cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 3 (2015): September" : 7 Documents clear
Perpustakaan Desa sebagai Pusat Informasi: Jembatan penghubung ilmu pengetahuan masyarakat pedesaan Asnawi Asnawi
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.915 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.211

Abstract

AbstrakPerpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang, telah digunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khazanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai jasa layanan lainnya. Pelayanan sumber informasi di perpustakaan desa merupakan ujung tombak kesuksesan kegiatan perpustakaan. Perpustakaan desa yang sudah dibentuk merupakan subsistem dalam sistem nasional perpustakaan. Tujuan utama pembentukan Perpustakaan Desa adalah sebagai satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membaca guna mencerdaskan kehidupan masyarakat desa. Nilai-nilai dasar yang ada dalam perpustakaan desa bisa dijadikan sebagai sumber informasi utama bagi perpustakaan desa dalam melayani masyarakat, baik yang mau belajar, meneliti, berkarya, memperluas wawasan, mencari pengetahuan baru serta informasi-informasi lainya yang dibutuhkan. Keberhasilan suatu perpustakaan desa dapat diukur berdasarkan pada tinggi rendahnya kemampuan perpustakaan tersebut dalam melaksanakan fungsinya sebagai pusat kegiatan belajar mandiri serta pusat pelayanan informasi dan rekreasi masyarakat. Adapun kendala-kendala yang dihadapi perpustakaan desa adalah keberadaan perpustakaan yang belum dikenal luas, kondisi perpustakaan yang serba terbatas, pengelolaan perpustakaan yang belum optimal, akses informasi yang relatif sulit, cara memanfaatkan dan kegunaannya yang belum efektif dan pembinaan perpustakaan desa yang belum diselenggarakan dengan baik.
Pengembangan Perpustakaan Desa Berbasis Community Engagement di Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB Andrea Ardi Ananda
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.266 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.206

Abstract

AbstrakKemajuan suatu bangsa dilihat dari bagaimana kondisi Sumber Daya Manusianya. Salah satu yang menjadi indikator pada umumnya adalah pendidikan. Tingkat Pendidikan masyarakat terutama di desa dapat dikatakan belum merata jika melihat ketersediaan sarana pendidikan yang ada. Dengan adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa diharapkan setiap desa mampu menyediakan, mengelola dan mengembangkan sarana perpustakaan yang ada di desa sebagai wujud pembangunan bangsa. Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan sepanjang hayat dirasa perlu menjadi salah satu tempat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tidak hanya dari segi pengetahuan dan keterampilannya namun juga berpengaruh pada peningkatan taraf ekonomi yang lebih baik. Oleh karena itu, perlu sekiranya dilakukan inovasi dan strategi pengembangan yang mampu menjadikan perpustakaan khususnya di desa sebagai pusat kegiatan dan belajar masyarakat melalui prinsip community engagement (pelibatan masyarakat) seperti yang sudah dilakukan di beberapa Perpustakaan Desa di Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB.
The POWER of Librarian Management Wuri Setya Intarti
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.29 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.212

Abstract

AbstrakSegala sesuatu bila dilakukan dengan cara yang baik dan dilaksanakan sesuai aturan, hasilnya akan baik. Cara yang baik diperlukan manajemen yang baik. Manajemen merupakan kekuatan (POWER) untuk mencapai keberhasilan. Power tidak hanya mempunyai makna kekuatan. Power disini juga mempunyai maksud positif lain yaitu POWER (Plan, Obsesion, Willingness to do more, Egality dan Responsibility). Pustakawan yang setiap kegiatannya dilakukan dengan Management By Anticipation (MBA) sama halnya mempersiapkan keberhasilan dengan melakukan antisipasi hal-hal yang akan menghambat keberhasilan. Oleh karena itu agar menjadi pustakawan yang sukses setiap kegiatannya harus dilakukan dengan Management By Anticipation (MBA).
Perpustakaan Desa Sebagai Sumber Layanan Informasi Utama Asnawi Asnawi
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.915 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.210

Abstract

Perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah digunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khazanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai jasa layanan lainnya. Salah satu jenis perpustakaan yang ada di Indonesia adalah perpustakaan desa. Perpustakaan Desa merupakan perpustakaan umum yang berada ditingkat pemerintahan paling rendah dalam struktur perpustakaan umum. Landasan keberadaan Perpustakaan Desa adalah Instruksi Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 50 Tahun 2000. Perpustakaan Umum Desa berfungsi sebagai kepanjangan tangan dari perpustakaan umum kabupaten/kota.Pemerintah desa adalah bagian dari sistem pemerintahan negara, yang strukturnya terdiri atas desa,AbstrakPerpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang, telah digunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khazanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai jasa layanan lainnya. Pelayanan sumber informasi di perpustakaan desa merupakan ujung tombak kesuksesan kegiatan perpustakaan. Perpustakaan desa yang sudah dibentuk merupakan subsistem dalam sistem nasional perpustakaan. Tujuan utama pembentukan Perpustakaan Desa adalah sebagai satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membaca guna mencerdaskan kehidupan masyarakat desa. Nilai-nilai dasar yang ada dalam perpustakaan desa bisa dijadikan sebagai sumber informasi utama bagi perpustakaan desa dalam melayani masyarakat, baik yang mau belajar, meneliti, berkarya, memperluas wawasan, mencari pengetahuan baru serta informasi-informasi lainya yang dibutuhkan. Keberhasilan suatu perpustakaan desa dapat diukur berdasarkan pada tinggi rendahnya kemampuan perpustakaan tersebut dalam melaksanakan fungsinya sebagai pusat kegiatan belajar mandiri serta pusat pelayanan informasi dan rekreasi masyarakat. Adapun kendala-kendala yang dihadapi perpustakaan desa adalah keberadaan perpustakaan yang belum dikenal luas, kondisi perpustakaan yang serba terbatas, pengelolaan perpustakaan yang belum optimal, akses informasi yang relatif sulit, cara memanfaatkan dan kegunaannya yang belum efektif dan pembinaan perpustakaan desa yang belum diselenggarakan dengan baik.
Penyajian Buku Bermutu Menurut SNI dan ISO Rekomendasi Menuju Perbaikan Berkelanjutan 1 Tisyo Haryono
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.209

Abstract

AbstrakBuku bermutu harus menyajikan abstrak yang merupakan representasi singkat dan akurat dari isi dokumen tanpa menambahkan tafsiran atau kritik dan tanpa membedakan penyusunnya (penulis asli atau orang lain).Penyusunan abstrak dapat berbentuk informatif atau indikatif. Abstrak informatif diperlukan untuk uraian tentang penelitian dan dokumen bertema tunggal. Abstrak informatif perlu menyajikan informasi kualitatif maupun kuantitatif terpenting yang ada dalam dokumen. Abstrak indikatif digunakan untuk uraian yang panjang seperti monograf, ikhtisar atau tinjauan yang luas. Abstrak indikatif hanya menggambarkan jenis dokumen, subjek utama, dan cara pengolahan fakta.Penjelasan lebih lanjut tentang kedua jenis abstrak tersebut disajikan pada SNI 19-4192-2002 tentang Abstrak untuk dokumentasi dan publikasi.
Membangun Citra Positif Profesi Pustakawan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Sri Indarwati
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.204

Abstract

AbstrakPeran pustakawan sangat besar untuk menumbuhkan citra perpustakaan di masyarakat. Setiap perpustakaan dan pustakawan diharapkan mampu memberikan citra yang positif agar selalu sukses dalam berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya. Untuk mengatasi permasalahan dan tantangan yang semakin berat dan kompleks, pustakawan harus memiliki kompetensi profesional dan kompetensi individu (pribadi) karena keberhasilan suatu perpustakaan sangat bergantung pada kemampuan pustakawan dalam mengelola dan mendayagunakan informasi yang dimilikinya. Profesi dan profesionalisme pustakawan belum menampakkan eksistensinya di masyarakat karena ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya penghargaan masyarakat pada profesi ini yaitu faktor eksternal dan internal. Pemberdayaan masyarakat melalui perpustakaan merupakan salah satu upaya nyata yang dapat dilakukan untuk menunjukkan keberadaan dan peran penting pustakawan bagi masyarakat.
e-DDC (electronic-Dewey Decimal Classification) as a Freeware Classification Number Finder Based on DDC: History and development Mohamad Rotmianto
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v22i3.205

Abstract

AbstrakSoftware/aplikasi perangkat lunak untuk sistem informasi manajemen perpustakaan dapat diperoleh dengan mudah baik dengan cara membeli (licensed software) maupun didapatkan dengan gratis (free software), seperti Inlis (Integrated Library System), SLiMS (Senayan Library Management System), Athenaeum Light, KOHA, LASer (Library Automation Service), Linspro, dan lain-lain, yang bermanfaat bagi pustakawan dalam mengelola perpustakaan. Namun software untuk menentukan nomor klasifikasi, khususnya DDC (Dewey Decimal Classification), sampai saat ini hanya tersedia yang berbayar yaitu Dewey for Windows (DFW) dan WebDewey. Rotmianto mengembangkan e-DDC (electronic-Dewey Decimal Classification) sebagai software gratis sejak tahun 2009 dengan harapan dapat menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi pustakawan khususnya bagi penggiat perpustakaan yang tidak berlatar belakang pendidikan formal ilmu perpustakaan dan kesulitan dalam menentukan nomor klasifikasi koleksi. e-DDC (electronic-Dewey Decimal Classification) dibuat dengan tujuan memudahkan para pustakawan atau penggiat perpustakaan dalam menentukan nomor klasifikasi, namun tetap direkomendasikan agar tetap memperhatikan/melihat buku pedoman Klasifikasi DDC terbaru demi keabsahan penomoran.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 29, No 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue