cover
Contact Name
Adolf Situmorang
Contact Email
teknika@usm.ac.id
Phone
+628122003033
Journal Mail Official
teknika@usm.ac.id
Editorial Address
Jl.Soekarno-Hatta, Tlogosari. Semarang, Jawa-Tengah, Indonesia Telp: 024-6702757; fax: 024-6702272
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Teknika
Published by Universitas Semarang
ISSN : 14104202     EISSN : 25808478     DOI : 10.26623/teknika.v17i1.3127
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknika merupakan jurnal untuk menyebarluaskan hasil penelitian atau pemikiran dibidang Teknik Sipil. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ini difokuskan pada bidang Teknik Sipil dan Rekayasa. Dosen, mahasiswa, dan peneliti diharapkan dapat memanfaatkan jurnal ini untuk berbagi pengetahuan hasil penelitian atau pemikirannya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2018): Oktober" : 6 Documents clear
ANALISIS KUAT TEKAN BETON DENGAN AGREGAT PASIR DARI BOYOLALI MENGGUNAKAN BAHAN TAMBAH ABU SEKAM PEMBAKARAN KAYU DAN SERBUK HALUS ARANG BRIKET Timbul Catur Suwiyono; Purwanto Purwanto; Anik Kustirini
Teknika Vol 13, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.985 KB) | DOI: 10.26623/teknika.v13i2.1314

Abstract

Concrete research has been carried out, this study utilizes wood burning husk ash and fine powder of briquette charcoal as an added material from the weight of cement and sand used from Boyolali. This study aims to determine the compressive strength of concrete with materials added to wood burning husk ash and fine powder of briquette charcoal. Material variations added wood burning husk ash and briquette charcoal fine powder by 0%, 10%, 20% by weight of cement. This study used 0.5 fas and concrete testing at the age of 7 days, 14 days and 28 days. From the test results the average compressive strength of concrete at the age of 7 days with a material variation of 10% added was 15.05 MPA, and a material variation of 20% added was 13.47 MPA. Concrete at the age of 14 days with a material variation of 10% added is 15.76 MPA, and a material variation of 20% is 13.18 MPA. concrete at 28 days with a material variation of 10% added is 14.32 MPA, and a 20% added material variation is 14.32 MPA.  Keywords; wood burning husk ash, compressive strength, fine briquette charcoal powder  AbstrakPenelitian beton telah banyak dilakukan, penelitian ini memanfaatkan abu sekam pembakaran kayu dan serbuk halus arang briket sebagai bahan tambah dari berat semen dan pasir yang digunakan dari boyolali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton dengan bahan tambah abu sekam pembakaran kayu dan serbuk halus arang briket. Variasi bahan tambah abu sekam pembakaran kayu dan serbuk halus arang briket sebesar 0%, 10%, 20% dari berat semen. Penelitian ini menggunakan fas 0,5 dan pengujian beton pada umur 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata beton pada umur 7 hari dengan variasi bahan tambah 10% adalah 15,05 MPA, dan vari asi bahan tambah 20% adalah 13,47 MPA. Beton pada umur 14 hari dengan variasi bahan tambah 10% adalah 15,76 MPA, dan variasi bahan tambah 20% adalah 13,18 MPA. beton pada umur 28 hari dengan variasi bahan tambah 10% adalah 14,32 MPA, dan vari asi bahan tambah 20% adalah 14,32 MPA.  Kata kunci : abu sekam pembakaran kayu, kuat tekan, serbuk halus arang briket
TINJAUAN METODE PEMBAYARAN KARTU TOL ELEKTRONIK (LOKASI DI GERBANG TOL BANYUMANIK, JALAN TOL SEMARANG-SOLO) Seno Suharyo; Wardana Galih Pamungkas; Diah Rahmawati
Teknika Vol 13, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.314 KB) | DOI: 10.26623/teknika.v13i2.1315

Abstract

Jalan tol saat ini memiliki peran yang penting dalam mengefisienkan waktu tempuh perjalanan kendaraan roda 4 (empat) atau lebih dari satu tempat ke tempat yang lain. Sistem pembayaran tol juga ikut berkembang seiring bertambahnya jumlah kendaraan yang melewati jalan tol. Kartu tol elektronik menjadi satu-satunya metode pembayaran yang digunakan di semua gardu tol. Semua golongan kendaraan melakukan transaksi pembayaran tol menggunakan kartu tol elektronik. Mengenai efektifitas penggunaan kartu ini untuk semua jenis golongan kendaraan akan menjadi topik penelitian ini.Metode penelitian yang digunakan adalah dengan survei lapangan dan melakukan wawancara. Hasil survei akan dianalisa untuk mengetahui tingkat kinerja pelayanan gardu tol.Dari hasil rekapitulasi data sekunder pada data lalu lintas Gerbang Tol Banyumanik tanggal 5, 7, 8, 9, 10, 11, dan 12 Mei 2018, total jumlah transaksi pembayaran menggunakan uang tunai sebesar 2.370 transaksi, sedangkan total jumlah transaksi pembayaran menggunakan kartu tol elektronik (e-toll card) sebesar 112.300 transaksi. Secara prosentase diperoleh perbandingannya sebesar 2% transaksi tunai berbanding 98% transaksi menggunakan kartu tol elektronik (e-toll card).Untuk hasil survai diketahui tingkat kedatangan kendaraan arah keluar (exit) sebanyak 1985 kendaraan, tingkat pelayanan rata-rata kendaraan di gardu arah keluar (exit) sebesar 253 kendaraan/jam, dengan jumlah gardu pelayanan sebanyak 6 gardu. Rasio tingkat kedatangan dengan tingkat pelayanan (ρ) adalah 1,3. Dengan nilai rasio tingkat kedatangan dibanding tingkat pelayanan gardu tol lebih besar dari 1 (), maka dapat diartikan bahwa pada Gerbang Tol Banyumanik jalur keluar (exit) mengalami antrian yang cukup panjang. Salah satu alternatif cara untuk mengurangi panjang antrian adalah dengan mengalihkan sejumlah gardu tol arah masuk (entry) untuk dipakai menjadi gardu tol arah keluar (exit), dengan tetap menyediakan minimal 1 (satu) gardu tol arah masuk (entry). Hal lain adalah diperlukan kesadaran pengguna kendaraan dalam memastikan kartu tol elektronik selalu terisi saldo yang cukup. Kata kunci : kartu tol elektronik, gerbang tol, tingkat pelayanan
ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PEKERJAAN PELAT METODE CAST IN SITU DENGAN SEMI PRECAST PADA RUMAH TINGGAL DUA LANTAI Trias Widorini; Purwanto Purwanto
Teknika Vol 13, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.808 KB) | DOI: 10.26623/teknika.v13i2.1316

Abstract

Abstrak: Sistim pracetak sudah banyak digunakan pada bangunan bertingkat banyak. Penggunaan metode pracetak dengan ukuran panel yang cukup besar menjadi tidak efisien jika diterapkan pada pekerjaan bangunan bertingkat dua sederhana. Dalam penelitian ini alternatif yang diperkenalkan dalam pembuatan pelat lantai adalah dengan menggunakan metoda semi precast berupa panel-panel yang lebih kecil agar memungkinkan untuk diangkat tanpa bantuan alat berat.Penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan untuk mengetahui berapa besar penghematan waktu dan biaya yang digunakan dengan menggunakan pelat semi precast dibanding dengan menggunakan sistem cast in situ. Dengan harapan akan didapat suatu metode pelaksanaan dan cara perancangan yang lebih efisien serta dapat mengoptimalkan penggunaan pelat semi precast sebagai komponen bekisting sekaligus sebagai komponen elemen struktural lantai bangunan gedung dan dapat diaplikasikan pelaksanaannya pada pekerjaan swakelola oleh masyarakat.Penelitian dilakukan pada rumah di Jalan Prambanan Timur II Semarang dengan luasan tanah sebesar 247.5 m2, luas bangunan 300   m2, luas pelat lantai sebesar 129,5 m2 dan pelat tandon air sebesar 13 m2.  Dari hasil analisis total biaya pembangunan rumah tinggal dengan metode cast in situ adalah Rp 1.348.511.161,00 dan dengan metode cast in situ adalah Rp   1.286.646.693,00. Dari hasil tersebut nampak bahwa menggunakan metode semi precast selisih atau lebih murah sebesar Rp   61.864.468,00 atau sebesar 4,59 %. Dari hasil analisis kurva S pembangunan rumah tinggal tersebut dengan menggunakan metode cast in situ membutuhkan waktu 48 minggu, sedangkandengan menggunakan sistem semi precast membutuhkan waktu 42 minggu. Dari hasil tersebut nampak bahwa menggunakan metode semi precast selisih atau lebih cepat 6 minggu atau sebesar 12,5%. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari segi biaya dan waktu, metode pelaksanaan dan cara perancangan pelat semi precast lebih efisien daripada metode pelat cast in situ dan dapat diaplikasikan pelaksanaannya pada pekerjaan swakelola oleh masyarakat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari segi biaya dan waktu, metode pelaksanaan dan cara perancangan pelat semi precast lebih efisien daripada metode pelat cast in situ dan dapat diaplikasikan pelaksanaannya pada pekerjaan swakelola oleh masyarakat.  Kata Kunci: pelat lantai, semi precast, Rancancangan Biaya Anggaran, kurva S  Abstract: The precast system has been widely used in multi-storey buildings. The use of precast methods with large enough panel sizes becomes inefficient when applied to simple two-story building work. In this study an alternative introduced in the manufacture of floor plates is to use semi-precast method of smaller panels to enable to be removed without the help of heavy equipment.The research has a purpose to find out how much time and cost savings are used by using semi-precast plate compared with using cast in situ system. With the hope of getting a method of implementation and design more efficient way and can optimize the use of semi-precast plates as components of formwork as well as components of structural elements of the building floor and can be applied to the implementation of self-managed work by the community.The study was conducted at the house on Jalan Prambanan Timur II Semarang with a land area of 247.5 m2, a building area of 300 m2, a floor plot area of 129.5 m2 and a water supply plate of 13 m2. From the analysis of total cost of residential development with method of cast in situ is Rp 1.348.511.161,00 and with method of cast in situ is Rp 1.286.646.693,00. From the result it appears that using semi precast method difference or cheaper is Rp 61.864.468,00 or 4.59%. From the residence curve S residence analysis using cast in situ method takes 48 weeks, sedangkandengan using semi precast system takes 42 weeks. From the results it appears that using semi precast method difference or faster 6 weeks or 12.5%. The results of this study indicate that in terms of cost and time, the method of execution and the design of semi-precast plates more efficient than cast in situ plate method and can be applied to the implementation of self-managed work by the community. The results of this study indicate that in terms of cost and time, the method of execution and the design of semi-precast plates more efficient than cast in situ plate method and can be applied to the implementation of self-managed work by the community.  Keywords: floor plates, semi precast, Budget Cost Design, S curve
ANALISIS PENGGUNAAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN RSUD SUNAN KALIJAGA DEMAK (Studi Kasus Pada Pembangunan RSUD Sunan Kalijaga di Demak) Wildan Abied; Suci Febrita; Hari Setijo Pudjihardjo; Bambang Tutuko
Teknika Vol 13, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.053 KB) | DOI: 10.26623/teknika.v13i2.1312

Abstract

AbstractOccupational Health and Safety Management System (SMK 3) is a protection system that has been prepared and designed for workers and construction services to minimize and avoid the risk of loss of time, material and the risk of workplace accidents that will be experienced by workers work. Guidelines for the Implementation of the Occupational Safety and Health Management System (SMK3) in Indonesia are found in the Minister of Manpower Regulation Number: PER.05 / MEN / 1996, Minister of Public Works Regulation No. 9 of 2008 concerning Guidelines for Construction Work Safety and Safety Management System (SMK3) in the Field of Public Works, and PP No. 50 of 2012 concerning Application of Management SystemsOccupational Health and Safety. The purpose of this study was to evaluate the implementation of the Occupational Safety and Health Management System, and to find out the steps in the implementation of the Occupational Safety and Health Management System in the Project for the Construction of the Regional General Hospital of Sunan Kalijaga Demak. Data processing is done by compiling and discussing the results of the questionnaire that has been distributed to the respondents, as well as literature studies as supporting data. The results of the study show that the overall guidelines for the Occupational Safety and Safety Management System (SMK3) have been implemented very well. Keywords: SMK 3, Guidelines, RSUD Sunan Kalijaga. AbstrakSistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK 3) adalah sebuah sistem perlindungan yang sudah dipersiapkan dan dirancang bagi para tenaga kerja dan jasa konstruksi untuk meminimalisasi dan menghindarkan diri dari resiko kerugian waktu, materi dan dari resiko kecelakaan kerja yang akan dialami oleh para tenaga kerja. Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Indonesia terdapat pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996, Peraturan Mentri PU No. 9 Tahun 2008 tentang pedoman Sistem  Manajemen Keselamatan Dan Keselamatan Kerja ( SMK3 ) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum, dan PP No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Tujuan Dalam Penelitian Ini adalah untuk mengevaluasi penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan untuk mengetahui langkah-langkah penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan Proyek Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak. Pengolahan data dilakukan dengan menyusun dan membahas hasil dari kuesoner yang sudah di sebar kepada para responden, serta studi literatur sebagai data pendukung. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa secara keseluruhan pedoman Sistem  Manajemen Keselamatan Dan Keselamatan Kerja ( SMK3 ) sudah diterapkan dengn sangat baik. Kata Kunci : SMK 3, Pedoman, RSUD Sunan Kalijaga
KAJIAN KEBUTUHAN PERLINTASAN TIDAK SEBIDANG JALUR KERETA API DENGAN JALAN RAYA DI TITIK PERLINTASAN GANEFO KECAMATAN MRANGGEN Bambang Sudarmanto
Teknika Vol 13, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.466 KB) | DOI: 10.26623/teknika.v13i2.1303

Abstract

The crossing railway line with the highway is quite a lot in several places in Indonesia, especially on the island of Java. This is a problem in itself because it considers this crossing to have a negative impact on users of land transportation. Moreover, the government does not yet have a policy relating to planning, regulation, supervision and supervision at a level crossing and is discussed with traffic accidents at the intersection of a basic plot to develop systems and procedures at level crossings.The crossing between the Semarang-Purwodadi highway and the Semarang-Surabaya / Solo railway line across the crossing lane on Ganefo still uses a level crossing. In the end, it caused a quite serious problem, namely severe congestion at the time of leaving and returning to work and even frequent traffic accidents. The existence of level crossings at this point is the focus of research by using proposals issued by the Ministry of Attention regarding railway crossings with highways can be made without a door, or can be in a plot with doors equipped, or can be made a plot, according to the research objectives. this is knowing the type of crossing that is right at the crossing of Ganefo. The results of the calculation of the Daily Average Daily Traffic of the Purwodadi-Semarang Directions traffic on the Ganefo pathway found numbers of 15928.2 pcu with the percentage of motorcycle transportation modes (motor cycle) amounting to 87.47%. Whereas the opposite direction, namely Semarang-Purwodadi, is 12784.8 pcu and the percentage of motorbikes is 78.85% of the total traffic volume. The direct observation of the train journey at the Ganefo crossing point shows the number of train trips that cross the Ganefo as many as 18 trains / day. The average length of the vehicle is at 191,429 meters during peak hours. Charting the criteria for selecting the crossing type of the Ministry of Transportation shows that the crossing point of Ganefo still depends on the position of the point where it is still permitted to use level crossings with safety doors. However, taking into account the increasing number of train trips and considerations of inconvenience and security of road users, this is at risk because depending on the position of the point required the type of crossing is not as large.
ANALISIS PANJANG ANTRIAN BERDASARKAN MIKROSIMULASI PADA SIMPANG BERSINYAL Iin Irawati; Diah Setiati Budiningrum
Teknika Vol 13, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.75 KB) | DOI: 10.26623/teknika.v13i2.1313

Abstract

AbstractThe accuracy of capacity evaluation at signalized intersections is an important component in planning, design, operations and management of urban road networks. In analysis, a guide or manual is needed that is relevant to existing traffic conditions. One method that can be used to analyze signal intersections is the method of microsimulation. The microsimulation method used is VISSIM simulation. The intersection was chosen as the survey location, namely the Tlogosari - Semarang intersection which has 5 intersection arms. From the results of the analysis obtained the queue length 177.98,180.25, 179.34,180.47 meters.Keywords: queue length, microsimulation, signal intersection, VISSIMAbstrakKetepatan evaluasi kapasitas pada simpang bersinyal merupakan komponen penting dalam perencanaan, desain, operasional serta manajemen terhadap jaringan jalan perkotaan .Dalam analisis dibutuhkan suatu pedoman atau manual yang relevan dengan kondisi lalulintas yang ada. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menganalisis simpang bersinyal adalah metode mikrosimulasi. Metode mikrosimulasi yang digunakan adalah dengan simulasi VISSIM. Simpang terpilih sebagai lokasi survei yaitu simpang Tlogosari – Semarang yang memiliki 5 lengan simpang. Dari hasil analisis diperoleh panjang antrian 177.98,180.25, 179.34,180.47 meter.Kata kunci; panjang antrian, mikrosimulasi, simpang bersinyal, VISSIM

Page 1 of 1 | Total Record : 6