cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2016): October 2016" : 6 Documents clear
Pengembangan Medium Konservasi In Vitro Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.) dengan Teknik Pertumbuhan Minimal Hidayah, Laila Nur Hidayah; Diantina, Surya; Pukan, Krispinus Kedati; Rahayu, Enni Suwarsi
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi kayu aksesi 430 dan 507 adalah varietas lokal yang berasal dari pulau Sumatera yang populasinya semakin menurun akibat penanaman varietas unggul saja dan deforestasi lahan sehingga perlu dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan ubi kayu dalam media pertumbuhan minimal dengan menggunakan retardan di bank gen BB Biogen. Rancangan penelitian ini adalah acak lengkap dua faktorial. Faktor pertama adalah jenis retardan, yaitu cycocel dan ABA, faktor kedua adalah aksesi ubi kayu 430 dan 507. Medium A adalah medium MS yang disuplementasi dengan 0,01 mg/l NAA, 0,05 mg/l BA, 0,1mg/l GA, 100 mg/l arginin, 100 mg/l glutamin dan 100 mg/l glysin sebagai media dasar. Eksplan yang digunakan adalah tunas pucuk yang terdiri dari 2-3 buku dan ditanam selama 16 minggu. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah pertambahan tinggi tunas, pertambahan jumlah ruas, jumlah daun dan jumlah akar. Data dianalisis dengan Anava dua jalan dan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT). Hasil Anava menunjukkan, retardan berpengaruh signifikan terhadap pertambahan tinggi dan jumlah akar. Pertambahan tinggi dan jumlah akar mampu ditekan pertumbuhannya oleh retardan ABA. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan 0,3 mg/l ABA efektif untuk konservasi jangka menengah ubi kayu aksesi 430 dan 507. Cassava accession 430 and 507 are local varieties from Sumatera which population decrease as effect of superior varieties cultivation and deforestation, so its need to be preserved. The aim of this research is to analyse cassava growth in minimal medium by retardant in gene bank BB Biogen. This research used complete randomized design with two factors. First factor was type of retardants: cycocel and ABA, the second factor was accession of cassava: 430 and 507. Medium A is MS medium which supplemented with 0.01 mg/l NAA, 0.1 mg/l BA, 0.1 mg/l GA, 100 mg/l arginine, 100 mg/l glutamine and 100 mg/l glycine as basal medium. Explants that used in this research were shoot tips which have 2-3 segments which cultured in conservation medium for 16 weeks. Growth parameter measurement were increase of height, number of increase in segments, number of leaves and number of roots. Analysis data used two ways Anova and LSD in 5% level. Anova showed that retardant gave significant effect to increase the height and number of roots. Based on this research, 0.3 mg/l ABA was effective for middle conservation cassava accession 430 and 507.
Estimasi Stok Karbon Mangrove di Dukuh Tapak Kelurahan Tugurejo Kota Semarang Hakim, Muhammad Afif; Martuti, Nana Kariada Tri; Irsadi, Andin
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan gas-gas efek rumah kaca sebagai hasil berbagai aktivitas manusia dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Salah satu dampak dari pemanasan global yaitu perubahan iklim. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah meningkatkan peran mangrove sebagai penyerap karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan stok karbon pada tegakan mangrove dan C-organik pada sedimen mangrove. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling untuk menentukan enam stasiun penelitian, sampel diambil sekali tanpa pengulangan. Analisis C-organik menggunakan metode Spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukan mangrove di Dukuh Tapak memiliki kandungan biomassa sebesar sebesar 1507,91 ton/ha, stok karbon sebesar 708,2 ton C/ha, dan mampu menyerap CO2 sebesar 2598,65 ton/ha. Pola hubungan antara kerapatan dengan biomassa, biomassa dengan stok karbon, dan stok karbon dengan serapan CO2 menunjukkan adanya tiga macam persamaan yang memiliki nilai korelasi (R) yang positif yaitu sebesar 0,67, 1,00, dan 1,00. Jenis sedimen pada penelitian ini yaitu lumpur berpasir dengan rata-rata C-organik sedimen mangrove sebesar 4,4 %. Simpulan dari penelitian ini adalah kandungan stok karbon mangrove di Dukuh Tapak lebih tinggi dari penelitian stok karbon di pulau Kemujan TN. Karimunjawa dan kandungan C-organik sedimen mangrove di Dukuh Tapak termasuk dalam kriteria tinggi. The enhancement of gases greenhouse effects as a result of human activities contribute to global warming. One of the effects of global warming is the climate change. One of the efforts which should be made to reduce these impacts is improve the role of mangroves as carbon sinks. The purpose of this study is to determine the content of carbon stock in mangrove stands and C-organic in mangrove sediments. The sampling method used in this research was purposive sampling method, in order to determine the six research stations, samples were taken once without repetition. C-organic analysis using spectrophotometry method. The results showed that mangrove in Tapak hamlet has a biomass content of at 1507.91 tons/ha, the carbon stock of 708.2 tons C/ha and capable of absorbing CO2 of 2598.65 tons/ha. The pattern of the relationship between the density of the biomass, the biomass carbon stock and carbon stock with CO2 uptake showed three kinds of equations that has a value of correlation (R) were positive in the amount of 0.67, 1.00, and 1.00, respectively. The sediment type in this study is sandy mud with an average C-organic mangrove sediments of 4.4 %. The conclusion of this research is the content of carbon stocks in Tapak hamlet mangrove is igher than the carbon stock research on the Kemujan island TN. Karimunjawa and the content of C-organic mangrove sediments in Tapak hamlet is in the high criteria.
Pengaruh Konsentrasi Antibakteri Propolis terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus pyogenes secara In Vitro Milah, Nihayatul; Bintari, Siti Harnina; Mustikaningtyas, Dewi
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Propolis merupakan salah satu produk lebah madu yang memiliki banyak manfaat, salah satunya memiliki sifat sebagai antibakteri. Penelitian tentang antibakteri propolis sudah banyak dikembangkan baik di dalam negeri maupun luar negeri, namun belum ada penelitian antibakteri propolis terhadap bakteri Streptococcus pyogenes STR 10 yang bersifat Gram positif yaitu bakteri penyebab faringitis. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh konsentrasi antibakteri propolis terhadap pertumbuhan bakteri S. pyogenes secara in vitro dan menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Propolis diencerkan sehingga didapatkan konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12,5%. Uji antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi dengan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian propolis 100%, 50%, 25% dan 12,5% mampu membentuk rata-rata diameter zona hambat berturut-turut yaitu 19,76 mm, 10,9 mm, 5,97 mm dan 3,3 mm. Simpulan dari penelitian ini adalah konsentrasi propolis secara in vitro berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri S. pyogenes. Semakin tinggi konsentrasi propolis maka semakin kuat daya hambat bakterinya. Propolis mempunyai sifat antibakteri karena mengandung senyawa flavonoid yang bekerja dengan mengganggu permeabilitas sel bakteri. Konsentrasi penghambatan minimum propolis untuk bakteri Streptococcus pyogenes adalah 12,5%. Propolis is a natural product produced by honey bees that has many benefits, one of them is it has antibacterial properties. Research on antibacterial propolis has been developed both domestically and abroad, but there is still no research about antibacterial propolis against Gram-positive bacteria namely Streptococcus pyogenes, bacteria that cause pharyngitis. The purpose of this research was to determine the effect of antibacterial concentration of propolis on the growth of S. pyogenes bacteria by in vitro and to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Liquid propolis sample was diluted using a dilution series to get propolis with a concentration of 100%, 50%, 25%, and 12.5% ​​for antibacterial testing against the bacteria S. pyogenes STR 10. Antibacterial test in this research was used diffusion method with four replication to determine MIC. The results showed that propolis treatment 100%, 50%, 25% and 12.5% ​ formed the ​average inhibition zone diameter 19.76 mm, 10.9 mm, 5.97 mm and 3.3 mm, respectively. The conclusion of this research is the concentration of propolis antibacterial affect the growth of S. pyogenes bacteria by in vitro. Higher concentration of propolis give the effect of stronger the inhibition of bacteria growth. Propolis has antibacterial properties due to their flavonoids contained which work by disrupting the bacterial cell permeability. The MIC of propolis for the S. pyogenes is 12.5%.
Keanekaragaman Crustacea di Ekosistem Mangrove Wilayah Tapak Kelurahan Tugurejo Kota Semarang Handayani, Octarina Tri; Ngabekti, Sri; Martuti, Nana Kariada Tri
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman Crustacea di ekosistem mangrove wilayah Tapak, Semarang. Metode purposive sampling digunakan untuk menentukan tujuh stasiun pengumpulan sampel. Sampel diambil sebanyak 3 kali pengulangan dengan selang waktu 2 minggu. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menemukan 10 spesies Crustacea yaitu Metopograpsus thukuhar, Episesarma versicolor, Varuna yui, Panaeus mergulensis, Scylla serrata, Portunus pelagicus, Thalamita creanata, Uca sp., Uca bellator, Harpiosquills sp. Indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 0-1,57. Indeks H’ tertinggi berada pada stasiun VI (1,57) disusul oleh stasiun III (1,49), stasiun V (1,32) dan stasiun IV (1,18). Empat stasiun ini memiliki tingkat keanekaragaman dengan kriteria sedang. Stasiun I dan II memiliki H’ 0,95 dan 0,93 tergolong kriteria rendah. Stasiun VII H’-0 karena hanya ditemukan satu spesies. Indeks kemerataan berkisar antara 0 (terendah di stasiun VII) dan 0,81 (tertinggi di stasiun VI). Keanekaragaman Crustacea sangat dipengaruhi oleh parameter salinitas, pH, suhu, substrat, dan O2. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat keanekaragaman Crustacea di ekosistem mangrove Tapak tergolong kriteria rendah sampai sedang. The aims of this study is to determine the diversity of Crustaceans in the mangrove ecosystem Tapak Semarang region. The purposive sampling was used to select seven stations to collect the samples. The samples were taken three times repetition with two weeks interval. Data obtained then analyzed for the diversity index, evenness index, and dominance index. Result find that there were 10 species of Crustaceans that are Metopograpsus thukuhar, Episesarma versicolor, Varuna yui, Panaeus mergulensis, Scylla serrata, Portunus pelagicus, Thalamita creanata, Uca sp., Uca bellator, Harpiosquills sp. The diversity index (H’) ranges from 0-1.57. The highest index H’ was at station VI (1.57) followed by station III (1.49), station V (1.32) and station IV (1.18). These four stations have diversity levels with moderate criteria. The stations I and II have H’ 0.95 and 0.93 are low criteria. Station VII H’-0 because only one species was found. The similarity index ranged from 0 (lowest at station VII) and 0,81 (highest at station VI). Diversity of Crustaceans is strongly influenced by salinity, pH, temperature, substrate and O2 parameters. Based on the research, it can be concluded that the level of Crustaceans diversity in the mangrove ecosystem Tapak classified from low to moderate criteria.
Produksi Biohidrogen dari Limbah Organik Cair Molase dan Vinasse Menggunakan Bakteri Rhodobium marinum Anhari, Saeful; Bintari, Siti Harnina; Mubarok, Ibnul; Susilaningsih, Dwi
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biohidrogen merupakan salah satu sumber energi alternatif terbarukan yang dihasilkan melalui proses biologis menggunakan bahan baku biomassa organik dengan melibatkan mikroorganisme penghasil gas hidrogen. Penelitian ini bertujuan menentukan dan membandingkan rasio kebaharuan terhadap produksi gas biohidrogen dari limbah organik cair molase dan vinasse selama fotofermentasi menggunakan Rhodobium marinum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap tiga faktor, terdiri dari jenis limbah (molase dan vinasse), konsentrasi limbah (10%, 50%, 100%) dan pH limbah (6, 7, 8), pola perlakuan 2x3x3 dengan tiga kali ulangan. Penelitian ini memiliki alur penelitian: pembuatan media tumbuh bakteri, kultivasi bakteri, persiapan media produksi, karakterisasi media produksi, fotofermentasi, dan pengukuran kadar biohidrogen. Rerata hasil produksi gas biohidrogen limbah molase tersignifikan berturut-turut pada K1P3, K2P3, K3P3 sebesar 86/10-1 L kultur, 146/10-1 l kultur, 188/10-1 L kultur dan produksi gas biohidrogen limbah vinasse berturut-turut pada K2P3, K3P3 sebesar 86/ 10-1 L kultur, 110/ 10-1 L kultur. Kesimpulan yang diperoleh bahwa rasio kebaharuan produksi gas biohidrogen molase:vinasse sebesar 27:20. Produksi gas biohidrogen tertinggi pada limbah molase sebesar 188/10-1 L kultur dan limbah vinasse sebesar 110/10-1 L kultur. Biohydrogen is one alternative renewable energy sources produced through biological processes using organic biomass feedstocks involve hydrogen gas-producing microorganisms. This study aims to determine and compare the recency ratio biohydrogen to gas production from organic waste liquid molasses and vinasse by Rhodobium marinum fotofermentation. This study used a completely randomized design of three factors, comprised of the types of waste (molasses and vinasse), effluent concentration (10%, 50%, 100%) and a pH of waste (6, 7, 8) with a pattern of treatment 2x3x3 in three replications. The stages of research were: creation of bacterial growth media, bacteria cultivation, preparation of media production, media characterization of production, fotofermentation, and measurement of biohydrogen. Average results of biohydrogen gas production waste molasses for K1P3, K2P3, K3P3 as amount of 86 / 10-1 L culture, 146 / 10-1 L culture, 188 / 10-1 L culture, respectively and production biohidrogen gas of vinasse waste of K2P3, K3P3 by 86 / 10-1 L culture, 110 / 10-1 L culture, respectively. The conclusion that the newness ratio of biohydrogen production molasses: vinasse was at 27:20. The highest gas production biohydrogen on molasses waste by 188 / 10-1 l culture and vinasse waste by 110 / 10-1 L culture.
Identifikasi Ektoparasit pada Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) yang Dibudidayakan di Balai Benih Ikan (BBI) Boja Kendal Hasyimia, Umi Salmah Al; Dewi, Nur Kusuma; Pribadi, Tyas Agung
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang sering dialami dalam budidaya ikan lele adalah timbulnya penyakit dan kematian. Penyakit yang menyerang ikan dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, virus, maupun parasit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jenis ektoparasit yang menyerang pembenihan ikan lele Sangkuriang di Balai Benih Ikan Boja, Kendal. Penelitian dilaksanakan di tiga kolam budidaya (A3, A4, dan A5). Masing-masing kolam diambil lima belas ikan sebagai sampel yang diambil secara acak di lima titik pengambilan. Ikan yang dijadikan sampel adalah benih ikan lele Sangkuriang ukuran 3-5 cm dengan kriteria berat ±0,6 gram. Pemeriksaan ektoparasit dilakukan dengan cara mengerok lendir bagian luar tubuh ikan dari kepala sampai ekor. Kemudian lendir dioleskan ke object glass, ditetesi akuades, ditutup cover glass, dan diamati di bawah mikroskop. Hasil pemeriksaan ektoparasit dianalisis secara deskriptif. Data yang diperoleh ditabulasikan ke dalam tabel dan grafik. Hasil penelitian didapat dua jenis ektoparasit yang berasal dari sub kelas Monogenea, yaitu genus Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Prevalensi parasit tertinggi adalah Gyrodactylus sp. sebesar 100%, sedangkan nilai intensitas parasit tertinggi adalah parasit Gyrodactylus sp. sebesar dua individu/ekor. Tingginya prevalensi Gyrodactylus sp. disebabkan tingginya kepadatan populasi dan berkurangnya kualitas lingkungan hidup sehingga menjadikan ikan stres dan mudah terserang parasit. Disease and mortality of catfish is the main problem of catfish cultivation. Catfish disease may be caused by bacteria, fungi, viruses or parasites. The aim of this research was to find out the kind of ectoparasites attack Sangkuriang catfish seedlings in Balai Benih Ikan Boja, Kendal. Research carried out in three ponds of cultivation (A3, A4, and A5). Each ponds were taken fiveteen fishes randomly at five point as sample. The fish sampled is Sangkuriang catfish seed size 3-5 cm with weight ±0,6 gram. Ectoparasite examination was done by scraping mucus outside the body of fish from head to tail. The mucus spread to object glass, dropped by aquades, covered by glass cover and observed under a microscope. The results obtained two types of ectoparasites derived from sub-class Monogenea, namely genus Gyrodactylus and Dactylogyrus. The highest prevalence of parasites was Gyrodactylus sp. 100%, while the highest parasite intensity value was the parasite Gyrodactylus sp. for two parasites/fish. The high prevalence of Gyrodactylus sp. is due to high population density and reduced of environmental quality, caused fish stress and susceptible to parasites.

Page 1 of 1 | Total Record : 6