cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 3 (2017)" : 17 Documents clear
Esther Greenwood’s Finding Identity Process in Sylvia Plath’s The Bell Jar LAFINDRI TANIAJENG P
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20642

Abstract

Abstrak Sylvia Plath, yang dianugerahi Hadiah Pulitzer untuk puisi, memiliki sebuah karya novel yang terkenal dan juga best seller berjudul The Bell Jar. Novel ini mempunyai tema yang umumnya muncul dalam novel remaja yaitu identitas. Skripsi ini menggambarkan proses pencarian identitas dan perkembangan kepribadian Esther Greenwood dalam novel The Bell Jar karya Sylvia Plath. Teori mirror stage digunakan untuk menganalisis masalah identitas dalam novel ini. Analisis . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Esther Greenwood menemukan id tersebut berfokus pada teori dan konsepsi identitas oleh Jacques Lacanentitasnya yang kemudian memberikan pengaruh kepada perkembangan kepribadiannya. Skripsi ini memaparkan kehidupan Esther Greenwood sebelum dan sesudah memiliki identitas serta perjuangannya mencapai keadaan tersebut. Selain memaparkan proses pencarian identitasnya, skripsi ini juga menunjukkan bahwa proses tersebut mempengaruhi perkembangan kepribadian Esther Greenwood. Kata Kunci: identitas, kepribadian, mirros stage, masa remaja. Abstract Sylvia Plath, who is awarded the Pulitzer Prize for poetry, writes her one and only novel that has been published and has become a best seller novel titled The Bell Jar. The novel used a common theme that occurred in adolescence novel which is identity. This thesis portrays finding identity process and personality development of Esther Greenwood in Sylvia Plath’s The Bell Jar. Mirror stage theory is used to clarify the identity issue in Sylvia Plath’s The Bell Jar. The analysis focused on the theory and conception of identity by Jacques Lacan. The aim of this research is to explicate finding identity process of Esther Greenwood which later on related to her personality development. This thesis discovers Esther’s struggles before she found her identity and how she manages to achieve her identity after her struggling. Besides her finding identity process, this thesis also shows that the process of her finding identity influences her personality development. Keywords: identity, personality, mirror stage, adolescence.
Vivie Warren’s Female Masculinity in Bernard Shaw’s Mrs. Warren’s Profession FIRDA ULINUHA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20734

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang kemaskulinan yang dimiliki oleh Vivie Warren dalam drama Mrs.Warren’s Profession karya Bernard Shaw dan bagaimana bisa kemaskulinan yang dimiliki Vivie menyebabkan tidak stabilnya hubungan ibu dan anak tersebut. Shaw menggambarkan Vivie Warren sebagai pemain utama yang kemaskulinannya paling dominan. Dibawah teori gender, penelitian ini menggunakan konsep maskulin dan feminisme sertakonsep maskulinitas dalam wanita oleh Judith Halberstam utuk menganalisis maskulinitas yang dimiliki oleh Vivie Warren. Selain itu terdapat teori hubungan ibu dan anak oleh Nancy Chodorow untuk menganalisis tidak stabilnya hubungan ibu dan anak pada Vivie dan Mrs.Warren. Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah: (1) bagaimana maskulinitas yang dimiliki oleh Vivie Warren dalam drama Mrs.Warren’s Professionkarya Bernard Shaw tergambarkan; (2) bagaimana kemaskulinitas yang dimiliki Vivie Warren menyebabkan tidak stabilnya hubungan ibu dan anak dalam drama Mrs.Warren’s Professionkarya Bernard Shaw. Berdasarkan analisisnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa: Vivie Warren memiliki karakter maskulin lebih banyak daripada feminin dalam bentuk ketegasan, mengejar prestasi dan status, mandiri dan menjadi handal, dan memiliki keterbatasan emosi. Karakter maskulin ini bisa menjadi salah satu faktor pendukung yang mungkin berdampak pada poin-poin tertentu dalam hubungan ibu-anak perempuannya.Kata kunci: Maskulin, feminism, wanita maskulin, hubungan ibu dan anak Abstract This study discusses Vivie Warren’s Female masculinity in Bernard Shaw’s Mrs. Warren’s Profession and how her masculinity leads to the unstable mother daughter relationship. Shaw has portrayed Vivie Warren as the main character who has dominant masculinity character. This literary study that falls under the umbrella of gender studies, employs the concept of masculinity and femininity, the concept of female masculinity by Judith Halberstam are used to analyse Vivie Warren’s female masculinity and mother-daughter relationship theory by Nancy Chodorow to examine her unstable relationship with her mother. This study proposes two statements of the problem: (1) How Vivie Warren’s female masculinity is depicted in Bernard Shaw’sMrs. Warren’s Profession; (2) How Vivi Warren’s female masculinity leads to the unstable mother daughter relationship in Bernard Shaw’s Mrs.Warren’s Profession. Based on the analysis, this study reveals that: Vivie Warren has more masculine character than feminine in the form of assertiveness, pursuing achievement and status, self-reliant and become reliable, and having restricted emotions. These masculine characteristics it can be one of contributing factors may have impact in certain points in her mother-daughter relationship.Keywords: masculinity, femininity, female masculinity, mother-daughter relationship
James’s and Sophie’s Individuation Process in Steven Herrick’s Black Painted Finernails LUTFIATUL ILMIYAH
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.20735

Abstract

Abstrak Proses pencarian jati diri yang dialami oleh para remaja, muda-mudi ataupun oleh orang dewasa telah menjadi topic atau isu yang meenarik untuk dibahas sejak dahulu hingga masa kini. Banyak dari mereka yang mencari makna jati diri mereka untuk mencapai suatu keutuhan kesatuan dari apa yang mereka hadapi di publik, masyarakat, ataupun diri mereka sendiri. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mencari tahu proses individuasi yang terjadi dalam dua tokoh utama dalam novel Black Painted Fingernails karya Steven Herrick ini yang bernama James dan Sophie, yang terletak dalam alam bawah sadar mereka dimana collective unconscious berada. James dan Sophie harus menyingkap archetype yang ada dalam diri mereka dan menerimanya sebagai bagian dari kepribadiannya. Penelitian ini menggunakan teori Carl Jung yaitu, proses individuasi atau proes pengintegrasian diri. Persona, shadow, anima, animus, dan the Self merupakan archetype utama yang dipakai dalam proses ini. Penelitian ini berfokus kepada pendekatan deksripsi dana analisis. Hal ini digunakan untuk menganalisa dan menghubungkan data menggunakan teori yang dibantu dengan pemikiran personal dan interpretasi. Kata Kunci: Proses individuasi, persona, shadow, anima, animus, the Self Abstract The journey of self discovery or individuation process has been such an interesting topic to discuss for young people or even adult in the past era up to nowadays. Everybody try to seek their true image or inner-self to gain the wholeness of what is they actually are seeing in public or society or even for themselves. This study is aimed at revealing how the individuation process happen in the two main characters of Steven Herrick’s Black Painted Fingernails, James and Sophie, which are buried in their unconscious mind where the collective unconscious lies. Both James and Sophie must reveal the archetypes that are buried within themselves and accept it as part of their personality. This study uses Carl Jung’s theory of individuation process. Persona, shadow, anima, animus, and the self are the main archetypes that are used to achieve individuation process. This study is focused on descriptive and analytical approach. It is used to analyze and to interconnect the data applying the theory supported by personal thought and interpretation. Keywords: Individuation process, persona, shadow, anima, animus, the Self.
Double Consciousness in Jhumpa Lahiri’s The Namesake FARAH MASYITHA NURISYANA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.21038

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas pemahaman dobel identitas yang dimiliki oleh Gogol Ganguli dalam novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri, diakibatkan oleh dua budaya berbeda yang ia miliki. Lahiri menggambarkan ke dua-budayaan dan kesadaran identitas Gogol melalui proses pencarian identitas. Di dalam novel, Gogol tidak berperan sebagai tokoh utama, namun ia berpengaruh dalam perkembangan alur cerita. Pemahaman dobel identitas yang dimiliki Gogol berpengarauh dalam kehidupannya, di mana ia harus mengubah dirinya sesuai kondisi sekeliling; dia akan menjadi orang Amerika saat bersama rekannya, dan seorang India ketika bersama dengan keluarga dan kerabatnya. Oleh karena itu, dia tetap berupaya untuk menentukan identitasnya. Untuk memahami kesadaran dobel identitas yang dimiliki Gogol, penelitian ini menggunakan teori Double Consciousness oleh Du Bois. Ada beberapa konsep lain yang digunakan sebagai penunjang; mengenai imigran generasi kedua, pengertian kepribadian. Gogol mengalami proses akulturasi untuk mencari identitas. Maka dari itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah; 1) bagaimana kesadaran akan identitas ganda digambarkan dalam novel The Namesake, dan 2) bagaimana Gogol mengatur dua identitas yang dimiliki. Pada akhirnya Gogol menerima dua kebudayaan yang ia miliki, tanpa menghilangkan salah satunya. Kata Kunci: double consciousness, second generation immigrant, identity Abstract This study discusses Gogol Ganguli’s double consciousness in Jhumpa Lahiri’s The Namesake, as a result of the dual cultures he had. Lahiri portrayed Gogol’s bicultural and his double consciousness through the phase of finding identity. Gogol is not the main character of the novel, but his role influenced the plot of the novel. The double consciousness that experienced by Gogol impacted his lifestyle, in which he shift his self depending on where he was; he would act as American with his friends, and as Indian when he was with his family or relatives. Therefore, he kept struggling to define his identity. To understand his double consciousness, this study used Du Boisian double consciousness as the main theory. There are other concepts to support Gogol’s identity; by using the concept of second generation immigrant and definition of self. As a second generation immigrants, Gogol went through acculturation process to find his identity. Hence, this study proposes two statements of problem; 1) how is the double consciousness depicted in Jhumpa Lahiri’s The Namesake, and 2) how does Gogol manage his two identities. Based on the analysis, this study reveals that Gogol reconcile both cultures and he started to live as American as Indian eventually. Keywords: double consciousness, second generation immigrant, identity
Women Intersubjectivity in Three Selected Stories of Angela Carter’s The Bloody Chamber MAYANK PUTRI ANJANI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.21040

Abstract

Abstrak Hubungan antara pria dan wanita masih menjadi bahasan yang menarik untuk dibicarakan, terutama ketika hubungan antara pria dan wanita tersebut berada dalam sebuah dongeng yang notabene kebanyakan selalu berakhir dengan indah. Namun, dalam tiga cerita gotik karangan Angela Carter berjudul The Bloody Chamber, hubungan antara pria dan wanita justru membawa mereka ke dalam hubungan subjek-objek yang berujung dengan sang subjek yang berubah menjadi pemegang kekuasaan atas wanita. Sebagai objek, wanita menjadi gender kedua yang pada akhirnya membuat wanita harus menjadi si penerima atas kekuasaan pria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya intersubjektifitas wanita yang menyebabkan hubungan subjek-objek antara pemeran utama dan pemeran pria dan cara pemeran wanita mempengaruhi karakter pria dalam tiga cerita pilihan The Bloody Chamber oleh Angela Carter. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang psikoanalisis feminism yang dikembangkan oleh jessica benjamin yang dipengaruhi oleh teori dari Sigmund Freud. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam tiga cerita pilihan dalam kumpulan cerita pendek Angela Carter berjudul The Bloody Chamber , terdapat intersubjektifitas antara pemeran utama dengan pemeran pria yang menyebabkan terjadinya hubungan subjek-objek antara mereka berdua yang dipengaruhi oleh nafsu sang subjek dan Thirdness yang menyebabkan si subjek menjadi pemegang kekuasaan atas wanita. Kata Kunci: Intersubjektifitas, psikoanalisis feminism , hubungan subjek-objek Abstract A relationship between man and woman always be an interesting topic to discuss, especially when the relationship between them is in a tales which usually will have an happy ending. But in three selected stories of Angela Carter The Bloody Chamber, the relationship between man and woman brings them into subject-object relationship that drives the man becoming the omnipotence who holding the power toward woman. As the object, woman becomes the second sex which in the end, it makes her become the surrender of man’s power. Purpose of this study is to reveal the women intersubjectivity which brings them to subject-object relationship between the main character and her men and also to know the way women’s role influences men’s character selected stories of Angela Carter’s The Bloody Chamber. This study using Intersujectivity theory that developed by Jessica Benjamin which influenced by Sigmund Freud’s theory. From this study, it can be concluded that in three selected stories of Angela Carter entitled The Bloody Chamber, there is a intersubjectivity between main cahracter and the men which causes subject-object relationship that influenced by the pleasure of the subject and the thirdness which leads the subject become the omnipotence of women. Keywords: Intersubjectivity, psychoanalysis feminism, subject-object relationship
Symbolism in 300 Graphic Novel YOPI HANDI PERDANA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.21042

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi atribut perang dalam novel grafis 300 dan (2) mengetahui Leonidas sebagai ikon Sparta. Untuk menjawab tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan teori simbolisme dan teori semiotika. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber utama penelitian ini adalah novel grafis yang berjudul 300. Data berupa beberapa gambar, kalimat, paragraf dan ungkapan yang digunakan untuk mengetahui atribut perang dan Leonidas sebagai ikon Sparta. Hasil penelitian ini menemukan bahwa atribut perang memiliki banyak jenis seperti helm, tombak panjang, perisai, dan phalanx. Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa Leonidas sebagai ikon sparta dan juga inspirasi banyak orang. Kata kunci: sparta, leonidas, persia, symbol, war Abstract This study aims to: (1) identify the attributes of war in 300 graphic novel and (2) to know Leonidas as the icon of Sparta. To answer the objectives, this study used symbolism theory and semiotics theory. This study used a qualitative research with the content analysis method. The main source of this study was a graphic novel entitled 300. The data were some picture, sentences, paragraphs and expressions used to know the attributes of war and Leonidas as the icon of Sparta. The result of this study found that the attributes of the war has many types as helmet, long spear, shield, and phalanx. The study also revealed that Leonidas as the icon of sparta and also the inspiration of many people. Keywords: sparta, leonidas, persia, symbol, war
Deictic Expressions Used in Felix Kjellberg’s YouTube Channel “PewDiePie” WIBISONO PANGLIPURING JIWO
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 3 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i3.21159

Abstract

Abstrak Felix Kjellerberg, atau yang lebih dikenal dengan sebutan “PewDiePie”, adalah seorang comedian dan video blogger berkebangsaan Swedia. Dia terkenal dengan channel YouTube miliknya. Dia adalah salah seorang blogger YouTube dengan pengikut terbanyak, yang mana sangat menyukai penampilannya sebagai host dari “PewDiePie” channel. Dalam setiap videonya, dia selalu memikat dan menghibur para penontonnya melalui percakapan, mimic, dan emosinya, terutama pemilihan kata ang dia pakai untuk membuat banyak penonton tertawa, dengan tujuan untuk menciptakan atmosfir yang menenangkan. Penelitian ini meliputi penggunaan ekspresi deixis oleh Felix Kjellberg di YouTube video channel miliknya, yang mana menggunakan teori deixis yang dikemukakan oleh Stephen C. Levinson (1983) dan ditambah dengan teori komedi dan humor ang dikemukakan oleh Raymond (1980) and Henderson (1993). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui deixis yang digunakan oleh Felix Kjellberg dalam YouTube video channel miliknya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: (1) mendeskripsikan exspresi deixis yang digunakan oleh Felix Kjellberg dalam YouTube video channel miliknya; (2) mendeskripsikan tujuan utama Felix dalam menggunakan ekspresi deixis di YouTube video channel miliknya; (3) menguak tipe ekspresi deixis terbanyak ang dipakei oleh Felix Kjellberg di YouTube video channel miliknya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan interpretasi-interpretasi ekspresi deixis yang digunakan oleh Felix Kjellberg. Dengan mengidentifikasi dan menganalisi semua sampel penelitian, ekspresi deixis dikategorikan menjadi lima tipe, yaitu: deixis perseorangan, deixis tempat, deixis waktu, deixis kondisi, dan deixis sosial. Keywords: deixis, YouTube, PewDiePie channel, Felix Kjellberg, humor, komedi Abstract Felix Kjellerberg, better known for his alias “PewDiePie” is a Swedish comedian and video blogger. He is famous for his comedic YouTube videos. He is one of the YouTube leading channel with the most subscribers recorded, which loves his attractiveness as a “PewDiePie” channel video host. In every videos, he always can entertains his audiences up through his gestures, mimics, and his emotions, especially his choice of words that make people laughing, in order to make a fun and relaxing atmosphere. This study deals with the use of deixis expressions used by Felix Kjellberg on his YouTube video channel “PewDiePie” relating to the theory of deixis proposed by Stephen C. Levinson (1983) and adding theory of humor and comedies proposed by Raymond (1980) and Henderson (1993). The main purpose of this study is to know the deixis used by Felix Kjellberg on his YouTube video channel “PewDiePie”. The steps are as follows: (1) describe the deixis expressions used by Felix Kjellberg on his YouTube video channel “PewDiePie”; (2) describe the Felix’s main purpose of using deixis expressions on his YouTube video channel “PewDiePie”; (3) figure out the most used deixis expressions on his YouTube video channel “PewDiePie”. This study uses descriptive qualitative method in order to describe the interpretation of deixis expressions and the types of deixis expressions used by Felix Kjellberg. By identifying and analyzing all of those utterances, they are categorized in five types of deixis expressions, which are: person deixis, place deixis, time deixis, discourse deixis, social deixis. Keywords: deixis, YouTube, PewDiePie channel, Felix Kjellberg, humor, comedy

Page 2 of 2 | Total Record : 17