cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2020)" : 5 Documents clear
Islam Nusantara: Harapan dan Tantangan Yulius Erick Tanabora
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1143

Abstract

Tulisan ini menampilkan diskripsi tentang Islam Nusantara, Manhaj Fikrah Islam Nusantara, berbagai kritikan terhadap konsep Islam Nusantara serta analisa Epistemologi-Kritis padakonsep Islam Nusantara ini di masa depan.[This paper presents the Islamic Religion in Nusantara, Manhaj Fikrah in Nusantara, the various criticisms of the concept of Islamic Religion in Nusantara, and the Critical Epistemology concept of the future on Islamic Religion in Nusantara.]
Hindu-Buddha: Cara Masyarakat Nusantara dalam Berspiritual Sebelum Datang Islam Domidoyo Marthinus
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1142

Abstract

Nusantara adalah suatu wilayah kepulauan yang berada di antara dua benua, Asia dan Australia, sebagai benua yang berada dalam dua samudera raya yang di kenal sebagai samudera India dan samudera Pasifik. Kepulauan ini memotong ekuator dari 95 derajat sampai 141 derajat bujur timur. Penduduk pulau ini menarik perhatian berbagai masyarakat dari penjuru dunia, karena tanah subur dengan  limpahan rempah-rempah dan corak masyarakat yang akomodatif dengankecenderunganfriendly dengan kehadiran tamu. Hal ini memicu para pedagang untuk berniaga dan sekaligus bersyiar atau berdakwah. Orang India yang beragama Hindu dan Buddha menjadi orang pertama yang berlabuh untuk berdagang dan sekaligus memperkenalkanagama yang di anut. Hal ini menjadikan identitas sangat bagus untuk diperbincangkan. Sebagai pendatang dantamu di Nusantara, orang-orang India membawa segala identitas termasuk budaya dan agama. Paper ini menjelaskan cara agama dari India hidup dan besar di tengah masyarakat.[The Nusantara is an archipelago located between two continents, Asia and Australia, as a continent located in two major oceans known as the Indian Ocean and the Pacific Ocean. These islands intersect the equator from 95 degrees to 141 degrees east longitude. The inhabitants of the island attract the attention of various people from all over the world because the land is fertile with an abundance of spices and an accommodating community style with a friendly inclination to the presence of guests. It triggered the traders to trade and simultaneously spread or preach. Indians who were Hindus and Buddhists were the first to anchor to trade and at the same time introduce the religion adherence embraced. It makes identity important to talk about. As guests and guests in the archipelago, Indians carry all identities, including culture and religion. This paper explains the way religions from India live and grow in society.]
Studi Islam Inklusif dan Universal: Epistemologi Scholar Sebagai Outsider Pemeluk Agama Henry Teddy
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1141

Abstract

Studi tentang Islam dengan pendekatan yang normatif menjadikan kajian tentangnya sebagai kajian yang terbatas bahkan kerap tertutup. Studi Islam yang berperspektif teologi apologeticcenderung menghasilkan pemikiran yang provokatif sehingga tertutup jalan bagi mereka yang non muslim atau outsider berproses dalam studi Islam itu sendiri. Akan tetapi ketika dibuka jalan bagi Studi Islam yang ilmiah dengan pendekatan interdisipliner, Inklusiflah kesempatan para outsider melibatkan diri dalam studi Islam. Namun pertanyaan yang belum selesai adalah apakah keInklusifan dalam Islamic Studiesdibangun dengan basis epistemologi yang kuat. Apa dasar epistemologis dari Islamic Studies sehingga keInklusifan yang dimaksud bisa membawa perubahan yang signifikan bagi masyarakat sendiri, secara khusus bagi Islam itu sendiri. KeInklusifan yang dimaksud adalah peran Studi Islam itu sendiri yang membuka kesempatan untuk para outsider untuk menghadirkan Islam sebagai wajah yang universal dan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Lewat penelusuran pemikiran secara epistemologis maka dapatlah kita temukan bahwa Studi Islam banyak mengalami dinamika. Hal ini dikarenakan dunia Muslim sendiri yang terus menggumuli bagaimana agar ke-Islam-an dapat terus hidup sesuai dengan realitasnya. Lewat kajian ini akan diperlihatkan bagaimana perubahan gagasan dalam Studi Islam yang pada dirinya sendiri menunjukkan sifat yang Inklusif dan universal. Corak filsafat menjadi penentu dalam dinamika keInklusifan Studi Islam yang pada dasarnya selalu mau membuka diri pada konsepsi baru yang pada akhirnya Islam pun memiliki Epistemologinya sendiri.[Islamic Studies with a normative approach study it a limited field, even often closed to outsiders. Islamic studies with an apologetic theology perspective tend to produce provocative thoughts so that the road is closed for non-Muslims or outsiders in the process of Islamic studies itself. However, when the way is opened for Islamic scientific studies with an interdisciplinary approach, it opens up opportunities for outsiders to get involved in Islamic studies. However, the unfinished question is whether openness in Islamic Studies is built on a robust epistemological basis. What is the epistemological basis of Islamic Studies so that the intended openness can bring about significant changes for society itself, especially for Islam itself? The openness in question is the role of Islamic Studies itself, which opens opportunities for outsiders to present Islam as a universal face and become a blessing for the entire universe. Through an epistemological search of thought, we can find that Islamic studies experience many dynamics. This is because the Muslim world itself struggles with how Islam can continue to live following its reality. This study will show how changes in ideas in Islamic Studies show themselves an open and universal character. The philosophical method becomes a determinant in the dynamics of openness of Islamic studies, which always wants to open itself to new conceptions which in the end Islam also has its epistemology.]
@Wardahmaulida_: Platform Islami Media Sosial Dari Niqab Eksklusif pada Niqab Fashion Romario Romario
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1121

Abstract

The outbreak of social media provides an alternative to celebrities who appear besides on television. The term social media celebrities also appear as 'selebgram' and 'selebtwitt'. Their appearance is based on a number of fans on social media who actively follow them both on the Instagram or the Twitter. This celebrity culture gives birth to interesting public figures who have never been found on television. One interesting program is @wardahmaulina_, a Muslim woman who uses a niqab of various colors in each of her postings. Her popularity began from her love affair with Natta Reza, who is now her husband, and was widely discussed in the social media. The story of their introduction only through Instagram and later married, much liked by citizens. Since then, both Natta Reza and Wardah have become popular. This paper focuses on discussing new phenomena about Wardah’s models of dressing (1.3 million of Instagram followers) that make the niqab a fashion trend. The niqab itself was initially stigmatized by the salafi movement as it tends to be rigid but is now undergoing a transformation after the appearance of figures like Wardah who presents the niqab with a more trendy and attractive style in the Muslimah market culture. This paper shows that the niqab is no longer synonymous with a rigid salafi movement but has transformed into a trendy Muslim outfit.[Merebaknya media sosial memberikan alternatif selebriti yang tampil selain di televisi. Istilah selebriti media sosial bermunculan dengan sebutan ‘selebgram’ dan ‘selebtwitt’. Kemunculan mereka berdasarkan banyaknnya penggemar di media sosial yang aktif mengikuti baik di instagram ataupun twitter. Kultur selebriti ini melahirkan tokoh publik menarik yang sebelumnya tidak pernah ditemui ditelevisi. Salah satu selebgram yang menarik adalah @wardahmaulina_, ia seorang Muslimah yang menggunakan niqab berbagai warna dalam setiap postingannya. Kepopulerannya dimulai ketika kisah asmaranya dengan Natta Reza yang kini menjadi suaminya, ramai diperbincangkan di ruang media sosial. Kisah perkenalan mereka yang hanya melalui instagram kemudian menikah, banyak disukai oleh warganet. Semenjak itulah nama Natta Reza dan Wardah populer. Paper ini fokus membahas fenomena baru tentang model berpakaian Wardah (1,3 Juta pengikut instagram) yang menjadikan niqab sebagai tren fashion. Niqab sendiri yang pada awalnya distigmakan denga gerakan salafi yang cenderung kaku, kini mengalami transformasi setelah tampilnya sosok seperti Wardah yang menampilkan niqab dengan lebih trendi dan menarik dengan budaya pasar muslimah. Paper ini menunjukkan bahwa niqab tidak lagi identik dengan gerakan salafi yang kaku, namun sudah bertransformasi menjadi pakaian muslimah yang trendi.]
Metode Dakwah: Syiar Islam Ala Masyarakat Nusantara Abad 9-15 M Dewi Fatimah Leppa
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v5i2.1145

Abstract

Bukti arkeologi meninggalkan jejak, termasuk jejak untuk menelusuri awal mula agama Islam masuk ke Indonesia, antara abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Arkeolog Uka Tjandrasasmita menegaskan pentingnya bukti-bukti arkeologi dalam karyanya ‘Arkeologi Islam Nusantara’. Dalam karya tersebut, Uka mengungkapkan data-data arkeologi baik berupa makam-makam batu nisan, pecahan keramik dan ragam hiasan maupun arsitektur bangunan keraton yang merupakan material penting sebagai sumber sejarah. Semua itu bisa dimanfaatkan untuk mengetahui dan merekonstruksi bagaimana kedatangan Islam ke Tanah Air. Misalnya, makam di Nusantara memiliki persamaan tulisan dengan makam Islam yang ada di Gujarat, India. Persamaan tersebut dapat ditemukan pada makam Malik Ibrahim dibuat tahun 1419 H di Gresik, Jawa Timur dan makam Samudra Pasai pada tahun 882 H. Makam-makam yang ada di Gujarat dan Tanah Air juga memiliki bahan baku yang sama yaitu batu pualam. Dengan adanya persamaan tersebut bisa disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang aktif, terutama hubungan dagang antara Gujarat, Samudra Pasai, dan Jawa Timur. Melalui perdagangan tercipta interaksi antara penduduk Tanah Air dan para pedagang Muslim dari Gujarat. Melalui interaksi ini juga para pedagang Muslim dari Gujarat tak hanya melakukan aktivitas dagang tetapi juga menyebarkan ajaran agama Islam di Tanah Air. Sejak zaman sebelum Islam Pelabuhan Banten merupakan Pelabuhan terpenting di tanah Sunda. Hal itu disebabkan oleh letak geografisnya yang berada di tengah-tengah teluk Banten dengan jaringan Sungai Cibanten dan beberapa anak sungainya. Faktor alamiah ini merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi pihak yang mengelola pelabuhan para pedagang. Keadaan ini yang mengakibatkan Pelabuhan Banten menempatkan diri dalam dunia perdagangan internasional di Asia.[Archaeological evidence always leaves a trail, and these include traces to track earlier times when Islam arrived in Indonesia between the 7th and the 8th centuries (CE). Archaeologist Uka Tjandrasasmita stressed the importance of the archaeological pieces of evidence in his work ‘Archaeology of Islam Nusantara’, which reveals some archaeological data in tombs decorated with ceramic fragments and palace architecture, which were considered essential materials as historical sources. All of these can be used to find out and reconstruct how Islam came to Indonesia. For example. The tombs have the same writings as the Islamic tombs in Gujarat, India. The similarities are found in Malik Ibrahim’s tombs, created in 1419 H in Gresik, East Java, and the tomb of Samudra Pasai of Aceh in 882 H. The tombs in Gujarat and Indonesia have the same raw material made from marble. Given these facts, there is a historical relationship between Gujarat, India, and Indonesia, and this could happen due to trade relations between Gujarat and Samudra Pasai and East Jawa. Through trades, interactions between the Muslim traders of Gujarat and Muslim Indonesians took place, and through these interactions, Muslim Gujarati not only carried out trading activities but also spread the teachings of Islam in Indonesia. Some historical facts show that for a long, Banten Port had become the most important port in the land of Sunda. This is due to its geographical location is in the middle of Banten Bay connected with Cibanten River networking and some of its tributaries. This natural factor is very profitable for the Sultan in managing the trades. As a result, the Banten port played a significant role in international trade in Asia.]

Page 1 of 1 | Total Record : 5