah penting. Ada tiga aspek debat yang harus diperhatikan oleh juri saat memberi umpan balik yaitu, isi, gaya, dan metode. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi aspek-aspek debat yang menjadi fokus juri saat memberi umpan balik dan respon pelaku debat terhadap umpan balik tersebut. Penelitian ini adalah kualitatif penelitian. Penelitian ini diadakan di EDS (Klub Debat Bahasa Inggris) Unesa dan subyek utama penelitian ini adalah satu juri debat dan dua pelaku debat sebagai tim yang diunggulkan di klub tersebut. Peneliti menggunakan pengamatan dan wawancara untuk mengumpukan data. Peneliti menemukan bahwa aspek yang menjadi fokus juri debat dalam memberi umpan balik adalah aspek isi terutama alasan. Umpan balik terkait metode diberikan secara terintegrasi dengan aspek isi. Peneliti hampir tidak menemukan umpan balik terkait gaya. Peneliti hanya menemukan umpan balik tentang presentasi vokal yang merupakan satu komponen dari aspek gaya. Di sisi lain, peneliti juga menemukan bahwa respon pelaku debat terhadap umpan balik tersebut berbeda-beda. Namun demikian, peneliti dapat menyimpulkan bahwa semua pelaku debat memahami dan merasa nyaman dengan umpan balik yang diberikan oleh juri debat. Peneliti menyarankan supaya penelitian tentang strategi pelaku debat dalam mempelajari feedback bisa diadakan..Kata Kunci : Debat, Respon Pelaku Debat, Umpan Balik Lisan, Juri Debat, Debat Parlemen Gaya British AbstractThe role of adjudicator’s feedback in debate is decidedly important. There are three aspects of debate that the adjudicator needs to consider in giving feedback, namely matter, manner and method. The purpose of this present study is to investigate what aspect are the focus of adjudicator in providing feedback and debater’s responses to the feedback. This study is qualitative research. It has been conducted in EDS (English Debating Society) of Unesa and the main subjects were one single adjudicator and two debaters as the winning team of EDS Unesa. The researcher used observation and interview to collect the data. The researcher found that the adjudicator mostly concerned on aspect of matter especially reasoning. Surprisingly, the researcher hardly found feedback about manner aspect. The feedback of method was given integrated with matter. The researcher also concluded that responses to the feedback were various. Nevertheless, the researcher found that all debaters understand the feedback given by the adjudicator and consider it very helpful. The researcher suggested that another study about debater’s strategy to learn from the feedback can be conducted.Keyword: Debate, Debater’s Responses, Oral Feedback, Adjudicator, British Parliamentary Style
The Implementation of Gallery Walk Technique in Teaching Speaking of Recount Text to Tenth Grader Students
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada era ini, siswa diwajibkan untuk bisa berbicara bahasa Inggris. Ketika siswa memiliki kesulitan untuk berbicara bahasa Inggris, mereka akan kehilangan peluang mereka di dunia kompetisi. Jadi, guru harus membuat kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan. Bagaimanapun juga, tanpa menerapkan teknik yang unik, siswa akan gampang merasa bosan. Sangatlah penting bagi guru untuk memilih teknik yang tepat. Salah satu teknik terbaru adalah gallery walk. Teknik ini jarang diterapkan oleh guru di Indonesia karena jarang terkespos. Sebenarnya, gallery walk memiliki banyak manfaat, maka dari itu, peneliti memilih teknik ini untuk diterapkan pada pembelajaran berbicara teks bersejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik gallery walk pada pembelajaran berbicara teks bersejarah dan respon siswa terhadap pengaplikasian teknik tersebut. Peneliti, menggunakan deskriptif kualitatif sebagai desain penelitian. Untuk tujuan tersebut, kelas berisi 36 siswa berpartisipasi dalam penerapan teknik gallery walk. Guru dan siswa melakukan pembelajaran seperti biasa, yang membuat berbeda adalah teknik yang digunakan. Kuesioner juga diberikan setelah penerapan teknik gallery walk telah selesai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan gallery walk telah berjalan sesuai dengan teknik yang dianjurkan oleh Bowman (2005). Guru dapat mengatur siswa dengan baik, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan seperti yang diharapkan. Siswa dapat menyampaikan hasil kerja mereka di depan kelas tanpa merasa malu. Hasil dari kuesioner juga menunjukkan jika siswa menjadi lebih termotivasi dan lebih berani untuk berbicara di depan teman-teman mereka. Sebab, teknik ini mengijinkan mereka untuk berdiskusi dengan anggota kelompok sebelum menyajikan hasil kerja terakhir mereka. Kesimpulannya, penerapan teknik gallery walk telah berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang telah diusulkan oleh ahli. Teknik ini menambah motivasi siswa dan rasa percaya diri mereka. Itu dapat dilihat dari presentasi dan juga hasil dari diskusi yang telah mereka lakukan. Bagaimanapun juga, guru harus selalu memberi komentar atau ulasan kepada siswa setelah mereka selesai melakukan presentasi. Jadi, siswa akan tau kesalahan apa yang telah dibuat. Guru juga harus bisa mengatur waktu dengan hati-hati untuk menghindari ketidakefektifan dalam proses pembelajaran.Kata kunci: teknik gallery walk, teks bersejarah, mengajar berbicara AbstractIn this era, students are required to be able to speak English. When students have difficulty to speak English, they will lose their chances in the world competition. Thus, the teacher should make the teaching learning process becomes fun. However, without implementing a unique learning, the students will get bored easily. It is important for the teacher to choose the right technique. One of the newest techniques is gallery walk. This technique is rarely used by the teacher in Indonesia because it is rarely exposed. Actually, gallery walk has many benefits, thus, the researcher chose this technique to be applied in a spoken of recount text learning. This study was conducted to describe the implementation of gallery walk technique in teaching speaking of recount text and the students’ responses toward the implementation of the technique. The researcher used basic qualitative as a research design. To this aim, a class consisted of 36 students participated in the implementation of the technique. The teacher and the students did the learning process as usual, what made it different was the technique. The questionnaire was also given after the implementation of gallery walk technique. The result showed that the implementations of gallery walk went in line with the technique proposed by Bowman (2005). The teacher could manage the students well, thus the learning process could run as it is expected. Students could present their work in front of the class without feeling shy. The result of the questionnaire also showed that the students became more motivated and braver to speak in front of their friends. Since, the technique allowed them to discuss with the member of the group before presenting the final result. In conclusion, the implementation of gallery walk technique worked in line with the stages that already proposed by the expert. Also, the technique increased students’ motivation and their confident. It can be seen from their presentation and also from the result of their discussion. However, the teacher should always give comments or feedback to the students after they presented the work. Thus, the students will know what mistakes they have made. The teacher also has to be able to manage the time carefully to avoid the ineffectiveness in the learning process.Keywords: gallery walk technique, recount text, teaching speaking
Text Analysis on Dialogue Writing Script Written by Eight Grader Students
RETAIN Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis, sebagai salah satu keterampilan produktif dalam bahasa Inggris, menjadi salah satu mata pelajaran utama di Indonesia karena diujikan dalam ujian nasional untuk siswa SMP dan SMA. Dalam kurikulum 2013, siswa SMP belajar empat jenis teks yaitu teks fungsional pendek, teks fungsional panjang, teks interpersonal dan teks transaksional. Ketika peneliti melakukan praktik mengajar, ditemukan bahwa sebagian besar siswa merasa kesulitan ketika mereka diminta untuk membuat dialog yaitu dialog teks interpersonal atau transaksional. Sedangkan, jenis teks dialog tersebut lebih mudah jika dibandingkan dengan jenis teks dialog lain, teks fungsional pendek dan teks fungsional panjang karena teks tersebut tidak memiliki struktur teks yang rumit seperti jenis teks lainnya. Penelitian ini dirancang secara kualitatif untuk mendeskripsikan delapan naskah dialog yang ditulis oleh siswa kelas delapan SMP Negeri 2 Gedangan dalam hal konten, organisasi teks, kosakata dan penggunaan bahasa. Rubrik tulisan yang telah diadaptasi digunakan sebagai instrumen dalam penelitian ini. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan skrip dialog siswa sangat baik dalam hal konten dan organisasi, dan baik sampai rata-rata dalam hal kosakata dan penggunaan bahasa. Disarankan untuk guru bahasa Inggris, tidak hanya meminta siswa untuk melakukan atau mempraktekkan dialog mereka di depan kelas tetapi juga memeriksa tulisan skrip dialog siswa, untuk meminimalkan kesalahan siswa terutama dalam kosakata dan penggunaan bahasa.Kata Kunci: analisis teks, penulisan, skrip dialogAbstractWriting, as one of productive skills in English, becomes one of the main subjects in Indonesia since it is tested in the national examination to junior high school and senior high school students. In the 2013 curriculum, junior high school students learn four types of text namely short functional text, long functional text, interpersonal text and transactional text. When the researcher did teaching practice, it is found that most of the students felt difficult when they are asked to make a dialog whether it is interpersonal or transactional text. Whereas, those types of text are easier if they are compared to short functional and long functional text since they do not have strict generic structure like the other types of text. This study was design qualitatively in order to describe eight dialogue scripts that were written by eight grader students of SMP Negeri 2 Gedangan in terms of content, organization, vocabulary and language use. The adapted writing rubric was used as instrument in this study. From the analysis result, it can be concluded students’ dialogue script are excellent to very good in terms of content and organization, and good to average in terms of vocabulary and language use. It is suggested for English teacher, not only asking the students to perform or practice their dialogue in front of the class but also checking students’ dialogue script writing, in order to minimize students’ mistakes especially in vocabulary and language use.Keywords: text analysis, writing, dialogue script

Page 3 of 4 | Total Record : 31