cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006" : 10 Documents clear
MODEL BIOEKONOMI PERAIRAN PANTAI (IN-SHORE) DAN LEPAS PANTAI (OFF-SHORE) UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR Adam ,; Indra Jaya; M. Fedi A. Sondita
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.548 KB)

Abstract

Di perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Selat Makassar, produksi rajungan di perairan inshore pada tahun 2002 dan 2004 telah melewati biomassa optimal, yaitu sebesar 609.7 ton dan 607.5 ton. Masalah ini perlu segera ditangani, misalnya dengan mencari tingkat pemanfaatan yang optimal. Dalam makalah ini, diuraikan hasil pengembangan model bioekonomi perairan pantai (in-shore, 0 – 6 mil laut dari pantai) dan lepas pantai (off-shore, diatas 6 mil laut dari pantai) untuk menentukan jumlah biomassa yang dapat dimanfaatkan secara optimal dengan mempertimbangkan biaya operasi penangkapan dan nilai rajungan yang tertangkapdalam pengelolaan perikanan rajungan di perairan Selat Makassar (pantai barat Sulawesi Selatan). Data yang dikumpulkan adalah data produksi rajungan, upaya penangkapan, dan jumlah unit alat tangkap dari periode tahun 1995 sampai 2004, yang diperoleh dari instansi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Adapun harga rajungan diperoleh dari 3 kelompok nelayan dan 3 perusahaan pengolahan rajungan yang ada di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rajungan di daerah ini, masih memungkinkan untuk diekploitasi dengan tetap memperhatikan konsep pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan. Model memberikan indikasi bahwa alokasi biomassa optimal pada perairan pantai adalah 180 ton/tahun, dan pada perairan lepas pantai adalah 771 ton/tahun. Hal ini disebabkan oleh pergerakan rajungan yang mempengaruhi jumlah populasi rajungan pada perairan pantai dan perairan lepas pantai.Kata kunci: model, bioekonomi, in-shore, off-shore, pertumbuhan.
PENDUGAAN PERTUMBUHAN, KEMATIAN DAN HASIL PER REKRUT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI WADUK BILIBILI Faisal Amir
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.021 KB)

Abstract

Parameter pertumbuhan dan mortalitas ikan nila (Oreochromis niloticus) diduga dari data frekuensi panjang yang dikumpulkan dari aktifitas perikanan di waduk Bilibili dengan menggunakan teknik pemisahan sebaran normal melalui bantuan program ELEFAN. Nilai dugaan parameter pertumbuhan von Bertalanffy, yaitu L∞ adalah 43.00 cm dengan K sebesar 0.30 per tahun. Laju mortalitas total, Z sebesar 1.1530 per tahun diduga dengan menggunakan analisis panjang rata-rata. Laju mortalitas alami, M sebesar 0.7350 per tahun diduga dengan rumus empiris Pauly sehingga laju mortalitas penangkapan, F diduga 0.4180 per tahun dengan laju eksploitasi mencapai 0.3630. Model hasil per rekrut Beverton dan Holt menunjukkan bahwa status perikanan saat ini adalah 86.63% dari hasil potensial. Kata kunci: ikan nila, pertumbuhan, kematian, hasil per rekrut, Waduk Bilibili.
MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN Budiati Prasetiamartati; Akhmad Fauzi; Rokhmin Dahuri; Akhmad Fakhrudin; Hellmuth Lange
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.662 KB)

Abstract

Konsep modal sosial diartikan sebagai sebagai norma dan hubungan sosial yang menyatu dalam struktur masyarakat dan membuat orang dapat bekerjasama dalam bertindak untuk mencapai tujuan. Aksi bersama atau kerjasama dapat berlangsung ketika terdapat modal sosial dalam masyarakat. Tulisan ini menunjukkan bahwa modal sosial input dan modal sosial output atau aksi bersama terbukti dapat mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan melalui aksi bersama pelarangan kegiatan penangkapan ikan yang merusak, antara lain penggunaan bom, bius, atau penambangan karang.Kata kunci: pengelolaan perikanan, modal sosial.
PENGUJIAN PENYAKIT KOI HERPES VIRUS (KHV) PADA BEBERAPA IKAN BUDIDAYA Mustahal .; Manijo .; Chandra Kirana
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.063 KB)

Abstract

Perkembangan budidaya ikan di Indonesia mengalami hambatan dengan berjangkitnya wabah penyakit KHV (Koi Herpes Virus) sejak 2003 yang telah merugikan ratusan miliar rupiah dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis ikan yang dapat terinfeksi penyakit KHV dan jenis–jenis ikan yang tidak terinfeksi tetapi dapat berpotensi sebagai pembawa penyakit KHV. Ikan yang diuji adalah ikan konsumsi dan ikan hias meliputi ikan mas (Cyprinus carpio), ikan mujair, (Tilapia mosambica), ikan tawes (Puntius javanicus), bawal (Colossoma spp), ikan mas koki (Carassius auratus) dan komet (Carassius carpio). Pengujian dilakukan dengan melihat gejala klinis dan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR). Selanjutnya ikan diaklimatisasi dan diinjeksi dengan virus KHV. Pengujianinang alternatif KHV masing-masing dilakukan 5 (lima) kali ulangan dengan teknik uji kohabitasi (pemeliharaan bersama). Selama pengujian dilakukan penurunan suhu 3-4 oC dan penaikan pH hingga 8. Sebelum diuji coba, ikan tidak menunjukkan gejala kilinis terserang penyakit dan dalam uji PCR tidak menunjukkan terinfeksi KHV. Ikan mas pada uji pendahuluan menunjukkan tingkat kematian 40% hingga 80%, masing-masing untuk isolat Padang dan Cirata Jawa Barat. Pada kohabitasi dengan ikan mas yg terinfeksi KHV ikan mas menunjukkan tanda-tanda serangan KHV dan menimbulkan kematian sebesar 20% hingga hari ke 9 dan hingga 80% pada hari ke 10. Ikan koi meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda serangan tetapi mengalami kematian yang sama dengan kematian 80% dan dalam pemeriksaan PCR didapatkan hasil positif KHV. Ini menunjukkan bahwa ikan mas dan koi dapat menjadi inang yg cocok bagi KHV. Inang alternatif lain (koki,komet, tawes, mujair, gurame, bawal) yang dikohabitasi dengan ikan mas terinfeksi KHV tidak menunjukkan gejala klinis terinfeksi KHV, sehingga tidak dapat menjadi inang bagi KHV.Kata Kunci: Penyakit KHV, Infeksi, PCR, Ikan budidaya.
KEBIASAAN MAKAN, TINGKAT KEMATANGAN GONAD DAN FEKUNDITAS IKAN HARUAN (Channa striata BLOCH) DI SUAKA PERIKANAN SUNGAI SAMBUJUR DAS BARITO KALIMANTAN SELATAN Safran Makmur; Dadiek Prasetyo
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.316 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan, tingkat kematangan gonad dan fekunditasikan haruan (Channa striata Bloch) di suaka perikanan Sungai Sambujur, DAS Barito Kalimantan Selatan yang dilaksanakan dari bulan Juni sampai dengan Desember tahun 2004. Penelitian dilakukan denganmenggunakan metode survei lapangan dan pengambilan contoh dilakukan secara purposive di suaka perikanan Sungai Sambujur. Hasil penelitian menujukkan bahwa ikan haruan yg didapatkan di suaka Sungai Sambujur bersifat karnivora dengan makanan utamanya ikan (Indeks Preponderen = 91.52 dan 88.74), Berdasarkan TKG, ikan haruan dapat memijah sepanjang tahun baik saat musim kemarau maupun musim penghujan.Ikan haruan betina mulai matang gonad pada ukuran panjang 14 cm dan bobot 350 gram. Ikan haruan dengan kisaran bobot tubuh 90-460 gram, kisaran bobot gonad 2.26-16.31 gram mempunyai kisaran fekunditas 621-15 430 butir telur.Kata kunci: Kebiasaan makan, tingkat kematangan gonad, fekunditas, ikan haruan, suaka perikanan.
SIFAT FISIKO-KIMIA AGAR-AGAR DARI RUMPUT LAUT Gracilaria chilensis YANG DIEKSTRAK DENGAN JUMLAH AIR BERBEDA B S.B. Utomo; N Satriyana
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.675 KB)

Abstract

Pengamatan sifat fisiko-kimia agar-agar dari rumput laut Gracilaria chilensis yang diekstrak menggunakan jumlah air berbeda telah dilakukan. Jumlah air pengekstrak yg digunakan dalam ekstraksi ini adalah 15, 20 dan 25 kali berat rumput laut kering. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar sulfat, kekuatan gel, kadar 3.6 anhydro-galaktosa, titik pembentukan gel dan titik pelelehan gel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen agar-agar tertinggi diperoleh pada ekstraksi menggunakan jumlah air pengekstrak sebanyak 20 kali berat rumput laut kering, yang menghasilkan rendemen 20.21%. Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar sulfat, kekuatan gel, kadar 3.6 anhydro-galaktosa, titik pembentukan gel dan titik pelelehan gel.Kata kunci: agar-agar, Gracilaria chilensis, sifat fisiko-kimia.
PENGARUH BEBAN KERJA OSMOTIK TERHADAP PERKEMBANGAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA UDANG GALAH Macrobrachium rosenbergii DE MAN Lenny S Syafei; Ridwan Affandi; Muchammad Sri Saeni; Kardiyo Praptokardiyo; Bambang Kiranadi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.115 KB)

Abstract

Rendahnya derajat kelangsungan hidup adalah salah satu kendala pada pembenihan udang galah.Kendala tersebut dapat diatasi dengan pengaturan salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan salinitas optimum untuk perkembangan larva udang galah dengan tingkat kematian yang rendah yang ditetaskan pada salinitas 6 ppt. Hari pertama hingga hari ketujuh setelah menetas, salinitas ditingkatkan secara bertahaphingga mencapai 10.2 ppt, 11.6 ppt, 13.0 ppt, dan 14.4 ppt dan selanjutnya salinitas dipertahankan tetap hingga seluruh larva tumbuh menjadi post larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas 13 ppt menghasilkan beban osmotic yang terendah, mempercepat waktu perkembangan larva dan derajat kelangsungan hidupyang tertinggi.Kata kunci: larva udang galah, pengaturan osmotik, pertumbuhan, kelangsungan hidup, tingkat kematian.
WATER QUALITY FOR AQUATIC LIFE IN CIMANUK RIVER, WEST JAVA Setyo Budi Susilo; Djadja S . Sjefei
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.199 KB)

Abstract

Sebuah survei kualitas air dilakukan di Sungai Cimanuk pada tahun 1999-2000 mulai dari hulu sungai hingga ke daerah estuari. Dua belas stasiun pengambilan contoh ditetapkan di sepanjang aliran sungai. Pada setiap stasiun, pengambilan contoh dilakukan tiga kali waktu pengambilan, yaitu pada bulan Agustus, Oktober, dan Januari untuk dapat mewakili tiga musim yang berbeda pada periode tahun tersebut. Beberapa parameterdiukur in situ, sementara beberapa yang lainnya dianalisis di laboratorium di Institut Pertanian Bogor. Hasil studi ini menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di Sungai Cimanuk masih sesuai bagi peruntukan kehidupan organisme perairan. Kondisi tersebut tercermin pada indek kualitas airnya yang berada pada selang 50 hingga 80 atau dari kategori sedang ke baik. Sungai Cimanuk adalah satah satu contoh khas sungai tropis, dimana volume aliran sungai berfluktuasi menurut besarnya curah hujan. Air hujan menggelontor permukaan tanah pada awal musim hujan yang berakibat menurunkan secara tajam kualitas air sungai. Oleh karena itu walaupun kualitas air sungai masih baik bagi kehidupan organisme perairan, terdapat potensi pencemaran dari daerah aliran sungai tersebut, terutama pada awal musim hujan.Kata kunci: kualitas air, Sungai Cimanuk, musiman.
VARIASI GEOGRAFIK DALAM STRUKTUR GENETIK POPULASI IKAN KAKAP MERAH, Lutjanus malabaricus (LUTJANIDAE) DAN INTERAKSI LINGKUNGAN DI LAUT JAWA Kadarwan Soewardi; Suwarso .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.462 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur genetik populasi ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus;LUTJANIDAE). Struktur genetik dianalisis berdasarkan polimorfisme mtDNA. Karakter polimorfisme diperoleh dari analisis RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism). Populasi contoh berasal dari lima populasi ikan di Laut Jawa, yaitu Blanakan, Batang, Banyutowo, Tuban dan Kotabaru. Berdasarkan tipe-tipe restriksi yang ditemukan, setiap tipe restriksi berbeda dalam jumlah situs dan fragmen restriksi. Telah teridentifikasi 5-6 haplotipe diversitas haplotipe (h) tingkat populasi bervariasi antara 0.60-0.76, dimana untuk populasi ikan di wilayah timur cenderung lebih tinggi. Didasarkan pada analisis jarak genetik terdapat tiga unit stok ikan Kakap merah di Laut Jawa: Unit stok 1, populasi Blanakan, Batang dan Banyutowo Unit stok 2populasi Kotabaru; dan Unit stok 3, populasi tuban.penstrukturan genetik demikian juga ditegaskan melalui analisis varian molekuler (AMOVA) yang menyatakan perbedaan sangat nyata antara   varian genetik populasi Tuban dengan keempat populasi lainnya. Dari fakta adanya pengelompokkan struktur genetik populasi ini, strategi manajemen perikanan sebaiknya dilaksanakan secara lokal menurut unit stokKata kunci: kakap merah, populasi eenetik, Laut Jawa.
MANFAAT BULU BABI (ECHINOIDEA), DARI SUMBER PANGAN SAMPAI ORGANISME HIAS Abdul Hamid A. Toha
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.25 KB)

Abstract

Bulu babi adalah hewan avertebrata laut. Para ahli mengelompokkan organisme ini dalam Filum Echinodermata. Menurut Aziz (1993) di Perairan Indonesia terdapat sekitar 84 jenis bulu babi. Organisme ini memiliki beragam fungsi. Sebagian dapat berfungsi sebagai bahan pangan, ada yang berguna dalam ekologi, ekonomi dan sifat racun. Sebagian lain berfungsi sebagai organisme model, untuk pengobatan penyakit pada manusia dan digunakan sebagai hewan hias.Kata kunci: bulu babi, bahan pangan, manfaat ekologi, nilai ekonomis, sifat racun, hewan hias.

Page 1 of 1 | Total Record : 10