cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2019)" : 20 Documents clear
A Case Study of Speaking Abilities Used by 8th Graders in SMPN 13 Surabaya
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berbicara adalah salah satu kemampuan penting yang siswa seharusnya kuasai dalam pembelajaran bahasa Inggris. Hal tersebut mempunyai tujuan yaitu untuk menyampaikan ide-ide, perasaan, pendapat secara lisan yang dapat menciptakan komunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, guru mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kemampuan berbicara kepada siswa di dalam kelas tetapi pada umumnya siswa mempunyai masalah terhadap bahasa asing karena bahasa pertama mereka. Hal tersebut menyebabkan kemampuan bahasa Inggris mereka kurang baik di implementasikan saat pembelajaran bahasa Inggris. Akan tetapi, peneliti telah menemukan sesuatu yang unik pada siswi kelas 8 SMP. Siswi ini mempunyai kemampuan yang bagus dalam berbicara bahasa Inggris seperti native speaker. Pada hal ini, tujuan dari penelitian adalah menemukan macam dan pola dari kemampuan berbicara bahasa Inggris yang siswi gunakan. Peneliti menggunakan desain penelitian qualitatif dengan melakukan observasi, memberikan kuesioner, dan mengaplikasikan wawancara sebagai instrument penelitian. Penelitian di lakukan selama tujuh kali di SMPN 13 Surabaya. Dalam menganalisis data ini, peneliti menggunakan catatan lapangan unuk mengobservasi tingkah laku siswi, kuesioner struktur untuk mengetahui kemampuan pembelajaran berbicara, pertanyaan semi struktur untuk wawancara untuk memahami lebih dalam tentang data mengenai kemampuan berbicara. Hasil menunjukkan bahwa ada tiga kemampuan berbicara yang siswi gunakan yaitu imitative, intensif, dan interaktif. Sebagai polanya, imitative dan interaktif adalah kemampuan yang sering di gunakan siswi setiap waktu. Sedangkan intensif, siswi menggunakan itu pada waktu tertentu seperti kebanyakan saat siswi mengerjakan latihan-latihan. Kemampuan tersebut sangat berharga dan bermanfaat untuk menjadikan perkembangan dasar pada peningkatan keterampilan berbicara. Kata kunci: Keterampilan Berbicara, Kemampuan Berbicara, Kemampuan Pembelajaran Bahasa.AbstractSpeaking is one of necessary skill which students should master in learning English. It has aim for delivering their ideas, feelings, arguments orally which can create communication with others. Therefore, teacher has obligation to teach speaking in the class but regularly students have problem on second language because of their mother tongue. It causes that their speaking skill is less good to be implemented since the process of learning English. However, the researcher has found something unique in female student in 8th grader of junior high school. This student has great skill in speaking English like native speaker. For this case, the purpose of this research is to find out the kinds and patterns of speaking abilities that student uses. The researcher used qualitative research design by doing observation, giving questionnaire and applying interview as the research instrument. The research was conducted during seven times in SMPN 13 Surabaya. In analyzing the data, the researcher used field notes for observing the student’s behavior, structured questionnaire for knowing the learning abilities of speaking, and semi-structured question for the interview to understand more about her data toward speaking abilities. The result showed that there were three of speaking abilities that student used namely imitative, intensive, and interactive. As the patterns, imitative and interactive were mostly common used by student in every time. While intensive, student used it in particular time such as mostly since she did the exercises. The abilities are very value and beneficial for becoming the basic development in enhancing speaking skill.Key words: Speaking skill, Speaking ability, language learning ability
English Language Personal Learning Environment among English Department Students of UNESA
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDalam mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, sangatlah penting setelah pelajar meninggalkan kelas mereka, mereka masih memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa yang sedang mereka pelajari. Inilah dimana Personal Learning Environment dibutuhkan untuk membantu mereka untuk mencapai tujuan mereka mempelajari suatu bahasa. Terlebih lagi, di jenjang pendidikan tinggi, terutama mahasiswa bahasa Inggris, PLE sangatlah dibutuhkan karena memberikan kesempatan yang besar untuk mereka menambah kemampuan mereka di waktu luang mereka. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan penggunaan PLE diantara mahasiswa jurusan bahasa inggris di UNESA, Indonesa. Ada tiga aspek yang menjadi fokus pada penelitian ini; (1) keberadaan PLE diantara mahasiswa bahasa inggris, (2) jenis-jenis PLE yang mereka gunakan, dan (3) keuntungan menggunakan PLE sepanjang mereka menempuh pendidikan di jurusan bahasa Inggris. Secara garis besar, meskipun semua dari mereka menggunakan PLE mereka sendiri-sendiri, tidak semuanya dapat membantu mereka untuk mencapai tujuan mereka dalam penggunaannya; beberapa dari mereka beranggapan bahwa PLE mereka tidak terlalu membantu, dan beberapa lainnya menganggap bahwa PLE yang mereka gunakan tidak efisien.Kata Kunci: strategi belajar, lingkungan belajar personalAbstractIn learning English as foreign language, it is important that after learners leaving their classrooms, they still have opportunities and abilities in learning further and using the language that they are learning. This is where Personal Learning Environment should take place in aiding said learners in achieving their language goals. Moreover, in university, especially for English department students, Personal Learning Environments (PLEs) are necessary since it provides huge opportunity for them in enhancing their skills in their leisure time. This research was conducted to find out the use of PLEs among English education students in UNESA, Indonesia. There are three aspects that this research focuses on; (1) the presence of PLEs among English department students, (2) kinds of PLEs that they employ, and (3) the benefits of using PLEs throughout their learning in English Department. In summary, despite the fact that all of them had employed their own PLEs, not all of them were able to aid the learners in achieving their goals; some of them did not think that it aided them enough, and some of them thought that it was simply inefficient for them to use.
The Implementation of Project Based Learning in Teaching Writing Recount Text to The Eighth Grade Students of SMP Khadijah 2 Surabaya
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAda beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam mengajar Bahasa Inggris. Salah satunya berhubungan dengan usia pelajar. Penelitian ini berfokus pada siswa kelas delapan yang dikategorikan sebagai remaja. Para guru harus mempunyai metode yang sesuai dalam mengajari mereka. Berdasarkan kurikulum, ada beberapa jenis teks yang dipelajari oleh siswa kelas delapan. Salah satunya adalah teks recount. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, ada beberapa metode yang disarankan dalam kurikulum terbaru. Salah satunya adalah Pembelajaran Berbasis Proyek. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dalam mengajar menulis teks recount kepada siswa kelas delapan, mendeskripsikan hasil tulisan siswa setelah penerapan metode tersebut, dan mendeskripsikan respon siswa setelah penerapan metode tersebut. Peneliti melakukan penelitian deskriptif kualitatif dan menganalisa datanya secara kualitatif. Data penelitian ini dikumpulkan dari tiga instrumen : lembar pengamatan, tugas siswa, dan kuesioner. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek dapat diterapkan dengan baik di dalam kelas oleh guru dan sesuai untuk mengajar menulis teks recount kepada siswa kelas delapan, tulisan siswa menjadi lebih baik setelah penerapan metode tersebut, dan siswa memberi respon positif terhadap metode tersebut. Secara keseluruhan, Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan manfaat dan membantu para siswa karena mereka tidak hanya memahami materi, tetapi juga membangun kemampuan berkolaborasi. Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Proyek, Menulis, Teks Recount, Siswa Kelas DelapanAbstractThere are some factors that should be considered by the teacher in teaching English. One of them is dealing with the learner age. This research focuses on the eighth grade students who are categorized as teenager. The teacher should have suitable methods in teaching them. Based on the curriculum, there are several kinds of text genres learnt by the eighth grade students. One of them is recount text. To gain the learning objectives, there are some methods suggested in the newest curriculum. One of them is Project Based Learning (PBL). Therefore, this research aimed to describe the implementation of PBL in teaching writing recount text to the eighth grade students of Junior High School, to describe the result of the students’ writings after the implementation of PBL, and to describe the students’ responses after the implementation of PBL. The researcher conducted a descriptive qualitative research and anlyzed the data qualitatively. The data were collected from three instruments : observation checklist, student task, and questionnaire. Based on the data, it could be known that PBL could be well implemented in the classroom by the teacher and suitable for teaching writing recount text to the eighth grade students, the students’ writings were getting better after the implementation of PBL, and the students gave positive responses towards PBL. Overall, PBL was beneficial and helpful for the students because they not only understood the materials, but also built their collaborative skill.Keywords : Project Based Learning, Writing, Recount Text, Eight Grade Students
Developing “Pick and Produce” Game to Teach Procedure Text for Third Year Senior High School Students
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractWriting is one of English language productive skills which is considered difficult because before producing a good text, learners should be able to deliver the idea and then use proper language feature. According to 2013 Curriculum, standard competence of twelfth grade students is learning various genres of text; one of them is procedure text. Hence, a suitable instructional media is developed to teach procedure text for twelfth graders with less familiar topic. Recipe is known as common topic used in teaching procedure text, thus, the purpose of this study are describing the development of an instructional media involving game called “Pick and Produce” with less familiar topic such as manual (how to make something) and knowing students and teacher’s responses toward the game. It uses the modified cycle of R & D approach adopted from Dick, Carey and Carey (2015) to describe the development of the medium. The result shows that students and teacher give positive feedback toward the developed game. Furthermore, this medium helps students to gain their confidence during teaching learning activity and increase their better understanding of the topic (manual).Key words: Writing, Procedure text, Instructional media, EFL students, Pick and produce AbstrakMenulis adalah salah satu kemampuan produktif bahasa Inggris yang dianggap sulit karena sebelum menulis teks yang baik, pelajar harus mampu menyampaikan ide dan kemudian menggunakan struktur kebahasaan yang baik dan benar. Menurut Kurikulum 2013, standar kompetensi untuk siswa kelas 12 adalah mempelajari berbagai genre teks, salah satunya adalah teks prosedur. Oleh karena itu, sebuah media yang cocok untuk mengajar teks prosedur dikembangkan untuk mengajar siswa kelas 12 dengan topik yang kurang umum. Resep diketahui sebagai topik yang sangat umum digunakan untuk mengajar teks prosedur, oleh sebab itu, studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan sebuah media instruksional yang melibatkan permainan yang bernama “Pick and Produce” dengan topik yang kurang umum seperti manual (untuk membuat suatu benda) dan mengetahui respon yang diberikan siswa dan guru terhadap media yang dikembangkan. Studi ini menggunakan pendekatan R & D yang sudah dimodifikasi dari Dick, Carey dan Carey (2015) untuk mendeskripsikan pengembangan media. Hasil studi menunjukkan bahwa para siswa dan guru memberikan umpan balik yang positif terhadap media yang dikembangkan. Selain itu, media ini membantu para siswa untuk mendapatkan kepercayaan diri mereka selama aktivitas belajar-mengajar dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap topik yang dibahas (manual).Kata kunci: Menulis, Teks prosedur, Media instruksional, Siswa EFL, Pick ad Produce
The Implementation of Metacognitive Strategies in EFL University Students’ Reading Comprehension
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penerapan strategi metakognitif yang digunakan oleh mahasiswa Bahasa Inggris dalam pemahaman baca mereka. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif untuk mengetahui pemahaman menyeluruh terhadap penerapan strategi metakognitif yang digunakan oleh mahasiswa Bahasa Inggris dalam pemahaman baca mereka. Peneliti menetapkan 8 siswa untuk menjadi subjek dalam penelitian ini. Subjek dipilih berdasarkan skor membaca TEP mereka, yang termasuk sebagai kategori pembaca tingkat lanjut. Peneliti melaksanakan penelitian ini di Universitas Negeri Surabaya karena peneliti hendak mengetahui fenomena di kampusnya sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan, para siswa hanya membaca seluruh teks tanpa memikirkan apa yang akan mereka lakukan. Namun, para siswa melakukan sesuatu sebelum membaca, misalnya: menetapkan tujuan, menebak topik dari judul bacaan, dan menghubungkan teks dengan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya. Tetapi, mereka tidak menyadari bahwa kegiatan tersebut tergolong dalam tahap perencanaan karena kegiatan tersebut terjadi sebelum kegiatan membaca dimulai. Selain itu, dalam tahap pemantauan, sebagian besar siswa memiliki kesukaran dalam kosa kata, mencari gagasan pokok dan topik dalam bacaan. Pada tahap ini, siswa menggambarkan bagaimana mereka mengatasi masalah mereka dalam membaca dan juga menunjukkan jenis strategi yang mereka gunakan dalam memantau bacaan mereka. Selain itu dalam tahap penilaian, para siswa menggambarkan bahwa mereka membuat simpulan terhadap teks yang mereka baca. Dengan begitu siswa menilai apakah mereka memahami bacaan tersebut atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa siswa menerapkan apa yang mereka baca dalam situasi lain dan juga mereka meninjau pemahaman mereka dengan membuat simpulan terhadap teks. Para siswa juga menyebutkan bahwa ketika mereka membuat simpulan, mereka hanya menuliskan informasi spesifik.singkat mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Kata Kunci: strategi metakognitif, membaca, pemahaman membaca. Abstract The study was conducted to investigate the implementation of metacognitive strategies used by the EFL university students in their reading comprehension. In this research, the researcher used qualitative research to find out complete explanation and extend understanding of the implementation of metacognitive strategies in EFL university students’ reading comprehension. The researcher chose 8 students to be the subject of this research. The subjects were chosen based on their TEP reading score, which includes an advanced readers category. The researcher conducted this study at the State University Surabaya. The results showed that in planning stages, the students just directly read the passages without thinking what would they did it in. However, they did something before reading, for example setting a goal, guessing the topic from its title, and connect the title of the text with their prior knowledge. Unfortunately, they did not realize that those activities belong to planning because it happened before the reading activity began. Furthermore, in monitoring stages, most of the students had a lack of vocabularies, find the main idea and topic. Here, in this stage, the students described how they overcome their problem in reading and showed what kind of strategies they used in monitoring in their reading. Moreover, in evaluating stages the students described that they made a conclusion toward the article, they evaluated their reading whether they understand it or not. It showed that the students applied what they have read into another situation which in this case, was making a conclusion toward the text. they tried to check their understanding of the article by making a conclusion. They also stated that when they were making a conclusion, they would write specific information only. Keywords: metacognitive strategies, reading, reading comprehension.
Analysis of HOTS-Based English Lesson Plan Made By PPG Students of Unesa
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Aktivitas berpikir dibagi dalam dua fase, yaitu berpikir tingkat rendah (LOTS) dan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Terdapat 6 tahapan dalam LOTS dan HOTS, diantaranya adalah mengingat, memahami dan menerapkan untuk LOTS dan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta untuk HOTS. Akhir-akhir ini, pemerintah mewajibkan HOTS dimunculkan dalam pembuatan RPP. Tetapi, banyak fakta dilapangan menunjukkan bahwa guru-guru belum memahami bagaimana untuk membuat RPP yang mengandung HOTS di dalamnya. Metode yang digunakan adalah teks analisis dalam penelitian kualitatif. Ini dikarenakan tujuan penelitiannya adalah untuk mendeskripsikan konten HOTS di dalam indikator, kegiatan pembelajaran dan lembar kerja siswa dalam RPP. Terdapat 5 RPP yang dibuat oleh mahasiswa PPG UNESA sebagai objek penelitian. Untuk menjawab tiga rumusan masalah tersebut, instrument yang digunakan adalah ceklis. Dalam pengumpulan data, peneliti menemui dosen dari mata kuliah Pengembangan Materi di PPG UNESA, lalu meminta RPP mereka sebagai tugas dari dosen. Lalu dalam pengolahan data, peneliti menginteporetasikan data dengan instrumen yang telah disediakan. Hasilnya menunjukkan dari 5 RPP hanya ditemukan 1 – 3 indikator yang mengandung HOTS. Umumnya dari tahapan mencipta dan KKO yang paling sering digunakan adalah membuat dialog. Untuk kegiatan pembelajaran, terdapat 2 sampai 5 aktivitas yang mengelaborasikan HOTS. Hampir sama dengan sebelumnya, tahapan yang paling sering muncul adalah tahapan mencipta. Terakhir, untuk lembar kerja siswa ditemukan 2 sampai 4 latihan yang mengintegrasikan HOTS di dalamnya. Rata-rata HOTS yang ditemukan berasal dari kompetensi dasar 4 untuk tahapan mencipta. Kata Kunci: HOTS, RPP, indikator, kegiatan pembelajaran, lembar kerja siswa. Abstract Thinking activity is divided into two phases, namely Lower Order Thinking Skill (LOTS) and Higher Order Thinking Skill (HOTS). There are six aspects of LOTS and HOTS. They are remembering, understanding and applying for LOTS and analyzing, evaluating and also creating for HOTS. Nowadays, HOTS should appear in the content of the lesson plan. As a fact in the field, there are so many teachers who did not understand how to write a lesson plan with HOTS properly. The method of the study was text analysis in qualitative research because this study was aimed to describe the content of HOTS in the indicators, teaching scenario and also the students’ worksheet of the English lesson plan. There were 5 lesson plans that were made by the students of PPG UNESA as the object of the study. To answer those three research questions, the instrument was a checklist. In collecting the data, the researcher met the lecturer of Pengembangan Materi course in PPG; got the students’ lesson plan as the assignment from the lecturer. Then, in analyzing the data the researcher interpreted it with the provided instrument. The result showed that among 5 lesson plans had only 1 until 3 indicators that contained HOTS. Mostly, it was in creating stage and the verb that was used was making a dialog. For the teaching scenario, there were among 2 until 5 activities which elaborated HOTS in it. Almost the same, the most stage that appeared was creating stage. Finally, for the student’s worksheet, it was found 2 until 4 exercises which integrated HOTS. Mostly the HOTS that was found in the lesson plan comes from basic competence 4 in the creating stage. Keywords: HOTS, lesson plan, indicator, teaching scenario, students worksheet.
Developing Powerpoint Slide to Teach Modal Auxillaries Verbs Should and Must on Guiding Writing Simple Sentences in English
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis adalah kemampuan penting dalam bahasa inggris. Menulis terdiri dari pengetahuan, pengalaman, dan ide. Dalam kurikulum 2013, siswa di minta untuk membuat teks sebagai produk dari menulis. Siswa siswa kelas delapan mempunyai kewajiban untuk membuat kalimat sederhana menggunakan modal. Pada kenyataannya, siswa siswa tidak mengetahui bagaimana membuat sebuah kalimat yang baik menggunakan modal. Ini terjadi karena siswa kurang mengetahui grammar. Untuk menyelesikan masalah, penggunaan power point slide di butuhkan untuk membimbing siswa menulis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan power point slide untuk mengajar modal dan membimbing siswa menulis berdasarkan kesulitan siswa dalam belajar bahasa inggris. Modifikasi model penelitian dan pengembangan oleh (Dick, Carey, & O.Carey, 2015) untuk menjelaskan pengembangan dari power point slide. Berdasarkan hasil dari research, siswa merasa tertarik belajar melalui power point slide. Kata kunci: menulis, modal, R&D, and power point slide. Abstract Writing is an important skill in English. It consists of knowledge, experience, and ideas. In 2013 Curriculum, students are asked to create text as the product of writing. eight grades students have an obligation to make a simple sentence using modal auxiliaries. In fact, the students do not know how to make a good sentence using modal auxiliaries verbs. Knowing the students learning need, difficulty, and style are important to get good students’ outcome in learning. For solving the problem, the use of powerpoint slide is needed to guide the students writing. This study has a goal to develop a powerpoint slide to teach modal auxiliary and guide students writing based on the students’ difficulties in learning English. The modified research and development designs by (Dick, Carey, & O.Carey, 2015) to explain the development of a powerpoint slide. Based on this research, the students feel interested learning through powerpoint slide. Key words: writing; modal auxiliaries; R&D; and powerpoint slide.
The Implementation of Peer Assessment in Teaching Descriptive Text to Junior High School Students
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Studi ini fokus pada prespektif guru yang mengajar teks deskriptif menggunakan tahapan Peer Assessment. Ada empat tahap, yaitu kriteria guru, desain kelas dalam penilaian sejawat, manajemen guru di kelas, evaluasi guru terhadap teks yang ditulis oleh siswa. Tahapan-tahapan itu harus diikuti dengan tertib jika guru ingin memberikan hasil terbaik untuk pengajarannya. Guru melakukan penelitian ini untuk mengetahui apakah guru mengikuti langkah-langkah penilaian teman sebaya atau tidak. Peneliti merancang penelitian ini secara kualitatif karena ada pengamatan. Subjek penelitian ini adalah sekolah menengah pertama yang telah mengajar selama lebih dari lima tahun dan melibatkan siswa di kelasnya. Pengamatan akan direkam oleh video dan penulis dalam catatan observasi. Dan, akan ada tulisan siswa yang dikoreksi oleh rekannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru telah menerapkan tahapan penilaian sejawat dalam pengajarannya. Dia menggunakan lembar kerja untuk menjaga pengajaran tetap pada jalurnya. Para siswa memberikan sikap yang baik terhadap metode ini karena melibatkan mereka yang kebanyakan mengajar. Penelitian ini telah dilakukan di sekolah menengah atas baik secara lisan maupun tulisan. Namun, akan lebih tepat jika ada penelitian serupa di tingkat sekolah dasar. Kata kunci: Penilaian Sebaya, Menulis Teks Deskriptif, Mengajar Menulis. Abstract The study focus on the teacher perspective who teaches descriptive text using Peer Assessment stages. There are four stages, those are teacher’s criteria, classroom design in peer assessment, teacher’s management in the classroom, teacher’s evaluation of text written by student. Those stages must be followed orderly if the teacher want to give the best result for her teaching. The teacher conduct this research in order to find out whether the teacher follows the steps of peer assessment or she does not. The researcher designs this research qualitatively because there is an observation. The subject of this study is a junior high school who has teached for more than five years and involves the students of her class. The observation will be recorded by video and written in observation note. And, there will be a student’s writing text corrected by his peer. The result of this study showed that the teacher has implemented peer assessment stages in her teaching. She use a worksheet in order to keep the teaching on track. The students give a good attitude toward this method because it involves them mostly teaching. This research has conducted in senior high school whether in spoken or written. However, it will be appropriate if there is a similar research in elementary school level. Key words : Peer Assessment, Writing Descriptive Text, Teaching writing.
Students’ Revisions Based on Teacher’s Direct Written Corrective Feedback in Their Compositions
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Untuk membuat suatu komposisi yang terorganisir dengan baik, siswa membutuhkan bimbingan maupun umpan balik dari guru mereka. Umpan balik yang diberikan oleh guru dapat berupa umpan balik tertulis secara langsung. Ketika memberikan umpan balik tersebut, guru harus memperhatikan lima elemen dasar dalam menulis yaitu konten, organisasi, tata bahasa, pemilihan kata, dan mekanik. Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukkan bagaimana cara guru memberikan umpan balik kepada siswa. Namun, bagaimana cara siswa merevisi komposisi mereka setelah mendapatkan umpan balik dari guru belum didiskusikan dengan baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu cara siswa merevisi komposisi mereka berdasarkan umpan balik tertulis dari guru. Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek dari penelitian ini adalah tiga mahasiswa yang telah menerima umpan balik dari guru mereka dan diperintahkan untuk merevisi komposisi masing – masing. Data utama dalam penelitian ini adalah naskah komposisi siswa. Sedangkan, data pendukungnya yaitu ungkapan siswa dan guru yang didapatkan melalui wawancara semi terstruktur. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa siswa yang pintar merevisi kesalahannya dengan mempertimbangkan umpan balik dari guru, keterkaitan antar ide, dan struktur yang logis. Siswa yang cukup pintar juga merevisi kesalahannya dengan benar karena ia mengikuti apa yang ditulis oleh guru di bagian komentar. Sedangkan, siswa yang kurang pintar tidak merevisi kesalahannya dengan benar. Di beberapa kesempatan, ia justru mengabaikan umpan balik dari guru tersebut dan tetap membuat kesalahan yang sama. Kata Kunci: umpan balik tertulis secara langsung, komposisi siswa. Abstract To produce a well-organized composition, students need proper guidance and feedback from their teacher. The teacher’s feedback can be in the form of direct written corrective feedback. When giving the feedback, the teacher has to pay attention to the five writing elements which are content, organization, language use, vocabulary, and mechanic. The previous studies showed how the teacher provided direct written corrective feedback in students’ compositions. However, how the students revise their compositions after receiving the feedback are not discussed yet. Thus, this study was conducted to find out how the students revise their compositions based on the teacher’s direct written corrective feedback. This study used qualitative as the research design. The subjects of this study were three university students (good student, moderate student, and poor student) who had received the teacher’s feedback and were asked to revise their compositions afterward. The main data of this study were the students’ drafts. Meanwhile, the supporting data were the students’ and teacher’s utterances which were collected through a semi-structured interview. The results of this study showed that the good student revised her errors by considering the teacher’s feedback, the relevancy of her ideas, and the logical structure. The moderate student correctly revised her errors since she directly followed what the teacher wrote in the comment section. Meanwhile, the poor student did not revise her errors in the correct way. In some cases, she even ignored the teacher’s feedback and produced the same errors. Keywords: direct feedback, written feedback, student’s composition
The Undergraduate Students Critical Thinking in Writing Evaluative Annotated Bibliography in Extensive Reading Class
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Setiap mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengamati dan mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis ialah dengan menugasi mereka untuk menulis evaluative annotated bibliography. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kemampuan berpikir kritis mahasiswa terefleksikan dalam tulisan evaluative annotated bibliography mereka, dan bagaimana kemampuan berpikir kritis digunakan dalam menulis evaluative annotated bibliography. Objek dari penelitian ini adalah 9 hasil tulisan evaluative annotated bibliography mahasiswa dan subjeknya ialah 29 mahasiswa di Kelas Extensive Reading A di UNESA. Terdapat dua instrumen utama yang digunakan peneliti untuk menjawab kedua rumusan masalah, yaitu hasil tulisan mahasiswa bersamaan dengan rubrik yang diadaptasi dari Mesa Community College bernama Summarize & Critically Analyze Paper Rubric dan kuesioner. Selebihnya, wawancara juga dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen pelengkap yang bertujuan untuk melengkapi data yang diperoleh dari kuesioner untuk menjawab rumusan masalah kedua. Semua data dianalisis secara kualitatif dengan menerapkan tiga langkah penelitian kualitatif; yaitu, pengenalan & pengorganisasian, pengkodean & pengurangan, dan penafsiran & penggambaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa telah terefleksikan dalam tulisan evaluative annotated bibliography mereka, khususnya pada bagian ringkasan dan respon kritis. Selain itu, hasil juga menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menggunakan kemampuan berpikir kritis dalam mengembangkan evaluative annotation, namun juga dalam menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang mereka temui selama menulis evaluative annotated bibliography. Kata Kunci: berpikir kritis, evaluative annotated bibliography, kelas extensive reading Abstract As one of the most important educational goals, all students need to possess critical thinking skills. One of the ways to analyze and promote the students’ critical thinking is by assigning them to write Evaluative Annotated Bibliography. Thus, this present study is aimed at describing how the students critical thinking is reflected in their evaluative annotated bibliography and exploring how the students use critical thinking in constructing evaluative annotated bibliography. The objects of this study were 9 students evaluative annotated bibliography writing results and the subjects were the 29 students in Extensive Reading Class A in UNESA. There were two main instruments used by the researcher to answer two research questions. First, the students writing results along with the rubric namely Summarize & Critically Analyze Paper Rubric proposed by Mesa Community College, and the second is a questionnaire. Moreover, the unstructured format interview was also used as the complementary instrument to support the data obtained through the questionnaire to answer the second research question. In addition, the data were analyzed qualitatively by occupying the three stages; familiarizing & organizing, coding & reducing, and interpreting & representing. The results showed that the students critical thinking has been reflected in their evaluative annotated bibliography writing, specifically in their summary and critical response section. Moreover, it is also found that the students used critical thinking not only in developing their evaluative annotation but also in finding the appropriate solutions to overcome the problems they experienced while developing their writing. Keywords: critical thinking, evaluative annotated bibliography, Extensive Reading Class.

Page 1 of 2 | Total Record : 20