cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2019)" : 4 Documents clear
New Historicism: Kajian Sejarah dalam Karya Imajinatif Ukhruj Minha Ya Mal’un Saddam Hussein Ita Rodiah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1102

Abstract

Penelitian ini membuktikan bahwa kajian kesusastraan dengan menggunakan new historicism mampu mengungkap pelbagai kekuatan budaya, sosial, ekonomi, dan politik yang menyetubuh dan menyelinap dalam setiap sela teks sastra yang merupakan ranah estetik (aesthetic richness). Penelitian ini mengungkapkan bahwa karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan pelbagai konteks zaman dan praksis budaya, sosial, ekonomi, serta politik yang melingkupinya. Penelitian ini  tidak sependapat dengan konsep new criticism John Crowe Ransom (The New Criticism, 1941 dan Criticism as Pure Speculation, 1971) dan William K. Wimsatt dan Monroe Beardsley (The Intentional Fallacy, 1946 dan The verbal Icon, 1954) yang mengatakan bahwa karya sastra merupakan autotelic artefact. Sehingga menjadi tidak tepat ketika pemahaman terhadap sastra dikaitkan dengan pengarang, pembaca, maupun konteks di luar karya sastra. Penelitian ini mendukung konsep new historicism Stephen Greenblatt (Practicing New Historicism, 2000) yang menyatakan bahwa dunia imajinatif-estetis tidak pernah terlepas dari relasi kekuasaan dunia realitas yang termanifestasi dalam karya sastra sebagai apresiasi estetis individu dan praksis budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Berdasarkan interpretasi kritis new historicism Greenblatt terhadap novel Ukhruj Minha Ya Mal’un diperoleh hasil penelitian berupa pemahaman karya imajinatif yang penuh dengan simbol yang lebih lengkap dan dalam (deeper understanding of value) dengan melibatkan konteks ekstrinsikalitas karya sastra di dalamnya dan novel Ukhruj Minha Ya Mal’un hadir sebagai tanggapan reflektif-imajinatif Saddam Hussein  sebagai pengarangnya.[This research proves that literary studies using new historicism can reveal the various cultural, social, economic, and political forces that intercourse and sneak in every literary text: aesthetic richness. This research reveals that literary works cannot be separated from the various contexts of the era and the cultural, social, economic, and political praxis that surround them. This study disagrees with the concept of new criticism John Crowe Ransom (The New Criticism, 1941 and Criticism as Pure Speculation, 1971) and William K. Wimsatt and Monroe Beardsley (The Intentional Fallacy, 1946 and The verbal Icon, 1954) literature is an autotelic artifact. So it is not appropriate when the understanding of literature is associated with authors, readers, and contexts outside of literary works. This research supports Stephen Greenblatt's new historicism concept (Practicing New Historicism, 2000), which states that the imaginative-aesthetic world is never separated from the power relations of the world of reality which are manifested in literature as an individual aesthetic appreciation and cultural, social, economic, and political praxis. Based on the critical interpretation of Greenblatt's new historicism of the Ukhruj Minha Ya Mal'un novel, the research results are in the form of a deeper understanding of imaginative works of symbols (deeper understanding of value) involving the context of the extrinsicality of literary works in it and the novel Ukhruj Minha Ya Mal. 'un appears as the reflective-imaginative response of Saddam Hussein as the author.]
Trafficking Woman and Child: Kajian Terhadap Hadis-Hadis Tentang Perdagangan Manusia Siti Zakiyatul Humairoh
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1105

Abstract

Trafficking merupakan kejahatan yang sudah terjadi sejak zaman jahiliyah. Perdagangan perempuan dan anak-anak sering kali ditemukan, karena perempuan dan anak-anak dianggap kaum yang lemah dan kerap kali terpinggirkan. Faktor kemiskinan yang menimpa perempuan-perempuan dan anak-anak yang ada di desa merupakan penyebab terbesar terjadinya perdagangan perempuan dan anak-anak, sehingga banyak oknum yang memanfaatkan keberadaan mereka. Oleh sebab itu penulis mengkaji hadis-hadis yang berhubungan dengan perdagangan manusia yaitu dengan menggunakan pendekatan historis dan bahasa. Secara eksplisit tidak ditemukan hadis-hadis yang melarang perdagangan perempuan dan anak-anak, namun penulis menganalisis hadis-hadis mengenai perbudakan dan hadis-hadis lain yang relevan yang mengarah pada pelarangan perdagangan perempuan dan anak-anak. Kajian hadis tentang trafficking woman and child kebanyakan dihubungkan dengan perbudakan, karena pada zaman jahiliyah perdagangan perempuan dan anak-anak kebanyakan adalah untuk dijadikan budak, bahkan mereka dijual untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat kotor. Hal ini juga terjadi pada zaman sekarang. Banyak perempuan dan anak-anak yang dijual untuk memenuhi nafsu laki-laki, karena itu penulis berusaha mengkaji hadis yang berhubungan dengan trafficking woman and child.[Trafficking is a crime that has occurred since the time of ignorance. Trafficking of women and children is often found, as women and children are considered weak and often marginalized. The poverty factor that affects women and children in the village is the greatest cause of trafficking of women and children, so many persons are utilizing their existence. Therefore, the authors examine traditions related to human trafficking by using historical approach and language approach. There are explicitly no traditions that prohibit trafficking of women and children, but the authors analyze the hadiths regarding slavery and other relevant traditions that lead to the banning of trafficking of women and children. The study of hadith about the trafficking of women and child is mostly associated with slavery, for in the days of ignorance the trafficking of women and children was mostly to be slaves, even they were sold to do very dirty deeds. This also happens today. Many women and children are sold to fulfill men's desires, therefore the author tries to examine the hadith related to trafficking woman and child who is often victimized.]
Socio-Religiuos Model of Disability: Sebuah Rancangan Awal Zanuar Mubin; Masykur Rozi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1106

Abstract

Studi disabilitas masih menjadi tema kecil dalam ilmu pengetahuan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan Islam tidak memiliki misi untuk mengatasi permasalahan diskriminasi yang dialami penyandang disabilitas. Hal ini mengakibatkan penyandang disabilitas dikucilkan bahkan dalam komunitas Muslim. Kami mengidentifikasi bahwa kurangnya akses yang dilakukan oleh masyarakat Muslim disebabkan oleh kurangnya ilmu- ilmu keislaman dalam mendorong mereka untuk berperilaku secara inklusif. Artikel ini mencoba menawarkan model sosio-religius dalam mengentaskan diskriminasi disabilitas dengan dua level metodologis. Level pertama adalah mengkritisi epistemologi hukum Islam untuk mendobrak bias normalitas yang berakibat pada tidak diangkatnya masalah disabilitas sebagai tema dalam hukum Islam. Pada level kedua dilanjutkan dengan menginternalisasi filosofi model disabilitas sosial pada ahliyyah dan maqasid, sehingga epistemologi hukum Islam memiliki gagasan inklusi. Hasil penelitian ini adalah bahwa hak akses dijamin oleh ahliyah al-wujub, dan strategi pemenuhan hak akses diatur dalam teori maqasid. Metode ini menghasilkan konsep hukum Islam praktis yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk masyarakat Islam yang inklusif.[Disability studies are still a minor theme in the Islamic science. This indicates that Islamic science does not have a mission to alleviate discrimination problems experienced by persons with disabilities. This results in disability being excluded even in Muslims’ community. We identified that lack of access performed by Muslims society is caused by lack of Islamic sciences in encouraging them to conduct inclusively. This article seeks to offer a socio-religious model in alleviating disability discrimination with two methodological levels. The first level is crticizing epistemology of Islamic law to break down the bias of normality which results in the lack of appointment of disability problems as themes in Islamic law. At the second level is continued by internalizing social-disability model philosophy in ahliyyah and maqa>s}id, so that the epistemology of Islamic law has the idea of inclusion. The results of this study are that the right of access is guaranted by ahliyah al-wuju>b, and strategy of fulfilling access right is regulated in light of maqa>s}id theory. This method fruits the concept of practical Islamic law which can be used as a basis for forming an inclusive Islamic society.]
Tarekat “Virtual”: Sebuah Gagasan Alternatif Bertarekat Dari Muhammad Nursamad Kamba Helmi Mustofa
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i2.1068

Abstract

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan pandangan Muhammad Nursamad Kamba tentang apa yang dia sebut sebagai tarekat “virtual”. Suatu cara bertasawuf dan bertarekat yang berbeda dalam sejumlah metode dengan tarekat formal. Metode tersebut terangkum dalam kata “virtual”. Kata “virtual” di sini tidak terutama merujuk pada makna dunia internet atau dunia maya, sebagaimana kata tersebut digunakan selama ini, melainkan pada “keberguruan dari seorang murid kepada guru secara jarak jauh atau remote.” Pada sisi praktis, tarekat “virtual” menawarkan kemudahan dalam dalam bertasawuf kepada siapa saja, terutama bagi orang-orang yang hidup dalam kultur profesional, perkotaan, dan urban, yang boleh jadi mencari alternatif dalam bertarekat. Namun, sebagai seseorang yang memiliki gagasan tarekat “virtual”, menariknya Muhammad Nursamad Kamba tidak menempuh metode sebagaimana yang sudah ada dengan misalnya membentuk padepokan, kelas, atau program yang ditujukan kepada kelas menengah kota. Karena itu, selain coba memaparkan secara ringkas gagasan tarekat “virtual” ini, tulisan ini akan melihat bagaimana Muhammad Nursamad Kamba mengartikulasikan tasawuf di tengah masyarakat modern. Dua di antara yang dilakukannya adalah mendirikan Prodi Tasawuf Psikoterapi pada Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan aktif dalam forum dan komunitas Maiyah yang diasuh oleh budayawan Emha Ainun Nadjib.[This research seeks to describe and interpret a new “genre” of school of Sufism called Tarekat “Virtual” introduced by Muhammad Nursamad Kamba. Interestingly, the term “virtual” in this case has nothing to do with what it is commonly known as “the internet”, but it is a new paradigm that shifts a formalistic way of Sufism into a more personal relationship between the Mursyid and their students through a distance of teaching approach.  On the ground, this new method offers tremendous alternatives and more convenience features of Sufism towards urban millennials or among professional communities who are now on the rise. This research is intended to understand both the usage of tarekat “Virtual” in current urban Indonesian society, more specifically in academic communities (such as with the establishment of Department of Tasawuf Psychotherapy in UIN Sunan Gunung Jati Bandung initiated by Kamba), and the wider roles of Kamba’s idea of modern Sufism in fast growing forum of Maiyah movement initiated by Emha Ainun Nadjib.] 

Page 1 of 1 | Total Record : 4