cover
Contact Name
Rahmi
Contact Email
jpsy165@upiyptk.ac.id
Phone
+6282301777869
Journal Mail Official
jpsy165@upiyptk.ac.id
Editorial Address
http://lppm.upiyptk.ac.id/ojsupi/index.php/PSIKOLOGI/navigationMenu/view/Editorial
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Psyche 165 Journal
ISSN : 20885326     EISSN : 25028766     DOI : https://doi.org/10.35134/jpsy165
Psyche 165 Journal is an interdisciplinary journal that publishes empirical research, theoretical articles, and selected reviews in applied areas of psychology (other than applied experimental or human factors), including: Behavioral Psychology Clinical Psychology Cognitive Psychology Counseling Psychology Cultural Psychology Economic Psychology Educational Psychology Environmental Psychology Ethics in Psychology Family Psychology and Couples Psychology Forensic Psychology Health Psychology Industrial and Personnel Psychology Professional Practice Psychology of Religion Psychotherapy School Psychology Social Psychology Sport Psychology In addition to publishing manuscripts that have a clearly applied focus, Psyche 165 journal solicits interdisciplinary research that integrates literatures from psychology with other related fields (e.g., occupational health, consumer behavior, law, religion, communication, and political science) in a meaningful and productive manner. Multidisciplinary authorship is encouraged, as is work that fosters novel ideas, identifies mediating variables, includes transboundary issues, and most importantly, encourages critical analysis.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 17 (2024) No. 3" : 20 Documents clear
Emosi Positif Sebagai Mediator Antara Shopping Lifestyle dan Impulse Buying Oskar , Dimas Perdana; Mariana, Rina; Wahyuni, Rika
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.400

Abstract

Salah satu pola perilaku masyarakat Indonesia dalam melakukan kegiatan pembelian adalah impulse purchase atau kurangnya perencanaan dalam pembelian. Pembelian yang tidak direncanakan sebelumnya ini atau diputuskan secara spontan disebut dengan impulse buying. Impulse buying tidak hanya terjadi pada pelanggan yang berbelanja secara fisik tetapi juga terjadi pada pelanggan yang berbelanja secara online melalui e-commerce Shopee. Dua faktor yang mungkin mendorong pelanggan untuk melakukan impulse buying adalah shopping lifestyle dan emosi positif, dan kedua faktor ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mendorong pelanggan berbelanja di e-commerce Shopee. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pengaruh shopping lifestyle terhadap impulse buying, dan fungsi emosi positif sebagai mediator antara shopping lifestyle dan impulse buying. Model penelitian adalah kuantitatif dan melibatkan 110 responden yang berbelanja di e-commerce Shopee di Kota Padang melalui metode non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model persamaan struktural dengan Parsial Least Square (berupa perangkat lunak SmartPLS). Hasil evaluasi model pengukuran dan penilaian model struktural memiliki relevansi dan kekuatan prediktif yang baik. Pengujian hipotesis menunjukkan hasil terdapat pengaruh langsung signifikan antara shopping lifestyle dengan emosi positif pada pelanggan e-commerce Shopee, terdapat pengaruh langsung signifikan antara shopping lifestyle dengan impulse buying pada pelanggan e-commerce Shopee, tidak terdapat pengaruh langsung antara emosi positif dengan impulse buying pada pelanggan e-commerce Shopee dan emosi positif tidak memediasi pengaruh shopping lifestyle dengan impulse buying pada pelanggan e-commerce Shopee.
Infertilitas sebagai Stres Kronik: Pengaruh Resiliensi terhadap Kualitas Hidup Perempuan dengan Infertilitas Lisyanti; Kilis, Grace
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.401

Abstract

Infertilitas sebagai stres kronik memengaruhi kualitas hidup dan kemampuan perempuan dengan infertilitas untuk bangkit yang disebut sebagai resiliensi. Kualitas hidup yang baik merupakan prediktor akan keberhasilan program hamil. Individu yang resilien melihat sumber stres sebagai pengalaman belajar positif yang membuat mereka lebih kuat dan terus mencari sumber daya, sehingga mereka dapat menghadapi kondisi sulit dengan adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah resiliensi memengaruhi kualitas hidup pada perempuan dengan infertilitas. Kriteria inklusi partisipan penelitian adalah perempuan berusia minimal 18 tahun, sedang menjalani hubungan pernikahan minimal 1 tahun, belum memiliki anak dan sedang mengusahakan kehamilan melalui program hamil alami atau medis, serta menunjukkan distres psikologis terkait infertilitas kategori sedang atau tinggi. Terdapat 129 perempuan dewasa (rata-rata usia 27,8 tahun) yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Tingkat resiliensi diukur dengan menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale 25 (CD-RISC 25) dan kualitas hidup diukur menggunakan WHO Quality of Life Brief (WHOQOL-Bref). Uji simple regeression menunjukkan bahwa terdapat pengaruh resiliensi yang positif dan signifikan terhadap masing-masing dimensi kualitas hidup. Perempuan infertil yang resilien mampu melihat hidup dengan penuh harapan meskipun dihadapkan pada masalah atau kondisi sulit. Resiliensi mendorong individu agar terlibat dalam aktivitas yang bermakna, seperti membangun hubungan yang dekat dengan orang lain, bergabung dalam komunitas, dan meluangkan waktu untuk rekreasi. Diskusi terkait masing-masing dimensi kualitas hidup dan saran penelitian lanjutan menunjukkan perlunya menjaring populasi partisipan yang lebih beragam.
Peran Dukungan Atasan terhadap Intensi Keluar Karyawan: Kepuasan Kerja sebagai Mediator Suyasa, P. Tommy Y. S.; Mulyatri, Lydia; Sebastiaan Rothmann
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.409

Abstract

Pandemi telah menciptakan kondisi yang menantang terhadap cara kerja tradisional selama ini bahkan hingga saat ini selepas pandemi. Manajer menjadi harus beradaptasi secara cepat ke kondisi “tidak tahu yang tidak diketahui” sebagaimana mereka berusaha mendukung karyawan di lingkungan kerja untuk beradaptasi dengan perubahan. Karyawan yang pada umumnya menghabiskan sebagian besar waktunya di perusahaan dengan batasan-batasan fisik sekarang harus menyesuaian diri dengan cepat dalam kondisi bekerja remote ataupun hybrid ataupun kembali bekerja di kantor. Berbagai penelitian di seluruh dunia dilakukan untuk mendukung upaya mengeksplorasi berbagai hal yang dinilai efektif dalam penyusunan strategi kepuasan kerja karyawan. Organisasi juga menyadari bahwa ketidakpuasan kerja dapat berkontribusi terhadap intention to leave yang dapat berdampak negatif pada perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti peran dukungan atasan dalam memprediksi intensi untuk keluar pada karyawan dengan kepuasan kerja sebagai mediator. Peneliti akan membahas aspek dukungan atasan ini lebih komprehensif dengan menggunakan 3 dimensi yang berasal dari self-determination theory, yaitu dukungan otonomi, kompetensi serta keterkaitan. Partisipan penelitian adalah 337 karyawan dengan status permanen perusahaan berusia produktif dari berbagai departemen dan bidang industri di jabodetabek. Pengambilan data dilakukan melalui survey dengan metode convenience sampling sebagai bagian dari metode non-probability sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah. Supervisor Behaviour Scale (SBS), Intention to leave Scale (ILS), Job Satisfaction Survey (JSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja memediasi secara penuh variabel dukungan atasan dalam memprediksi intensi untuk keluar. Dengan kata lain, semakin tingginya dukungan atasan dapat memprediksi turunnya intensi karyawan untuk keluar melalui peran mediasi dari meningkatnya kepuasan kerja karyawan.
Stress, Family Support, Coping Strategies in Single Mother Bereaved by Spousal Death Jasmita, Reni; Juliawati, Dosi; Harmalis, Harmalis
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.412

Abstract

Prolonged grief, economic difficulties, anxiety about supporting children, problems adjusting to new conditions, feelings of alienation from the environment, and loss of intimate support from close people. From this, the purpose of this study is to determine whether there is an influence between stress and family support on coping strategies. The research method used was quantitative cross sectional survey research. Sampling using total sampling technique. The research subjects were 32 samples with the criteria that single mothers aged 35 to 45 years. The scale used in this study is the Perceived Stress Questionnaire (PSQ) to measure the extent to which situations in an individual's life can be assessed as a perception of stress, Family Support Scale (FSS), Coping Scale (QS) to measure coping strategies and the ability of individuals to adjust to various stressors experienced. The research data were analyzed using multiple regression methods by utilizing the Statistical Package for Social Sciece (SPSS) version 20 program. The results of data analysis show that there is an influence between stress and family support on coping strategies. From the results of hypothesis testing, a significant value is obtained between stress and family support on coping strategies as evidenced by the significant value of (0.000 <0.05) and the value of f count 14.055> from the value of f table 3.33 then Ha is accepted, meaning that there is an influence between stress and family support on coping strategies in single mothers significantly.
Adaptasi Alat Ukur Proactive Personality Scale (PPS) Versi Indonesia pada Karyawan Viratasya, Aura; Kadiyono, Anissa Lestari
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.414

Abstract

Dalam menghadapi perubahan dalam industri, kepribadian proaktif sangat berperan penting dalam berbagai aspek kinerja dan dinamika organisasi. Individu proaktif cenderung lebih fleksibel dan adaptif terhadap perubahan di tempat kerja. Mereka melihat perubahan sebagai peluang daripada ancaman dan lebih mampu beradaptasi dengan cepat terhadap kondisi yang berubah. Kepribadian proaktif memiliki dampak yang signifikan pada efektivitas baik individu maupun organisasi, serta kontribusi keseluruhan terhadap lingkungan kerja yang positif dan produktif. Alat ukur yang dapat mengukur kecenderungan individu untuk bertindak secara proaktif dalam berbagai situasi yaitu Proactive Personality Scale (PPS). PPS dikembangkan oleh Bateman dan Crant pada tahun 1993. Saat ini di Indonesia belum terdapat penelitian yang melaporkan adaptasi alat ukur PPS ke dalam Bahasa Indonesia agar dapat digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan adaptasi PPS dan menguji hasil psikometri. Pengumpulan data dilakukan dengan metode convenience sampling dengan menyebarkan kuesioner melalui media sosial dan menggunakan Google Form. Alat ukur yang terdiri dari 17 item diberikan kepada 290 karyawan dewasa awal yang berusia 18 - 40 tahun. Hasil adaptasi menunjukkan bahwa alat ukur PPS reliabel dengan Cronbach's alpha sebesar .826. Hasil CFA menunjukkan model dapat diandalkan dan memenuhi kriteria (RMSEA = .036, SRMR = .066, CFI = .986, TLI = .984). Berdasarkan hasil CFA menunjukkan bahwa model pengukuran PPS dapat direpresentasikan untuk mengukur kepribadian proaktif pada karyawan di Indonesia.
Regulasi Emosi Sebagai Moderator Hubungan Ruminasi dan Simtom Psikomatik pada Lansia Panigoro, Asyifa Prasasti; Roswiyani; Soetikno, Naomi
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.416

Abstract

Indonesia sedang mengalami penuaan populasi, ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas yang meningkat dua kali lipat antara tahun 1971 dan 2019. Peningkatan demografi penduduk lansia menimbulkan kekhawatiran karena penduduk lansia tidak termasuk ke dalam populasi usia kerja, sehingga berdampak pada lesunya pertumbuhan ekonomi negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis regulasi emosi sebagai moderator hubungan antara ruminasi dan simtom psikosomatik pada lansia. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif kuantitatif, dengan metode pengumpulan data berupa survei yang disebar kepada 136 lansia yang dikategorikan mandiri dan berlokasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian antara lain yaitu uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji regresi. Pengukuran dilakukan menggunakan skala simtom psikosomatik untuk mengukur gejala somatis dan psikologis yang diturunkan dari alat pengukuran DSM-5 dan terdiri dari empat dimensi, yaitu gangguan fisik, gangguan kecemasan, gangguan depresi dan gangguan kecemasan dan depresi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara ruminasi dengan simtom psikosomatik pada lansia sebesar 27,4%. Hasil analisis juga menunjukan bahwa regulasi emosi memoderasi secara negatif hubungan antara ruminasi dengan simtom psikosomatik pada lansia sebesar 29,9%. Dengan demikian, penelitian ini menemukan bahwa semakin sering lansia melakukan ruminasi, maka hal tersebut akan berpengaruh pada seberapa sering pengalaman simtom psikosomatik yang dirasakan oleh lansia. Hal ini dapat di moderasi dengan regulasi emosi, dimana apabila semakin tinggi regulasi emosi seorang lansia, maka akan semakin rendah simtom psikosomatik pada lansiayang disebabkan oleh ruminasi.
Pengembangan Alat Ukur Budaya Organisasi Pada Kontingen Garuda Pasukan Perdamaian PBB Muhammad Eko Heru Saputro; Anissa Lestari Kadiyono
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.423

Abstract

Developments in science and technology that occur in the world bring changes to human life. The change will ultimately bring higher tension to each individual. In order for organizational goals to be carried out properly, support from management is needed. This study aims to examine the extent to which the validity and reliability of Organizational Culture. The impact on personnel carrying out assignments to UN peacekeeping forces, so they can provide an overview and input to the organization in build its organizational culture, to increase success in assignments. The process includes completing the construct of measuring instrument by reducing the dimensions to a number of indicators, creating items that represent indicators from each existing dimension, and conducting an expert review. Furthermore, the researchers collected data using online questionnaire, on a sample of the assignment unit with a total sample of 125 people consisting of various positions. This research was tested with a high Chronbach's Alpha value, so it can be said that the organizational culture measuring instrument has ideal reliability. From the results of calculating Item Response Theory, it is obtained proportion at a good value, it can be said that the item is suitable for use. The results of the confirmatory factor analysis show the relationship between dimensions of Organizational Culture meets the requirements, for model fit and factor loading values ​​of Organizational Culture can be said to be good. Thus the measuring instrument of organizational culture is reliable and valid to use.
Studi Kasus Analisis Dukungan Orang Tua dalam Memotivasi Belajar Anak Sari, Indah Mutia; Daulay, Annisa Arrumaisyah
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.432

Abstract

Motivasi belajar anak dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kondisi orang tua di mana anak memiliki ibu yang bekerja ataupun memiliki ibu rumah tangga. Motivasi belajar yang rendah tentu saja dapat mempengaruhi proses anak dalam pembelajaran disekolah, dan tentu saja dapat mempengaruhi anak dalam mengejar cita-cita kedepannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi belajar anak antara status ibu karir dan ibu rumah tangga. Metode yang digunakan ini adalah metode kualitatif deskriptif. Informan penelitian ini berjumlah 4 orang, karakteristik penelitan adalah ibu dengan status ibu yang bekerja diluar rumah dan ibu rumah tangga beserta 2 informan pendukung. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis domain dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan verifikasikan data untuk menarik kesimpulan. Berdasarkan temuan penelitian bahwa motivasi belajar ibu karir dan iburumah tangga memiliki perbedaan dalam memberikan motivasi belajar. Ditinjau dari indikator motivasi belajaryaitu dorongan dan kebutuhan belajar, hasrat dan keinginan berhasil, lingkungan kondusif dan penghargaan dalam belajar. Ibukarirmemilikiwaktu yang lebih sedikit dalam menemani belajar tetapi hasrat dan keinginan berhasil terhadap anaknya dan berusaha untuk tetap menciptakan lingkungan yang kondusif. Disamping itu ibu rumah tangga memiliki waktu yang banyak menemani anaknya belajardengan memberikan dorongan dan kebutuhan belajar, memiliki hasrat dan keinginan berhasil terhadap anaknya dengan menciptakan lingkungan yang kondusif, disamping itu juga dengan memberikan suatu penghargaan dalam belajar terhadap anaknya.
Pengembangan Diri Remaja Keluarga Broken Home di MAN 2 Model Medan Yvonne, Irma Nadiera; Abdurrahman, Zulkarnain
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.436

Abstract

Setiap anak pasti menginginkan mempunyai keluarga yang lengkap. Namun, pada kenyataannya terkadang banyak hal yang membuat rumah tangga di keluargnya menjadi berpisah, baik dikarenakan perceraian ataupun hal lainnya, yang terkadang menjadikan anak broken home. Seseorang yang broken home, terkadang tidak mempunyai tempat bercerita, sehingga tak jarang banyak yang mengarah kepada kenalakan remaja seperti melakukan seks bebas, narkoba, lari dari rumah dan hal lainnya, yang tentunya berdampak negatif jika tidak diatasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab keluarga broken home pada remaja serta strategi pengembangan diri yang dilakukan remaja keluarga brokenhomesehingga berdampak positif. Jenis penelitian ini menggunakan penelitiankualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini adalah 5 (lima) remaja siswa di MAN 2 Model Medan yang mengalami keluarga brokenhome. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis domain yang dilakukan mulai dari mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima remaja siswa MAN 2 Model Medan menerima keadaan yang di alami dan berusaha ingin menjadi lebih baik. Adapun penyebab remaja broken home adalah perceraian orang tua dan ketidakharmonisan dalam keluarga. Kemudian dampak remaja keluarga broken home berdampak positif dari segi pengembangan diri mereka. Adapun strategi pengembangan diri yang dilakukan remaja keluarga broken home seperti menjalin komunikasi yang baik dengan orang terdekat dan mengubah pola pikir (mindset).
Dinamika Fatherless terhadap Pengembangan Diri Remaja Perempuan di MAN 2 Model Medan Tata Arbiyana; Syukur Kholil
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.437

Abstract

Fenomena  fatherless ini disebabkan dengan adanya pengaruh budaya lokal terhadap paradigma pengasuhan anak. Stereotip budaya mempengaruhi pandangan bahwa laki-laki tidak semestinya terlibat dalam pengasuhan anak.Tidak sedikit dari keluarga Indonesia masih menerapkan pola asuh patriarki dengan mengedepankan peran ibu sebagai pemeran keseluruhan tugas domestik. Sedangkan peran ayah didalamnya masih kurang diutamakan  sehingga tanpa disadari, pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan hanya dikaitkan dengan tugas seorang ibu, meskipun peranan ayah sebenarnya sangat diperlukan dalam hal ini. Isu mengenai fatherless ini hampir tidak terlihat, namun dampaknya begitu nyata mengingat pentingnya sosok ayah bagi tumbuh kembang anaknya. Ketiadaan peran ayah dalam proses tumbuh kembang anak dapat berdampak signifikan pada perkembangan psikologis dan emosional anak, terutama pada anak perempuan di fase remaja. Keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak perempuan dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak, memberikan perspektif terhadap sesuatu yang nantinya dapat dikembangkan di otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dinamika pengembangan diri pada remaja perempuan yang mengalami fatherless. Peneliti menggunakan 3 partisipan remaja perempuan yang mengalami fatherless di MAN 2 Model Medan di rentang usia 15-16 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak positif fatherless pada anak perempuan di fase remaja yaitu adanya kemauan untuk mengembangkan kemampuan secara bakat dan akademik, adapun dampak negatif ditunjukkan dengan sulitnya membuka diri, ketidakstabilan emosional, dan kecenderungan menyakiti diri.

Page 2 of 2 | Total Record : 20