cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1" : 9 Documents clear
Perpustakaan dan Kepustakawanan di Dunia Islam Pada Masa Klasik Agus Rifai
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.646 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.871

Abstract

Tulisan ini mengungkapkan sejarah kepustakawanan Islam dengan focus pembahasan pada sejarah tumbuh dan berkembangnya perpustakaan di dunia Islam periode Islam klasik.Sejarah pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan pada masa klasik menunjukkan hal yang sangat fenomenal dengan berdirinya perpustakaan di wilayah kekuasaan Islam, baik di kota besar maupun kecil. Perpustakaan bahkan menjadi lambang kebanggaan para khalifah (pemegang kekuasaan). Perkembangan perpustakaan di dunia Islam juga memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan merupakan basis bagi tradisi intelektual yang berlangsung di dunia Islam.
Kompetensi Pustakawan Menuju Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional Sri Rumani
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.316 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.867

Abstract

Dalam masyarakat ilmu pengetahuan, perguruan tinggi sebagai media transfer ilmu dan kekuatan moral untuk menumbuhkan daya saing nasional. Oleh karena itu world class university/WCU dan worl class faculty/WCF menjadi komitmen dan semangat para pimpinan perguru tinggi di Indonesia. Penelitian menjadi roh/jiwanya, yang dapat eksis bila ditopang oleh perpustakaan yang berfungsi sebagai “jantung” PT dan mempunyai kualitas pelayanan bertaraf dunia. Salah satu indikator untuk mewujudkan perpustakaan bertaraf internasional adalah pustakawan yang kompeten baik secara profesional maupun individual. Kompetensi profesional dan individual wajib dimiliki oleh setiap pustakawan pustakawan perguruan tinggi di Indonesia. UU No. 43 Tahun 2007 dan kode etik pustakawan menjadi landasan yuridis dan moral bagi pustakawan dalam melaksanakan kewajibannya. Pustakawan ideal memiliki kompetensi yang secara legal diberikan sertifikasi. Oleh karena itu sertifikat pustakawan (Serpus) dan konsekwensinya menjadi agenda yang tidak bisa ditunda lagi.
Profesi Dan Konsep Pustakawan Dalam Konteks Indonesia Sulistyo Basuki
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.827 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.872

Abstract

Sebelum abad 19 pengakuan atas profesi yang  baru berjalan sangat lambat namun sesudah abad 19 perkembangan profesi berlangsung sangat cepat. Peningkatan jumlah profesi terjadi perkembangan teknologi, kemajuan ilmu pengetahuan serta perubahan sosial. Salah satu profesi adalah pustakawan, definisi yang diberikan tentang librarian atau pustakawan yang diambil dari International Encyclopedia of Information and Library Science (Feather and Sturges, 2003) menyebutkannya dalam arti tradisional dan masa kini. Dalam arti tradisional, pustakawan adalah kurator koleksi buku dan materi informasi lainnya, menata akses pemakai pada koleksi tersebut dengan berbagai syarat. Dalam arti modern, pustakawan adalah manajer dan mediator akses ke informasi untuk kelompok pemakai berbagai jenis, awalnya dimulai dari koleksi perpustakaan kemudian meluas sumber lain yang terdapat di dunia. Dalam kaitannya dengan Indonesia, maka pengertian pustakawan sebagai profesi masih belum jelas karena adanya berbagai pengertian dan tanggapan. Kondisi tersebut menyebabkan konsep pustakawan sebagai profesi belum sepenuhnya diterima di Indonesia.
Lontar: Tradisi Hidup Dan Lestari Di Bali A.A Gde Alit Geriai
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.326 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.868

Abstract

Tradisi budaya tulis menulis di atas rontal di Bali telah berlangsung sejak zaman silam. Ribuan manuscript (baca: Lontar) yang diwarisi di Bali, ditulis di atas daun tal (rontal) dengan sistem pemeliharaan yang demikian sederhana sebelum mendapat sentuhan teori filologi dan kodikologi. Sejak dulu rontal (material-palm) sangat diindahkan oleh para rakawi sebagai sarana untuk menuangkan segala petuah-petuah suci, berupa ajaran budi pekerti dan sebagainya. Sejumlah manuscript (lontar) menyebut istilah tal (rontal) sebagai bahan tulis yang ampuh dan tahan lama. Seperti terlihat dalam Lontar Saraswati: PNRI L.254, sebuah lontar Merapi-Merbabu, Singhalangghyala Parwa/PNRI 1 L.858: lp. 14 b), Kakawin Ramayana, II:67d dan VI:157d-158a. Istilah “lontar” adalah untuk menyebut sebuah hasil karya (seni-sastra) yang berasal dari “rontal” (palm-leaf); sedangkan istilah “rontal” adalah berupa bahan tulis (material-writting) itu sendiri, dalam artian belum ada tulisan. Keberadaan tradisi lontar tentu sangat erat kaitannya dengan tradisi tulis. Sebagai tradisi yang hidup, tradisi lontar di Bali didukung oleh bahan baku yang cukup tersedia, sampai kepada tradisi penulisan lontar dan kegiatan membaca lontar, yang masih hidup hingga kini. Dalam perspektif budaya dan masyarakat Bali sastra (baca: lontar) lebih dipandang sebagai suatu yang suci, arkais, dan sakral-religius. Dengan kata lain, seorang yang akan menggeluti dunia lontar, dituntut memiliki pengetahuan moral-spritual dan religius yang memadai serta harus disucikan (diinisiasi) secara lahir batin. Secara umum pada masyarakat Bali telah berkembang tradisi lisan dalam meresapi isi yang terkandung dalam lontar. Tradisi baru tentang budaya lontar dalam perkembangan masyarakat di Bali dewasa ini tidak hanya digunakan untuk menyalin dari lontar ke lontar baru, namun terjadi suatu kreativitas yang dinamis. Terbukti dengan adanya kegiatan menulis lontar dalam aksara Bali dan Latin berbahasa Bali dan Asing (Inggris, Jerman, dan lain-lain) berupa kartu nama yang dikemas sedemikian rupa dan nampak artistik. Selain itu, dengan adanya program Bali Simbar yang dirancang demikian apiknya oleh I Made Swacana, telah membawa angin segar terhadap perkembangan budaya lontar ke arah tradisi baru. Melalui peremajaan penyalinan lontar ke dalam aksara yang sama (aksara Bali), dapat menarik minat masyarakat pembaca aksara Bali lebih meningkat, karena dengan sistem komputerisasi aksara Bali, nampak standar sehingga dalam membaca terkesan lebih mudah. Di samping itu, program ini setidaknya dapat dijadikan penunjang dalam mempelajari atau membaca naskah aslinya yang berupa lontar.
Analisis Indeks Kepuasan Masyarakat Terhadap Layanan Perpustakaan Di Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 Yunus Yunus
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.961 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.864

Abstract

Survei ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Faktor Kepuasan Pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan. Metode yang digunakan dalam survei ini adalah metode survei deskriptif dengan analis data menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dan prosedur pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, kuesioner, dokumentasi yang berhubungan dengan kepuasan pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan. Sumber data yang dipilih untuk mendapatkan informasi sudah ditentukan yaitu anggota perpustakaan yang telah melakukan aktivitas layanan perpustakaan, di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Jalan Menur Pumpungan Nomor 32 Surabaya. Populasi dan responden data dalam survei Indeks kepuasan Masyarakat (IKM) dalam memanfaatkan layanan perpustakaan mengambil sampel dengan jumlah 150 orang responden atau pemustaka yang berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Nomor : KEP/25/M.PAN/2004 dengan secara acak atau tidak berurutan dengan latar belakang jenis kelamin, umur dan pendidikan yang beragam. Hasil survei yang didapat adalah Pengolahan Indeks Kepuasan Masyarakat Per Responden dan Unsur Pelayanan, untuk nilai rata-rata unsur unit pelayanan tergolong baik.
Pelestarian Jangka Panjang Dan Aksesibilitas Isi Informasi Dengan Teknologi Purwono Purwono
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.378 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.870

Abstract

Pemilihan program komputer untuk kegiatan di perpustakaan pada kenyataannya, bukan masalah sederhana, terutama jika program komputer tersebut akan digunakan untuk pengolahan data koleksi perpustakaan. Perubahan kebijakan, perluasan layanan, dan munculnya kerjasama antar perpustakaan, merupakan beberapa pemicu masalah dalam pemakaian program komputer di perpustakaan. Pilihan untuk mengganti program komputer agar sesuai dengan perkembangan kegiatan perpustakaan bukan hal yang mudah. Kegagalan migrasi data merupakan masalah besar yang sering kali muncul, terutama jika perpustakaan harus mengisi ulang seluruh data koleksi yang dimilikinya. Oleh karena itu perlu kecermatan dalam pemilihan teknologi yang tepat untuk kegiatan preservasi.
Peran Kritik Terhadap Kemajuan Perpustakaan Perguruan Tinggi Edy Pranoto
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.869

Abstract

Perpustakaan perguruan tinggi yang tidak menyesuaikan dengan perkembangan zaman tersebut sudah pasti akan terpuruk. Semua kemajuan lahir dari kritik. Pimpinan perpustakaan perguruan tinggi harus mempunyai kemampuan untuk menerima dan mengolah kritik yang diontarkan kepadanya. Tulisan ini pada hakikatnya menyampaikan gagasan tentang peran kritik terhadap kemajuan perpustakaan perguruan tinggi. Namun perlu dipahami bahwa kritik hanya dapat dilontarkan kepada manusia yang mempunyai tanggung jawab dan segala sesuatu yang tergantung kepadanya, jadi bukan ditujukan kepada benda meskipun benda itu merupakan kenyataan yang ada. Dalam menjalankan kepemimpinnya, pimpinan perpustakaan perguruan tinggi harus memahami dan menerapkan fungsi-fungsi manajemen sebagaimana mestinya. Disamping itu, harus disadari bahwa dalam kepemimpinan apapun tentu tidak lepas dari kritik. Pimpinan perpustakaan perguruan tinggi harus mempunyai sikap terbuka terhadap kritik, karena semua kemajuan lahir dari kritik.
Sikap Melayani Dian Wulandari
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.865

Abstract

Perpustakaan didirikan dalam usaha memenuhi kebutuhan informasi para penggunanya. Perpustakaan sendiri terdiri dari beberapa bidang pekerjaan seperti bidang layanan teknis, bidang layanan pengguna, bagian otomasi, bagian promosi, dsb. dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Semua bidang harus menjalankan fungsi dan tugasnya demi kemudahan dan kepuasan bidang tersebut guna memenuhi kebutuhan dan harapan pengguna. Kepuasan pengguna tidak hanya menjadi tanggung jawab dari bidang layanan pengguna tetapi menjadi tanggung jawab semua bidang/bagian yang ada di perpustakaan, karena baik secara langsung maupun tidak langsung semua bidang/bagian berhubungan dengan pengguna. Perpustakaan harus bisa melihat faktor-faktor dan kebutuhan dasar pengguna untuk dapat memuaskan pengguna dalam layanan perpustakaan. Hal yang harus diperhatikan yaitu adalah sikap melayani yang baik, yang termasuk sifat tersebut adalah profesional, memiliki kewenangan yang jelas, memiliki rasa “sense of urgency”/menganggap semua adalah penting, fleksibel, Mendengarkan secara terampil, Memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pengguna.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindakan Vandalisme Koleksi Perpustakaan Dan Upaya Pencegahannya Daryono Daryono
Media Pustakawan Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v17i1&2.866

Abstract

Pengunjung perpustakaan yang beraneka ragam usia, kebutuhan informasi dan status sosialnya maka muncul suatu perilaku penyalahgunaan koleksi yang dikenal dengan vandalisme seperti mencoret-coret, penyobekan, sampai dengan pencurian. Tindakan vandalisme terhadap koleksi perpustakaan selain merugikan perpustakaan juga merugikan orang lain bahkan merugikan diri sendiri. Faktor-faktor penyebab terjadinya vandalisme adalah kekurang sadaran pemustaka, kekecewaan, adanya kesempatan, lemahnya pengawasan, petugas yang tidak profesional, dan faktor lingkungan. Upaya pencegahan (prefentif) yang dapat dilakukan dengan pengamanan fisik dan pengamanan sistem dan tindakan (action) dapat dilakukan dengan pembentukan mentalitas pemustaka, pengontrolan secara rutin, penerapan sanksi yang tegas, pemasangan alat pengaman seperti CCTV C.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 29, No 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue