cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 6 Documents clear
Peran dan Tantangan FBNG O Humanitarian Internasional di Indonesia Yang Multikultur (Studi atas Muslim Aid dan Catholic Relief Services) Suhadi Suhadi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1063

Abstract

Sampai saat ini masih cukup banyak NGO internasional yang bekerja untuk Indonesia, terutama setelah belakangan ini banyak terjadi bencana alam. Salah satu tipe NGO tersebut adalah NGO yang berdasarkan agama atau faith based NGO (FBNGO). Tulisan ini mengkaji dua FBNGO: Catholic Relief Services (CRS) dan Muslim Aid (MA). Pertanyaan yang diajukan adalah, pertama, bagaimana taxonomi dua FBNGO yang bekerja dalam bidang humanitarian tersebut? Kedua, apa tantangan yang dihadapi oleh CRS dan MA dalam mengimplementasikan program-programnya dalam konteks Indonesia yang multikultur dan bagaimana strateginya untuk mengatasi tantangan itu? Kesimpulannya, baik MA maupun CRS dapat diklasifikasikan dalam taxonomi sintesis humanitarian. Identitas kelembagaan dua institusi tersebut adalah religius cum humanis. Kedua lembaga ini juga memegang kuat prinsip-prinsip dan standar-stadar humanitarian internasional, termasuk dalam berinteraksi dengan para penyintas. Meskipun demikian, tidak berarti CRS dan MA tidak menghadapi tantangan di lapangan, termasuk yang berkaitan dengan identitas agama yang sensitif. Oleh karena itu, dua FBNGO ini terdorong mengembangkan strategi bagaimana mengatasi masalah akibat sensitifitas agama yang kadang-kadang muncul di lapangan.[There are many international NGOs working for Indonesia, especially after the natural disasters have occurred during the last decade. One type of such NGO is faith-based NGO (FBNGO). This paper examines two FBNGOs: Catholic Relief Services (CRS) and Muslim Aid (MA). The questions are how is the taxonomy of the two FBNGOs working for humanitarianism? Then, what are the challenges faced by CRS and MA in implementing their programs in multicultural Indonesia society and how is the strategy to overcome those challenges? In conclusion, both MA and CRS can be classified as the humanitarian synthesis taxonomy. Institutional identity of the two institutions are religious cum humanism. Both institutions also hold strong principles and standards of international humanitarianism including in interacting with the survivors. However, it does not mean CRS and MA do not face challenges in the field, especially those relating to sensitive religious identity. Therefore, these two FBNGO encouraged to develop strategies to overcome problems due to religious sensitivities that sometimes appear in the field.]
Sekolah Pascasarjana PTAIN (Ujian Komprehensif, Upaya Peningkatan Kualitas Program Doktor) Akh. Minhaji
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1064

Abstract

Tidak ada abstrak
Perancangan Repository Sekolah di Perprpustakaan SMA Negeri 5 Magelang Suryanto Suryanto
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1065

Abstract

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Pasal 17 menetapkan bahwa untuk kenaikan pangkat guru harus membuat publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif. Oleh karena itu keberadaan karya ilmiah atau buku hasil karya guru akan selalu bertambah setiap tahunnya. Namun ruang perpustakaan SMA Negeri 5 Magelang yang kecil tentu tidak akan mampu menampung setiap karya tulis dalam bentuk hardcopy. Maka perlu alternatif lain yang mampu menampung semua karya tulis tersebut dengan tidak menghabiskan banyak ruang yaitu dengan membuat repository sekolah. Untuk membangun suatu Repositori Sekolah diperlukan suatu proses mulai benchmarking, menyiapkan sumberdaya, dukungan pimpinan, prosedur dan peraturan, perangkat keras dan lunak serta jaringan, dan manajemen untuk menangani informasi muatan lokal. Hasil penelitian berupa suatu model repository sekolah yang diterapkan dengan memanfaatkan infrastruktur yang telah ada di Perpustakaan SMA Negeri 5 Magelang[Stipulates that for the promotion of teachers should make scientific publications and/or innovative work. Therefore, the existence of scientific papers or books works the teacher will always be growing every year. But the library space of SMA Negeri 5 Magelang that small would not be able to accommodate any paper in hardcopy. Then need other alternatives that can accommodate all these papers with not a lot of space are to create a school repository. To build a school repository required a benchmarking process began, preparing resources, leadership support, procedures and regulations, hardware and software as well as network and information management to handle local content. The results of research in the form of a model repository schools that applied by utilizing the existing infrastructure at the Library of SMA Negeri 5 Magelang.]
Pemuda dalam al-Qur’an dan Hadis Muhammad Anshori
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1060

Abstract

Tulisan ini membahas tentang istilah yang digunakan dalam al-Qur’an dan hadis terkait dengan pemuda. Masalah pemuda memang menarik untuk dikaji karena mereka memiliki peran penting dalam membangun masyarakat, negara, dan peradaban. Peran pemuda sangat diharapkan untuk generasi sekarang dan generasi mendatang, tidak ada yang mengingkari hal ini karena sudah jelas. Tulisan ini tidak membahas masalah pemuda secara umum, tetapi hanya terfokus pada kata yang terkait dengannya. Dalam al-Qur’an ada dua kata yang digunakan, yaitu fatā dan fityah, baik dalam bentuk mufrad ataupun tas|niyah. Kedua kata ini ditujukan kepada tokoh-tokoh baik, seperti Nabi Ibrahim, murid Nabi Musa, para penghuni goa (ashāb al-kahfi), dan Nabi Yusuf. Sedangkan kata pemuda yang digunakan dalam hadis adalah syāb dan syabāb.Konteks penggunaan kedua kata ini berbeda-beda, termasuk juga dalam kajian alam akhirat, seperti pemuda yang akan dinaungi pada hari akhirat kelak. Dari segi kritik sanad dan matan hadis, ditemukan ada satu hadis bermasalah yaitu hadis terkait dengan nikah pemuda. Masalah nikahmemang bukan terkait halal-haram tetapi karena hadis itu berasal dari Nabi maka perlu diteliti. Kritik sanad dan matan hadis memang hal yang urgen dalam kajian hadis, baik dari masa lalu ataupun masa sekarang.[This paper discusses the terms used in the Qur'an and hadiths related to youth. The problem of youth is indeed interesting to study because they have an important role in building society, state and civilization. The role of youth is expected for present and future generations, no one can deny this because it is clear. This paper does not discuss youth issues in general, but only focuses on the words related to them. In the Koran, two words are used, namely fatā and fityah, either in the form of mufrad or tas | niyah. These two words are addressed to good figures, such as the Prophet Ibrahim, the disciples of the Prophet Musa, the inhabitants of the cave (ashāb al-kahfi), and the Prophet Yusuf. Meanwhile, the word youth used in the hadith is syāb and shabāb. The context for the use of these two words is different, including in the study of the afterlife, such as youths who will be shaded in the afterlife. In terms of the criticism of sanad and hadith observations, it is found that there is one problematic hadith, namely the hadith related to youth marriage. The problem of marriage is not related to halal-haram but because the hadith comes from the Prophet, it needs to be examined. The criticism of sanad and matan hadith is indeed an urgent matter in the study of hadith, both from the past or the present.] 
Peran dan Tantangan Pengembangan Pendidikan Islam Berwawasan M ultikultural di Pesantren Sunan Pandanaran Niswatin Faoziah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1061

Abstract

Penelitian ini memfokuskan diri pada kajian pesantren sebagai Lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia dan berpengaruh khususnya dikalangan masyarakat bawah (grassroots) dalam merespon perubahan sosial dan multikulturalisme sebagai konsekuensi dari tantangan kehidupan global. Karena itu perlu dilakukan sebuah kajian untuk meneliti peran pendidikan Islam di pesantren dalam mengembangkan nilai- nilai multikultural. Penelitian ini merumuskan dua tujuan penelitian yang terdiri dari: (1) mengidentifikasi implementasi pengembangan pendidikan Islam berwawasan multikultural di pesantren Sunan Pandanaran; (2) menganalisis peran dan tantangan yang dihadapi pesantren dalam mengembangkan model pendidikan Islam berwawasan multikultural. Metode yang digunakan untuk menjawab tujuan yang ingin dicapai adalah metode deskriptif kualitatif dan menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview), observasi dan studi dokumen dalam pengumpulan datanya. Penelitian lapangan ini diselenggarakan di pesantren Sunan Pandanaran Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa; (1) nilai-nilai multicultural tampak tercermin dan telah menjadi prinsip di pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. (2) terdapat empat faktor penting yang berperan dalam pengembangan pendidikan Islam berwawasan multicultural yakni; a. tradisi pengajian kitab kuning, b. paham keagamaan pesantren yang inklusif dan toleran, c. kurikulum pesantren d. peran guru dalam pengembangan nilai- nilai multikultural. (3) Kompetensi beberapa guru yang minim akan wawasan multikultur menjadi hambatan utama dalam pengembangan pendidikan Islam berwawasan multikultural di pesantren. Selain itu, dalam konteks pengembangan pendidikan Islam multikultural, minimnya ruang untuk melakukan refleksi dan kurangnya kesempatan dialog dalam pengajaran kitab kuning menjadi persoalan tersendiri.[This research focuses on the study of pesantren as the oldest Islamic educational in Indonesia, and the influential institution especially among the grassroots in response to social change and multiculturalism as a consequence of the global challenges of life. It is necessary for the study to examine the role of Islamic education at Pesantren in promoting multicultural values. The study formulated two research objectives which consisted of: (1) identify the implementation of the Islamic education promoting multicultural values in pesantren Sunan Pandanaran; (2) analyze the role and challenges met by pesantren in developing a model of multicultural education. This research was a qualitative descriptive analysis using in-depth interviews (in-depth interview), observation, and document research in its data collection. The fieldwork was conducted in pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta. Based on the research results revealed that; (1) the multicultural values were reflected and have become a good principle at pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta (2) there were four essential factors that contributed to the development of Islamic education promoting multicultural values including; a. recitation of the classical Islamic books, b. inclusive religious view, the curriculum of pesantren, d. the teacher’s role in the development of multicultural education. (3) The third teacher’s competence and some teachers with little understanding of multiculturalism seemed to be major challenges. Moreover, in the context of the development of Islamic education promoting multicultural values, the lack of space for reflection and dialogue especially in teaching classical Islamic book became other problems.]
Studi Hadits: Analisis terhadap Pemikiran Schacht dan A’zami Cahya Edi Setyawan
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v1i2.1062

Abstract

Perkembangan metodologi kritik otentititas Hadist pada abad ini sangat bervariasi. Keotentikan Hadist yang telah ditetapkan semenjak masa Khalifah masih saja diperdebatkan hingga saat ini. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan nalar berfikir para akademisi Hadist. Apalagi era ini, semakin berkembangnya kajian tentang study Islam Interdisipliner. Kolaborasi metodologi Barat digunakan untuk mengkritisi keotentikanHadist. Walaupun kontroversi, namun hal ini memberikan new contribution dalam keilmuan Hadist . Kritikan dan perdebatan tentang Keotentikan Hadist mengisi ruang kajian keilmuan yang agak vakum. Perdebatan Kaum Kiri dan Barat menjadi stimulus dalam pertumbuhan sebuah metodologi keilmuan Hadist. Mereka saling beradu argument untuk memperoleh kebenaran yang mereka yakini. Para ilmuan Barat dengan segala basic keilmuannya ingin membuka celah negative tentang keotentikan Hadist. Hal ini menimbulkan kontraksi keyakinan para ilmuan islam untuk menetapkan keotentikan hadist dan menunjukkan bahwa apa yang telah pemikir barat lakukan adalah salah. Diluar kebenaran dan ketidak benaran dalam dunia akademisi dan keilmuan itu adalah bentuk subyektifitas. Hal ini kiranya perlu diketahui, agar menjadi perhatian pakar Hadist untuk menjadikan sebuah stimulus guna memperoleh esensi kesalehan Hadist dan tidak terjebak didalam kebenaran masing-masing. Karena kebenaran haqiqi adalah milik Allah.[The development methodology otenticitas Hadith criticism in this century vary greatly. The authenticity of the Hadith at the time of Caliph and friends still debated. This is influenced by the development of logical thinking Hadith scholars. Especially now increasingly for developed Interdisciplinary studies of Islamic study. Collaboration west's scientific methodology used to scrutinize the authenticity of the Hadith. Despite the controversy, but it contributes to science in the world of academia. Criticism and debate about the authenticity of Hadith Sciences filling the space scientific assessment rather vacuum. Leftists and Western debate gave the stimulus to the growth of a scientific methodology Hadith. They clashing arguments to obtain the truth they believe. Western scientists with all the basic knowledge on to open the slit negative about the authenticity of the Hadith. This raises the confidence contraction of Islamic scientists to establish the authentic hadith and show that what western thinkers did was wrong. Beyond truth and untruth in the world of academia and science, it is a form of subjectivity. So keep in mind all of this, in order to become knowledge for experts Hadith to be a stimulus to get the essence of piety authenticity of the hadiths and not be caught up in the truth according to each. Because haqiqi is God’s truth.]

Page 1 of 1 | Total Record : 6