cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 3 (2018): September" : 8 Documents clear
Memaknai Peran Perpustakaan dan Pustakawan dalam Menumbuhkembangkan Budaya Literasi Tunardi Tunardi
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.007 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.221

Abstract

AbstrakLiterasi mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat pembelajar yang hidup di era yang mengedepankan pengetahuan, teknologi, dan informasi saat ini. Peradaban manusia dapat terbangun karena penguasaan literasi yang berbasis pada kegiatan membaca , menulis, dan berpikir kritis. Literasi berkaitan erat dengan perpustakaan dan pustakawan. Perpustakaan dan pustakawan dapat memaknai literasi sebagai sarana bagi masyarakat pembelajar dalam mengenal, memahami dan menerapkan ilmu yang didapatkan di perpustakaan. Literasi sebagai suatu proses bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Selain itu, literasi juga dapat dimaknai sebagai praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Perpustakaan dengan pustakawannya dapat memaknai perannya untuk menumbuhkembangkan budaya literasi bagi pemustaka khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dengan sumber daya yang dimiliki, bersama stakeholder dan kelompok masyarakat dapat melakukan inovasi, kreasi, variasi layanan perpustakaan yang berbasis literasi diharapkan mampu menumbuhkembangkan minat baca dan tulis sehingga kemampuan literasi masyarakat semakin meningkat. Dengan demikian budaya literasi pun akan semakin tumbuh dan berkembang.
Studi Bibliometrika Jurnal Penelitian Politik 2013 – 2017 Rochani Nani Rahayu; Tupan Tupan
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.757 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.217

Abstract

AbstrakArtikel dari Jurnal Penelitian Politik yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Politik LIPI periode 2013 – 2017 sebanyak 91 judul, dianalisis menggunakan metode bibliometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa artikel terbanyak dimuat pada 2017 ( 19 judul = 20,88%), 81 artikel (89%), ditulis oleh penulis tunggal dan 20 artikel (11%) ditulis oleh kolaborasi dua orang penulis dengan nilai tingkat kolaborasi adalah 0,109. Sebanyak 101 penulis bekerja di 20 instansi dan sebanyak 7 jenis dokumen ( 2.229 referensi) disitir. Disimpulkan bahwa dari 91 artikel yang dimuat dalam Jurnal Penelitian Politik, didominasi oleh penulis tunggal, dengan instansi paling produktif adalah LIPI (72,53%). Buku terbanyak disitir (41,14%), dan panjang halaman artikel terbanyak berada pada kisaran 11 – 15 halaman.
Layanan Referensi Virtual: Studi Kualitatif atas Enam Website Perpustakaan Umum Provinsi di Pulau Jawa ARIEF WICAKSONO
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.116 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.222

Abstract

Layanan referensi virtual menjadi kebutuhan untuk masyarakat di era digital. Perpustakaan harus menangkap perubahan yang terjadi di masyarakat ini. Melalui layanan referensi virtual, masyarakat tetap dapat berinteraksi denganpustakawan referens melalui media komunikasi virtual. Informasi penyediaan layanan referensi virtual seharusnya dapat dengan mudah ditemukan di website perpustakaan. Penelitian ini melakukan analisis isi kualitatif atas enam website perpustakaan umum tingkat Provinsi di Pulau Jawa. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana informasi layanan referensi virtual pada enam website perpustakaan tersebut berdasarkan aspek penamaan, aksesibilitas, dan ruanglingkup. Media e-mail ditemukan digunakan di seluruh perpustakaan umum tingkat Provinsi di Pulau Jawa, media formulir online ditemukan di lima perpustakaan, dan livechat digunakan oleh satu perpustakaan saja. Informasi media virtual ini dapat ditemukan dengan mudah di halaman utama website. Penamaannya belum mencerminkan secara langsung media virtual yang ada khusus untuk layanan referensi. Peruntukkan media yang terlihat tidak khusus untuk layanan referensi virtual juga ditambahkan dengan tidak adanya ruang lingkup penggunaan media virtual tersebut.
Open Access dalam Membangun Masyarakat Literat untuk Mendukung Pencapaian Pembangunan Berkelanjutan Rika Yuliant
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.619 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.207

Abstract

Literasi merupakan salah satu dari agenda besar dunia yang dikeluarkan oleh United Nations yang terangkum dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan 4 dari SDGs adalah berkaitan dengan kualitas pendidikan (quality education) yang menjadi kerangka kerja UNESCO yang akan dicapai pada 2030 dalam membangun literasi yaitu memastikan bahwa seluruh masyarakat, baik laki-laki ataupun wanita memiliki kemampuan literasi dan numerasi. Untuk mencapai tujuan tersebut perpustakaan memiliki peran penting dan kontribusi dalam penyediaan akses terhadap informasi untuk membangun masyarakat literat yang mampu mendorong pembangunan berkelanjutan. Penyediaankemudahan akses terhadap informasi dan penggunaan fasilitas teknologi dilakukan oleh Telkom University Open Library melalui konsep open access perpustakaan. Open access dengan pflatform terbuka secara infrastruktur dankegiatan pengembangan pengetahuan dan komunitas. Peran pustakawan dalam rangka mewujudkan masyarakat literat melalui open access dilakukan dengan pengembangan liaison librarian.
Kebijakan Informasi pada Kementerian Agama Republik Indonesia HARIYAH HARIYAH
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.382 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.213

Abstract

Penerapan prinsip-prinsip good governance terutama pada era reformasi ini sangat perlu dalam melakukan penilaian terhadap kualitas kebijakan. Masyarakat dapat mempertanyakan apakah suatu kebijakan diproses secara transparan dan profesional serta disosialisasikan kepada publik, dan apakah isi dari kebijakan yang dibuat pemerintah sudahkah diketahui dan difahami masyarakat. Demikianlah yang menjadi salah satu perhatian dari kebijakan Informasi khususnya terkait dengan apa yang dilakukan pemerintah atau the work of government dan perlu diketahui oleh masyarakat luas. Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa masyarakat dapat memberikan respon atas keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah bila mereka juga telah mengetahui isi dan memahami secara seksama suatu kebijakan yang telah dibuat dan diaplikasikan oleh pemerintah. Dengan demikian diharapkan kualitas, efektivitas dan kapasitas kebijakan publik sesuai yang diharapkan.
Kesetiaan dalam Jalan Kepustakawanan: Studi Life History Blasius Sudarsono Dian Novita Fitriani
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.125 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.203

Abstract

Abstrak Studi ini bertujuan untuk memberikan referensi dan pembelajaran bagi calon pustakawan, pustakawan muda, maupu pustakawan yang telah senior untuk memaknai kepustakawanan yang sedang dijalani. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah life history. Dalam ilmu antropologi budaya, life history lebih sering dikenal dengan istilah individual’s life history, dimana pendekatan ini didapatkan dari apa yang dialami oleh individu-individu tertentu sebagai warga dari suatu masyarakat yang menjadi obyek penelitian. Dari penelitian ini didapatkan bahwa selama 45 tahun Blasius Sudarsono menekuni bidang kepustakawanan menunjukkan sebuah pengabdian yang tulus dengan praktek yang menyeluruh untuk kepustakawanan Indonesia. Awal menekuni profesi pustakawan, BS mengaku menjalaninya dengan terpaksa. Namun ia memiliki prinsip bahwa, baginya laki-laki yang dipegang adalah omongannya. Sehingga pernyataan “ya” ketika awal memutuskan untuk menekuni profesi ini menjadi tuntutan bagi dirinya untuk setia pada kepustakawanan. Pernyataan “iya” baginya memiliki hubungan yang erat, melekat dan tidak dapat dipisahkan atau ineren dengan kesetiaan. Seseorang dikatakan setia ketika ia memiliki penyebab yang membuat ia setia. Bagi BS, ia mendapatkan nafkah dari bidang kepustakawanan sehingga ia harus memikirkan bidang tersebut. Selain itu, kesetiaan juga dibuktikan dengan pengabdian terhadap bidang tersebut dan diekspresikan dalam berbagai cara dan praktek. Bagi BS, hidupnya memang ditakdirkan untuk memikirkan kepustakawanan. Bahkan penghargaan life achievement, dimaknainya sebagai “penjara seumur hidup” baginya untuk memikirkan kepustakawanan Indonesia. Meskipun awalnya BS menjalani profesi pustakawan dengan terpaksa, namun dalam perjalanannya ia mampu memberikan yang terbaik dan menjadi yang terbaik.
Membangun Kegiatan Literasi Melalui Komunitas: Upaya Pustakawan Bergerak dengan Program Go-Read SANTOSO MAHARGONO
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1691.85 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.219

Abstract

Hasil survey dan kajian tentang minat baca di Indonesia yang belum memuaskan mendorong berbagai pihak baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk memasyarakatkan minat baca. Pemerintah dalam hal ini Perpustakaan Nasional RI bahkan menggemakan sebuah gerakan yang bernama Pustakawan Bergerak. Ekspektasi yang diinginkan adalah keterlibatan pustakawan dalam rangka memasyarakatkan minat baca dan ikut serta membangun literasi untuk kesejahteraan. Fenomena yang terjadi saat ini adalah partisipasi masyarakat yang begitu besar dalam kegiatan literasi. Partisipasi dari masyarakat itu semakin jelas ditandai dengan lahirnya perpustakaan komunitas dengan beragam nama sebutan, misalnya gubug baca, rumah baca, sudut baca, pojok baca, museum baca, sanggar baca, pos baca dan sebutan lainnya yang sejatinya sebagai bentuk penyediaan bahan bacaan bagi masyarakat. Masyarakat bergerak dengan swadaya, mulai di pelosok desa hingga di perkotaan. Masyarakat atau perorangan yang berinisiatif dengan kegiatan peningkatan minat baca ini dapat didefinisikan sebagai pegiat literasi. Kegiatan yang dilakukan juga tidak hanya terpola pada literasi fungsional atau dasar saja. Mereka aktif dalam memberikan informasi, pengetahuan dan pengalaman tentang seni, budaya, keterampilan tepat guna, permainan tradisional, keterampilan berbahasa dan berkomunikasi, mengadakan forum ilmiah, kajian ilmiah dan memberdayakan masyarakat secara ekonomi, politik dan sosial. Perorangan yang ikut serta dalam kegiatan literasi seperti halnya Kuda Pustaka di Purbalingga, Angkot Pustaka di Bandung, Perpustakaan terapung di Belawan, Tas Ransel di Palangkaraya, Perahu Pustaka di Makassar, Motor Pustaka di Lampung Selatan, Becak Pustaka di Yogyakarta, Bemo Pustaka di Jakarta serta berbagai perorangan lainnya dengan cara masing-masing. Peran yang dilakukan oleh masyarakat tersebut justru sebagian besar telah melaksanakan tugas pokok dan fungsi pustakawan. Seyogyanya pustakawan juga dapat berperan dengan cara berkolaborasi bersama pegiat literasi tersebut. Selain menyampaikan informasi pustakawan dapat berperan menjadi konspetor, mediator, dan motivator dalam kegiatan literasi bersama masyarakat. Salah satu caranya melalui komunitas.
Revolusi Industri 4.0 : Peluang Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi Putra Pratama
Media Pustakawan Vol 25, No 3 (2018): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v25i3.214

Abstract

AbstrakPerkembangan Teknologi Informasi (TI) dewasa ini berkembang begitu pesat. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, setiap organisasi atau perusahaan khususnya perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi informasi agar dapat bersaing di era globalisasi saat ini. Arus globalisasi yang tidak terbendung lagi serta perkembangan teknologi yang terjadi secara masif manjadikan munculncya era Revolusi Industri 4.0. Perkembangan Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang perpustakaan untuk bertransformasi menjadi perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dengan memanfaatkan teknologi AI (Artificial Intilegent), Augmented Reality (AR), Remote Access, Co-Working Space. Peningkatan kompetensi skill literasi juga harus dimiliki oleh pustakawan di era teknologi informasi. Tiga literasi utama yang harus dimiliki adalah, 1) Literasi digital, 2) Literasi teknologi, 3) Literasi manusia. Tiga keterampilan ini diprediksi menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam era Revolusi Industri 4.0. Metode penulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan metode pengumpulan data observasi.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue