cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 2 (2019)" : 20 Documents clear
Indonesian Senior High school Students Reading Attitude : In Relation to Comprehension and School Setting
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu faktor yang mempengaruhi pembelajaran membaca bahasa asing adalah sikap baca siswa. Sikap baca yang baik diketahui memiliki kaitan dengan pencapaian hasil belajar siswa yang tinggi. Lokasi sekolah juga merupakan salah satu faktor berbedanya sikap membaca dan kemampuan siswa dalam memahami sebuah bacaan. Penelitian ini memiliki maksud untuk mencari tahu bagaimana sikap membaca siswa SMA di dua lokasi berbeda serta hubungannya dengan pemahaman baca mereka. Populasi dan sempel penelitian ini yaitu 137 siswa dari dua lokasi berbeda,Surabaya sebagai sekolah kota dan Nganjuk sebagai sekolah desa. Instrumen penelitian ini adalah kuisioner sikap baca dan tes pemahaman baca. Berdasarkan data yang diolah menggunakan One-Way Analysis of variance pada program SPSS 25, diketahui nilai sikap baca siswa yaitu dari 50 sampai 113 dengan total rata-rata 82.43 dan standard deviasi 12.03. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa sikap baca siswa dari kedua sekolah adalah lumayan baik (M = 3.26). Sedangkan hasil perhitungan Pearson Correlation menujukkan bahwa antara sikap baca dan pemahaman baca siswa tidak terdapat hubungan yang signifikan, r(137) = .046. p > .05. Hasil serupa juga ditunjukkan pada perhitungan perbedaan sikap baca pada siswa desa dan kota menggunakan tes Mann-Whitney U. Diketahui bahwa sikap baca siswa kota (Mdn = 3.36) dan desa (Mdn = 3.24) tidak berbeda signifikan, M W-U = 2270, p = .747, r = .029. Oleh karena itu, hasil perhitungan menyimpulkan bahwa lokasi sekolah tidak selalu menentukan baik buruknya sikap atau kemapuan pemahaman baca siswa. Kata Kunci: Sikap Baca, Pemahaman Baca, Kelas Sebelas, Lokasi Sekolah, Sekolah Kota, Sekolah Desa Abstract One factor may affect second language reading is reading attitude. Positive attitudes have been found to be associated with the higher reading achievement of the students. School setting also may lead to the variation of students’ attitude and comprehension toward reading. Therefore, this study tried to investigate high school students’ reading attitude based on the school setting and its correlational with reading comprehension. This study involved 137 eleventh graders students from two different school locations. The instruments used were a reading attitude questionnaire and reading comprehension test. The data were analyzed by using SPSS 25 programs. The actual score of students’ reading attitude indicated from 50 to 113 with a total mean of 82.43 and standard deviation of 12.03. The results found that the reading attitude of eleventh graders senior high school students was fairly good (M = 3.26). While based on the result of Pearson Correlation overall students’ reading attitude and reading comprehension shows no significant relationship, r(137) = .046. p > .05. Similarly, the same result was also found when analyzing the comparison of overall attitude questionnaire score between rural and urban students using Mann-Whitney U-test. It was indicated that the reading attitude was equal for students in urban school (Mdn = 3.36) and students in urban school (Mdn = 3.24), MW-U = 2270, p = .747, r = .029. The findings indicated that school location does not always define good or bad the attitude or the comprehension achievement of the students toward reading. Key Terms: Reading Attitude, Reading Comprehension, Eleventh Graders, School Setting, Rural School, Urban School
The Implementation of Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) in Teaching Reading Comprehension to the Ninth Grade Students
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan teknik Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), kemampuan siswa, dan respon siswa terhadap pengajaran membaca pemahaman dengan menggunakan CIRC. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif untuk merancang penelitian ini. Dalam penelitian ini, peneliti mengamati aktivitas mata pelajaran. Peneliti hanya menggunakan catatan lapangan, kuesioner, dan tugas membaca siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas sembilan di SMPN 1 Jabon. Guru yang mengajar di kelas juga sebagai subjek penelitian. ini dipelajari karena dia juga bertanggung jawab untuk proses belajar mengajar menggambarkan bagaimana mengajar membaca teks menggunakan teknik Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) di kelas sembilan di sekolah menengah pertama dilaksanakan. Hasil penelitian ini akan dipresentasikan melalui hasil observasi , tugas siswa, dan respons siswa melalui angket. Guru melakukan prosedur CIRC dengan sangat baik. Berdasarkan s tugas siswa, siswa dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar. Berdasarkan tanggapan siswa terhadap teknik CIRC, mereka merasa percaya diri dan termotivasi ketika diajarkan menggunakan CIRC. Saran bagi guru adalah guru harus menerapkan CIRC dalam mengajar pemahaman membaca sebagai teknik alternatif. Tidak hanya dalam pengajaran label teks tetapi juga dalam teks lainnya. Kata kunci : Membaca pemahaman, Cooperative integrated reading and composition (CIRC). Abstract This study was conducted to know how the implementation of Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) technique, students ability, and students responses toward teaching reading comprehension by using CIRC. This study use qualitative research to design this study. In this research, the researcher observes subjects activity. The researcher only used a field note, questionnaire, and students reading task. The subject of this study was the ninth grade students in SMPN 1 Jabon. The teacher who taught in the class was also as the subject of this studied because he was also responsible for the teaching-learning process of describing how is teaching reading text using Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) technique in the ninth grade of junior high school implemented. The result of this study will be presented through observation result, students task, and students’ responses through a questionnaire. The teacher does the procedure of CIRC very well. Based on students tasks, the students are able to answer all questions correctly. Based on the students responses toward CIRC technique, they feel confident and motivated when taught using CIRC. The suggestion for the teacher is the teacher has to implement CIRC in teaching reading comprehension as an alternative technique. Not only in teaching label text but also in other text. Keyword: reading comprehension, Cooperative integrated reading and composition (CIRC).
Lesson Planning in Reading Comprehension: An Insight from Indonesian Context
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa Inggris, yang merupakan salah satu bahasa yang paling umum digunakan di dunia, membutuhkan proses belajar dan pemahaman yang rumit dan menyeluruh agar dapat digunakan dengan benar. Membaca adalah salah satu cara dalam memperoleh aspek kognitif bahasa, yang merupakan hal mendasar dalam pengembangan perolehan bahasa itu sendiri. Agar dapat membaca dengan benar, pelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing atau yang dalam istilah bahasa Inggris disebut English Foreign Language (EFL), perlu diberikan pengajaran dan bimbingan yang tepat yang meningkatkan sifat komprehensif mereka. Kurikulum 2013 diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berbicara bahasa Inggris baik secara lisan maupun tertulis. Ini tidak terlepas dari kemampuan guru untuk mengembangkan pembelajaran dari rencana pembelajaran yang telah dibuat. Lebih lanjut, dalam menyusun rencana pembelajaran, guru perlu memperhatikan taksonomi kemampuan kognitif Bloom, yang sejalan dengan bagaimana guru perlu mengajar membaca dengan benar dan juga mengikuti visi kurikulum 2013. Baik dalam mengajar membaca dan menyusun rencana pelajaran, guru perlu memperhatikan urutan-urutan berpikir dalam taksonomi Bloom, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi, untuk memastikan bahwa pelajaran membaca berjalan dengan lancar. Guru perlu menyusun rencana pembelajaran sebelum mengajar, karena rencana pembelajaran akan memudahkan, memfasilitasi, dan meningkatkan hasil proses belajar mengajar dan juga dengan menyusun rencana pembelajaran secara profesional, sistematis, dan efisien, guru akan dapat melihat, mengamati, menganalisis, dan memprediksi program pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana. Kata kunci: Kurikulum 2013, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Pengajaran Membaca, Pemahaman membaca Abstract English, one of the most commonly used languages in the world, requires a delicate and thorough process of learning and acquiring in order to be able to be used properly. Reading is one of the ways in acquiring the cognitive aspects of the language, which is fundamental in the development of the language acquirement itself. In order to be able to read properly, English as a Foreign Language (EFL) learners needs to be given proper teaching and guidance that enhances their comprehensive natures. The 2013 curriculum is expected to improve students ability to speak English both orally and in writing. This cannot be separated from the ability of teachers to develop learning from the lesson plan that has been made. Further, in constructing lesson plan, teachers need to pay attention to Bloom’s taxonomy of cognitive skills, which is in line with how teachers need to teach reading properly and also goes by K13 curriculum’s vision. Both in teaching reading and constructing lesson plans, teachers need to pay attention to sequences of thinking order, which is knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis, and evaluation, to make sure that the reading lessons go smoothly. Teachers need to construct a lesson plan before teaching, it is because lesson plan ease, facilitate, and improve the results of the teaching and learning process and by compiling a learning plan in a professional, systematic and efficient manner, the teacher will be able to see, observe, analyze, and predict the learning program as a logical and planned framework. Keywords: 2013 curriculum, Lesson plan, Teaching reading, Reading comprehension.
PQ4R Strategy In Eleventh Grade Students’ Reading Comprehension Achievement on SMA Darul ‘Ulum 1 Jombang
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pemahaman membaca merupakan elemen penting bagi siswa dalam kemampuan berbahasa Inggris. Beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, salah satunya adalah strategi membaca. Peneliti menggunakan preview, question, read, reflect, recite, review (PQ4R) yang membuat siswa lebih mudah untuk memahami teks eksposisi analitis. Demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan membaca kelompok siswa yang diajar menggunakan PQ4R sebagai strategi membaca berbeda secara signifikan. Penelitian ini merupakan penelitian benar-eksperimen menggunakan sampel acak. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 11 IPA SMA Darul Ulum 1 Peterongan Jombang. Pretest dan posttest digunakan untuk mengukur signifikan beda dari kelas sampel. . Setelah data dikumpulkan dan dianalisis secara statistik dengan menggunakan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PQ4R sebagai strategi menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan membaca pemahaman siswa dalam kelas Eksperimen Nilai rata-rata XI - IPA 8 sebagai kelas eksperimen mendapat 78,64 (SD = 7.210) lebih tinggi daripada XI - IPA 6 sebagai kelas dikendalikan mendapat 73,94 (SD = 9.500). Selanjutnya, hasil nilai p dalam sampel t-test independen menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dengan nilai sig (p value) adalah 0,027 yang lebih rendah dari 0,05. Perhitungan pada eta squared adalah 0,07 yang memiliki makna bahwa pelaksanaan strategi membaca PQ4R memberikan efek moderat untuk peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa. Kata Kunci: kemampuan memahami bacaan, strategi membaca PQ4R, teks eksposisi analitis. Abstract Reading comprehension skill is the most important English skills that students need to be mastered. However, students get difficulty in reading because of several factors. In this study researcher used preview, question, read, reflect, recite, review (PQ4R) reading strategy which makes students easier to comprehend analytical exposition text. Hence, the researcher conducts this study in order to know significant different of students’ reading scores by implementing PQ4R reading strategy. The experimental study used pretest-posttest group design which are chosen by randomized sampling is implemented to conduct the study. The subjects are students of 11th grade in Science major of SMA Darul ‘Ulum 1 Peterongan Jombang. There were pretest and posttest which aims to find out the significant difference after implementing the PQ4R Strategy as the treatment of the study to the experimental class. After the data has been gained, the researcher analyzed the data statistically using SPSS 20. The result showed experimental class has the higher mean scores 78,64 (SD = 7,210) than controlled class. XI – IPA 8 73,94 (SD = 9.500). Moreover, the result of Independent sample t-test shows that there is a significant difference between the two groups by the indication of sig value (p value) is 0.027 which is lower than 0.05. The eta squared result is 0.07 which has meaning that the implementation of the treatment gives moderate effect to the improvement of the students’ reading comprehension ability. Keywords: reading comprehension skill, PQ4R reading strategy, analitical exposition text.
Teachers’ Perception on Authentic Assessment For Assessing Students’ Writing Task in the Rural Area
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam proses menerapkan penilaian otentik memiliki tujuan meningkatkan kualitas murid dalam keahlian yang profesional. Penilaian ini telah diterapkan sejak tahun 2013 tetapi tidak semua sekolah menerapkan ini. Umumnya proses penilaian ditangani oleh guru, jadi penelitian ini akan mendeskripsikan beberapa aspek yang berhubungan dengan persepsi guru terhadap penilaian otentik, masalah yang guru hadapi berdasarkan pengalamannya, dan solusi untuk menangani masalah tersebut. Penelitian ini termasuk pada penelitian kualitatif. Data yang dikumpulkan melalui angket dan wawancara. Penelitian ini diadakan di dua SMA di daerah desa di Tuban, Indonesia yang memiliki perbedaan akreditasi sekolah. Untuk subjeknya, penelitian ini membutuhkan seorang guru dari setiap sekolah untuk mengisi angket dan mengadakan wawancara. Data dianalisis melalui langkah- langkah: mengorganisasikan dan menyiapkan, mengkode dan mengurangi, menafsirkan dan menyajikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru di daerah desa menerapkan semua tipe dari penilaian otentik. Pada hasil kedua ini menunjukkan masalah- masalah guru dalam penerapan penilaiann tersebut diantaranya adalah kesulitan murid pada kemampuan menulis, keterbatasan kesadaran siswa pada proses penilaian, keobjektifan guru dalam menilai siswa, ketidakcukupan fasilitas dalam melaksanakan penilaian otentik, kesulitan membuat RPP, dan memanajemen waktu. Terakhir untuk hasil ketiga ini menunjukkan solusi guru dalam menangani masalah. Beberapa solusinya harus menjadi bagian dalam kebijakan sekolah dan pemerintah, tetapi untuk lainnya ini dapat ditangani secara mandiri oleh guru. Kata kunci: Penilaian, penilaian otentik, dan menulis. Abstract In the process of applying authentic assessment, it has a goal to encourage students’ quality in professional skill. This assessment has been applied since 2013 but not all schools apply it. Commonly in the assessment process, it is handled by the teachers, so this study will describe several aspects related to the teachers’ perception toward authentic assessment, the problems that the teachers face based on their experience, and the solutions to handle the problems. This study belongs to qualitative research. The data were collected through questionnaires and interviews. It was conducted in two Senior High Schools of rural areas in Tuban, Indonesia that has different school’s accreditation. For the subject, this study needed a teacher from each school to fill the questionnaire and to conduct the interview. The data were analyzed through these steps; organizing and preparing, coding and reducing, interpreting and representing. The results of this study showed that teachers in the rural area had similar perceptions of the authentic assessment. The second finding showed the teachers’ problems for applying the assessment such as students’ low ability in writing, students’ limited ability of self awareness in assessment process, teachers’ objectivity to assess the students, the insufficient facility for conducting authentic assessment, the difficulties to make lesson plan, and the difficulties for conducting time management. Finally, for the last result, it showed teachers’ solutions to solve the problems. Some of the solutions must be part of school and government policies, but for the others, it can be handled by the teachers independently. Key terms: Assessment, authentic assessment, and writing.
Indonesian Tenth Graders’ L2 Motivational Self System: In Relation to L2 Anxiety and School Location
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Untuk mencapai tujuan sebagai pelajar, motivasi diperlukan. Namun, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi motivasi belajar siswa, yakni yang kecemasan dan lingkungan mereka. Dengan menerapkan teori bernama L2 Motivational Self System, penelitian ini mencoba untuk meneliti hubungan antara L2 motivational self system siswa kelas X (sepuluh) terhadap kecemasan mereka dan lokasi sekolah. Penelitian ini melibatkan 134 siswa di Surabaya dan Ponorogo. Satu set kuesioner digunakan sebagai instrumen. Data dianalisis pada SPSS Statistics 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran, siswa kota (M = 4.22) cenderung merasa lebih cemas daripada siswa di daerah pedesaan (M = 4.05). Perhitungan Independent Samples T-Test menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam skor bagi siswa di daerah perkotaan (M = 4.38, SD = 0,65) dan pedesaan (M = 4,04, SD = 0,72); t (132) = 2,83, p <0,05. Dengan tingkat perbedaan yang sedang (eta squared = 0,06). Ini berarti bahwa L2 motivational self system cukup mempengaruhi pemahaman bahasa siswa kelas X di daerah perkotaan dan pedesaan. Selanjutnya, hasil perhitungan menggunakan Pearson product moment menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif tetapi lemah antara L2 motivational self system siswa kota terhadap rasa cemas (r = 0,259, n = 67, p < 0,05). Hubungan yang sama juga terjadi pada siswa di pedesaan (r = 0,213, n = 67, p > 0,05). Temuan menunjukkan bahwa, L2 motivational self system memberikan dampak yang kecil pada rasa cemas yang dirasakan oleh siswa di kota dan desa selama proses belajar. Kata Kunci: L2 Motivational Self System, Motivasi, Kecemasan, Kelas Sepuluh, Sekolah Desa, Sekolah Kota Abstract To reach the goal as a learner, motivation is needed. Yet, there are some factors that might affect students’ motivation which is anxiousness and their environment. Applying a theory named L2 Motivational Self System, this research tried to examine the correlation between students’ L2 motivational self-system toward their anxiety and school location. This research involved 134 students in Surabaya and Ponorogo. A set of questionnaire was used as the instrument. The data was analyzed on SPSS Statistics 20. The result showed that during the learning process, urban tenth graders (M = 4.22) tend to feel more anxious than tenth graders in a rural area (M = 4.05). The calculation of Independent Samples T-Test showed that there was a significant difference in scores for students in urban (M = 4.38, SD = .65) and rural area (M = 4.04, SD =.72); t (132) = 2.83, p < .05. The magnitude of the differences in the means was moderate (eta squared = .06). It means that L2 motivational self-system quite influence tenth graders’ L2 acquisition in an urban and rural area. Furthermore, the result of Pearson product-moment calculation showed that there was a positive but small relationship between urban students’ L2 motivational self-system and L2 anxiety (r = .259, n= 67, p < .05). The result was the same for rural students (r = .213, n= 67, p > .05). The findings indicate that L2 motivational self-system gives small impact on both urban and rural students’ L2 anxiety. Keywords: L2 Motivational Self System, Motivation, Anxiety, Tenth Graders, Urban School, Rural School
Promoting Learners’ Autonomy Through Presentation in Academic Speaking Class
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Otonomi siswa memiliki peran yang penting dalam pembelajaran bahasa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempromosikan otonomi siswa adalah dengan melakukan presentasi; baik presentasi yang dilakukan secara berkelompok maupun individu. Namun, siswa sekolah menengah mempunyai sedikit kesempatan untuk menggunakan otonomi mereka. Kebanyakan dari mereka cenderung pasif dalam proses belajar mengajar dan hanya duduk mendengarkan penjelasan guru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberi informasi kepada guru-guru di sekolah menengah tentang bagaimana pelaksanaan presentasi kelompok dan bagaimana presentasi tersebut dapat mempromosikan otonomi siswa. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Sebagai subjek, peneliti memilih 22 orang mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya yang sedang mengampu mata kuliah Academic Speaking kelas A. Selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan kuesioner. Hasil pengamatan melalui observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan presentasi kelompok untuk mengembangkan otonomi siswa di kelas Academic Speaking mencakup empat tahap diantaranya adalah Building the context, Modelling and deconstructing the text, Join construction, and Presentation. Selain itu, hasil kuesioner menunjukkan bahwa pelaksanaan presentasi kelompok dapat digunakan untuk mengembangkan kemandirian siswa. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan presentasi grup untuk mengembangkan otonomi siswa di kelas Academic Speaking A sesuai dengan teori meskipun tidak semua kriteria dari otonomi siswa diterapkan, terlbih para siswa juga menunjukkan tanggapan yang positif terhadap kemandirian mereka melalui presentasi kelompok. Peneliti berharap para guru di sekolah menengah dapat menggunakan presentasi kelompok untuk memfasilitasi siswa untuk menerapkan otonomi mereka. Selain itu, penelitian lebih jauh tentang otonomi siswa dan presentasi individu perlu dilakukan oleh peneliti selanjutnya. Kata Kunci: Otonomi Siswa, Presentasi, Berbicara, Kelas Academic Speaking Abstract Learner autonomy has an important role in language learning. One of the ways that can be done to promote learners’ autonomy is through a presentation. Unfortunately, high school learners have limited chance to use their autonomy. They tend to be passive in the class during the teaching-learning process since they mostly only sit and hear the teacher explanation. Thus, this study was aimed to inform the high school teachers about the implementation of group presentation and how it can promote learners’ autonomy. The design of the research was qualitative research. Moreover, as the subject, the researcher chose twenty-two learners in the State University of Surabaya taking Academic Speaking Class A. The data were obtained through observation and questionnaire. The result from the observation showed the implementation of group presentation to promote learners’ autonomy in Academic Speaking Class A covered four stages, those are: Building the context, Modelling and deconstructing the text, Joint construction, and Presentation. Moreover, the questionnaire’s result indicates group presentation can be used to promote learners’ autonomy. From the result, the researcher concludes the implementation of group presentation to learners’ autonomy in Academic Speaking Class A is in line with the theory although the lecturer did not apply all of the basic principles, and the learners have a positive response to the group presentation toward their autonomy. The researcher hoped the senior high school teachers can utilize group presentation to make the learners apply their autonomy. Moreover, further research about learner autonomy is needed to be conducted. Key Terms: Learner Autonomy, Presentation, Speaking, Academic Speaking Class
The Use of Instagram Post For Assisting Tenth Graders in Writing Recount Text
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis adalah salah satu dari empat keterampilan bahasa dalam belajar bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh siswa. Namun, ada beberapa faktor yang menghambat siswa dalam menulis. Salah satu faktor tersebut adalah guru tidak mengajar menulis dengan teknik yang sesuai. Guru juga tidak memberikan materi atau media yang menarik dalam kegiatan menulis siswa. Untuk membuat siswa merasa termotivasi dan memiliki keinginan untuk belajar, guru harus mengajar dengan materi dan media yang menarik. Salah satu media yang menarik untuk mengajar menulis adalah Instagram. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Post Instragram adalah media yang cocok bagi siswa untuk mempraktikkan tulisan mereka atau tidak. Bagaimana guru mengimplementasikan media ini selama proses belajar mengajar, bagaimana hasil tulisan siswa dalam teks recount selama implementasi posting Instagram dan bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Post Instagram untuk membantu mereka dalam menulis teks recount. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kualitatif dengan 26 peserta yang terdiri, seorang guru bahasa Inggris dan 25 siswa X PDCI MAN 1 Mojokerto. Berasal dari set pengamatan, tulisan siswa, dan wawancara, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa memiliki persepsi positif dalam menggunakan pos Instragram sebagai media untuk menulis. Para siswa mendukung penggunaan Instagram sebagai media karena mereka senang menggunakannya. Selanjutnya, hasil tulisan siswa cukup mengesankan. Kesalahan utama adalah dari fitur bahasa, kebanyakan dari mereka salah dalam penggunaan Verb 2. Kesimpulannya, Instagram dapat diimplementasikan sebagai media untuk melatih kemampuan menulis siswa karena dapat membantu mereka merasa termotivasi untuk menulis teks yang tepat. Selain itu, para siswa mendapatkan pengalaman baru dalam menggunakan media pembelajaran baru. Kata Kunci: Instagram, media , teks recount, media sosil, pengajaran menulis. Abstract Writing is one of the four language skills in learning English that has to be mastered by the students. However, there are several factors that obstruct students in writing. One of those factors is the teachers do not teach writing with the appropriate technique. Teachers also do not provide interesting material or media in students’ writing activity. To make the students feel motivate and have the desire to learn, the teacher should teach with interesting material and media. One of the interesting media to teach writing is Instagram. Thus, the purposes of this study are to find out whether Instagram Post is suitable media for the students to practice their writing or not. How the teacher implements this media during the teaching and learning process, how the students’ writing result in recount text during the implementation of an Instagram post and how the students response toward the use of Instagram Post for assisting them in writing recount text. This research used descriptive qualitative methodology with 26 participants consisting, an English teacher and 25 students of X PDCI of MAN 1 Mojokerto. Derived from sets of observation, students’ writing, and interview, the results of this research showed that the students have a positive perception in using Instagram Post as media to write. The students supported the use of Instagram as media because they enjoyed using it. Furthermore, the result of students’ writing text was quite impressive. The main mistake is from language features, most of them were wrong in the use of Verb 2. In conclusion, Instagram can be implemented as media to practice students’ writing ability because it can help them to feel motivated to write proper text. Moreover, the students get new experience in using new learning media. Keywords: Instagram, media, recount text, social media, teaching writing.
The Use of Indirect Learning Strategies for Assisting Students’ Writing Skill in Expository and Argumentative Writing Class
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sebagai salah satu mata kuliah di jurusan Bahasa Inggris UNESA, Expository and Argumentative Writing tidaklah mudah dipelajari dan dikuasai. Mahasiswa juga mengalami kesulitasn dalam menulis esai. Mereka perlu tahu jika ada berbagai strategi belajar yang dapat mereka gunakan dalam kegiatan pembelajaran menulis. Hal tersebut menarik perhatian penulis untuk mengadakan penelitian tentang strategi belajar indirect yang digunakan oleh mahasiswa dalam kelas Expository and Argumentative Writing. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis strategi belajar indirect yang digunakan mahasiswa dalam kelas Expository and Argumentative Writing B dan faktor-faktor yang berkontribusi bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan strategi berlajar tersebut. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa kelas B Expository and Argumentative Writing program studi Pendidikan Bahasa Inggris UNESA. Untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan catatan obervasi di lapangan, kuesioner, dan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan strategi metakognitif, afektif, dan sosial. Faktor-faktor yang berkontribusi dalam pilihan mereka kebanyakan karena faktor topik dalam materi dan pencapaian belajar. Lebih lanjut, strategi tersebut dapat membantu dalam keterampilan menulis mereka. Namun, sangat memungkinkan bahwa peneliti selanjutnya dapat mengadakan penelitian serupa yang lebih kompleks mengenai penggunaan strategi belajar dalam menulis untuk membantu keterampilan menulis mahasiswa serta prestasi atau pencapaiannya. Kata Kunci: Strategi Belajar Indirect, Kelas Expository and Argumentative Writing, Keterampilan Menulis Abstract As one of the writing subjects in English Department of UNESA, Expository and Argumentative Writing materials are not easy to be learned and mastered. The students also have difficulties in writing the essay. Thus, they need to realize that there are many kinds of learning strategies that can be applied in the learning activity of writing. It takes the researcher’s attention to conduct the research about the indirect learning strategies used by the students of Expository and Argumentative Writing Class. Therefore, the aims of this research are to find out the kinds of indirect learning strategies the learners used in Expository and Argumentative Writing Class B and factors contributing the learners to apply those learning strategies. Furthermore, the subjects are the students of Expository and Argumentative Writing Class B in English Education Program of UNESA. The researcher used field-notes observation, questionnaire, and interview to collect the data. The findings showed that students use metacognitive, affective, and social strategies. The factors contributing to their choice are mostly by the topic of the material and learning goal. Additionally, those learning strategies can assist their writing skill. However, future research may need to conduct this kind of research that will be more complex about the investigation of the use of learning strategies in writing for assisting students’ writing skill and writing achievement. Keywords: Indirect Learning Strategies, Expository and Argumentative Writing Class, Writing Skill
Vocabulary Size Development of English Department Students in State University of Surabaya
RETAIN Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam pembelajaran dan akuisisi bahasa, kosakata berperan penting karena dapat memprediksi kompetensi bahasa dan literasi pelajar. Banyak penelitian telah dilakukan terkait ukuran kosakata dan perkembangannya pada berbagai tingkatan pelajar. Pada penelitian pengembangan ini, peneliti menggunkan pendekatan kuantitatif dalam menginterpretasikan data yang diperoleh dari mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya. Sejumlah 242 mahasiswa yang berada di tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat berpartisipasi dalam penelitian cross-sectional ini. Kosakata mereka diukur menggunakan Tes Ukuran Kosakata dan penghitungan perkembangan ukuran kosakata mahasiswa dilakukan menggunakan One-Way ANOVA di IMB SPSS Statistics 23. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat pertama mengetahui lebih dari enam ribu kata ( = 6519.78), dan rata-rata ukuran kosakata bertambah 560.85 kata tiap tahunnya sehingga mahasiswa di tahun keempat mengetahui lebih dari delapan ribu kata ( = 8202.33). Hasil penelitian juga mengungkap adanya perkembangan yang signifikan pada ukuran kosakata mahasiswa dari tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Semakin tinggi tingkatan mahasiswa, semakin banyak ukuran kosakata yang mereka punya. Kata Kunci: Ukuran kosakata, Perkembangan kosakata Abstract In language learning and acquisition, vocabulary plays essential role since it can predict learners’ language and literacy competence. Numerous studies had been conducted in relation to vocabulary size and its development on various level of learners. In this developmental study, researcher used quantitative approach in interpreting data elicited from undergraduate students in State University of Surabaya. A total of 242 students from the first, second, third, and fourth year participated in this cross-sectional study. Their vocabulary size was measured using Vocabulary Size Test and the computation of students’ vocabulary size development was carried out by the use of One-Way ANOVA in IMB SPSS Statistics 23. The findings showed that the freshmen knew more than six thousand words ( = 6519.78), and in average the vocabulary size increased by 560.85 words every year so that the fourth-year students knew more than eight thousand words ( = 8202.33). The result also revealed that there was significant development on undergraduates’ vocabulary size from the first, second, third, and fourth year. The higher students’ level was, the larger vocabulary size they have. Keywords: Vocabulary size, Vocabulary development

Page 1 of 2 | Total Record : 20