cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RETAIN (RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING IN INDONESIA)
ISSN : 23562617     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2020)" : 27 Documents clear
The Implementation of English Speaking Club in Junior Highschool to Enhance the Students’ Speaking Ability
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractBerbicara adalah proses interaktif dalam membangun makna yang melibatkan produksi, penerimaan, dan pemrosesan informasi. Bentuk dan maknanya tergantung pada konteks di mana itu terjadi, termasuk peserta itu sendiri, pengalaman kolektif mereka, lingkungan fisik, dan tujuan untuk berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menggambarkan implementasi komunitas berbicara dalam mendorong siswa untuk mendorong kemampuan berbicara mereka, (2) mendeskripsikan respon siswa tentang komunitas berbicara mengenai bahasa Inggris mereka berbicara. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuaitatif. Data diperoleh dengan observasi dan wawancara. Selama pengamatan, peneliti menggunakan catatan lapangan, dan rekaman video, sementara melakukan wawancara, peneliti menggunakan panduan wawancara untuk membantu dalam mendapatkan data.Berdasarkan hasil, dapat disimpulkan bahwa pertama, implementasi komunitas berbahasa Inggris dibagi menjadi tiga langkah, yaitu pra, inti dan pasca kegiatan. Di mana kegiatan pra merupakan pemanasan siswa untuk kegiatan lebih lanjut. Umumnya, menggunakan permainan atau obrolan sederhana, sementara sebagian besar kegiatan sebagian besar inti memberikan beberapa topik menarik yang berkaitan dengan hidup mereka. Kegiatan pos digunakan untuk mengevaluasi kinerja siswa. Kedua, pendapat siswa tentang implementasi sangat menarik karena selama kegiatan pembibing memberikan topik yang sangat menarik dan kegiatan yang membuat para mereka antusias. Kata kunci: kemampuan berbicara, komunitas berbahasa Inggris, respon siswaAbstractSpeaking is an interactive process of constructing meaning that involves producing, receiving and processing information. Its form and meaning are dependent on the context in which it occurs, including the participants themselves, their collective experiences, the physical environment, and the purposes for speaking. This research aimed to (1) describes out the implementation of speaking community in encouraging the students’ to encourage their speaking ability, (2) describe the students’ response about speaking community regarding their speaking English. This study was a descriptive qualitative study. The data was obtained through observation and interview. Based on the result, it can be concluded that first, the implementation of the English speaking community is divided into three steps those are pre, whilst and post activity. Where the pre-activity as the time to warm up the students for further activities. Mostly in pre activities the advisor used game or simply chat, while the whilst activity mostly the advisor gave several interesting topics related to their life. The post activities were used to evaluate the students’ performance. Second, the students’ opinion regarding the implementation was really interested because during the activity the advisor provides a very interesting topic and activity that made the students enthusiastic. Keywords: speaking skill, English speaking community, students’ response.
The Implementation of Poster Presentation Project in Teaching Speaking of Descriptive Text for Vocational School
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dewasa ini,mengajar berbicara menggunakan presentasi sebagai kegiatan pembelajaran umumnya menggunakan Ms. PowerPoint. Hal ini membuat siswa sering membaca teks presentasi mereka daripada menjelaskan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan projek presentasi menggunakan poster sebagai media untuk mengajar berbicara untuk siswa jurusan multimedia, meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) untuk menyelesaikan masalah di dalam kelas. Pendekatan yang digunakan untuk mendeskripsikan data adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam tentang partisipan yang terlibat. Subyek dalam penelitian ini adalah guru bahasa inggris dan siswa kelas 10 Multimedia di SMKN 1 SURABAYA. Peneliti menggunakan tiga instrumen yaitu catatan observasi, daftar pertanyaan dan wawancara dalam bentuk semi struktur. Untuk mengambil data, peneliti menggunakan observasi, setelah itu memberikan dafttar pertanyaan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah poster dapat digunakan untuk mengajar ketrampilan berbicara secara efektif di dalam kelas. Kata Kunci: posters, berbicara. Abstract Nowadays, teaching speaking with presentation as the activity commonly used Ms. PowerPoint as the media to do a presentation. It makes the students often to read their notes rather than explain their point, The objectives of this study are to describe the implementation of posters presentation project as media in the multimedia class to teach speaking in a vocational school. The qualitative research is used in this research as the approach and the method to solve problem in the data collection. The subject of this research is the Students in Tenth Multimedia class in the SMKN 1 SURABAYA. There are three instruments which are used by the researcher. They are observation sheets, questionnaire and interviews in the form of semi-structured. To collect the data, the researcher uses the observation, then gives the questionnaire. In conclusion, the posters are effective to be used as media to teach speaking for multimedia students. Keywords: posters, speaking.
The Relationship between Students’ Beliefs and Willingness to Communicate Among Indonesian Senior High School Students in EFL Classroom
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kepercayaan siswa dalam pembelajaran bahasa asing merupakan pembahasan yang dipandang penting dalam penelitian pendidikan karena dapat mempengaruhi kemajuan siswa dalam pembelajaran bahasa asing tersebut seperti keinginan untuk berkomunikasi secara lisan. Akan tetapi, beberapa siswa tidak menyadari akan pentingnya kepercayaan mereka dalam pembelajaran bahasa yang dapat mempengaruhi hasil belajar mereka. Beberapa waktu ini, banyak peneliti pendidikan yang fokus subjeknya adalah di lingkup pelajar universitas khususnya mahasiswa yang belajar Bahasa Inggris di luar negeri. Sementara dalam penelitian ini, peneliti berfokus pada siswa sekolah menengah atas. Penelitian ini betujuan untuk menginvestigasi apakah ada hubungan antara kepercayaan siswa dalam belajar bahasa asing dengan keinginan siswa untuk berkomunikasi. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif kepada 114 siswa kelas sepuluh di salah satu SMA swasta di Surabaya dan salah satu SMA negeri di Sidoarjo. Penelitian ini mengggunakan dua jenis kuesioner sebagai instrumen penelitian, yaitu BALLI (Belief about Language Learning Inventory) oleh Sakui and Gaies, 1999, dan willingness to communicate oleh Cao & Philp, 2006; Weaver 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan siswa SMA dalam belajar bahasa asing dan keinginan siswa untuk berkomunimasi adalah di level medium pada skala likert empat poin. Hasil akhir pada penelitian ini menunjukkan bahwa kepercayaan siswa dalam belajar bahasa asing dengan keinginanan merekan untuk berkomunikasi dalam bahasa tersebut memiliki hubungan yang tidak signifikan. Berdasarkan hasil peneitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa sekolah menengah atas di Indonesia cukup memahami kepercayaan mereka dalam belajar bahasa asing terutama dalam kaitannya dengan keinginan untuk berkomunikasi dalam bahasa tersebut, yaitu Bahasa Inggris sebagai target bahasa yang mereka pelajari di sekolah. Kata Kunci: Keinginan Siswa untuk Berkomunikasi (WTC), Kepercayaan Siswa dalam Belajar Bahasa, Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) Abstract In educational research, students beliefs in foreign language learning have been emphasized since they are viewed as central to students advancement such as willingness to communicate. However, a few students do not perceive the significance of their beliefs in language learning that could affect their learning outcomes. Recently, many education scholars have concentrated more on students beliefs at the university-level especially those who learn English abroad. While in this study, the researcher focused on senior high school students. This research aims to investigate whether their beliefs are in relation to their willingness to communicate. This research was designed quantitatively to 114 tenth graders of a government school in Sidoarjo and a private school in Surabaya. Two kinds of the questionnaire were administered as the research instruments, those were BALLI (Belief about Language Learning Inventory) by Sakui and Gaies, 1999, and willingness to communicate by Cao & Philp, 2006; Weaver 2005.. The results showed that the senior high school students had a medium level of students’ beliefs and willingness to communicate on four-point Likert scales. The final result showed that the correlation between students’ beliefs and willingness to communicate was not significant. Based on the results, it can be concluded that Indonesian senior high school students quite perceive their beliefs in language learning especially in the relation to willingness to communicate in English as the target language they learn at school. Keywords: Willingness to Communicate (WTC), Students’ Beliefs in Language Learning, English as a Foreign Language (EFL)
The Use of Self-Regulated Learning Strategies by Good Learners of English Department Students in English Language Learning
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Untuk menjadi pembelajar Bahasa Inggris yang sukses, siswa pembelajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) perlu menetapkan tujuan belajar, menemukan cara belajar yang tepat, serta mengontrol proses belajar mereka. Di tingkat universitas, menjadi pelajar mandiri sangat diperlukan karena mereka harus bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Karena para siswa perlu mempertahankan kompetensi mereka dan bertanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri, penting bagi mereka untuk menjadi siswa yang mempunyai regulasi diri. Oleh karena itu, melibatkan strategi mereka dalam pembelajaran Bahasa Inggris mereka sendiri, dan mengevaluasi keterampilan berbahasa Inggris mereka di akhir latihan dapat membantu mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan strategi pembelajaran regulasi diri (SRL) yang digunakan oleh pembelajar bahasa yang baik, serta bagaimana mereka mempelajari strategi SRL dalam meningkatkan keterampilan Bahasa Inggris mereka. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif kepada lima mahasiswa. Analisis data yang dikumpulkan dari wawancara dan jurnal reflektif menunjukkan bahwa, pertama, pembelajar yang baik menggunakan berbagai strategi SRL dalam empat dimensi; kognitif, motivasi, sosial, dan afektif, dan kedua, pembelajar yang baik mempelajari strategi SRL mereka secara mandiri, dari teman sebaya, dan juga guru. Implikasi dari temuan ini didiskusikan bersama dengan saran dan penelitian lebih lanjut. Kata kunci: Strategi Pembelajaran Regulasi Diri (SRL), Strategi Pembelajaran Bahasa (LLS), Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL). Abstract In order to be successful second language learners, EFL students need to establish goals, find appropriate ways of learning, and control their learning processes. At the university level, becoming an independent learner is required because a student needs to take responsibility for his or her own learning. Since the students need to maintain their competency and are responsible for their learning, it is essential for them to be self-regulated learners. Therefore, involving their strategy in their language learning and evaluating their skill at the end of the practice can help foster their English ability. This research aims to explore the use of self-regulated learning (SRL) strategies applied by good language learners and how they learn SRL strategies in enhancing their English skills. This research was conducted qualitatively to five undergraduate participants. The analysis of the data gathered from interviews and reflective journals showed that, first, the good learners employed a range of SRL strategies in four dimensions; cognitive, motivational, social, and effective, and second, the good learners learned their SRL strategies by themselves, and also from peers and instructors. The implications of these findings are discussed together with suggestions and further research. Keywords: Self-Regulated Learning Strategies, Language Learning Strategies, English as a Foreign Language
Tenth Graders’ Reading Comprehension in Understanding Announcement Text Through the Implementation of Higher-order Thinking Skills
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Saat membaca teks dalam Bahasa Inggris, sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menerapkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) mereka karena itu adalah tingkat pemikiran lanjut yang membutuhkan kemampuan menerapkan dan mengevaluasi teks dalam Bahasa Inggris. Selain itu, siswa perlu fokus pada berpikir kritis, berpikir logis, berpikir reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif. Oleh karena itu, peneliti bertujuan untuk meneliti penerapan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi oleh siswa kelas sepuluh dalam memahami teks pengumuman. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif untuk menggambarkan siswa kelas sepuluh menerapkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) untuk memahami teks pengumuman dan kemampuan membaca siswa kelas sepuluh dalam memahami teks pengumuman melalui penerapan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Selanjutnya, penelitian ini dilakukan di salah satu kelas pemasaran siswa kelas sepuluh Sekolah Menengah Kejuruan di Surabaya. Objek penelitian ini adalah 40 siswa dan seorang guru Bahasa Inggris. Peneliti menggunakan observasi dan tugas pemahaman membaca siswa. Setelah mengumpulkan data, peneliti menganalisis data dengan menggambarkan informasi dari catatan lapangan dan tugas-tugas pemahaman membaca siswa. Berdasarkan data, penerapan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi oleh siswa kelas sepuluh dalam memahami teks pengumuman, sejalan dengan taksonomi pembelajaran (Bloom, 1956) yang telah direvisi oleh Anderson & Krathewohl (2001). Selanjutnya, berdasarkan pada tugas siswa, sebagian besar siswa menjawab pertanyaan yang membutuhkan keterampilan menganalisis mereka dengan benar. Namun, beberapa siswa masih menjawab pertanyaan evaluasi dengan jawaban yang tidak tepat. Kata Kunci : pemahaman membaca, teks pengumuman, keterampilan berpikir tingkat tinggi Abstract While reading text in English, most of the students have difficulties in implementing their Higher Order Thinking Skills (HOTS) because it is the advanced level of thinking that requires the ability to apply and evaluating text in English. In addition, students need to focus on critical thinking, logical thinking, reflective thinking, metacognitive, and creative thinking. Therefore, the researcher aimed to investigate the implementation of Higher Order Thinking Skills by tenth graders in understanding announcement text. This research used descriptive qualitative research to describe tenth graders’ implement higher-order thinking skills (HOTS) to understand announcement text and tenth graders’ reading ability in understanding announcement text through the implementation of higher-order thinking skills. Further, this research was conducted in one of the tenth graders marketing class of Vocational High School in Surabaya. The object of this study were 40 students and an English teacher. The researcher used observation and students’ reading comprehension tasks. After collecting the data, the researcher analyzed the data by describing the information from the field note and students’ reading comprehension tasks. Based on data, the implementation of Higher Order Thinking Skills by the tenth graders in understanding announcement text was in line with the learning taxonomy (Bloom, 1956) that had been revised by Anderson & Krathewohl (2001). Furthermore, based on the students’ task, most of the students answered the questions requiring their analyzing skills correctly. However, some students still answered evaluating questions incorrectly. Keywords: reading comprehension, announcement text, Higher Order Thinking Skills
Learning Journal as A Tool to Show Students’ Understanding in Learning Analysis of School Curriculum
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Jurnal pembelajaran merupakan catatan pemikiran siswa selama kegiatan belajar mengajar yang memiliki beberapa kriteria. Bagaimanapun, siswa tidak menyangkup semua criteria tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan sejauh mana jurnal pembelajaran siswa menyangkup kriteria yang diberikan. Desain penelitian dari penelitian ini adalah kualitatif. Subjek dari penelitian ini yaitu tiga mahasiswa dari jurusan Bahasa Inggris di salah satu universitas negeri di Surabaya, dan seorang dosen sebagai subjek pendukung dalam pengumpulan data. Wawancara semi terstruktur dan dokumen pra-rekaman digunakan untuk mengumpulkan data. Kemudian, data yang terkumpul dianalisis dan dijabarkan secara spesifik berdasarkan interpretasi peneliti secara deskriptif. Dengan demikian, temuan telah menunjukkan lima kesimpulan. Pertama, Jurnal siswa memenuhi kriteria pertamasebagai tugas individu. Kedua, jurnal siswa memenuhi kriteria untuk menulis berdasarkan topik dari guru. Ketiga, jurnal siswa melengkapi kriteria untuk memberikan deskripsi singkat materi. Keempat, jurnal siswa tidak memenuhi kriteria pemberian ide tambahan terhadap materi ajar. Kelima, jurnal siswa memenuhi kriteria keterampilan penyelesaian masalah. Kata Kunci: jurnal pembelajaran, media, pembelajaran. Abstract A learning journal is a kind of record of the students’ thought during teaching and learning materials which have several criteria. However, students do not fulfil the whole criteria of writing learning journals. The purpose of this study was to describe the extent to which learning journal written by students fulfil the criteria given. The basic interpretive research of this study used a qualitative approach. The subjects of this study were three students from the English Department in one of a university in Surabaya, and the teacher as the supporting subject in collecting the data. The semi-structured interview and prerecorded documents were applied to collect the data. Then, the data obtained were analyzed and explained specifically based on the researcher’s interpretation descriptively. Thus, the findings have shown five conclusions. First, the students complete the criteria as an individual task. Second, the students complete criteria to write based on topics given by the teacher. Third, the students complete the criteria to describe the materials. Fourth, the students did not complete criteria to give additional ideas toward learning materials. Fifth, the students complete criteria to solve their problems in learning materials. Keywords: learning journal, tool, learning
The Implementation of Computer-Assisted Language Learning to Teach Listening of Report Text to the Tenth Graders
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kegunaan komputer sebagai media untuk mengajar mendengar memberikan dampak positif dalam meningkatkan kemampuan mendengar siswa. Beberapa peneliti tidak sependapat karena penelitian mereka menunjukkan hal yang bertentangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana guru bahasa Inggris menerapkan Pengajaran Bahasa Berbantuan Komputer (PBBK), dan masalah yang dihadapi guru. Model penelitian ini adalah studi interpretatif dasar. Instrumen yang digunakan adalah catatan lapangan dan wawancara semi terstruktur. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 3 Kota Mojokerto dengan guru bahasa Inggris sebagai subyek. Studi menunjukkan bahwa guru mengajar mendengar teks report dalam tiga tahap; pra mengajar, saat mengajar, dan pasca mengajar. Pada saat mengajar, guru menerapkan PBBK dalam tiga langkah; mengamati, membina, dan mempraktekkan. PBBK digunakan sebagai media untuk membantu guru dalam setiap fase di saat mengajar, seperti memberikan materi dan memberikan masukan. Masalah guru dalam pengajaran mendengar dengan PBBK sebagian besar merupakan masalah teknis. Kata Kunci: komputer berbantuan, mendengar, teks report. Abstract The use of a computer to teach listening gives positive impact in improving students listening skills. Some researchers do not agree because their researches show the opposite result. This research aimed to find how EFL teacher implement Computer-Assisted Language Learning (CALL), and the problems faced by the teacher. The design of this research is a basic interpretive study. The instruments were field notes and interview guideline in semi-structured form. The research was conducted in SMAN 3 Kota Mojokerto with the English teacher as the subject. From the study, it showed that the teacher taught listening of report text in three stages; pre-teaching, whilst-teaching, and post-teaching. In whilst-teaching, teacher implemented CALL in three steps; observing, coaching, and practising. CALL was used as media to assist a teacher in every phase in whilst-teaching, such as giving material and giving feedback. The problems faced by the teacher in teaching listening using CALL was mainly technically a problem. Keywords: CALL, computer-assisted, listening, report text
Teacher’s Written Feedback for the Student’s Writing of Narrative Text
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menulis bahasa Inggris adalah hal yang sering terasa sulit yg dipelajari siswa dalam belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Siswa terkadang menghadapi banyak masalah dalam mengeksplorasi ide-ide dan menemukan kata yang tepat untuk ditulis. Dalam penelitian ini peneliti berfokus pada guru yang memberikan masukan kepada siswa dalam mengajar teks naratif di kelas sepuluh Sains 1 MAN 1 Kota Mojokerto. Berdasarkan analisis Guru memberikan beberapa tanda dalam tulisan teks naratif. Setelah itu dia memberikan masukan tertulis dengan menggunakan lingkaran dan garis bawah di dalam pekerjaan siswa. Dalam penelitian ini guru mendapat kesulitan untuk memberikan masukan kepada siswa. Terutama dalam kosakata, tata bahasa dan tingkat siswa. Siswa masih bingung untuk menggunakan kata-kata yang tepat dan struktur teks. Dapat disimpulkan bahwa masukan tertulis guru dapat membantu siswa menulis teks naratif lebih baik dan membuat mereka tahu cara untuk memperbaiki kesalahan mereka dalam menulis naratif dengan mudah. Kata Kunci: menulis, masukan dalam menulis, masalah guru, teks narasi. Abstract Writing is an English skill which is often felt difficult to learn by the students especially for the student who learn English as a second language. The students usually face many problems in exploring the ideas and finding correct words to write. The researcher focuses on the teacher give the students feedback in teaching narrative text to the tenth grades Science 1 of MAN 1 Kota Mojokerto. Based on the data analysis, the teacher gave some signs in their written work of narrative. She gave written feedback by using circle and underlining on the students’ work. In this study, the teacher got the difficulties to give the students feedback. Especially in vocabularies, grammar and level of students. They still confused to use the right words and the structure. It could be concluded that the teacher’s writing feedback helps the students write a narrative text better. It makes them know the way to correct their mistakes in writing the narrative easily. Keywords: writing, writing feedback, teacher problems, a narrative text.
The Implementation of Project Based Learning in Teaching Speaking Recount Texts to the Students of Vocational High School
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berbicara adalah tindakan interaktif untuk membangun makna yang melibatkan memproduksi, menerima, dan juga memproses informasi. Itu berarti berbicara adalah cara bagi siswa untuk mengekspresikan kata atau kalimat untuk memperluas informasi untuk pendengar atau audiens. Bisa dikatakan kemampuan siswa dapat diukur dengan cara dia berbicara.. Masalah yang umum ditemukan adalah kurangnya kosa kata, pengucapan, dan lingkungan yang tidak didukung untuk berbicara bahasa Inggris. Secara praktis, diyakini bahwa Project Based Learning dapat membantu siswa untuk berbicara. Dalam metode ini siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan belajar melalui menanggapi masalah otentik dan juga tantangan. Project Based Learning sangat membantu untuk mengasah penampilan berbicara siswa karena mereka terlibat untuk mengembangkan keterampilan berbicara mereka sendiri secara langsung, sedangkan guru bertindak sebagai pengamat dan fasilitator dalam proses belajar-mengajar. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif mengenai penerapan Project Based Learning dalam pengajaran teks recount kepada siswa kelas X dan untuk menganalisis kinerja berbicara siswa.Kata kunci: Berbicara, Teks Recount, Project Based Learning Abstract Speaking is an interactive activity to construct meaning that involves producing, receiving, and also processing information. That means speaking is a way for students to express words or sentences to expand information for the listener or audience. It can be said that a students ability can be measured by the way he speaks. A common problem found are lack of vocabulary, pronunciation, and an environment that is not supported for speaking English. Practically, it is believed that Project Based Learning can help students to talk. In this method, students can gain knowledge and skills by learning through responding to authentic problems and also challenges. Project-Based Learning is very helpful for sharpening students speaking performance because they are involved to develop their speaking skills directly, while the teacher acts as an observer and facilitator in the teaching-learning process. This research is a qualitative descriptive study regarding the application of Project-Based Learning in teaching recount texts to class X students and to analyze students speaking performance. Keywords: Speaking, Recount texts, Project Based Learning
The Effect of Mini Drama towards Students’ Speaking Skill for Senior High School
RETAIN Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Keterampilan berbicara, sebagai salah satu keterampilan dasar bahasa Inggris, memiliki peran penting dalam proses pembelajaran bahasa. Ini adalah keterampilan produktif dalam pembelajaran bahasa. Untuk menguasai keterampilan berbicara, peserta didik harus menerapkan penggunaan bahasa Inggris dalam komunikasi secara lisan. Para siswa yang ingin menguasai keterampilan berbicara harus menerapkan penggunaan bahasa Inggris dalam komunikasi secara lisan. Dalam beberapa kasus, siswa mengalami kesulitan dalam praktik berbahasa Inggris. Siswa takut melakukan kesalahan, terutama di depan kelas. Penelitian ini di desain dengan penelitian kuantitatif eksperimental. Murid kelas sepuluh SMAN 2 Bangkalan sebagai populasi, dan sampel dari kedua kelas adalah 34 siswa. Instrumen penelitian adalah rubrik penilaian tes dan berbicara. Data diperoleh dalam bentuk skor pre-test dan post-test. Data pada journal ini di analisis dengan menggunakan Uji Mann-Whitney U supaya menemukan tingkat signifikansinya dikarenakan data skor tidak terdistribusi secara normal. Berdasarkan hasil output pada penelitian dari Uji Mann-Whitney U, tingkat signifikansi (p) dari skor post-test adalah 0,000. Ini lebih rendah dari 0,05 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok setelah diberi perawatan. Selain itu, ada perbedaan yang signifikan dalam penggunaan drama mini pada keterampilan berbicara siswa kelas sepuluh. Kemudian, ukuran efek yang diberikan milik efek besar yaitu .48.18. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada efek menggunakan drama mini pada keterampilan berbicara siswa kelas sepuluh di SMAN 2 Bangkalan. Kata Kunci: mini drama, keterampilan berbicara Abstract The fundamental of English is speaking skill. It is because the learning process of speaking has some role. It is a productive skill in language learning. To master a speaking skill, learners must implement the use of English in communication orally. The students who want to master a speaking skill should implement the use of English in communication orally. In some cases, students have difficulty in English speaking practice. The students afraid to do the mistakes, especially in front of the class. The research of this design is quantitative research by using experimental class. The students’ of ten-grade as a population in SMAN 2 Bangkalan, and 34 students of both classes as a sample. Speaking assessment rubric and test as the instrument of this research. The post-test and pre-test score was the data that were analyzed by the Mann-Whitney U Test. In this research, the data was not normally distributed, thus the researcher uses Mann-Whitney to know the significance of the data. the result has shown that the data was significant. It is because the post-test scores are .000. It means that the score was lower than .05. also, the use of mini-drama can bring a good effect to make the students are talk active. However, .48.18 was the result of effect size, which means that the research brings a large effect of using mini-drama in SMAN 2 Bangkalan. Keywords: mini-drama, speaking skill

Page 1 of 3 | Total Record : 27