cover
Contact Name
-
Contact Email
pawiyatan@ivet.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
pawiyatan@ivet.ac.id
Editorial Address
Jl. Pawiyatan Luhur IV No.16, Bendan Duwur, Kec. Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50235
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Pawiyatan
Published by Universitas IVET
ISSN : -     EISSN : 27214702     DOI : -
Core Subject : Social,
Pawiyatan menyediakan sebuah platform untuk para dosen, peneliti, pelajar, praktisi dan akademisi untuk mempromosikan pengetahuan dan kredibilitas pada pendidikan. Jurnal yang diterbitkan dua kali setahun pada bulan januari dan juli berisi artikel-artikel yang terdiri dari makalah penelitian teoritis dan empiris berkualitas tinggi, makalah tinjauan dan pengabdian pada masyarakat.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 23 No 1 (2016)" : 11 Documents clear
PENYELAMATAN HUTAN: PERAN DAN FUNGSINYA BAGI PARU-PARU KOTA
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber daya alam (SDA) yang berpengaruh pada kondisi bumi dan kehidupan makhluk hidup adalah hutan, karena sebagai  paru-paru dunia. Setiap hutan yang ada pada daerah berbeda, memiliki perbedaan jenis tumbuhan dan hewan yang tidak dapat ditemukan di hutan lain. Atau dalam kata lain, setiap hutan yang ada di beberapa daerah memiliki karakteristik masing-masing. Hal ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan iklim, tanah, dan bentuk bentang lahan di setiap daerah tersebut. Meskipun karakteristik setiap hutan berbeda, namun pada dasarnya hutan di seluruh dunia memiliki 3 (tiga) bagian yang sama. Pertama  adalah bagian atas tanah hutan. Bagian  ini dapat ditemui berbagai macam tumbuhan, hewan dan pepohonan yang memiliki daun-daun lebar dan lebat serta batang kayu dengan lingkar batang yang luas. Kedua adalah bagian permukaan tanah. Bagian ini di tumbuhi dengan semak belukar dan rerumputan yang hijau. Selain itu tampak juga hewan-hewan melata, serangga-serangga yang hinggap di dedaunan, dan serasah (guguran segala batang, cabang, daun, ranting, bunga, dan buah yang sudah kering). Ketiga adalah bagian bawah hutan. Bagian ini berada di bawah permukaan serasah atau lapisan tanah paling atas sampai di dalam permukaan bumi, bagian ini dapat terlihat akar dari berbagai tumbuhan dengan berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari ukuran kecil, sedang dan besar. Melihat bahwa unsur-unsur yang ada dalam lingkungan hidup tidak secara tersendiri melainkan secara terintegrasi sebagai komponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Wajar jika dengan menyelamatkan hutan berarti menyelamatkan lingkungan, hutan yang mempunyai multi fungsi akan menyelamatkan semua komponen kehidupan di bumi ini bila kita melestrikan. Secara global hutan merupakan paru-paru dunia dan dapat mengurangi pemanasan suhu bumi, mencegah kekeringan saat kemarau dan mencegah banjir serta longsor saat musim hujan. Kata Kunci: Penyelamatan hutan, peran, fungsi.
PENERAPAN NILAI-NILAI MULTIKULTURAL DALAM INSTITUSI PENDIDIKAN
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan berbasis nilai-nilai multikultural merupakan suatu proses pendidikan ber-jenjang yang dapat pengikat dan menjadi jembatan dalam mengakomodasi perbedaan-perbedaan seperti: status sosial, budaya, etnis, ras, gender dan agama dalam masyarakat yang multikultur agar tercipta kepribadian yang cerdas, bijak dan santun dalam menghadapi masalah-masalah keberagaman. Paradigma pendidikan multikultural sangat bermanfaat untuk membangun harmoni sosial di antara keragaman etnik, ras, agama, budaya dan kebutuhan sebagai bangsa-negara.  Mengingat kompleksitas pluralitas dan multikultural di Indonesia dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang  beragam dan luas, maka diperlukan strategi khusus untuk memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang: sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan.  Berkaitan dengan hal itu,  pendidikan berbasis nilai-nilai multikultural menawarkan solusi melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang bermuatan pada pemanfaatan keragaman yang ada di dalam masyarakat. Oleh karenanya, pendidik dituntut  tidak hanya menguasai dan mampu secara profesional mengajarkan mata pelajaran  yang diajarkan, tetapi  juga harus mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme, dan pluralisme atau menanamkan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif pada siswa. Pada gilirannya, out-put yang dihasilkan  tidak hanya kompeten sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, namun juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan dalam memahami dan menghargai keberadaan perbedaan yang ada. Keyword:  Nilai-nilai multikultural, institusi pendidikan.
STRATEGI PENDIDIKAN YANG IDEAL UNTUK INDONESIA
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual dan kepribadian yang handal dan memiliki kecerdasan serta ketrampilan untuk kepentingan pribadi, masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karenanya pendidikan harus diarahkan mencapai fungsi mengembangkan kemampuan, membentuk watak, dan membangun peradaban bangsa. Secara akademik pendidikan sudah menunjukkan keberhasilan, namun disisi lain masih perlu pembenahan terutama dalam pembentukan watak dan membangun peradaban bangsa masih perlu memperoleh perhatian yang serius serta dibutuhkan strategi yang ideal. Strategi yang paling ideal untuk pendidikan di Indonesia adalah melalui pendidikan karakter yang kuat di semua lini lembaga pendidikan kita. Kata kunci : Strategi, Pendidikan, Ideal, Indonesia.
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP KINERJA DOSEN BIMBINGAN DAN KONSELING IKIP VETERAN SEMARANG
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan kebutuhan dan hak asasi setiap manusia untuk mempersiapkan kehidupannya, baik sebagai makhluk pribadi maupun sosial. Pendidikan sebagai wahana yang tepat dalam meningkatkan kualitas  SDM, sehingga wajar bila melalui pembangunan bidang pendidikan dapat memberikan peningkatan mutu secara signifikan dalam pengembangan SDM.  Oleh karena itu, kualitas pendidikan harus dioptimalkan, salah satu peran penting adalah  pada dosen,  karena dosen merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Dosen menduduki posisi strategis yang akan memberikan kontribusi langsung terhadap kualitas hasil pembelajaran bagi mahasiswa. Penelitian ini  mengkaji secara empirik beberapa permasalahan penting dalam manajemen pendidikan, khusunya manajemen SDM.  Terlebih setelah pemerintah mencanangkan berbagai kebijakan pendidikan yang berorientasi pada peningkatan mutu. Kebijakan pemerintah dalam pendidikan itu diberlakukan berdasarkan berbagai analisis, pertimbangan dan prediksi yang realistis, sehingga tujuan utama pendidikan  untuk mencerdaskan manusia Indonesia dapat terwujud. Namun apakah para dosen yang mengajar di progdi BK  pada Fakultas Ilmu Pendidikan di IKIP Veteran Semarang  telah memiliki kualitas dan profesionalitas sesuai tuntutan Undang-Undang No: 14/2005 tentang Guru dan Dosen?, maka peneliti memandang perlunya dilakukan penelitian ini. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan model deskriptif kuantitatif yang diberikan kepada seluruh mahasiswa reguler progdi BK berjumlah 97 orang. Alat pengumpul data adalah dokumen dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap kinerja dosen Bimbingan Konseling pada Fakultas Ilmu Pendidikan di IKIP Veteran Semarang berada pada kriteria sangat baik, hal ini dapat dilihat dari indikator-indikator: (1) dukungan dalam pengentasan perilaku menyimpang 83,81%, (2) pemberian motivasi untuk berperilaku positif 86,24%, (3) dukungan dalam penyesuaian dengan lingkungan 78,87%, dan (4) motivasi dalam kebiasaan belajar yang baik 77,37% dari keseluruhan responden yang berjumlah 97 mahasiswa BK.     Kata Kunci: Persepsi mahasiswa, kinerja dosen BK.
PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA DI ERA GLOBALISASI MELALUI PENDIDIKAN
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor yang amat penting dalam pembangunan. Ketersediaan SDM yang berkualitas akan memberikan manfaat yang optimal bagi pembangunan untuk peningkatan dan perbaikan kesejahteraan. Secara empiris, negara-negara industry maju berbasis atau didukung oleh kualitas SDM yang handal. Di era global ini, kompetensi di berbagai bidang kehidupan antar bangsa sangat ketat. Untuk bias berkompetensi di era global ini, jelas SDM yang berkualitas handal niscaya harus dimiliki oleh setiap bangsa. Oleh karena itu, setiap bangsa dituntut untuk menyediakan SDM yang berkualitas yang jumlahnya harus memadahi. Melalui pendidikan dapat disiapkan SDM yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu upaya utama untuk mewujudkan SDM yang berkualitas. Peningkatan kualitas SDM merupakan tanggung jawab semua pihak. Kata Kunci : SDM, Pendidikan
PEMILIHAN MEDIA YANG TEPAT DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran disekolah pada saat ini mulai disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan. Perkembangan yang sangat  pesat tersebut mempercepat aliran ilmu pengetahuan yang menembus batas-batas dimensi ruang dan waktu. Tentu saja hal ini berpengaruh pada kebiasaan dan budaya pendidikan yang dikelola selama ini. Kemajuan dan perkembangan teknologi sudah demikian menonjol sehingga penggunaan alat-alat bantu mengajar berupa media harus disesuaikan dengan kondisi perkembangan zaman saat ini. Selain itu juga harus disesuaikan dengan tuntutan kurukulum baik materi,metode maupun tingkat kemampuan belajar peserta didik agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik dan optimal disekolah. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menggunakan peralatan-peralatan berupa media dalam pembelajarannya, sehingga dapat memperlancar dan mempermudah peserta didik untuk mencerna dan memahami materi yang diberikan serta pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Media pembelajaran adalah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara peserta didik, guru dan materi pelajaran. Substansi dari  media pembelajaran adalah bentuk wahana yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan atau peserta didik. Dapat pula dikatakan bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta didik yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena ketidakjelasan materi yang disampaikan oleh guru dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kesulitan materi yang disampaikan guru kepada peserta didik dapat diatasi dengan bantuan media. Namun peranan media tidak akan terlihat bila pemilihannnya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.karena itu , tujuan pembelajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Apabila diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Dalam aspek media pembelajaran sejarah, guru dituntut memiliki kreativitas memilih media pembelajaran yang tepat sehingga kegiatan pembelajaran tampak lebih menarik dan interaktif serta tidak terkesan membosankan. Agar media pembelajaran yang dipilih guru itu tepat, disamping harus memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan. Dengan pemilihan Media yang tepat diharapkan kegiatan belajar peserta didik akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik. Akhirnya dapat dipahami bahwa pemilihan media pembelajaran sejarah dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.Kata Kunci : Pemilihan Media Yang Tepat, Pembelajaran Sejarah     
MANAJEMEN PENGORGANISASIAN SELF REGULATED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN AGAMA, MORAL DAN DISIPLIN PADA ANAK USIA DINI
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran agama moral dan disiplin merupakan salah satu materi dasar dalam pendidikan yang harus disampaikan kepada anak sebagai pondasi dasar keimanan dan panduan prilaku agar dapat menjadi individu yang baik. Pendidikan agama dan moral bertujuan untuk menumbuh kembangkan benih-benih keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sedini mungkin dalam kepribadian anak didik yang terwujud dalam perkembangan kehidupan jasmaniah dan rohaniah sesuai dengan tingkat perkembangannya. Keberhasilan Pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa aspek, salah satunya adalah metode pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Metode pembelajaran dengan penerapan Self Regulated Learning (SRL) menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan dalam pembelajaran agama dan moral pada anak usia dini. SRL menempatkan urgensi kemampuan anak untuk belajar disiplin mengatur dan mengendalikan diri sendiri serta belajar atas inisiatif sendiri. Hal ini sesuai dengan materi pembelajaran yang menuntut anak untuk dapat memahami agama dan mampu mengamalkan nilai-nilai moral berdasarkan kesadaran diri bukan pada unsur doktrinasi. Pembelajaran berbasis Self Regulated Learning akan membantu anak memahami dan mengamalkan materi pembelajaran agama dan moral dengan baik. Menumbuhkan inisiasi dalam pembelajaran agama dan moral guru menempatkan diri sebagai fasilitator dan motivator dengan memahami keunikan–keunikan yang terdapat pada diri anak yang muncul karena individual differences.  Anak–anak akan tumbuh rasa empatinya dan selalu bangga menemukan pengetahuan yang muncul dari perbedaan ini. Untuk itu pembelajaran SRL pada anak usia dini perlu di terapkan dalam pembelajaran agama dan moral sebagai upaya pembinaan anak sejak dini dalam menumbuhkan rasa empati dan potensi - potensi yang di miliki melalui pembiasaan–pembiasaan positif serta kesadaran melaksanakan tugas–tugasnya dengan baik dan menghargai setiap perbedaan. Kata Kunci : Pembelajaran Agama Moral dan Disiplin, Manajemen, Self Regulated Learning, Anak Usia Dini
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan pada istri adalah suatu perlakuan atau situasi yang menyebabkan kualitas aktual seseorang ada di bawah kualitas potensialnya,artinya  ada sebuah situasi yang menyebabkan segi kemampuan atau potensi individu tidak muncul. Situasi yang menyebabkan potensi menjadi terhambat itu bermacam–macam dapat berupa teror–teror berencana yang menyebabkan seorang istri ketakutan dan tertekan, dapat berupa sikap pengekangan, sehingga anggota keluarga tersebut menjadi bodoh, terbelakang dan lain sebagainya. Dengan demikian kekerasan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan potensi seseorang tidak dapt diakulisasikan. Bentuk-bentuk kekuasaan yang dilakukan oleh suami pada istri digolongkan menjadi 4 (empat) kategori kekerasan, yaitu: (1) kekerasan fisik; (2) kekerasan psikis/emosional; (3) kekerasan seksual; dan (4) kekerasan ekonomi. Seorang istri bisa mengalami salah satu bentuk kekerasan maupun semua bentuk kekerasan tersebut. Akan munculnya  kekerasan suami pada istri ini berawal dari konstruksi sosial yang keliru dimana budaya menetapkan kedudukan laki-laki setingkat lebih tinggi dari pada perempuan. Hal ini dinamakan tatanan sosial yang dilandasi pada sistem yang patriarkhis. Ada juga teori  yang menjelaskan kekerasan suami pada istri ini muncul adanya sisi individual dari suami atau istri yang memicu terjadinya kekerasan seperti: faktor lingkungan, keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi, ras, pecandu alkohol, sakit mental, dan sebagainya. Meskipun sisi individu seseorang juga dapat memicu terjadinya kekuasaan pada istri, namun kerangka yang lebih besar dari munculnya kekerasan   ini adalah faktor tatanan sosial yang patriarkhis. Oleh karena itu upaya yang utama adalah mengurangi mistos-mitos  merugikan perempuan (istri), terutama yang berkaitan dengan kekerasan, perlu dilakukan oleh istri sendiri maupun pihak-pihak lain yang terkait  seperti: masyarakat,  suami, aparat penegak hukum maupun lembaga swadaya yang lain. Kampanye-kampanye untuk mempopulerkan fakta kekerasan juga dipandang perlu agar persoalan seperti ini jangan dipendam sendiri oleh istri dan  dianggap tabu sehingga masyarakat menganggap remeh/tidak penting persoalan ini.  Kata Kunci: Kekerasan, suami pada istri.
PEMBANGUNAN HUKUM TANAH NASIONAL BERDASARKAN KONSEP NEGARA HUKUM PANCASILA
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) sebagai Hukum Tanah Nasional merupakan salah satu karya monumental bangsa Indonesia, karena UUPA dibangun berdasarkan konsep negara hukum Pancasila. UUPA berhasil merombak hukum tanah kolonial menjadi hukum tanah nasional. UUPA merupakan produk hukum yang bersifat prismatik. UUPA di satu sisi merupakan cermin budaya masyarakat Indonesia dan di sisi lain merupakan a tool of social engeneering. Namun dalam implementasinya, banyak hal yang tidak sejalan dengan UUPA. Banyak produk hukum yang merupakan pelaksanaan dan penjabaran lebih lanjut dari UUPA justru menampakan diri bertentangan dengan jiwa UUPA. Produk hukum yang bertentangan ini misalnya terkait dengan maraknya penguasaan tanah oleh orang asing, paksaan pemerintah terhadap rakyat, dan berpihaknya peraturan perundangan kepada pemilik modal besar dengan mengaibaikan kepentingan rakyat. Pembangunan hukum tanah nasional berdasarkan konsep negara hukum Pancasila harus terus diupayakan untuk mencapai tujuan nasional, untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia. Politik hukum merupakan salah satu piranti membangun hukum tanah nasional berdasarkan konsep negara hukum Pancasila. Kata-kata kunci: hukum tanah nasional, prismatik, negara hukum Pancasila.
PENDIDIKAN KARAKTER: SALAH SATU ALAT PEMERSATU BANGSA
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Selain itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter. Pendidikan karakter pada anak-anak sangat penting, karena anak-anak adalah generasi yang akan menentukan nasib bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak yang terbentuk sejak sekarang akan sangat menentukan karakter bangsa di kemudian hari. Pada anak-anak,  proses pendidikan karakter di mulai proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur.  Peran guru dalam pendidikan karakter untuk peserta didik di sekolah ialah, guru memiliki posisi yang strategis sebagai pelaku utama. Guru merupakan sosok yang bisa ditiru atau menjadi idola bagi peserta didik. Guru bisa menjadi sumber inpirasi dan motivasi peserta didiknya. Sikap dan perilaku seorang guru sangat membekas dalam diri siswa, sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi cermin siswa. Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Tugas-tugas manusiawi itu merupakan transpormasi, identifikasi, dan pengertian tentang diri sendiri, yang harus dilaksanakan secara bersama dalam kesatuan organis, harmonis, dan dinamis, lebih besar dalam konteks negara-bangsa. Kata Kunci: Pendidikan karakter, pemersatu bangsa

Page 1 of 2 | Total Record : 11