cover
Contact Name
Sisparyadi
Contact Email
sisparyadi@ugm.ac.id
Phone
+6281328694342
Journal Mail Official
Jurnalpswk.pusdi@ugm.ac.id
Editorial Address
Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jln. Trengguli E 11 Yogyakarta Telp. (0274) 583546
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Wanita dan Keluarga
ISSN : -     EISSN : 2746430X     DOI : https://doi.org/10.22146/jwk
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Wanita dan Keluarga (JWK) mempublikasikan karya ilmiah dan hasil penelitian dari dalam dan luar negeri yang fokus pada issu pemberdayaan perempuan dalam perspektif gender melalui pendekatan multidisiplin ilmu dan pemberdayaan keluarga yang difokuskan pada perlindungan dan tumbuh kembang anak sebagai penerus generasi. Ruang lingkup  Gender dan kemiskinan  Gender dan Ketahanan Pangan  Gender dan Kesehatan  Gender dan Pendidikan  Gender dan sanitasi lingkungan  Gender dan Energi  Gender dan ketenagakerjaan  Gender dan infrastruktur  Gender dan Agama  Kekerasan berbasis Gender Tumbuh kembang dan perlindungan anak  Kesejahteraan keluarga
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021" : 6 Documents clear
Kerentanan Perempuan dalam Surveillance Capitalism Bergita P. Pricelia Lejo
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.671 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3616

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa kerentanan perempuan terhadap Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) di dalam ruang digital. Studi ini menggunakan konsep kapitalisme pengawasan/surveillance capitalism dan symbolic violence sebagai dasar untuk memahami logika ekonomi dan juga kekerasan yang berlangsung dalam ruang digital. Ruang digital sebagai alat ekonomi tidak hanya menghasilkan “behavioral surplus” sebagai material baru tetapi juga menjadi ruang bagi terbentuknya “dominant habitus” tentang siapa itu perempuan dan bagaimana seharusnya perempuan merepresentasikan dirinya. Dominant habitus yang senantiasa direproduksi mampu menciptakan kebutuhan ekonomi bagi perempuan melalui komodifikasi dan bahkan eksploitasi terhadap tubuh perempuan yang terepresentasi dalam teks gambar, dan video di dalam platform digital. Melalui proses-proses ini, perempuan mengalami kekerasan simbolik yang terus-menerus direproduksi dalam dominant habitus. Dengan demikian, bekerjanya surveillance capitalism dan menguatnya dominant habitus di dalamnya menjadi kondisi yang membuka ruang bagi berlangsungya KGBO terhadap perempuan. Dengan menggunakan perspektif kritis dalam memandang KGBO tulisan ini hendak mendalami proses-proses yang mengkondisikan kerentanan perempuan di dalam ranah digital. Pemahaman akan hal-hal tersebut menjadi basis penting untuk memikirkan secara tepat posisi perempuan di dalam ruang digital yang saat ini secara luas diterima sebagai condition sine qua non yang di dalamnya berbagai bentuk relasi berlangsung. Dengan demikian, tulisan ini memberikan pijakan dasar untuk mendorong dan merumuskan beberapa agenda perubahan. === This paper aims to analyze women's vulnerability to Online-Based Gender Violence (KGBO) in the digital platform. This study uses the concept of surveillance capitalism and symbolic violence as a basis for understanding the economic logic and violence that takes place in today's digital platform. Digital platform as an economic tool not only produces a "behavioral surplus" as a new material, but also becomes a space for the formation of a "dominant habitus"; who is women are and how women should represent themselves. Dominant habitus which is always reproduced is able to create economic needs for women through commodification and even exploitation of women's bodies which are represented in text, images and videos on digital platforms. Throughout these processes, mostly women suffer from symbolic violence which persistently reproduced by the dominant habitus. It obviously reflects the vulnerability of woman as the victim of KGBO. By using a critical perspective in looking at KGBO, this paper intends to explore the process that put women’s vulnerability in the digital arena. Understanding of these matters becomes an important basis for thinking about the exact position of women in the digital space which is currently widely accepted as a condition sine qua non in which various forms of relations take place. Thus, this paper provides a basic basis for encouraging and formulating several agendas for change.
Pengaruh Media Sosial “Instagram” Di Masa Pandemi Covid-19 terhadap Kekerasan Berbasis Gender Online Fitria Cita Dirna
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.948 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3617

Abstract

Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) merupakan salah satu jenis kasus baru dalam Kekerasan Berbasis Gender yang saat ini mulai banyak dilaporkan kepada Komnas Perempuan. Kekerasan ini dapat terjadi karena difasilitasi oleh internet serta teknologi. Instagram merupakan media sosial yang memiliki banyak jumlah pengguna sehingga menjadi salah satu wadah terjadinya kasus KBGO. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media sosial instagram terhadap kasus KBGO di masa pandemi COVID-19 serta menganalisis upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam menangani kasus KBGO. Metodologi yang digunakan dengan pendekatan deskriptif analisis telaah pustaka sebanyak 21 literatur yang berkaitan dengan KBGO, media sosial, instagram, dan masa pandemi COVID-19 di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa instagram berpengaruh terhadap peningkatan kasus KBGO di masa pandemi COVID-19. Adapun upaya yang dilakukan untuk menangani kasus KBGO seperti membuat akun khusus di instagram, sebagai wadah untuk korban KBGO berbagi kisah yang pernah dialaminya, melakukan seminar daring (webinar) di masa pandemi COVID-19, dan membuat kampanye dengan poster di instagram. Secara keseluruhan, Peristiwa pelecehan dengan komentar kasar serta pelanggaran privasi merupakan jenis kasus KBGO yang banyak terjadi di instagram. === Online Gender-Based Violence (KBGO) is a new type of case in Gender-Based Violence, which is currently being reported to Komnas Perempuan. This violence can occur because it is facilitated by the internet and technology. Instagram is a social media that has a large number of users so that it is one of the places for the KBGO case to occur. The purpose of writing this article is to analyze the influence of social media Instagram on KBGO cases during the COVID-19 pandemic and to analyze what efforts can be made in dealing with KBGO cases. The methodology used is a descriptive approach to analyzing literature review as much as 21 literature related to KBGO, social media, instagram, and the COVID-19 pandemic in Indonesia. The results of the analysis show that Instagram has an effect on the increase in KBGO cases during the COVID-19 pandemic. Efforts are being made to handle the KBGO case, such as creating a special account on instagram as a forum for KBGO victims to share stories they have experienced, conducting online seminars (webinars) during the COVID-19 pandemic, and creating campaigns with posters on Instagram. Overall, incidents of harassment with harsh comments and violations of privacy are the most common types of KBGO cases on Instagram.
Melihat Peran Perantara dalam Kasus Penyebaran Video Non-Konsensual dengan Kerangka Contextual Integrity Idha Saraswati
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.352 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3618

Abstract

Jumlah kasus kekerasan berbasis gender online atau KBGO selama masa pandemi dilaporkan meningkat. Penambahan jumlah pengguna internet serta kian masifnya tranformasi digital selama masa pandemi dipandang berkontribusi dalam peningkatan kasus KBGO tersebut. Kekerasan berbasis gender yang selama ini sudah marak terjadi di ranah offline menemukan ruang baru di dunia online sehingga kian mengancam keamanan, kesehatan dan keselamatan perempuan. Dalam kasus KBGO, dua pihak yang paling banyak dibicarakan adalah pelaku dan korban. Namun, pembicaraan tersebut melupakan pihak lain yang juga berpengaruh penting dalam terjadinya kekerasan, yakni platform digital yang menjadi wadah maupun memfasilitasi peristiwa kekerasan. Platform digital seperti media sosial tercatat menjadi salah satu medium terjadinya KBGO. Tulisan ini memaparkan peran platform digital sebagai perantara dalam kasus kekerasan, khususnya KBGO, dengan menerapkan kerangka contextual integrity yang diajukan Nissenbaum (2010) pada kasus penyebaran video intim non-konsensual yang menimpa GA dan GL. Tulisan ini menunjukkan bahwa melalui sistem dan kebijakan layanannya, pihak perantara turut berperan dalam mendorong terjadinya KBGO. === The number of online gender based violence (OGBV) cases in Indonesia are reportedly increasing during the pandemic. The increasing number of internet users and the massive digital transformation during the pandemic has contributed to the escalation in OGBV cases. Gender-based violence has found a new space in the online world, thus threatening women’s security, health, and safety. In the OGBV case, the two parties that has been discussed the most were the perpetrators and the victims. However, the discussion forgot about the other party that also had an important influence, namely the digital platform. Digital platfarm like social media has become the medium for OGBV.This paper describes the role of the digital platform as an intermediary party for communication exchange in the cases of online violence, especially OGBV, by applying the contextual integrity framework proposed by Nissenbaum (2010) in the dissemination of non-consensual intimate videos of GA and GL cases. This paper shows that through its system and policies, digital platforms play significant role in facilitating OGBV.
Kerentanan Anak Indonesia terhadap Kekerasan Seksual Online Era Covid-19: Sebuah Perspektif Hukum Nadira Tatyana
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.328 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3619

Abstract

Sejak terjadinya pandemi COVID-19, kekerasan seksual online anak di Indonesia meningkat seiring dengan meningkatnya paparan terhadap internet dan teknologi digital, sehingga berakibat buruk bagi berkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh COVID-19 terhadap kekerasan seksual anak serta pengaturan dan perlindungan hukum atas kekerasan seksual online anak. Penelitian ini termasuk penelitian yuridis normatif dan menggunakan data sekunder. Analisis data menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis dokumen dari data sekunder, sehingga bersifat deskriptif-analitis yang menggambarkan suatu gejala sosial. Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan. Pertama, COVID-19 berpengaruh terhadap kenaikan tingkat kekerasan seksual online terhadap anak dikarenakan tingginya paparan internet dan teknologi digital terhadap anak. Kedua, pemerintah telah meratifikasi Convention on the Rights of the Child dan optional protocol terkait serta Undang-Undang Perlindungan Anak. Hal yang perlu dikritisi antara lain peningkatan pengawasan orang tua atas aktivitas berinternet anak dan penegakkan hukum dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. === Ever since COVID-19 hit, the rate of online sexual violence against child in Indonesia has risen tremendously along with the increasing exposure to the internet and digital technology, hence would adversely affect child development. This research aims to find the impacts of COVID-19 towards online sexual violence against child as well as regulations and legal protections of online sexual violence against child. This research is normative juridical research. This research uses secondary data. The data analysis used in this research is qualitative method by analyzing collected secondary data, therefore this research is descriptive-analytical which explains a social phenomenon. There are two conclusions in this research. First, COVID-19 impacts the rising rate of online sexual violence against child due to the high exposure of internet and digital technology usage. Second, government has ratified Convention on the Rights of the Child and its related optional protocol and Child Protection Law. There are criticized matters regarding this research, inter alia strengthening parents’ surveillance on child’s internet activities and the law enforcement on Child Protection Law.
Analisis Wacana Kritis Komentar Seksual dalam Media Sosial Twitter Laki-Laki Berekspresi Gender Feminin Nara Garini Ayuningrum
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.746 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3620

Abstract

Pandemi COVID-19 memaksa masyarakat untuk mengisolasi diri mereka masing-masing demi mencegah penyebaran virus. Hal ini meningkatkan aktivitas daring para individu demi memenuhi segala kebutuhan dan kewajiban. Tidak hanya aplikasi berbasis jasa yang mengalami peningkatan aktivitas pengguna, tetapi juga aplikasi media sosial, salah satunya adalah Twitter. Dengan berbagai fitur yang ditawarkan, Twitter tidak hanya mempermudah individu untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang dikenalnya, tetapi juga membuka peluang untuk berinteraksi dengan pengguna lain tanpa adanya batasan. Twitter memungkinkan penggunanya untuk mengunggah swafoto dan membiarkan pengguna lain untuk mengomentari swafoto/unggahan tersebut. Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis komentar-komentar bernada seksual yang ada pada swafoto akun @dododid_ selama periode tahun 2020. Dengan menggunakan metode analisis wacana kritis Norman Fairclough, peneliti menemukan 3 wacana besar terkait swafoto laki-laki berekspresi gender feminin, yaitu wacana cantik = perempuan, wacana objektifikasi dan stigma dan stereotipe. Melalui penelitian ini penulis juga menemukan bahwa kekerasan gender berbasis online bisa dialami oleh siapa saja dalam bentuk yang bermacam-macam. === The COVID-19 forces people to isolate themselves to prevent the spread of the virus. COVID-19 increases the online activities of individuals to meet all their needs and obligations. Not only service-based applications that increased user activity, but also social media applications, which is Twitter. With the various features that Twitter offers, it not only makes it easier for individuals to communicate with people they know, but also opens up opportunities to interact with other users without any restrictions. Twitter allows its users to upload selfies and allows other users to comment on those selfies/uploads. In this research, authors analyzed sexually comments on @dododid_ selfies during the 2020 period. Using Norman Fairclough's critical discourse analysis method, authors found 3 major discourses related to selfies of men with feminine gender expression, that are beautiful discourse = women, objectification discourse and stigma and stereotypes. Through this study the author also found that online-based gender violence can be experienced by anyone in various forms.
Berebut Kuasa Tubuh: Norma Agama dan Kuasa Tubuh dalam Kekerasan Gender Berbasis Online Rafif Pamenang Imawan
Jurnal Wanita dan Keluarga Vol 2 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Pusat Studi Wanita dan Keluarga UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.43 KB) | DOI: 10.22146/jwk.3621

Abstract

Kajian ini akan mengeksplorasi kekerasan berbasis gender dengan mengeksplorasi pengaturan data pribadi dan solusi dominasi patriarki dalam masalah media online. Dengan menggunakan tinjauan pustaka sistematis, tujuan dari penelitian ini adalah memberikan peta kompleksitas dalam masalah pemanfaatan media sosial online. Harapan dari penelitian ini adalah dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang masalah hakikat kekerasan berbasis gender online dengan memberikan peta permasalahan sosial di Indonesia. Selain itu, secara akademis, tulisan ini akan mengeksplorasi teori postmodernisme tentang gender, ruang media sosial dan online serta masalah pola pikir struktural terkait kekerasan berbasis gender. Dalam ranah yang lebih praktis, tulisan ini akan memberikan landasan dasar bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan terkait kekerasan berbasis gender secara online. === The COVID-19 forces people to isolate themselves to prevent the spread of the virus. COVID-19 increases the online activities of individuals to meet all their needs and obligations. Not only service-based applications that increased user activity, but also social media applications, which is Twitter. With the various features that Twitter offers, it not only makes it easier for individuals to communicate with people they know, but also opens up opportunities to interact with other users without any restrictions. Twitter allows its users to upload selfies and allows other users to comment on those selfies/uploads. In this research, authors analyzed sexually comments on @dododid_ selfies during the 2020 period. Using Norman Fairclough's critical discourse analysis method, authors found 3 major discourses related to selfies of men with feminine gender expression, that are beautiful discourse = women, objectification discourse and stigma and stereotypes. Through this study the author also found that online-based gender violence can be experienced by anyone in various forms.

Page 1 of 1 | Total Record : 6