cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2019)" : 20 Documents clear
The EFL Learner’s Direct Strategies Used in Pronunciation Class
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Siswa yang mempelajari pelafalan akan menghadapi beberapa masalah dan kesulitan. Masalah tersebut bisa timbul akibat bahasa ibu siswa maupun komponen dalam pelafalan yang sedang mereka pelajari. Oleh sebab itu, siswa perlu menggunakan beberapa cara untuk mengatasinya. Dalam proses pembelajaran pronunciation, cara tersebut disebut sebagai strategi belajar pelafalan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang meneliti strategi belajar langung yang digunakan oleh 23 mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris di UNESA dalam pembelajaran pelafalan. Selain itu faktor yang mempengaruhi dan cara strategi yang digunakan tersebut membantu kemampuan pelafalan siswa juga diteliti. Data yang digunakan diperoleh dari kombinasi angket terbuka dan tertutup, observasi serta interview. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa menggunakan hampir seluruh strategi belajar langsung yang termasuk dalam strategi Memori, Kognitif dan Kompensasi. Terlebih lagi, mereka menggunakan strategi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah tujuan pembelajaran, teknik pengajaran yang digunakan dosen, gaya belajar, jenis tugas dan topik pembelajaran. Selain itu hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang digunakan siswa benar-benar membantu mereka di dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: strategi belajar dalam pelafalan, strategi belajar langsung, kelas pelafalan Abstract Pronunciation learners will face several problems and difficulties. Those problems might come from learners’ mother tongue or the components in pronunciation that they learn. Thus, the learners need to apply certain ways to solve them. In pronunciation learning, this was called as pronunciation learning strategies. This study was qualitative research which investigates pronunciation learning strategies used by 23 English Education learners in English Department of State University of Surabaya. Moreover, the factors and the ways the strategies help the learner to learn pronunciation were also under-investigated. The data were gained through the combination of an open-ended and close-ended questionnaire, observation and interview section. The result of this study figures out that learners applied almost all of the direct strategies included in Memory, Cognitive, and Compensation strategies. Furthermore, learners applied all of these strategies because of several factors. Learning goal, lecturer’s teaching techniques, learning style, type of task, and the topic of material are the factors which influence the learners to use the strategies. In addition, based on the result, it is revealed that the strategies applied by the learners really help the learners while learning pronunciation. Keywords: pronunciation learning strategies, direct strategies, EFL learners, pronunciation class
Self-explanation Strategy: Supporting Students Critical Thinking in Reading Comprehension for Science Class in Senior High School
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Belajar melibatkan perpaduan informasi baru ke dalam pengetahuan sebelumnya. Penerapan Self-explanation dapat mempercepat proses integrasi tersebut. Dengan demikian, penelitian ini mengeksplorasi kontribusi strategi Self-explanation untuk teks sains dalam mendukung pemikiran kritis siswa dalam memahami bacaan. Peneliti mengeksplorasi proses pembelajaran dalam membaca Explanation text dengan menggunakan strategi Self-explanation dalam suatu kelas IPA. Ada enam strategi yang dalam Self-explanation: comprehension monitoring, paraphrasing, elaboration, logic or common sense, prediction and bridging inferences. Tiga puluh dua siswa diuji dengan memberikan teks sains untuk mengetahui sebagian besar strategi yang digunakan oleh siswa. Kemudian enam siswa dipilih secara acak untuk diwawancarai setelah penerapan strategi Self-explanation dalam kegiatan membaca siswa. Hasil menunjukkan bahwa penerapan Self-explanation mendorong siswa untuk berpikir lebih luas di luar text untuk mendapatkan pemahaman bacaan yang mendalam. Ada beberapa hal yang kurang rinci dalam penerapannya. Hal ini kurang sesuai jika dibandingkan dengan teori dalam penelitian sebelumnya. Namun penerapan ini mampu mendukung pemikiran kritis siswa atau disebut sebagai HOTS (High Order Thinking Skill) dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, siswa menggunakan pengetahuan sebelumnya madukannya dengan berbagai strategi yakni elaborasi dan inferensi sedangkan sebagian besar siswa menggunakan strategi parafrase, yang masih tergolong dalam pemahaman tingkat rendah dalam memahami teks. Strategi parafrase tidak memerlukan keterampilan untuk menghasilkan inferensi dan menguraikan pengetahuan siswa sebelumnya dengan informasi baru dalam teks. Kata kunci: strategi pembelajaran, self-explanation strategy, berfikir kritis, explanation text Abstract Learning involves the integration of new information into prior knowledge. Generating explanations to oneself or so-called self-explaining accelerates that integration process. Thus, this research explores the contribution of a self-explanation strategy to science text in supporting students critical thinking in reading comprehension. The researcher explores the teaching and learning process of reading explanation text by using a self-explanation strategy in a particular science class. There are six strategies demonstrated in self-explanation: comprehension monitoring, paraphrasing, elaboration, logic or common sense, prediction and bridging inferences. Thirty-two students were examined by giving science text to know most strategies used by students. Then six students were chosen randomly to be interviewed after the implementation of self-explanation strategy in their reading activity. The findings showed that the implementation of self-explanation encouraged students to think beyond the text to get a deep reading comprehension. There were several missing details in conducting this strategy in the classroom if being compared to the theory in the previous research. However, this implementation was able to support students critical thinking or called as HOTS (High Order Thinking Skill) in the learning process. Further, students with prior knowledge were often varied in using the multiple strategies which are elaboration and inferences whereas most of the students used paraphrasing strategy, low-level comprehension, to understand the text. Paraphrasing strategy did not require a skill to generate inference and elaborate on what the students existing knowledge with new information in the text. Keywords: reading strategy, self-explanation strategy, supporting critical thinking, explanation text
Teacher’s Knowledge of Higher Order Thinking Skill in Teaching-Learning Process in Senior High School
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam abad 21 ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai konsep dalam ilmu tetapi juga kemampuan untuk berpikir dan menerapkan suatu ilmu. Yen & Halili (2015) juga berpendapat bahwa pendidkan pada abad 21 ini menekankan pada higher order thinking skill (HOTS). Namun, pencapaian soal UN berbasis HOTS masih jauh dari kata memuaskan (Retnawati, Kartowagiran, Arlinwibowo, & Sulistyaningsih, 2017). Kemudian, Wardany (2016) dan Usmaedi (2017) menyatakan bahwa HOTS jarang sekali muncul selama proses belajar mengajar. Permasalahan ini menunjukkan hilangnya pemahaman guru dalam HOTS. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari dan menjelaskan persepsi guru dalam HOTS itu sendiri. Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subyek penelitian ini adalah empat guru Bahasa Inggris di SM, yang mendapatkan pelatihan kurikulum 2013 dari pemerintah. Wawancara terstruktur diaplikasikan untuk pengumpulan data. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dan dijelaskan secara spesifik berdasarkan interpretasi peneliti dalam bentuk narasi dan deskriptif. Peneliti menemukan bahwa subyek memiliki pemahaman yang cukup mengenai kemampuan menganalisis, pemahaman yang sedikit dalam kemampuan mengevaluasi dan pemahaman yang baik dalam kemapuan membuat. Kata Kunci: guru, pengetahuan, HOTS. Abstract In this 21st century skill, the students are required mastering not merely the conceptual knowledge but also the skill to think and apply the knowledge. Yen & Halili (2015) also argued that 21st-century skill education is emphasized at Higher Order Thinking Skill (HOTS). However, the achievement of the HOTS test items in the National Exam (UN) is far from satisfactory (Retnawati, Kartowagiran, Arlinwibowo, & Sulistyaningsih, 2017). Then, Wardany (2016) and Usmaedi (2017) revealed that HOTS are less appearing in the teaching and learning process. These problems have shown the lack of teacher’s knowledge in HOTS. Therefore, the purpose of this research was to seek and describe the teacher’s knowledge in higher order thinking skill. This research was designed as qualitative research. The subjects of this research were four English teachers in senior high school, who got training in curriculum 2013 from the government. The semi-structured interview was applied in order to gain the data. Then, the results were analyzed and explained in detail based on the researcher’s interpretation in the form of descriptive and narrative. The findings have shown that the subjects adequately understand in the analyzing skill, the subjects gave an incomplete idea in the evaluating skill and the subjects have a good understanding of creating a skill. Keywords: teacher, knowledge, HOTS.
Teacher’s Technique in reducing the Students’ Reluctance to Speak English in EFL Classroom
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Interaksi kelas menuntut siswa untuk berpatisipasi aktif agar interasi tersebut berjalan dengan baik. Permaslahan yang sering dihadapi oleh para guru dalam melasanakan interaksi kelas adalah siswa merasa enggan dan malu dalam menyampaian pemikiran mereka dengan menggunaan bahasa Inggris selama berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan tenik guru dalam mengatasi dengan keengganan siswa untuk berbicara bahasa Inggris di kelas dan (2) menggambarkan peran guru dalam penerapan strategi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti menganalisis data secara kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah guru bahasa Inggris SMA Negeri 1 Mojosari dengan pengalaman mengajar lebih dari 20 tahun. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Selama pengamatan, peneliti menggunakan field note dan rekaman video untuk membantu dalam pengumpulan data, saat melakukan wawancara, peneliti menggunakan panduan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru menggunakan 3 (tiga) teni untuk mengurangi keengganan siswa untuk berbicara bahasa Inggris. Yaitu brainstorming, diskusi kelompok, dan presentasi. Tenik-tenik tersebut mampu memberi lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk lebih banyak berbicara. Studi ini juga menemukan bahwa guru bahasa Inggris juga memainkan beberapa peran saat menerapkan strategi. Mereka adalah controller, prompter, participant. Kata Kunci: kengganan siswa, teknik guru, peran guru Abstract Classroom interaction requires students to get involved actively so that classroom interaction can go well. The problem which is often faced by the teacher in conducting classroom interaction is the students are reluctant and shy to deliver and express their idea in English during the classroom interaction. This research aimed to (1) describes the teacher’s techniques in overcoming the students’ reluctance to speak English in class and (2) describe the teachers’ roles in implementing the techniques. This study is a descriptive qualitative study. The researcher analyzed the data qualitatively. The subject of the study is the English teacher of SMA Negeri 1 Mojosari with more than 20 years of teaching experiences. The data was obtained through observation and interview. During the observation, the researcher used field note, and video recording, while conducted interview the researcher used an interview guide to help in obtaining the data. Based on the result, it can be concluded that the teacher used 3 (three) strategies in reducing the students reluctance to speak English. Those are brainstorming group discussion, and presentation. Those techniques are able to give more chance for the students to speak more. This study also reveals that the English teacher also played several roles while implementing the techniques. Those are controller, prompter, and participants. Keywords: students’ reluctance, teacher’s techniques, teacher’s roles
The Effect of Using Instagram on Eleventh Grade Students’ Speaking Skill
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sebagai kemampuan paling mendasar dalam Bahasa Inggris, berbicara mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran bahasa. Akhir-akhir ini, guru dapat menggunakan media sosial sebagai perkembangan teknologi menjadi sebuah metode baru dalam praktik berbicara. Instagram merupakan media sosial yang tepat untuk diterapkan dalam praktik berbicara dengan tujuan memberikan stimulus kepada siswa-siswi agar mengunggah dan membagikan foto atau video menarik mengenai kegiatan pembelajaran mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari Instagram terhadap kemampuan berbicara siswa kelas XI. Desain penelitian ini adalah quantitatif eksperimen. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 1 Greisk, sedangkan sampelnya adalah 38 siswa XI SIG 2 sebagai grup eksperimen, dan 37 siswa dari XI SIG 1 sebagai grup kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal tes, dan rubrik penilaian kemampuan berbicara. Data diperoleh dari nilai pre-test dan post-test. Kemudian, data dianalisis menggunakan Mann-Whitney U Test untuk mengetahui nilai signifikannya, karena data nilai tidak berdistribusi secara normal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan pada output dari Mann-Whitney U Test, nilai significance level adalah 0,000 yang mana kurang dari 0,05. Nilai p-value tersebut mengindikasi bahwa ada perbedaan signifikan atas nilai kedua grup tersebut. Sebagai tambahan, nilai mean rank dari post-test grup eksperimen adalah 47,92 dan grup kontrol adalah 27,81. Hal in menunjukkan bahwa grup eksperimental mempunyai nilai post-test yang lebih tinggi setelah mendapatkan treatment. Kemudian, besar dampak perbedaannya adalah 0,47 yang termasuk dalam kategori besar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa adanya dampak dalam penggunaan Instagram pada kemampuan berbicara siswa kelas XI. Kata Kunci: Instagram, Kemampuan Berbicara Abstract Speaking skill, as one of the fundamental skills of English, has a significant role in the language learning process. On these days, teachers can utilize social media as a part of technology to be a new media of speaking practice. Instagram can be a good social media to be used in speaking practice for stimulating students to post and to share interesting photos or videos about their learning activities. Thus, this study aims to reveal the effect of Instagram on eleventh-grade students’ speaking skill. The design of this research is experimental quantitative research. The population is the eleventh-grade students’ of SMAN 1 Gresik, and the sample is 38 students of XI SIG 2 as the experimental group, and 37 students of XI SIG 1 as the control group. The research instruments are tested and speaking assessment rubric. The data are gained in the form of pre-test and post-test score. Then, the data are analyzed by using the Mann-Whitney U Test to find its significance level because the score data is not normally distributed. The result of the study shows that based on the output of the Mann-Whitney U Test, significance level (p-value) of post-test scores is .000. It is lower than .05 which means there is a significant difference between both groups after given a treatment. In addition, the experimental group has a higher mean rank score of the post-test which is 47.92 then the control group which is 27.81. In short, there is a significant difference in the use of Instagram on eleventh-grade students’ speaking skill. Then, the effect size given belongs to large effect, that is .47. Thus, it can be concluded that there is an effect of using Instagram on eleventh-grade students’ speaking skill. Keywords: Instagram, Speaking Skill
An Analysis of Debate Content Delivered by Speaking for Debate Students
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konten debat yang disampaikan oleh mahasiswa kelas “Speaking for Debate” dengan menggunakan analisis struktur dasar argumen (Label, Explanation, Example, and Tie-back). Dalam menyusun sebuah argumen yang baik dan menyakinkan, mahasiswa harus mampu memenuhi semua struktur dasar argumen. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pengembangan argument mahasiswa berdasarkan peran pembicara dalam sistem “British Parliamentary Debate”. Penelitian kualitatif konten analisis digunakan untuk menjawab rumusan-rumusan masalah dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis transkrip pidato mahasiswa kelas “Speaking for Debate” menunjukkan bahwa tidak semua siswa telah memenuhi struktur dasar dalam argumen dengan baik. Mereka kurang dalam contoh dan simpulan. Beberapa masalah juga ditemukan dalam penjelasan argumen yang disampaikan oleh mahasiswa. Permasalahan tersebut ialah alasan yang tidak relevan, argumen yang menimbulkan pertanyaan, dan kurangnya contoh atau bukti-bukti yang kuat untuk mendukung argumen mereka. Hal ini berpengaruh terhadap rendahnya kualitas argumen mereka dalam berdebat. Dalam mengembangkan argumen, hampir semua mahasiswa kelas “Speaking for Debate” memulai dari menyampaikan respon “rebuttal” dan memberikan argumen tim mereka. Tidak semua mahasiswa memenuhi peran pembicara dalam tim. Mereka tidak menyampaikan pidato pembuka yang mendukung argumen tim mereka. Kata Kunci: konten debat, struktur dasar argumen, peran pembicara, British Parliamentary Debate Abstract This study aims to analyze the debate content delivered by Speaking for Debate Students by using the basic structure of argument analysis (Label, Explanation, Example, and Tie-back). In constructing a good and convincing argument, the students should fulfill all the basic structure of an argument. Besides this, the study also aims to analyze the development of argument based on the speakers’ roles in British Parliamentary Debate system. Qualitative content analysis study is used to answer the research questions. Based on the result of this study, not all the students have fulfilled the basic structure of the argument. They are missed on the example and the tie-back. Some problems also found on their explanation such as irrelevant reasons, begging the questions, and lack of evidence and detail information. Those problems lead to the low quality of debate performance. Most of the students attending in Speaking for Debate develop their argument start from giving the rebuttals then delivering the arguments. Not all students have completely fulfilled the speakers’ role. They fail to give an introduction speech which can strengthen their team’s case. Keywords: debate content, the basic structure of argument, speakers’ roles, British Parliamentary Debate
Students’ Perception on the Use of L1 in the English Language Classroom in SMA Taman Siswa Mojokerto
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa Ingris merupakan bahasa internasional yang menghubungkan semua orang di dunia. Berdasarkan alasan tersebut, Indonesia menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang wajib dipelajari. Siswa biasanya melibatkan bahasa pertama mereka, yaitu bahasa Indonesia di kelas EFL karena pebedaan level kemampuan. Namun, sebagian siswa menghindari penggunaan bahasa pertama. Dalam situasi ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap penggunaan bahasa pertama dalam kelas EFL, dan untuk mengetahui apa alasan mereka untuk mendukung bahasa pertama dan apa alasan mereka menghindari bahasa pertama dalam kelas EFL. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama dan metode kualitatif untuk menjawab pertanyaan penelitian kedua dan ketiga; dimana peneliti memperoleh data dari kuesioner dan juga interview yang diberikan kepada siswa. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Taman Siswa Mojokerto. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa alasan siswa mendukung bahasa pertama dikarenakan untuk mengetahui arti kosa kata baru; mengerti tata bahasa; mengerti materi baru; mengerti instruksi; dan untuk merasa nyaman. Sedangkan alasan siswa menghindari penggunaan bahasa pertama dalam kelas EFL adalah; mereka harus meningkatkan kemampuan mereka dengan terus menggunakan bahasa Inggris, dan tidak ingin bergantung pada bahasa pertama. Jadi, masih terdapat beberapa siswa yang mendukung bahasa pertama dalam kelas EFL. Kata Kunci: Bahasa Pertama dalam kelas EFL, Sikap Siswa, Alasan Siswa. Abstract English language is an international language that could connect people around the world. Based on that reason, Indonesia applies English as a foreign language that must be learned. The students usually involve their L1, which is Bahasa Indonesia in the EFL classroom because of the different skill level of the students. However, the rest of the students choose to avoid the use of L1. In this situation, the researcher wants to know how does the student’s attitude toward Bahasa Indonesia in EFL classroom, and to find the students reasons; what are their reasons for supporting L1 and what are their reasons for avoiding L1 in the EFL classroom. This research used a quantitative method to answer the first research question and qualitative method to answer the second and third research question; where the researcher got the data from the questionnaire and interview given to the students. The subject of the research was the students from XI IPA 1 SMA Taman Siswa Mojokerto. The results of the research showed that the student’s reasons for supporting L1 were that they need it to get the meaning of the new vocabularies; understand grammar; understand the new materials; understand the instruction, and to feel secure. Whereas the student’s reasons for avoiding L1 was that they need to improve their skill with the maximum exposure of target language and to make themselves not depend on L1. In conclusion, there are the majority of the students who still supported L1 in the EFL classroom. Keywords: First Language in The EFL Classroom, Student’s Attitude, Student’s Reasons.
Students’ Speaking Performance Using Logical Thinking Skill in Speaking for Debate Class State University of Surabaya
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat berpikir logis siswa di Kelas Debat Universitas Negeri Surabaya dan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara perbedaan tingkat kemampuan berpikir logis terhadap performansi berbicara atau tidak. Penelitian ini menggunakan kuantitatif ex-post facto sebagai metodologi penelitian dikarenakan variable bebas yang sudah terjadi sekarang dan hasilnya akan diwujudkan dalam bentuk angka. Subjek dari penelitian ini adalah 32 siswa dari Kelas Debat Universitas Negeri Surabaya yang akan dikategorikan menjadi dua grup berdasarkan tingkat berpikir logis mereka; siswa dengan tingkat berpikir logis tinggi dan rendah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berpikir logis dan tes berbicara. Tes berpikir logis diberikan untuk mengukur tingkat berpikir logis pada siswa dan tes berbicara diberikan untuk mengetahui hubungan antara perbedaan tingkat kemampuan berpikir logis terhadap performansi berbicara. Berdasarkan hasil data, terdapat 19 siswa yang memiliki tingkat berpikir logis tinggi atau sebesar 53% dari jumlah siswa keseluruhan. Sedangkan, terdapat 16 siswa yang memiliki tingkat berpikir logis rendah atau 47% dari jumlah siswa keseluruhan. Sementara itu, analisis menggunakan Person Koefisien Korelasi digunankan dalam menganalisis tes berbicara dan hasilnya mengindikasikan adanya hubungan antara tingkat berpikir logis dengan performansi berbicara pada siswa. Adanya hubungan ditunjukkan oleh nilai p .000 yang lebih rendah dari .05. Sementara itu, koefisien korelasinya .888 yang berarti hubungan antara tingkat berpikir logis dengan performansi berbicara pada siswa berada pada korelasi yang sangat kuat dengan arah yang positif. Kata Kunci: Debat, Berpikir Logis, dan Performansi Berbicara Abstract The aim of this study is to describe logical thinking level of the students in Speaking for Debate State University of Surabaya and to find out the relationship between different level of logical thinking skill in term of speaking performance which used a quantitative ex-post facto as the research methodology since the independent variable has happened and the result would be in the form of number. The subject of this research were 32 students of Speaking for Debate Class which were categorized into two groups based on their level of logical thinking; high and low logical thinking level. The instruments used in this research were logical thinking test and speaking test. Logical thinking test was administered to measure students’ logical thinking level and speaking test was used to find out the relationship between different levels of logical thinking skill in term of speaking performance. The result showed that there were 19 students who have high logical thinking level or as many as 53% of the total students. However, there were 16 students who have low logical thinking level or as many as 47% of the total students. Meanwhile, analysis of using Pearson Correlation Coefficient was administered on analyzing the speaking test and the result indicated there was a relationship between logical thinking level and speaking performance of the students. It was proven by the p-value .000 which is less than .05. The correlation coefficient (r) equals .888 meaning that the relationship was in very strong correlation in positive direction. Keywords: Debate, Logical Thinking, and Speaking Performance.
Genre-Based Approach As A Method to Build Students’ Critical Thinking in Comprehending Narrative Text for Senior High School
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Membaca teks naratif memerlukan kemampuan berpikir kritis guna memahami isi teks secara mendalam. Genre Based Approach (GBA) atau pendekatan berbasis genre adalah sebuah metode dalam pengajaran bahasa yang memiliki empat tahapan, yaitu: BKOF, MOT, JCOT, dan ICOT. Dalam pengajaran membaca, penggunaan GBA akan mendorong siswa untuk memahami teks secara keseluruhan bukan kalimat per kalimat dan hal tersebut berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis. Oleh karenanya, penelitian ini akan menunjukkan penggunaan GBA dalam pembentukan kemampuan berpikir siswa khususnya dala memahami teks naratif. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi GBA sebagai metode untuk membangun kemampuan berpikir kritis siswa dalam memahami teks naratif, hasil kerja siswa penerapan GBA, dan respon siswa terhadap proses belajar mengajar yang menggunakan GBA. Subjek penelitian sejumlah 36 siswa dan seorang guru. Peneliti melakukan observasi terhadap proses belajar mengajar di kelas guna mendeskripsikan implementasi GBA dan bagaimana hal tersebut membangun kemampuan berpikir kritis siswa. Peneliti juga mengumpulkan hasil kerja siswa untuk menunjukkan sejauh mana kemampuan berpikir kritis mereka berkembang setelah penerapan GBA. Selanjutnya, peneliti melakukan wawancara untuk mendeskripsikan respon siswa tentang proses belajar mengajar menggunakan GBA. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru telah menerapkan seluruh tahapan GBA, meskipun terdapat sedikit ketidaksesuaian dengan teori. Hasil kerja siswa menunjukkan siswa mampu menjawab soal-soal berbasis HOTS khususnya pada tahapan analisis dan evaluasi. Terakhir, hasil wawancara menujukkan siswa mampu menikmati dan merasa proses belajar mengajar menggunakan GBA sangat menarik serta lebih komprehensif. Kata kunci: pemahaman membaca, pendekatan berbasis genre, kemampuan berpikir kritis siswa, teks naratif. Abstract Reading narrative text requires critical thinking ability to comprehend the text deeply. Genre-Based Approach (GBA) is a language teaching method that consists of 4 stages: BKOF, MOT, JCOT, and ICOT. In teaching reading, GBA will encourage the students to comprehend the whole of the text rather than sentence by sentence which relates to critical thinking ability. Therefore, this research is designed as descriptive research aims to describe the implementation of GBA as a method to build students critical thinking in comprehending narrative text, the students work after they are taught by GBA, and the students responses toward teaching and learning process with GBA. The subjects are 36 students and an English teacher. The researcher observed the teaching and learning process to describe the implementation of GBA and how it built students critical thinking. Moreover, she collected the students work to investigate whether the method was successful in encouraging students’ critical thinking or not. Likewise, the researcher conducted an interview to describe the students responses to the teaching and learning process by GBA. The observation showed that the teacher implemented all stages in GBA, although there were some points which were not in line with the theory. The students works showed that the students could answer the HOTS test especially for analyzing and evaluating stage. In addition, the interview result showed that the students felt the teaching and learning process was interesting, enjoyable, and more comprehensive. Keywords: reading comprehension, genre-based approach, students critical thinking, narrative text.
Mindmap as the Preparation Outline for Helping College Students in Doing Public Speaking
RETAIN Vol 7 No 1 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dengan menguasai kemampuan berpidato, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan personal dan profesional mereka. Mindmap sebagai teknik untuk membuat kerangka berfikir dalam berpidato dipecaya mampu untuk mempermudah mahasiswa dalam berpidato. Studi kualitatif ini bertujuan untuk menginvestigasi penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir, kualitas berpidato mahasiswa yang dihasilkan oleh penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir, dan dengan cara apa mindmap sebagai kerangka berpikir membantu mahasiswa dalam berpidato. Data studi ini didapat melalui kegiatan pengamatan dan interview terhadap sembilan belas mahasiswa kelas pidato jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Adi Buana. Hasil studi ini menunjukkan bahwa penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir dimulai dari dosen pengampu yang menjelaskan beberapa teori dalam berpidato dan informasi detail dari mindmap sebagai kerangka berpikir. Kemudian, dilanjutkan dengan mahasiswa yang mulai membuat dan menggunakan kerangka berpikir untuk mempermudah mereka dalam berpidato. Dan yang terakhir, penampilan pidato mahasiswa akan dinilai dan diberi komentar oleh dosen pengampu. Selain itu, kualitas berpidato mahasiswa yang dihasilkan karena penggunaan mindmap sebagai kerangka berpikir adalah sangat bagus, mengingat kebanyakan mahasiswa mendapatkan tingkatan terbaik sebagai hasil asesmen mereka. Sebagai tambahan, mindmap sebagai kerangka berpikir sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengorganisasi pidato mereka. Kata Kunci: mindmap, kerangka berpikir, berpidato, penampilan berpidato Abstract By mastering public speaking, college students can develop their personal and professional skills. Moreover, mindmap as the technique of preparation outline creation is believed to help the students to perform public speaking easier. This qualitative study was to investigate the use of mindmap as the preparation outline, the quality of students’ speech performances resulted by it and the way it helps students in public speaking. Furthermore, the data were obtained through observation and interview toward nineteen students of Public Speaking Class of English Education Department of Adi Buana University. The results show that the implementation of mindmap as the preparation outline started by the lecturer who explained some theories of public speaking and detail information of mindmap as the preparation outline. Then, the students started to create and use the outline to perform public speaking. Finally, student’s speech performances were assessed and commented on by the lecturer. Furthermore, the quality of students’ public speaking performances is very good since most of them could get exceeds expectation grade in presenting the speeches. Additionally, the use of mindmap as the preparation outline is mostly beneficial to help students to organize the speech. Keywords: mindmap, preparation outline, public speaking, speech performance

Page 2 of 2 | Total Record : 20