cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 1 (2022): April 2022" : 9 Documents clear
Studi Etnobotani sebagai Obat Tradisional Masyarakat di Desa Adat Kalisalak, Banyumas, Jawa Tengah
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59787

Abstract

Kalisalak Traditional Village (KTV) is a village where people still use plants for survival and traditional medicine. This study aimed to determine the diversity of plants used as medicine and their utilization by the people. The method used in this research is a survey method with a random sampling technique. Data was collected through interviews with semi-structured interview techniques using a questionnaire guide. The determination of the respondents was representatives drawn from 5 hamlets, namely Depok, Karang Sari, Pandak Reja, Grumbul Semingkir, and Karangbanar, 10 respondents from each hamlet, including herbal medicine sellers, traditional birth attendants, PKK cadres, community leaders (village officials and traditional leaders), and the local community. The variables of this study were the diversity of medicinal plants and their use. At the same time, the parameters observed were the morphological characteristics of each species, the plant parts used, the processing methods, and the benefits of medicinal plants known to the people of KTV. Observational data were analyzed descriptively comparatively. This study showed that the diversity of medicinal plants used by the people of the KTV was 38 species and 20 families. People use plants as medicine by utilizing the roots, stems, leaves, fruit, seeds, flowers, bark, tubers, rhizomes, and sap. Desa Adat Kalisalak merupakan desa yang masyarakatnya masih menggunakan tumbuhan untuk keberlangsungan hidup dan sebagai obat tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan keanekaragaman tumbuhan yang digunakan sebagai obat dan pemanfaatannya oleh masyarakat Desa Adat Kalisalak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik random sampling. Pengambilan data diperoleh melalui wawancara dengan teknik wawancara semi struktural dengan menggunakan panduan kuesioner. Penentuan responden adalah perwakilan yang diambil dari lima dusun yaitu Depok, Karang Sari, Pandak Reja, Grumbul Semingkir, dan Karangbanar yang masing-masing dusun diambil 10 responden meliputi penjual jamu, dukun bayi, kader PKK, tokoh masyarakat (perangkat desa dan tokoh adat), dan masyarakat setempat. Variabel dari penelitian ini adalah keanekaragaman tumbuhan obat dan cara pemanfaatannya, sedangkan parameter yang diamati karakter morfologi tiap spesies, bagian tumbuhan yang digunakan, cara pengolahannya dan manfaat dari tumbuhan obat yang diketahui masyarakat Desa Adat Kalisalak. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil penelitian ini didapat bahwa keanekaragaman tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Adat Kalisalak sebanyak 38 spesies dan 20 familia. Masyarakat menggunakan tumbuhan sebagai obat dengan memanfaatkan bagian akar, batang, daun, buah, biji, bunga, kulit batang, umbi, rimpang, dan getah. Pemanfaatan tumbuhan dengan cara langsung maupun tidak langsung.
Potensi Ekstrak Akuades Biji Pepaya sebagai Penghambat Pertumbuhan Khamir Penyebab Busuk Buah Tomat dan Stroberi
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59788

Abstract

Papaya seeds are known to contain secondary metabolite compounds. These chemical compounds can be used by passing the extraction method with aquadest solvent where aquadest is an easily obtained material that facilitates its application in the community. This research aims to extend the shelf life of the fruit with in vitro testing and its application to the fruit directly (in vivo). The research designs used were complete randomized designs for in vitro and group randomized designs for in vivo tests. The medium used is YPMEA which is a specific medium for yeast growth. Papaya seeds used in the form of California papaya seeds that have been cooked are then extracted with aquadest solvent. The parameters used for in vitro testing are in the form of extract-inhibiting zone diameter around the paper disc while the parameters for in vivo tests are in the form of fruit storage, texture, aroma, and microbial sustainability in addition to isolates. The data were analyzed with a one-way Anava for in vitro testing and descriptive analysis for in vivo testing. Anava results showed that papaya seed aquadest extract has a significant effect on inhibition of germicidal ripening that causes rotten tomatoes and strawberries. The increase in the shelf life of the fruit in tomatoes increases by 2 days and strawberries by 3 days. Based on the results of the study, the use of papaya seed aquades extract concentration is 100% effective to increase the shelf life of the fruit. Biji pepaya diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder. Senyawa kimia tersebut dapat digunakan dengan melewati metode ekstraksi dengan pelarut akuades dimana akuades merupakan bahan yang mudah didapatkan sehingga memudahkan penerapannya di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperpanjang daya simpan buah dengan uji secara in vitro dan penerapannya pada buah secara langsung (in vivo). Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap untuk in vitro dan Rancangan Acak Kelompok untuk uji in vivo. Medium yang digunakan yaitu medium YPMEA yang merupakan medium spesifik untuk pertumbuhan khamir. Biji papaya yang digunakan berupa biji papaya California yang telah masak kemudian diekstrak dengan pelarut akuades. Parameter yang digunakan untuk uji in vitro berupa diameter zona hambat ekstrak disekitar paper disc, sedangkan parameter untuk uji in vivo berupa daya simpan buah, tekstur, aroma, dan keberadaan mikroba selain isolat. Data dianalisis dengan Anava satu arah untuk uji in vitro dan analisis deskriptif untuk uji in vivo. Hasil Anava menunjukkan, ekstrak akuades biji papaya berpengaruh signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan khamir penyebab busuk buah tomat dan stroberi. Pertambahan daya simpan buah pada buah tomat bertambah 2 hari dan buah stroberi 3 hari. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan ekstrak akuades biji papaya konsentrasi 100% efektif untuk menambah daya simpan buah Keywords: Aquadest extract; papaya seed; yeast ekstrak akuades; biji papaya; khamir
Pengaruh Lama Perendaman dan Jenis Pembungkus terhadap Kadar Etanol Tape Ketan
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59790

Abstract

Tape is one of the traditional foods in Indonesia which is produced through the fermentation process of carbohydrate foods. This study aims to determine the effect of the different packaging and cooking methods on the organoleptic properties and ethanol content of sticky rice tape. The research method used experimental research methods using a completely randomized design with a factorial pattern. The first factor is soaking time, which is soaked for 3 hours before cooking (T1) and without soaking before cooking (T2). The second factor is the type of wrapping, namely banana leaf (L1), plastic container (L2), and water guava leaf (L3). Each treatment method of cooking and wrapping was varied again by being given dragon fruit juice, pineapple juice, and without the addition of fruit juice. Parameters tested include organoleptic and ethanol content. The results of the organoleptic assessment of glutinous tape ranged from 7.00-8.47. The ethanol content of sticky rice tape soaked before cooking and wrapped in banana leaves was 2,936-15.879%; wrapped in 3,974-14,408% plastic containers, 6,464-16,181% guava leaves wrapped. Glutinous tape without soaking before cooking and wrapped in banana leaves 1.747-10.219%, wrapped in plastic containers 3.879-12.276%, wrapped in guava leaves 3.936-6.577%. Based on the organoleptic assessment and the ethanol content, the best quality tape and preferred by consumers is the original glutinous rice tape through the cooking process by soaking it and wrapping it in banana leaves. The appearance of the tape is whole, fresh white, the texture is soft and watery, has a very fresh aroma specific to the tape, it also has a slightly sweet taste, slightly sour, and contains 2.936% ethanol. Tape merupakan salah satu makanan tradisional di Indonesia yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan pangan berkarbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menentukan pengaruh pembungkus dan cara memasak yang berbeda terhadap sifat organoleptik dan kadar etanol tape ketan. Metode penelitian menggunakan metode penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah lama perendaman, yaitu direndam selama 3 jam sebelum dimasak (T1) dan tanpa direndam sebelum dimasak (T2). Faktor kedua adalah jenis pembungkus, yaitu daun pisang (L1), wadah plastik (L2), daun jambu air (L3). Setiap perlakuan cara memasak dan pembungkus, divariasi lagi dengan diberi sari buah naga, sari buah nanas, dan tanpa penambahan sari buah. Parameter yang diuji meliputi organoleptik dan kadar etanol. Hasil penilaian organoleptik tape ketan berkisar 7,00-8,47. Kadar etanol tape ketan dengan direndam sebelum dimasak dan dibungkus daun pisang yaitu 2,936-15,879%; dibungkus wadah plastik 3,974-14,408%, dibungkus daun jambu 6,464-16,181%. Tape ketan tanpa direndam sebelum dimasak dan dibungkus daun pisang 1,747-10,219%, dibungkus wadah plastik 3,879-12,276%, dibungkus daun jambu 3,936-6,577%. Berdasarkan penilaian organoleptik dan kadar etanol, kualitas tape yang paling baik dan disukai konsumen adalah tape ketan original melalui proses memasak dengan direndam dan dibungkus dengan daun pisang. Kenampakan tape utuh, putih segar, teksturnya lunak dan berair, mempunyai aroma sangat segar spesifik tape, juga mempunyai rasa agak manis, sedikit asam dan mengandung kadar etanol 2,936 %. Tambahkan aspek kebaruan dari hasil penelitian ini (termasuk dalam abstract). Keywords: Ethanol, Wrapping Media, Soaking, Glutinous Tape Kata kunci: Etanol, Media Pembungkus, Perendaman, Tape Ketan
Pengaruh Kadar Garam dan Jenis Kemasan terhadap Mutu Terasi Rebon
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59792

Abstract

Terasi is a fermented shrimp product with the addition of salt. Fermentation with salt causes protein degradation into amino acids. One of the amino acids, namely glutamic acid, is the producer of the distinctive taste of shrimp terasi. Salt concentration and type of packaging are important factors in the process of making shrimp terasi. This study aims to analyze the effect of salt content and packaging on the quality of rebon (Acetes sp.). shrimp terasi. This research is an experimental study using 2 types of treatment with 3 repetitions. The first treatment was salt concentration, namely 5%, 10%, and 15%. The second treatment was the type of packaging (banana leaves and aluminum foil). Parameters tested include organoleptic, protein content, water content, and microbial content. The shrimp terasi made with different levels of salt and packaging were all acceptable to the panelists, with a value of 7.2-8.6. The results showed that the organoleptic value of shrimp terasi ranged from 7.65-8.32, meaning that the product was acceptable to consumers. The protein contained in shrimp terasi with a salt content of 10% in banana leaf packaging is 16.40%, while with a salt content of 10% and 15% in aluminum foil packaging are 15.75% and 16.86%, according to SNI standards. that is at least 15%. The water content of the shrimp terasi ranges from 32-45%. The number of Escherichia coli colonies in all shrimp terasi samples ranged from 2.23-7.30 Log CFU/g. It was concluded that the best quality of rebon shrimp terasi was shrimp paste made with 10% salt content and packed with banana leaves, with an organoleptic value of 8.6, protein content of 16.4%, water content of 32% and E. coli contamination 2.23 Log CFU/g. Terasi merupakan produk fermentasi udang dengan penambahan garam. Fermentasi dengan garam menyebabkan degradasi protein menjadi asam amino. Salah satu asam amino yaitu asam glutamat, sebagai penghasil cita rasa khas terasi. Konsentrasi garam dan jenis kemasan merupakan faktor penting pada proses pembuatan terasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kadar garam dan jenis kemasan terhadap mutu terasi rebon (Acetes sp.). Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental menggunakan 2 jenis perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan pertama adalah konsentrasi garam yaitu 5%, 10%, dan 15%. Perlakuan kedua adalah jenis kemasan (daun pisang dan aluminium foil). Parameter yang diuji meliputi organoleptik, kadar protein, kadar air, dan kandungan mikroba. Terasi yang dibuat dengan perbedaan kadar garam dan kemasan semuanya dapat diterima oleh panelis, dengan nilai 7,2-8,6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai organoleptik terasi berkisar 7,65-8,32 artinya produk tersebut dapat diterima konsumen. Protein yang terdapat dalam terasi dengan kadar garam 10% kemasan daun pisang sebesar 16,40%, sementara dengan kadar garam 10% dan 15% pada kemasan aluminium foil berturut-turut sebesar 15,75% dan 16,86 %, sesuai dengan standar SNI yaitu minimal 15%. Kadar air terasi berkisar antara 32-45%. Jumlah koloni Esherichia coli pada semua sampel terasi berkisar 2,23-7,30 Log CFU/g. Disimpulkan bahwa kualitas terasi rebon yang paling baik adalah terasi yang dibuat dengan kadar garam 10% dan dikemas dengan daun pisang, dengan nilai organoleptic 8,6, kadar protein 16,4%, kadar air 32% dan cemaran E. coli 2,23 Log CFU/g. Perlu ditambahkan kebaruan informasi yang diperoleh dari penelitian ini. Keywords: rebon shrimp terasi; salt; banana leaves; aluminium foil terasi rebon; garam, daun pisang; aluminium foil
Uji Efektivitas Ekstrak Buah Ketapang (Terminalia catappa) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59794

Abstract

Flesh fruit of Terminalia catappa is underutilized by the community, even though it contains secondary metabolites that can be used as antibacterial. This study aims to determine the effectiveness of antibacterial on the type of solvent and the concentration level of ketapang fruit extract which is effective in inhibiting Escherichia coli and Bacillus subtilis bacteria. This study used 2 factorials Randomized Block Design (RBD). The first factor is the type of solvent, distilled water, and methanol 70%. The second factor is extract concentration of 100% and 50%. These two factors were used to test the growth of bacterial cultures by the disc diffusion method. The antibacterial effectiveness of ketapang fruit extract on E. coli and B. subtilis bacterial cultures as indicated by the appearance of a clear zone. Collecting data in the form of measuring the diameter of the clear zone around the paper disc and analyzing using Two Way ANOVA. The results showed that both solvents at concentrations of 100% and 50% were able to inhibit the E. coli and B. subtilis bacteria. Based on the diameter of the clear zone, methanol solvent with 70% concentration of 100% was effectively inhibited B. subtilis bacteria with an average diameter of 23.31mm. Daging buah ketapang (Terminalia catappa) kurang dimanfaatkan oleh masyarakat, padahal dalam daging buah ketapang terkandung senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas antibakteri pada jenis pelarut dan tingkat konsentrasi ekstrak buah ketapang yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis. Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Faktor pertama yaitu jenis pelarut: akuades dan metanol 70%. Faktor kedua yaitu konsentrasi ekstrak: 100% dan 50%. Kedua faktor tersebut digunakan untuk menguji pertumbuhan dari biakan bakteri E. coli dan B. subtilis dengan metode difusi cakram. Adanya efektivitas antibakteri ekstrak buah ketapang pada biakan bakteri E. coli dan B. subtilis ditandai dengan munculnya zona bening. Pengambilan data berupa mengukur diameter zona bening yang terbentuk di sekeliling paperdisc. Data kemudian dianalisis menggunakan Two Way ANOVA. Hasil ANOVA menunjukkan pelarut akuades dan metanol 70% di konsentrasi 100% dan 50% mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan B. subtilis. Berdasarkan pengukuran diameter zona bening, pelarut metanol 70% di konsentrasi 100% sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri B. subtilis dengan diameter rata- rata 23,31 mm. Keywords: Bacillus subtilis; ketapang fruit extract; Escherichia coli Bacillus subtilis; ekstrak buah ketapang; Escherichia coli
Karakteristik Populasi Ansonia spinulifer (Mocquard, 1890) di Bukit Wangkang Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59795

Abstract

Borneo is one of the centers of amphibian diversity. The distribution of amphibians in Borneo can be seen from the variety of species in lowland forest areas, rice fields, and along rivers. A. spinulifer is the species which is one of the endemic species to the island of Borneo. This study aims to examine the population character of A. spinulifer in the Wangkang Hill area which can be used as a consideration in the management of amphibian species in Borneo. Sample is collected in Bukit Wangkang, Kubu District, Kubu Raya Regency. The research method used is the Visual Encounter Survey (VES) combined with line transects. The population density of A. spinulifer in the Wangkang hill area, Kubu District, Kubu Raya Regency is 0.426 individuals/m2, The sex ratio of male and female A. spinulifer is 1:1, the gonad maturity level of female and male A. spinulifer is at level II-IV Fecundity of female A. spinulifer is 235-639 eggs. Kalimantan merupakan salah satu pusat keanekaragaman jenis amfibi. Sebaran amfibi di Kalimantan dapat dilihat dari keanekaragaman jenisnya di kawasan hutan dataran rendah, persawahan, dan di sepanjang sungai. A. spinulifer merupakan salah satu spesies endemik pulau Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakter populasi A. spinulifer di kawasan Bukit Wangkang yang dapat dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan jenis amfibi di Kalimantan. Pengambilan sampel dilakukan di Bukit Wangkang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah Visual Encounter Survey (VES) yang dipadukan dengan transek garis. Kepadatan populasi A. spinulifer di kawasan Bukit Wangkang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya adalah 0,426 individu/m2, rasio jenis kelamin A. spinulifer jantan dan betina 1:1, tingkat kematangan gonad betina dan jantan A. spinulifer berada pada level II-IV dengan kisaran indeks kematangan gonad rata-rata 0,30-0,90%. Fekunditas A. spinulifer betina rata-rata 235-639 butir telur. Keywords: Amphibi, Ansonia spinulifer, Density, Sex Ratio, Gonad Maturity Level
Aktivitas Antihiperglikemia dan Antioksidan Ekstrak Daun Sirih Merah Pada Tikus Hiperglikemia Induksi Aloksan
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59796

Abstract

Diabetes mellitus is metabolic disease that causes hyperglycemia due to a lack of insulin or insulin resistance. In these conditions, it’s easy for the formation of excess free radicals to cause damage to pancreatic beta cells. Several studies reported that red betel leaf extract has antioxidant and antihyperglycemic activity. This study aimed to analyze the effectiveness of red betel leaf extract on blood glucose and malondialdehyde levels of hyperglycemic rats. Total of 25 male wistar rats were divided into five groups (positive control given glibenclamide 0.09mg/200gBW, negative control not treated, and red betel leaf extract was treated with doses of 100, 200 and 400mg/kgBW). The research procedures included conditioning hyperglycaemia of test animals with induction of alloxan 120mg/kgBW intraperitoneally, extraction of red betel leaf using maceration method with 70% ethanol solvent, treatment of giving red betel leaf extract orally for 21 days and measuring blood glucose levels and malondialdehyde levels by spectrophotometric method. The results showed that doses of 1, 2 and 3 red betel extract didn’t differ in effectiveness with glibenclamide. Regarding malondialdehyde, the effectiveness of doses 2 and 3 of red betel extract was more effective than dose 1 in reducing levels of malondialdehyde but still below glibenclamide. Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolisme yang menyebabkan kondisi hiperglikemia akibat kurangnya jumlah insulin ataupun insulin mengalami resistensi. Pada kondisi tersebut mudah terjadi pembentukan radikal bebas berlebih sehingga meyebabkan kerusakan sel beta pankreas. Beberapa penelitian melaporkan ekstrak daun sirih merah memiliki aktivitas antioksidan dan antihiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keefektifan ekstrak daun sirih merah terhadap kadar glukosa darah dan Malondialdehyde (MDA) tikus hiperglikemia. Sebanyak 25 ekor tikus jantan strain wistar dibagi lima kelompok perlakuan (kontrol posistif diberi obat glibenklamid 0,09 mg/200 gBB, kontrol negatif tidak diberi perlakuan, dan perlakuan ekstrak daun sirih merah dosis 100, 200 dan 400 mg/kg BB). Prosedur penelitian meliputi pengkondisian hiperglikemia hewan uji dengan induksi aloksan 120 mg/kgBB secara intraperitoneal, ekstraksi daun sirih merah menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, perlakuan pemberian ekstrak daun sirih merah secara oral selama 21 hari, serta pengukuran kadar glukosa darah dan kadar Malondialdehyde (MDA) dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan dosis 1, 2 dan 3 ekstrak sirih merah tidak berbeda efektivitasnya dengan glibenklamid. Berkaitan dengan Malondialdehyde (MDA), efektivitas dosis 2 dan 3 ekstrak sirih merah lebih efektif dibandingkan dosis 1 dalam menurunkan kadar Malondialdehyde (MDA) tetapi masih dibawah glibenklamid. Keywords: blood glucose; free radicals; hyperglycemic; malondialdehyde; red betel. glukosa darah; radikal bebas; hiperglikemia; malondialdehyde; sirih merah
Pengaruh Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) dalam Memperbaiki Organ Ginjal Mencit (Mus musculus) Yang Di Induksi Karbon Tetra Klorida (CCL4)
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59798

Abstract

The efficacy of cinnamon and the negative and positive effects of tetrachloride that cause kidney damage in mice, it is necessary to do research on the effect of cinnamon extract in repairing the kidney organs of mice induced by carbon tetra chloride (CCL4). Carbon tetrachloride (CCL4) is often used as a model to study hepatotoxicity in experimental animals because it is toxic, especially to kidney cells, both after acute and chronic exposure. The purpose of this study was to determine Cinnamon extract in repairing kidney damage in mice. The type of research used in this research is comparative research. Histopathological picture of normal mice kidney after administration of cinnamon extract with a concentration of 5% after induction of carbon tetrachloride, but administration of cinnamon extract with concentrations of 10% and 15% as well as positive control of the kidney of mice still showed abnormal kidney histopathology Khasiat kayu manis dan efek negative dan positif dari tetra klorida yang menyebabkan kerusakan ginjal mencit, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak kayu manis dalam memperbaiki organ ginjal mencit yang di induksi karbon tetra klorida (CCL4). Karbon tetra klorida (CCL4) sering digunakan sebagai model untuk mempelajari hepatotoksisitas pada hewan coba karena sifatnya yang toksis terutama pada sel ginjal, baik setelah pemaparan akut maupun kronis. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak Kayu manis dalam memperbaiki kerusakan ginjal mencit. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian komparatif. gambaran histopatologi ginjal mencit normal setelah pemberian ekstrak kayu manis dengan konsentrasi 5% pasca di induksi karbon tetra klorida, namun pemberian ekstrak kayu manis konsentrasi 10% dan 15% serta pada kontrol positif ginjal mencit masih menunjukkan adanya gambaran histopatologi ginjal yang tidak normal. Keywords: Cinnamon, mencit kidney, Kayu manis, ginjal mencit, CCL4
Analisis Bakteri Coliform pada Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Gajahmungkur
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59799

Abstract

The need for drinking water for the community continues to increase along with population growth without being balanced with the availability of clean water so that people prefer refilled water as a source of drinking water that is easier and more practical. There are so many small industries that run Refill Drinking Water Depot (DAMIU) business, but not all DAMIUs are managed properly, especially for water quality. Based on the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No.492/MENKES/PER/IV/2010, drinking water has standard criteria, namely physical, chemical, and microbiological. Mandatory parameters for microbiological drinking water quality include Coliform bacteria and Escherichia coli with a maximum concentration of 0/100 ml sample. The purpose of this study was to analyze the presence and number of Coliform bacteria in refilled drinking water in Semarang City and to determine the factors that influence the presence of Coliform bacteria in refilled drinking water. This laboratory-based research was conducted descriptively. The samples in this study came from 8 DAMIU in Gajahmungkur District which were then identified in the laboratory by the membrane filter method. The results showed that of the 8 samples examined, 7 of them were contaminated with Coliform bacteria. Factors that influence the presence of Coliform bacteria are the operator/owner's lack of awareness of cleanliness, environmental conditions, filter cleanliness, and the condition of the drinking water depot building. Kebutuhan air minum untuk masyarakat terus meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk tanpa diimbangi dengan ketersediaan air bersih sehingga masyarakat lebih memilih air isi ulang sebagai sumber air minum yang lebih mudah dan praktis. Banyak sekali industri-industri kecil yang menjalankan bisnis Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU), tetapi tidak semua DAMIU dikelola dengan baik terutama untuk kualitas airnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.492/MENKES/PER/IV/2010 air minum memiliki kriteria standar yaitu fisik, kimia, dan mikrobiologi. Parameter wajib kualitas air minum secara mikrobiologis meliputi bakteri Coliform dan Escherichia coli dengan kadar maksimum 0/100 ml sampel. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keberadaan dan jumlah bakteri Coliform pada air minum isi ulang di Kota Semarang serta mengetahui faktor yang mempengaruhi adanya bakteri Coliform pada air minum isi ulang. Penelitian ini berbasis laboratorium dilakukan secara deskriptif. Sampel pada penelitian ini berasal dari 8 DAMIU di Kecamatan Gajahmungkur yang kemudian dilakukan identifikasi di laboratorium dengan metode membran filter. Hasil penelitian menunjukkan dari 8 sampel yang diperiksa 7 diantaranya terkontaminasi bakteri Coliform. Faktor yang mempengaruhi adanya bakteri Coliform adalah kurangnya kesadaran operator/pemilik terhadap kebersihan, kondisi lingkungan sekitar, kebersihan filter, dan kondisi bangunan depot air minum. Keywords: Refill drinking water, Coliform bacteria, microbiological Air minum isi ulang, bakteri Coliform, mikrobiologis

Page 1 of 1 | Total Record : 9